Rumahmu Cerminmu

Yatna, sang calon Kepala Desa, gegap-gempita mempromosikan dirinya di hadapan masyarakat desa. Dia pun terpilih. Camat merekomendasikan. Bahkan sang pengusaha developer real estate mendukungnya. Entah karena Yatna punya ‘tujuan mulia’ atau memang sang developer juga punya ‘tujuan mulia’ lain untuk membangun desa itu.
Yang jelas, desa akan mendadak metropolis karena akan dibangun real esate, sport center, tempat ibadah megah dan lapangan golf. Siapa menduga. Lapangan pekerjaan akan terserap banyak. Siapa menduga. Taraf hidup masyarakat desa akan meningkat.

***

Vano sumringah. Ia belah jalanan kota dengan motornya berbekal cinta dan sejumput bunga. Menjemput kekasih hatinya. Bukan untuk menonton atau makan di restoran bintang lima. Tapi melipir ke KUA. Ya, mereka ingin kawin lari. Karena orangtua tak merestui.

Tapi KUA berkata lain. Harus ‘berbekal’ Kartu Keluarga, katanya – tak sekadar cinta dan bunga. Maka Vano pun berkesah, “Kita pake orang dalam saja. Biar cepet”. Sudah nekad kawin lari dari rumah, tapi gagal hanya karena selembar Kartu Keluarga. “Semua prosedur sudah kita jalani. Bayar (calo) kayak gini ‘kan biasa”, tuturnya kepada sang kekasih, Laras.

***

Niken merogoh beras yang tinggal setengah toples. Merebus telur yang tinggal tiga butir. Anak bayinya menangis. Bersama Risa, anak pertamanya, Niken membawa anak bayinya ke rumah sakit. Membekali dengan uang seribuan seadanya. Memang seadanya. Obat anaknya pun hanya ia tebus setengahnya. Dan Risa harus bersabar hati tak dibelikan balon karena ibunya sedang pailit. Ia hanya seorang tukang jahit yang bersuami seorang mandor gudang beras. Pun Indonesia, sedang diambang krisis. Krisis moneter.

Maka bukan kebetulan ketika seseorang mendatangi rumahnya malam itu. Menawarkan bentuk kerjasama saling-menguntungkan. Koh Abeng ingin menyewa beberapa hari gudang beras suaminya, Arwoko – yang kebetulan sedang kosong. Tak hanya biaya sewa yang tinggi, Koh Abeng bahkan akan memberi bonus kepada Arwoko dua kali lipat. Saya akan rugi besar kalau tidak menyimpan beras itu, kata koh Abeng. Beras sedang susah.

***

Ola sedang narsis. Membicarakan dirinya di depan handy-cam. Mungkin punya mimpi menjadi presenter. Sambil keliling sekolahnya, ia cerita tentang cowok idamannya hingga mendeklarasikan dirinya primadona sekolah. Ola memesan siomay di kantin sekolah sambil menunggu Echi. Sementara Gita, yang sedari tadi merekam narsisnya Ola, mulai bosan dan meminta ganti topik.

Muncul Echi dengan buku pesanan Ola. Disanalah topik baru dimulai. Echi bercerita tentang ‘proyeknya’ dengan Pak Norman. Yang membuatnya mendapat fulus lima puluh ribu. Echi diminta untuk mengkoordinir teman sekelasnya agar membeli buku melaluinya. Topik menjadi menarik karena hanya Gita yang tidak membeli buku itu lewat perantara Echi. Maka B- (B-minus)-lah nilai yang harus Gita terima dari Pak Norman. Padahal beda harga dengan bukunya Pak Norman hanya beberapa ribu saja.

***

Itulah potongan cerita di film omnibus Kita Versus Korupsi (K vs K). Masing-masing potongan cerita di atas berjudul Rumah Perkara, Aku Padamu, Selamat Siang, Risa!, dan Pssstt…. Jangan Bilang Siapa-siapa. Keempat film pendek ini, sesuai judul utamanya, menceritakan tentang ‘Kita’ dan praktik ‘Korupsi’.

‘Kita’ adalah Kepala Desa Yatna, Vano sang pejuang cinta, Arwoko si mandor gudang, dan Echi si penjual buku. ‘Kita’ adalah tokoh-tokoh dalam film itu. Lalu dimana ‘Korupsi’?

Di layar televisi atau media cetak, tentu berita tentang korupsi adalah perkara milyar atau triliun. Atau tentang pejabat publik yang sedang menjadi ketua partai yang kebetulan dekat dengan penguasa. ‘Korupsi’ dalam film K Vs K – bisa dikatakan – bukan pada level korupsi di layar tivi.

‘Korupsi’ adalah Kepala Desa yang mengingkari amanah rakyatnya. Padahal ia berjanji untuk menjaga rakyatnya dari segala gangguan. Untuk menyejahterakan rakyatnya. Bahkan ia berjanji atas nama Tuhan. Tapi ia membiarkan developer menggusur desanya sendiri.

‘Korupsi’ adalah menganggap menyuap petugas KUA itu hal kecil dan biasa. Menganggap bahwa tidak ada artinya urusan administrasi demi mimpi mereka yang lebih besar.

‘Korupsi’ adalah menggunakan jabatan mandor untuk memperkaya diri sendiri. Dengan alasan beras di dapur sudah habis atau untuk beli obat anak.

‘Korupsi’ adalah tidak transparan terhadap harga buku pelajaran yang akan dijual. Walau selisih beberapa ribu saja.

Seperti yang pernah diiklankan KPK, korupsi seorang pejabat sejatinya adalah kebiasaan buruk yang dianggap sepele dan kecil. Kebiasaan mencontek di kelas, membohongi pasangan, menyuap polantas, sesungguhnya akan berujung pada korupsi milyaran di tempatnya bekerja kelak.

Ola terbiasa me-mark-up biaya buku sekolahnya, karena ternyata sang ayah pun melakukan itu di tempat kerjanya.

Laras ngotot menentang ide Vano untuk ‘pake orang dalam’ terinspirasi dari guru SD-nya, Markus – yang mengajarkan nilai-nilai kejujuran hingga ia pun menolak menyuap sekolah agar di-PNS-kan.

Risa, anak Arwoko, yang kemudian menjadi pejabat pemda, dengan tegas menolak uang sogokan. Karena selalu mengingat kata-kata ayahnya, ‘Kebodohan saya (menolak korupsi) tak akan saya sesali. Sampai mati!’.

Karena siapapun tak menginginkan anaknya menjadi korban dari kebiasaan buruk kita. Seperti Iqbal, anak Kepala Desa Yatna, yang ikut terbakar di dalam rumah korban penggusuran paksa. Karena ayahnya.

Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang kita petik di kemudian hari. Menanamkan kebiasaan baik di keluarga, itulah yang akan anak-anak kita lakukan. Dan kalau boleh meminjam kalimat Laras kepada Vano, ‘Kamu adalah cerminan rumah kamu’.

One thought on “Rumahmu Cerminmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s