Gerakan Bola Salju

Malam itu tiba-tiba Manado gelap. Blackout. Mobil Innova itu cepat melaju ke Tomohon. Jalan berliku dan sempit tak membuat kecepatan mobil ini kurang dari 80 km/jam. Satu orang penumpang harus mengeluarkan plastik untuk menyimpan muntahnya. Tapi sang ‘supir’ tak hiraukan. Pikirannya sudah berada di Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi berkapasitas 2×20 MW yang sedang trouble. Sang ‘supir’ menyadari bahwa ia sedang mengantar keluarganya malam-mingguan, tapi tak ada yang lebih penting dari melayani kebutuhan mendesak hajat hidup orang banyak. Listrik. Kata seorang manajer yang malam itu merangkap sebagai supir.

Seorang ibu setengah baya datang ke ruangan dengan buah tangan yang ia namakan dodol. Dodol dengan ukuran seperti batu bata. Tapi ditolak oleh seorang berkemeja putih — yang kebetulan Panitia Pelelangan. Karena tidak seperti biasanya, ternyata ‘dodol’ itu keras. Si ibu terus membujuk. Ia katakan bahwa disuruh atasannya. Sebagai ucapan terimakasih atas kemenangan perusahaannya di proyek transmisi, katanya. Si panitia lelang itu tetap tak bergeming dan kemudian berserapah selepas si ibu pergi, ‘berani-beraninya suap PLN, dodol!’.

Malam itu sedikit gerimis. Masih sisa hujan lebat sepanjang hari tadi. Mobil pick-up  itu masih berpatroli. Menunggu panggilan dari call center jika sewaktu-waktu ada gangguan di jaringan listrik rumah, atau trafo yang meledak. Teman mereka hanya jaket, alat instalasi, handy-talky, dan sederet caci-makian di twitter tentang gangguan malam itu. Teman mereka hanya harapan agar selalu didukung dan dipercaya.

Gerakan Bola Salju
PLN hampir ‘seumuran’ dengan Indonesia. Hanya terpaut dua bulan. Muka Indonesia, untuk beberapa orang masih sama dengan muka orba. Penuh korupsi, birokrasi panjang, dinasti kekuasaan, hingga sepakbola yang masuk ranah politik. Dan mungkin untuk beberapa orang, muka PLN juga masih muka orba. Maka jangan salah jika ada pelanggan yang terkaget-kaget karena ‘uang rokok’-nya tidak diterima petugas pelayanan teknik PLN. Jika ada kontraktor yang terheran-heran ketika tak perlu lagi lapor pejabat ini – pejabat itu untuk menjadi peserta lelang di PLN. Bahkan tidak perlu lagi membawa ‘dodol’ hanya untuk sekadar berucap terimakasih. Ah, dodol.

Maka beberapa orang (baik) ingin menyelamatkan muka Indonesia — yang busuk itu — dengan membuat gerakan sosial. Tak hanya bertolak pinggang dan mengurunkan angan. Tapi menggerakkan ide dan turun tangan. Menebus janji kemerdekaan, kalau kata Anies Baswedan. Mulai dari akun twitter yang membolasalju menjadi gerakan masif — hingga punya perwakilan di setiap kota. Begitu pun PLN, gerakan-gerakan membuang ‘muka lama’ terus digalakkan. Gerakan PLN Bersih salah satunya. Dari mulai perampingan birokrasi/organisasi (shared services center), penerapan whistle-blower, layanan sambungan online, hingga pengadaan barang/jasa secara elektronik (eprocurement). Menjadi perusahaan yang modern yang bebas korupsi dan  menjalankan Good Coorporate Governance.

Bahkan beberapa cerita tentang wujud PLN Bersih itu telah dibukukan (buku Saatnya Hati Bicara) yang dapat diakses publik. Tiga cerita di awal tulisan ini salah satunya. Dan menurut informasi akan ada buku jilid dua-nya. Mungkin saking banyaknya cerita-cerita akibat bola salju gerakan (PLN Bersih) itu sehingga butuh jilid 2, jilid 3 dan selanjutnya. Atau mungkin ternyata PLN memang (sudah) bersih. Hanya saja tidak tenar. Atau kalah tenar dengan byar-pet-nya.

Gerakan PLN Bersih memang gerakan bola salju. Saling memengaruhi. Maka tulisan ‘Kami Bersih Anda Bersih Dukung Kami Wujudkan PLN Bersih’ di sidebar situs PLN Bersih adalah benar. PLN sedang membenahi diri dengan membuat sistem terintegrasi agar tidak ada lagi kesempatan untuk pegawainya bisa korupsi (corporate culture). Maka mulailah biasakan diri untuk tidak lagi menyuap atau mengiming-imingi ‘dodol’ kepada pegawai PLN. Kecuali jika Anda ingin di-PHP.  Just do the rules.

Nyalakan, Bukan Menyalahkan
Seorang bijak pernah berkata, ‘jangan hanya mengutuk kegelapan, nyalakanlah lilin’. Rasio elektrifikasi PLN tahun 2012 kemarin memang baru 73%, di beberapa wilayah pun krisis listrik kerap terjadi. Mulai dari masalah kemarau, kendala sosial atau pemerintah daerah yang tidak memberikan izin pembangunan pembangkit. Tapi PLN terus berbenah. Menjadikannya agar terus dipercaya oleh masyarakat, oleh pelanggan dan oleh bangsa ini. Seperti yang ditulis oleh Eddy Erningpraja (Direktur SDM PLN) dalam bukunya Building Trust in The Black Box. Bahwa menumbuhkan kepercayaan (trust) masyarakat adalah kunci agar harapan itu menjadi nyata.

Maka PLN menggandeng Transparancy International Indonesia (TII), LSM anti-korupsi, sebagai partner untuk mereview apakah bisnis PLN sudah sesuai dengan best practice. Juga memetakan celah-celah potensi korupsi, khususnya di pengadaan barang/jasa. Selain itu, PLN pun merangkul Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk memberikan masukan dalam reformasi pelayanan pelanggan.

Keterlibatan civil society dalam gerakan PLN Bersih ini juga difasilitasi dengan Whistle Blowing System (WBS). Sebuah sistem pelaporan yang secara langsung disampaikan kepada Direksi PLN melalui email plnbersih[at]gmail[dot]com. Pelapor, baik pegawai PLN maupun masyarakat dapat melaporkan tindakan pelanggaran melawan hukum yang terjadi di PLN. Selain diberikan jaminan perlindungan hukum, pelapor juga akan diberikan insentif.

Inilah lilin itu. PLN sedang berbenah. Jika masih ada yang ‘urakan’, laporkan. Nyalakan (‘lilin’ itu), jangan hanya menyalahkan. Apalagi sambil menyalak.

Dukungan Blogger
Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Jakarta sekarang?

Reformasi birokrasi. Pemprov yang berani lawan preman. Kartu Jakarta Sehat. MRT. Blusukan. Jokowi.

Ya, Jakarta dengan rasa yang berbeda. Setelah seorang Jokowi hadir dengan gaya yang berbeda dengan pejabat lainnya. Dan kemudian dilirik media. Diteruskan dari mulut ke mulut. Akun ke akun. Blog ke blog. Maka jadilah Jakarta dengan rasa Jokowi yang begitu kental. Menjadi artis dadakan social media. Menjadi sosok yang dikagumi sekaligus dipercaya. Juga Ridwan Kamil di kota Bandung. Begitupun walikota Surabaya yang fenomenal itu. Mereka disukai dan dipercaya publik karena integritasnya. Dengan satu nilai yang begitu cepat menyebar: trust.

PLN sedang melakukan perbaikan di segala bidang. Sedang membersihkan rumahnya. Mempercantik dan merenovasi yang sudah usang. Di ulang tahunnya yang sudah tidak lagi muda ini, para pengguna blog diundang untuk datang. Menilai dengan sepenuh hati dan meceritakannya ke masyarakat luas. Agar mereka tahu bahwa ternyata rumah PLN (sudah) bersih. Bahwa penghuninya ramah-ramah. Bahwa ternyata PLN telah berubah

Dan apakah semua itu agar PLN jadi lebih terkenal?

Sepertinya bukan itu. Karena bekerja di PLN, menurut Nur Pamudji (Dirut PLN), bukan untuk menjadi tenar, berkuasa, atau kaya. Tapi untuk menjalankan misi hidup yang sebenarnya: melayani orang lain.

 

Disclaimer:

Awalnya tulisan ini diikutkan dalam Lomba blog PLN Bersih (kerja sama dengan Blogdetik). Tapi saya baru baca ada peraturan yang tidak bisa saya penuhi. Untuk itu saya mengundurkan diri dari lomba tersebut. Terimakasih.

Hujan, Sumber Air Minum Masa Depan

“Jika pada peperangan di abad 21 terjadi karena (memperebutkan) minyak, maka peperangan di abad berikutnya terjadi karena (memperebutkan) air” – Ismail Serageldin, mantan Vice President World Bank.

Dalam sejarah peradaban dunia, manusia berkumpul dan membentuk populasi dengan satu ketertarikan: sumber air. Mesopotamia yang disebut sebagai awal peradaban berada di antara dua sungai besar, yaitu Euphrates dan Tigris. Peradaban Mesir kuno, memiliki sungai Nil. Dan tempat berkumpulnya umat Islam di seluruh dunia, Ka’bah, memiliki sumber air sepanjang masa bernama Zam-zam.

Kebutuhan air

Tubuh manusia sendiri terdiri dari 55%-78% air (bergantung ukuran tubuh), yang tersebar di setiap organ vital tubuh (lihat Gambar 1). Karena itu, manusia setidaknya membutuhkan 2 liter air setiap hari untuk men-supply kebutuhan air di dalam tubuh.

Gambar 1 Air di dalam tubuh

Dapat dikatakan bahwa air adalah kebutuhan utama manusia setelah oksigen. Bedanya, oksigen dapat ‘dikonsumsi’ secara bebas dan gratis. Sedangkan air, saat ini sudah menjadi komoditas jual-beli. Baik berupa air bersih untuk mandi atau masak yang dijual oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM), maupun air minum yang dibeli dari perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Untungnya, pemerintah belum mengeluarkan kebijakan komersialisasi untuk air sumur.

Penggunaan sumber air

Air termasuk sumber alam yang terbarukan. Ia memiliki siklus yang dikenal dengan siklus air atau water cycle. Air bersirkulasi di bumi ini dan tak pernah berhenti berputar. Dimulai dari pemanasan oleh matahari, menguap, terkondensasi dan jatuh dalam bentuk hujan ke daratan, yang kemudian mengalir kembali ke laut (Gambar 2).

(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air)

(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air)

Gambar 2 Siklus Air

Sebagai negara tropis dan memiliki hamparan hutan yang luas, Indonesia mempunyai potensi sumber air sekitar 3.200 miliar kubik per tahunnya (www.neraca.co,id). Tapi, pemanfaatannya hanya sekitar 25%, sisanya mengalir begitu saja dari sungai-sungai menuju laut. Seperti rantai makanan, kelancaran siklus air juga bergantung kepada proses sebelumnya. Jika air di pegunungan berkurang atau tercemar, maka badan air setelahnya akan mengalami hal serupa (dengan kadar yang berbeda).

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, PDAM melakukan pengolahan sumber-sumber air terdekat yang kemudian didistribusikan ke rumah-rumah. Sungai adalah sumber air yang memiliki kontinuitas yang baik tapi kualitas yang buruk. Dengan rekayasa teknologi, air sungai dapat diolah menjadi air bersih, bahkan air layak minum – yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/PER/IV/2010. Jadi, sebenarnya air yang keluar dari pipa outlet PDAM sudah layak minum.

Tapi kenyataannya, dalam proses distribusi ke rumah-rumah terjadi kehilangan air (un-accounted water) sekitar 40% akibat konstruksi pipa yang buruk (Priyono, 2007). Sedangkan dari segi kualitas, sekitar 30% air terdistribusi (yang diterima di rumah) tercemar bakteri E. Coli dan pathogen lain (Menkes, 2010). Ini masih menjadi tugas berat bagi PDAM, yang sesuai namanya, merupakan perusahaan penyedia ‘air minum’, bukan hanya ‘air mandi’ atau ‘air cuci’.

Di titik inilah produsen AMDK memasuki pasar. Masyarakat disadarkan akan pentingnya air yang sehat dan berkualitas. Konsumsi air AMDK di tahun 2012 mencapai 19,8 miliar liter, dan akan naik menjadi 21,78 miliar liter di tahun 2013 (www.beritasatu.com). Ini sejalan dengan trend kebutuhan air bersih di dunia. Di 50 tahun terakhir ini, kebutuhan air bersih bertambah tiga kali lipat. Sedangkan permintaan air bersih tiap tahunnya meningkat sekitar 64 miliar kubik (www.wolrdometers.info).

Dunia Defisit Air

Kebutuhan penggunaan air meningkat dua kali lipat dari kenaikan populasi manusia (Food and Agriculture Organization of the United Nations). Eksploitasi sumber air secara tidak proporsional – apalagi di hulunya – akan membuat neraca air menjadi defisit. Menurut data dari UNEP (United Nations Environment Programme), jumlah air di bumi sekitar 1,4 juta km3. Sekitar 2,5%-nya adalah air layak pakai (freshwater), sisanya air asin (laut). Dari 2,5% freshwater ini, 70% dalam bentuk es/salju, 30% tertanam di tanah dan hanya 0,3% merupakan air permukaan dalam bentuk danau dan sungai (Gambar 3 dan 4).

Gambar 3 Jumlah Air Dunia

Gambar 4 Persentase Air Layak Pakai

Populasi manusia akan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Begitu juga dengan kebutuhan hidupnya. Jumlah penduduk dunia pada tahun 2050 diperkirakan akan menjadi 9.3 miliar jiwa (naik sekitar 40% dari tahun 2007). Sedangkan sumber air dunia tidak mengalami pertumbuhan, stagnan di angka 200.000 miliar kubik
dari tahun 2007 – 2050 (Gambar 5). Maka menjaga kelestarian sumber air adalah harga mati untuk kelangsungan hidup manusia. Mengeksploitasi sumber air dari hulu secara tidak proporsional, selain menurunkan ketersediaan air juga mengakibatkan badan-badan air di hilir menjadi tercemar.

Gambar 5 Pebandingan Pertumbuhan Populasi dengan Ketersediaan Air

Air memang mengalami sirkulasi. Berapapun air digunakan, pasti akan kembali lagi – walau memerlukan waktu yang lama. Perusahaan AMDK berperan penting atas ketersediaan sumber air di wilayah hulu. Tak masalah jika intake untuk AMDK ini sungai yang memiliki kontinuitas yang besar. Jelas siapapun mengakui bahwa AMDK adalah air olahan dari mata air atau air pegunungan yang kapasitasnya terbatas dan merupakan hulu badan air. Jika air di hulu defisit dan tercemar (salah satunya karena pengalihan oleh perusahaan AMDK), maka debit yang mengalir ke sungai dan badan air setelahnya akan ikut terpengaruh.

Sebuah penelitian yang dilakukan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Bappenas (2010) di Desa Caringin, Kabupaten Sukabumi, menjelaskan tentang dampak ‘pengalihan air’ oleh perusahaan AMDK. Menurut penelitian tersebut, 12 tahun sejak perusahaan-perusahaan AMDK berdiri di daerah tersebut, persawahan mengalami kekeringan karena supply air dari sungai berkurang. Sumber air tanah/sumur yang digunakan warga untuk keperluan air bersih juga menjadi kering.

Air Hujan Menjadi Air Minum?

Jika sumber air di pegunungan terbatas, air di sungai tercemar, air di dalam tanah menipis, maka harus ada rekayasa lain untuk mendapatkan air, yaitu hujan. Curah hujan yang hanya sekitar 700 mm/tahun, Inggris tidak kekurangan air saat kemarau karena membangun danau buatan untuk menampung air hujan. Indonesia adalah peringkat ke-7 curah hujan tertinggi di dunia, sebesar 2.702 mm/tahun (www.worldbank.org). Tapi pemanfaatan air hujan masih jarang dilakukan untuk kebutuhan-kebutuhan primer rumah tangga. Sangat mungkin – di tengah krisis air ini – air hujan dapat menjadi pengganti sumber air bersih, bahkan air minum. Pengolahan air hujan ini dikenal sebagai Sistem Pengolahan Air Hujan, SPAH.

Di beberapa negara maju, SPAH disebut sebagai rainwater tank, harvesting rainwater, atau rainwater treatment system. Pengunaannya beragam, bisa untuk kegiatan pertanian, injeksi ke tanah (cadangan air tanah) , dan kegiatan rumah tangga. Seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI (2011), mampu menampung air hujan 700 kali tangki berukuran 5 kubik setiap hari. Sehingga penggunaannnya bisa untuk keperluan rumah secara komunal (lingkup RT/RW atau desa).

Aplikasi SPAH cukup mudah. Prinsipnya menyalurkan sebanyak-banyak air hujan dari catchment area (atap rumah) yang kemudian diolah/treatment sedemikian rupa sehingga menghasilkan kualitas air yang diinginkan (Gambar 6).

Gambar 6 Sistem Pengolahan Air Hujan

Air hujan pada dasarnya ialah air murni atau H2O tanpa tambahan mineral, garam, dan lainnya. Menjadi ‘terkontaminasi’ ketika tercampur dengan zat-zat di udara dan material yang menampungnya. Sehingga pengolahannya cenderung lebih sederhana daripada air sungai. Pengolahan air hujan bervariasi bergantung jenis/karakteristik airnya. Pengolahan yang biasa dilakukan (World Health Organization, 2006) ialah secara fisik (dengan filtrasi) dan kimia (desinfeksi, penambahan kaporit, tawas). Jika diperkirakan hujan bersifat asam (acid rain), maka bisa dilakukan pengendalian pH (derajat keasaman) dengan penambahan material basa sehingga menjadi netral (sesuai standar).

Air hujan yang sudah diolah dan ditampung di dalam tangki dapat digunakan untuk keperluan MCK (mandi cuci kakus), perawatan tanaman, dan kegiatan rumah tangga lainnya. Air hasil olahan ini bisa juga digunakan untuk keperluan air minum. Untuk lebih memastikan kualitas air yang baik dan sehat, pengolahan dapat dilanjutkan ke ‘level’ berikutnya atau yang lebih dikenal dengan water purifier.

Pengolahan tersebut dilakukan dengan membran berpori kecil, karbon aktif untuk menghilangkan pestisida dan bau, pemanasan dengan ultraviolet atau boiling (dimasak) agar bakteri dan virus mati. Water purifier ini bisa dibuat sendiri dengan menggabungkan unit-unit instalasi pengolah dengan volume dan kadar tertentu (sesuai arahan ahli/professional). Atau bisa juga menggunakan water purifier set lengkap yang dirancang khusus untuk mengolah air layak minum.

‘Perang Air’

Air merupakan sumber kehidupan, sumber peradaban. Kebutuhan manusia terhadap air adalah hal penting. Tapi tentu lebih penting untuk tetap melestarikan ketersediaan air daripada hanya sekadar mengonsumsinya. Siklus air berjalan alami mengikuti hukum alam. Perlu dilakukan rekayasa ekosistem agar kebutuhan manusia yang terus bertambah dapat terpenuhi.

Kualitas air layak minum sudah ditentukan standarnya oleh pemerintah dan lembaga-lembaga internasional. Mengonsumsi air minum – dengan kualitas yang sangat tinggi (melebih standar) – dari AMDK, dan pada saat yang sama ikut berkontribusi terjadinya kekeringan dan pencemaran di sebuah desa di Kabupaten Sukabumi, adalah hal bodoh.

SPAH adalah salah satu tindakan mitigasi dari proyeksi krisis air di masa datang. Sebuah sumber air minum masa depan. Kita tidak bisa terus mengandalkan PDAM agar setara dengan pelayanan di luar negeri – drinking water tap. Atau mengandalkan ketersediaan air tanah yang mempunyai kapasitas terbatas. Air akan menjadi barang langka di masa datang. Bahkan menjadi komoditas yang diperebutkan seperti kilang minyak di Timur Tengah. Diperebutkan dengan perang, seperti ungkapan mantan Vice President Bank Dunia, Ismail Serageldin, di awal tulisan ini.

Jika itu (perang) terjadi, korbannya jelas masyarakat lemah atau negara yang kalah angkatan bersenjatanya dengan negara maju. Atau mungkin itu (perang) sudah dimulai? Saat perusahaan-perusahaan Eropa sudah mengokupasi sumber-sumber air di Indonesia dan menjualnya setara harga bensin. Entahlah.

Rumahmu Cerminmu

Yatna, sang calon Kepala Desa, gegap-gempita mempromosikan dirinya di hadapan masyarakat desa. Dia pun terpilih. Camat merekomendasikan. Bahkan sang pengusaha developer real estate mendukungnya. Entah karena Yatna punya ‘tujuan mulia’ atau memang sang developer juga punya ‘tujuan mulia’ lain untuk membangun desa itu.
Yang jelas, desa akan mendadak metropolis karena akan dibangun real esate, sport center, tempat ibadah megah dan lapangan golf. Siapa menduga. Lapangan pekerjaan akan terserap banyak. Siapa menduga. Taraf hidup masyarakat desa akan meningkat.

***

Vano sumringah. Ia belah jalanan kota dengan motornya berbekal cinta dan sejumput bunga. Menjemput kekasih hatinya. Bukan untuk menonton atau makan di restoran bintang lima. Tapi melipir ke KUA. Ya, mereka ingin kawin lari. Karena orangtua tak merestui.

Tapi KUA berkata lain. Harus ‘berbekal’ Kartu Keluarga, katanya – tak sekadar cinta dan bunga. Maka Vano pun berkesah, “Kita pake orang dalam saja. Biar cepet”. Sudah nekad kawin lari dari rumah, tapi gagal hanya karena selembar Kartu Keluarga. “Semua prosedur sudah kita jalani. Bayar (calo) kayak gini ‘kan biasa”, tuturnya kepada sang kekasih, Laras.

***

Niken merogoh beras yang tinggal setengah toples. Merebus telur yang tinggal tiga butir. Anak bayinya menangis. Bersama Risa, anak pertamanya, Niken membawa anak bayinya ke rumah sakit. Membekali dengan uang seribuan seadanya. Memang seadanya. Obat anaknya pun hanya ia tebus setengahnya. Dan Risa harus bersabar hati tak dibelikan balon karena ibunya sedang pailit. Ia hanya seorang tukang jahit yang bersuami seorang mandor gudang beras. Pun Indonesia, sedang diambang krisis. Krisis moneter.

Maka bukan kebetulan ketika seseorang mendatangi rumahnya malam itu. Menawarkan bentuk kerjasama saling-menguntungkan. Koh Abeng ingin menyewa beberapa hari gudang beras suaminya, Arwoko – yang kebetulan sedang kosong. Tak hanya biaya sewa yang tinggi, Koh Abeng bahkan akan memberi bonus kepada Arwoko dua kali lipat. Saya akan rugi besar kalau tidak menyimpan beras itu, kata koh Abeng. Beras sedang susah.

***

Ola sedang narsis. Membicarakan dirinya di depan handy-cam. Mungkin punya mimpi menjadi presenter. Sambil keliling sekolahnya, ia cerita tentang cowok idamannya hingga mendeklarasikan dirinya primadona sekolah. Ola memesan siomay di kantin sekolah sambil menunggu Echi. Sementara Gita, yang sedari tadi merekam narsisnya Ola, mulai bosan dan meminta ganti topik.

Muncul Echi dengan buku pesanan Ola. Disanalah topik baru dimulai. Echi bercerita tentang ‘proyeknya’ dengan Pak Norman. Yang membuatnya mendapat fulus lima puluh ribu. Echi diminta untuk mengkoordinir teman sekelasnya agar membeli buku melaluinya. Topik menjadi menarik karena hanya Gita yang tidak membeli buku itu lewat perantara Echi. Maka B- (B-minus)-lah nilai yang harus Gita terima dari Pak Norman. Padahal beda harga dengan bukunya Pak Norman hanya beberapa ribu saja.

***

Itulah potongan cerita di film omnibus Kita Versus Korupsi (K vs K). Masing-masing potongan cerita di atas berjudul Rumah Perkara, Aku Padamu, Selamat Siang, Risa!, dan Pssstt…. Jangan Bilang Siapa-siapa. Keempat film pendek ini, sesuai judul utamanya, menceritakan tentang ‘Kita’ dan praktik ‘Korupsi’.

‘Kita’ adalah Kepala Desa Yatna, Vano sang pejuang cinta, Arwoko si mandor gudang, dan Echi si penjual buku. ‘Kita’ adalah tokoh-tokoh dalam film itu. Lalu dimana ‘Korupsi’?

Di layar televisi atau media cetak, tentu berita tentang korupsi adalah perkara milyar atau triliun. Atau tentang pejabat publik yang sedang menjadi ketua partai yang kebetulan dekat dengan penguasa. ‘Korupsi’ dalam film K Vs K – bisa dikatakan – bukan pada level korupsi di layar tivi.

‘Korupsi’ adalah Kepala Desa yang mengingkari amanah rakyatnya. Padahal ia berjanji untuk menjaga rakyatnya dari segala gangguan. Untuk menyejahterakan rakyatnya. Bahkan ia berjanji atas nama Tuhan. Tapi ia membiarkan developer menggusur desanya sendiri.

‘Korupsi’ adalah menganggap menyuap petugas KUA itu hal kecil dan biasa. Menganggap bahwa tidak ada artinya urusan administrasi demi mimpi mereka yang lebih besar.

‘Korupsi’ adalah menggunakan jabatan mandor untuk memperkaya diri sendiri. Dengan alasan beras di dapur sudah habis atau untuk beli obat anak.

‘Korupsi’ adalah tidak transparan terhadap harga buku pelajaran yang akan dijual. Walau selisih beberapa ribu saja.

Seperti yang pernah diiklankan KPK, korupsi seorang pejabat sejatinya adalah kebiasaan buruk yang dianggap sepele dan kecil. Kebiasaan mencontek di kelas, membohongi pasangan, menyuap polantas, sesungguhnya akan berujung pada korupsi milyaran di tempatnya bekerja kelak.

Ola terbiasa me-mark-up biaya buku sekolahnya, karena ternyata sang ayah pun melakukan itu di tempat kerjanya.

Laras ngotot menentang ide Vano untuk ‘pake orang dalam’ terinspirasi dari guru SD-nya, Markus – yang mengajarkan nilai-nilai kejujuran hingga ia pun menolak menyuap sekolah agar di-PNS-kan.

Risa, anak Arwoko, yang kemudian menjadi pejabat pemda, dengan tegas menolak uang sogokan. Karena selalu mengingat kata-kata ayahnya, ‘Kebodohan saya (menolak korupsi) tak akan saya sesali. Sampai mati!’.

Karena siapapun tak menginginkan anaknya menjadi korban dari kebiasaan buruk kita. Seperti Iqbal, anak Kepala Desa Yatna, yang ikut terbakar di dalam rumah korban penggusuran paksa. Karena ayahnya.

Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang kita petik di kemudian hari. Menanamkan kebiasaan baik di keluarga, itulah yang akan anak-anak kita lakukan. Dan kalau boleh meminjam kalimat Laras kepada Vano, ‘Kamu adalah cerminan rumah kamu’.

“Jangan Takut Lawan Korupsi!”

Tahun 1858, di sebuah penginapan bernama  “In de kleine prins” di Brussel, Belgia, telah lahir novel masterpiece berjudul Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda (Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi). Ia keluar dari rahim pemikiran Eduard Douwes Dekker, dengan nama pena Multatuli. Seorang ‘PNS’ Pemerintah Hindia Belanda yang memotret Indonesia di abad ke-19. Potret penjajahan Belanda hingga korupsi pejabat-pejabat pribumi.  Kolonialisme dan feodalisme. Lebih dari sekadar novel ‘mega-best-seller’,  Max Havelaar menyulut Hindia Belanda untuk mengubah gaya politik penjajahannya menjadi ethische politiek (politik etis) atau politik balas budi (tahun 1860). Yang mengharuskan Belanda membangun sekolah-sekolah dan fasilitas kesehatan. Bahkan – Max Havelaar – menjadi inspirasi perjuangan kaum terpelajar di awal abad ke-20, seperti Moh Yamin, Husni Thamrin dan Soekarno – Sang proklamator.

Max Havelaar menjadi whistle blower atas praktik korupsi yang mengakarkuat di Indonesia saat itu. Mungkin tidak ada Patih yang mark-up biaya pembuatan benteng, tapi pemberian upeti adalah bentuk lain dari korupsi. Dan korupsi adalah alasan lain untuk meraih kekuasaan. Nusantara hancur karena hal itu: perang saudara di Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit, berlangsung turun temurun karena perebutan kekuasaan. Pejabat pribumi dan Kolonial berkolusi-korupsi-dan-nepotisme, menjarah sumber daya alam dan manusianya sekaligus. Konspirasi feodal.

Salah satu konspirasi ‘feodal’ zaman sekarang terjadi di bilik pelelangan. Setiap orang yang mempunyai akses bisa dengan mudah mendapatkan uang secara ‘legal’. Sang pemilik anggaran, misalnya, bisa menaikkan harga dan mengatur pemenang lelang, yang tentunya bekerja sama dengan panitia lelang. Seorang Bupati membagi-bagikan proyek dari APBD kepada perusahaan milik keponakan, saudara sepupu, atau ‘donaturnya’ saat kampanye dulu. Sejak pembangunan era Soeharto, korupsi ‘legal’ ini terus memberangus negeri tanpa ampun. Dan masih terasa hingga lebih dari 10 tahun era jatuhnya Soeharto. Reformasi.

Tapi setidaknya reformasi telah melahirkan Perpres 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa. Setidaknya itu bisa melegakan saya sebagai panitia lelang. Perpres tersebut mewajibkan pelelangan dilakukan secara online (e-proc) di tahun 2012 ini. Tidak ada yang bisa ditutupi, perusahaan manapun yang terhubung dengan internet bisa mengikuti lelang. Pengaturan pemenang bisa dihindari. Konspirasi Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) dengan Panitia bisa ‘ditengahi’ oleh Audit Pemeriksa Internal Pemerintah (APIP). APIP punya akses untuk melihat apakah ada dokumen yang ditambah atau dikurang? Apakah ada pengaturan?

Pelelangan atau pengadaan barang dan jasa memang wilayah seksi. Tak kurang dari 80% kasus korupsi yang ditangani Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) ialah pengadaan barang dan jasa. Inilah mengapa Indonesia masih terseok-seok di peringkat 100-an dari sekitar 170 negara paling korup di dunia.

Namun pelan-pelan merangkak naik di dua tahun terakhir. Tahun 2006 Indonesia peringkat 130 dari 163 (nilai indeks 2,4). Tahun 2010 berada di peringkat 110 dari 178 (nilai indeks 2,8). Tahun 2011 melaju ke peringkat 100 dari 182 (nilai indeks 3). Korupsi perlahan surut.

Berapa uang negara yang berhasil ‘diselamatkan’ atas pemanfaatan e-proc ini? Data hingga Agustus 2012 mencapai nilai Rp 7 Triliun. Apa hasilnya? Di kuartal ke-2 tahun 2012 ini, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) naik menjadi 6,4%; peringkat ke-2 setelah China.

Dan opportunist  selalu ada di masanya. Selalu ada kelompok yang emoh meninggalkan tradisi ‘upeti’. Seperti peserta lelang yang tak henti-hentinya menelpon meminta untuk bertemu di hotel anu, café itu. Mereka yang rajin meng-entertain pejabat agar kebagian ‘kue’ proyek – bahkan terus kebagian hingga anak cucunya. Mereka yang mengintimidasi panitia lelang dari surat kaleng hingga ancaman penjara – yang membuat saya takut. Mereka yang mati-matian melawan kolonialisme, tapi merawat praktek feodalisme. Menolak pembaratan setimur-timurnya.

Ada yang terlupa dari bahasan Douwes Dekker di atas. Delapan tahun sebelum Eduard Douwes Dekker meninggal di Jerman, di Pasuruan telah lahir seorang pahlawan nasional bernama Ernest Douwes Dekker. Seorang keturunan Belanda-Jerman-Jawa yang dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi. Mereka punya hubungan darah, Ernest adalah cucu dari kakak Eduard – Olaf Douwes Dekker.

Tak berlebihan saya kira jika duo-DD (Douwes Dekker) ini punya naluri yang sama dalam melawan kolonialisme dan konspirasi feodal. Eduard DD melahirkan karya-karya sastra, berupa gagasan, novel, naskah drama yang menjadi inspirasi para pejuang setelahnya. Salah satunya adalah cucunya, Ernest DD. Yang berserangkai dengan Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat membentuk wadah pergerakan kemerdekaan bernama Boedi Oetomo.

e-procurement adalah salah satu indikasi terwujudnya good governance. Anggap saja ini produk barat, ide mantan penjajah, tapi inilah salah satu ‘senjata’ memberantas korupsi – dengan panitia lelang sebagai serdadunya. Duo-DD adalah ‘produk’ barat, tapi mereka adalah ‘senjata’ pergerakan kemerdekaan. Melawan penjajahan (kolonialisme) dan praktik korupsi-kolusi-nepotisme (konspirasi feodal).

Reformasi belum usai. Tugas KPK masih banyak. Akar budaya korupsi masih merambat. Semuanya butuh waktu.

Tentu Jendral Sudirman butuh waktu untuk mengajak rakyat angkat senjata melawan penjajah. Tentu Mohammad Hatta butuh waktu untuk meyakinkan Eropa bahwa Indonesia layak merdeka. Tentu Soekarno butuh waktu untuk menyadarkan rakyat bahwa Indonesia punya harga diri, jangan mau dibodohi, harus berani melawan, dan berkata ‘Ini dadaku! Mana dadamu?’.

Dan juga akan berkata kepada saya, “Jangan takut lawan korupsi!”.

referensi:
www.serbasejarah.wordpress.com
www.lkpp.go.id
www.bps.go.id
www.wikipedia.org
www.caping.wordpress.com
www.tempo.co

bumi panas dan panas bumi

Image

(sumber: deviantart.com)

Saya termasuk orang yang kecewa dengan film fenomenal di akhir tahun 2009 lalu. Film kontroversial, yang  membuat orang ngeri sekaligus penasaran ingin menontonnya: 2012. Film yang terinspirasi dari kalender suku Maya ini ingin menceritakan bahwa pada tanggal 21 Desember 2012 akan terjadi titik balik matahari musim dingin di belahan bumi utara. Matahari yang akan terbit dari barat dan terbenam di timur. Gunung memuntahkan lahar. Gempa bumi super hebat di seluruh jagad. Tsunami setinggi monas di pesisir pantai. Dalam kitab suci, kejadian ini disebut kiamat, hari akhir.

Saya bukan kecewa karena animasi film garapan Roland Emmerich ini yang tidak rapi. Dia memang ahlinya film-film ‘kiamat’. Sebut saja Independence Day dan The Day After Tomorrow. Sekali lagi saya bukan kecewa karena sinematografinya. Saya kecewa karena dugaan saya tentang ‘kiamat’ tidak terbukti di film 2012 ini.  Definisi saya – atau mungkin orang banyak – tentang kiamat adalah berakhirnya fase kehidupan dunia kemudian beralih ke fase akhirat. Kiamat dijelaskan sebagai hari super sibuk untuk malaikat pencabut nyawa. Semua makhluk hidup dimatikan. Tanpa terkecuali. Tapi di film 2012, ternyata masih ada yang survive. Negara-negara maju sudah mempersiapkannya dengan tiga kapal baja. Ilmuwan mereka sudah bisa memprediksinya. Dan skenario penyelamatan itu dikepalai oleh – siapa lagi kalau bukan – Amerika Serikat.

Kiamat Sudah Dekat

Kiamat sering dihubung-hubungkan dengan dosa-dosa manusia. ‘Kiamat sudah dekat’ diucapkan ketika banyak manusia meninggalkan agama mereka, Tuhan mereka. Adanya laki-laki yang berdandan seperti wanita dan sebaliknya, adalah ciri-ciri ‘Kiamat sudah dekat’. Sepinya tempat-tempat ibadah juga indikasi ‘Kiamat sudah dekat’. Guru saya pernah berkata bahwa pada hari akhir/kiamat nanti akan datang Dajjal yang mengajak manusia untuk berbuat keburukan. Waktu itu bayangan saya, Dajjal berbentuk seperti monster besar bermata satu. Tapi sepertinya masih lama karena hingga sekarang saya belum pernah bertemu dengan makhluk seperti itu (kecuali Lady Gaga, Jay-Z dan Ahmad Dhani termasuk kriteria itu).

Film 2012 mendefinisikan lain. Kiamat digambarkan sebagai fase perubahan bumi. Suku Maya yang memprediksi ‘kiamat’ tahun 2012 percaya bahwa matahari punya siklus, punya umur. Matahari sekarang adalah matahari ke-5 (Tonatiuh) yang memiliki umur 5125 tahun dan diperkirakan wafat tanggal 23 Desember 2012. Di peradaban Mesir kuno, menghitung siklus axial bumi terhadap dua belas rasi bintang. Siklus yang dimiliki tiap rasi sebanyak 2160 tahun untuk melakukan pergeseran. Posisi bumi sekarang, rasi Pisces, ternyata telah menuju penghabisan, yang akan berganti posisi ke rasi Aquarius. Ini bukan tentang zodiak, ini tentang transisi bintang yang membuat gaya gravitasi luar angkasa semrawut. Yang membuat gunung-gunung beterbangan seperti kapas. Yang membuat air laut memuntahkan segala isi perutnya. Yang mungkin membuat alien akan melakukan migrasi besar-besaran ke galaksi tetangga.

Ada dua kemungkinan. Bumi akan melakukan ‘purifikasi’, misalnya dengan kejatuhan meteorit luar angkasa dan meletusnya semua gunung berapi, yang menghilangkan semua peradaban manusia. Kemungkinan kedua, sekolompok manusia melakukan hijrah ke planet lain atau hidup di luar angkasa seperti dalam film Wall-E. Ini versi ilmuwan. Beda dengan versi kitab suci. Setelah hari kiamat datang, semua manusia mati dan akan melanjutkan ‘kehidupan’ babak baru di hari akhir yang mempunyai dua destinasi: surga atau neraka. Yang bahkan tidak berpakaian dan tidak saling kenal satu sama lain.

Tapi ada satu kesamaan. Di kitab suci menyebutkan bahwa kiamat datang sebagai tanda bahwa sudah banyak manusia yang meninggalkan Tuhan. Guru saya bahkan pernah bilang bahwa orang beriman tidak akan mati di hari kiamat, karena hari itu sungguh sangat menyeramkan: adzab Tuhan. Di ayat lain menyebutkan bahwa kerusakan di muka bumi ini adalah karena perbuatan buruk manusia. Indikasinya sama, manusialah aktor utamanya.  Dia melakukan keburukan dengan merusak imannya dan/atau merusak alam ciptaan-Nya.

Umur bumi, umur matahari, dan perilaku alam lainnya tidak terjadi dengan sendirinya. Ada campur tangan manusia di sana. Suku Maya boleh memprediksi bahwa umur bumi akan habis di akhir tahun 2012 nanti. Tapi, siapa tahu ‘matahari’ dicekoki rokok oleh sekelompok manusia sehingga umurnya malah lebih pendek. Atau terbentuknya lapisan ‘kaca’ di atmosfer akibat produksi CO2 kiriman manusia bumi, sehingga sinar pantulan matahari tidak kembali. Terbakarlah semua warga bumi, termasuk laut dan alam. Maka terjadilah pemanasan global, Green house effect. Dan bumi menjadi panas.

Bumi panas

Apa yang terjadi jika bumi panas? Dalam film dokumenter The Inconvenient Truth, analoginya dengan sepotong es krim yang berangsur-angsur meleleh setelah berada di luar ruangan. Ya, meleleh, mencair. Gunung-gunung es di kutub akan mencair. Daratan mengecil. Perubahan iklim tak bisa dihindarkan. Air lautan banyak yang menguap, udara melembab, hujan pun meningkat. Air di tanah lebih cepat mengering sehingga beberapa daerah mengalami kekeringan. Musim berubah tak beraturan seperti jerawat anak-anak SMP.

Bumi panas. Gunung es mencair. Muka air laut meninggi. Anda tahu? Kenaikan 100 cm air laut akan menenggelamkan 6% daerah Belanda, 17,5% Afghanistan, dan pulau-pulau kecil di Indonesia. Data mencatat, salah satu perilaku ekstrim alam pada tahun 1998 ialah badai El Nino, kemudian La Nina, lalu Tibet dan Afrika Selatan masing-masing mengalami musim dingin dan banjir terburuk dalam 50 tahun terakhir. Tahun 2005, tsunami menghancurkan Asia, lalu Katrina menghantam Amerika Serikat.

Bumi panas, karena gas-gas ‘rumah kaca’ terus diproduksi oleh manusia: uap air, karbon dioksida, sulfur dioksida dan metana.  Dan salah satu produsen terbesar penghasil gas rumah kaca ini ialah pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil. PLTU batubara, misalnya, membakar ketel air dengan ‘arang’ batubara. Zat yang dihasilkan dari proses ini uap air, karbondioksida, sulfur dioksida dan abu ringan (fly ash). Batu bara termasuk bahan bakar fosil karena sumbernya terbatas. Penambangannya pun terkadang kelewat batas. Hutan dibabat agar leluasa menggali, dan dibiarkan menganga tanpa ditanam kembali. Padahal, hutan adalah ‘pemakan’ karbondioksida terakus di dunia. Sekaligus menghasilkan oksigen gratis untuk manusia.

Panas bumi

Lalu, jika PLN ‘salah’ membangun pembangkit bahan bakar fosil, sumber tenaganya dari mana lagi? Mengandalkan tenaga air, akan kerepotan saat musim kemarau tiba. Beruntung untuk daerah Jawa Barat atau Papua yang airnya melimpah ruah. Belum lagi perilaku musim yang susah ditebak seperti kelakuan anak-anak ABG: labil.

Per Desember 2011 saja, lebih dari 80% pembangkit PLN yang terpasang adalah pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil. Indonesia punya hutan hujan tropis yang airnya mengalir sampai jauh. Tapi, pemanfaatan air untuk ketenagalistrikan hanya 12%. Prihatin, kalau kata Pak SBY. Tapi ada satu sumber daya alam yang patut menjadi prihatin karena malah kurang diberdayakan: panas bumi.

Indonesia punya 40% dari total cadangan panas bumi di dunia. Jika 100 negara di dunia ini melakukan konsorsium (patungan usaha), Indonesia punya saham 40%, sisanya dibagi ke 99 negara lain. Maka, dalam hal pemanfaatan energi panas bumi ini, Indonesia seharusnya pantas menjadi leader konsorsium (lead firm).  Tapi justru di sanalah letak prihatinnya. PLN saja baru memanfaatkan 4% dari total 29 GW (giga watt) potensi panas bumi yang tersebar di 276 titik di Indonesia. Berapa persen yang telah dimanfaatkan negara tetangga, Philipina? 70%! Prihatin.

Panas bumi = uang panas

Ini uniknya kaum kapitalis. Semuanya diperdagangkan, termasuk karbon. Bukan, ini bukan karbon aktif yang dijual di pasar untuk filter air.  Tahun 1997 lalu, negara-negara maju berembug di Kyoto, Jepang, untuk mengantisipasi terjadinya pemanasan global (dikenal dengan Protocol Kyoto). Bentuk mitigasinya ialah dengan memberi insentif kepada negara berkembang yang melakukan pembangunan tanpa menggunakan bahan fosil (non-renewable energy). Negara maju penghasil karbon memberi insentif kepada negara berkembang yang berhasil mengurangi emisi karbon ke atmosfer. Proses barter ini disebut juga sebagai carbon trading atau Clean Development Mechanism (CDM).

Potensi CDM Indonesia cukup besar. Menurut Kementerian Lingkungan Hidup, proyeksi potensi CDM (2008-2012) sekitar 125-300 juta ton carbon (CO2). Jika kita lihat harga pasaran per 1 ton carbon sebesar 1,5-5,5 USD. Dan semua potensi ini berhasil dijual, maka pendapatan yang diterima sebesar 187,5 – 1.650 juta USD. Asumsi biaya yang dibutuhkan untuk ratifikasi, dokumentasi, dan konsultansi sebesar 20%. Diperkirakan keuntungan yang didapat Indonesia per tahun sebesar 81,5 – 1.260 juta USD. Jika 1 USD = Rp 9.500,00 maka kita mendapat Rp 774 juta – Rp 12 milyar.

Keuntungan dari penjualan karbon ini serupa uang panas. Kita dapat manfaat dari tenaga listrik yang dihasilkan. Pemerintah (dalam hal ini PLN) dapat penghasilan dari penjualan listrik sekaligus penjualan carbon tadi. Bahkan mendapat keuntungan lingkungan yang bersih karena PLTP cenderung ramah lingkungan. Memperpanjang umur bumi agar tidak panas dengan panas bumi.

Dajjal?

Di film 2012, Amerika Serikat dengan segala kemampuan intelektual dan kecanggihan peralatannya, menjelma menjadi Nuh yang menyelamatkan warga dunia dari ‘kiamat’. Untungnya itu hanya film, karena pada kenyataannya, Amerika Serikat adalah negara penyumbang gas rumah kaca terbesar yang menolak Protocol Kyoto. Tidak sepakat atas perbaikan bumi sementara seluruh negara sepakat adanya mitigasi termasuk aplikasi CDM. Saya kadang berpikir, Amerika Serikat cenderung ingin merusak bumi dengan beberapa invasi perang, menyebar gaya hidup tidak ramah lingkungan, dan menolak Protocol Kyoto. Seperti monster bermata satu yang mengajak manusia akhir zaman untuk berbuat kerusakan. Seperti Dajjal.

Saya mulai berpikir jangan-jangan perilaku go green yang marak sekarang ini malah lebih bisa disebut amal shaleh daripada mengutuk kedatangan Lady Gaga. Jangan-jangan kampanye menanam pohon lebih ‘memperpanjang waktu kiamat’ daripada kampanye politik partai beragama. Jangan-jangan kebijakan pemerintah untuk memaksimalkan potensi panas bumi lebih disukai Tuhan daripada kebijakan mengharamkan tayangan infotainment. Jangan-jangan pengajian yang dilakukan di tengah jalan sehingga kendaraan macet dan mengakumulasikan emisi karbon ke udara serta menimbulkan timbunan sampah plastik dan streofom adalah bentuk pengrusakan alam semesta — ciptaan Tuhan yang harus dijaga. Jangan-jangan.. jangan-jangan kita adalah anak buahnya Dajjal(?)

referensi:

Indonesia, sampai akhir menutup mata

Dingin masih memeluk erat. Menembus setiap pori-pori berkelebat. Terus merayap di tiga lapisan baju hangat – yang ternyata tak membuat hangat. Keparat. Bukan hanya karena udaranya, tapi juga layar komputer di depanku yang menyalju: putih. Nol ide. Mungkin cairan serotonin di sel saraf ikut membeku sehingga tak mampu menggerakkan sel abu-abu itu. Tak mampu menerangkan bola lampu yang harusnya menyala di atas tengkorak kepala.

Malam yang dingin di Belanda. Kemampuan beradaptasiku ternyata rendah walau sudah dua tahun di sini. Memang studi masterku ini beasiswa dari perusahaanku, PLN. Tapi, dengan uang tabungan seadanya aku nekat membawa isteri dan kedua anakku. Tak bisa dipisahkan. Seolah napas. Mereka terikat di ikatan kovalen O2-ku. Awalnya aku kira mereka akan minta pulang, tapi malah kebalikannya. Anzal, anak pertamaku, sangat nyaman dengan sekolah barunya. Begitupun Firaas, dia bebas bersepeda tanpa khawatir jalurnya diterobos motor. Isteriku juga, senang karena bisa ‘reuni’ dengan teman-teman kampusnya. Sempat terpikir, apa menetap di sini aja ya? meneruskan sampai doctoral kemudian mengundurkan diri dari PLN?! Dasar pengkhianat! Aku menoyor kepala sendiri.

Aku memilih object di bidang Sustainable Energy Technology, Delft University. Topik ini memang sedang ramai dibicarakan orang. Terkait PLN, jurusan ini sengaja aku ambil karena Indonesia punya banyak source untuk merekayasa energi-energi terbarukan. Salah satu energi berkelanjutan milik Indonesia yang sangat besar potensinya ialah panas bumi (40% dari cadangan dunia). Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) adalah jenis rekayasa teknologi yang bersih. Tidak mengotori atmosfer dengan karbon – yang selama ini dihasilkan oleh pembakaran batubara atau solar. Rekayasa teknologi yang bersih ini ternyata bisa ‘dibarter’ dengan sejumlah uang dari negara yang kontribusi emisi karbonnya tinggi. Ini disebut carbon trading. Bingung? Itu tema proposal tesisku – yang harus jadi malam ini. Sama, aku juga bingung.

Semua data yang aku kumpulkan dari rekan-rekan kerja di tanah air sudah cukup lengkap. Sedikit memicingkan mata, mengernyitkan dahi, menggelengkan kepala, dan beberapa kali berdecak kagum. Gila!  Indonesia kaya banget, teriakku dalam hati. Tapi harus mulai dari mana ini semua? Aku buka-buka play list lagu. Kopi hitam dan lagu biasanya bisa membangkitkan mood. Silakan kopinya, Ayah. Isteriku menyuguhkan kopi panasnya. Bunda mau ke atas dulu ya, temenin adek baca buku. Diselingi senyum terus menghilang.

Masih scrolling play list, tiba-tiba: AYAAH, aku mau tinggal di Belanda aja! Anzal, anak pertamaku, berteriak dari ruang tengah. Aku tak langsung menoleh, berharap hanya suara derungan CPU rusak atau DVD room saat burning. Di sini enak, jalanan rapi, bersih, perpustakaannya juga lengkap. Lanjutnya.

Aku segarkan dulu tenggorokan dengan kopi hitam. Menyerap dalam-dalam kenapa pernyataan itu bisa keluar dari anak umur 12 tahun – yang baru  dua tahun meninggalkan negaranya. Memang Indonesia kenapa, Nzal? Tanyaku sambil menelan sisa kopi. Aku menganggukan kepala seolah serius mendengarkan. Padahal sedang mengumpulkan bahan untuk meng-counter salah kaprah itu, sambil menyela ‘teruss??’ dan ‘ohh..gitu..’.

Anzal malu tiap kali harus bicara tentang Indonesia di kelas. Kalau lagi cerita tentang wisata kuliner dan wisata alam, mereka seolah ingin lama-lama tinggal di Indonesia. Tapi, Anzal tak bisa cerita apa-apa kalo ada yang tanya tentang teroris, bom Bali, dan Pak Harto. Malu, Yah!

Aku terus mendengarkan keluhan bocah itu. Matanya penuh emosi, walau terus memandang tv. Mungkin takut beradu mata denganku. Takut semua gelesihannya terungkap. Karena mata kami dapat beresonansi. Aku menarik oksigen sebanyak-banyaknya dan menggelegarkan karbondioksida-nya sebagai tanda percakapan serius akan dimulai.

Menghampirinya dengan kursi kerja beroda. Aku bercerita: Kamu tahu pewangi yang di kamar mandi? Itu namanya kapur barus, orang biasanya menyebutnya kamper. Kapur barus itu sejenis wewangian dan sebagai bahan pengawet, yang dihasilkan di bumi Indonesia bernama Barus. Barus itu nama daerah di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.  Pemimpin Mesir zaman itu, Firaun, sekitar tahun 1500 SM, mengambil kapur barus untuk bahan pengawet mummi. Bahkan, sebagian ahli tafsir (Ibn Abbas, Alquthubi, Jalalain, Ibn katsir), menafsirkan kata ‘kafur’ dalam Surat Al-Insan ayat 5, adalah sejenis kapur dari Barus yang menjadi lambang kemewahan saat itu.

Indonesia tertulis di dalam Alquran? Anzal penasaran tak percaya.

Tidak hanya Barus. Masih di Sumatera, ada sebuah gunung yang mengandung sumber emas melimpah. Gunung Ophir (juga dikenal dengan Gunung Talamau). Alquran Surat Al-Anbiya ayat 81 menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya”.  Dalam kitab umat Yahudi, Melakim, Pasal 9, menerangkan bahwa Nabi Sulaiman (raja Bani Israil) menerima emas dari bawahannya yang didapatkan dari Gunung Ophir. Di berbagai prasasti, Sumatera dalam bahasa Sansekerta dikenal dengan istilah Suwarnadwipa (pulau emas) atau Suwarnabhumi (tanah emas).

Anzal menganga, sama seperti dia sedang menonton Barney di JimJam Channel waktu umur setahun.

Indonesia kaya sumber alam. Disukai banyak orang. Dengan alasan yang sama pula, para pedagang Belanda datang ke Indonesia. Waktu itu namanya Nusantara. Tahun 1598, perusahaan Belanda datang di pelabuhan Banten, Pulau Jawa. Mereka berdagang di sana dan membawa hasil bumi hingga kapalnya penuh. Tak puas di Jawa, mereka berlayar hingga Maluku untuk mencari cengkeh dan pala.

Sebelumnya, pada tahun 1511, Portugis sudah menguasai selat Malaka. Ini kawasan strategis untuk lalu-lintas perdagangan dunia antara India dan Cina. Mereka mengendalikan perdagangan rempah-rempah yang punya nilai jual tinggi, seperti lada, cengkeh, pala dan fuli dari Sumatera dan Maluku.

Munculnya para pedagang luar Nusantara dengan kapal-kapal super besar itu menumbuhkan persaingan dan konflik. Kerajaan Belanda waktu itu, membentuk perserikatan dagang untuk negaranya agar menghindari persaingan antarpedagang Belanda dan juga membuat perusahaan itu lebih besar. Dalam buku sejarah, perserikatan ini sering disebut VOC. Di sinilah sifat manusia muncul. VOC semacam negara dalam negara. Kekuatan finansialnya membuat mereka gelap mata dengan membentuk angkatan perang. Dengan kekuatan ini, VOC rakus kekuasaan. Mereka tak sungkan merebut wilayah dagang yang strategis dengan peperangan.  Walau akhirnya mereka diambil alih oleh Hindia Belanda karena kasus korupsi para petingginya.

Memang waktu itu orang-orang Indonesia, eh, Nusantara tidak melawan, Yah? Anzal bersuara lantang.

Jelas melawan. Kita bukan bangsa lemah. Maka terjadilah perang dari mulai tahun 1821 hingga 1912. Dari mulai ujung Sumatera hingga ujung Papua. Memang tidak semuanya berperang. Ada juga yang malah membela Belanda.  Itulah mereka yang pecundang, pengkhianat. Menyerahkan kekayaan negaranya untuk orang berkuasa demi jabatan dan sepeti uang. Pilihannya jelas, menjadi pejuang atau pecundang. Pilih merdeka ataoe mati.

Apa kita bisa disebut pengkhiat? Kita sekarang ‘kan tinggal di Belanda, Yah? Anzal bertanya pelan dengan raut wajah seperti kucing minta ikan. Kamu tahu Mohammad Hatta? Proklamator kemerdekaan Indonesia. Tahun 1921, dia sekolah ke Belanda. Tidak hanya sekolah, Hatta aktif di perkumpulan mahasiswa di sana. Perhimpunan Indonesia namanya.

Pikirannya menjadi terbuka, bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan penjajahan di dunia harus dihapuskan. Dia aktif menulis, dia aktif mempropagandakan ide kemerdekaan Indonesia di negara-negara Eropa, bahkan di Belanda sendiri. Pergerakan inilah yang menginspirasi pergerakan-pergerakan lain di Indonesia. Perkumpulan para pemuda, sesama suku, sesama agama, atau sesama pedagang. Hingga akhirnya pecah kemerdekaan.  Ayah berdoa setiap hari agar bisa seperti Mohammad Hatta, Nak. Giliran raut mukaku yang seperti kucing.

Tapi ‘kan Belanda sudah nggak menjajah Indonesia. Kenapa Ayah masih ingin seperti Mohammad Hatta?

Itulah, Nak. Tiga abad lebih Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang mengeruk kekayaan kita, masih belum bisa dihabiskan. Saking kayanya Indonesia. Hingga sekarang, banyak pedagang yang masih menginginkan hasil bumi Indonesia. Termasuk pedagang Indonesia. Karena persaingan, mereka berperang. Tentu bukan lagi dengan senjata. Kekuatan para pedagang ini dilihat dari kekuasaannya. Maka peperangan mereka adalah perebutan kekuasaan dengan alat yang disebut politik.

Freeport, perusahaan tambang emas milik Amerika Serikat, adalah perusahaan asing pertama yang mendapatkan izin usaha dari pemerintah Indonesia. Tahun 1967, Pak Harto, presiden saat itu merestui kedatangan mereka. Penghasilan bersih dari penambangan ini sebesar 5,5 triliun rupiah per bulan. Itu artinya tiap detik menghasilkan dua juta rupiah. Tik.. dua juta. Tok.. dua juta. Anzal berkedip setiap kali aku menjentikkan jari.

Itu di mana, Yah? Papua, jawabku. Dan kamu tahu, Papua dari dulu hingga sekarang selalu menjadi daerah termiskin di Indonesia. Jika seluruh provinsi di Indonesia di-rangking, maka ‘ibunya’ Papua selalu mendapat giliran terakhir waktu pengambilan rapor.

Orang-orang di sana diam saja, Yah? Tidak, Nak. Sudah Ayah katakan, kita bukan bangsa lemah. Begitupun orang Papua. Mereka terus berontak, tapi ‘pedagang’ dan para pengkhianat bangsa begitu besar untuk dilawan. Karena itulah, tiga bulan lagi akan ada pertemuan di Swiss, rakyat Papua minta ‘hak asuh’ ke lain orang tua, Australia. Bisa jadi kita butuh passport untuk terbang ke sana, Nak.

Aku menghela napas sebelum melanjutkan.

Mereka sudah bosan dengan segala bentuk rayuan, bingkisan, harapan, tanpa perhatian. Kau tahu, Nak? Sekiranya kamu Ayah belikan semua mainan yang kamu mau tapi Ayah tak pernah main bersamamu. Tidak memperhatikanmu. Maka rumah temanmu lebih kamu sukai daripada rumahmu sendiri. Rakyat Papua memilih merdeka daripada ditelantarkan bahkan dihinakan di tanahnya sendiri. Mereka seperti Indonesia tahun 1900-an. Dikeruk hasil alamnya, menyuap para pecundang, dan menelantarkan rakyatnya. Maka pilihan mereka hanya satu: merdeka atau mati.

Anzal geleng kepala berulang-ulang seperti menolak disuruh tidur oleh bundanya waktu umur dua tahun — tapi dalam slow motion. Bukan salahnya baru hidup tahun 2010 dan harus menghadapi kondisi negaranya yang menyebut ‘kesatuan’ tapi lingkarannya hanya sebatas Jawa. Sedikit melebar ke barat dan sedikit sekali ke timur. Indonesia sangat kaya. Jika surga di khayangan bocor dan menetes di bumi, maka itulah Indonesia. Seorang ahli dari Oxford University menyebut bahwa Indonesia adalah Eden in The East. Dalam bukunya, ia mengungkapkan sebuah teori Oppenheimer, yang menyatakan bahwa nenek moyang dari peradaban manusia modern seperti Mesir, Mediterania dan Mesopotamia berasal dari tanah Melayu, Nusantara. Aku terus berkata-kata dalam hati. Meneruskan kekagumanku. Merasakan keindahan luar biasa dari kebenaran yang aku ungkapkan sendiri. Seperti seorang penghafal Alquran yang menangis takjub ketika mengkhatamkan hafalannya. Meneteskan air mata. Air mata syukur.

Anzal tertunduk lesu. Entah mengantuk atau memang tak mampu menahan bangga sekaligus kecewa ke negaranya, bangsanya. Anzal mau tidur dulu ya, Yah. Tanpa berkata-kata lagi ia melengos ke lantai 2. Aku hanya melihat matanya. Seolah mengatakan, tumpahkan saja air matamu itu, Nak, kamu sedang jatuh cinta… kepada Indonesia. Air mata itu pun meleleh di pipinya. Mata kami sedang beresonansi.

Aku kembali ke meja kerja. Menyeruput kopi hitamku. Meregangkan segala ketegangan. Menutup mata, menengadahkan ke langit-langit. Agar air mata itu tak terus keluar. Aku malu kepada Jenderal Sudirman, mereka mencintai Indonesia dengan nyawa, bukan air mata. Mouse itu kembali kugenggam. Masih mencari lagu yang bisa membangkitkan semangat. Hingga sampai pada sebuah lagu yang mungkin sudah lama sekali aku tak mendengarnya: Indonesia Pusaka.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa

Aku mematung tak berdaya. Memejam merindukan Pusaka. Berkelebat meninggalkan raga. Terbang ke angkasa Nusantara seperti Gatotkaca. Menyusuri Zamrud Khatulistiwa. Menyelam bermandikan samudera.  Memejam.

Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Deras air mataku membanjir. Merasakan kembali Indonesia. Mencintainya dengan sederhana seperti kata yang tak sempat diucapkan kopi kepada luwak yang telah menjadikannya nikmat. Nyandu. Sensasi indah yang tak pernah bisa lupa. Memeluknya, menciumnya, mencumbunya, walau telah diselingkuhi anak-anak durhaka. Mencintainya, sampai akhir menutup mata. Indonesia.

Delft, Februari 2021

sumber tulisan:
- http://serbasejarah.wordpress.com 
- Badan Pusat Statistik, 2011
- http://ter-paling.blogspot.com
- http://id.wikipedia.org
- Biografi Mohammad Hatta

#njilat (bukan) budaya #PalingIndonesia

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti sebuah lomba menulis di blog yang diadakan oleh salah satu kantor kepolisian di Makassar. Saya kalah.  Serasa tidak menerima kenyataaan, saya buka-buka tulisan yang mendapat juara di salah satu kategori. Biasa saja. Bahkan tulisannya cenderung membosankan. Bertele-tele dan tidak ‘nendang’ di akhir tulisan. Samar antara feature atau tajuk.

Selang dua-tiga hari pascapengumuman pemenang, salah satu juri mem-post tulisan di blognya tentang tips agar bisa menang dalam lomba menulis.  Menyimak dan mengangguk. Peserta lomba disarankan untuk mengetahui lebih dulu karakter juri, katanya. Harus tahu kesukaan tipe tulisan para juri: feature atau tajuk atau hal lainnya. Saya hanya ber-oo panjang sekali. Mungkin ada benarnya. Tapi setengah kepala saya menggoyang horizontal.

Saya jadi ingat dua tahun yang lalu ketika saya mulai tak betah kerja di kota yang jauh dari orang terdekat. Seorang senior bilang, ‘kamu kalau mau pindah ke Jakarta, harus kenal sama orang sana’. Saya mengiyakan karena teman seangkatan cukup banyak ditempatkan di sana. Tapi sepertinya bukan itu maksudnya. Kalau kebetulan dinas ke Jakarta atau lagi liburan, jangan bawa tangan kosong, mungkin sebotol-dua-botol minyak tawon bisa membuat mereka ‘kenal’ sama kamu, lanjut senior saya, serius.

Bedanya, tips juri tadi memfokuskan ke interest sang pemberi nilai, tanpa memberi ‘minyak tawon’. Kalau yang kedua, tidak memperhatikan apa kesukaannya, yang penting ‘minyak tawon’ (ditambah markisa apalagi). Ya, mungkin masih saudara sepupu-dua-kali.

Yang kedua ini sering kita dapatkan di kantor-kantor pelayanan masyarakat. Walaupun sudah tertulis ‘membuat KTP GRATISS!!’, sang petugas biasanya masih asik dandan kalau tidak kita lambai-lambaikan uang 10 ribuan. Ini sudah menjadi budaya, teman saya bilang. Bisa dimulai oleh ‘customer’ atau ‘owner’. Semacam persekongkolan terstruktur. Dan itu sudah mengakar hebat di kultur orang Indonesia: #njilat.

Cara mudah melihat budaya #njilat adalah dengan jalan-jalan keliling kota. Perhatikan di pinggir jalan, di badan pohon dan berputar sejenak di perempatan traffic light.  Baliho-baliho besar berjejer di sana. Isinya 60% adalah foto closed-up sang pe#njilat, 30% foto gubernur atau presiden dan sisanya kata-kata #njilat seperti ‘Selamat Tahun Baru’, ‘Selamat dan Sukses’, ‘Selamat Datang Tuan Raja berserta Rombongan’.

Masih di jalan raya. Sering kali kita menemukan mobil yang dihiasi sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ‘baliho berjalan’. Biasanya isinya tak jauh-jauh dari pencalonan seseorang menjadi birokrat – entah itu anggota legislatif, walikota, bupati atau gubernur – yang disandingkan dengan seorang figur kuat (biasanya birokrat yang sedang menjabat).

Saya tidak tahu apa memang pembuatan ‘baliho berjalan’ itu sebuah transaksi bisnis semacam franchise. Yang jika menempel gambar figur tersebut, orang yang bersangkutan harus membayar sejumlah royalti. Entahlah. Kalau memang sang calon walikota, misalnya, punya visi hebat kenapa harus membonceng figur orang lain. Aih, terasa kembali ke pelajaran sejarah kalau dengar kata ‘membonceng’ – NICA membonceng Sekutu.

Sejarah. Ya, mungkin memang sudah berabad-abad lalu leluhur kita terbiasa dengan budaya #njilat. Seperti Demang yang me#njilat Meneer dengan membocorkan dimana Si Pitung berada. Atau memaksa kepala dusun memberikan upeti agar posisinya sebagai Demang masih dijaga sang Meneer. Tapi, saya tidak percaya kalau budaya #njilat adalah budaya turun-temurun nenek moyang kita, Nusantara. Apalagi kalau dibilang sebagai budaya yang #PalingIndonesia.

Nah, bicara tentang #PalingIndonesia, saya jadi teringat lomba yang diadakan salah satu provider ternama dengan mengusung tema #PalingIndonesia. Kali ini saya harus menang. Apalagi hadiahnya iPhone 4S. Terus terang, hape saya adalah Nokia Classic yang layarnya sudah retak. Kalau ketik sms maka terdengar seperti mengetik di mesin tik. Tak..tek..tak..tek..tok. Oke, sepertinya saya harus menyudahi tulisan ini dan mulai mempersiapkan materi.

Eh, tunggu, seperti saran seorang juri, saya harus mengetahui karakter para juri dan (kalau bisa) menyublim interest mereka ke dalam tulisan. Oke, kita runut satu-satu siapa saja jurinya. Ipul Daeng Gassing (ketua komunitas blogger Angingmammiri), Khrisna Pabichara (Penulis novel Sepatu Dahlan), dan salah seorang perwakilan Telkomsel.

Juri pertama. Saya adalah follower @iPulG_ (yang sudah di-folback).  Saya cukup kenal dengan daeng Ipul. Kami sempat jabat tangan di Mall Ratu Indah, dan bahkan dia pernah datang ke rumah saya waktu anak saya lahiran.  Saya juga penyuka feature seperti daeng Ipul. Bahkan saya sudah menghabiskan tujuh juta tabungan saya untuk membeli kamera Nikon D3100. Ya, memang masih jauh di bawah D90 milik daeng, tapi minimal kami se-‘agama’. Walaupun sudah jarang lagi aktif kopdar di acara-acara Angingmammiri, tapi saya aktif berpartisipasi di twitter. Cek saja, mention saya ke @iPulG_ bisa lebih dari 25 mentions per week.

Saya juga follower juri kedua, @1bichara, tapi masih belum di-folback (mudah-mudahan setelah menang lomba ini). Khrisna Pabichara, seorang budayawan sekaligus penulis novel Sepatu Dahlan. Di pertengahan Juni kemarin, talkshow Kick Andy di Metro TV khusus mengupas isi bukunya. Dengan tamu spesial Dahlan Iskan. Untuk menonton acara ini pun, saya butuh usaha keras. Di Makassar, Kick Andy tayang pukul 10.30 malam. Padahal jam tidur saya pukul 9-10. Hingga selesai saya menyaksikan talkshow inspiratif itu. Khususnya ketika sang penulis diwawancara, seperti ada sentuhan Mario Teguh di sana. Apalagi, saya sebagai pegawai PLN, ‘sepatu dahlan’ tentu sudah terpatri di hati kami: Bekerja! Bekerja! Bekerja!

Juri ketiga dari Telkomsel. Kalau yang ini jangan diragukan lagi. Saya adalah pelanggan setia Telkomsel. Mulai dari bapak saya, adik, isteri dan mungkin nanti anak saya, adalah pengguna kartu Telkomsel. Apalagi di Indonesia Timur, sinyal yang tanpa gangguan hanya Telkomsel. Boleh dibilang, Telkomsel adalah sim card yang #PalingIndonesia.

Jelas ‘kan, kalau #njilat itu (bukan) budaya #PalingIndonesia. Hehehe…

Imam Muttaqien (twitter: @imam___); Anggota Komunitas Blogger Angingmammiri (blog: alkarami.wordpress.com); Pegawai PLN (NIP: 8509113-Z); No hape 08219023473; – bukan pe#njilat.

Avatar, Amdal, dan Kapitalisme

Saya terperangah ketika melihat film Avatar. Ada tiga alasan, pertama, itu pertamakalinya nonton bareng isteri (hehehe). Kedua, karena kualitas gambar yang memanjakan. Dan yang ketiga, karena tugas Jake di film Avatar mirip dengan dengan tugas saya di Perusahaan tempat saya bekerja. Di tempat saya bekerja, saya sering disebut orang lingkungan. Mungkin karena background pendidikan S1 saya Teknik Lingkungan. Tapi pendekatannya lebih ke masalah-masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungan sosial, masyarakat, dan alam. Karena jika dihubung-hubungkan dengan materi kuliah, fokus pekerjaan sekarang adalah sebagian kecil atau bahkan tidak nyambung. Saya teknik (rekayasa), sedangkan pekerjaan saya ilmu (sains). Tapi, disini saya tidak membahas masalah jurusan dan pekerjaan. Saya sedang berbicara tentang AMDAL.

Kenapa AMDAL? Kenapa pula Avatar? Jake diberi tugas khusus untuk mempelajari bangsa Na’vi, mulai dari bahasa, budaya, dan segala tata ruangnya. Tujuannya satu: menegosiasikan maha proyek dari bumi ke masyarakat Pandora. Harusnya, pemindahan lahan, penggarapan flora dan fauna, dan aspek sosial-budaya, tidak dieksekusi secara ganas seperti di film Avatar itu. Ada sosialisasi dulu, ada pembebasan lahan, ada dengar-pendapat, dan ketika konstruksi, harus ada rencana-rencana agar lingkungan alam dan manusia (sosial) tidak terganggu secara signifikan. Tahapan-tahapan kerja inilah yang disusun dalam bentuk dokumen AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan), yang memiliki empat bundel buku: ANDAL, RKL, RPL, dan RE.

Intinya, pembangunan proyek tetap berjalan tapi tetap memperhatikan rambu-rambu. Tugas saya di kantor ialah seperti Jake. Mengenal lokasi proyek, dan menyusunnya dalam sebuah studi lingkungan, yang kemudian diuji, apakah proyek tersebut laik untuk dibangun di rencana lokasi. Jake gagal, bukan karena perannya sebagai Avatar, tapi karena pihak bumi tak mengindahkan hasil riset Jake dan teman-temannya. Jadilah brutal.

Itu cerita James Cameroon di tahun 2154. Bagaimana dengan Indonesia? Tahun 2010 ini? KOMPAS menyentil AMDAL dengan judul, ‘AMDAL masuk laci’ pada 7 Juli 2009. Inti tulisannya tentang hasil riset Deputi I Men LH dan seorang akademisi dari IPB, bahwa AMDAL di Indonesia saat ini sudah parah nasibnya. Mulai dari copy-paste dokumen, manipulasi data, sertifikat ilegal, sampai kongkalikong konsultan-pemda-pemrakarsa.

Apa sedemikian parah? Jika pertanyaan itu buat saya, maka jawabannya iya. Kisaran anggaran biaya untuk menyusun dokumen AMDAL ini bervariasi. Mulai dari 200-an juta hingga ke setengah M. Tergantung jenis rencana usaha/kegiatannya. “Sekitar 30-50% anggaran AMDAL bisa hilang entah ke kantong siapa..”, ujar salah seorang akademisi yang sudah puluhan tahun menggarap proyek penyusunan AMDAL di berbagai proyek. Untuk menyusun dokumen AMDAL misalnya, biaya sosialisasi, sidang draft KA-ANDAL, sidang AMDAL, dan pengesahan adalah kantong-kantong dimana uang konsultan ‘diperas’. Jika biaya satuan (unit price) untuk tenaga ahli, analisa laboratorium, transportasi, dokumentasi, dan-lain-lain bisa diukur harganya, maka untuk biaya-biaya tadi (sidang, pengesahan) tarifnya beragam.

Beruntungnya telah terbit Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.. Sembilan pasal tentang AMDAL dalam Undang-undang tersebut menegaskan penertiban sertfikasi dan komponen-komponen yang berkaitan dengan muncul dokumen lingkungan tersebut. Lembaga pelatihan AMDAL yang dulu boleh dilakukan lembaga mana saja, dengan adanya Undang-undang baru ini, lembaga tersebut harus teregistrasi di KLH. Begitu pun dengan laboratoriumnya. Konsultan AMDAL selain harus teregistrasi di KLH juga harus mempunyai tenaga ahli tetap dan tersertifikasi. Bukan tenaga cabutan, bahkan hanya pinjam CV. Sedangkan para ahli yang sudah bersertifikat, harus mengikuti ujian kompetensi oleh lembaga yang ditunjuk.

Sanksi atas penyusun AMDAL yang tidak bersertifikat kompetensi, dan pejabat penerbit izin lingkungan tanpa dokumen AMDAL akan dijerat hingga 3 tahun penjara dan denda hingga 3 milyar rupiah (Pasal 109, 110, 111; UU No 32/2009). Undang-undang ini mulai efektif dijalankan pada Oktober 2010.

Ada satu hal yang sebenarnya luput dari pembenahan AMDAL. Walaupun ini tidak berlaku umum. Di tempat saya bekerja (Perusahaan BUMN), pembiayaan pembangunan proyek dipisahkan dengan pembiayaan AMDAL. Proyek dibiayai dari APBN, sedangkan studi lingkungan oleh anggaran perusahaan sendiri. Ironisnya, pencairan anggaran untuk suatu proyek (studi dan pembangunan fisik) tidak dikeluarkan bersamaan. Misalnya, sebuah proyek pembangunan jembatan. Anggaran untuk pembangunan fisik sudah disetujui dan cair sekian persen. Tapi untuk studi masih terkatung-katung. Sedangkan anggaran tersebut harus segera ‘dihabiskan’ (per tahun anggaran). Padahal suatu konstruksi fisik tidak bisa dikerjakan sebelum adanya studi lingkungan.

Bisa jadi tidak semua birokrat atau pemegang kekuasaan, mengerti tentang lingkungan. Mudah-mudahan sangkaan tersebut salah. Karena kalau memang benar, kejadiaanya akan sama dengan bangsa Na’vi yang dibombardir pasukan Colonel Miles. Atau mungkin peristiwa ‘pembantaian’ itu sudah terjadi di Papua sana, ketika Freeport mengeruk emas Indonesia. Dan daerah-daerah lainnya di Nusantara ini. Indikasinya sama: kapitalisme.

Makassar, Januari 2010
Imam Alkarami

image by: Deviantart.com

Operating System itu bernama Alquran

Quran_by_wellandbrothersData kehapus. Kena virus. Mampuss..

Perangkat lunak komputer memang buatan manusia, makanya ke-error-an bisa saja terjadi. Bahkan, sistem yang dirancang Bill Gates itu bisa saja ada batas umurnya. Walaupun ditanam operating system pintar yang super cepat, punya memori sekian ribu giga, VGA kelas gamers, jika satu sel virus menjangkit, maka algoritma windows menjadi acak-adut. Apalagi OS yang ditanam adalah OS bajakan, yang dijual di pasar, di pinggir jalan, di trotoar atau di kost-kost mahasiswa. Sekali saja konek internet, maka windows akan mendetek kalau OS yang digunakan adalah palsu.

Anggap saja komputer itu adalah kita, manusia. Yang berjasad dan ber-ruh. Jasad adalah hardware, dan ruh atau hati atau jiwa adalah software. Bisa sangat mungkin aplikasi yang ada di tubuh kita sedang tidak berjalan dengan baik. Tidak bisa di-run. Ini bisa karena konektivitas dengan dunia luar (orang lain) yang ‘bervirus’ sehingga tubuh kita ikut terjangkit. Apalagi antivirus belum terinstall di tubuh kita. Jika pun sudah terinstall, terkadang telat diupdate, sehingga virus masuk dengan bebas.

Aplikasi-aplikasi di luar memang menarik hati, unduh sini, download sana, lima menit rampung. Download lagu, clip, video, atau game-game house yang versi trial. Tak disadari, jika virus yang meracuninya bisa memakan sebagian harddisk (D)  di tubuhnya, dan sebagian besar sistem (C) yang menyebabkan algoritma hati, jiwa, dan kelakuannya menjadi acak-adut (semrawut).

Jika menemukan kondisi seperti ini pada komputer kita maka langkah pertama yang dilakukan biasanya adalah update antivirus dan menscan habis smua isi komputer. Atau juga pake Cleaner, PC-MAV, ansav, dan lainnya. jika mengalami kebuntuan, maka langkah terakhir yang ditempuh ialah install ulang. ini adalah proses purifikasi (pemurnian) yang bisa membabat habis semua file yang ada di system (C), semua aplikasi, software, termasuk virus dan file-file penting.

Nah sekarang, apa yang dilakukan jika kondisi seperti tadi terjadi pada manusia?? install ulang juga? operating system buatan siapa yang harus dipakai? apakah bisa kompatibel dengan otak manusia? antivirusnya apa?

Jika boleh saya sarankan, maka operating system yang sangat-sangat kompatibel untuk manusia itu ialah Alquran. Alquran merupakan standard procedure dari ‘pembuatan’ manusia oleh Tuhan. Semua hal dibahas di sana, tentang iman, islam, sejarah, hutang, poligami, perang, persatuan, menjaga kerukunan, dan sebagainya. Dan produk dari user Alquran ini sudah terbukti memiliki karakter yang kuat, mempunyai pengaruh yang besar, namanya harum dimana-mana. Ialah Rosulullah Muhammad Saw.

Di samping itu, Alquran juga merupakan OS original yang tak ada campur tangan manusia di dalamnya. Sampai kapan pun, kalimatnya tetap sama, isinya tetap sama. Untuk OS yang ini, tidak perlu diupdate hingga SP 3 atau SP 12, karena  sudah sempurna pembuatannya.

Proses instalasi Alquran sebenarnya bisa dilakukan kapan saja. Bergantung kemauan dari usernya sendiri. Tapi, jika boleh memilih waktu yang tepat, sembari melihat bagaimana Rosul melakukan ‘instalasi’ Alquran oleh pembuat-Nya sendiri, maka Ramadhan adalah momen instalasi itu. Pada bulan Ramadhan, Alquran diturunkan, amal kebaikan diberi apresiasi yang besar, semua virus luar (setan)  dikarantina, neraka ditutup, surga dibuka, dan pada 10 malam terakhir diberikan layanan koneksi cepat dan dapat diakses di semua masjid.

momen yang spesial, bukan?

Tidak hanya itu, pada bulan Ramadhan juga, kondisi ‘hardware’ kita dalam pemeliharaan, detoksifikasi, penurunan lemak, karena pada bulan itu tubuh kita berpuasa. Jadi, purifikasi tidak hanya terjadi pada software (hati) tapi juga hardware (tubuh). Hal ini menjadikan proses instalasi dapat berjalan lebih baik tanpa menyisakan virus-virus dan register-register yang tidak perlu. Sehingga sistem yang diinstall, benar-benar murni ‘operating system’ yang original dari Tuhan, Alquran.

Mari kita scan semua virus-virus di hati kita, di tubuh kita dengan istighfar, dengan sujud, dengan sedekah, dengan doa. Mari kita persiapkan tubuh kita dengan berpuasa agar semua enzim bekerja dengan baik. Dan tanamkan nama-nama-Nya dalam hati kita, baca pesan-pesan-Nya, ikuti peritah-Nya, install-kan semua. Pilih custom install. Biar semua aplikasi tertanam dalam diri kita, dalam hati-hati kita.

Wallahu a’lam.

Ramadhan Mubarak 1430 H.

Imam Alkarami

Cinta Jiwa

ebf7484c1108d6d319a58fe8b9d2b335

Ada satu paragraf  tulisan Anis Matta dalam buku Serial Cinta-nya, yang mendefinisikan tentang cinta. Cinta itu pekerjaan jiwa yang besar. Dan inti pekerjaan itu ialah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang yang dicintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia karenanya. Maka pecinta sejati adalah air. Ia tumbuh dan berkembang dari siraman airmu. Adalah matahari. Ia besar dan berbuah dari sinar cahayamu. Dalam makna memberi, posisinya sangat kuat. Tidak perlu kecewa atau terhina dengan penolakan, atau lemah dan melankolik saat kasih kandas karena takdir-Nya. Sebab di sini seorang pecinta sejati sedang melakukan pekerjaan jiwa yang besar dan agung: mencintai.

Kutipan ini aku kirim ke seorang teman dekatku yang baru saja sakit hatinya karena sang pujaan hati dinikahi oleh sahabatnya sendiri – bahkan seorang sahabat yang dulu ’menginsafkan’ dia. Cinta, menurutku adalah kata yang harusnya menjadi sakral diucapkan, jika memang memiliki definisi seperti di atas. Bahkan dalam sebuah kitab klasik, disebutkan bahwa definisi meng-khitbah (melamar) itu ialah menyatakan perasaan cintanya dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan, melalui atau tanpa walinya. Bisa dikatakan bahwa, jika ada anak muda yang mengungkapkan cinta kepada pujaan hatinya, ia telah mengkhitbah.

Dan definisi cinta yang diungkapkan Ustadz Anis di atas, baru bisa aku temukan pada sosok ibu atau orangtua. Cinta mereka luas tanpa batasan ruang dan waktu. Cinta mereka tulus tanpa ingin imbalan apa-apa. Cinta mereka berdarah-darah, harus keluar biaya bahkan nyawa. Karena mereka hanya ingin anaknya menjadi leih baik dan bahagia.

Jika ditanya berapa kali aku menyatakan cinta kepada perempuan, maka jawabannya nol. Aku tidak pernah merasakan yang namanya pacaran. Alasan realistisnya adalah aku pecundang, tidak berani ambil resiko dan – mungkin – tak laku. Alasan idealisnya karena aku menganggap pacaran malah mempersempit ’dunia’ anak muda. Mengkerdilkan pergaulan, wawasan, dan cita-cita.  Karena sekali lagi, kata ’cinta’ sangat sakral menurutku untuk diucapkan. Karena konsekuensi yang begitu besar nantinya.

Aku berharap pernyataan ’cinta pertamaku’ nanti benar-benar dalam suasana yang sakral: diawali tasyahud, ada ijab, ada mahar, ada saksi. Dengan pengkondisian yang bahkan Tuhan dan Rosul pun diikutsertakan, aku berharap manifestasi ungkapan cintaku tersebut bisa dijalankan sebagaimana mestinya. Cinta yang penuh. Yang semesta pun ber-amin atasnya.

Karena pekerjaan jiwa yang berat, maka hanya orang-orang yang berjiwa tangguh-lah yang bisa memberi cintanya dengan benar. Yang bisa memanifestasikan cintanya kepada tidak hanya satu orang. Maka Rosulullah, mungkin juga Aa Gym, atau bahkan Anis Matta sendiri, memiliki objek ’cinta yang sakral’ itu lebih dari satu. Poligami.

Aku menilai poligami adalah sebuah rukhshah (keringanan) kepada orang-orang yang mempunyai kadar cinta lebih. Dan tentu orang-orang yang juga memiliki jiwa yang besar, harta yang memenuhi, dan niat yang suci. Seperti rukhshah boleh tidak berpuasa bagi yang sakit atau bepergian. Yang hanya bisa menilai apakah rukhshah tersebut diambil atau tidak, hanya dia dan Tuhan yang tahu, aku kira.

Dan aku tidak akan mengambil ’keringanan’ itu. Bagi seorang suami, isteri dan anak-anaknya ialah amanah terberat yang harus ia jamin hingga akhirat. Maka sudah cukup bagiku melingkupkan segenap cintaku untuk mereka. Untuk satu keluarga. Merekalah cinta jiwaku.