Menjaga Kewarasan

Di salah satu mall di kawasan BSD ada sebuah tempat makan sunda dengan konsep makan lesehan di saung yang menghadap kolam ikan. Saung yang didesain alami dengan bambu dan daun kelapa. Lengkap dengan pentungan a la pos ronda jika pengunjung ingin memanggil penyaji.

Kebetulan langit sudah senja, obor pun menyala di setiap sudut, menambah nuansa alam pedesaan. Saya terbuai dibuatnya hingga kemudian tersadar ketika melihat daftar menu dengan harganya.

“Udang bakar empat biji harganya seratus ribu???”

Begitulah kira-kira jeritan dompet saya.
Memang, pengunjung di sana hampir semuanya orang-orang kota yang mungkin tinggal di apartemen atau real estate yang tidak ada kolam ikan mas dan pos ronda di dalamnya. Beberapa diantaranya masih berpakaian kantor. Mungkin sedang mengakhiri hari sibuk mereka dengan makan malam di saung sunda. Mungkin mereka butuh kewarasan agar masih ingat rasanya tinggal di pedesaan. Ingat orang-orang desa.

Beberapa orang mencoba menjaga kewarasan dirinya dengan naik sepeda ke kantor atau kereta/commuter line. Para pengguna commuter line, misalnya, sedari bangun pagi harus sudah berlari ke stasiun agar dapat kereta sesuai jadwal. Masuk gerbong berdesakan agar dapat posisi enak. Masih juga dipaksa pull-up atau siaga kuda-kuda.

Di perjalanan mereka bertemu kawasan-kawasan kumuh dan hiruk-pikuk ibu kota. Kehidupan lain di pinggiran rel kereta: pasar, tempat pengolahan sampah, dan tempat tinggal. Bagi beberapa orang itu, sketsa kehidupan lain yang mereka temukan di setiap perjalanan menuju/dari tempat kerja, merupakan bentuk mewaraskan diri. Bahwa hidupnya bukan hanya rumah-tempat kerja. Bahwa di antara jadwal padat lemburnya, ada yang masih lebih lembur daripada dia.

Kita sering menjumpai orang yang kehidupannya serba ada. Ada rumah, ada apartemen, ada mobil, ada mobil, ada mobil, ada liburan ke luar negeri, ada belanja setiap minggu. Waraskah dia? Salah satu bentuk mewaraskan diri ialah mengetahui sebenarnya hidupnya untuk si(apa)?

Jika ia masih lajang, hal apa yang ia ingin wariskan setelah kepergiannya? Keturunan. Keturunan seperti apa? Bentuk pendidikan seperti apa yang dibutuhkan untuk menjadikan keturunan yang baik. Sekolah yang bagaimana agar nilai-nilai yang ingin kita tanamkan bisa tersalurkan.

Pun dalam membesarkan anak. Kewarasan adalah kunci. Orangtua harus tetap waras menghadapi segala macam tingkah laku anak. Percayalah bahwa tidak semua rengekan anak adalah murni ia sedang tersakiti. Beberapa diantaranya hanya acting. Jika ingin mendidik anak agar selalu sikat gigi sebelum tidur, maka orangtua harus tetap waras menuntun anaknya untuk sikat gigi. Olah peran berupa tangisan plus teriakan tidak mau membuka mulut atau bahkan tidak mau meninjakkan kaki di kamar mandi harus tetap dilawan.

Memang seperti jahat ketika orang tua memberikan hukuman ‘tidur sendiri’ kepada anak di bawah lima tahun hanya karena tidak mau sikat gigi. Tapi itulah bentuk kewarasan untuk menanamkan kedisiplinan dan kebersihan gigi pada keturunan kita. Apakah akan selalu ada drama tangisan sebelum tidur? Tidak. Mereka juga manusia. Makhluk adaptif.

Bentuk menjaga kewarasan lainnya adalah menikah. Membina rumah tangga bisa dianalogikan dengan menjalankan perusahaan. Seorang direktur tidak hanya memikirkan berapa keuntungan yang ia dapat, tapi juga menjaga dan mengembangkan sumber daya manusianya, mengukur cashflow keuangan, merencanakan program masa depan.

Adanya konflik dalam setiap rapat akhir tahun, perhitungan laba-rugi, produksi menurun, merupakan bentuk kewarasan bahwa perusahaan dinamis dan memikirkan hal-hal baru. Beberapa kegagalan adalah bahan bakar untuk meraih tujuan besar perusahaan.

Berumah tangga ialah bentuk paripurna dari menjaga kewarasan diri. Seorang yang punya hobi traveling atau hiking, akan menyusun ulang jadwal jalan-jalannya. Bahkan menanyakan pada dirinya: apakah ini yang saya (dan keluarga) butuhkan.

Ia akan terwaraskan bahwa ia butuh bekerja untuk menghasilkan uang. Bahwa ia butuh bersama dengan anak-anaknya untuk memberikan tauladan. Bahwa ia butuh traveling ke sekolah-sekolah untuk memilih jenis pendidikan yang tepat. Bahwa hidupnya tidak hanya di facebook dengan mengomentari perhelatan politik nusantara.  Ia akan terwaraskan bahwa ia juga makhluk sosial yang harus ikut main ping-pong atau domino di rumah bapak RT, demi keeksisan keluarganya di tempatnya tinggal.

Terlebih, seorang akan terwaraskan siapa dirinya, seperti apa dirinya, kesalahan apa yang sering ia lakukan, atas pengakuan orang yang selalu di sampingnya: pasangan hidupnya. Kedua pihak ini akan selalu mewaraskan diri atas pribadinya yang sudah terbentuk sedari bayi di keluarga yang berbeda. Di ruang dan waktu yang berbeda. Dalam setiap waktu kehidupannya, mereka akan saling mengingatkan dengan jalan kebenaran dan saling mengingatkan dengan kesabaran. Agar hidup mereka tidak merugi. Agar menjadi manusia yang mawas dan waras.

Semoga kami termasuk orang yang tidak merugi. Dua puluh dua Desember dua ribu sembilan lalu pernikahan kami. Telah dianugerahi dua orang anak laki-laki. Adalah perjalanan penuh dengan kewarasan diri. Terimakasih, cinta.

*cinta=indria sari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s