The Family Man

When I score, I don’t celebrate. Does a postman celebrate when he delivers post? – Mario Balotelli, professional footballer

Saat ini kepala daerah yang disegani rakyatnya ialah yang sering tampil dekat dengan rakyat. Blusukan. Kalau perlu ngomel-ngomeli mandor tukang bangunan jika ada kerjaannya yang tidak sesuai. Kepala daerah atau pejabat publik ini dibicarakan sana sini bak malaikat. Bukan hanya karena tanpa dosa, tapi juga memang jarang kemunculannya di muka bumi. Ia didengungkan sebagai manusia luar biasa.

Saya belum pernah membaca tugas-tugas atau kewajiban kepala daerah yang tertera di SK-nya. Tapi setidaknya kalimat ‘mengabdi, melayani kepada rakyat’ sudah termaktub dalam sumpah jabatannya. Lalu masih perlukah kita menyematkannya sebagai manusia luar biasa? Bukankah itu tugasnya?

Masihkah perlu memasang foto gubernur sedang memanggul beras (dengan foto kualitas HD) di tembok facebook? Dengan caption ‘inilah gubernur sejati, mengabdi setulus hati’.

Masihkah relevan seorang calon kepala daerah memberikan janji kampanyenya berupa penyediaan ambulance dan pengurusan jenazah gratis? Bukankah itu sudah kewajibannya?

Tahun 2011 lalu, twitter diramaikan oleh komunitas para ayah yang mendukung pemberian asi kepada anaknya. Karena asi adalah penting, dan sang ayah harus juga sadar bahwa dia juga berkewajiban atas kelangsungan hidup anaknya itu. Bentuk dukungannya bisa dengan gantian gendong, membantu diplomasi ke eyang tentang larangan sufor, mengawasi bidan yang tidak menggunakan program IMD (inisiasi menyusui dini), hingga membantu menstimulus isterinya agar asi bisa keluar (tau caranya kan?).

Para ayah ini kemudian kopi darat di starbucks, kongkow-kongkow, dan lahirlah buku. Ada kaosnya juga. Mereka juga bertugas memberi pencerahan di twitter agar ayah-ayah yang lain juga sadar. Tiap minggu ada promo retweet gratis bagi sesiapa yang mengunggah foto ayah dengan anaknya atau foto ayah sedang membantu kerjaan rumah di akhir pekan. Dengan hashtag ayah on the weekend. Come on, I do that everyday.

Pada sebuah obrolan saya di kantor, ada analisa dangkal seorang teman tentang rekan kerjanya yang gagal dipromosikan ke jabatan strukturalnya. “Dia kan family man, susah lah. Ga fleksibel waktunya..”, katanya. Awalnya saya tidak terlalu paham hubungan ‘family man’ dengan promosi jabatan. Tapi kemudian ternyata rekan kerja saya yang lain melontarkan istilah yang sama kepada saya karena selalu pulang tepat waktu.

Dari sana saya bisa menyimpulkan family man ialah seorang ayah yang setidaknya mau bagi waktu dengan keluarganya. Jika jam kerja habis, maka sisa waktu milik keluarganya. Atau seorang suami yang menolak jabatan jika itu malah membuatnya jauh dari keluarganya.

Dalam definisi lainnya, seorang family man juga ternyata rela mengotori tangannya dengan bawang dan pisau dapur. Rela nyebokin anaknya. Tentang nyebok-menyebok ini saya jadi teringat komentar seorang anak ketua partai sekaligus konglomerat indonesia yang menikahi artis, ketika ditanya apa yang ia lakukan kalau bayinya pup, ‘urusan gituan mah saya serahin sama bibi aja..’, katanya. Jadi kalau pup malam-malam, bibinya ikut tidur di kamar dia atau bayinya tidur di kamar bibi?

Seorang pesulap dan juga host talkshow bisa dianugerahi ‘hot-daddy’ karena concern terhadap anaknya yang punya kelainan disleksia. Seorang penyiar radio bisa didapuk sebagai ‘ayah masa kini’ karena mendukung isterinya untuk melakukan tandem asi kepada dua anaknya.

Seorang laki-laki yang berbicara dengan rombongan ibu-ibu mengenai merk alat dapur, resep makanan, cara biar anak lepas diaper, cari sekolah bagus, kegiatan yang sering ia lakukan bersama anaknya, predikat the family man bisa langsung disematkan kepadanya. Seorang laki-laki yang peduli dan bertanggung jawab terhadap keluarganya, anak-anaknya, yang tidak melulu memikirkan kerjaan atau sepakbola dengan temannya.

Beberapa orang menganggap the family man ini sebagai manusia luar biasa. Setidaknya di luar kebiasaan para ayah pada umumnya. Padahal bisa jadi si pesulap atau si penyiar tadi ‘hanya’ melakukan kewajibannya sebagai suami/ayah. Seolah menjadi aneh ketika seorang laki-laki pulang kantor tepat waktu karena harus ‘berbagi’ waktu dengan keluarganya. Seolah sebuah tindakan hebat ketika ia menggendong anak dan tas bayinya saat bepergian ke mall.

Komunitas para ayah yang mencintai asi..eh mendukung pemberian asi itu juga mungkin awalnya hanya ingin memberi penyadaran. Bahwa seorang ayah atau suami itu harusnya juga melek asi, melek sekolah anak, melek dapur, melek tetek bengek anak. Tidak cuma melek politik dan melek sepakbola.

Maka harusnya jika ada kepala daerah blusukan tiap hari, pikul karung beras buat rakyatnya, biarkan saja. Dia digaji untuk itu. Soal blusukan atau pikul beras itu soal cara. Ada cara pinter ada cara ndeso.

Maka harusnya seorang laki-laki yang berkeluarga dan mempunyai anak sudah sepatutnya sadar akan hak-hak isteri dan anaknya. Suami bukan mesin uang. Suami tidak hanya bertugas menyediakan segala kebutuhan keluarga dalam bentuk fasilitas. Ialah fasilitatornya. Karena ia sedang membesarkan seorang manusia. Yang perlu sentuhan manusia. Manusia dari darah dagingnya.

Maka harusnya tidak usah ada keanehan ketika seorang laki-laki menjadi the family man. Dia memang ‘man’ dalam ‘family’. He is the man. Yang harus dianehi mestinya yang berlaku sebaliknya.

Tidak perlu ada selebrasi berlebihan ketika seseorang sedang melakukan kewajiban dasarnya. Seperti tidak adanya selebrasi seorang petugas pos ketika berhasil mengirimkan surat. Itu memang tugasnya. Kira-kira itulah yang dikatakan sang legenda sepakbola sejagad, Mario Balotelli — yang pernah merumput masing-masing tiga musim di Internazionale, Manchester City dan Milan, serta masih belum menorehkan satu gol pun di liga domestik bersama klub barunya Liverpool sejak dibeli seharga 20 juta Euro pada 25 Agustus 2014 lalu.

#5thAnniversary
#YouMadeMe

One thought on “The Family Man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s