Nikmat Yang Tak Terdustakan

IMG_2079

Hampir empat tahun umur pernikahan kami. Dua anak sudah kami dianugerahi. Saya seorang pegawai BUMN yang baru sekali naik peringkat. Sementara isteri, seorang dokter yang merimba dari klinik hingga dosen. Tak banyak  yang kami dapati, hanya seonggok rumah tipe 38 di ujung kota dan serongsok motor vega ZR. Itu saja. Tapi ada hal lain yang kami peroleh. Setidaknya, bagi saya adalah sebuah hal-hal baru yang datang dari isteri. Sebuah nikmat.

Parenting

Ilmu ini tidak saya dapati waktu kuliah. Saya rada kagok mengikuti seminar atau short courses tentang pernikahan, waktu itu. Karena lebih fokus di how to-nya. Karena sesungguhnya itu pun susah. Beruntunglah saya, ilmu tentang mendidik anak, terutama psikologi sudah menjadi cemilan isteri saya kala mengandung, menyusui, atau bahkan sambil makan. Walau hanya lewat selembar gadget.

Ia tahu bahwa Anzal punya pribadi unik. Berbeda dengan adiknya, Firaas. Bahkan kadang kebalikannya. Ia tahu bagaimana men-treat keunikan itu. Bahkan, isteri saya tahu Anzal harus sekolah di mana (yang cocok untuk perkembangannya). Untuk seorang awam seperti saya, rasanya  kaget ketika Anzal harus masuk kamar  karena menolak makan. Kadang pun saya menitikkan air mata ketika dengan muka sedih Anzal merangsek ke kamar. Menyendiri di sana. Menyadari kesalahannya. Tapi karena itulah sekarang Anzal jadi gampang makan. Rutin, tiga kali sehari. Sementara teman sebayanya, hanya mau minum susu formula dan sesekali roti isi.

Saya tidak sedang menyalahkan atau membanding-bandingkan. Hanya ingin bersyukur karena lewat ‘anak gampang makan’ lah Tuhan memberikan rejeki kepada kami. Karena butuh uang sekitar 2 juta rupiah perbulan untuk memberi susu formula itu. Atau pamannya (tapi masih balita) yang makannya hanya sekali sehari. Itupun kadang hanya dengan Indomie.

Sewaktu masih ‘diospek’ makan teratur, drama hadir setiap sebelum makan. Begitupun dengan ‘ospek’ sikat gigi sebelum tidur. Selalu ada drama. Kita berkeras. Anzal menangis keras. Dan sekarang, Anzal bahkan minta (sikat gigi) sendiri jika ingin tidur malam.

Selain dapat rejeki ‘anak gampang makan’, kami juga dapat rejeki ‘bebas diapers’ dari Anzal. Umur dua tahun Anzal sudah mulai lepas popok, kecuali saat tidur malam dan acara luar rumah. Di umurnya yang tiga tahun Anzal totally bebas popok. Dia ngomong jika ingin pipis atau pup. Untuk pup, bahkan ia tidak mau ditunggui. Pintu kamar mandi harus ditutup, ayah bundanya menunggu di luar. Dan boleh masuk kalau ia sudah selesai. Perlu diketahui WC kami masih jongkok.

IMG_2317IMG00256-20120602-1030

Financial planning

Sebut saja Ligwina Hananto, seorang financial planner. Beberapa hal kami mengacu kepada kitab sucinya tentang investasi reksadana. Meninggalkan teori salah kaprah unitlink. Mereksadanakan dana-dana pendidikan anak. Beberapa untuk dana pensiun dan dana darurat. Besarannya hanya ratusan ribu. Tapi rutin per bulan.

Sebelumnya kami berkebun emas. Juga ikut investasi di sektor riil bisnis punya teman. Dan terakhir berkonsorsium buat jasa penitipan anak. Semuanya, kecuali kebun emas, gagal dan menyisakan pelajaran berharga. Kalau kata isteri saya, uang yang hilang itu anggap saja biaya ‘kuliah bisnis’ buat kita.

Setelah kandas di sektor riil, awalnya  kami mau coba di franchise. Kebetulan teman saya ikutan bisnis waralaba ini. Dia bahkan sudah punya dua cabang. Tapi ketika itu dana tidak tersedia. Jadi kenekadan kami untuk membuka alfamart (juga) kandas.

Beberapa tahun kemudian, uang pun terkumpul. Alfamart sudah keburu menjamur seperti blackberry. Niatan pun surut. Sebenarnya ada mobil yang ingin sekali kami beli. Karena rasanya cukup riweuh bawa empat awak dalam satu motor bebek. Pernah mencoba pake angkot. Ternyata lebih riweuh lagi. Sudah mah sesak-sesakan, bau, gerah dan mesti ganti-ganti (angkot) juga. Dan kemudian naik taksi. Tapi ya itu, uang yang dihabiskan ke mall, setengahnya untuk ongkos taksi.

Untungnya awak motor masih toleran dan bersabar atas keterbatasan tunggangannya. Masih bersedia panas-panasan, kena debu jalanan dan kedinginan kala harus pulang sehabis maghrib.

Jadi, uang yang katanya sudah terkumpul itu mau diapakan?

Rumah. Ya rumah kedua. Mungkin agak nekad. Tapi hidup ini memang harus demikian. Kenapa nekad? Karena jika jadi (saat ini masih proses approval) maka gaji saya habis untuk KPR rumah pertama dan kedua nanti. Untuk kebutuhan tabungan dan biaya bulanan, mengandalkan gaji dosen isteri saya serta receh-receh dari bonus, insentif dan sisa uang tiket dinas.

Ibu saya pernah bilang, ‘kalau hidupmu mau semangat, berhutanglah’. Awalnya saya kira ini sebuah lelucon. Tapi ternyata memang lelucon. Lelucon sufi. Pada akhirnya kami semacam ‘dipaksa’ untuk menabung (dalam bentuk cicilan rumah). Dan pada dasarnya, saya dan isteri merasa tidak betah punya uang cash atau tabungan yang menganggur. Uang itu bisa saja dibelikan mobil impian kami. Tapi sayang, ternyata mobil bukan aset. Nilainya turun. Bahkan perlu dana bulanan tambahan untuk perawatan. Dan kami kira motor bebek masih kuat menampung kami. Iya ‘kan, Bek?

Terlihat seperti menyiksa diri. Tapi percayalah. Inilah tanjakan sebelum di umur renta nanti kita menapaki puncaknya. Biarlah kita yang merasakan pahitnya. Dan anak-anak merasakan buah manisnya. Biarlah tidak hura-hura dengan bonus yang baru saja diterima untuk simpanan pendidikan anak yang entah berapa biayanya nanti.

IMG_2529 IMG_2357

Masih hutang

Setidaknya ada dua hutang saya ke isteri. Cincin kawin dan bulan madu. Dulu memang ada cincin kawinnya, tapi karena faktor penyusutan material, cincin jadi makin kecil. Atau mungkin faktor penggemukan jari manis pascanikah. Entahlah. Untuk yang bulan madu, dulu sempat tapi cuma short time. Cuma menginap selamam di hotel. Bukan bulan madu yang jalan-jalan ke tempat rekreasi, pantai atau wisata ke luar negeri seperti Maldives, Turki atau Bali (CMIIW).

Mudah-mudahan segala hutang bisa dituntaskan secepatnya. Agar segala keberkahan yang kami (saya) peroleh menjadi bertambah. Nikmat yang tak terdustakan. Semoga saja bukan hanya sekadar janji-lionair. Anggaplah sebagai voucher kado ulang tahun. Di usianya yang lahir di tahun 1985 ini. #HBDBunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s