It’s all about Bunda

Umur pernikahan kami sudah hampir tiga tahun. Menikah di akhir tahun 2009, di Pekanbaru, dan langsung terbang ke Makassar. Iya, langsung. Tanpa ke Batam, Bali, Lombok, apalagi Singapura. Isteri saya waktu itu masih fresh. Fresh graduate. Sebulan sebelum menikah baru saja mengucapkan sumpah dokter, tanda penyematan logo ‘dr’ di depan namanya.
Saya agak jahat dalam hal ini. Baru lulus kuliah, langsung diajak nikah dan dibawa ke jauh dari pulau Sumatera dan Jakarta. Berdua. Jika saya hanya pegawai kantoran yang kerja senin-jumat dan liburan di hari sabtu dan minggu, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi, nyatanya tidak. Hampir tiap bulan saya dinas ke luar kota. Yang tidak memungkinkan membawa serta anggota keluarga.
#anzal

Dan ini terus berlangsung hingga dia hamil, bahkan melahirkan anak pertama. Saat isteri hamil besar saya masih ‘berkeliaran’ di pulau Sulawesi meninggalkannya sendiri. Waktu itu saya dinas ke Palu dua hari. Padahal isteri saya dijadwalkan akan melahirkan di minggu itu. Saya pun terkejut ketika isteri menelpon kalau sudah keluar darah. Dan saya masih di Palu. Parah, suami macam apa kalau sampai tidak bisa temani isteri melahirkan. Karena penerbangan yang terbatas, saya baru mendarat di Makassar sekitar pukul 2 siang. Kontraksi si bayi terus meningkat. Sepertinya itulah harinya. Setelah Shubuh, #anzal lahir.
Drama pun dimulai. Tak ada mertua, tak ada nenek yang ikut menjaga bayi #anzal. Apalagi babysitter, tak pernah berpikir ke sana. Si bayi pun diurus oleh dua orang perantau yang amatiran. Lebih parahnya, si ayah malah sering keluar kota. Membiarkan bunda sendiri, memandikan, mencuci popok, memberi asi, dan menggendong si bayi.

Dasar suami tak tahu diri. Untungnya punya isteri yang baik hati. Menunggu kedatangan suami di teras rumah sambil menggendong bayi dan senyum berseri.

Sebuah objek di tangan orang amatir, sering disebut ‘kelinci percobaan’. Maka bisa dikatakan #anzal adalah kelinci itu. Walau isteri saya seorang dokter, tetap saja yang ahli mengurus bayi itu orangtua. Tapi, karena itulah, kami bebas ‘berkreasi’. Membalik-balikan #anzal seperti sedang menepungi pisang goreng. Agar cepat bisa tengkurap dan merangkak. Mencoba tidak pakai air hangat saat memandikan. Dan yang paling horror, bawa #anzal ke Malino pulang-pergi naik avanza. Tahu umurnya waktu itu berapa? 90 hari.

Jangan ‘kan sampeyan, saya saja deg-deg-an dibawa ‘off-road’ oleh si Bunda. ‘Ga apa-apa, jangan terlalu steril, nanti gampang sakit..’. Sakit apapun #anzal, obatnya hanya satu: mimik (ASI). Bahkan, ada kalimat lucu dari ibu saya saat tahu #anzal sakit, ‘emangnya ga dibawa ke dokter?’. Saya dalam hati, ‘lah, kan saya kawin ama dokter’. Posisi saya di jalan ‘off-road’ ini adalah in Bunda we trust!

#firaas

Rekor horror #anzal ternyata dipecahkan adiknya sendiri, #firaas. Belum sampai umur 30 hari, #firaas sudah dibawa ke Bantimurung (wisata air terjun) saat lebaran kemarin. Tahu sendiri pengunjung tempat wisata saat libur lebaran. Untung yang mandi cuma ayahnya dan #anzal.
Jaraknya tidak sampai dua tahun. Firaas lahir akhir bulan Juli 2012, sementara #anzal awal Oktober 2010. Karena mungkin sudah hapal trik-triknya, Bunda tak terlihat seperti orang hamil saat itu. Kegiatan mengajar jadi dosen masih berlangsung hingga D-Day. Bahkan, seorang teman saya bilang, ‘loh, isterimu lahiran? Kapan hamilnya?’.
Jika #anzal di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), maka #firaas di rumah sakit biasa. Pertimbangannya selain ‘pengen coba tempat lain’ juga karena melahirkan di rumah sakit, ditanggung perusahaan sejak awal. Jadi tidak perlu bayar dulu, terus reimburse ke kantor. Kenapa? Karena uang kami saat itu pas-pasan untuk ‘lebaran’, aqiqah, hutang, investasi ini, itu.

Financial planner

Sebuah pelajaran baru buat saya. Saya kira, cara kelola keuangan keluarga itu cukup dengan mengalokasikan saving, biaya belanja rumah, dan zakat. Maka oleh Bunda-lah saya dikenalkan ke asuransi jiwa, investasi reksa dana, kebun emas, dan investasi sektor rill.

Dia mempresentasikan proyeksi-proyeksi alokasi dana itu. Mau kemana, akan kemana, dan buat apa. Saya terkagum sekaligus tersedak ketika melihat saldo di akhir baris. Minus. Maka harus melakukan efisiensi luar biasa. Jangan bicara soal ke mall, nonton, makan di resto mahal. Aqua saja harus disubstitusi dengan Club.
Tapi saya yakin akan datangnya masa ‘bebas financial’ seperti yang ia bicarakan itu. Suami mana yang tidak shock, ketika teman sekantornya sedang pilih-pilih gadget baru karena baru dapat bonus 8 kali penghasilan, tapi ‘habis’ begitu saja di tangan isteri. Bonus ayah nanti buat tebus emas ya, katanya sambil senyum.

Penghasilan saya habis untuk uang KPR rumah, investasi pendidikan anak, kebutuhan dapur, listrik, keamanan komplek, dan pulsa. Terkadang malah minus. Sebagai dosen, isteri saya punya gaji dasar lebih besar seratus ribu dari UMP Sulsel. Bahkan lebih kecil dari gaji babysitter milik yayasan. Untungnya masih ada ‘amplop’ tiap kali mengajar atau seminar. Dua bulan terakhir ini, kami hidup dari amplop-amplop itu.

Tapi selalu ada senyum dalam tiap kesederhanaan itu. Saya kadang sedih, masih mengurung #anzal di rumah sementara teman sebayanya sudah di play group. Isteri masih ke kampus naik angkot sementara dosen lain – bahkan mahasiswanya – sudah bermobil. Berwiken di rumah sementara tetangga bermolek mau ke mall atau wisata keluarga.
Bunda yang penyabar itu, paling minta martabak telor, freshtea dingin, mie ayam, atau es krim saat wiken tiba. #anzal? Ah, dia diajak putar keliling komplek dengan truk rombengnya saja sudah girang. Walau terkadang sering invasi ke rumah tetangga, ngoprek tempat mainan, dan dengan istilahnya yang lucu ‘minyam’ alias pinjam. Ada sekitar tiga mainan tetangga yang sudah jadi investaris box #anzal walau dia bilang ‘minyam’.

Bukannya sok irit. Hanya mencoba membuat pondasi keuangan yang kokoh. Biar anak-anak bisa dapat pendidikan yang layak. Agar tidak usah cicil untuk beli mobil. Agar ada uang tersedia saat keluarga butuh dana tak terduga. Agar keluarga Imam Alkarami terus berdiri. In Bunda we trust!

Tiga momen Bunda

Saya sering mengatakan kepada teman-teman yang belum menikah, bahwa the real life itu setelah menikah. Sehebat-hebatnya seseorang, entah itu pengusaha, artis, pegawai teladan, sulit untuk dibilang sukses kalau dia belum menikah. Karena di sana kita bisa menemukan siapa diri kita. Karena ada ‘orang lain’ di hidup kita. Maka mengenang masa hidup, itu sama dengan mengenang hidup dengannya.

Setidaknya ada tiga momen lucu sekaligus ingin menangis jika saya mengingatnya.

#tukangbatu

Waktu itu kami baru saja pindah ke rumah baru (sebelumnya kontrakan). Walau sudah setahun, perumahan itu masih membangun blok-blok baru. Masih ada pasir, batu-batu, paving block di pinggir-pinggir jalan. Pada minggu siang, Bunda risih dengan kondisi halaman belakang yang tak terawat. Disuruhnya saya membersihkan sisa-sisa semen dan pecahan batu. Saat itu rada ngomel di hati, karena dengan uang lima puluh ribu mungkin ini bisa selesai dengan cepat tanpa sakit pinggang dan baret-baret.

Dan tiba-tiba di depan rumah ada yang mendorong trolley bangunan (yang roda tiga) yang berisi puluhan paving block. Saya keluar pelan-pelan memastikan siapa yang rela mendorong batu-batu itu untuk rumah kami. ‘Tolong angkutin ke belakang, donk.. Bunda mau ambil lagi..’, saya masih tidak percaya sambil bilang iii..yaa…

Dengan baju-rumah, sarung tangan sepeda, seorang dokter muda ber-anak satu sedang membawa puluhan paving block pakai trolley. Sambil bawa paving block ke belakang, saya tersenyum sendirian yang diakhiri dengan iba super dalam. Air mata dan senyuman.

#babyrambo

Saya pulang kerja jam setengah lima sore. Sampai rumah sekitar jam 5, setelah shutting down desktop dan traffic. Tiap habis kerja, saya rutin menemani #anzal main di sekitaran komplek. Baik dengan sepeda ayamnya, mobil truknya atau hanya jalan kaki. Jadi waktu main saya dihitung dari jam 5 sore sampai jam 7 pagi besoknya. Setiap hari kerja.

Sore itu #anzal main lebih awal. Ia tergoda. Sudah banyak teman-temannya yang keluar rumah. Dengan terpaksa, Bunda beri #anzal keluar rumah walau saya belum tiba. Tentunya dipesan agar hanya main di depan rumah saja. Teman main #anzal lebih besar, main dengan sepeda. Sedangkan #anzal hanya bermodal mobil truk yang ia naiki dan dijalankan dengan cara menolak kedua kakinya.

Beberapa menit kemudian, #anzal hilang dari depan rumah. Bunda panik. Sedang rebus air untuk mandi #firaas – yang sedang telanjang karena mau dimandikan. Bunda pun mencari #anzal sambil menggendong #firaas.

#anzal ditemukan di dekat masjid. Teman mainnya entah sudah dimana. Bunda memaksa #anzal pulang dengan sambil menggendong #firaas. Karena truk tersebut bertali (saya gunakan untuk menariknya tiap sore), duakali truk itu terjungkal karena talinya terinjak ban. Dua kali juga #anzal jatuh, ngusruk, dan tentu luka. #anzal nangis, dan juga #firaas yang sedang telanjang.

Pada momen itu, saya baru datang. #anzal ditarik Bunda dengan truknya, sementara #firaas masih dalam gendongan, sambil telanjang. #anzal pun saya ambil-alih. Bunda buru-buru ke rumah, karena kompor masih menyala, rebus air mandi.

#lukabakar

Menjelang malam, biasanya sering terjadi keributan. Ini terjadi jika kedua anak itu telat dikasih makan. Maka biasanya jadwal makan malam kami menunda setelah kedua anak ini kenyang.

Malam itu ternyata lain. Walau sudah diberi makan, #anzal masih ingin main. #firaas juga masih rewel. Sementara Bunda layani #firaas, saya masak untuk makan malam. #anzal tidak mau main sendiri, dan ingin main (baca: masak) bareng ayahnya.

Singkat cerita, tangan saya terpaksa memegang panci panas, karena refleks melihat #anzal sedang turun dari kursi dengan membawa benda di kedua tangannya. Sakit luar biasa. Saya tersungkur di tempat cuci sambil mengaliri tangan dengan air.

Saya menangis di pangkuan Bunda. Berharap ada obat yang bisa menahan rasa sakit. Persediaan kassa dan obat P3K lain terbatas. ‘Mungkin di Apotik ada’, katanya. Saya tidak menyarankan kesana, karena jauh. Dan ini sudah malam. ‘Ke Alfamart saja, siapa tau ada’, saran saya.

Bunda lama keluar rumah, saya curiga ia pergi ke apotik. Dan benar, walau juga membawa minuman dingin dari Alfamart, Bunda pergi ke Apotik yang saya pun kalau kesana naik motor. Akhirnya tangisan saya diproduksi dari rasa sakit luka bakar dan rasa haru seorang Bunda.

Dan tangisan itu kemudian bercampur senyuman ketika Bunda bilang, ‘masa tadi Bunda disiulin sama orang di warung. Mulutnya bau alkohol lagi. Padahal udah pake jilbab, baju lebar, anak dua lagi..’.

;

Mario Teguh pernah berkata bahwa wanita itu hanya butuh dua hal dari laki-laki: ‘setialah kepada saya’ dan ‘buatlah saya bahagia’. Setia dan bahagia. Apapun yang dilakukan oleh manusia di dunia ini sejatinya adalah untuk bahagia. Membahagiakan anak-anaknya, isterinya, dan generasi penerusnya. Maka saya izinkan saya ingin membahagiakan Bunda di hari lahirnya yang ke-27 melalui tulisan dan video ini. Selamat Ulang Tahun, Bunda..

3 thoughts on “It’s all about Bunda

  1. Aih, mak…🙂

    Nggak bisa bayangin nanti pas pulang ke rumah setelah tinggalkan istri hamil besar, melahirkan, lalu cuci popok dan bangun malam sendirian. Allah yang menunjukkan jalan ya, Mam. Selamat buat kalian berdua, semoga menuju mawaddah yang sempurna.

  2. imam, titip ucapan selamat untuk bunda anzal dan firas ya. bunda yang hebat… perlu belajar banyak dari beliau untuk menjadi istri yang sholehah… membuang semua ego dan mengabdi pada keluarga dengan setulus hati…kalian keren… smoga jadi keluarga yang sakinnah, mawaddah, dan warrahmah selama2nya… big hug for anzal n firas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s