PANDUAN PEMERIKSAAN DOKOMEN AMDAL UNTUK PEMRAKARSA

I Latar Belakang 1 Dalam kegiatan atau usaha pembangunan, Pemrakarsa membutuhkan dokumen Amdal untuk rencana kegiatan yang memiliki kriteria wajib Amdal (Permen LH 5/2012, Lampiran 1 dan 3). Amdal dilakukan sebagai kajian dampak lingkungan terhadap rencana kegiatan yang digunakan untuk pengambilan keputusan terkait izin lingkungan dan izin usaha. Amdal terdiri dari Kerangka Acuan, Andal dan RKL-RPL;
2 Dokumen Amdal disusun oleh konsultan penyusun atau Lembaga Penyedia Jasa Penyusun (LPJP) dengan melalui pengadaan/seleksi jasa konsultansi (PP 27/2012 pasal 10);
3 Dokumen Amdal yang disusun LPJP kemudian harus diperiksa terlebih dahulu oleh Pemrakarsa sebelum dilakukan penilaian oleh Komisi Penilai Amdal (KPA);
4 Dalam melakukan penilaian, KPA menilai dokumen Amdal secara administratif dan teknis (Permen LH 8/2013 pasal 12 ayat 2). Penilaian administratif dilakukan oleh Sekretariat KPA sebelum dilanjutkan penilaian teknis oleh KPA dan/atau Tim Teknis;
5 KPA memiliki batas waktu penilaian dokumen Amdal. Jangka waktu penilaian untuk Kerangka Acuan (KA) dan Andal, RKL-RPL masing-masing paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja dan 75 (tujuh puluh lima) hari kerja setelah dokumen lengkap secara administratif (Permen LH 8/2013 Pasal 13);
6 Untuk meminimasi waktu dalam penilaian tahap administrasi baik saat pemeriksaannya sendiri maupun saat perbaikannya, Pemrakarsa dapat melakukan pemeriksaan mandiri terhadap dokumen Amdal yang disusun LPJP sebelum diserahkan kepada KPA;
7 Dokumen Amdal, khususnya dalam RKL-RPL berisi tentang arahan dan bentuk kegiatan yang harus dilakukan oleh Pemrakarsa. Dalam hal Pemrakarsa tidak melaksanakan apa yang tertuang dalam dokumen Amdal tersebut, maka akan dikenakan sanksi administratif seperti teguran tertulis, paksaan pemerintah, pembekuan Izin Lingkungan, atau pencabutan Izin Lingkungan (PP 27/2012 Pasal 71);
8 Maka apa yang disusun oleh LPJP dalam dokumen Amdal harus ditelaah terlebih dahulu oleh Pemrakarsa terkait dengan korelasi, relevansi serta kemampuan Pemrakarsa dalam melakukan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan terhadap kegiatan konstruksi maupun operasional;
II Tujuan 1 Meminimasi waktu penilaian dokumen Amdal khususnya pemeriksaan secara administratif oleh Sekretariat KPA;
2 Mengendalikan muatan dokumen Amdal termasuk deskripsi kegiatan dan jenis-jenis dampak yang harus dikelola dan dipantau dalam hubungannya dengan rencana kegiatan yang akan dilakukan secara komprehensif berdasarkan korelasi dan kemampuan sumber daya Pemrakarsa;
III Landasan Hukum 1 Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
2 Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan;
3 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 05 Tahun 2012 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki AMDAL;
4 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 16 Tahun 2012 tentang Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup;
5 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 17 Tahun 2012 tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL dan Izin Lingkungan;
6 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 08 Tahun 2013 tentang Tata Laksana Penilaian dan Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup serta Penerbitan Izin Lingkungan;
7 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 07 Tahun 2010 tentang Sertifikat Kompetensi Penyusun AMDAL;
IV Petunjuk Pengisian 1 Panduan pemeriksaan dokumen Amdal ini dalam bentuk checklist (ada atau tidak) yang dapat diberi keterangan jika terdapat keraguan atau ketidakjelasan pada dokumen;
2 Perihal detil yang disebut dalam Panduan ini dapat langsung dicek ke peraturan yang ditunjuk;
3 Dalam melakukan pemeriksaan, sedapat mungkin dilakukan lintas bidang yang terkait, mulai dari perencanaan, konstruksi hingga operasi. Misalnya untuk mereview rencana pengelolaan lingkungan pada tahap konstruksi, bidang perencanaan dapat membahasnya bersama bidang konstruksi. Dalam merencanakan pengelolaan limbah cair dapat dibahas bersama dengan bidang operasional;
4 Pemeriksaan ini dibagi menjadi 2 (dua) bagian sesuai tahapan penilaian oleh KPA: (1) dokumen Kerangka Acuan; dan (2) dokumen ANDAL & RKL-RPL;
5 Bentuk panduan pemeriksaan dokumen Amdal untuk pemrakarsa ini disajikan pada Lampiran I (Kerangka Acuan) dan Lampiran II (Andal & RKL-RPL);
V Penutup 1 Checklist pemeriksaan dokumen Amdal ini juga dapat dijadikan salah satu rujukan dalam membuat kerangka acuan kerja/TOR untuk konsultan/penyedia jasa penyusun Amdal;
2 Untuk keperluan pemeriksaan dokumen UKL-UPL, Panduan ini dapat dijadikan sebagai alat pemeriksaan dengan mengacu pada Lampiran II bagian RKL-RPL No 8, 9 dan 11;
3 Panduan ini belum diaplikasikan sehingga belum dapat diketahui efektivitas dan signifikansinya secara nyata terhadap pekerjaan Pemrakarsa dalam memeriksa dokumen Amdal.

Nikmat Yang Tak Terdustakan

IMG_2079

Hampir empat tahun umur pernikahan kami. Dua anak sudah kami dianugerahi. Saya seorang pegawai BUMN yang baru sekali naik peringkat. Sementara isteri, seorang dokter yang merimba dari klinik hingga dosen. Tak banyak  yang kami dapati, hanya seonggok rumah tipe 38 di ujung kota dan serongsok motor vega ZR. Itu saja. Tapi ada hal lain yang kami peroleh. Setidaknya, bagi saya adalah sebuah hal-hal baru yang datang dari isteri. Sebuah nikmat.

Parenting

Ilmu ini tidak saya dapati waktu kuliah. Saya rada kagok mengikuti seminar atau short courses tentang pernikahan, waktu itu. Karena lebih fokus di how to-nya. Karena sesungguhnya itu pun susah. Beruntunglah saya, ilmu tentang mendidik anak, terutama psikologi sudah menjadi cemilan isteri saya kala mengandung, menyusui, atau bahkan sambil makan. Walau hanya lewat selembar gadget.

Ia tahu bahwa Anzal punya pribadi unik. Berbeda dengan adiknya, Firaas. Bahkan kadang kebalikannya. Ia tahu bagaimana men-treat keunikan itu. Bahkan, isteri saya tahu Anzal harus sekolah di mana (yang cocok untuk perkembangannya). Untuk seorang awam seperti saya, rasanya  kaget ketika Anzal harus masuk kamar  karena menolak makan. Kadang pun saya menitikkan air mata ketika dengan muka sedih Anzal merangsek ke kamar. Menyendiri di sana. Menyadari kesalahannya. Tapi karena itulah sekarang Anzal jadi gampang makan. Rutin, tiga kali sehari. Sementara teman sebayanya, hanya mau minum susu formula dan sesekali roti isi.

Saya tidak sedang menyalahkan atau membanding-bandingkan. Hanya ingin bersyukur karena lewat ‘anak gampang makan’ lah Tuhan memberikan rejeki kepada kami. Karena butuh uang sekitar 2 juta rupiah perbulan untuk memberi susu formula itu. Atau pamannya (tapi masih balita) yang makannya hanya sekali sehari. Itupun kadang hanya dengan Indomie.

Sewaktu masih ‘diospek’ makan teratur, drama hadir setiap sebelum makan. Begitupun dengan ‘ospek’ sikat gigi sebelum tidur. Selalu ada drama. Kita berkeras. Anzal menangis keras. Dan sekarang, Anzal bahkan minta (sikat gigi) sendiri jika ingin tidur malam.

Selain dapat rejeki ‘anak gampang makan’, kami juga dapat rejeki ‘bebas diapers’ dari Anzal. Umur dua tahun Anzal sudah mulai lepas popok, kecuali saat tidur malam dan acara luar rumah. Di umurnya yang tiga tahun Anzal totally bebas popok. Dia ngomong jika ingin pipis atau pup. Untuk pup, bahkan ia tidak mau ditunggui. Pintu kamar mandi harus ditutup, ayah bundanya menunggu di luar. Dan boleh masuk kalau ia sudah selesai. Perlu diketahui WC kami masih jongkok.

IMG_2317IMG00256-20120602-1030

Financial planning

Sebut saja Ligwina Hananto, seorang financial planner. Beberapa hal kami mengacu kepada kitab sucinya tentang investasi reksadana. Meninggalkan teori salah kaprah unitlink. Mereksadanakan dana-dana pendidikan anak. Beberapa untuk dana pensiun dan dana darurat. Besarannya hanya ratusan ribu. Tapi rutin per bulan.

Sebelumnya kami berkebun emas. Juga ikut investasi di sektor riil bisnis punya teman. Dan terakhir berkonsorsium buat jasa penitipan anak. Semuanya, kecuali kebun emas, gagal dan menyisakan pelajaran berharga. Kalau kata isteri saya, uang yang hilang itu anggap saja biaya ‘kuliah bisnis’ buat kita.

Setelah kandas di sektor riil, awalnya  kami mau coba di franchise. Kebetulan teman saya ikutan bisnis waralaba ini. Dia bahkan sudah punya dua cabang. Tapi ketika itu dana tidak tersedia. Jadi kenekadan kami untuk membuka alfamart (juga) kandas.

Beberapa tahun kemudian, uang pun terkumpul. Alfamart sudah keburu menjamur seperti blackberry. Niatan pun surut. Sebenarnya ada mobil yang ingin sekali kami beli. Karena rasanya cukup riweuh bawa empat awak dalam satu motor bebek. Pernah mencoba pake angkot. Ternyata lebih riweuh lagi. Sudah mah sesak-sesakan, bau, gerah dan mesti ganti-ganti (angkot) juga. Dan kemudian naik taksi. Tapi ya itu, uang yang dihabiskan ke mall, setengahnya untuk ongkos taksi.

Untungnya awak motor masih toleran dan bersabar atas keterbatasan tunggangannya. Masih bersedia panas-panasan, kena debu jalanan dan kedinginan kala harus pulang sehabis maghrib.

Jadi, uang yang katanya sudah terkumpul itu mau diapakan?

Rumah. Ya rumah kedua. Mungkin agak nekad. Tapi hidup ini memang harus demikian. Kenapa nekad? Karena jika jadi (saat ini masih proses approval) maka gaji saya habis untuk KPR rumah pertama dan kedua nanti. Untuk kebutuhan tabungan dan biaya bulanan, mengandalkan gaji dosen isteri saya serta receh-receh dari bonus, insentif dan sisa uang tiket dinas.

Ibu saya pernah bilang, ‘kalau hidupmu mau semangat, berhutanglah’. Awalnya saya kira ini sebuah lelucon. Tapi ternyata memang lelucon. Lelucon sufi. Pada akhirnya kami semacam ‘dipaksa’ untuk menabung (dalam bentuk cicilan rumah). Dan pada dasarnya, saya dan isteri merasa tidak betah punya uang cash atau tabungan yang menganggur. Uang itu bisa saja dibelikan mobil impian kami. Tapi sayang, ternyata mobil bukan aset. Nilainya turun. Bahkan perlu dana bulanan tambahan untuk perawatan. Dan kami kira motor bebek masih kuat menampung kami. Iya ‘kan, Bek?

Terlihat seperti menyiksa diri. Tapi percayalah. Inilah tanjakan sebelum di umur renta nanti kita menapaki puncaknya. Biarlah kita yang merasakan pahitnya. Dan anak-anak merasakan buah manisnya. Biarlah tidak hura-hura dengan bonus yang baru saja diterima untuk simpanan pendidikan anak yang entah berapa biayanya nanti.

IMG_2529 IMG_2357

Masih hutang

Setidaknya ada dua hutang saya ke isteri. Cincin kawin dan bulan madu. Dulu memang ada cincin kawinnya, tapi karena faktor penyusutan material, cincin jadi makin kecil. Atau mungkin faktor penggemukan jari manis pascanikah. Entahlah. Untuk yang bulan madu, dulu sempat tapi cuma short time. Cuma menginap selamam di hotel. Bukan bulan madu yang jalan-jalan ke tempat rekreasi, pantai atau wisata ke luar negeri seperti Maldives, Turki atau Bali (CMIIW).

Mudah-mudahan segala hutang bisa dituntaskan secepatnya. Agar segala keberkahan yang kami (saya) peroleh menjadi bertambah. Nikmat yang tak terdustakan. Semoga saja bukan hanya sekadar janji-lionair. Anggaplah sebagai voucher kado ulang tahun. Di usianya yang lahir di tahun 1985 ini. #HBDBunda

CDM: PROGRAM LINGKUNGAN YANG BERLIMPAH UANG

 Image

 

Pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan merupakan salah satu unsur penting yang tidak boleh dipisahkan dalam proses pembangunan dunia. Daya dukung lingkungan akan semakin terkuras jika proses pembangunan tidak mempertimbangkan aspek dampak dan keberlanjutannya. Karena lingkungan punya batas toleransi untuk ‘dirusak’ manusia. Jika unsur tersebut tidak diintegrasikan, maka pembangunan hanya akan membuat keturunan setelah kita akan hidup di padang gurun tanpa ekosistem yang lengkap.

Pemanasan global (global warming) adalah isu lingkungan yang cukup besar mendapat perhatian dunia. Pada tahun 1997 di Kyoto, Jepang, PBB melalui UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) mencetuskan suatu Protokol yang menawarkan mekanisme fleksibel yang memungkinkan negara industri atau negara maju memenuhi kewajiban untuk mengurangi emisi gas-gas rumah kaca (seperti CO2, CH4, N2O, CF4, C2F6) melalui kerjasama dengan negara lain baik berupa investasi dalam emission reduction project ataupun carbon trading. Melalui Protokol Kyoto ini, Annex I (negara-negara maju yang menandatangani) diharuskan menurunkan emisi gas rumah kaca minimal 5% dari tingkat emisi tahun 1990, selama 2008-2012. Clean Development Mechanism, atau lebih dikenal dengan CDM, adalah salah satu mekanisme pada Protokol Kyoto yang mengatur negara-negara Annex I dalam upayanya menurunkan emisi gas rumah kaca. CDM adalah satu-satunya mekanisme di bawah Protokol Kyoto yang melibatkan negara berkembang, dimana negara maju bisa menanamkan modalnya di negara berkembang dalam proyek-proyek pembangunan yang non-CO2 pollution.

Negara-negara maju yang berkewajiban membatasi atau menurunkan emisinya harus mendapatkan sertifikasi penurunan emisi, yang disebut sebagai kredit karbon atau carbon credits.  Untuk CDM, kredit karbon ini disebut Certified Emissions Reduction, CER.  Nilai CER inilah yang nantinya akan dikonversi menjadi sejumlah uang (biasanya dalam US$ atau Euro). Transfer sertifikasi penurunan emisi ini biasanya melalui perdagangan, dengan harga yang ditentukan oleh pasar sesuai dengan tingkat permintaan dan pasokan dari sertifikasi itu.  Penurunan emisi ini diukur dari sebuah “baseline” (tingkat emisi hipotetis jika proyek CDM tersebut tidak ada). Sertifikasi dari penurunannya dapat dijual kepada entitas publik atau swasta di negara maju untuk diklaim oleh entitas tersebut sebagai pemenuhan kewajiban penurunan emisinya.

Biasanya ada konsultan khusus di bidang carbon market ini. Pihak pemrakarsa cukup meng-hire atau melakukan tender untuk menyerahkan ‘jualan’ karbonnya kepada konsultan. Konsultan akan mengestimasi jumlah karbon yang bisa dijual ke negara maju. Perhitungan sederhananya ialah dengan menghitung terlebih dahulu baseline atau faktor emisi di daerah (wilayah) yang akan dibangun ‘instalasi penurunan emisi’ (misalnya, PLTM) dalam bentuk tonCO2/MWh.  Selanjutnya, nilai (MWh) keluaran atau daya terpasang PLTM tersebut (selama setahun) dikalikan dengan dengan faktor emisi (tonCO2/MWh) untuk mendapatkan nilai tonCO2. Nilai inilah yang disebut CER (tonCO2), yang nantinya diekivalenkan dengan nilai di carbon market.

Misalnya untuk proyek PLTM berkapasitas 1 MW, berarti dalam setahun mempunyai kapasitas sebesar 8.760 MWh (1 x 24 x 365 = 8.760 MWh). Faktor emisi (baseline) untuk Sulawesi misalnya 0,5 ton CO2/MWh (baseline untuk grid sistem Sulawesi masih dalam perhitungan, sedangkan baseline untuk grid sistem Minahasa = 0,517 tCO2/MWh), dengan asumsi capacity factor = 80%. Maka nilai emisi yang dihasilkan pertahun atau 1 CER ekivalen dengan 3.504 ton CO2 (8760 x 0,5 x 0,8). Jika harga 1 CER =  €10/ton, maka per tahun akan mendapat  €35.040 atau Rp. 489.579.000 (€1 = Rp. 13.972,-).

Perbandingan kapasitas yang terpasang dengan rupiah yang didapat pertahunnya cukup fantastis. Satu megawatt saja dapat menghasilkan sekitar Rp. 500 juta pertahunnya. Saat ini, PLN PIKITRING SULMAPA sedang melakukan konstruksi 8 PLTM tersebar yang masing-masing 4 di Sulawesi Barat (7 MW), 3 di Sulawesi Tenggara (3,3 MW), dan 1 di Sulawesi Tengah (2 MW). Maka secara kasar, dapat dihitung nilai carbon credit dari delapan PLTM tersebut sekitar Rp. 6 Milyar pertahunnya. Nilai ini akan diterima PLN selama masa PLTM tersebut beroperasi.

Perhitungan di atas tentu sangat disederhanakan. Akan tetapi, secara singkat, seperti itulah alur perhitungan carbon credit. Yang menjadi rumit dari proses penjualan karbon ini ialah hierarki pengurusan dan estimasi besaran yang dikompensasikan. Organisasi CDM sendiri di tingkat dunia dikendalikan oleh CDM Executive Board (EB). EB dibantu oleh dua Designated Operational Entity (DOE) dari pihak swasta – yang memvalidasi dokumentasi desain proyek (Project Design Document, PDD) – dan satu untuk memverifikasi terjadinya penurunan emisi. Tahap pertama adalah pembuatan PDD yang kemudian akan disetujui oleh Designated National Authority (DNA).  Di Indonesia, DNA ini adalah Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih (Komnas MPB) yang bernaung di bawah Kementerian Lingkungan Hidup.

Setelah proyek didaftarkan pada EB, maka penghitungan penurunan emisi dapat dimulai.  Pada tahap ini, peran monitoring sangatlah penting.  Hasil monitoring inilah yang akan diperiksa oleh DOE untuk memverifikasi penurunan emisinya, dan berdasarkan laporan verifikasi itu, sertifikasi penurunan emisi dapat diterbitkan oleh EB.

Di PLN sendiri, pengembangan proyek CDM ini telah dilakukan, diantaranya PLTP Lahendong II dan III, PLTP Kamojang, PLTA Genyem, PLTM Lobong, PLTM Mongango, PLTM Merasap, dan lainnya. Beberapa bulan yang lalu, PLN telah menandatangani Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) untuk proyek CDM Pembangkit Listrik Tenaga Gas berkapasitas 14 MW di Bontang, Kalimantan Timur.

Pertumbuhan pasar carbon (CDM) di dunia sangat pesat. Tahun 2006 yang hanya $6 Milyar, tahun 2007 sudah naik dua kali lipat. Tahun 2008 lalu diperkirakan bernilai $20 Milyar. Pada tahun 2012 diperkirakan akan meningkat hingga $60 Milyar per tahun. Permintaan sertifikasi penurunan emisi (CER) sekitar 3,5 Milyar ton pada periode 2008-2012. Saat ini EB sudah menerbitkan CER sekitar 200 juta ton.

Jika melihat tuntutan pembangunan berkelanjutan dan tawaran program CDM yang menghasilkan keuntungan yang signifikan, maka pembangunan pembangkit-pembangkit non-fosil (non polusi CO2) adalah sebuah strategi efektif. Selain mendapatkan energi listrik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, kita juga bisa mendapatkan keuntungan dari program CDM ini. Hasil keuntungan tersebut juga bisa digunakan kembali untuk membuat pembangkit atau sarana ketenagalistrikan lainnya.

Pembangkit non-fosil yang menghasilkan kapasitas daya dan memiliki potensi kandungan yang besar, khususnya di Indonesia, ialah PLTP. PLTP sendiri lebih menguntungkan diikutkan program CDM dibandingkan energy terbarukan lainnya karena nilai CER dan CF yang lebih tinggi (Djuwarno). Kandungan panas bumi di Indonesia yang sudah diketahui keberadaannya mencapai 27.000 MW (Dirjen Migas, 2005). Akan tetapi, saat ini yang telah digunakan menjadi listrik baru sekitar 4%-nya.  Pada Program Percepatan 10.000 MW Tahap II, PLN merencanakan 60%-nya untuk membangun PLTP. Walau biaya investasi awalnya yang mahal (1800 US$/kW), PLTP menjanjikan pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta uang yang berlimpah dari CDM.

Sumber:
http://www.pln.co.id
http://iklimkarbon.com
http://carbon-credit-indonesia.blogspot.com
http://dna-cdm.menlh.go.id
http://cdm.unfccc.int
http://www.bluenext.eu

Makassar, 2009

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pinisi, media humas PT PLN UIP XIII (awalnya PT PLN PIKITRING SULMAPA)

It’s all about Bunda

Umur pernikahan kami sudah hampir tiga tahun. Menikah di akhir tahun 2009, di Pekanbaru, dan langsung terbang ke Makassar. Iya, langsung. Tanpa ke Batam, Bali, Lombok, apalagi Singapura. Isteri saya waktu itu masih fresh. Fresh graduate. Sebulan sebelum menikah baru saja mengucapkan sumpah dokter, tanda penyematan logo ‘dr’ di depan namanya.
Saya agak jahat dalam hal ini. Baru lulus kuliah, langsung diajak nikah dan dibawa ke jauh dari pulau Sumatera dan Jakarta. Berdua. Jika saya hanya pegawai kantoran yang kerja senin-jumat dan liburan di hari sabtu dan minggu, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi, nyatanya tidak. Hampir tiap bulan saya dinas ke luar kota. Yang tidak memungkinkan membawa serta anggota keluarga.
#anzal

Dan ini terus berlangsung hingga dia hamil, bahkan melahirkan anak pertama. Saat isteri hamil besar saya masih ‘berkeliaran’ di pulau Sulawesi meninggalkannya sendiri. Waktu itu saya dinas ke Palu dua hari. Padahal isteri saya dijadwalkan akan melahirkan di minggu itu. Saya pun terkejut ketika isteri menelpon kalau sudah keluar darah. Dan saya masih di Palu. Parah, suami macam apa kalau sampai tidak bisa temani isteri melahirkan. Karena penerbangan yang terbatas, saya baru mendarat di Makassar sekitar pukul 2 siang. Kontraksi si bayi terus meningkat. Sepertinya itulah harinya. Setelah Shubuh, #anzal lahir.
Drama pun dimulai. Tak ada mertua, tak ada nenek yang ikut menjaga bayi #anzal. Apalagi babysitter, tak pernah berpikir ke sana. Si bayi pun diurus oleh dua orang perantau yang amatiran. Lebih parahnya, si ayah malah sering keluar kota. Membiarkan bunda sendiri, memandikan, mencuci popok, memberi asi, dan menggendong si bayi.

Dasar suami tak tahu diri. Untungnya punya isteri yang baik hati. Menunggu kedatangan suami di teras rumah sambil menggendong bayi dan senyum berseri.

Sebuah objek di tangan orang amatir, sering disebut ‘kelinci percobaan’. Maka bisa dikatakan #anzal adalah kelinci itu. Walau isteri saya seorang dokter, tetap saja yang ahli mengurus bayi itu orangtua. Tapi, karena itulah, kami bebas ‘berkreasi’. Membalik-balikan #anzal seperti sedang menepungi pisang goreng. Agar cepat bisa tengkurap dan merangkak. Mencoba tidak pakai air hangat saat memandikan. Dan yang paling horror, bawa #anzal ke Malino pulang-pergi naik avanza. Tahu umurnya waktu itu berapa? 90 hari.

Jangan ‘kan sampeyan, saya saja deg-deg-an dibawa ‘off-road’ oleh si Bunda. ‘Ga apa-apa, jangan terlalu steril, nanti gampang sakit..’. Sakit apapun #anzal, obatnya hanya satu: mimik (ASI). Bahkan, ada kalimat lucu dari ibu saya saat tahu #anzal sakit, ‘emangnya ga dibawa ke dokter?’. Saya dalam hati, ‘lah, kan saya kawin ama dokter’. Posisi saya di jalan ‘off-road’ ini adalah in Bunda we trust!

#firaas

Rekor horror #anzal ternyata dipecahkan adiknya sendiri, #firaas. Belum sampai umur 30 hari, #firaas sudah dibawa ke Bantimurung (wisata air terjun) saat lebaran kemarin. Tahu sendiri pengunjung tempat wisata saat libur lebaran. Untung yang mandi cuma ayahnya dan #anzal.
Jaraknya tidak sampai dua tahun. Firaas lahir akhir bulan Juli 2012, sementara #anzal awal Oktober 2010. Karena mungkin sudah hapal trik-triknya, Bunda tak terlihat seperti orang hamil saat itu. Kegiatan mengajar jadi dosen masih berlangsung hingga D-Day. Bahkan, seorang teman saya bilang, ‘loh, isterimu lahiran? Kapan hamilnya?’.
Jika #anzal di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), maka #firaas di rumah sakit biasa. Pertimbangannya selain ‘pengen coba tempat lain’ juga karena melahirkan di rumah sakit, ditanggung perusahaan sejak awal. Jadi tidak perlu bayar dulu, terus reimburse ke kantor. Kenapa? Karena uang kami saat itu pas-pasan untuk ‘lebaran’, aqiqah, hutang, investasi ini, itu.

Financial planner

Sebuah pelajaran baru buat saya. Saya kira, cara kelola keuangan keluarga itu cukup dengan mengalokasikan saving, biaya belanja rumah, dan zakat. Maka oleh Bunda-lah saya dikenalkan ke asuransi jiwa, investasi reksa dana, kebun emas, dan investasi sektor rill.

Dia mempresentasikan proyeksi-proyeksi alokasi dana itu. Mau kemana, akan kemana, dan buat apa. Saya terkagum sekaligus tersedak ketika melihat saldo di akhir baris. Minus. Maka harus melakukan efisiensi luar biasa. Jangan bicara soal ke mall, nonton, makan di resto mahal. Aqua saja harus disubstitusi dengan Club.
Tapi saya yakin akan datangnya masa ‘bebas financial’ seperti yang ia bicarakan itu. Suami mana yang tidak shock, ketika teman sekantornya sedang pilih-pilih gadget baru karena baru dapat bonus 8 kali penghasilan, tapi ‘habis’ begitu saja di tangan isteri. Bonus ayah nanti buat tebus emas ya, katanya sambil senyum.

Penghasilan saya habis untuk uang KPR rumah, investasi pendidikan anak, kebutuhan dapur, listrik, keamanan komplek, dan pulsa. Terkadang malah minus. Sebagai dosen, isteri saya punya gaji dasar lebih besar seratus ribu dari UMP Sulsel. Bahkan lebih kecil dari gaji babysitter milik yayasan. Untungnya masih ada ‘amplop’ tiap kali mengajar atau seminar. Dua bulan terakhir ini, kami hidup dari amplop-amplop itu.

Tapi selalu ada senyum dalam tiap kesederhanaan itu. Saya kadang sedih, masih mengurung #anzal di rumah sementara teman sebayanya sudah di play group. Isteri masih ke kampus naik angkot sementara dosen lain – bahkan mahasiswanya – sudah bermobil. Berwiken di rumah sementara tetangga bermolek mau ke mall atau wisata keluarga.
Bunda yang penyabar itu, paling minta martabak telor, freshtea dingin, mie ayam, atau es krim saat wiken tiba. #anzal? Ah, dia diajak putar keliling komplek dengan truk rombengnya saja sudah girang. Walau terkadang sering invasi ke rumah tetangga, ngoprek tempat mainan, dan dengan istilahnya yang lucu ‘minyam’ alias pinjam. Ada sekitar tiga mainan tetangga yang sudah jadi investaris box #anzal walau dia bilang ‘minyam’.

Bukannya sok irit. Hanya mencoba membuat pondasi keuangan yang kokoh. Biar anak-anak bisa dapat pendidikan yang layak. Agar tidak usah cicil untuk beli mobil. Agar ada uang tersedia saat keluarga butuh dana tak terduga. Agar keluarga Imam Alkarami terus berdiri. In Bunda we trust!

Tiga momen Bunda

Saya sering mengatakan kepada teman-teman yang belum menikah, bahwa the real life itu setelah menikah. Sehebat-hebatnya seseorang, entah itu pengusaha, artis, pegawai teladan, sulit untuk dibilang sukses kalau dia belum menikah. Karena di sana kita bisa menemukan siapa diri kita. Karena ada ‘orang lain’ di hidup kita. Maka mengenang masa hidup, itu sama dengan mengenang hidup dengannya.

Setidaknya ada tiga momen lucu sekaligus ingin menangis jika saya mengingatnya.

#tukangbatu

Waktu itu kami baru saja pindah ke rumah baru (sebelumnya kontrakan). Walau sudah setahun, perumahan itu masih membangun blok-blok baru. Masih ada pasir, batu-batu, paving block di pinggir-pinggir jalan. Pada minggu siang, Bunda risih dengan kondisi halaman belakang yang tak terawat. Disuruhnya saya membersihkan sisa-sisa semen dan pecahan batu. Saat itu rada ngomel di hati, karena dengan uang lima puluh ribu mungkin ini bisa selesai dengan cepat tanpa sakit pinggang dan baret-baret.

Dan tiba-tiba di depan rumah ada yang mendorong trolley bangunan (yang roda tiga) yang berisi puluhan paving block. Saya keluar pelan-pelan memastikan siapa yang rela mendorong batu-batu itu untuk rumah kami. ‘Tolong angkutin ke belakang, donk.. Bunda mau ambil lagi..’, saya masih tidak percaya sambil bilang iii..yaa…

Dengan baju-rumah, sarung tangan sepeda, seorang dokter muda ber-anak satu sedang membawa puluhan paving block pakai trolley. Sambil bawa paving block ke belakang, saya tersenyum sendirian yang diakhiri dengan iba super dalam. Air mata dan senyuman.

#babyrambo

Saya pulang kerja jam setengah lima sore. Sampai rumah sekitar jam 5, setelah shutting down desktop dan traffic. Tiap habis kerja, saya rutin menemani #anzal main di sekitaran komplek. Baik dengan sepeda ayamnya, mobil truknya atau hanya jalan kaki. Jadi waktu main saya dihitung dari jam 5 sore sampai jam 7 pagi besoknya. Setiap hari kerja.

Sore itu #anzal main lebih awal. Ia tergoda. Sudah banyak teman-temannya yang keluar rumah. Dengan terpaksa, Bunda beri #anzal keluar rumah walau saya belum tiba. Tentunya dipesan agar hanya main di depan rumah saja. Teman main #anzal lebih besar, main dengan sepeda. Sedangkan #anzal hanya bermodal mobil truk yang ia naiki dan dijalankan dengan cara menolak kedua kakinya.

Beberapa menit kemudian, #anzal hilang dari depan rumah. Bunda panik. Sedang rebus air untuk mandi #firaas – yang sedang telanjang karena mau dimandikan. Bunda pun mencari #anzal sambil menggendong #firaas.

#anzal ditemukan di dekat masjid. Teman mainnya entah sudah dimana. Bunda memaksa #anzal pulang dengan sambil menggendong #firaas. Karena truk tersebut bertali (saya gunakan untuk menariknya tiap sore), duakali truk itu terjungkal karena talinya terinjak ban. Dua kali juga #anzal jatuh, ngusruk, dan tentu luka. #anzal nangis, dan juga #firaas yang sedang telanjang.

Pada momen itu, saya baru datang. #anzal ditarik Bunda dengan truknya, sementara #firaas masih dalam gendongan, sambil telanjang. #anzal pun saya ambil-alih. Bunda buru-buru ke rumah, karena kompor masih menyala, rebus air mandi.

#lukabakar

Menjelang malam, biasanya sering terjadi keributan. Ini terjadi jika kedua anak itu telat dikasih makan. Maka biasanya jadwal makan malam kami menunda setelah kedua anak ini kenyang.

Malam itu ternyata lain. Walau sudah diberi makan, #anzal masih ingin main. #firaas juga masih rewel. Sementara Bunda layani #firaas, saya masak untuk makan malam. #anzal tidak mau main sendiri, dan ingin main (baca: masak) bareng ayahnya.

Singkat cerita, tangan saya terpaksa memegang panci panas, karena refleks melihat #anzal sedang turun dari kursi dengan membawa benda di kedua tangannya. Sakit luar biasa. Saya tersungkur di tempat cuci sambil mengaliri tangan dengan air.

Saya menangis di pangkuan Bunda. Berharap ada obat yang bisa menahan rasa sakit. Persediaan kassa dan obat P3K lain terbatas. ‘Mungkin di Apotik ada’, katanya. Saya tidak menyarankan kesana, karena jauh. Dan ini sudah malam. ‘Ke Alfamart saja, siapa tau ada’, saran saya.

Bunda lama keluar rumah, saya curiga ia pergi ke apotik. Dan benar, walau juga membawa minuman dingin dari Alfamart, Bunda pergi ke Apotik yang saya pun kalau kesana naik motor. Akhirnya tangisan saya diproduksi dari rasa sakit luka bakar dan rasa haru seorang Bunda.

Dan tangisan itu kemudian bercampur senyuman ketika Bunda bilang, ‘masa tadi Bunda disiulin sama orang di warung. Mulutnya bau alkohol lagi. Padahal udah pake jilbab, baju lebar, anak dua lagi..’.

;

Mario Teguh pernah berkata bahwa wanita itu hanya butuh dua hal dari laki-laki: ‘setialah kepada saya’ dan ‘buatlah saya bahagia’. Setia dan bahagia. Apapun yang dilakukan oleh manusia di dunia ini sejatinya adalah untuk bahagia. Membahagiakan anak-anaknya, isterinya, dan generasi penerusnya. Maka saya izinkan saya ingin membahagiakan Bunda di hari lahirnya yang ke-27 melalui tulisan dan video ini. Selamat Ulang Tahun, Bunda..

how i named my sons (part 2: #firaas)

(dokumentasi pribadi)

Anak kedua.

Ini hanya selang setahun sepuluh bulan dari anak pertama, #anzal. Hingga hamil bulan ketujuh, belum ada kepikiran mau ngasih nama apa. Tapi yang pasti, last name ‘alkarami’ sudah default. Lucu juga ya, kalo orang-orang menyematkan nama bapaknya ke nama belakang anaknya. Misalnya, Yasin, punya anak namanya Syahrul Yasin. Ini kebalik. Saya menyematkan nama anak ke last name saya. Walau hanya nama pena (gila aja kalo nama beneran, mesti motong kambing lagi..).

Maka saya pun mengulang skema yang lalu saat mencari inspirasi untuk nama #anzal: baca buku. Pilih-pilihlah buku di rak yang udah mulai debuan itu. Hasilnya nihil. Bukan ga menemukan nama, tapi ga ada nama yang berhasil membuat saya amaze. Eh, ada skema yang terlewat. Masih inget kan buku fiksi pertama saya, Supernova. Kabarnya, Dewi Lestari sedang meluncurkan seri keempat Supernova: Partikel. Maka berlalulah saya ke Gramedia (kok jadi mirip drama Korea, ya..serba kebetulan).

Sebenarnya, waktu isteri saya baru-baru hamil, dia ngidam baca buku (buku kok dingidamin.. -__-). Nah, kebiasaan unik isteri saya ialah suka baca ulang buku-buku yang pernah dibacanya. Alasannya sederhana: ga ada bacaan lagi. Dan, tetiba dia pengen baca serial Supernova-nya Dewi Lestari. Karena sedang terjadi krisis finansial di bursa saham kas negara, maka saya pun donlot Supernova versi e-book. Akar dan Petir pun berhasil disedot (gimana negara mau maju, karya anak bangsa dibajak truss..). Isteri saya baca pake Galaxy Tab yang cicilannya belum lunas (pliss deh.. ga usah sok susahh..).

Karena bentuknya serial, tentu ketagihan ingin baca seri berikutnya. Sebenarnya saya sudah baca ketiga seri itu. Tapi cuma Supernova yang khatam, itu pun lupa-lupa. Akar dan Petir, kepotong-potong. Bukunya punya temen sih, jadi ga konsen (makanya beli…). Isteri jadi ngidam Partikel, serial keempat Supernova. Ditambah promo Dewi Lestari di twitter, saya juga tambah penasaran. Maka berlalulah saya ke Gramedia (lah, kalimat ini kan ada di paragraf kedua??!! –“).

Sore beli bukunya, besok pagi buku itu sudah habis…dibaca. Bukan sama saya. Saya baru baca malamnya. Menarik. Dee menawarkan gaya cerita yang berbeda di setiap serinya. Dan tokoh utama di setiap seri selalu unik, yang juga menjadi minoritas di Indonesia. Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh: kaum gay. Akar: anak Punk. Petir: Cina.  Partikel: alien. Dan sampailah saya pada sebuah kata: Firas. Dalam Partikel, Firas adalah nama ayah si tokoh utama, Zarah. Firas emang diceritakan sosok ayah yang pintar dan ‘beda’ dalam mendidik anak. Tapi, saya tidak amaze pada karakternya, saya amaze pada namanya: Firas.

Dan artinya pun menakjubkan. Di novelnya sendiri, disebut bahwa Firas itu artinya yakin, teguh. Makanya, dalam bahasa Indonesia ada kata serapan ‘firasat’ yang berarti keyakinan pada sesuatu. Kalo saya buka alat terjemah di internet, Firas atau Firaas juga berarti cerdas, pintar.

(Jadi, namanya Firaas Alkarami?)

Kan saya udah bilang, udah ga jaman nama itu cuma dua kata. Sama seperti yang lalu, pencarian nama tengah ini rada susah. Saya hampir kehabisan akal (yaelah.. kayak yang pernah dipake aja..). Memakai cara terdahulu — dengan mencatut nama seorang penulis, inspirator — udah susah. Ga enak aja, masa namanya ‘Firaas Gibran Alkarami’. Ketauan banget kan njiplaknya. Maka saya pun menggunakan metode lain. Jika anak pertama dari teks, maka saya mencoba dari lagu. Siapa tau ada pengarang lagu atau pelantun lagu yang namanya membuat amaze. Dan berhasil. Tapi, kejadiannya tahun lalu, saat kami lebaran di Padang. Ceritanya gini. Tahun 2011 itu, khususnya bulan puasa, ada satu lagu yang sering banget diputer. Entah itu di tipi, radio, cafe, mall, hotel, atau mungkin bar (sayangnya saya ga nyoba main kesana). Pernah di pertengahan bulan puasa, saya dinas ke Jakarta, ada rapat sekitar 3 hari di sebuah hotel di kawasan Blok-M (ciee.. yang SPPD ke Jakarta, biasanya juga cuma Sulawesi -__-). Dan sehari-hari theme song hotel itu muterin lagu itu sampe sealbum penuh. Puncaknya waktu mudik ke kampung isteri di Pekanbaru. Tiga hari sebelum Lebaran, kami ‘mudik’ lagi ke rumah neneknya isteri saya di Padang, tapi di pelosoknya, dua belas jam dari Pekanbaru. Apa yang terjadi? Mobil Nissan Livina itu memutar penuh lagu itu. Berulang-ulang. (jadi ‘lagu itu’ apa omm??) <– (tar dulu ngapa, belum selesai ini..)

Beberapa bulan kemudian, giliran kampung saya yang kami datangi. Ini dalam rangka menghadiri pernikahan adik saya. Saya kaget, ternyata bapak saya udah ganti mobil. Dari Panther tahun 70an, jadi New Avanza type-G. Mobilnya wangi, masih berplastik, dan soundsystem yang masing njreng. Kami dijemput di bandara dengan mobil itu. Melalui kemacetan Jakarta-Tangerang, di malam yang temaram, ditemani alunan musik dari ‘lagu itu’. Ya, lagu itu ternyata diputar juga di Tangerang. Bahkan, adik saya — yang mau kawin itu — udah beli album keduanya, yang akan dia putar di resepsi pernikahannya. Ada apa gerangan dengan ‘lagu itu’? Kenapa alam seperti memaksa saya untuk terus mendengarkannya. Memang siapa dia? (kok malah nanya, kan sampeyan yang tahu…)

Lagu itu dinyanyikan oleh… Maher Zein. (yaelahh… ane kira siapa??! –“)

‘Firaas Zein Alkarami’?

Ya, mari kita mulai bedah maknanya. Sering kita dengar nama-nama orang Indonesia itu ‘Zainal Arifin’, ‘Zainal Abidin’, dll.. Apa artinya?? Zain (bahasa Arab) artinya perhiasan, sesuatu yang berharga. ‘Zainal’ itu asal katanya dari zain, sedangkan -al di belakangnya adalah kesatuan dari kata setelahnya. Sebenarnya Zain Al-Abidin, ‘diindonesiakan’ menjadi Zainal Abidin.

Karena default nama belakang anak-anak saya adalah ‘alkarami’ yang sudah ada ‘-al’-nya, maka saya cuma butuh ‘Zain’, bukan ‘Zainal’. (loh, tapi ente tadi nulisnya ‘Zein’ bukan “Zain’??!!) <– (nah, itu gegara ‘lagu itu’ yang terus mendengung..jadiya..kasih dahh..)

So,

Firaas = cerdas, teguh
Zein = perhiasan, berharga
Alkarami = hebat, mulia, agung

it will be, “Orang cerdas yang dihiasi kemuliaan” atau “Orang yang memiliki keteguhan dan kemuliaan yang berharga”.

(tapi, ane masih rancu ama terjemahan bebasnya, om..)

udah.. terima aja..

(yakin, om??)

insyaAllah…

(ga ada terjemahan lain, om?? yakin??)

insyaAllah…insyaAllahh….

(yakin ada jalan, om?)

insyaAllah…ada jalaaaaaannnn… <– (malah nyanyi.. -__-“) 

how i named my sons (part 1: #anzal)

(dokumentasi pribadi)

Orang pikir saya gila. Saya merencanakan nama anak saya sewaktu SMP. Dimana saat itu belum punya pacar — yang memang ga punya pacar sampe kuliah, eh sampe kawin malah -__-.

Nama anak pertama saya: anzal khalil alkarami.

Mari kita bedah satu-satu.

anzal;

Saya pertama kali melihatnya di dinding pembatas antara developer estate dengan kampung saya (daerah tangerang). Ya, seperti biasa, semacam mural atau coret-coretnya anak sekolah pake pilox. bla..bla..bla.. by anzal. Itu tulisannya. Dinding itu tepat berada di pintu masuk ke kampung saya, jadinya tiap kali keluar atau masuk kampung, pasti liat tulisan itu. Dan itu membekas, hingga SMA.

Apa yang terjadi di SMA? Apa saya menemukan kata ‘anzal’ di dinding sekolah? Tidak, ini bukan film Korea yang segalanya serba kebetulan. Di SMA saya mulai rajin baca dan nulis. Loh, bukannya itu pelajaran SD?? Maksudnya mulai baca buku-buku fiksi dan rajin nulis cerpen, puisi, atau semacamnya. Nah, untuk yang cerpen, tentu donk kita punya nama-nama tokohnya. Maka anzal adalah nama tokoh laki-laki yang selalu saya pakai dalam cerpen. Dulu, alasan memilih nama anzal hanya karena enak diucapkan, dan jarang orang gunakan. Waktu kuliah, baru ngeh apa makna anzal. Dan seberapa sering dia muncul di ayat-ayat alquran… hehee..tobatnya baru pas kuliah.

Masa nama tokohnya cuma satu doank? Tentu ada yang lain. Nama tokoh wanita dalam naskah cerpen saya (cieehh naskah…) itu murni, sari, salma dll (saya lupa). Ada juga nama tokoh laki-laki lainnya seperti diaz, mmm..siapa lagi ya.. kok dikit ya? Duhh padahal banyak loh nama-namanya..binder SMA-nya hilang sih..itu loh yang merk kertas isi ulangnya loss leaf. Jaman batu sih, jadi dokumentasinya masih ber-mushaf-mushaf.. Musti ada ‘khalifah’ yang menjilidnya, atau istilah sekarang: harus ada follower yang membuatnya menjadi ‘has been chirpified’.

alkarami;

Loh, kok ngelangkah? Iya, soalnya nama tengah baru dapet di injury time. Ini masih ada kaitannya dengan masa-masa di SMA (yang suram karena muridnya cuma 20an dan cowo semuaaaa *__*). Hobi baca baru muncul di SMA, entah karena bosen sama buku pelajaran atau karena ga ada cewe buat digebet. Coba tebak bacaan pertama saya apa? Supernova! Ya, itu buku fiksi pertama yang saya baca. Gila, beratt banget kan?!! Dan saya langsung jatuh cinta pada… ceritanya. Tapi supernova ga ngasih inspirasi apa-apa untuk nama ‘alkarami’ (jadi ngapain dibahass -__-). Setelah selesai melahap supernova: ksatria, puteri, dan bintang jatuh, buku selanjutnya adalah… Kahlil Gibran.. edaan.. berat-berat kan bacaan gw (apaaan..sihhh).

Hampir semua judul buku-buku Kahlil Gibran di perpus habis saya baca. Bahkan, buku tentang ‘asbabun nuzul’-nya karya Gibran pun saya baca. FYI ya, buku Kahlil Gibran yang enak dibaca itu cuma yang terbitan Bentang, terjemahannya ga bikin pusing. Nah, di judul Sayap-sayap patah, saya menemukan seorang tokoh wanita, Salma Alkarami namanya. Pertama kali baca kata ‘alkarami’ saya langsung jatuh cintahh. Begitu anggun dan prestesius, seperti arti nama itu: great, hebat.

Mulai dari sanalah, saya menggunakan nama pena ‘imam alkarami’, yang dipakai hingga sekarang. Mulai dari akun yahoo, facebook, twitter, gmail, dll. Bahkan saya pakai untuk lomba. Saya juga sempat membuat web dengan nama http://www.alkarami.com, tapi ga saya urus, ga bisa bahasa-bahasa html. Masih tetap setia dengan wordpress 😀

Lalu, kapan terbitnya ‘anzal alkarami’?? Itu masih lama. kan tadi masa SMA, sekarang saya lanjutkan ke masa kuliah (ini biografi atau apa sihh??). Di kampus, saya menemukan lagi nama tokoh cerpen: mutiarahati. Indonesia banget kan? Inspirasinya kali ini bukan dari buku. Ada beberapa kejadian yang akhirnya melahirkan nama itu. Waktu itu cukup sering denger MQ Radio. Itu loh, radionya Aa Gym. Bukan seneng sama lagu-lagunya. Bukan. Tapi ulasan-ulasan, quotes, dll, dan sang penyiar sering bilang ‘mutiara qalbu’. Trus ‘hati’nya dapet dari mana? Itu juga sih. Bingung, kalo cuma ‘mutiara’ kan udah umum banget ya.. sampe akhirnya saya berkenalan dengan  seorang senior yang namanya ‘syurahati’, it likes suara hati. Maka muncullah ide…tinng..’mutiarahati’… sounds good, rite?

Selain muncul di cerpen, ‘mutiarahati’ juga membuat saya pede kelak akan memberikan nama anak perempuan dengan nama ‘mutiarahati alkarami’. Padahal waktu itu masih ngampus loh. Pacar aja ga punya. Gimana ga pede coba. (beda tipis memang, pede sama belagu). Ide itu saya cetuskan waktu kuliah, berbarengan dengan kelahiran blog ini. FYI, blog ini waktu pertamakali keluar namanya ‘mutiarahati alkarami’. makanya banyak yang nyangka saya perempuann -__-“. (FYI apaan sih, bro??) <– (for your information!! bahasa endonesianya: asal lo tau yee..)

Khalil;

Isteri saya mengandung. Dan cowok, berdasarkan hasil USG. Saya pun bingung. Bukan bingung mau ngasih nama apa, tapi bingung, nama tengahnya apa? (kenapa harus pake nama tengah sih? banyak gaya..) <– (ga enak aja kalii cuma dua kata..jaman sekarang jamannya tiga kata, bahkan ada yang lima, ditambah nama bapak-emaknya di belakang..).

Maka saya pun cari-cari inspirasi..buka-buka lagi mushaf yang tercecer pada masa-masa SMA yang suram karena muridnya cuma…(woiii…ga usah dibahas lagii..). Perlu anda ketahui bahwa Kahlil Gibran adalah nama barat. Seperti Ibnu Rusy yang dibaratkan menjadi Averos. Atau Ibnu Sina menjadi Avicenna. Maka Kahlil Gibran pun adalah west-named dari Jibran Khalil Jibran. Itu nama aslinya. Jibran sebenarnya nama kakeknya. Khalil nama ayahnya. Dan kebiasaan orang arab, mencatutkan nama-nama keturunannya. Maka jadilah Jibran Khalil Jibran (entah kenapa menjadi Kahlil Gibran).

Ya, khalil. Ketika buka kamus bahasa arab, pun artinya mengejutkan: kekasih, beloved one. Nabi Ibrahim dijuluki sebagai kekasih Allah, atau khalilullah.

Then, we published as ‘anzal khalil alkarami’.

Nah, sekarang pasti pada mau tanya, ‘trus arti nama anzal khalil alkarami apa omm??’

Mau tau jawabannya?? Mau tauu?? Mauutauuu…? Jamaaahhh…ooojamaaahh..

Jadi gini, dalam ilmu bahasa arab, ada itu istilahnya ‘kalimat kerja’ dan ‘kalimat benda’. Kalimat kerja (jumlah fi’liyah) itu sebuah kalimat yang diawali kata kerja. Sedangkan kalimat benda (jumlah ismiyah) yang diawali kata benda. Walau penyusunannya beda, tapi artinya sama. Beda penekanan aja. Maka ‘anzal khalil alkarami’ adalah jumlah fi’liyah (kok bisa pas gitu sih, cuy..kan lo pick satu-satu menurut kejadian-kejadian yang random..) <– (itulah hebatnya gw, bro..) <– (pffftt..)

Apa itu ‘anzal’? Kalo liat terjemahan Depag sih, artinya ‘menurunkan’, ‘turun’, dalam konteks yang sakral. Misalnya ‘Allah menurunkan wahyu’, ‘menurunkan hujan’, ‘kami turunkan alquran’, dll.. Mari kita liat terjemahan english versi iQuran (alquran diqital). Kata ‘anzal’ diterjemahkan sebagai ‘reveal’, ‘revealed’. Kalo kita bedah lagi, kata reveal ini semakna dengan ‘show, declare, give, expose, spread, etc..’. Maka saya lebih suka dengan terjemahan bebas: menganugerahkan (untuk konteks nama anak saya).

jadi…
anzal = menganugerahkan
khalil = kekasih hati
alkarami = hebat, agung, mulia

it will be “seorang kekasih hati yang menganugerahkan kemuliaan”.. or “the beloved one who give the greatness”

Udah ngerti smuaanyahh??? Udah tauu???  Udah tau jawabannya???

Alhamduu…. (lillahhhh….)

Nikah Pada Pertemuan Ketiga, Percaya? (Road To 2nd Anniversary)

(Anzal di senja Pantai Akkarena, Dokumentasi Pribadi)

Dua tahun lalu. Saya masih bujang. Rumah masih kontrak. Kendaraan pribadi hanya sepeda Polygon. Kerja di PLN memang tidak membuat seorang cepat kaya. Apalagi mudah mendapat jodoh. Yakinlah, 87% pegawai PLN mendadak jomblo ketika mendapat SK penempatan. Baru pertamakali tinggal di luar pulau, teman terbatas, lingkungan baru, mau pulang kampung harus naik pesawat, maka lengkaplah penderitaan sang pegawai muda. Pilihan yang sering diambil oleh pegawai muda tersebut ialah menggaet orang lokal atau sesama pegawai untuk dijadikannya pasangan hidup.

Nah, bagaimana dengan saya? Terdampar di Pulau Sulawesi bukanlah perkara mudah. Satu-satunya pulau yang sudah saya datangi selain Jawa ialah Sumatera, tepatnya Lampung. Itu pun hanya dua minggu. Dan bahkan, pulau Jawa pun paling jauh hanya sampai Rembang. Itu pun hanya sehari. Parahnya, rombongan angkatan pegawai muda yang waktu itu ditempatkan di PLN hanya dua orang. Ya, dua orang. Teman saya yang satu orang itu pun bukan teman kampus, kami kenal waktu penempatan itu. Dan dia punya keluarga di Makassar. Jadi, lengkaplah sudah penderitaan saya. Lingkungan baru, pekerjaan baru (fresh graduate gitu loh), teman baru, dan kota baru: Makassaar.

Tidak cukup enam bulan saya sudah bosan. Bukan karena pekerjaan atau Makassar. Saya bosan karena tak punya teman. Sungguh. Akhirnya saya melakukan pencarian. Searching komunitas-komunitas sehobi di Makassar. Dan terdamparlah saya di Komunitas Blogger Angingmammiri. Segala bentuk acara saya ikuti. Intinya untuk mengisi kekosongan akhir pekan. Karena jika akhir pekan dihabiskan bersama teman kantor, maka itu sama saja berkantor selama seminggu penuh. Lagipula waktu itu saya tidak memiliki kesamaan hobi dengan teman kantor saya, kecuali cari makan malam di pinggir jalan.

Setahun pertama. Kebosanan mulai muncul kembali. Pacar tak punya. Produk kantor pun, pegawainya tidak terlalu membuat saya ingin. Cari di phone book, apalagi. Hape saya hilang beserta nomornya. Kontak-kontak teman kampus lewat YM atau Facebook, tak menghasilkan sesuatu yang signifikan. Sepertinya mereka lebih fokus ke Master Degree atau penelitian dan semacamnya. Kontak teman SMA, tidak mungkin. SMA saya adalah salahsatu SMA yang paling tidak diminati oleh para lelaki. Ya, karena tidak menerima siswa perempuan.Perpaduan cara itu akhirnya saya lakukan. Saya kontak teman SMA untuk menanyakan apakah ada teman kampusnya yang available.

Dan keajaiban pun terjadi. Pertengahan tahun 2009 saya mendapatkannya. Iya, saya mendapatkan nomor hape dan akun Facebook. Perkenalan pun dimulai. Tentu lewat sms atau email. Belum tatap muka. Pertamakali tatap muka dilakukan di sebuah mall di Jakarta. Waktu itu saya sedang ada dinas ke Jakarta, jadi sekalian. Hanya perkenalan biasa. Itu pun tidak berdua, kami berempat, masing-masing membawa teman. Makan di Solaria, tidak sampai dua jam, karena sudah sore. Kami pulang.

Catat, itu pertemuan pertama. Coba tebak apa yang terjadi pada pertemuan kedua? Lamaran. Ya, saya melamarnya. Tepatnya awal bulan November 2009. Sangat sederhana, tanpa persiapan. Itu pun berlangsung di rumah saya, bukan di rumah perempuan. Kebetulan waktu itu orangtuanya sedang berada di Jakarta, karena harus menghadiri seremoni pengucapan Sumpah Dokter. Ya, calon isteri saya itu baru saja disahkan menjadi Dokter. Dengan mengandalkan ‘kebetulan’ maka acara lamaran dadakan itu digelar.

Catat, pertemuan kedua kami adalah lamaran. Coba tebak kejutan apa yang terjadi di pertemuan ketiga? Nikah. Bulan Desember kami menikah. Lima puluh hari setelah lamaran, 21 Desember 2010. Dan digelar dengan acara yang sangat sederhana, tapi bermakna — bagi saya. Awalnya saya diundang untuk bertemu keluarganya di Pekanbaru. Tentu, keluarga besarnya tidak mau ngawinin kucing dalam karung. Calon menantunya belum jelas. Mereka hanya tahu dari foto ganteng saya dan bahwa saya seorang pegawai muda PLN. Setelah pertemuan besar itu, kami pun ‘dipaksa’ segera menikah. Kenapa? karena isteri saya sudah tamat kuliahnya di UI. Dan saya pun sudah tak mampu lagi hidup sendiri (halahh..lebay).

Jika diperkenankan, sebenarnya, kami mau melangsungkan resepsi segera setelah akad. Tapi tentu keluarga punya perhitungan lain. Lagipula, anaknya yang mau nikah ini sama-sama anak pertama. Maka dibuatlah rencana resepsi bulan Maret, awalnya. Tapi karena satu dan seribu hal, jadwal resepsi pun dipercepat jadi Februari 2010. Ya, tepat 14 Februari 2010. Bukan latah hari kasih sayang, karena memang tepat dengan jadwal cuti saya. Selepas menikah, isteri langsung diboyong ke Makassar. Kami masih mengontrak rumah di belakang rumah mewah anggota DPRD (sori, yg ini ga penting). Sambil mengumpulkan uang-uang receh untuk persiapan resepsi (terutama ongkos pesawat makassar-jakarta-pekanbaru), kami hanya kebagian mengurus undangan. Lainnya, pihak keluarga yang mengatur. Maka terjadilah resepsi pernikahan kami di Pekanbaru, Jl Sudirman No 21.

Perlu diketahui bahwa waktu itu, isteri saya sedang hamil muda, sekitar 2 bulan. Dan tujuh bulan kemudian, tepatnya tanggal 2 Oktober 2010, lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng yang sangat mirip dengan ayahnya (yakin..yang ini penting). Walau masih dua bulan lagi umur pernikahan kami ganjil satu tahun, Anzal, adalah hadiah hari lahir pernikahan pertama kami. Dan, apa hadiah untuk hari lahir pernikahan kedua nanti (21 Desember 2011)?

Ya, berdasarkan hasil testpack, selembar kertas itu menandakan dua garis sejajar. Dan, memang sudah hampir satu bulan isteri saya tidak haidh. Maka langkah terakhir untuk melengkapkan praduga berbahagia ini adalah dengan lapor ke dokter kandungan.

Sekalian melihat sedang apa gerangan kamu di sana, hai adek kecil. Dengan apa ayah nanti memanggilmu, nak? Oya, kami sudah punya nama, tapi masih kurang satu kata lagi. Kamu tahu nama itu sudah ayah ukir di blog ini sejak kamu belum lahir (yaiyalah, sekarang juga belum lahir..). Nama itu adalah Mutiarahati [………] Alkarami. Kami memang mengharapkan kamu adalah perempuan. Agar abangmu, Anzal, bisa belajar mengasihi perempuan. Jika memang bukan, nanti ayah cari nama lain. Yang pasti, alkarami akan menjadi nama belakangmu. Bukan apa-apa. Ayah hanya ingin kalian menjadi orang besar dengan segala keanggunan dan kehebatanmu.
Dan kamu, isteriku..
Semoga ini menjadi kado teristimewa. Untuk pernikahan kita. Yang kedua..

Nikah pada pertemuan ketiga?
Percayalah!!

 

Hari (anti) Revolusi Motor

Saya baru menyadari bahwa ternyata ada banyak hari peringatan selain Hari Ibu atau Hari Pahlawan. Misalnya, Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup, Hari Jilbab sedunia, Hari Tembakau, dan Hari Antikorupsi. Hari ini (9/12/11) – katanya – adalah Hari Antikorupsi. Beberapa media menjadikannya headlines. Ada yang mengupas kinerja SBY, tentang kasus-kasus besar korupsi, tentang jembatan roboh, dan lainnya. Saya tertarik dengan bahasan salahsatu media yang mengatakan bahwa di Indonesia telah terjadi Revolusi Sepeda Motor. Masyarakat beralih dari angkutan umum ke angkutan pribadi (motor), tambahnya.

Angka penjualan motor di Indonesia fantastis. Pada akhir September 2011 saja berada di sekitar 6,2 juta unit. Dan diperkirakan akan menembus angka 8,1 juta pada akhir tahun 2011 ini (KOMPAS).  Laju pertumbuhan penduduk Indonesia per-tahunnya sekitar 3,5 juta jiwa (www.bps.go.id). Artinya, tiap satu orang Indonesia mampu membeli dua sepeda motor lebih. Tak heran, jika kita melihat tulisan ‘Semakin di depan’ menempel di motor Yamaha milik Lorenzo. Atau tulisa ‘One Heart. Satu Hati’ di motor Honda Pedrosa. Produsen tahu betul pangsa pasar sepeda motor di Indonesia sangat ramai.

Revolusi sepeda motor.  Ironinya bergulir karena kelemahan Pemerintah menanggulangi moda transportasi umum. Awalnya sepeda motor adalah transportasi alternatif untuk menghindari macet atau kebutuhan sederhana (rumah ke warung). Di era ‘revolusi’ ini, sepeda motor mempunyai marwahnya sendiri. Maka berdirilah berbagai macam club-club motor yang seringkali mengadakan touring keliling kota. Dan bahkan kini telah menjadi sebuah ‘alat ukur’ fashion di kalangan anak muda (menengah bawah).

Apakah sah? Jelas tidak melanggar. Tapi menjadi salah ketika ‘revolusi’ tersebut disalahgunakan. Ketika kebutuhan fashion tersebut mengesampingkan keselamatan dan peraturan. Dalam ilmu keselamatan (safety), sepeda motor adalah moda transportasi yang memiliki potensi kecelakaan terbesar. Karena pengendara ‘hanya’ dilindungi oleh helm. Beda dengan mobil yang mempunyai safety belt dan air bag. Angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) menunjukan hal demikian. Kecelakaan sepeda motor selalu lebih besar daripada mobil, kata Menteri Perhubungan RI (KOMPAS). Di Makassar sendiri, laka lantas untuk tahun 2011 ini (hingga November) mencapi 1085 kejadian. Parahnya lagi, 52% di antaranya terjadi pada rentang usia muda, 11-30 tahun. Penyalahgunaan sepeda motor cukup banyak terjadi di usia dini, atau boleh dikatakan di bawah umur. Pengguna motor di bawah umur kian menjamur. Bukan hanya penyalahgunaan SIM, pengguna di bawah umur (SD atau SMP) biasanya tidak peduli terhadap keselamatan mereka.

Saya masih percaya bahwa hal yang paling berharga di dunia ini setelah iman ialah anak. Karena tujuan lahiriah dari hidupnya seorang manusia ialah anak. Berapapun lamanya seseorang sekolah, pada akhirnya akan bermuara pada kesejahteraan. Untuk apa seseorang sejahtera? Untuk menghidupi anaknya. Maka tidak salah ketika John F Kennedy berkata bahwa anak adalah investasi terbaik. Bahkan Soekarno menantang untuk diberikan sepuluh pemuda agar ia bisa mengguncang dunia. Bangsa ini besar karena memiliki penerus yang handal. Berketurunan adalah sebuah keniscayaan. Maka anak-cucu adalah aset yang harus dijaga – pendidikannya, kesehatannya, kesejahteraannya, dan keturunannya.

Ironi ketika orangtua lebih mementingkan membelikan motor daripada buku sekolah untuk anaknya. Memang, pemerintah mempunyai peran dalam penyediaan moda transportasi umum. Kepolisian punya peran dalam penertiban pengendara bermotor. Tapi, orangtua kuncinya. Sulit diterima bahwa anak membeli sepeda motor bukan dari uang orangtuanya. Bahwa anak membayar uang sekolah bukan dari orangtuanya. Ironi jika orangtua menyekolahkan anaknya tapi juga membelikannya motor padahal belum cukup umur. Itu sama saja dengan memberikan benda jutaan rupiah tapi benda tersebut adalah ganja. Madu sekaligus racun.

Saya masih berharap ada hari peringatan lain selain Hari Antikorupsi: Hari (anti) Revolusi Motor.

Apresiasi Perah Sapi (part. 1)

Image

Sekitar satu bulan ini sinus saya sering kambuh. Efeknya tentu saja mengerikan. Kepala terasa berat, pusing di pelipis, dan sensasi sakit menusuk ketika mengambil nafas terlalu dalam.

Stres, kata seorang dokter yang juga kebetulan isteri saya. Bahkan saya sendiri bingung,stres di bagian mana. Cicilan motor memang belum lunas, tapi masa’ iya harus stres be at gini. Dan saya pun cerita ke rekan kerja (yang hanya dua orang itu). Sama, katanya.Walaupun dalam bentuk yang beda. Ada yang tidak bisa tidur. Ada yang ngomong sendiri. Ada yang sering ngigau. Isteri mereka yang malah bingung, ‘ini suami gue kok lama-lama jadi gila ya kerja di PLN’.

Sebelumnya saya perkenalkan dulu bahwa kami adalah pegawai PLN. Kebetulan mendapat tugas sebagai panitia pengadaan barang dan jasa, atau sering juga disebut panitia lelang. Yang mana saja boleh. Pokoknya tugas kami adalah melelang paket pekerjaan yang diberikan owner/pemilik uang (dalam hal ini negara) dengan spesifikasi tertentu. Jika sebuah iPad mempunyai manual book sebagai panduan penggunaan, maka ‘manual book’ kami adalah Peraturan Presiden No. 54/2010. Tugasnya sederhana: menjalankan peraturan di dalamnya.

Di dalam peraturan tersebut, tugas panitia sebenarnya hanya sebagai event organizer. Karena pemecahan paket, penetapan total anggaran, dan spesifikasi dibuat oleh owner.Tugas panitia hanya menyeleksi peserta lelang sedemikian rupa sehingga mendapat satupemenang yang sesuai kriteria dengan harga yang terjangkau (di bawah total anggaran)

Jadi, apa yang membuat kami stres??

Tekanan Pekerjaan

Kita urai dulu apa itu tekanan. Menurut ilmu fisika, tekanan adalah sejumlah beban per-luas area. Semakin banyak beban maka tekanan semakin besar. Tekanan akan kecil ketika luas area diperbesar. Jadi, seberat apapun beban jika luas area penerimanya diperbesar, tidak menjadikan sebuah tekanan (yang besar). Owner, tahun 2011 ini memerintahkan panitia untuk melelang sekitar 56 paket lebih. Tebak berapa jumlah panitianya? Ya, betul jumlah panitianya ganjil. Eits tapi bukan 7, kami hanya bertiga saja. 

Perlu pembahasan panjang kenapa hanya bertiga. Intinya, dari tujuh orang yang ditunjuk oleh Owner, dalam hal ini Dirut PLN, hanya tiga orang yang dapat meluangkan waktu kerjanya untuk menjadi panitia. Yang pertama karena dia ketua. Yang kedua karena sekretaris. Dan saya, karena saya anggota (kan ga enak kalau ada ketua, seketaris, tap iga ada anggota). Bukan berarti panitia yang lain tidak peduli, tapi pekerjaan rutin mereka di bidang masing-masing harus juga diurusi.

Jadi, berapa nilai tekanannya dari beban seberat 56 paket dibagi 3 cowok ganteng? Yup,jawabannya ‘sangat berat’.

Selain dalam bentuk volume (pekerjaan), beban juga muncul dalam bentuk psikis. Jika kita bicara lelang, maka kita bicara perusahaan dan uang. Ketika sebuah perusahaan tidak mendapatkan pekerjaan, dengan kata lain kalah dalam pelelangan, artinya mereka tidak mendapatkan uang. Apa yang terjadi (di Indonesia ini) ketika sekolompok orangtidak ‘kebagian’ uang?

Hampir setiap hari peserta lelang datang ke ruangan panitia silih berganti. Tujuannya macam-macam, ada yang sekadar ngobrol, konsultasi pelelangan, tanya update pelelangan, sampai pada ancaman. Anehnya, para peserta seakan tahu perusahaan manasaja yang lulus, tidak lulus, yang lengkap, yang kena blacklist. Padahal evaluasi pun belum selesai kami lakukan. Saya curiga, sepertinya ada buruh infotainment yang menyamar jadi office boy di kantor kami.

Bayangkan: panitia cuma tiga; mengerjakan 56 paket lebih; hampir tiap hari kedatangantamu; dan tak jarang mendapat ancaman lewat telepon pribadi atau surat resmi. Apalagi ketika pengumuman hasil evaluasi sudah dilayangkan. Maka siap-siap menerima surat yang tembusannya bisa sampai ke KPK, kejaksaan, Polri, bahkan presiden. Panitia bekerja atas dasar peraturan/hukum. Maka ketika salah melangkah, juga diselesaikan secara hukum. Apa yang anda pikirkan saat membaca kata hukum? Mudah-mudahan bukan penjara.

Pertanyaanya: dengan tekanan seberat itu, apakah ada apresiasi?

Apresiasi Perah Sapi

Iya, ada apresiasi. Setidaknya dari Tuhan dan dari isteri. Secara institusi, panitia seakan dikebiri. Diberi tanggungjawab pekerjaan melebihi kapasitasnya, tapi sistem penilaianpun kami tak punya. Aneh. Di PLN, sebuah BUMN superbodi, tidak memiliki mekanisme penilaian yang fair untuk panitia lelang. Sistem Manajemen Unjuk Kerja (SMUK) online merupakan alat ukur penilaian pegawai. Sistem ini tidak bisa mengakomodasi kinerja panitia. Ini artinya, tidak ada perbedaan antara panitia lelangdengan panitia HLN atau panitia Qurban.

Dalam sistem remunerasi yang baru, seluruh kepanitiaan yang ada di PLN mendapatkan tunjangan. P32 namanya. Mau tau jumlah yang panitia dapatkan waktu itu? Alhamdulillah, 1,2 juta. Pertahun. Artinya tunjangan panitia lelang 120 ribu perbulan. Perlu diketahui bahwa gaji pembantu saya 400 ribu perbulan #gapenting #abaikan

Mari kita tengok Peraturan Menteri Keuangan No. 100/PMK.02/2010 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2011. Honorarium panitia pengadaan barang dan jasa untuk pekerjaan konstruksi yang nilai pagunya di atas 1 triliyun (nilai pagu kami 1,2 T) ialah sebesar Rp 3.290.000,- orang per-paket. Sudah saya katakan bahwa tahun 2011 ini kami melelang 56 paket. Artinya saya di penghujung tahun ini harusnya sudah bisa beli All New Madza. Tapi apa yang terjadi, cicilan Vega ZR saja belum lunas. Aihh mateek..

Banyak orang mengira, menjadi panitia itu kaya. Bahwa ada sekian persen yang masuk brangkas kami tiap kali ada tandatangan kontrak. Bahwa ada pengaturan perusahaan tertentu untuk selalu menang. Bahwa mesti minta restu sana sini untuk mengikui lelang.Saya katakan BAHWA itu salah.

Tahun 2011 ini, saya secara sengaja mentotalkan diri masuk ke panitia lelang (karena tahun lalu, saya masih bagi waktu dengan pekerjaan rutin). Awalnya karena kasihan melihat pak ketua dan sekretaris yang punya beban pekerjaan tak manusiawi itu. Tapi kemudian saya hijrah. Dengan niat yang kuat tentunya. Pekerjaan rutin saya tinggalkan dulu, mengingat masih ada dua rekan kerja saya di sana. Lagi pula saya ingin mencoba hal baru di luar pekerjaan rutin (yang sudah saya lakukan selama tiga tahun).

Dan apa yang terjadi? Tengah tahun 2011, saya mendapatkan penilaian potensial, padahal selama 3 tahun mengerjakan pekerjaan rutin (dengan beban yang sedikit) berturut-turut penilaian saya optimal. Perlu diketahui bahwa optimal lebih tinggi daripada potensial. Ini tidak hanya mengenai uang, tapi juga karir. Parahnya, sang ketua panitia, yang punya daya tekan tinggi ketimbang anggotanya, juga mendapat penilaian potensial. Dengan tunjangan yang 1,2 juta itu.

Memang benar, panitia dekat dengan manajer. Dekat dengan General Manager. Sering menghadap ke ruangan GM. Bahkan tak jarang para pejabat datang ke ruangan panitia. Tapi untuk apresiasi kinerja, saya belum bisa menemukan hubungan yang kuat.

Maka jangan salahkan saya ketika jam lima sore sudah meninggalkan kantor padahal masih banyak dokumen yang harus dievaluasi. Karena saya harus menjemput isteri saya, yang setibanya di rumah akan masak untuk kami sekeluarga. Begitupun saya, sambil bersih-bersih rumah harus jaga anak agar tidak ganggu ibunya yang lagi masak. Maklum kami tidak punya pembantu yang menginap dan penjaga bayi. Kendaraan pun cuma satu (itupun belum lunas <– kok dibahas lagi ya..), jadi harus antar jemput isteri yang juga berprofesi sebagai dosen.

Karena hanya isteri yang mengapresiasi kinerja saya. Maka saya mencoba tegar agar tidak gentar dengan segala tekanan yang menggetar. Jika memang tak bisa membeli susu bayi, perah sapi pun jadi.

 

#mudikhectic part1

Ramadhan tahun ini memang beda. Selain berlatar d rumah ‘baru’, juga ada pendatang baru di sana, bahkan di bumi ini: Anzal. Jam kantor berubah, disesuaikan dengan aktivitas Ramadhan. Masuk jam delapan, pulang jam tiga sore. Bagi saya masuk jam delapan adalah jadwal tetap masuk kantor ;p. Begitu juga dengan jam pulang kantor, walaua sampai jam tiga, pulang tetap jam lima atau menjelang buka.   Setidaknya itu terjadi sebelum punya anak. Nah, dengan rumah yang jauuhhh (karena harus melewati satu kota dan satu kabupaten) dan anak bayi yang jam ‘rewel’nya mulai kambuh di jam-jam sibuk, maka pulang sesuai jadwal adalah sebuah keniscayaan.   Tahun kemarin kami memutuskan untuk berlebaran d makassar karena isteri sedang hamil besar. Tahun ini rencananya juga seperti itu, tapi dengan alasan yang berbeda: tiket muaahal. Maka hingga pertengahan Ramadhan saya tak peduli dengan urusan tiket. Etapi, tiba-tiba ada hasrat untuk sungkem dan silaturahmi ke orangtua di lebaran ini. Pasalnya gara-gara penghuni baru itu, Anzal, kakek-neneknya sudah tak sabar ingin menggendong dan menghadiahinya sebuah mobil Nissan March (loh..kok curhat?!).