Hujan, Sumber Air Minum Masa Depan

“Jika pada peperangan di abad 21 terjadi karena (memperebutkan) minyak, maka peperangan di abad berikutnya terjadi karena (memperebutkan) air” – Ismail Serageldin, mantan Vice President World Bank.

Dalam sejarah peradaban dunia, manusia berkumpul dan membentuk populasi dengan satu ketertarikan: sumber air. Mesopotamia yang disebut sebagai awal peradaban berada di antara dua sungai besar, yaitu Euphrates dan Tigris. Peradaban Mesir kuno, memiliki sungai Nil. Dan tempat berkumpulnya umat Islam di seluruh dunia, Ka’bah, memiliki sumber air sepanjang masa bernama Zam-zam.

Kebutuhan air

Tubuh manusia sendiri terdiri dari 55%-78% air (bergantung ukuran tubuh), yang tersebar di setiap organ vital tubuh (lihat Gambar 1). Karena itu, manusia setidaknya membutuhkan 2 liter air setiap hari untuk men-supply kebutuhan air di dalam tubuh.

Gambar 1 Air di dalam tubuh

Dapat dikatakan bahwa air adalah kebutuhan utama manusia setelah oksigen. Bedanya, oksigen dapat ‘dikonsumsi’ secara bebas dan gratis. Sedangkan air, saat ini sudah menjadi komoditas jual-beli. Baik berupa air bersih untuk mandi atau masak yang dijual oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM), maupun air minum yang dibeli dari perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Untungnya, pemerintah belum mengeluarkan kebijakan komersialisasi untuk air sumur.

Penggunaan sumber air

Air termasuk sumber alam yang terbarukan. Ia memiliki siklus yang dikenal dengan siklus air atau water cycle. Air bersirkulasi di bumi ini dan tak pernah berhenti berputar. Dimulai dari pemanasan oleh matahari, menguap, terkondensasi dan jatuh dalam bentuk hujan ke daratan, yang kemudian mengalir kembali ke laut (Gambar 2).

(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air)

(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air)

Gambar 2 Siklus Air

Sebagai negara tropis dan memiliki hamparan hutan yang luas, Indonesia mempunyai potensi sumber air sekitar 3.200 miliar kubik per tahunnya (www.neraca.co,id). Tapi, pemanfaatannya hanya sekitar 25%, sisanya mengalir begitu saja dari sungai-sungai menuju laut. Seperti rantai makanan, kelancaran siklus air juga bergantung kepada proses sebelumnya. Jika air di pegunungan berkurang atau tercemar, maka badan air setelahnya akan mengalami hal serupa (dengan kadar yang berbeda).

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, PDAM melakukan pengolahan sumber-sumber air terdekat yang kemudian didistribusikan ke rumah-rumah. Sungai adalah sumber air yang memiliki kontinuitas yang baik tapi kualitas yang buruk. Dengan rekayasa teknologi, air sungai dapat diolah menjadi air bersih, bahkan air layak minum – yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/PER/IV/2010. Jadi, sebenarnya air yang keluar dari pipa outlet PDAM sudah layak minum.

Tapi kenyataannya, dalam proses distribusi ke rumah-rumah terjadi kehilangan air (un-accounted water) sekitar 40% akibat konstruksi pipa yang buruk (Priyono, 2007). Sedangkan dari segi kualitas, sekitar 30% air terdistribusi (yang diterima di rumah) tercemar bakteri E. Coli dan pathogen lain (Menkes, 2010). Ini masih menjadi tugas berat bagi PDAM, yang sesuai namanya, merupakan perusahaan penyedia ‘air minum’, bukan hanya ‘air mandi’ atau ‘air cuci’.

Di titik inilah produsen AMDK memasuki pasar. Masyarakat disadarkan akan pentingnya air yang sehat dan berkualitas. Konsumsi air AMDK di tahun 2012 mencapai 19,8 miliar liter, dan akan naik menjadi 21,78 miliar liter di tahun 2013 (www.beritasatu.com). Ini sejalan dengan trend kebutuhan air bersih di dunia. Di 50 tahun terakhir ini, kebutuhan air bersih bertambah tiga kali lipat. Sedangkan permintaan air bersih tiap tahunnya meningkat sekitar 64 miliar kubik (www.wolrdometers.info).

Dunia Defisit Air

Kebutuhan penggunaan air meningkat dua kali lipat dari kenaikan populasi manusia (Food and Agriculture Organization of the United Nations). Eksploitasi sumber air secara tidak proporsional – apalagi di hulunya – akan membuat neraca air menjadi defisit. Menurut data dari UNEP (United Nations Environment Programme), jumlah air di bumi sekitar 1,4 juta km3. Sekitar 2,5%-nya adalah air layak pakai (freshwater), sisanya air asin (laut). Dari 2,5% freshwater ini, 70% dalam bentuk es/salju, 30% tertanam di tanah dan hanya 0,3% merupakan air permukaan dalam bentuk danau dan sungai (Gambar 3 dan 4).

Gambar 3 Jumlah Air Dunia

Gambar 4 Persentase Air Layak Pakai

Populasi manusia akan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Begitu juga dengan kebutuhan hidupnya. Jumlah penduduk dunia pada tahun 2050 diperkirakan akan menjadi 9.3 miliar jiwa (naik sekitar 40% dari tahun 2007). Sedangkan sumber air dunia tidak mengalami pertumbuhan, stagnan di angka 200.000 miliar kubik
dari tahun 2007 – 2050 (Gambar 5). Maka menjaga kelestarian sumber air adalah harga mati untuk kelangsungan hidup manusia. Mengeksploitasi sumber air dari hulu secara tidak proporsional, selain menurunkan ketersediaan air juga mengakibatkan badan-badan air di hilir menjadi tercemar.

Gambar 5 Pebandingan Pertumbuhan Populasi dengan Ketersediaan Air

Air memang mengalami sirkulasi. Berapapun air digunakan, pasti akan kembali lagi – walau memerlukan waktu yang lama. Perusahaan AMDK berperan penting atas ketersediaan sumber air di wilayah hulu. Tak masalah jika intake untuk AMDK ini sungai yang memiliki kontinuitas yang besar. Jelas siapapun mengakui bahwa AMDK adalah air olahan dari mata air atau air pegunungan yang kapasitasnya terbatas dan merupakan hulu badan air. Jika air di hulu defisit dan tercemar (salah satunya karena pengalihan oleh perusahaan AMDK), maka debit yang mengalir ke sungai dan badan air setelahnya akan ikut terpengaruh.

Sebuah penelitian yang dilakukan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Bappenas (2010) di Desa Caringin, Kabupaten Sukabumi, menjelaskan tentang dampak ‘pengalihan air’ oleh perusahaan AMDK. Menurut penelitian tersebut, 12 tahun sejak perusahaan-perusahaan AMDK berdiri di daerah tersebut, persawahan mengalami kekeringan karena supply air dari sungai berkurang. Sumber air tanah/sumur yang digunakan warga untuk keperluan air bersih juga menjadi kering.

Air Hujan Menjadi Air Minum?

Jika sumber air di pegunungan terbatas, air di sungai tercemar, air di dalam tanah menipis, maka harus ada rekayasa lain untuk mendapatkan air, yaitu hujan. Curah hujan yang hanya sekitar 700 mm/tahun, Inggris tidak kekurangan air saat kemarau karena membangun danau buatan untuk menampung air hujan. Indonesia adalah peringkat ke-7 curah hujan tertinggi di dunia, sebesar 2.702 mm/tahun (www.worldbank.org). Tapi pemanfaatan air hujan masih jarang dilakukan untuk kebutuhan-kebutuhan primer rumah tangga. Sangat mungkin – di tengah krisis air ini – air hujan dapat menjadi pengganti sumber air bersih, bahkan air minum. Pengolahan air hujan ini dikenal sebagai Sistem Pengolahan Air Hujan, SPAH.

Di beberapa negara maju, SPAH disebut sebagai rainwater tank, harvesting rainwater, atau rainwater treatment system. Pengunaannya beragam, bisa untuk kegiatan pertanian, injeksi ke tanah (cadangan air tanah) , dan kegiatan rumah tangga. Seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI (2011), mampu menampung air hujan 700 kali tangki berukuran 5 kubik setiap hari. Sehingga penggunaannnya bisa untuk keperluan rumah secara komunal (lingkup RT/RW atau desa).

Aplikasi SPAH cukup mudah. Prinsipnya menyalurkan sebanyak-banyak air hujan dari catchment area (atap rumah) yang kemudian diolah/treatment sedemikian rupa sehingga menghasilkan kualitas air yang diinginkan (Gambar 6).

Gambar 6 Sistem Pengolahan Air Hujan

Air hujan pada dasarnya ialah air murni atau H2O tanpa tambahan mineral, garam, dan lainnya. Menjadi ‘terkontaminasi’ ketika tercampur dengan zat-zat di udara dan material yang menampungnya. Sehingga pengolahannya cenderung lebih sederhana daripada air sungai. Pengolahan air hujan bervariasi bergantung jenis/karakteristik airnya. Pengolahan yang biasa dilakukan (World Health Organization, 2006) ialah secara fisik (dengan filtrasi) dan kimia (desinfeksi, penambahan kaporit, tawas). Jika diperkirakan hujan bersifat asam (acid rain), maka bisa dilakukan pengendalian pH (derajat keasaman) dengan penambahan material basa sehingga menjadi netral (sesuai standar).

Air hujan yang sudah diolah dan ditampung di dalam tangki dapat digunakan untuk keperluan MCK (mandi cuci kakus), perawatan tanaman, dan kegiatan rumah tangga lainnya. Air hasil olahan ini bisa juga digunakan untuk keperluan air minum. Untuk lebih memastikan kualitas air yang baik dan sehat, pengolahan dapat dilanjutkan ke ‘level’ berikutnya atau yang lebih dikenal dengan water purifier.

Pengolahan tersebut dilakukan dengan membran berpori kecil, karbon aktif untuk menghilangkan pestisida dan bau, pemanasan dengan ultraviolet atau boiling (dimasak) agar bakteri dan virus mati. Water purifier ini bisa dibuat sendiri dengan menggabungkan unit-unit instalasi pengolah dengan volume dan kadar tertentu (sesuai arahan ahli/professional). Atau bisa juga menggunakan water purifier set lengkap yang dirancang khusus untuk mengolah air layak minum.

‘Perang Air’

Air merupakan sumber kehidupan, sumber peradaban. Kebutuhan manusia terhadap air adalah hal penting. Tapi tentu lebih penting untuk tetap melestarikan ketersediaan air daripada hanya sekadar mengonsumsinya. Siklus air berjalan alami mengikuti hukum alam. Perlu dilakukan rekayasa ekosistem agar kebutuhan manusia yang terus bertambah dapat terpenuhi.

Kualitas air layak minum sudah ditentukan standarnya oleh pemerintah dan lembaga-lembaga internasional. Mengonsumsi air minum – dengan kualitas yang sangat tinggi (melebih standar) – dari AMDK, dan pada saat yang sama ikut berkontribusi terjadinya kekeringan dan pencemaran di sebuah desa di Kabupaten Sukabumi, adalah hal bodoh.

SPAH adalah salah satu tindakan mitigasi dari proyeksi krisis air di masa datang. Sebuah sumber air minum masa depan. Kita tidak bisa terus mengandalkan PDAM agar setara dengan pelayanan di luar negeri – drinking water tap. Atau mengandalkan ketersediaan air tanah yang mempunyai kapasitas terbatas. Air akan menjadi barang langka di masa datang. Bahkan menjadi komoditas yang diperebutkan seperti kilang minyak di Timur Tengah. Diperebutkan dengan perang, seperti ungkapan mantan Vice President Bank Dunia, Ismail Serageldin, di awal tulisan ini.

Jika itu (perang) terjadi, korbannya jelas masyarakat lemah atau negara yang kalah angkatan bersenjatanya dengan negara maju. Atau mungkin itu (perang) sudah dimulai? Saat perusahaan-perusahaan Eropa sudah mengokupasi sumber-sumber air di Indonesia dan menjualnya setara harga bensin. Entahlah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s