“Jangan Takut Lawan Korupsi!”

Tahun 1858, di sebuah penginapan bernama  “In de kleine prins” di Brussel, Belgia, telah lahir novel masterpiece berjudul Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda (Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi). Ia keluar dari rahim pemikiran Eduard Douwes Dekker, dengan nama pena Multatuli. Seorang ‘PNS’ Pemerintah Hindia Belanda yang memotret Indonesia di abad ke-19. Potret penjajahan Belanda hingga korupsi pejabat-pejabat pribumi.  Kolonialisme dan feodalisme. Lebih dari sekadar novel ‘mega-best-seller’,  Max Havelaar menyulut Hindia Belanda untuk mengubah gaya politik penjajahannya menjadi ethische politiek (politik etis) atau politik balas budi (tahun 1860). Yang mengharuskan Belanda membangun sekolah-sekolah dan fasilitas kesehatan. Bahkan – Max Havelaar – menjadi inspirasi perjuangan kaum terpelajar di awal abad ke-20, seperti Moh Yamin, Husni Thamrin dan Soekarno – Sang proklamator.

Max Havelaar menjadi whistle blower atas praktik korupsi yang mengakarkuat di Indonesia saat itu. Mungkin tidak ada Patih yang mark-up biaya pembuatan benteng, tapi pemberian upeti adalah bentuk lain dari korupsi. Dan korupsi adalah alasan lain untuk meraih kekuasaan. Nusantara hancur karena hal itu: perang saudara di Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit, berlangsung turun temurun karena perebutan kekuasaan. Pejabat pribumi dan Kolonial berkolusi-korupsi-dan-nepotisme, menjarah sumber daya alam dan manusianya sekaligus. Konspirasi feodal.

Salah satu konspirasi ‘feodal’ zaman sekarang terjadi di bilik pelelangan. Setiap orang yang mempunyai akses bisa dengan mudah mendapatkan uang secara ‘legal’. Sang pemilik anggaran, misalnya, bisa menaikkan harga dan mengatur pemenang lelang, yang tentunya bekerja sama dengan panitia lelang. Seorang Bupati membagi-bagikan proyek dari APBD kepada perusahaan milik keponakan, saudara sepupu, atau ‘donaturnya’ saat kampanye dulu. Sejak pembangunan era Soeharto, korupsi ‘legal’ ini terus memberangus negeri tanpa ampun. Dan masih terasa hingga lebih dari 10 tahun era jatuhnya Soeharto. Reformasi.

Tapi setidaknya reformasi telah melahirkan Perpres 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa. Setidaknya itu bisa melegakan saya sebagai panitia lelang. Perpres tersebut mewajibkan pelelangan dilakukan secara online (e-proc) di tahun 2012 ini. Tidak ada yang bisa ditutupi, perusahaan manapun yang terhubung dengan internet bisa mengikuti lelang. Pengaturan pemenang bisa dihindari. Konspirasi Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) dengan Panitia bisa ‘ditengahi’ oleh Audit Pemeriksa Internal Pemerintah (APIP). APIP punya akses untuk melihat apakah ada dokumen yang ditambah atau dikurang? Apakah ada pengaturan?

Pelelangan atau pengadaan barang dan jasa memang wilayah seksi. Tak kurang dari 80% kasus korupsi yang ditangani Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) ialah pengadaan barang dan jasa. Inilah mengapa Indonesia masih terseok-seok di peringkat 100-an dari sekitar 170 negara paling korup di dunia.

Namun pelan-pelan merangkak naik di dua tahun terakhir. Tahun 2006 Indonesia peringkat 130 dari 163 (nilai indeks 2,4). Tahun 2010 berada di peringkat 110 dari 178 (nilai indeks 2,8). Tahun 2011 melaju ke peringkat 100 dari 182 (nilai indeks 3). Korupsi perlahan surut.

Berapa uang negara yang berhasil ‘diselamatkan’ atas pemanfaatan e-proc ini? Data hingga Agustus 2012 mencapai nilai Rp 7 Triliun. Apa hasilnya? Di kuartal ke-2 tahun 2012 ini, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) naik menjadi 6,4%; peringkat ke-2 setelah China.

Dan opportunist  selalu ada di masanya. Selalu ada kelompok yang emoh meninggalkan tradisi ‘upeti’. Seperti peserta lelang yang tak henti-hentinya menelpon meminta untuk bertemu di hotel anu, café itu. Mereka yang rajin meng-entertain pejabat agar kebagian ‘kue’ proyek – bahkan terus kebagian hingga anak cucunya. Mereka yang mengintimidasi panitia lelang dari surat kaleng hingga ancaman penjara – yang membuat saya takut. Mereka yang mati-matian melawan kolonialisme, tapi merawat praktek feodalisme. Menolak pembaratan setimur-timurnya.

Ada yang terlupa dari bahasan Douwes Dekker di atas. Delapan tahun sebelum Eduard Douwes Dekker meninggal di Jerman, di Pasuruan telah lahir seorang pahlawan nasional bernama Ernest Douwes Dekker. Seorang keturunan Belanda-Jerman-Jawa yang dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi. Mereka punya hubungan darah, Ernest adalah cucu dari kakak Eduard – Olaf Douwes Dekker.

Tak berlebihan saya kira jika duo-DD (Douwes Dekker) ini punya naluri yang sama dalam melawan kolonialisme dan konspirasi feodal. Eduard DD melahirkan karya-karya sastra, berupa gagasan, novel, naskah drama yang menjadi inspirasi para pejuang setelahnya. Salah satunya adalah cucunya, Ernest DD. Yang berserangkai dengan Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat membentuk wadah pergerakan kemerdekaan bernama Boedi Oetomo.

e-procurement adalah salah satu indikasi terwujudnya good governance. Anggap saja ini produk barat, ide mantan penjajah, tapi inilah salah satu ‘senjata’ memberantas korupsi – dengan panitia lelang sebagai serdadunya. Duo-DD adalah ‘produk’ barat, tapi mereka adalah ‘senjata’ pergerakan kemerdekaan. Melawan penjajahan (kolonialisme) dan praktik korupsi-kolusi-nepotisme (konspirasi feodal).

Reformasi belum usai. Tugas KPK masih banyak. Akar budaya korupsi masih merambat. Semuanya butuh waktu.

Tentu Jendral Sudirman butuh waktu untuk mengajak rakyat angkat senjata melawan penjajah. Tentu Mohammad Hatta butuh waktu untuk meyakinkan Eropa bahwa Indonesia layak merdeka. Tentu Soekarno butuh waktu untuk menyadarkan rakyat bahwa Indonesia punya harga diri, jangan mau dibodohi, harus berani melawan, dan berkata ‘Ini dadaku! Mana dadamu?’.

Dan juga akan berkata kepada saya, “Jangan takut lawan korupsi!”.

referensi:
www.serbasejarah.wordpress.com
www.lkpp.go.id
www.bps.go.id
www.wikipedia.org
www.caping.wordpress.com
www.tempo.co

2 thoughts on ““Jangan Takut Lawan Korupsi!”

  1. langkah konkretnya tentu lebih penting dari pada teoritisnya , sudah parah korupsi

    di negara ini . sekali lagi yang terpenting adalah langkah KONKRET.

  2. lakukan PEGEL KORUPTOR artinya penembakan gelap terhadap para koruptor

    yang tehnis dan methodenya tergantung pada diri kita masing2. PEGEL KORUP –

    TOR. !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s