Menjaga Kewarasan

Di salah satu mall di kawasan BSD ada sebuah tempat makan sunda dengan konsep makan lesehan di saung yang menghadap kolam ikan. Saung yang didesain alami dengan bambu dan daun kelapa. Lengkap dengan pentungan a la pos ronda jika pengunjung ingin memanggil penyaji.

Kebetulan langit sudah senja, obor pun menyala di setiap sudut, menambah nuansa alam pedesaan. Saya terbuai dibuatnya hingga kemudian tersadar ketika melihat daftar menu dengan harganya.

“Udang bakar empat biji harganya seratus ribu???”

Begitulah kira-kira jeritan dompet saya.
Memang, pengunjung di sana hampir semuanya orang-orang kota yang mungkin tinggal di apartemen atau real estate yang tidak ada kolam ikan mas dan pos ronda di dalamnya. Beberapa diantaranya masih berpakaian kantor. Mungkin sedang mengakhiri hari sibuk mereka dengan makan malam di saung sunda. Mungkin mereka butuh kewarasan agar masih ingat rasanya tinggal di pedesaan. Ingat orang-orang desa.

Beberapa orang mencoba menjaga kewarasan dirinya dengan naik sepeda ke kantor atau kereta/commuter line. Para pengguna commuter line, misalnya, sedari bangun pagi harus sudah berlari ke stasiun agar dapat kereta sesuai jadwal. Masuk gerbong berdesakan agar dapat posisi enak. Masih juga dipaksa pull-up atau siaga kuda-kuda.

Di perjalanan mereka bertemu kawasan-kawasan kumuh dan hiruk-pikuk ibu kota. Kehidupan lain di pinggiran rel kereta: pasar, tempat pengolahan sampah, dan tempat tinggal. Bagi beberapa orang itu, sketsa kehidupan lain yang mereka temukan di setiap perjalanan menuju/dari tempat kerja, merupakan bentuk mewaraskan diri. Bahwa hidupnya bukan hanya rumah-tempat kerja. Bahwa di antara jadwal padat lemburnya, ada yang masih lebih lembur daripada dia.

Kita sering menjumpai orang yang kehidupannya serba ada. Ada rumah, ada apartemen, ada mobil, ada mobil, ada mobil, ada liburan ke luar negeri, ada belanja setiap minggu. Waraskah dia? Salah satu bentuk mewaraskan diri ialah mengetahui sebenarnya hidupnya untuk si(apa)?

Jika ia masih lajang, hal apa yang ia ingin wariskan setelah kepergiannya? Keturunan. Keturunan seperti apa? Bentuk pendidikan seperti apa yang dibutuhkan untuk menjadikan keturunan yang baik. Sekolah yang bagaimana agar nilai-nilai yang ingin kita tanamkan bisa tersalurkan.

Pun dalam membesarkan anak. Kewarasan adalah kunci. Orangtua harus tetap waras menghadapi segala macam tingkah laku anak. Percayalah bahwa tidak semua rengekan anak adalah murni ia sedang tersakiti. Beberapa diantaranya hanya acting. Jika ingin mendidik anak agar selalu sikat gigi sebelum tidur, maka orangtua harus tetap waras menuntun anaknya untuk sikat gigi. Olah peran berupa tangisan plus teriakan tidak mau membuka mulut atau bahkan tidak mau meninjakkan kaki di kamar mandi harus tetap dilawan.

Memang seperti jahat ketika orang tua memberikan hukuman ‘tidur sendiri’ kepada anak di bawah lima tahun hanya karena tidak mau sikat gigi. Tapi itulah bentuk kewarasan untuk menanamkan kedisiplinan dan kebersihan gigi pada keturunan kita. Apakah akan selalu ada drama tangisan sebelum tidur? Tidak. Mereka juga manusia. Makhluk adaptif.

Bentuk menjaga kewarasan lainnya adalah menikah. Membina rumah tangga bisa dianalogikan dengan menjalankan perusahaan. Seorang direktur tidak hanya memikirkan berapa keuntungan yang ia dapat, tapi juga menjaga dan mengembangkan sumber daya manusianya, mengukur cashflow keuangan, merencanakan program masa depan.

Adanya konflik dalam setiap rapat akhir tahun, perhitungan laba-rugi, produksi menurun, merupakan bentuk kewarasan bahwa perusahaan dinamis dan memikirkan hal-hal baru. Beberapa kegagalan adalah bahan bakar untuk meraih tujuan besar perusahaan.

Berumah tangga ialah bentuk paripurna dari menjaga kewarasan diri. Seorang yang punya hobi traveling atau hiking, akan menyusun ulang jadwal jalan-jalannya. Bahkan menanyakan pada dirinya: apakah ini yang saya (dan keluarga) butuhkan.

Ia akan terwaraskan bahwa ia butuh bekerja untuk menghasilkan uang. Bahwa ia butuh bersama dengan anak-anaknya untuk memberikan tauladan. Bahwa ia butuh traveling ke sekolah-sekolah untuk memilih jenis pendidikan yang tepat. Bahwa hidupnya tidak hanya di facebook dengan mengomentari perhelatan politik nusantara.  Ia akan terwaraskan bahwa ia juga makhluk sosial yang harus ikut main ping-pong atau domino di rumah bapak RT, demi keeksisan keluarganya di tempatnya tinggal.

Terlebih, seorang akan terwaraskan siapa dirinya, seperti apa dirinya, kesalahan apa yang sering ia lakukan, atas pengakuan orang yang selalu di sampingnya: pasangan hidupnya. Kedua pihak ini akan selalu mewaraskan diri atas pribadinya yang sudah terbentuk sedari bayi di keluarga yang berbeda. Di ruang dan waktu yang berbeda. Dalam setiap waktu kehidupannya, mereka akan saling mengingatkan dengan jalan kebenaran dan saling mengingatkan dengan kesabaran. Agar hidup mereka tidak merugi. Agar menjadi manusia yang mawas dan waras.

Semoga kami termasuk orang yang tidak merugi. Dua puluh dua Desember dua ribu sembilan lalu pernikahan kami. Telah dianugerahi dua orang anak laki-laki. Adalah perjalanan penuh dengan kewarasan diri. Terimakasih, cinta.

*cinta=indria sari

Nikmat Yang Tak Terdustakan

IMG_2079

Hampir empat tahun umur pernikahan kami. Dua anak sudah kami dianugerahi. Saya seorang pegawai BUMN yang baru sekali naik peringkat. Sementara isteri, seorang dokter yang merimba dari klinik hingga dosen. Tak banyak  yang kami dapati, hanya seonggok rumah tipe 38 di ujung kota dan serongsok motor vega ZR. Itu saja. Tapi ada hal lain yang kami peroleh. Setidaknya, bagi saya adalah sebuah hal-hal baru yang datang dari isteri. Sebuah nikmat.

Parenting

Ilmu ini tidak saya dapati waktu kuliah. Saya rada kagok mengikuti seminar atau short courses tentang pernikahan, waktu itu. Karena lebih fokus di how to-nya. Karena sesungguhnya itu pun susah. Beruntunglah saya, ilmu tentang mendidik anak, terutama psikologi sudah menjadi cemilan isteri saya kala mengandung, menyusui, atau bahkan sambil makan. Walau hanya lewat selembar gadget.

Ia tahu bahwa Anzal punya pribadi unik. Berbeda dengan adiknya, Firaas. Bahkan kadang kebalikannya. Ia tahu bagaimana men-treat keunikan itu. Bahkan, isteri saya tahu Anzal harus sekolah di mana (yang cocok untuk perkembangannya). Untuk seorang awam seperti saya, rasanya  kaget ketika Anzal harus masuk kamar  karena menolak makan. Kadang pun saya menitikkan air mata ketika dengan muka sedih Anzal merangsek ke kamar. Menyendiri di sana. Menyadari kesalahannya. Tapi karena itulah sekarang Anzal jadi gampang makan. Rutin, tiga kali sehari. Sementara teman sebayanya, hanya mau minum susu formula dan sesekali roti isi.

Saya tidak sedang menyalahkan atau membanding-bandingkan. Hanya ingin bersyukur karena lewat ‘anak gampang makan’ lah Tuhan memberikan rejeki kepada kami. Karena butuh uang sekitar 2 juta rupiah perbulan untuk memberi susu formula itu. Atau pamannya (tapi masih balita) yang makannya hanya sekali sehari. Itupun kadang hanya dengan Indomie.

Sewaktu masih ‘diospek’ makan teratur, drama hadir setiap sebelum makan. Begitupun dengan ‘ospek’ sikat gigi sebelum tidur. Selalu ada drama. Kita berkeras. Anzal menangis keras. Dan sekarang, Anzal bahkan minta (sikat gigi) sendiri jika ingin tidur malam.

Selain dapat rejeki ‘anak gampang makan’, kami juga dapat rejeki ‘bebas diapers’ dari Anzal. Umur dua tahun Anzal sudah mulai lepas popok, kecuali saat tidur malam dan acara luar rumah. Di umurnya yang tiga tahun Anzal totally bebas popok. Dia ngomong jika ingin pipis atau pup. Untuk pup, bahkan ia tidak mau ditunggui. Pintu kamar mandi harus ditutup, ayah bundanya menunggu di luar. Dan boleh masuk kalau ia sudah selesai. Perlu diketahui WC kami masih jongkok.

IMG_2317IMG00256-20120602-1030

Financial planning

Sebut saja Ligwina Hananto, seorang financial planner. Beberapa hal kami mengacu kepada kitab sucinya tentang investasi reksadana. Meninggalkan teori salah kaprah unitlink. Mereksadanakan dana-dana pendidikan anak. Beberapa untuk dana pensiun dan dana darurat. Besarannya hanya ratusan ribu. Tapi rutin per bulan.

Sebelumnya kami berkebun emas. Juga ikut investasi di sektor riil bisnis punya teman. Dan terakhir berkonsorsium buat jasa penitipan anak. Semuanya, kecuali kebun emas, gagal dan menyisakan pelajaran berharga. Kalau kata isteri saya, uang yang hilang itu anggap saja biaya ‘kuliah bisnis’ buat kita.

Setelah kandas di sektor riil, awalnya  kami mau coba di franchise. Kebetulan teman saya ikutan bisnis waralaba ini. Dia bahkan sudah punya dua cabang. Tapi ketika itu dana tidak tersedia. Jadi kenekadan kami untuk membuka alfamart (juga) kandas.

Beberapa tahun kemudian, uang pun terkumpul. Alfamart sudah keburu menjamur seperti blackberry. Niatan pun surut. Sebenarnya ada mobil yang ingin sekali kami beli. Karena rasanya cukup riweuh bawa empat awak dalam satu motor bebek. Pernah mencoba pake angkot. Ternyata lebih riweuh lagi. Sudah mah sesak-sesakan, bau, gerah dan mesti ganti-ganti (angkot) juga. Dan kemudian naik taksi. Tapi ya itu, uang yang dihabiskan ke mall, setengahnya untuk ongkos taksi.

Untungnya awak motor masih toleran dan bersabar atas keterbatasan tunggangannya. Masih bersedia panas-panasan, kena debu jalanan dan kedinginan kala harus pulang sehabis maghrib.

Jadi, uang yang katanya sudah terkumpul itu mau diapakan?

Rumah. Ya rumah kedua. Mungkin agak nekad. Tapi hidup ini memang harus demikian. Kenapa nekad? Karena jika jadi (saat ini masih proses approval) maka gaji saya habis untuk KPR rumah pertama dan kedua nanti. Untuk kebutuhan tabungan dan biaya bulanan, mengandalkan gaji dosen isteri saya serta receh-receh dari bonus, insentif dan sisa uang tiket dinas.

Ibu saya pernah bilang, ‘kalau hidupmu mau semangat, berhutanglah’. Awalnya saya kira ini sebuah lelucon. Tapi ternyata memang lelucon. Lelucon sufi. Pada akhirnya kami semacam ‘dipaksa’ untuk menabung (dalam bentuk cicilan rumah). Dan pada dasarnya, saya dan isteri merasa tidak betah punya uang cash atau tabungan yang menganggur. Uang itu bisa saja dibelikan mobil impian kami. Tapi sayang, ternyata mobil bukan aset. Nilainya turun. Bahkan perlu dana bulanan tambahan untuk perawatan. Dan kami kira motor bebek masih kuat menampung kami. Iya ‘kan, Bek?

Terlihat seperti menyiksa diri. Tapi percayalah. Inilah tanjakan sebelum di umur renta nanti kita menapaki puncaknya. Biarlah kita yang merasakan pahitnya. Dan anak-anak merasakan buah manisnya. Biarlah tidak hura-hura dengan bonus yang baru saja diterima untuk simpanan pendidikan anak yang entah berapa biayanya nanti.

IMG_2529 IMG_2357

Masih hutang

Setidaknya ada dua hutang saya ke isteri. Cincin kawin dan bulan madu. Dulu memang ada cincin kawinnya, tapi karena faktor penyusutan material, cincin jadi makin kecil. Atau mungkin faktor penggemukan jari manis pascanikah. Entahlah. Untuk yang bulan madu, dulu sempat tapi cuma short time. Cuma menginap selamam di hotel. Bukan bulan madu yang jalan-jalan ke tempat rekreasi, pantai atau wisata ke luar negeri seperti Maldives, Turki atau Bali (CMIIW).

Mudah-mudahan segala hutang bisa dituntaskan secepatnya. Agar segala keberkahan yang kami (saya) peroleh menjadi bertambah. Nikmat yang tak terdustakan. Semoga saja bukan hanya sekadar janji-lionair. Anggaplah sebagai voucher kado ulang tahun. Di usianya yang lahir di tahun 1985 ini. #HBDBunda

Dunia Terakhir

forgiveness_____by_sandman_f

Tahun baru HIjriyah.

Lagi. Dan entah kapan akan berulang lagi. Seperti air yang selalu bersiklus dari permukaan tanah menuju atmosfer dan menghujani tanah lagi. Seperti bulan yang terus berotasi dan berevolusi. Semua terulang mengikuti jalan-Nya. Mengikuti sunnah-Nya. Sebuah ketetapan yang diinginkan Tuhan atas ciptaan-Nya. Jika satu derajat saja perputaran bulan melenceng maka hancurlah ia. Jika satu mata rantai saja siklus hidrologi terpotong, maka banjirlah ia.

Demi matahari dan sinarnya di pagi hari
Demi bulan apabila mengiri
Demi siang apabila menampakkan
Demi malam apabila menutupi

(Q.S. Asy-Syams : 1-4)

Itu adalah kutipan-Nya tentang ketetapan. Semuanya telah diatur. Menurut garisnya. Satu saja elemen di atas hilang, maka kiamatlah sudah. Ini yang disebut hukum alam. Atau lebih tepatnya hukum Tuhan. Manusia hanya mampu menjelaskannya. Tak bisa mencipta. Apalagi mengubahnya. Bahkan merekayasanya. Tidak mungkin.

Dan mengalirlah sudah. Ada tiga tahun baru sekaligus dekat-dekat ini. Tahun baru Islam. Muharram. Tahun baru masehi, serta tahun baru Imlek. Ketika semuanya mengalir, mengikuti jalan-Nya, maka aku hanya menjadi seonggok batu di pinggiran. Dipenuhi lumut dan berupaya menahan arus. Seperti yang selalu takut akan perubahan. Atau mungkin tak ada batu-batu lain yang mengajaknya. Atau karena arusnya terlalu lemah. Aku juga tidak tahu.

Pulpenku hampir tak bisa menuliskan apa-apa ketika ada form berisi describe yourself. Jariku tak bisa menekan apa-apa di keyboard ketika mengisi profile di Facebook. Bahkan ketika aku harus membuat sebuah biodata tentang diriku sendiri, aku bingung. Ini mungkin yang menyebabkan temanku juga kebingungan ketika disuruh membuatkan testimony untukku. Ada tiga orang. Dan sampai sekarang testi itu belum ada.

Lost identity, mungkin. Atau juga kehilangan arah. Ketika mendengar ceramah Mario Teguh, aku tersentak ketika beliau bilang, “melakukan kebaikan itu tidak sulit, yang sulit adalah meninggalkan kebiasaan buruk”. Aku tunduk sebentar melihat diriku dalam cermin. “ucapkanlah, that’s not me, ketika Anda dihadapkan kepada sebuah perbuatan buruk”, katanya.

Jika boleh digambarkan dalam sebuah kurva, mungkin kualitas kepribadianku adalah fungsi persamaan kuadrat yang variable a-nya bernilai minus. Gradiennya negative. Tak ada rumput yang bisa kupegang karena arus sangat deras. Tak ada pohon yang bisa kuraih karena angin sangat kencang. Tak ada lilin yang dapat kunyalakan padahal malam begitu gelap. Tak ada air yang bisa kuminum karena hujan tak kunjung datang.

Aku menyerah. Aku terdampar di belantaran pulau karena tsunami nafsuku menghancurkannya. Membuatku menjadi gelandangan iman yang kehilangan sukma. Meminta-minta kepada dunia yang hiruk-pikuk di jalan raya. Mengemis kepada harta yang berhamburan kemana-mana. Aku dahaga. Karena tak ada kesejukan dalam setiap tetes minumku. Aku mendera, karena tak ada karbohidrat dalam potongan makananku.

Aku menyerah, Tuhan. Jangan Kau campakkanku. Aku sudah cukup menderita tak lagi menemukan jiwaku. Aku kehilangannya. Mungkin, aku dengan sengaja melepaskannya. Sebuah sukma yang Engkau berikan ketika Kau ciptakan aku. Aku tak menjaganya. Aku terlalu asik dengannya. Fujur. Ia yang selalu bersamaku. Tapi sekarang aku menyerah. Aku ingin mensucikannya lagi. Karena aku ingin menjadi orang yang beruntung. Di akhirat nanti. Karena itulah muara terakhir perjalanan ini. Semoga saja.

Demi langit serta pembinaannya
Demi bumi serta penghamparannya

Demi jiwa serta penyempurnaannya
Maka Dia mengilhamkan kepadanya sukma kejahatan dan ketaqwaan
Sungguh beruntung bagi siapa saja yang mensucikannya
Dan sungguh rugi bagi orang yang mengotorinya

(Q.S. Asy-Syams : 5-10)

Makassar, 1 Muharram 1430 H
1:15 Wita

international pink hijab day

tanggal 29 oktober kemaren, teman saya menuliskan kalimat di atas distatus YM-nya. bingung tapi seneng juga. bingung karena baru pertama kali denger tentang hijab day. seneng karena jujur aja, cewe itu makin cakep klo pake hijab (kerudung) apalagi warnanya pink atau putih. i love it. entah kenapa wanita terasa lebih grace ketika mengenakannya. mungkin ini yang dinamakan fitrah. fitrah karena harusnya seperti inilah wanita.

sewaktu kuliah dulu, aku saat itu menjadi redaksi sebuah buletin di jurusan. karena jurusan teknik lingkungan itb banyak ceweknya, dan ntah kenapa yang memakai jilbab bertambah banyak, aku jadi terpikir untuk membuat testimoni para jilbaber yang baru ini..aku meminta ke temen-temen yang pake jilbabnya itu pas kuliah (jadi kita masih sempet liat dia ga pake jilbab) untuk menuliskan kenapa dia pake jilbab dan perasaanya setelah pake jilbab. hasilnya mencengangkan. sayangnya aku ga ada dokumen lengkap tentang ungkapan-ungkapan mereka.

beberapa alasan yang sering keluar adalah mereka memakai jilbab karena ingin dirinya lebih dihargai dan lebih dinilai sebagai wanita baik-baik. karena sebenarnya mereka lebih ingin dihormati daripada dipuji kecantikan atau keseksiannya. karena mereka sadar bahwa sebenarnya lebih baik menjadi wanita terhormat daripada menjadi wanita penjilat.

dan satu hal yang menarik ketika ada pembaca wanita yang belum memakai jilbab, “jadi kapan nih?”, aku menyindir, “doain aja mam, moga dapet hidayah..”, katanya. ada juga yang berkomentar, “mam, gw panas baca ini..”. simpelnya, aku melihat bahwa tanggapan wanita yang belum berjilbab tentang jilbab sebenarnya sangat positif. mungkin rasa ketakutan tidak diterima di kelompok mainnya, atau rasa takut tidak lagi dibilang cantik, atau image kuper, ndeso, bagi orang-orang berjilbab. rasa-rasa ini yang sering muncul. tapi di testi itu ternyata ada pengakuan bahwa dirinya malah dibilang lebih cantik setelah memakin jilbab, dan dia tetap berada di kelompok mainnya.

buletin itu hanya difotokopi tidak dicetak, dan hanya sekali terbit. tapi aku merasa tanggapannya luar biasa, dan tiap tahunnya hampir selalu ada para pemakai jilbab baru di jurusan kami.  karena bisa jadi ada satu pengalaman mendasar yang ga bisa diceritakan atau ga sempet ditanyakan, kenapa ia memakai jilbab. dengan buletin itu banyak orang yang mengerti dan mungkin memiliki problem yang sama sehingga ia memakai jilbab.

terakhir, ini berlokasi di makassar. aku mendapat pertanyaan dari salah seorang teman di komunitas blogger makassar. ia minta pendapat tentang keinginannya untuk memkai jilbab. keinginan itu sudah lama karena ia merasa seperti belum menjadi seorang wanita setelah lama ia hidup. akhirnya ia memakai jilbab bertepatan dengan satu ramadhan 1429 H. alhamdulillah..

memakai jilbab adalah transformasi yang sangat berat. apalagi jika saat itu ia sedang berada di puncak keramaian orang. perlu ada enzim tertentu untuk mengalahkan energi aktivasinya. perlu ada pertarungan yang sangat sengit dengan penghuni hati. perlu ada argumen kuat dengan keluarga. fragmennya begitu kuat sehingga tak bisa dibuang dari ingatan. energi-energi ini bisa jadi akan memperkuat keputusan seorang yang sedang berada di titik itu sekarang. atau membuka sebuah alasan untuk memakai jilbab.

untuk teman-teman yang sudah pernah melewatinya, bolehlah berbagi tentang pengalaman berharga itu kepada semuanya. boleh comment disini, atau link ke blognya masing2, atau kirim ke emailku (nanti diposting disini)..

mencari isteri di toko PC game

hari sabtu sengaja menjadwalkan pergi ke MTC (Makassar Trade Center). kalo di bandung mungkin ini perpaduan antara pasar baru dan BEC. klo di jakarta mungkin mangga dua-nya. awalnya mau service notebook, tapi gagal karena diagnosanya salah. jadinya malah beli modem starone. tapi sebelum pulang, mampir dulu di toko pc game. ga terlalu banyak sih koleksinya, tapi lumayan lah..sebenarnya aku ga terlalu suka maen game di pc atau notebook, selain merusak VGA juga cepet bosen..kecuali Pro Evolution Soccer..

tepat satu hari sebelum ke makassar setelah libur lebaran, aku nginep di rumah temen dan kebetulan sempet maen Samurai Warrior di notebooknya. grafik yang bagus, cerita yang bikin tegang sama fitur 3D yang keren, akhrinya jatuh cinta..makanya waktu mampir di toko pc game, langsung nanya samurai warrior, onimusha, dan game sejenis..

berbeda dengan Play Station, atau XBox, maen di notebook atau PC harus memperhatikan requirement yang ada di game itu. misalnya game itu butuh memori sekian, VGA-nya berapa, harddisknya berapa, pake windows apa, dan lain-lain..kalo maen di PS kan langsung masukin cd, beres..maen di pc sangat beda…kaset yang kita beli harus diliat dulu cocok dengan fasilitas di notebook ga..jadi milih barang di toko pc game itu ga seperti milih baju di matahari. yang mesti diperhatikan betul adalah requirements-nya. bisa jadi kita jatuh cinta banget ama suatu game, harganya juga masih bisa dibeli, tapi ternyata requirement-nya ga cocok dengan spek PC kita, berarti kita harus beralih ke game lain atau mengupgrade PC kita agar sesuai dengan requirement game itu (tapi ini butuh waktu dan duit lebih besar)..

ini yang membuat aku tertawa sendiri ketika di angkot menuju rumah. beli pc game seperti memilih calon isteri. ada banyak pilihan, semuanya menawarkan kelebihan-kelebihannya, tapi sebelum ‘membelinya’ harus diliat dulu apakah requirement-nya cocok ga dengan ‘spek’ yang ada di kita. kalo ga cocok berarti ada dua pilihan: pertama beralih game lain yang requirement-nya cocok. pilihan ini ga membutuhkan waktu yang lama dan mengeluarkan banyak tenaga lagi. pilihan kedua adalah menyesuaikan spek (upgrade) sehingga bisa memenuhi requirement-nya. ini untuk orang-orang yang udah jatuh cinta pada pandangan pertama dan ga mau pindah ke lain hati. dia rela upgrade dirinya asal dia bisa memnuhi standar yang dibutuhkan. bahkan jika game-nya itu lagi habis di pasaran, dia rela nunggu sampe ada produksi lagi.

tapi ada satu yang kayaknya ga boleh disamakan dengan memilih calon isteri. kalo di toko pc game kan ketika kita mau ambil game tertentu kita diperbolehkan menginstall-nya dan mencoba game-nya di komputer yang disediakan di toko. nah, ini yang ga boleh kalo kamu-kamu semua memilih calon isteri. heheheeee….

makanya

napak tilas masa keemasan

ini hanya ingin mengenang. bukan ingin membusungkan dada. yang jelas tepat satu tahun, aku merasa sesuatu yang besar telah terjadi dan tak pernah bisa dilupakan..

Akhir tahun 2006, aku daftar lomba PKM di kampus. Awalnya nekad. Karena ga ada pengalaman dan juga ga punya basic keilmuwan yang mumpuni. Tapi ada satu tekad dari ke-nekad-an aku itu, bahwa aku ingin punya kenangan indah sebelum meninggalkan kampus ITB. Karena sudah hampir empat tahun, belum ada kenangan yang bisa ditinggalkan, terlebih sebuah kontribusi buat ITB. Mimpi. Memang seperti mimpi, karena jatah kuliah sekitar satu semester lagi (waktu normal).

Setelah aku nekad mendaftarkan diri, maka tugas selanjutnya tentu menentukan tema penelitian, membujuk dosen agar jadi pembimbing dan mengajak teman-teman lain untuk masuk ke dalam tim. Untuk tema aku mengambil tema penelitian yang dulu pernah dikerjakan sewaktu Kerja Praktek di Balai Teknologi Lingkungan BPPT. Aku sadur, dan dengan sedikit perubahan aku ajukan ke dosen. Proposalpun jadi. Tinggal anggota tim. Aku pun mengajak teman-teman di satu jurusan tapi satu angkatan di bawah (karena teman-teman seangkatan sedang sibuk menyiapkan Tugas Akhir). Presentasi sedikit ke teman-teman, dengan anggukan mereka yang sepertinya masih belum mengerti, mereka akhirnya ikut. Jadi semua proposal aku ketik, teman yang lain tinggal menyerahkan biodata mereka untuk dijadikan lampiran.

Waktu itu teman-teman aku sedang banyak tugas kuliah, sehingga mereka hanya punya sedikit waktu untuk ke lab. aku pun babak belur di lab sendirian. Karena seharusnya pekerjaan di lab membutuhkan waktu yang beriringan dan tenaga yang banyak. Aku waktu itu sempat menangis. Kenapa anggota tim aku pergi. Waktu itu aku sempat dongkol kepada mereka dan berniat mengerjakan itu hingga akhir sendirian.

Tapi ternyata aku salah. Pertama, bisa jadi ambisi kita beda dengan mereka. Karena usul ini datang dari aku, maka gairah mereka untuk mendapatkannya pun mungkin berbeda walaupun aku sudah menerangkan latarbelakangnya. Kedua adalah factor keilmuwan. Tema yang aku usung kebetulan baru diajarkan pada tingkat akhir. Karena anggota tim aku masih tingkat 3, maka mereka kurang selera untuk melakukan penelitian yang bersifat teori. Dan yang ketiga, relationship. Kenapa menjadi hal penting? Aku menyadari bahwa aku kurang dekat dengan mereka secara emosional karena memang intensitas pertemuannya juga sedikit. Padahal ini penting dalam melakukan koordinasi, komando dan interaksi. Maka, apa yang yang lakukan agar keluar dari jeratan ini? Percaya tidak percaya. Aku me-SMS mereka semua, “akhir pekan besok kita backpacker ke tasik”. Mereka pun sangat antusias. Aku juga tidak percaya kenapa mereka begitu antusias padahal waktu itu curah hujan sedang tinggi. Tapi karena itulah aku dan anggota tim lainnya bisa mengenal satu sama lain. Karena kami melakukan perjalanan bersama, dan bermalam bersama.

Ceritanya kita lanjutkan..

Pengumuman seleksi proposal PKM ternyata belum juga keluar walaupun sudah lewat batas waktu. Waktu itu kami berasumsi, proposal kami tidak lolos seleksi. Tapi mimpiku tidak lantas turun. Karena pada saat yang bersamaan ada lomba penelitian yang kali ini ditujukan untuk masing-masing himpunan jurusan di ITB. Jadi tiap-tiap himpunan boleh mengusulkan masing-masing tema penelitiannya. Prosesnya sama dengan lomba PKM. Usulan penelitian dalam bentuk proposal, jika lolos, maka akan dibiayai oleh pihak terkait, dan akan dimonitoring (pada tahap ini bisa jadi sebuah tim digugurkan karena progresnya yang lambat), setelah itu presentasi dengan hasil penelitiannya. Walaupun scope-nya lebih kecil dari PKM, tapi aku tetap yakin dengan ini. Karena walaupun aku tidak mewakili ITB menjadi tim PKM di PIMNAS, minimal aku mewakili himpunan aku untuk bertarung antarhimpunan di ITB.

Karena atas nama himpunan maka aku tidak serta merta menyerahkan proposal penelitian ke panitia. Aku harus presentasi dulu ke himpunan, dan himpunan akan mempertimbangkan jika ada tema yang lain. Dan ternyata tema aku lah yang akhirnya dipilih. Alasannya sederhana, proposalnya sudah jadi, ga usah mikir lagi, dan memang ga ada usul tema lain.

Setelah sekian minggu ditunggu, pengumuman siapa saja yang lolos seleksi pun belum juga ada. Aku pun tertunduk. Mungkin bukan saatnya mimpi itu diwujudkan. Tapi badan aku tegak kembali setelah suatu tantangan datang kembali. Kali ini bukan pengumuman lomba, tapi masih ada hubungannya dengan penelitian. Karena akhir semester, maka saat itu dibuka pendaftaran bagi siapa saja yang ingin lulus bulan Juli atau Oktober 2007. Aku pun ikut. Sementara yang lain sibuk menyusun proposal Tugas Akhir, aku hanya mencocokkan format tulisannya. Karena aku sudah menyusunnya dulu. Walaupun scope-nya lebih kecil dari dua lomba penelitian yang tadi (mewakili ITB à mewakili Himpunan à mewakili diri sendiri), aku merasa Tugas Akhir ini adalah sebuah masterpiece yang bisa dibanggakan nantinya. Aku masih bergembira saat itu karena masih punya impian untuk menorehkan kenangan terindah sebelum melepaskan baju mahasiswa.

Dan apa yang terjadi selanjutnya? Suatu sore temanku memberi ucapan selamat. “selamat ya, nama lo ada di pengumuman LPKM tuh..Tanoto, tim lo masuk..”. Aku terbengong sejenak. LPKM?? Tanoto??, pikirku. Dan sungguh ajaib, ternyata timku lolos seleksi proposal pada lomba penelitian antarhimpunan yang dibiayai oleh Tanoto Foundation. Dan LPKM adalah lembaga rektorat yang mengurusinya. Aku bersyukur-syukur mendengarnya. Maka aku pun segera menghubungi anggota tim karena akan banyak pekerjaan nantinya.

Senang tapi agak tegang. Karena aku takut Tugas Akhir-ku terbengkalai. Mengingat proposal Tugas Akhir-ku diterima dan harus selesai penelitiannya semester ini atau maksimal semester depan. Dan ternyata keteganganku semakin menjadi-jadi setelah esoknya (juga) seorang temanku menghampiriku dan (sekali lagi) mengucapkan selamat. “pengumuman PKM udah ada tuh, tim lo masuk, selamat yah..”. Mataku terbelalak seketika. Baru tadi aku merasa pusing memikirkan jadwal dengan target yang hampir bersamaan. Kini ada lagi sebuah hadiah baru yang juga mempunyai target yang hampir sama. PKM harus selesai bulan Juni, lomba antar-himpunan (Tanoto) harus rampung bulan Juli, sedangkan Tugas Akhir-ku sudah pasti tidak bisa selesai Juni (untuk wisuda Juli), dan punya waktu sangat tipis jika ingin wisuda oktober karena berarti harus rampung bulan Agustus. Sampai di sini aku pusing sangat pusing. Sebuah hadiah dari Tuhan yang ternyata sulit ku jalankan, padahal itu semua adalah doa-doaku, impianku.

Sekali lagi. Senang sekaligus sangat tegang. Karena ini bukan lomba main-main yang diselenggarakan mahasiswa. Ini program yang dibiayai pemerintah (Dikti) dan instansi luar (Tanoto Foundation) sekaligus mempertaruhkan namaku, karena untuk apa orangtuaku payah-payah membiayaiku jika Tugas Akhir kandas.. aku tidak bisa lari dari ini semua. Karena kaitannya dengan uang dan kepercayaan. Maka yang bisa aku lakukan hanyalah banyak berdoa semoga diberi kekuatan.

Maka dengan izin-Nya, tim kami pun menjadi salah satu dari tiga tim yang mewakili ITB di ajang PIMNAS XX di Lampung. Boleh percaya atau tidak, ini kali pertama aku keluar dari jawa barat (banten, Jakarta), yaitu sumatera. Dan walaupun tidak membawa medali, kami puas dengan hasil ini. Karena boleh dikatakan jam terbang kami nol. Dan ternyata kampus lain lebih matang mempersiapkan untuk ajang kompetisi ini. Boleh dibilang ITB belum terlalu bergairah untuk ngotot menang dalam PIMNAS. Dan ini keluar dari mulut rektor ITB saat itu. Beliau lebih bangga membicarakan kompetisi luar negeri dibandingkan dalam negeri. Padahal menurutku dan teman-teman tidak juga. Tetap saja PIMNAS harus jadi target juga.

Sepulang dari Lampung aku dikejutkan setelah mendapat kabar bahwa harus presentasi untuk lomba penelitian antar-himpunan, minggu depan. Shock. Aku benar-benar shock. Presentasi minggu depan sedangkan masih harus ngelab, karena ada data yang belum dapat. Tapi sebenarnya, penelitian untuk lomba ini tidak jauh berbeda dengan lomba PKM. Karena kami hanya melanjutkan tahapan dan menyempurnakan bagian-bagian tertentu. Dengan data seadanya dan persiapan yang sangat kurang kukira, kami pun maju. Ada tujuh himpunan yang akan presentasi. aku dan lucky, anggota tim sekaligus otak dari penelitian ini (karena basic akademiknya ia lebih mumpuni) berbicara seolah produk yang kami buat dapat diaplikasikan dan dijual sekaligus bermanfaat bagi manusia. Kami seoalah sales keliling.

Tapi itulah perjuangan. Aku tak bosan-bosannya mengulang kata-kata yang sebenarnya sudah bosan aku baca. Tapi itulah sebuah proses dari pengejaran impian. Hingga akhirnya karya kami ini dipublikasikan di Koran Pikiran Rakyat. Aku diwawancarai ini itu tentang perjalanan kami menuju PIMNAS. Ini kali pertamaku diwawancarai media, tapi kali ketiga namaku tercantum di media cetak. Heee…he…

Dan keajaibanpun terjadi. Tim dari himpunan-ku mendapat juara I. aku tergirang-girang sekaligus menangis. Di samping hadiahnya yang cukup besar, aku menangis karena ternyata aku bisa melakukan ini dan bisa mendapatkan hasilnya. Sebuah nama dan karya yang akan tertulis di database ITB dan jurusanku bahwa aku pernah menjuarai lomba ini. dan seketika teman-temanku melihat sosokku yang berbeda. Mereka seakan melihatku sebagai seorang ilmuwan yang kutu buku. Padahal aku hanya punya impian dan keyakinan. dan teman-teman di sekelilingku lah yang menjadi pion-pionnya..tanpa mereka, i’m nothing..

terimkasih sekali lagi untuk Lucky Wardhana, Yudhi Arfiansyah, Arlisa Febrianti, Suci Wulandari, Elgia Melissa Kirana, Ayie Fajarwati, Tegar Eka Perdana, Ajeng Setiawati, Iin (sori nama lengkapnya lupa), Lucy, Irfan Abadi,  dan lain-lain..(sori klo lupa nama yg lainnya..). juga buat pak jazi, pak CS di WRM.. dan buat HMTL, tetap jaya, tetap sunda…

Apakah perjuangan selesai? Tidak. Masih ada Tugas Akhir-ku menunggu. Aku masih punya waktu dua minggu jika nekad ingin lulus Oktober 2007. Awalnya aku menunda kelulusanku hingga Maret 2008. Tapi ada sebuah kejadian yang juga luar biasa..

untuk perjuangan tugas akhir bisa baca disini dan disini

senyummu, untukku..

“kak, kakak ngajar ngaji ya??”, seorang anak tiba-tiba menyodoriku sebuah buku kumal bertuliskan arab. aku hanya melongok sebentar selepas mengucapkan salam shalat maghribku karena menurut pendengaranku bacaan mereka cukup bnayak yang salah. tapi tiba-tiba mereka menyodorkan tawaran itu. aku tak menjawab. hanya bingung, kok tiba-tiba begini.

“iya kak, ngajar ajah. kasihan pak adang”, ucap salah seorang lagi. bener juga sih, pak adang selama ini hanya sendiri mengajar untuk sekitar 20an anak kecil di mushalla ini. padahal beliau sudah renta. bahkan untuk dijadikan seorang imam shalat pun sepertinya sudah udzur. tapi hingga sekarang, ia adalah imam tetap di mushalla ukuran 4 x 5 itu.

“Ngajar di sini itu ya kalo adek sempet saja, bapak juga tahu kalo mahasiswa di sini kan tujuannya belajar. jadi yang diutamakan belajar. tapi kan kalo punya ilmu dan diamalkan walupun sedikit, akan jadi pahala juga”, ucap pak adang di awal pengajian ba’da maghrib itu setelah aku memperkenalkan diri. dalam posisi seperti itu aku sangat menyesal. pertama, aku menyesal kenapa mahasiswa-mahasiswa di sini hanya jadi jamaah shalat saja, tidak ikut dalam kemakmuran masjidnya. padahal untuk mengajar ngaji tidak banyak dibutuhkan ilmu, dan untuk waktu, hanya dibutuhkan sekitar 45 menit. kedua, aku menyesal karena statusku tidak lagi mahasiswa. aku saat itu adalah seorang pengangguran yang sedang menunggu panggilan kerja. keberadaanku baru di sini.

pesan selanjutnya dari pak adang adalah, “cara bapak mengajar itu tidak menuntut anak untuk cepet bisa, perlahan tapi diulang-ulang. jadi jangan kaget kalo sudah ada yang iqro 6 tapi bacaannya, masih belum lancar”. aku pun mencoba mengikuti metodenya pak adang. dan benar dugaanku, anak-anak secara utuh belum bisa membaca huruf bahasa arab. mereka menghafal. mereka tidak bisa membaca sebelum pengajar membacakannya. dan ketika disuruh membaca ulang, mereka hanya melongo dan mencoba mengingat-ingat hafalannya…

tapi, di sanalah indahnya. mereka tertawa-tawa. saling berkompetisi. berdesak-desakkan mengerumuniku dengan baju lusuhnya dan mungkin badan yang tak sempet mereka bersihkan selepas main bola sore tadi. mereka tetap bersemangat  walau tembok berlin baru diantara sungai cikapundung dan cihampelas telah berdiri angkuh kini. mereka bahagia ketika sesuatu yang mereka tidak memilikinya, diberikan oleh sang pemilik dengan tulus. ada eki, beni, ajay, agus, dan lainnya. semuanya tersenyum.

besoknya aku tak mengajari mereka, karena malam jumat adalah hari libur mereka. dan ternyata aku memang tak bisa mengajar mereka lagi. malam itu adalah malam pertama dan terakhir. karena besoknya sebuah surat yang sudah sangat ditunggu kedatangannya tiba di hadapanku, Surat Panggilan Prajabatan PT PLN (persero).

purnama. begitu sempurna…

byyuurrrr…
sepertinya langit sedang bersedih luar biasa sore ini. ia mengeluarkan air matanya begitu deras. aku bersandar lelah di balik jendela mobil. lelah karena  selama  kurang lebih 5 jam menggunakan baju kebesaran dan 3 jam menunggu giliran foto bersama rektor. lelah bercampur lapar karena makan siang diundur jadi jam 5 sore.

tapi ada satu potret keindahan yang aku temukan di dalam kerumunan tirai air itu. purnama. aku melihatnya begitu sempurna malam ini. ia masih terlihat cantik di balik kemelut awan dan hitamnya langit. dan satu hal yang pasti, ia terus menatapku kemana pun mobil ini melaju. ia selalu di sampingku. seolah ada seseorang yang sedang menatapnya juga di belahan bumi sana. seolah ia ingin menyatukan tatapan kami.

tapi bukan itu yang ingin aku bahas. aku hanya ingin mengatakan bahwa tatapanku dengan sang purnama malam mengingatkanku pada episode-episode kehidupanku beberapa bulan silam. selesai maghrib ketika mampir di Gelap Nyawang, aku menemukan purnama begitu cantik di atasnya. itu ketika perjuangan menuntaskan Tugas Akhir telah dimulai.

saat masa-masa sidang telah berlangsung, aku pun menatap wajah yang sama pada langit malam itu ketika aku ingin mampir ke Balubur. purnama. itu bertepatan dengan malam penuh rahmat, ramadhan. aku menatap bercampur syukur yang terucap.

masih dalam dekapan malam yang dingin. aku hanya ingin mengucapkan rasa terimakasihku kepada kamu. kepada kamu, temanku. kepadamu yang telah menemaniku dalam kegilaanku, kegilaanmu. yang telah memberiku sandaran ketika tubuhku lelah. terkadang sandaran dingin, hangat atau (ehmm..) panas.

tetangga-tetanggaku. jika masih ada yang dapat aku lakukan untuk terus membuatmu tersenyum dan membuat lembaran-lembaran laporan tugas akhirmu bertambah, maka jangan ragu untuk menghubungiku. jangan khawatir, aku masih berada di sekitar halamanmu. karena masih belum ada yang mengajakku pindah dan masih belum ada yang mengajakku untuk mendirikan rumah baru. jika kamu punya tetangga lain yang bisa, itu sangat membantuku. ya..mungkin inilah yang dinamakan persahabatan.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

 

ramadhan

waktu menunjukkan pukul 1.15, tidak ada satupun orang di ruangan itu…hanya aku, notebook acer dan LCD sony.
“statistiknya banyak yang salah!!”, dia datang agak tergesa sambil meletakkan map berisi draft TA ke meja sidang. “kamu emangnya pake berapa sampel??”, ia menghampiriku agak tergesa setelah meletakkan map itu.
Ya, Tuhan. ada apa ini. ‘perang’ belum dimulai, kok ‘senapan’ sudah di depan mata. aku membatin dalam hati. aku sama sekali tidak bisa menjawabnya.

pembimbingku telat datang karena ada urusan. akhirnya, sambil menunggu pembimbing, para penguji melakukan ‘pemanasan’ dengan mempertanyakan hal-hal yang kurang jelas yang ada di draft. aku hanya tersenyum manis, dan berkata “iya bu, iya pak, makasih..makasih banyak..”. aku hanya terdiam menatap slide-ku yang belum sama sekali kusentuh. ketakutan tiba-tiba meranggas di setiap benak pikiranku. tapi, hati kecilku berkata, “nyantai aja bos, ga asik kali kalo sidang ga dibantai, nyantai aja, pasti ada pertolongan kok..”. aku pun terus memasang senyum di tengah cucuran keringat dan detakan jantung yang semakin cepat.

jam setengah dua lewat. sidang dimulai. aku berusaha menenangkan hati. mengingat-ingat masa-masa perjuangan menyelesaikan proyek ‘sangkuriang’ ini selama satu minggu. makalah seminar yang baru dikumpul sepuluh menit sebelum deadline. komputer yang tiba-tiba terkena virus di saat deadline. printer yang tiba-tiba rusak di saat-saat genting. dan segala macam ujian yang telah Tuhan berikan. dan sekarang, di hadapanku, telah terpasang tali bertulis ‘finish’. ‘selangkah lagi, bos’, bisik hati kecilku. dan sesekali aku mengingat suara ibuku di telpon shubuh tadi, ‘ibu dan keluarga selalu mendoakanmu..’ dan ucapan-ucapan ‘selamat berjuang’ dari teman-temanku baik langsung maupun lewat sms. aku yakin, tanpa dukungan dan doa mereka, aku masih jauh dari garis finish ini.

lima belas menit kemudian, sesi sidang masuk ke sesi berikutnya, tanya jawab. salah satu dari dua penguji itu adalah dosen yang cukup ahli di bidang statistika. karena bahasan di draft dan slide Tugas Akhirku sebagian besar membahas statistika, maka sasaran empuklah bagi dia untuk ‘membantai’. tapi, ternyata tidak. sepertinya doa teman-temanku serta orangtuaku pagi tadi cukup bagi Tuhan untuk memberiku kemudahan dan kelancaran. jika boleh dipersentasikan, kadar ‘pertanyaan’ 30% sedangkan kadar ‘masukan’ 70%. jadi, sidang itu, kalimat yang sering kuucapkan ialah, “iya bu, terima kasih banyak bu..”, sambil senyum manis dan merasa mendapat ilmu baru. mungkin hampir sama dengan ajang kontes ‘idol’ yang sedang diberi masukan oleh juri…

waktu menunjukkan pukul 14.45. aku dipersilakan keluar. beberapa menit kemudian aku dipanggil lagi. pembimbingku hanya tersenyum-senyum sambil berkata, “kamu beruntung hari ini pengujinya baik-baik”, penguji dan pembimbingku tertawa ringan, “kamu dinyatakan lulus, tentunya dengan perbaikan yang tadi disampaikan oleh para penguji…”, perkataan itu pelan dan mendatar. tapi bagiku itu adalah sebuah kalimat yang ditunggu-tunggu setelah beberapa minggu yang lalu aku memutuskan ‘berlari’ untuk mengejarnya.

tiada ucap yang patut dibisikkan kecuali puji syukur kepada-Nya. semesta ini seakan sedang tersenyum ke arahku sehingga aku tak kuasa lagi menahannya. maka aku hanya bisa berucap syukur karena aku takut nikmat-Nya ini menjadi murka-Nya hanya karena aku sombong atas semuanya. dan nikmat itu pun terus menyerangku bertubi-tubi. satu jam setelah sidang aku ditawari proyek dosen sipil. dan satu hari setelah sidang, salah satu dosen penguji di sidangku, menelpon dan menawariku sebuah pekerjaan. alhamdulillah…belum kering rasanya bibir ini berucap syukur, tapi Engkau terus memberi hamba-Mu yang fana ini begitu banyak karunia-Mu. semoga bukan nikmat yang aku ingkari…

I just run!

“Kamu kemana aja? bimbingan sama saya saja baru sekali, itu pun 2 bulan yang lalu. emangnya kamu mau lulus kapan?”

“Maaf, pak, saya kemarin ngerjain penelitian buat lomba, jadi waktunya banyak kebuang. Kalo data yang lomba dijadiin data TA gimana pak?”, aku membujuk.

 

“Data ini bagus, tapi belum lengkap. Masih banyak yang kurang. variasi yang kamu buat ..bla..bla..bla..”

 

“Ya, udah pak, kalau begitu saya mengulang penelitian saja dengan variasi dan data yang lebih lengkap”, aku menyerah. Setelah itu, ia memberi arahan harus ini dan itu.

Dari sini, tekad untuk lulus oktober sepertinya sirna, dan dengan lapang dada kusiapkan diri untuk mengundur kelulusan. Dan bersiap untuk wisuda maret alias wimar..

***

Berawal dari rasa penasaran, ‘masih bisa ga yah lulus oktober?’ Pertanyaan itu seperti dikirim Tuhan untuk terus dipertanyakan. Pertanyaan itu cukup berat karena deretan jawaban untuk menolaknya sangatlah banyak.

Tapi, hari Sabtu dan Minggu ini kucoba membuat analisa lain dari data yang ‘jelek’ itu. Statistika. Ya, tools ajaib ini kayaknya bisa menyulap data-data itu. Belum kering rasanya semangat itu, tiba-tiba temanku di matematik angkat tangan, ‘wah, anak S1 belum belajar kayak ginian, mesti ke S2’. Oke, rintangan mulai datang..tapi, ia memberi rekomendasi anak2 S2 yang ahli di bidang itu. Walhasil, datapun selesai dianalisa dengan statistika. Itu pun setelah menghubungi 2 anak S2 matematika ITB yang pinter2, dan perlu diketahui, mereka juga butuh baca2 dan mikir panjang dulu, buat ngebahas data yang ‘jelek’ itu.

Negosiasi

“Bagaimana? udah ada hasilnya?”, prof itu menyapa.

“Begini pak, di luar penelitian yang akan saya lakukan, saya mencoba menganalisa data saya yang dulu dengan statistika pak, dan datanya seperti ini..”, aku memberikan beberapa kertas hasil hitungan.

“Kamu coba ketik yang lebih rapi. Analisa ini tidak jelas, mana variasi 1, mana variasi 2…bla..bla..”

Rintangan kedua. Okeh. Fine. Aku terus berlari merapikan data dan analisa. Besoknya aku kembali dengan kertas yang lebihtebal dan rapi.

“Ya udah kamu seminar sekarang ajah biar bisa lulus oktober!”

(heehh…)

“Maksud bapak?? Pengumpulan terakhir draft makalah seminar kan besok pak”

“Iya, kamu masukin ajah, tapi analisanya ditambah yah..”

Siang itu aku tidak mempedulikan panasnya Bandung, atau riuhnya pasar balubur. Aku terus berlari. I just run, kalau kata Forrest Gump. Aku telpon master2 statistika. Tidak hanya dua, tapi 3 orang sekaligus, dua orang diantaranya sudah bergelar magister (M.Si). Tepat pukul 5 sore di laboratorium statistika di matematik, analisa yang diminta prof sudah keluar hasilnya. ffiuhh…akhirnya.. Malam ini pun harus mengerjakan draft makalah seminar, plus resume dalam bahasa inggris (yang ini yang ga suka, secara toefl cuma *74).

Draft Makalah Seminar

Jam sudah menunjuk angka 14.30. Draft terakhir harus masuk pukul 16.00. Dan saat itu, progress masih banyak yang kurang. tiba-tiba saja sms masuk,

‘bisakah anda menjadi asisten pam semester ini?’ -pak ********-

I just run. Satu detik bagiku sekarang adalah mahal harganya. Sms itu pun terpaksa dikacangin. Tak lama kemudian…

woi, pa kabar? gw ada orderan nih, bikin 100 pcs kaos, bahan combat, pokoknya kayak black id gitu deh..bla..bla..’

Aku pun terpaksa balas, ‘sori gw lg sibuk skrg, ga bs dganggu!!’, ehh dia malah bales, ‘emang lg sibuk apaan?’

 

AARRGGHH…..

Tepat, pukul 15.45. Draft selesai! Aku berlari kencang, menuruni tangga lantai 4 asramaku, menyusup di keramaian jamaah shalat ashar di Salman, melewati arus mobil di depan parkir SR yang mulai ramai, danterus berlari di penuhnya kendaraan di parkir SR..dan tiba2 telpon masuk..’bisa jadi asisten pam nggak??’ tut. Aku tidak sempat menjawab karena telpon keburu dimatikan. Ah, bodo..aku terus berlari melewati padatnya mahasiswa yang sedang latihan di UKM dan LSS..Dan tiba2 seseorang menghentikan langkahku,

Maaf mas, mau tanya, kalo 9009 di mana yah?”

ARRGGGH…

“Tuh, disana! di belakang lo.”, jawabku terengah-engah dan kemudian berlari lagi.

Seperti lomba lari estafet, aku mengejar staf TU yang sebentar lagi menutup kantornya..

Pukulan Mematikan

Minggu-minggu ini pun kuhabiskan waktuku di lab untuk mencari data tambahan. Dan selain itu pun, kusiapkan presentasi seminar, walaupun dengan waktu yang mepet. Bayangkan saja, slide baru dibuat jam8 malam, dan itupun harus dengan bahasa inggris..Besoknya kelopak mataku masih bergaris-garis hitam karena baru bisa tidur jam 2, dan harus presentasi jam 11 pagi pula.

Seminar selesai, bukan berarti bisa sidang. Sewaktu aku melaporkan hasil dataku, aku ingin bertanya ke prof, tentang nasibTA-ku, karena draft TA harus dikumpul tanggal 4 september, tapi sampai saat ini beliau belum menyuruh membuat bab 1, bab 2 atau bab 3.

“Maaf pak, pengumpulan draft TA kan paling lambat tanggal 4 pak, jadi…”
“Emang kamu bisa sidang sekarang???”, pertanyaan itu sederhana tapi mematikan. Ia menyela begitu saja dan memberi pukulan mematikan kepadaku di depan satu mahasiswa S1 bimbingannya dan 2 orang mahasiswa S2. Semangat membaraku sirna. Sepertinya ini jawaban pasti dari kepastian kelulusanku. Aku tidak lagi berlari. Aku hanya berjalan pelan dengan kepala menunduk.

Satu Kejutan

Professor itu memberiku kejutan besar di hari senin tanggal 3 september 2007.

“Gimana udah selesai belum?”, tanyanya sambil berjalan dan tentu dengan tersenyum

Aku sedikit bingung. Apa maksudnya?Aku memberanikan diri masuk ruangannya.

“Gimana kamu udah selesai?”, tanyanya kembali.”

“Belum sih pak, masih ada 3 parameter lagi yang belum diukur, ngukurnya lama pak”, jawabku.

“Ya udah deh, kamu sidang sekarang ajah. Parameternya ga sudah diukur semua, ukur 1 ajah. Draftnya kapan maksimal dikumpulkan?”, jawabnya ringan.

(APA????)

“Ttt..tanggal 7 pak”, aku masih gugup takpercaya.

“Ya udah, masih sempet kan ngukur satu parameter lagi. Nanti kalu masih ada waktu kamu ukur parameter lainnya”

“Ii..iya pak. Terima kasih banyak pak”

Aku kembali berlari kencang. Mentari terasa bersinar kembali. Aku menengadah menyambut kehangatannya..Bersyukur atas karunia-Nya. Aku berteriak-

idictator_by_pilsnerkorven.jpg

teriak kegilaan di hadapan teman-temanku. Langsung melepas jaketku yang coklat dan

menggantinya dengan jas lab yang putih. Bersiap lari kembali. I just run!

5 Hari Mencari Sidang

Hari senin dan selasa siang kuhabiskan waktuku di lab. Shalat, makan, bahkan tidur. Sorenya aku harus segera membuat draft TA. Gila aja..draft TA-ku masih nol. Dan ternyata, aku tidak bisa masuk windows. Hardisk-nya ga bisa dibaca!!!

AARGHHH…kenapa harus sekarang?!!

Akhirnya abis isya, windows pun aku bisa masuki. Tapi perjuangan belum usai jendral..Karena komputerku kedatangan tamu tak diundang, dr watson. Ini bukan dosen inggris yang dulu ngasih kuliah tentang udara di TL. tapi ini virus terbaru.

ARRGGHH…,belum ada data yang disave ke flash disk!!! Akhirnya kuusir dia dengan install ulang windows..

Baru jam 2 pagi sampai jam 10 pagi, aku bisa bekerja. Bab IV selesai. Hari rabu itu aku menghadap prof dan menyelesaikan administrasi pengajuan sidang yang njelimet banget. Mulai dari beres2 alat lab yang harus dicuci sampai bersih, ganti alat yang rusak, tulis bahan2 yang dipake, dan minta tanda tangan ke semua lab di TL, laboran dan kepala labnya.Lab selesai. Tinggal tanda tangan. tapi ada satu yang belum yang aku lupa. Revisi makalah seminar…revisi itu harus dikumpul jam 4 sore. Setelah zhuhur aku menuju komputerku dan mengedit makalah seminar. Tepat jam 3 sore semua makalah udh di print. Belum selesai kawan. Aku lupa, ternyata nomor halamannya mesti mengikuti standar. Kucoba untuk menelpon, tapi pulsa abis. Aku membeli pulsa dan menanyakan formatnya. Baru memulai lagi pengeditan jam 15.30 karena harus shalat ashar dulu. Edit selesai, tinggal print. Dan ternyata Tuhan masih mengujiku. Tinta printer abis. Akupun bergegas mengisi. Setelah itu, ternyata perjuangan belum berakhir karena hasil print yang keluar tidak bertinta padahal head tinta udh full.

ARRGGHHH…

Waktu menunjukkan pukul 15.50, printer masih di maintenance. Aku langsung menelpon koordinator seminar, dengan sedikit kecewa dia membolehkan untuk diukumpul besok pagi. alhamdulillah…

Dan ternyata tinta bisa berjalan kembali jam 16.10…aku dan temanku saat itu hanya tertawa keheranan….

Hari kamis kuputuskan untuk menyelesaikan tanda tangan. Dan memulai pengerjaan draft TA yang tersisa, bab 1, bab 2, bab 3, dan bab 5..wow, masih banyak ternyata..sorenya aku sengaja ke ***mart untuk membeli perbelakan perang.K arena malam ini HARUS tidak tidur. Setelah isya pekerjaan itu dimulai. Tidur hanya 3 jam kurang, jam 2 pagi mulai lagi. Tepat jam 10.30 pagi hari jumatnya, semua bab selesai, berarti tinggal lampiran, daftar isi, daftar tabel dan gambar (hah..tinggal??). Aku baru teringat, kalau administrasi sidang belum terpenuhi, surat persetujuan dari pembimbing, pasfoto, dan tanda tangan kepala prodi. Aku pun berlari meminta tanda tangan professor. belum satu menit aku di ruangannya, aku harus berlari lagi ke depan komputer, karena beliau meminta seluruh draft TA harus diprint untuk ia lihat. Jam 11 aku mulai print, baru 11 halaman, tinta abis. Aku isi lagi, dan kejadian yang dulu terulang. Printer harus di maintenance dulu..UGHH..sambil menunggu aku sempatkan untuk foto dengan kamera digital. Dengan mata masih hitam, rambut masih gondrong acak2an, badan masih lelah, aku terpaksa tersenyum untuk difoto. Karena foto ini yang ditempel di ijazah nanti. Teman2ku bahkan rela ke J**as untuk ini. Biar angle-nya bagus, katanya.

Jam satu aku kembali ke ruangan prof. Aku serahkan semuanya, dan dia langsung tanda tangan tanpa melihat isi draft itu. Sedikit kecewa, tapi tak apalah, yang penting selesai. Aku kembali ke depan komputer untuk membakar draft dan foto ke CD. Tapi aku lupa, daftar isi, daftar tabel dan gambar, serta lampiran belum dibuat….oh, my God…

Dengan cara manual aku mengerjakan semuanya (soalnya, ktanya ada yah cara cepetnya buat daftar isi..). Tepat jam 15.50 semuanya sudah dibakar….aku pun berlari dan berlari…untungnya tidak ada telpon yang masuk atau orang yang nanya ruangan…

Hampir saja de javu, kejadian ini persis waktu pengumpulan draft seminar. Akhirnya draft TA ku berhasil sampai di meja TU. Aku pun bisa bernafas lagi. Bisa menghirup udara dalam-dalam dan merasakan kesegaran perjuangan hidup ini. Malamnya aku tidur setelah isya dan baru bangun sebelum adzan shubuh…ffiiuhh…

quiz: hitung kata ARGGHHH..dalam tulisan di atas?

jawaban kirimkan ke https://alkarami.wordpress.com atau ke mutiarahati.alkarami@gmail.com atau ke myvirus_alhariz@yahoo.com (via YM juga bisa) atau ke nomor +62 813 899 350 73