how i named my sons (part 2: #firaas)

(dokumentasi pribadi)

Anak kedua.

Ini hanya selang setahun sepuluh bulan dari anak pertama, #anzal. Hingga hamil bulan ketujuh, belum ada kepikiran mau ngasih nama apa. Tapi yang pasti, last name ‘alkarami’ sudah default. Lucu juga ya, kalo orang-orang menyematkan nama bapaknya ke nama belakang anaknya. Misalnya, Yasin, punya anak namanya Syahrul Yasin. Ini kebalik. Saya menyematkan nama anak ke last name saya. Walau hanya nama pena (gila aja kalo nama beneran, mesti motong kambing lagi..).

Maka saya pun mengulang skema yang lalu saat mencari inspirasi untuk nama #anzal: baca buku. Pilih-pilihlah buku di rak yang udah mulai debuan itu. Hasilnya nihil. Bukan ga menemukan nama, tapi ga ada nama yang berhasil membuat saya amaze. Eh, ada skema yang terlewat. Masih inget kan buku fiksi pertama saya, Supernova. Kabarnya, Dewi Lestari sedang meluncurkan seri keempat Supernova: Partikel. Maka berlalulah saya ke Gramedia (kok jadi mirip drama Korea, ya..serba kebetulan).

Sebenarnya, waktu isteri saya baru-baru hamil, dia ngidam baca buku (buku kok dingidamin.. -__-). Nah, kebiasaan unik isteri saya ialah suka baca ulang buku-buku yang pernah dibacanya. Alasannya sederhana: ga ada bacaan lagi. Dan, tetiba dia pengen baca serial Supernova-nya Dewi Lestari. Karena sedang terjadi krisis finansial di bursa saham kas negara, maka saya pun donlot Supernova versi e-book. Akar dan Petir pun berhasil disedot (gimana negara mau maju, karya anak bangsa dibajak truss..). Isteri saya baca pake Galaxy Tab yang cicilannya belum lunas (pliss deh.. ga usah sok susahh..).

Karena bentuknya serial, tentu ketagihan ingin baca seri berikutnya. Sebenarnya saya sudah baca ketiga seri itu. Tapi cuma Supernova yang khatam, itu pun lupa-lupa. Akar dan Petir, kepotong-potong. Bukunya punya temen sih, jadi ga konsen (makanya beli…). Isteri jadi ngidam Partikel, serial keempat Supernova. Ditambah promo Dewi Lestari di twitter, saya juga tambah penasaran. Maka berlalulah saya ke Gramedia (lah, kalimat ini kan ada di paragraf kedua??!! –“).

Sore beli bukunya, besok pagi buku itu sudah habis…dibaca. Bukan sama saya. Saya baru baca malamnya. Menarik. Dee menawarkan gaya cerita yang berbeda di setiap serinya. Dan tokoh utama di setiap seri selalu unik, yang juga menjadi minoritas di Indonesia. Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh: kaum gay. Akar: anak Punk. Petir: Cina.  Partikel: alien. Dan sampailah saya pada sebuah kata: Firas. Dalam Partikel, Firas adalah nama ayah si tokoh utama, Zarah. Firas emang diceritakan sosok ayah yang pintar dan ‘beda’ dalam mendidik anak. Tapi, saya tidak amaze pada karakternya, saya amaze pada namanya: Firas.

Dan artinya pun menakjubkan. Di novelnya sendiri, disebut bahwa Firas itu artinya yakin, teguh. Makanya, dalam bahasa Indonesia ada kata serapan ‘firasat’ yang berarti keyakinan pada sesuatu. Kalo saya buka alat terjemah di internet, Firas atau Firaas juga berarti cerdas, pintar.

(Jadi, namanya Firaas Alkarami?)

Kan saya udah bilang, udah ga jaman nama itu cuma dua kata. Sama seperti yang lalu, pencarian nama tengah ini rada susah. Saya hampir kehabisan akal (yaelah.. kayak yang pernah dipake aja..). Memakai cara terdahulu — dengan mencatut nama seorang penulis, inspirator — udah susah. Ga enak aja, masa namanya ‘Firaas Gibran Alkarami’. Ketauan banget kan njiplaknya. Maka saya pun menggunakan metode lain. Jika anak pertama dari teks, maka saya mencoba dari lagu. Siapa tau ada pengarang lagu atau pelantun lagu yang namanya membuat amaze. Dan berhasil. Tapi, kejadiannya tahun lalu, saat kami lebaran di Padang. Ceritanya gini. Tahun 2011 itu, khususnya bulan puasa, ada satu lagu yang sering banget diputer. Entah itu di tipi, radio, cafe, mall, hotel, atau mungkin bar (sayangnya saya ga nyoba main kesana). Pernah di pertengahan bulan puasa, saya dinas ke Jakarta, ada rapat sekitar 3 hari di sebuah hotel di kawasan Blok-M (ciee.. yang SPPD ke Jakarta, biasanya juga cuma Sulawesi -__-). Dan sehari-hari theme song hotel itu muterin lagu itu sampe sealbum penuh. Puncaknya waktu mudik ke kampung isteri di Pekanbaru. Tiga hari sebelum Lebaran, kami ‘mudik’ lagi ke rumah neneknya isteri saya di Padang, tapi di pelosoknya, dua belas jam dari Pekanbaru. Apa yang terjadi? Mobil Nissan Livina itu memutar penuh lagu itu. Berulang-ulang. (jadi ‘lagu itu’ apa omm??) <– (tar dulu ngapa, belum selesai ini..)

Beberapa bulan kemudian, giliran kampung saya yang kami datangi. Ini dalam rangka menghadiri pernikahan adik saya. Saya kaget, ternyata bapak saya udah ganti mobil. Dari Panther tahun 70an, jadi New Avanza type-G. Mobilnya wangi, masih berplastik, dan soundsystem yang masing njreng. Kami dijemput di bandara dengan mobil itu. Melalui kemacetan Jakarta-Tangerang, di malam yang temaram, ditemani alunan musik dari ‘lagu itu’. Ya, lagu itu ternyata diputar juga di Tangerang. Bahkan, adik saya — yang mau kawin itu — udah beli album keduanya, yang akan dia putar di resepsi pernikahannya. Ada apa gerangan dengan ‘lagu itu’? Kenapa alam seperti memaksa saya untuk terus mendengarkannya. Memang siapa dia? (kok malah nanya, kan sampeyan yang tahu…)

Lagu itu dinyanyikan oleh… Maher Zein. (yaelahh… ane kira siapa??! –“)

‘Firaas Zein Alkarami’?

Ya, mari kita mulai bedah maknanya. Sering kita dengar nama-nama orang Indonesia itu ‘Zainal Arifin’, ‘Zainal Abidin’, dll.. Apa artinya?? Zain (bahasa Arab) artinya perhiasan, sesuatu yang berharga. ‘Zainal’ itu asal katanya dari zain, sedangkan -al di belakangnya adalah kesatuan dari kata setelahnya. Sebenarnya Zain Al-Abidin, ‘diindonesiakan’ menjadi Zainal Abidin.

Karena default nama belakang anak-anak saya adalah ‘alkarami’ yang sudah ada ‘-al’-nya, maka saya cuma butuh ‘Zain’, bukan ‘Zainal’. (loh, tapi ente tadi nulisnya ‘Zein’ bukan “Zain’??!!) <– (nah, itu gegara ‘lagu itu’ yang terus mendengung..jadiya..kasih dahh..)

So,

Firaas = cerdas, teguh
Zein = perhiasan, berharga
Alkarami = hebat, mulia, agung

it will be, “Orang cerdas yang dihiasi kemuliaan” atau “Orang yang memiliki keteguhan dan kemuliaan yang berharga”.

(tapi, ane masih rancu ama terjemahan bebasnya, om..)

udah.. terima aja..

(yakin, om??)

insyaAllah…

(ga ada terjemahan lain, om?? yakin??)

insyaAllah…insyaAllahh….

(yakin ada jalan, om?)

insyaAllah…ada jalaaaaaannnn… <– (malah nyanyi.. -__-“) 

how i named my sons (part 1: #anzal)

(dokumentasi pribadi)

Orang pikir saya gila. Saya merencanakan nama anak saya sewaktu SMP. Dimana saat itu belum punya pacar — yang memang ga punya pacar sampe kuliah, eh sampe kawin malah -__-.

Nama anak pertama saya: anzal khalil alkarami.

Mari kita bedah satu-satu.

anzal;

Saya pertama kali melihatnya di dinding pembatas antara developer estate dengan kampung saya (daerah tangerang). Ya, seperti biasa, semacam mural atau coret-coretnya anak sekolah pake pilox. bla..bla..bla.. by anzal. Itu tulisannya. Dinding itu tepat berada di pintu masuk ke kampung saya, jadinya tiap kali keluar atau masuk kampung, pasti liat tulisan itu. Dan itu membekas, hingga SMA.

Apa yang terjadi di SMA? Apa saya menemukan kata ‘anzal’ di dinding sekolah? Tidak, ini bukan film Korea yang segalanya serba kebetulan. Di SMA saya mulai rajin baca dan nulis. Loh, bukannya itu pelajaran SD?? Maksudnya mulai baca buku-buku fiksi dan rajin nulis cerpen, puisi, atau semacamnya. Nah, untuk yang cerpen, tentu donk kita punya nama-nama tokohnya. Maka anzal adalah nama tokoh laki-laki yang selalu saya pakai dalam cerpen. Dulu, alasan memilih nama anzal hanya karena enak diucapkan, dan jarang orang gunakan. Waktu kuliah, baru ngeh apa makna anzal. Dan seberapa sering dia muncul di ayat-ayat alquran… hehee..tobatnya baru pas kuliah.

Masa nama tokohnya cuma satu doank? Tentu ada yang lain. Nama tokoh wanita dalam naskah cerpen saya (cieehh naskah…) itu murni, sari, salma dll (saya lupa). Ada juga nama tokoh laki-laki lainnya seperti diaz, mmm..siapa lagi ya.. kok dikit ya? Duhh padahal banyak loh nama-namanya..binder SMA-nya hilang sih..itu loh yang merk kertas isi ulangnya loss leaf. Jaman batu sih, jadi dokumentasinya masih ber-mushaf-mushaf.. Musti ada ‘khalifah’ yang menjilidnya, atau istilah sekarang: harus ada follower yang membuatnya menjadi ‘has been chirpified’.

alkarami;

Loh, kok ngelangkah? Iya, soalnya nama tengah baru dapet di injury time. Ini masih ada kaitannya dengan masa-masa di SMA (yang suram karena muridnya cuma 20an dan cowo semuaaaa *__*). Hobi baca baru muncul di SMA, entah karena bosen sama buku pelajaran atau karena ga ada cewe buat digebet. Coba tebak bacaan pertama saya apa? Supernova! Ya, itu buku fiksi pertama yang saya baca. Gila, beratt banget kan?!! Dan saya langsung jatuh cinta pada… ceritanya. Tapi supernova ga ngasih inspirasi apa-apa untuk nama ‘alkarami’ (jadi ngapain dibahass -__-). Setelah selesai melahap supernova: ksatria, puteri, dan bintang jatuh, buku selanjutnya adalah… Kahlil Gibran.. edaan.. berat-berat kan bacaan gw (apaaan..sihhh).

Hampir semua judul buku-buku Kahlil Gibran di perpus habis saya baca. Bahkan, buku tentang ‘asbabun nuzul’-nya karya Gibran pun saya baca. FYI ya, buku Kahlil Gibran yang enak dibaca itu cuma yang terbitan Bentang, terjemahannya ga bikin pusing. Nah, di judul Sayap-sayap patah, saya menemukan seorang tokoh wanita, Salma Alkarami namanya. Pertama kali baca kata ‘alkarami’ saya langsung jatuh cintahh. Begitu anggun dan prestesius, seperti arti nama itu: great, hebat.

Mulai dari sanalah, saya menggunakan nama pena ‘imam alkarami’, yang dipakai hingga sekarang. Mulai dari akun yahoo, facebook, twitter, gmail, dll. Bahkan saya pakai untuk lomba. Saya juga sempat membuat web dengan nama http://www.alkarami.com, tapi ga saya urus, ga bisa bahasa-bahasa html. Masih tetap setia dengan wordpress 😀

Lalu, kapan terbitnya ‘anzal alkarami’?? Itu masih lama. kan tadi masa SMA, sekarang saya lanjutkan ke masa kuliah (ini biografi atau apa sihh??). Di kampus, saya menemukan lagi nama tokoh cerpen: mutiarahati. Indonesia banget kan? Inspirasinya kali ini bukan dari buku. Ada beberapa kejadian yang akhirnya melahirkan nama itu. Waktu itu cukup sering denger MQ Radio. Itu loh, radionya Aa Gym. Bukan seneng sama lagu-lagunya. Bukan. Tapi ulasan-ulasan, quotes, dll, dan sang penyiar sering bilang ‘mutiara qalbu’. Trus ‘hati’nya dapet dari mana? Itu juga sih. Bingung, kalo cuma ‘mutiara’ kan udah umum banget ya.. sampe akhirnya saya berkenalan dengan  seorang senior yang namanya ‘syurahati’, it likes suara hati. Maka muncullah ide…tinng..’mutiarahati’… sounds good, rite?

Selain muncul di cerpen, ‘mutiarahati’ juga membuat saya pede kelak akan memberikan nama anak perempuan dengan nama ‘mutiarahati alkarami’. Padahal waktu itu masih ngampus loh. Pacar aja ga punya. Gimana ga pede coba. (beda tipis memang, pede sama belagu). Ide itu saya cetuskan waktu kuliah, berbarengan dengan kelahiran blog ini. FYI, blog ini waktu pertamakali keluar namanya ‘mutiarahati alkarami’. makanya banyak yang nyangka saya perempuann -__-“. (FYI apaan sih, bro??) <– (for your information!! bahasa endonesianya: asal lo tau yee..)

Khalil;

Isteri saya mengandung. Dan cowok, berdasarkan hasil USG. Saya pun bingung. Bukan bingung mau ngasih nama apa, tapi bingung, nama tengahnya apa? (kenapa harus pake nama tengah sih? banyak gaya..) <– (ga enak aja kalii cuma dua kata..jaman sekarang jamannya tiga kata, bahkan ada yang lima, ditambah nama bapak-emaknya di belakang..).

Maka saya pun cari-cari inspirasi..buka-buka lagi mushaf yang tercecer pada masa-masa SMA yang suram karena muridnya cuma…(woiii…ga usah dibahas lagii..). Perlu anda ketahui bahwa Kahlil Gibran adalah nama barat. Seperti Ibnu Rusy yang dibaratkan menjadi Averos. Atau Ibnu Sina menjadi Avicenna. Maka Kahlil Gibran pun adalah west-named dari Jibran Khalil Jibran. Itu nama aslinya. Jibran sebenarnya nama kakeknya. Khalil nama ayahnya. Dan kebiasaan orang arab, mencatutkan nama-nama keturunannya. Maka jadilah Jibran Khalil Jibran (entah kenapa menjadi Kahlil Gibran).

Ya, khalil. Ketika buka kamus bahasa arab, pun artinya mengejutkan: kekasih, beloved one. Nabi Ibrahim dijuluki sebagai kekasih Allah, atau khalilullah.

Then, we published as ‘anzal khalil alkarami’.

Nah, sekarang pasti pada mau tanya, ‘trus arti nama anzal khalil alkarami apa omm??’

Mau tau jawabannya?? Mau tauu?? Mauutauuu…? Jamaaahhh…ooojamaaahh..

Jadi gini, dalam ilmu bahasa arab, ada itu istilahnya ‘kalimat kerja’ dan ‘kalimat benda’. Kalimat kerja (jumlah fi’liyah) itu sebuah kalimat yang diawali kata kerja. Sedangkan kalimat benda (jumlah ismiyah) yang diawali kata benda. Walau penyusunannya beda, tapi artinya sama. Beda penekanan aja. Maka ‘anzal khalil alkarami’ adalah jumlah fi’liyah (kok bisa pas gitu sih, cuy..kan lo pick satu-satu menurut kejadian-kejadian yang random..) <– (itulah hebatnya gw, bro..) <– (pffftt..)

Apa itu ‘anzal’? Kalo liat terjemahan Depag sih, artinya ‘menurunkan’, ‘turun’, dalam konteks yang sakral. Misalnya ‘Allah menurunkan wahyu’, ‘menurunkan hujan’, ‘kami turunkan alquran’, dll.. Mari kita liat terjemahan english versi iQuran (alquran diqital). Kata ‘anzal’ diterjemahkan sebagai ‘reveal’, ‘revealed’. Kalo kita bedah lagi, kata reveal ini semakna dengan ‘show, declare, give, expose, spread, etc..’. Maka saya lebih suka dengan terjemahan bebas: menganugerahkan (untuk konteks nama anak saya).

jadi…
anzal = menganugerahkan
khalil = kekasih hati
alkarami = hebat, agung, mulia

it will be “seorang kekasih hati yang menganugerahkan kemuliaan”.. or “the beloved one who give the greatness”

Udah ngerti smuaanyahh??? Udah tauu???  Udah tau jawabannya???

Alhamduu…. (lillahhhh….)

bumi panas dan panas bumi

Image

(sumber: deviantart.com)

Saya termasuk orang yang kecewa dengan film fenomenal di akhir tahun 2009 lalu. Film kontroversial, yang  membuat orang ngeri sekaligus penasaran ingin menontonnya: 2012. Film yang terinspirasi dari kalender suku Maya ini ingin menceritakan bahwa pada tanggal 21 Desember 2012 akan terjadi titik balik matahari musim dingin di belahan bumi utara. Matahari yang akan terbit dari barat dan terbenam di timur. Gunung memuntahkan lahar. Gempa bumi super hebat di seluruh jagad. Tsunami setinggi monas di pesisir pantai. Dalam kitab suci, kejadian ini disebut kiamat, hari akhir.

Saya bukan kecewa karena animasi film garapan Roland Emmerich ini yang tidak rapi. Dia memang ahlinya film-film ‘kiamat’. Sebut saja Independence Day dan The Day After Tomorrow. Sekali lagi saya bukan kecewa karena sinematografinya. Saya kecewa karena dugaan saya tentang ‘kiamat’ tidak terbukti di film 2012 ini.  Definisi saya – atau mungkin orang banyak – tentang kiamat adalah berakhirnya fase kehidupan dunia kemudian beralih ke fase akhirat. Kiamat dijelaskan sebagai hari super sibuk untuk malaikat pencabut nyawa. Semua makhluk hidup dimatikan. Tanpa terkecuali. Tapi di film 2012, ternyata masih ada yang survive. Negara-negara maju sudah mempersiapkannya dengan tiga kapal baja. Ilmuwan mereka sudah bisa memprediksinya. Dan skenario penyelamatan itu dikepalai oleh – siapa lagi kalau bukan – Amerika Serikat.

Kiamat Sudah Dekat

Kiamat sering dihubung-hubungkan dengan dosa-dosa manusia. ‘Kiamat sudah dekat’ diucapkan ketika banyak manusia meninggalkan agama mereka, Tuhan mereka. Adanya laki-laki yang berdandan seperti wanita dan sebaliknya, adalah ciri-ciri ‘Kiamat sudah dekat’. Sepinya tempat-tempat ibadah juga indikasi ‘Kiamat sudah dekat’. Guru saya pernah berkata bahwa pada hari akhir/kiamat nanti akan datang Dajjal yang mengajak manusia untuk berbuat keburukan. Waktu itu bayangan saya, Dajjal berbentuk seperti monster besar bermata satu. Tapi sepertinya masih lama karena hingga sekarang saya belum pernah bertemu dengan makhluk seperti itu (kecuali Lady Gaga, Jay-Z dan Ahmad Dhani termasuk kriteria itu).

Film 2012 mendefinisikan lain. Kiamat digambarkan sebagai fase perubahan bumi. Suku Maya yang memprediksi ‘kiamat’ tahun 2012 percaya bahwa matahari punya siklus, punya umur. Matahari sekarang adalah matahari ke-5 (Tonatiuh) yang memiliki umur 5125 tahun dan diperkirakan wafat tanggal 23 Desember 2012. Di peradaban Mesir kuno, menghitung siklus axial bumi terhadap dua belas rasi bintang. Siklus yang dimiliki tiap rasi sebanyak 2160 tahun untuk melakukan pergeseran. Posisi bumi sekarang, rasi Pisces, ternyata telah menuju penghabisan, yang akan berganti posisi ke rasi Aquarius. Ini bukan tentang zodiak, ini tentang transisi bintang yang membuat gaya gravitasi luar angkasa semrawut. Yang membuat gunung-gunung beterbangan seperti kapas. Yang membuat air laut memuntahkan segala isi perutnya. Yang mungkin membuat alien akan melakukan migrasi besar-besaran ke galaksi tetangga.

Ada dua kemungkinan. Bumi akan melakukan ‘purifikasi’, misalnya dengan kejatuhan meteorit luar angkasa dan meletusnya semua gunung berapi, yang menghilangkan semua peradaban manusia. Kemungkinan kedua, sekolompok manusia melakukan hijrah ke planet lain atau hidup di luar angkasa seperti dalam film Wall-E. Ini versi ilmuwan. Beda dengan versi kitab suci. Setelah hari kiamat datang, semua manusia mati dan akan melanjutkan ‘kehidupan’ babak baru di hari akhir yang mempunyai dua destinasi: surga atau neraka. Yang bahkan tidak berpakaian dan tidak saling kenal satu sama lain.

Tapi ada satu kesamaan. Di kitab suci menyebutkan bahwa kiamat datang sebagai tanda bahwa sudah banyak manusia yang meninggalkan Tuhan. Guru saya bahkan pernah bilang bahwa orang beriman tidak akan mati di hari kiamat, karena hari itu sungguh sangat menyeramkan: adzab Tuhan. Di ayat lain menyebutkan bahwa kerusakan di muka bumi ini adalah karena perbuatan buruk manusia. Indikasinya sama, manusialah aktor utamanya.  Dia melakukan keburukan dengan merusak imannya dan/atau merusak alam ciptaan-Nya.

Umur bumi, umur matahari, dan perilaku alam lainnya tidak terjadi dengan sendirinya. Ada campur tangan manusia di sana. Suku Maya boleh memprediksi bahwa umur bumi akan habis di akhir tahun 2012 nanti. Tapi, siapa tahu ‘matahari’ dicekoki rokok oleh sekelompok manusia sehingga umurnya malah lebih pendek. Atau terbentuknya lapisan ‘kaca’ di atmosfer akibat produksi CO2 kiriman manusia bumi, sehingga sinar pantulan matahari tidak kembali. Terbakarlah semua warga bumi, termasuk laut dan alam. Maka terjadilah pemanasan global, Green house effect. Dan bumi menjadi panas.

Bumi panas

Apa yang terjadi jika bumi panas? Dalam film dokumenter The Inconvenient Truth, analoginya dengan sepotong es krim yang berangsur-angsur meleleh setelah berada di luar ruangan. Ya, meleleh, mencair. Gunung-gunung es di kutub akan mencair. Daratan mengecil. Perubahan iklim tak bisa dihindarkan. Air lautan banyak yang menguap, udara melembab, hujan pun meningkat. Air di tanah lebih cepat mengering sehingga beberapa daerah mengalami kekeringan. Musim berubah tak beraturan seperti jerawat anak-anak SMP.

Bumi panas. Gunung es mencair. Muka air laut meninggi. Anda tahu? Kenaikan 100 cm air laut akan menenggelamkan 6% daerah Belanda, 17,5% Afghanistan, dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Data mencatat, salah satu perilaku ekstrim alam pada tahun 1998 ialah badai El Nino, kemudian La Nina, lalu Tibet dan Afrika Selatan masing-masing mengalami musim dingin dan banjir terburuk dalam 50 tahun terakhir. Tahun 2005, tsunami menghancurkan Asia, lalu Katrina menghantam Amerika Serikat.

Bumi panas, karena gas-gas ‘rumah kaca’ terus diproduksi oleh manusia: uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana.  Dan salah satu produsen terbesar penghasil gas rumah kaca ini ialah pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil. PLTU batubara, misalnya, membakar ketel air dengan ‘arang’ batubara. Zat yang dihasilkan dari proses ini uap air, karbondioksida, sulfur dioksida dan abu ringan (fly ash). Batu bara termasuk bahan bakar fosil karena sumbernya terbatas. Penambangannya pun terkadang kelewat batas. Hutan dibabat agar leluasa menggali, dan dibiarkan menganga tanpa ditanam kembali. Padahal, hutan adalah ‘pemakan’ karbondioksida terakus di dunia. Sekaligus menghasilkan oksigen gratis untuk manusia.

Panas bumi

Lalu, jika PLN ‘salah’ membangun pembangkit bahan bakar fosil, sumber tenaganya dari mana lagi? Mengandalkan tenaga air, akan kerepotan saat musim kemarau tiba. Beruntung untuk daerah Jawa Barat atau Papua yang airnya melimpah ruah. Belum lagi perilaku musim yang susah ditebak seperti kelakuan anak-anak ABG: labil.

Per Desember 2011 saja, lebih dari 80% pembangkit PLN yang terpasang adalah pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil. Indonesia punya hutan hujan tropis yang airnya mengalir sampai jauh. Tapi, pemanfaatan air untuk ketenagalistrikan hanya 12%. Prihatin, kalau kata Pak SBY. Tapi ada satu sumber daya alam yang patut menjadi prihatin karena malah kurang diberdayakan: panas bumi.

Indonesia punya 40% dari total cadangan panas bumi di dunia. Jika 100 negara di dunia ini melakukan konsorsium (patungan usaha), Indonesia punya saham 40%, sisanya dibagi ke 99 negara lain. Maka, dalam hal pemanfaatan energi panas bumi ini, Indonesia seharusnya pantas menjadi leader konsorsium (lead firm).  Tapi justru di sanalah letak prihatinnya. PLN saja baru memanfaatkan 4% dari total 29 GW (giga watt) potensi panas bumi yang tersebar di 276 titik di Indonesia. Berapa persen yang telah dimanfaatkan negara tetangga, Philipina? 70%! Prihatin.

Panas bumi = uang panas

Ini uniknya kaum kapitalis. Semuanya diperdagangkan, termasuk karbon. Bukan, ini bukan karbon aktif yang dijual di pasar untuk filter air.  Tahun 1997 lalu, negara-negara maju berembug di Kyoto, Jepang, untuk mengantisipasi terjadinya pemanasan global (dikenal dengan Protocol Kyoto). Bentuk mitigasinya ialah dengan memberi insentif kepada negara berkembang yang melakukan pembangunan tanpa menggunakan bahan fosil (non-renewable energy). Negara maju penghasil karbon memberi insentif kepada negara berkembang yang berhasil mengurangi emisi karbon ke atmosfer. Proses barter ini disebut juga sebagai carbon trading atau Clean Development Mechanism (CDM).

Potensi CDM Indonesia cukup besar. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, proyeksi potensi CDM (2008-2012) sekitar 125-300 juta ton carbon (CO2). Jika kita lihat harga pasaran per 1 ton carbon sebesar 1,5-5,5 USD. Dan semua potensi ini berhasil dijual, maka pendapatan yang diterima sebesar 187,5 – 1.650 juta USD. Asumsi biaya yang dibutuhkan untuk ratifikasi, dokumentasi, dan konsultansi sebesar 20%. Diperkirakan keuntungan yang didapat Indonesia per tahun sebesar 81,5 – 1.260 juta USD. Jika 1 USD = Rp 9.500,00 maka kita mendapat Rp 774 juta – Rp 12 milyar.

Keuntungan dari penjualan karbon ini serupa uang panas. Kita dapat manfaat dari tenaga listrik yang dihasilkan. Pemerintah (dalam hal ini PLN) dapat penghasilan dari penjualan listrik sekaligus penjualan carbon tadi. Bahkan mendapat keuntungan lingkungan yang bersih karena PLTP cenderung ramah lingkungan. Memperpanjang umur bumi agar tidak panas dengan panas bumi.

Dajjal?

Di film 2012, Amerika Serikat dengan segala kemampuan intelektual dan kecanggihan peralatannya, menjelma menjadi Nuh yang menyelamatkan warga dunia dari ‘kiamat’. Untungnya itu hanya film, karena pada kenyataannya, Amerika Serikat adalah negara penyumbang gas rumah kaca terbesar yang menolak Protocol Kyoto. Tidak sepakat atas perbaikan bumi sementara seluruh negara sepakat adanya mitigasi termasuk aplikasi CDM. Saya kadang berpikir, Amerika Serikat cenderung ingin merusak bumi dengan beberapa invasi perang, menyebar gaya hidup tidak ramah lingkungan, dan menolak Protocol Kyoto. Seperti monster bermata satu yang mengajak manusia akhir zaman untuk berbuat kerusakan. Seperti Dajjal.

Saya mulai berpikir jangan-jangan perilaku go green yang marak sekarang ini malah lebih bisa disebut amal shaleh daripada mengutuk kedatangan Lady Gaga. Jangan-jangan kampanye menanam pohon lebih ‘memperpanjang waktu kiamat’ daripada kampanye politik partai beragama. Jangan-jangan kebijakan pemerintah untuk memaksimalkan potensi panas bumi lebih disukai Tuhan daripada kebijakan mengharamkan tayangan infotainment. Jangan-jangan pengajian yang dilakukan di tengah jalan sehingga kendaraan macet dan mengakumulasikan emisi karbon ke udara serta menimbulkan timbunan sampah plastik dan streofom adalah bentuk pengrusakan alam semesta — ciptaan Tuhan yang harus dijaga. Jangan-jangan.. jangan-jangan kita adalah anak buahnya Dajjal(?)

referensi:

Indonesia, sampai akhir menutup mata

Dingin masih memeluk erat. Menembus setiap pori-pori berkelebat. Terus merayap di tiga lapisan baju hangat – yang ternyata tak membuat hangat. Keparat. Bukan hanya karena udaranya, tapi juga layar komputer di depanku yang menyalju: putih. Nol ide. Mungkin cairan serotonin di sel saraf ikut membeku sehingga tak mampu menggerakkan sel abu-abu itu. Tak mampu menerangkan bola lampu yang harusnya menyala di atas tengkorak kepala.

Malam yang dingin di Belanda. Kemampuan beradaptasiku ternyata rendah walau sudah dua tahun di sini. Memang studi masterku ini beasiswa dari perusahaanku, PLN. Tapi, dengan uang tabungan seadanya aku nekat membawa isteri dan kedua anakku. Tak bisa dipisahkan. Seolah napas. Mereka terikat di ikatan kovalen O2-ku. Awalnya aku kira mereka akan minta pulang, tapi malah kebalikannya. Anzal, anak pertamaku, sangat nyaman dengan sekolah barunya. Begitupun Firaas, dia bebas bersepeda tanpa khawatir jalurnya diterobos motor. Isteriku juga, senang karena bisa ‘reuni’ dengan teman-teman kampusnya. Sempat terpikir, apa menetap di sini aja ya? meneruskan sampai doctoral kemudian mengundurkan diri dari PLN?! Dasar pengkhianat! Aku menoyor kepala sendiri.

Aku memilih object di bidang Sustainable Energy Technology, Delft University. Topik ini memang sedang ramai dibicarakan orang. Terkait PLN, jurusan ini sengaja aku ambil karena Indonesia punya banyak source untuk merekayasa energi-energi terbarukan. Salah satu energi berkelanjutan milik Indonesia yang sangat besar potensinya ialah panas bumi (40% dari cadangan dunia). Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) adalah jenis rekayasa teknologi yang bersih. Tidak mengotori atmosfer dengan karbon – yang selama ini dihasilkan oleh pembakaran batubara atau solar. Rekayasa teknologi yang bersih ini ternyata bisa ‘dibarter’ dengan sejumlah uang dari negara yang kontribusi emisi karbonnya tinggi. Ini disebut carbon trading. Bingung? Itu tema proposal tesisku – yang harus jadi malam ini. Sama, aku juga bingung.

Semua data yang aku kumpulkan dari rekan-rekan kerja di tanah air sudah cukup lengkap. Sedikit memicingkan mata, mengernyitkan dahi, menggelengkan kepala, dan beberapa kali berdecak kagum. Gila!  Indonesia kaya banget, teriakku dalam hati. Tapi harus mulai dari mana ini semua? Aku buka-buka play list lagu. Kopi hitam dan lagu biasanya bisa membangkitkan mood. Silakan kopinya, Ayah. Isteriku menyuguhkan kopi panasnya. Bunda mau ke atas dulu ya, temenin adek baca buku. Diselingi senyum terus menghilang.

Masih scrolling play list, tiba-tiba: AYAAH, aku mau tinggal di Belanda aja! Anzal, anak pertamaku, berteriak dari ruang tengah. Aku tak langsung menoleh, berharap hanya suara derungan CPU rusak atau DVD room saat burning. Di sini enak, jalanan rapi, bersih, perpustakaannya juga lengkap. Lanjutnya.

Aku segarkan dulu tenggorokan dengan kopi hitam. Menyerap dalam-dalam kenapa pernyataan itu bisa keluar dari anak umur 12 tahun – yang baru  dua tahun meninggalkan negaranya. Memang Indonesia kenapa, Nzal? Tanyaku sambil menelan sisa kopi. Aku menganggukan kepala seolah serius mendengarkan. Padahal sedang mengumpulkan bahan untuk meng-counter salah kaprah itu, sambil menyela ‘teruss??’ dan ‘ohh..gitu..’.

Anzal malu tiap kali harus bicara tentang Indonesia di kelas. Kalau lagi cerita tentang wisata kuliner dan wisata alam, mereka seolah ingin lama-lama tinggal di Indonesia. Tapi, Anzal tak bisa cerita apa-apa kalo ada yang tanya tentang teroris, bom Bali, dan Pak Harto. Malu, Yah!

Aku terus mendengarkan keluhan bocah itu. Matanya penuh emosi, walau terus memandang tv. Mungkin takut beradu mata denganku. Takut semua gelesihannya terungkap. Karena mata kami dapat beresonansi. Aku menarik oksigen sebanyak-banyaknya dan menggelegarkan karbondioksida-nya sebagai tanda percakapan serius akan dimulai.

Menghampirinya dengan kursi kerja beroda. Aku bercerita: Kamu tahu pewangi yang di kamar mandi? Itu namanya kapur barus, orang biasanya menyebutnya kamper. Kapur barus itu sejenis wewangian dan sebagai bahan pengawet, yang dihasilkan di bumi Indonesia bernama Barus. Barus itu nama daerah di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.  Pemimpin Mesir zaman itu, Firaun, sekitar tahun 1500 SM, mengambil kapur barus untuk bahan pengawet mummi. Bahkan, sebagian ahli tafsir (Ibn Abbas, Alquthubi, Jalalain, Ibn katsir), menafsirkan kata ‘kafur’ dalam Surat Al-Insan ayat 5, adalah sejenis kapur dari Barus yang menjadi lambang kemewahan saat itu.

Indonesia tertulis di dalam Alquran? Anzal penasaran tak percaya.

Tidak hanya Barus. Masih di Sumatera, ada sebuah gunung yang mengandung sumber emas melimpah. Gunung Ophir (juga dikenal dengan Gunung Talamau). Alquran Surat Al-Anbiya ayat 81 menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya”.  Dalam kitab umat Yahudi, Melakim, Pasal 9, menerangkan bahwa Nabi Sulaiman (raja Bani Israil) menerima emas dari bawahannya yang didapatkan dari Gunung Ophir. Di berbagai prasasti, Sumatera dalam bahasa Sansekerta dikenal dengan istilah Suwarnadwipa (pulau emas) atau Suwarnabhumi (tanah emas).

Anzal menganga, sama seperti dia sedang menonton Barney di JimJam Channel waktu umur setahun.

Indonesia kaya sumber alam. Disukai banyak orang. Dengan alasan yang sama pula, para pedagang Belanda datang ke Indonesia. Waktu itu namanya Nusantara. Tahun 1598, perusahaan Belanda datang di pelabuhan Banten, Pulau Jawa. Mereka berdagang di sana dan membawa hasil bumi hingga kapalnya penuh. Tak puas di Jawa, mereka berlayar hingga Maluku untuk mencari cengkeh dan pala.

Sebelumnya, pada tahun 1511, Portugis sudah menguasai selat Malaka. Ini kawasan strategis untuk lalu-lintas perdagangan dunia antara India dan Cina. Mereka mengendalikan perdagangan rempah-rempah yang punya nilai jual tinggi, seperti lada, cengkeh, pala dan fuli dari Sumatera dan Maluku.

Munculnya para pedagang luar Nusantara dengan kapal-kapal super besar itu menumbuhkan persaingan dan konflik. Kerajaan Belanda waktu itu, membentuk perserikatan dagang untuk negaranya agar menghindari persaingan antarpedagang Belanda dan juga membuat perusahaan itu lebih besar. Dalam buku sejarah, perserikatan ini sering disebut VOC. Di sinilah sifat manusia muncul. VOC semacam negara dalam negara. Kekuatan finansialnya membuat mereka gelap mata dengan membentuk angkatan perang. Dengan kekuatan ini, VOC rakus kekuasaan. Mereka tak sungkan merebut wilayah dagang yang strategis dengan peperangan.  Walau akhirnya mereka diambil alih oleh Hindia Belanda karena kasus korupsi para petingginya.

Memang waktu itu orang-orang Indonesia, eh, Nusantara tidak melawan, Yah? Anzal bersuara lantang.

Jelas melawan. Kita bukan bangsa lemah. Maka terjadilah perang dari mulai tahun 1821 hingga 1912. Dari mulai ujung Sumatera hingga ujung Papua. Memang tidak semuanya berperang. Ada juga yang malah membela Belanda.  Itulah mereka yang pecundang, pengkhianat. Menyerahkan kekayaan negaranya untuk orang berkuasa demi jabatan dan sepeti uang. Pilihannya jelas, menjadi pejuang atau pecundang. Pilih merdeka ataoe mati.

Apa kita bisa disebut pengkhiat? Kita sekarang ‘kan tinggal di Belanda, Yah? Anzal bertanya pelan dengan raut wajah seperti kucing minta ikan. Kamu tahu Mohammad Hatta? Proklamator kemerdekaan Indonesia. Tahun 1921, dia sekolah ke Belanda. Tidak hanya sekolah, Hatta aktif di perkumpulan mahasiswa di sana. Perhimpunan Indonesia namanya.

Pikirannya menjadi terbuka, bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan penjajahan di dunia harus dihapuskan. Dia aktif menulis, dia aktif mempropagandakan ide kemerdekaan Indonesia di negara-negara Eropa, bahkan di Belanda sendiri. Pergerakan inilah yang menginspirasi pergerakan-pergerakan lain di Indonesia. Perkumpulan para pemuda, sesama suku, sesama agama, atau sesama pedagang. Hingga akhirnya pecah kemerdekaan.  Ayah berdoa setiap hari agar bisa seperti Mohammad Hatta, Nak. Giliran raut mukaku yang seperti kucing.

Tapi ‘kan Belanda sudah nggak menjajah Indonesia. Kenapa Ayah masih ingin seperti Mohammad Hatta?

Itulah, Nak. Tiga abad lebih Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang mengeruk kekayaan kita, masih belum bisa dihabiskan. Saking kayanya Indonesia. Hingga sekarang, banyak pedagang yang masih menginginkan hasil bumi Indonesia. Termasuk pedagang Indonesia. Karena persaingan, mereka berperang. Tentu bukan lagi dengan senjata. Kekuatan para pedagang ini dilihat dari kekuasaannya. Maka peperangan mereka adalah perebutan kekuasaan dengan alat yang disebut politik.

Freeport, perusahaan tambang emas milik Amerika Serikat, adalah perusahaan asing pertama yang mendapatkan izin usaha dari pemerintah Indonesia. Tahun 1967, Pak Harto, presiden saat itu merestui kedatangan mereka. Penghasilan bersih dari penambangan ini sebesar 5,5 triliun rupiah per bulan. Itu artinya tiap detik menghasilkan dua juta rupiah. Tik.. dua juta. Tok.. dua juta. Anzal berkedip setiap kali aku menjentikkan jari.

Itu di mana, Yah? Papua, jawabku. Dan kamu tahu, Papua dari dulu hingga sekarang selalu menjadi daerah termiskin di Indonesia. Jika seluruh provinsi di Indonesia di-rangking, maka ‘ibunya’ Papua selalu mendapat giliran terakhir waktu pengambilan rapor.

Orang-orang di sana diam saja, Yah? Tidak, Nak. Sudah Ayah katakan, kita bukan bangsa lemah. Begitupun orang Papua. Mereka terus berontak, tapi ‘pedagang’ dan para pengkhianat bangsa begitu besar untuk dilawan. Karena itulah, tiga bulan lagi akan ada pertemuan di Swiss, rakyat Papua minta ‘hak asuh’ ke lain orang tua, Australia. Bisa jadi kita butuh passport untuk terbang ke sana, Nak.

Aku menghela napas sebelum melanjutkan.

Mereka sudah bosan dengan segala bentuk rayuan, bingkisan, harapan, tanpa perhatian. Kau tahu, Nak? Sekiranya kamu Ayah belikan semua mainan yang kamu mau tapi Ayah tak pernah main bersamamu. Tidak memperhatikanmu. Maka rumah temanmu lebih kamu sukai daripada rumahmu sendiri. Rakyat Papua memilih merdeka daripada ditelantarkan bahkan dihinakan di tanahnya sendiri. Mereka seperti Indonesia tahun 1900-an. Dikeruk hasil alamnya, menyuap para pecundang, dan menelantarkan rakyatnya. Maka pilihan mereka hanya satu: merdeka atau mati.

Anzal geleng kepala berulang-ulang seperti menolak disuruh tidur oleh bundanya waktu umur dua tahun — tapi dalam slow motion. Bukan salahnya baru hidup tahun 2010 dan harus menghadapi kondisi negaranya yang menyebut ‘kesatuan’ tapi lingkarannya hanya sebatas Jawa. Sedikit melebar ke barat dan sedikit sekali ke timur. Indonesia sangat kaya. Jika surga di khayangan bocor dan menetes di bumi, maka itulah Indonesia. Seorang ahli dari Oxford University menyebut bahwa Indonesia adalah Eden in The East. Dalam bukunya, ia mengungkapkan sebuah teori Oppenheimer, yang menyatakan bahwa nenek moyang dari peradaban manusia modern seperti Mesir, Mediterania dan Mesopotamia berasal dari tanah Melayu, Nusantara. Aku terus berkata-kata dalam hati. Meneruskan kekagumanku. Merasakan keindahan luar biasa dari kebenaran yang aku ungkapkan sendiri. Seperti seorang penghafal Alquran yang menangis takjub ketika mengkhatamkan hafalannya. Meneteskan air mata. Air mata syukur.

Anzal tertunduk lesu. Entah mengantuk atau memang tak mampu menahan bangga sekaligus kecewa ke negaranya, bangsanya. Anzal mau tidur dulu ya, Yah. Tanpa berkata-kata lagi ia melengos ke lantai 2. Aku hanya melihat matanya. Seolah mengatakan, tumpahkan saja air matamu itu, Nak, kamu sedang jatuh cinta… kepada Indonesia. Air mata itu pun meleleh di pipinya. Mata kami sedang beresonansi.

Aku kembali ke meja kerja. Menyeruput kopi hitamku. Meregangkan segala ketegangan. Menutup mata, menengadahkan ke langit-langit. Agar air mata itu tak terus keluar. Aku malu kepada Jenderal Sudirman, mereka mencintai Indonesia dengan nyawa, bukan air mata. Mouse itu kembali kugenggam. Masih mencari lagu yang bisa membangkitkan semangat. Hingga sampai pada sebuah lagu yang mungkin sudah lama sekali aku tak mendengarnya: Indonesia Pusaka.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa

Aku mematung tak berdaya. Memejam merindukan Pusaka. Berkelebat meninggalkan raga. Terbang ke angkasa Nusantara seperti Gatotkaca. Menyusuri Zamrud Khatulistiwa. Menyelam bermandikan samudera.  Memejam.

Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Deras air mataku membanjir. Merasakan kembali Indonesia. Mencintainya dengan sederhana seperti kata yang tak sempat diucapkan kopi kepada luwak yang telah menjadikannya nikmat. Nyandu. Sensasi indah yang tak pernah bisa lupa. Memeluknya, menciumnya, mencumbunya, walau telah diselingkuhi anak-anak durhaka. Mencintainya, sampai akhir menutup mata. Indonesia.

Delft, Februari 2021

sumber tulisan:
- http://serbasejarah.wordpress.com 
- Badan Pusat Statistik, 2011
- http://ter-paling.blogspot.com
- http://id.wikipedia.org
- Biografi Mohammad Hatta

#njilat (bukan) budaya #PalingIndonesia

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti sebuah lomba menulis di blog yang diadakan oleh salah satu kantor kepolisian di Makassar. Saya kalah.  Serasa tidak menerima kenyataaan, saya buka-buka tulisan yang mendapat juara di salah satu kategori. Biasa saja. Bahkan tulisannya cenderung membosankan. Bertele-tele dan tidak ‘nendang’ di akhir tulisan. Samar antara feature atau tajuk.

Selang dua-tiga hari pascapengumuman pemenang, salah satu juri mem-post tulisan di blognya tentang tips agar bisa menang dalam lomba menulis.  Menyimak dan mengangguk. Peserta lomba disarankan untuk mengetahui lebih dulu karakter juri, katanya. Harus tahu kesukaan tipe tulisan para juri: feature atau tajuk atau hal lainnya. Saya hanya ber-oo panjang sekali. Mungkin ada benarnya. Tapi setengah kepala saya menggoyang horizontal.

Saya jadi ingat dua tahun yang lalu ketika saya mulai tak betah kerja di kota yang jauh dari orang terdekat. Seorang senior bilang, ‘kamu kalau mau pindah ke Jakarta, harus kenal sama orang sana’. Saya mengiyakan karena teman seangkatan cukup banyak ditempatkan di sana. Tapi sepertinya bukan itu maksudnya. Kalau kebetulan dinas ke Jakarta atau lagi liburan, jangan bawa tangan kosong, mungkin sebotol-dua-botol minyak tawon bisa membuat mereka ‘kenal’ sama kamu, lanjut senior saya, serius.

Bedanya, tips juri tadi memfokuskan ke interest sang pemberi nilai, tanpa memberi ‘minyak tawon’. Kalau yang kedua, tidak memperhatikan apa kesukaannya, yang penting ‘minyak tawon’ (ditambah markisa apalagi). Ya, mungkin masih saudara sepupu-dua-kali.

Yang kedua ini sering kita dapatkan di kantor-kantor pelayanan masyarakat. Walaupun sudah tertulis ‘membuat KTP GRATISS!!’, sang petugas biasanya masih asik dandan kalau tidak kita lambai-lambaikan uang 10 ribuan. Ini sudah menjadi budaya, teman saya bilang. Bisa dimulai oleh ‘customer’ atau ‘owner’. Semacam persekongkolan terstruktur. Dan itu sudah mengakar hebat di kultur orang Indonesia: #njilat.

Cara mudah melihat budaya #njilat adalah dengan jalan-jalan keliling kota. Perhatikan di pinggir jalan, di badan pohon dan berputar sejenak di perempatan traffic light.  Baliho-baliho besar berjejer di sana. Isinya 60% adalah foto closed-up sang pe#njilat, 30% foto gubernur atau presiden dan sisanya kata-kata #njilat seperti ‘Selamat Tahun Baru’, ‘Selamat dan Sukses’, ‘Selamat Datang Tuan Raja berserta Rombongan’.

Masih di jalan raya. Sering kali kita menemukan mobil yang dihiasi sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ‘baliho berjalan’. Biasanya isinya tak jauh-jauh dari pencalonan seseorang menjadi birokrat – entah itu anggota legislatif, walikota, bupati atau gubernur – yang disandingkan dengan seorang figur kuat (biasanya birokrat yang sedang menjabat).

Saya tidak tahu apa memang pembuatan ‘baliho berjalan’ itu sebuah transaksi bisnis semacam franchise. Yang jika menempel gambar figur tersebut, orang yang bersangkutan harus membayar sejumlah royalti. Entahlah. Kalau memang sang calon walikota, misalnya, punya visi hebat kenapa harus membonceng figur orang lain. Aih, terasa kembali ke pelajaran sejarah kalau dengar kata ‘membonceng’ – NICA membonceng Sekutu.

Sejarah. Ya, mungkin memang sudah berabad-abad lalu leluhur kita terbiasa dengan budaya #njilat. Seperti Demang yang me#njilat Meneer dengan membocorkan dimana Si Pitung berada. Atau memaksa kepala dusun memberikan upeti agar posisinya sebagai Demang masih dijaga sang Meneer. Tapi, saya tidak percaya kalau budaya #njilat adalah budaya turun-temurun nenek moyang kita, Nusantara. Apalagi kalau dibilang sebagai budaya yang #PalingIndonesia.

Nah, bicara tentang #PalingIndonesia, saya jadi teringat lomba yang diadakan salah satu provider ternama dengan mengusung tema #PalingIndonesia. Kali ini saya harus menang. Apalagi hadiahnya iPhone 4S. Terus terang, hape saya adalah Nokia Classic yang layarnya sudah retak. Kalau ketik sms maka terdengar seperti mengetik di mesin tik. Tak..tek..tak..tek..tok. Oke, sepertinya saya harus menyudahi tulisan ini dan mulai mempersiapkan materi.

Eh, tunggu, seperti saran seorang juri, saya harus mengetahui karakter para juri dan (kalau bisa) menyublim interest mereka ke dalam tulisan. Oke, kita runut satu-satu siapa saja jurinya. Ipul Daeng Gassing (ketua komunitas blogger Angingmammiri), Khrisna Pabichara (Penulis novel Sepatu Dahlan), dan salah seorang perwakilan Telkomsel.

Juri pertama. Saya adalah follower @iPulG_ (yang sudah di-folback).  Saya cukup kenal dengan daeng Ipul. Kami sempat jabat tangan di Mall Ratu Indah, dan bahkan dia pernah datang ke rumah saya waktu anak saya lahiran.  Saya juga penyuka feature seperti daeng Ipul. Bahkan saya sudah menghabiskan tujuh juta tabungan saya untuk membeli kamera Nikon D3100. Ya, memang masih jauh di bawah D90 milik daeng, tapi minimal kami se-‘agama’. Walaupun sudah jarang lagi aktif kopdar di acara-acara Angingmammiri, tapi saya aktif berpartisipasi di twitter. Cek saja, mention saya ke @iPulG_ bisa lebih dari 25 mentions per week.

Saya juga follower juri kedua, @1bichara, tapi masih belum di-folback (mudah-mudahan setelah menang lomba ini). Khrisna Pabichara, seorang budayawan sekaligus penulis novel Sepatu Dahlan. Di pertengahan Juni kemarin, talkshow Kick Andy di Metro TV khusus mengupas isi bukunya. Dengan tamu spesial Dahlan Iskan. Untuk menonton acara ini pun, saya butuh usaha keras. Di Makassar, Kick Andy tayang pukul 10.30 malam. Padahal jam tidur saya pukul 9-10. Hingga selesai saya menyaksikan talkshow inspiratif itu. Khususnya ketika sang penulis diwawancara, seperti ada sentuhan Mario Teguh di sana. Apalagi, saya sebagai pegawai PLN, ‘sepatu dahlan’ tentu sudah terpatri di hati kami: Bekerja! Bekerja! Bekerja!

Juri ketiga dari Telkomsel. Kalau yang ini jangan diragukan lagi. Saya adalah pelanggan setia Telkomsel. Mulai dari bapak saya, adik, isteri dan mungkin nanti anak saya, adalah pengguna kartu Telkomsel. Apalagi di Indonesia Timur, sinyal yang tanpa gangguan hanya Telkomsel. Boleh dibilang, Telkomsel adalah sim card yang #PalingIndonesia.

Jelas ‘kan, kalau #njilat itu (bukan) budaya #PalingIndonesia. Hehehe…

Imam Muttaqien (twitter: @imam___); Anggota Komunitas Blogger Angingmammiri (blog: alkarami.wordpress.com); Pegawai PLN (NIP: 8509113-Z); No hape 08219023473; – bukan pe#njilat.

Nikah Pada Pertemuan Ketiga, Percaya? (Road To 2nd Anniversary)

(Anzal di senja Pantai Akkarena, Dokumentasi Pribadi)

Dua tahun lalu. Saya masih bujang. Rumah masih kontrak. Kendaraan pribadi hanya sepeda Polygon. Kerja di PLN memang tidak membuat seorang cepat kaya. Apalagi mudah mendapat jodoh. Yakinlah, 87% pegawai PLN mendadak jomblo ketika mendapat SK penempatan. Baru pertamakali tinggal di luar pulau, teman terbatas, lingkungan baru, mau pulang kampung harus naik pesawat, maka lengkaplah penderitaan sang pegawai muda. Pilihan yang sering diambil oleh pegawai muda tersebut ialah menggaet orang lokal atau sesama pegawai untuk dijadikannya pasangan hidup.

Nah, bagaimana dengan saya? Terdampar di Pulau Sulawesi bukanlah perkara mudah. Satu-satunya pulau yang sudah saya datangi selain Jawa ialah Sumatera, tepatnya Lampung. Itu pun hanya dua minggu. Dan bahkan, pulau Jawa pun paling jauh hanya sampai Rembang. Itu pun hanya sehari. Parahnya, rombongan angkatan pegawai muda yang waktu itu ditempatkan di PLN hanya dua orang. Ya, dua orang. Teman saya yang satu orang itu pun bukan teman kampus, kami kenal waktu penempatan itu. Dan dia punya keluarga di Makassar. Jadi, lengkaplah sudah penderitaan saya. Lingkungan baru, pekerjaan baru (fresh graduate gitu loh), teman baru, dan kota baru: Makassaar.

Tidak cukup enam bulan saya sudah bosan. Bukan karena pekerjaan atau Makassar. Saya bosan karena tak punya teman. Sungguh. Akhirnya saya melakukan pencarian. Searching komunitas-komunitas sehobi di Makassar. Dan terdamparlah saya di Komunitas Blogger Angingmammiri. Segala bentuk acara saya ikuti. Intinya untuk mengisi kekosongan akhir pekan. Karena jika akhir pekan dihabiskan bersama teman kantor, maka itu sama saja berkantor selama seminggu penuh. Lagipula waktu itu saya tidak memiliki kesamaan hobi dengan teman kantor saya, kecuali cari makan malam di pinggir jalan.

Setahun pertama. Kebosanan mulai muncul kembali. Pacar tak punya. Produk kantor pun, pegawainya tidak terlalu membuat saya ingin. Cari di phone book, apalagi. Hape saya hilang beserta nomornya. Kontak-kontak teman kampus lewat YM atau Facebook, tak menghasilkan sesuatu yang signifikan. Sepertinya mereka lebih fokus ke Master Degree atau penelitian dan semacamnya. Kontak teman SMA, tidak mungkin. SMA saya adalah salahsatu SMA yang paling tidak diminati oleh para lelaki. Ya, karena tidak menerima siswa perempuan.Perpaduan cara itu akhirnya saya lakukan. Saya kontak teman SMA untuk menanyakan apakah ada teman kampusnya yang available.

Dan keajaiban pun terjadi. Pertengahan tahun 2009 saya mendapatkannya. Iya, saya mendapatkan nomor hape dan akun Facebook. Perkenalan pun dimulai. Tentu lewat sms atau email. Belum tatap muka. Pertamakali tatap muka dilakukan di sebuah mall di Jakarta. Waktu itu saya sedang ada dinas ke Jakarta, jadi sekalian. Hanya perkenalan biasa. Itu pun tidak berdua, kami berempat, masing-masing membawa teman. Makan di Solaria, tidak sampai dua jam, karena sudah sore. Kami pulang.

Catat, itu pertemuan pertama. Coba tebak apa yang terjadi pada pertemuan kedua? Lamaran. Ya, saya melamarnya. Tepatnya awal bulan November 2009. Sangat sederhana, tanpa persiapan. Itu pun berlangsung di rumah saya, bukan di rumah perempuan. Kebetulan waktu itu orangtuanya sedang berada di Jakarta, karena harus menghadiri seremoni pengucapan Sumpah Dokter. Ya, calon isteri saya itu baru saja disahkan menjadi Dokter. Dengan mengandalkan ‘kebetulan’ maka acara lamaran dadakan itu digelar.

Catat, pertemuan kedua kami adalah lamaran. Coba tebak kejutan apa yang terjadi di pertemuan ketiga? Nikah. Bulan Desember kami menikah. Lima puluh hari setelah lamaran, 21 Desember 2010. Dan digelar dengan acara yang sangat sederhana, tapi bermakna — bagi saya. Awalnya saya diundang untuk bertemu keluarganya di Pekanbaru. Tentu, keluarga besarnya tidak mau ngawinin kucing dalam karung. Calon menantunya belum jelas. Mereka hanya tahu dari foto ganteng saya dan bahwa saya seorang pegawai muda PLN. Setelah pertemuan besar itu, kami pun ‘dipaksa’ segera menikah. Kenapa? karena isteri saya sudah tamat kuliahnya di UI. Dan saya pun sudah tak mampu lagi hidup sendiri (halahh..lebay).

Jika diperkenankan, sebenarnya, kami mau melangsungkan resepsi segera setelah akad. Tapi tentu keluarga punya perhitungan lain. Lagipula, anaknya yang mau nikah ini sama-sama anak pertama. Maka dibuatlah rencana resepsi bulan Maret, awalnya. Tapi karena satu dan seribu hal, jadwal resepsi pun dipercepat jadi Februari 2010. Ya, tepat 14 Februari 2010. Bukan latah hari kasih sayang, karena memang tepat dengan jadwal cuti saya. Selepas menikah, isteri langsung diboyong ke Makassar. Kami masih mengontrak rumah di belakang rumah mewah anggota DPRD (sori, yg ini ga penting). Sambil mengumpulkan uang-uang receh untuk persiapan resepsi (terutama ongkos pesawat makassar-jakarta-pekanbaru), kami hanya kebagian mengurus undangan. Lainnya, pihak keluarga yang mengatur. Maka terjadilah resepsi pernikahan kami di Pekanbaru, Jl Sudirman No 21.

Perlu diketahui bahwa waktu itu, isteri saya sedang hamil muda, sekitar 2 bulan. Dan tujuh bulan kemudian, tepatnya tanggal 2 Oktober 2010, lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng yang sangat mirip dengan ayahnya (yakin..yang ini penting). Walau masih dua bulan lagi umur pernikahan kami ganjil satu tahun, Anzal, adalah hadiah hari lahir pernikahan pertama kami. Dan, apa hadiah untuk hari lahir pernikahan kedua nanti (21 Desember 2011)?

Ya, berdasarkan hasil testpack, selembar kertas itu menandakan dua garis sejajar. Dan, memang sudah hampir satu bulan isteri saya tidak haidh. Maka langkah terakhir untuk melengkapkan praduga berbahagia ini adalah dengan lapor ke dokter kandungan.

Sekalian melihat sedang apa gerangan kamu di sana, hai adek kecil. Dengan apa ayah nanti memanggilmu, nak? Oya, kami sudah punya nama, tapi masih kurang satu kata lagi. Kamu tahu nama itu sudah ayah ukir di blog ini sejak kamu belum lahir (yaiyalah, sekarang juga belum lahir..). Nama itu adalah Mutiarahati [………] Alkarami. Kami memang mengharapkan kamu adalah perempuan. Agar abangmu, Anzal, bisa belajar mengasihi perempuan. Jika memang bukan, nanti ayah cari nama lain. Yang pasti, alkarami akan menjadi nama belakangmu. Bukan apa-apa. Ayah hanya ingin kalian menjadi orang besar dengan segala keanggunan dan kehebatanmu.
Dan kamu, isteriku..
Semoga ini menjadi kado teristimewa. Untuk pernikahan kita. Yang kedua..

Nikah pada pertemuan ketiga?
Percayalah!!

 

Hari (anti) Revolusi Motor

Saya baru menyadari bahwa ternyata ada banyak hari peringatan selain Hari Ibu atau Hari Pahlawan. Misalnya, Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup, Hari Jilbab sedunia, Hari Tembakau, dan Hari Antikorupsi. Hari ini (9/12/11) – katanya – adalah Hari Antikorupsi. Beberapa media menjadikannya headlines. Ada yang mengupas kinerja SBY, tentang kasus-kasus besar korupsi, tentang jembatan roboh, dan lainnya. Saya tertarik dengan bahasan salahsatu media yang mengatakan bahwa di Indonesia telah terjadi Revolusi Sepeda Motor. Masyarakat beralih dari angkutan umum ke angkutan pribadi (motor), tambahnya.

Angka penjualan motor di Indonesia fantastis. Pada akhir September 2011 saja berada di sekitar 6,2 juta unit. Dan diperkirakan akan menembus angka 8,1 juta pada akhir tahun 2011 ini (KOMPAS).  Laju pertumbuhan penduduk Indonesia per-tahunnya sekitar 3,5 juta jiwa (www.bps.go.id). Artinya, tiap satu orang Indonesia mampu membeli dua sepeda motor lebih. Tak heran, jika kita melihat tulisan ‘Semakin di depan’ menempel di motor Yamaha milik Lorenzo. Atau tulisa ‘One Heart. Satu Hati’ di motor Honda Pedrosa. Produsen tahu betul pangsa pasar sepeda motor di Indonesia sangat ramai.

Revolusi sepeda motor.  Ironinya bergulir karena kelemahan Pemerintah menanggulangi moda transportasi umum. Awalnya sepeda motor adalah transportasi alternatif untuk menghindari macet atau kebutuhan sederhana (rumah ke warung). Di era ‘revolusi’ ini, sepeda motor mempunyai marwahnya sendiri. Maka berdirilah berbagai macam club-club motor yang seringkali mengadakan touring keliling kota. Dan bahkan kini telah menjadi sebuah ‘alat ukur’ fashion di kalangan anak muda (menengah bawah).

Apakah sah? Jelas tidak melanggar. Tapi menjadi salah ketika ‘revolusi’ tersebut disalahgunakan. Ketika kebutuhan fashion tersebut mengesampingkan keselamatan dan peraturan. Dalam ilmu keselamatan (safety), sepeda motor adalah moda transportasi yang memiliki potensi kecelakaan terbesar. Karena pengendara ‘hanya’ dilindungi oleh helm. Beda dengan mobil yang mempunyai safety belt dan air bag. Angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) menunjukan hal demikian. Kecelakaan sepeda motor selalu lebih besar daripada mobil, kata Menteri Perhubungan RI (KOMPAS). Di Makassar sendiri, laka lantas untuk tahun 2011 ini (hingga November) mencapi 1085 kejadian. Parahnya lagi, 52% di antaranya terjadi pada rentang usia muda, 11-30 tahun. Penyalahgunaan sepeda motor cukup banyak terjadi di usia dini, atau boleh dikatakan di bawah umur. Pengguna motor di bawah umur kian menjamur. Bukan hanya penyalahgunaan SIM, pengguna di bawah umur (SD atau SMP) biasanya tidak peduli terhadap keselamatan mereka.

Saya masih percaya bahwa hal yang paling berharga di dunia ini setelah iman ialah anak. Karena tujuan lahiriah dari hidupnya seorang manusia ialah anak. Berapapun lamanya seseorang sekolah, pada akhirnya akan bermuara pada kesejahteraan. Untuk apa seseorang sejahtera? Untuk menghidupi anaknya. Maka tidak salah ketika John F Kennedy berkata bahwa anak adalah investasi terbaik. Bahkan Soekarno menantang untuk diberikan sepuluh pemuda agar ia bisa mengguncang dunia. Bangsa ini besar karena memiliki penerus yang handal. Berketurunan adalah sebuah keniscayaan. Maka anak-cucu adalah aset yang harus dijaga – pendidikannya, kesehatannya, kesejahteraannya, dan keturunannya.

Ironi ketika orangtua lebih mementingkan membelikan motor daripada buku sekolah untuk anaknya. Memang, pemerintah mempunyai peran dalam penyediaan moda transportasi umum. Kepolisian punya peran dalam penertiban pengendara bermotor. Tapi, orangtua kuncinya. Sulit diterima bahwa anak membeli sepeda motor bukan dari uang orangtuanya. Bahwa anak membayar uang sekolah bukan dari orangtuanya. Ironi jika orangtua menyekolahkan anaknya tapi juga membelikannya motor padahal belum cukup umur. Itu sama saja dengan memberikan benda jutaan rupiah tapi benda tersebut adalah ganja. Madu sekaligus racun.

Saya masih berharap ada hari peringatan lain selain Hari Antikorupsi: Hari (anti) Revolusi Motor.

Apresiasi Perah Sapi (part. 1)

Image

Sekitar satu bulan ini sinus saya sering kambuh. Efeknya tentu saja mengerikan. Kepala terasa berat, pusing di pelipis, dan sensasi sakit menusuk ketika mengambil nafas terlalu dalam.

Stres, kata seorang dokter yang juga kebetulan isteri saya. Bahkan saya sendiri bingung,stres di bagian mana. Cicilan motor memang belum lunas, tapi masa’ iya harus stres be at gini. Dan saya pun cerita ke rekan kerja (yang hanya dua orang itu). Sama, katanya.Walaupun dalam bentuk yang beda. Ada yang tidak bisa tidur. Ada yang ngomong sendiri. Ada yang sering ngigau. Isteri mereka yang malah bingung, ‘ini suami gue kok lama-lama jadi gila ya kerja di PLN’.

Sebelumnya saya perkenalkan dulu bahwa kami adalah pegawai PLN. Kebetulan mendapat tugas sebagai panitia pengadaan barang dan jasa, atau sering juga disebut panitia lelang. Yang mana saja boleh. Pokoknya tugas kami adalah melelang paket pekerjaan yang diberikan owner/pemilik uang (dalam hal ini negara) dengan spesifikasi tertentu. Jika sebuah iPad mempunyai manual book sebagai panduan penggunaan, maka ‘manual book’ kami adalah Peraturan Presiden No. 54/2010. Tugasnya sederhana: menjalankan peraturan di dalamnya.

Di dalam peraturan tersebut, tugas panitia sebenarnya hanya sebagai event organizer. Karena pemecahan paket, penetapan total anggaran, dan spesifikasi dibuat oleh owner.Tugas panitia hanya menyeleksi peserta lelang sedemikian rupa sehingga mendapat satupemenang yang sesuai kriteria dengan harga yang terjangkau (di bawah total anggaran)

Jadi, apa yang membuat kami stres??

Tekanan Pekerjaan

Kita urai dulu apa itu tekanan. Menurut ilmu fisika, tekanan adalah sejumlah beban per-luas area. Semakin banyak beban maka tekanan semakin besar. Tekanan akan kecil ketika luas area diperbesar. Jadi, seberat apapun beban jika luas area penerimanya diperbesar, tidak menjadikan sebuah tekanan (yang besar). Owner, tahun 2011 ini memerintahkan panitia untuk melelang sekitar 56 paket lebih. Tebak berapa jumlah panitianya? Ya, betul jumlah panitianya ganjil. Eits tapi bukan 7, kami hanya bertiga saja. 

Perlu pembahasan panjang kenapa hanya bertiga. Intinya, dari tujuh orang yang ditunjuk oleh Owner, dalam hal ini Dirut PLN, hanya tiga orang yang dapat meluangkan waktu kerjanya untuk menjadi panitia. Yang pertama karena dia ketua. Yang kedua karena sekretaris. Dan saya, karena saya anggota (kan ga enak kalau ada ketua, seketaris, tap iga ada anggota). Bukan berarti panitia yang lain tidak peduli, tapi pekerjaan rutin mereka di bidang masing-masing harus juga diurusi.

Jadi, berapa nilai tekanannya dari beban seberat 56 paket dibagi 3 cowok ganteng? Yup,jawabannya ‘sangat berat’.

Selain dalam bentuk volume (pekerjaan), beban juga muncul dalam bentuk psikis. Jika kita bicara lelang, maka kita bicara perusahaan dan uang. Ketika sebuah perusahaan tidak mendapatkan pekerjaan, dengan kata lain kalah dalam pelelangan, artinya mereka tidak mendapatkan uang. Apa yang terjadi (di Indonesia ini) ketika sekolompok orangtidak ‘kebagian’ uang?

Hampir setiap hari peserta lelang datang ke ruangan panitia silih berganti. Tujuannya macam-macam, ada yang sekadar ngobrol, konsultasi pelelangan, tanya update pelelangan, sampai pada ancaman. Anehnya, para peserta seakan tahu perusahaan manasaja yang lulus, tidak lulus, yang lengkap, yang kena blacklist. Padahal evaluasi pun belum selesai kami lakukan. Saya curiga, sepertinya ada buruh infotainment yang menyamar jadi office boy di kantor kami.

Bayangkan: panitia cuma tiga; mengerjakan 56 paket lebih; hampir tiap hari kedatangantamu; dan tak jarang mendapat ancaman lewat telepon pribadi atau surat resmi. Apalagi ketika pengumuman hasil evaluasi sudah dilayangkan. Maka siap-siap menerima surat yang tembusannya bisa sampai ke KPK, kejaksaan, Polri, bahkan presiden. Panitia bekerja atas dasar peraturan/hukum. Maka ketika salah melangkah, juga diselesaikan secara hukum. Apa yang anda pikirkan saat membaca kata hukum? Mudah-mudahan bukan penjara.

Pertanyaanya: dengan tekanan seberat itu, apakah ada apresiasi?

Apresiasi Perah Sapi

Iya, ada apresiasi. Setidaknya dari Tuhan dan dari isteri. Secara institusi, panitia seakan dikebiri. Diberi tanggungjawab pekerjaan melebihi kapasitasnya, tapi sistem penilaianpun kami tak punya. Aneh. Di PLN, sebuah BUMN superbodi, tidak memiliki mekanisme penilaian yang fair untuk panitia lelang. Sistem Manajemen Unjuk Kerja (SMUK) online merupakan alat ukur penilaian pegawai. Sistem ini tidak bisa mengakomodasi kinerja panitia. Ini artinya, tidak ada perbedaan antara panitia lelangdengan panitia HLN atau panitia Qurban.

Dalam sistem remunerasi yang baru, seluruh kepanitiaan yang ada di PLN mendapatkan tunjangan. P32 namanya. Mau tau jumlah yang panitia dapatkan waktu itu? Alhamdulillah, 1,2 juta. Pertahun. Artinya tunjangan panitia lelang 120 ribu perbulan. Perlu diketahui bahwa gaji pembantu saya 400 ribu perbulan #gapenting #abaikan

Mari kita tengok Peraturan Menteri Keuangan No. 100/PMK.02/2010 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2011. Honorarium panitia pengadaan barang dan jasa untuk pekerjaan konstruksi yang nilai pagunya di atas 1 triliyun (nilai pagu kami 1,2 T) ialah sebesar Rp 3.290.000,- orang per-paket. Sudah saya katakan bahwa tahun 2011 ini kami melelang 56 paket. Artinya saya di penghujung tahun ini harusnya sudah bisa beli All New Madza. Tapi apa yang terjadi, cicilan Vega ZR saja belum lunas. Aihh mateek..

Banyak orang mengira, menjadi panitia itu kaya. Bahwa ada sekian persen yang masuk brangkas kami tiap kali ada tandatangan kontrak. Bahwa ada pengaturan perusahaan tertentu untuk selalu menang. Bahwa mesti minta restu sana sini untuk mengikui lelang.Saya katakan BAHWA itu salah.

Tahun 2011 ini, saya secara sengaja mentotalkan diri masuk ke panitia lelang (karena tahun lalu, saya masih bagi waktu dengan pekerjaan rutin). Awalnya karena kasihan melihat pak ketua dan sekretaris yang punya beban pekerjaan tak manusiawi itu. Tapi kemudian saya hijrah. Dengan niat yang kuat tentunya. Pekerjaan rutin saya tinggalkan dulu, mengingat masih ada dua rekan kerja saya di sana. Lagi pula saya ingin mencoba hal baru di luar pekerjaan rutin (yang sudah saya lakukan selama tiga tahun).

Dan apa yang terjadi? Tengah tahun 2011, saya mendapatkan penilaian potensial, padahal selama 3 tahun mengerjakan pekerjaan rutin (dengan beban yang sedikit) berturut-turut penilaian saya optimal. Perlu diketahui bahwa optimal lebih tinggi daripada potensial. Ini tidak hanya mengenai uang, tapi juga karir. Parahnya, sang ketua panitia, yang punya daya tekan tinggi ketimbang anggotanya, juga mendapat penilaian potensial. Dengan tunjangan yang 1,2 juta itu.

Memang benar, panitia dekat dengan manajer. Dekat dengan General Manager. Sering menghadap ke ruangan GM. Bahkan tak jarang para pejabat datang ke ruangan panitia. Tapi untuk apresiasi kinerja, saya belum bisa menemukan hubungan yang kuat.

Maka jangan salahkan saya ketika jam lima sore sudah meninggalkan kantor padahal masih banyak dokumen yang harus dievaluasi. Karena saya harus menjemput isteri saya, yang setibanya di rumah akan masak untuk kami sekeluarga. Begitupun saya, sambil bersih-bersih rumah harus jaga anak agar tidak ganggu ibunya yang lagi masak. Maklum kami tidak punya pembantu yang menginap dan penjaga bayi. Kendaraan pun cuma satu (itupun belum lunas <– kok dibahas lagi ya..), jadi harus antar jemput isteri yang juga berprofesi sebagai dosen.

Karena hanya isteri yang mengapresiasi kinerja saya. Maka saya mencoba tegar agar tidak gentar dengan segala tekanan yang menggetar. Jika memang tak bisa membeli susu bayi, perah sapi pun jadi.

 

#mudikhectic part1

Ramadhan tahun ini memang beda. Selain berlatar d rumah ‘baru’, juga ada pendatang baru di sana, bahkan di bumi ini: Anzal. Jam kantor berubah, disesuaikan dengan aktivitas Ramadhan. Masuk jam delapan, pulang jam tiga sore. Bagi saya masuk jam delapan adalah jadwal tetap masuk kantor ;p. Begitu juga dengan jam pulang kantor, walaua sampai jam tiga, pulang tetap jam lima atau menjelang buka.   Setidaknya itu terjadi sebelum punya anak. Nah, dengan rumah yang jauuhhh (karena harus melewati satu kota dan satu kabupaten) dan anak bayi yang jam ‘rewel’nya mulai kambuh di jam-jam sibuk, maka pulang sesuai jadwal adalah sebuah keniscayaan.   Tahun kemarin kami memutuskan untuk berlebaran d makassar karena isteri sedang hamil besar. Tahun ini rencananya juga seperti itu, tapi dengan alasan yang berbeda: tiket muaahal. Maka hingga pertengahan Ramadhan saya tak peduli dengan urusan tiket. Etapi, tiba-tiba ada hasrat untuk sungkem dan silaturahmi ke orangtua di lebaran ini. Pasalnya gara-gara penghuni baru itu, Anzal, kakek-neneknya sudah tak sabar ingin menggendong dan menghadiahinya sebuah mobil Nissan March (loh..kok curhat?!).

Islam. Titik.

Jarang aku menyebut sekolahku adalah pesantren, walau di gapura depan tertulis ‘pesantren unggul’. Bukan karena malu, tapi memang sekolahku tidak memenuhi kriteria sebuah pesantren – setidaknya menurutku. Dimana-mana pesantren tentu ada kiayinya, ada ulama tersohornya. Di SMA-ku titel guru baru sampai pada ‘ustadz’. Gelar akademik paling bantar S. Ag (Sarjana Agama). Yang lainnya gelar akademik non-agama. Pengalaman di bidang kepesantrenan juga boleh dibilang tidak ada. Mungkin hanya dua guru yang alumni pesantren.

Kitab gundul? Itu pun tidak ada. Sebenarnya ada, tapi metode pengajarannya tidak seperti di pesantren.  Sang guru hanya membacakan kemudian siswa memberi harakatnya. Lalu guru mengartikan, dan siswa menulisnya. Itu saja. Tidak ada pembahasan nahwu dan sharaf (grammar bahasa arab). Kitabnya pun kitab yang sudah ada versi ‘modern’-nya di pasaran. Kalau kata sang guru, itu untuk pembelajaran saja.

Ada satu lagi keanehan. Biasanya kalau pesantren, itu jelas ‘aliran’ keislamannya. Ada pesantren bermadzhab Imam Syafi’i, Imam Hambali, Salafi, Muhammadiyah, dan sebagainya. Di sekolahku, itu semua tidak ada. Sekolah tidak mempunyai main stream tertentu mengenai afiliasi keislaman. Tradisional tidak, moderatpun diragukan. Uniknya, unsur-unsur ‘aliran’ itu berbeda-beda di setiap guru. Ada yang background-nya Muhammadiyah, ada yang NU, dan pergerakan-pergerakan Islam modern. Mengenai nama-nama pergerakan islam ini, jujur saja, aku baru tahu saat itu. Tadinya, aku kira hanya ada NU dan Muhammadiyah. Dan itu pun, aku kira cuma qunut sama tahlilan saja yang membedakan keduanya.

“Ikut pengajian yuk sama Bapak”, Pak Zul berbisik sehabis Ashar. Hari minggu, kami berangkat ke kota (sekolah kami ada di Kabupaten). Kami menuju sebuah masjid yang tidak terlalu bagus. Tidak ada cat warna-warni yang menghiasi. Tidak ada lukisan kaligrafi. Tidak ada menara, apalagi kubah emas. Masjid itu sangat sederhana, tapi lengkap. Kamar mandi bersih, tempat wudhu banyak. Dan yang paling penting, jamaahnya berjubel. Hampir semuanya memakai gamis. Beberapa mengenakan sorban di kepalanya. Siwak selalu ada di kantong mereka – yang mereka gosokkan ke gigi depannya sebelum shalat. Masjid itu nampak teduh rasanya. Tidak ada kata yang terucap dari mulut mereka kecuali kata-kata bijak.

Minggu depannya kami diajak lagi. Kini seharian. Setelah dari masjid itu kami menuju masjid lain. Kegiatan kami sama dengan kegiatan di masjid yang minggu kemarin. Ta’lim, menghafal Surah, dan mengajak orang-orang di sekitar masjid untuk ikut shlat berjamaah di masjid (khusus untuk laki-laki).

Sampai di sini, aku merasa ada perubahan positif dalam hidup. Shalat menjadi lebih khusyu, tidak berpikiran negatif, berkata benar jika tidak diam, dan yang lebih terasa adalah semangat ibadah yang begitu menggebu-gebu. Teman-teman yang mengikuti ‘pengajian’ ini pun bertambah banyak. Kami mempunyai ‘kelompok’ sendiri. Sehabis Isya, kami tidak langsung makan malam. Kami membuat lingkaran, mengevaluasi ‘kerja ibadah’ dan membuat program. Nama forum itu adalah musyawarah. Yang lucu dari salah satu program kami ialah menyadarkan teman-teman kami yang masih pacaran. Waktu itu kami membahasnya dengan penuh keseriusan. Setiap kelas ada penanggungjawabnya, bahkan setiap kamar. Aksinya ialah memprovokasi teman-teman yang masih berpacaran agar putus dari pacarnya. Jika mengingat ini, aku jadi pingin ketawa sendiri.

Karena selalu menjadi kloter terakhir saat makan malam, ‘kelompok’ kami pun mendapat sorotan dari beberapa guru. Kegiatan ‘musyawarah’ kami membuat aktivitas rutin belajar mandiri jadi tergeser. Selain itu, gap kami dengan siswa lainnya cukup besar. Bayangkan saja, ketika hari minggu sore para siswa sedang asik main futsal dan basket di halaman masjid, kami ‘malah’ melingkar  berdoa di tempat yang sama. Begitu ‘ritualnya’ jika kami ingin berjalan keluar. Hari itu program kami memang bersilaturahmi ke penduduk sekitar sekolah. Selain mengajak untuk shalat berjamaah di masjid, kami juga mengajak warga sekitar untuk ikut dalam pengajian rutin yang diadakan setiap minggu di kota, di masjid yang teduh itu.

Tapi entah kenapa, saat itu aku tidak merasakan keanehan apa-apa. Perilaku kami normal-normal saja. Tapi, guru-guru berpendapat lain rupanya. Maka diutarakanlah keberatan guru-guru tersebut kepada Pak Zul – yang juga guru – yang memprakarsai adanya ‘kelompok’ ini. “JIka kalian masih ingin ngaji ke kota, silakan saja. Sekolah tidak melarang. Tapi buatlah itu secara mandiri, tidak perlu diorganisir dan terpusat”, kata Pak Zul ketika kami sedang musyawarah.

Maka ramailah isu ‘tidak ada pergerakan islam di dalam sekolah’ dibicarakan guru di depan kelas. Guru yang mengomentari tentu saja yang memiliki afiliasi berbeda dengan Pak Zul. Pak Hadi, contohnya, ia menunjukkan bahwa masih ada jenis ‘pergerakan islam’ lainnya yang lebih fleksibel, lebih moderat. Aku, jujur saja, bingung bukan kepalang. Ternyata Islam tidak cuma satu atau dua. Tapi beraneka warna, beraneka rasa. Aku kira ‘Islam’ yang kemarin kami lakukan adalah Islam yang dicontohkan kanjeng Nabi. Ternyata itu barulah ‘Islam’ yang dilakukan oleh Pak Zul dan ‘kelompoknya’. Beda lagi ‘Islam’ yang diajarkan oleh Pak Hadi dan ‘kelompoknya’.  Beda dengan ‘Islam’ yang diajarkan oleh Pak Dikdik, oleh Pak Heri.

Untuk mempertegas isu ini, akhirnya sekolah mengambil kebijakan bahwa siswa tidak diperkenankan ikut dalam bentuk pengajian atau pergerakan Islam manapun di luar kelembagaan sekolah. Dan guru yang memiliki afiliasi terhadap pergerakan Islam tertentu boleh memberikan ‘ajaran Islam’-nya pada siswa. Entah itu di sela-sela jam pelajaran, atau di hari libur. Maka nyatalah sudah bahwa ternyata Islam itu banyak macamnya.

Untungnya tidak ada saling ‘menyerang’ antar-pergerakan. Mereka – para guru – menghormati perbedaan. Sistem yang diterapkan di sekolah maupun di asrama pun merupakan hasil fusi dari berbagai macam idealisme dan pemikiran (kelompok) mereka. Maka jadilah sekolah kami sekolah yang universal. Maka kami – setelah jadi alumni – tidak merasa aneh lagi dengan ‘perang’ pemikiran Islam di kampus. Karena banyak sekali terjadi tarik-menarik sumberdaya manusia antar-pergerakan Islam di kampus. Tidak hanya tarik-menarik, tapi juga saling menjatuhkan.

Aku geram sekali ketika dalam sebuah Ta’lim, seorang ustadz yang hafal Alquran dan aktif di sebuah partai dakwah, memfitnah seorang tokoh Muhammadiyah tanpa fakta yang jelas. Bahkan dia ‘mentertawakan’ Jamaah Tabligh yang kemana-mana membawa kompor. Udik. Belum lagi kepada ‘saingan’ dekatnya, Hizbut Tahrir, yang katanya tidak moderat. Aku, saat itu, hanya diam dan memohon semoga Tuhan mengampuninya.

Seorang teman asrama-ku sewaktu kuliah, bahkan dengan mudah menyatakan bahwa yang itu tuh bid’ah, yang ini juga, apalagi yang sana. Kalau bid’ah artinya sesat, dan sesat tempatnya neraka, tambahnya lagi. Aku kembali diam dan memohon agar tidak kembali lagi terjadi perang Shiffin (perang Unta) – Perang antara kaum muslimin karena perbedaan pandangan. Cukup sahabat-sahabat nabi saja yang merasakannya.

Pada hari akhir nanti, menurut hadits Nabi, hanya satu dari 73 golongan yang akan masuk surga: Ahli sunnah wal jama’ah – yang artinya Golongan yang mengikuti sunnah Nabi dan berjamaah (bersatu dalam shaf). Jadi hanya golongan yang mengikuti sunnah dan yang bersatulah yang masuk surga. Golongan yang mengikuti sunnah tapi menjelek-jelekkan golongan lain, bisa jadi bukan termasuk golongan yang masuk surga.

Cukup mengenaskan memang. Islam tidak didedikasikan dalam sebuah ajaran. Tapi sebuah pergerakan. Maka yang muncul adalah emosi kemenangan, emosi masa, dan emosi kekuasaan. Pergerakan harusnya cukup untuk memobilisasi, sedangkan ajarannya tetap sama: Islam. Titik.

(thealbayanseries)