Gerakan Bola Salju

Malam itu tiba-tiba Manado gelap. Blackout. Mobil Innova itu cepat melaju ke Tomohon. Jalan berliku dan sempit tak membuat kecepatan mobil ini kurang dari 80 km/jam. Satu orang penumpang harus mengeluarkan plastik untuk menyimpan muntahnya. Tapi sang ‘supir’ tak hiraukan. Pikirannya sudah berada di Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi berkapasitas 2×20 MW yang sedang trouble. Sang ‘supir’ menyadari bahwa ia sedang mengantar keluarganya malam-mingguan, tapi tak ada yang lebih penting dari melayani kebutuhan mendesak hajat hidup orang banyak. Listrik. Kata seorang manajer yang malam itu merangkap sebagai supir.

Seorang ibu setengah baya datang ke ruangan dengan buah tangan yang ia namakan dodol. Dodol dengan ukuran seperti batu bata. Tapi ditolak oleh seorang berkemeja putih — yang kebetulan Panitia Pelelangan. Karena tidak seperti biasanya, ternyata ‘dodol’ itu keras. Si ibu terus membujuk. Ia katakan bahwa disuruh atasannya. Sebagai ucapan terimakasih atas kemenangan perusahaannya di proyek transmisi, katanya. Si panitia lelang itu tetap tak bergeming dan kemudian berserapah selepas si ibu pergi, ‘berani-beraninya suap PLN, dodol!’.

Malam itu sedikit gerimis. Masih sisa hujan lebat sepanjang hari tadi. Mobil pick-up  itu masih berpatroli. Menunggu panggilan dari call center jika sewaktu-waktu ada gangguan di jaringan listrik rumah, atau trafo yang meledak. Teman mereka hanya jaket, alat instalasi, handy-talky, dan sederet caci-makian di twitter tentang gangguan malam itu. Teman mereka hanya harapan agar selalu didukung dan dipercaya.

Gerakan Bola Salju
PLN hampir ‘seumuran’ dengan Indonesia. Hanya terpaut dua bulan. Muka Indonesia, untuk beberapa orang masih sama dengan muka orba. Penuh korupsi, birokrasi panjang, dinasti kekuasaan, hingga sepakbola yang masuk ranah politik. Dan mungkin untuk beberapa orang, muka PLN juga masih muka orba. Maka jangan salah jika ada pelanggan yang terkaget-kaget karena ‘uang rokok’-nya tidak diterima petugas pelayanan teknik PLN. Jika ada kontraktor yang terheran-heran ketika tak perlu lagi lapor pejabat ini – pejabat itu untuk menjadi peserta lelang di PLN. Bahkan tidak perlu lagi membawa ‘dodol’ hanya untuk sekadar berucap terimakasih. Ah, dodol.

Maka beberapa orang (baik) ingin menyelamatkan muka Indonesia — yang busuk itu — dengan membuat gerakan sosial. Tak hanya bertolak pinggang dan mengurunkan angan. Tapi menggerakkan ide dan turun tangan. Menebus janji kemerdekaan, kalau kata Anies Baswedan. Mulai dari akun twitter yang membolasalju menjadi gerakan masif — hingga punya perwakilan di setiap kota. Begitu pun PLN, gerakan-gerakan membuang ‘muka lama’ terus digalakkan. Gerakan PLN Bersih salah satunya. Dari mulai perampingan birokrasi/organisasi (shared services center), penerapan whistle-blower, layanan sambungan online, hingga pengadaan barang/jasa secara elektronik (eprocurement). Menjadi perusahaan yang modern yang bebas korupsi dan  menjalankan Good Coorporate Governance.

Bahkan beberapa cerita tentang wujud PLN Bersih itu telah dibukukan (buku Saatnya Hati Bicara) yang dapat diakses publik. Tiga cerita di awal tulisan ini salah satunya. Dan menurut informasi akan ada buku jilid dua-nya. Mungkin saking banyaknya cerita-cerita akibat bola salju gerakan (PLN Bersih) itu sehingga butuh jilid 2, jilid 3 dan selanjutnya. Atau mungkin ternyata PLN memang (sudah) bersih. Hanya saja tidak tenar. Atau kalah tenar dengan byar-pet-nya.

Gerakan PLN Bersih memang gerakan bola salju. Saling memengaruhi. Maka tulisan ‘Kami Bersih Anda Bersih Dukung Kami Wujudkan PLN Bersih’ di sidebar situs PLN Bersih adalah benar. PLN sedang membenahi diri dengan membuat sistem terintegrasi agar tidak ada lagi kesempatan untuk pegawainya bisa korupsi (corporate culture). Maka mulailah biasakan diri untuk tidak lagi menyuap atau mengiming-imingi ‘dodol’ kepada pegawai PLN. Kecuali jika Anda ingin di-PHP.  Just do the rules.

Nyalakan, Bukan Menyalahkan
Seorang bijak pernah berkata, ‘jangan hanya mengutuk kegelapan, nyalakanlah lilin’. Rasio elektrifikasi PLN tahun 2012 kemarin memang baru 73%, di beberapa wilayah pun krisis listrik kerap terjadi. Mulai dari masalah kemarau, kendala sosial atau pemerintah daerah yang tidak memberikan izin pembangunan pembangkit. Tapi PLN terus berbenah. Menjadikannya agar terus dipercaya oleh masyarakat, oleh pelanggan dan oleh bangsa ini. Seperti yang ditulis oleh Eddy Erningpraja (Direktur SDM PLN) dalam bukunya Building Trust in The Black Box. Bahwa menumbuhkan kepercayaan (trust) masyarakat adalah kunci agar harapan itu menjadi nyata.

Maka PLN menggandeng Transparancy International Indonesia (TII), LSM anti-korupsi, sebagai partner untuk mereview apakah bisnis PLN sudah sesuai dengan best practice. Juga memetakan celah-celah potensi korupsi, khususnya di pengadaan barang/jasa. Selain itu, PLN pun merangkul Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk memberikan masukan dalam reformasi pelayanan pelanggan.

Keterlibatan civil society dalam gerakan PLN Bersih ini juga difasilitasi dengan Whistle Blowing System (WBS). Sebuah sistem pelaporan yang secara langsung disampaikan kepada Direksi PLN melalui email plnbersih[at]gmail[dot]com. Pelapor, baik pegawai PLN maupun masyarakat dapat melaporkan tindakan pelanggaran melawan hukum yang terjadi di PLN. Selain diberikan jaminan perlindungan hukum, pelapor juga akan diberikan insentif.

Inilah lilin itu. PLN sedang berbenah. Jika masih ada yang ‘urakan’, laporkan. Nyalakan (‘lilin’ itu), jangan hanya menyalahkan. Apalagi sambil menyalak.

Dukungan Blogger
Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Jakarta sekarang?

Reformasi birokrasi. Pemprov yang berani lawan preman. Kartu Jakarta Sehat. MRT. Blusukan. Jokowi.

Ya, Jakarta dengan rasa yang berbeda. Setelah seorang Jokowi hadir dengan gaya yang berbeda dengan pejabat lainnya. Dan kemudian dilirik media. Diteruskan dari mulut ke mulut. Akun ke akun. Blog ke blog. Maka jadilah Jakarta dengan rasa Jokowi yang begitu kental. Menjadi artis dadakan social media. Menjadi sosok yang dikagumi sekaligus dipercaya. Juga Ridwan Kamil di kota Bandung. Begitupun walikota Surabaya yang fenomenal itu. Mereka disukai dan dipercaya publik karena integritasnya. Dengan satu nilai yang begitu cepat menyebar: trust.

PLN sedang melakukan perbaikan di segala bidang. Sedang membersihkan rumahnya. Mempercantik dan merenovasi yang sudah usang. Di ulang tahunnya yang sudah tidak lagi muda ini, para pengguna blog diundang untuk datang. Menilai dengan sepenuh hati dan meceritakannya ke masyarakat luas. Agar mereka tahu bahwa ternyata rumah PLN (sudah) bersih. Bahwa penghuninya ramah-ramah. Bahwa ternyata PLN telah berubah

Dan apakah semua itu agar PLN jadi lebih terkenal?

Sepertinya bukan itu. Karena bekerja di PLN, menurut Nur Pamudji (Dirut PLN), bukan untuk menjadi tenar, berkuasa, atau kaya. Tapi untuk menjalankan misi hidup yang sebenarnya: melayani orang lain.

 

Disclaimer:

Awalnya tulisan ini diikutkan dalam Lomba blog PLN Bersih (kerja sama dengan Blogdetik). Tapi saya baru baca ada peraturan yang tidak bisa saya penuhi. Untuk itu saya mengundurkan diri dari lomba tersebut. Terimakasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s