how i named my sons (part 2: #firaas)

(dokumentasi pribadi)

Anak kedua.

Ini hanya selang setahun sepuluh bulan dari anak pertama, #anzal. Hingga hamil bulan ketujuh, belum ada kepikiran mau ngasih nama apa. Tapi yang pasti, last name ‘alkarami’ sudah default. Lucu juga ya, kalo orang-orang menyematkan nama bapaknya ke nama belakang anaknya. Misalnya, Yasin, punya anak namanya Syahrul Yasin. Ini kebalik. Saya menyematkan nama anak ke last name saya. Walau hanya nama pena (gila aja kalo nama beneran, mesti motong kambing lagi..).

Maka saya pun mengulang skema yang lalu saat mencari inspirasi untuk nama #anzal: baca buku. Pilih-pilihlah buku di rak yang udah mulai debuan itu. Hasilnya nihil. Bukan ga menemukan nama, tapi ga ada nama yang berhasil membuat saya amaze. Eh, ada skema yang terlewat. Masih inget kan buku fiksi pertama saya, Supernova. Kabarnya, Dewi Lestari sedang meluncurkan seri keempat Supernova: Partikel. Maka berlalulah saya ke Gramedia (kok jadi mirip drama Korea, ya..serba kebetulan).

Sebenarnya, waktu isteri saya baru-baru hamil, dia ngidam baca buku (buku kok dingidamin.. -__-). Nah, kebiasaan unik isteri saya ialah suka baca ulang buku-buku yang pernah dibacanya. Alasannya sederhana: ga ada bacaan lagi. Dan, tetiba dia pengen baca serial Supernova-nya Dewi Lestari. Karena sedang terjadi krisis finansial di bursa saham kas negara, maka saya pun donlot Supernova versi e-book. Akar dan Petir pun berhasil disedot (gimana negara mau maju, karya anak bangsa dibajak truss..). Isteri saya baca pake Galaxy Tab yang cicilannya belum lunas (pliss deh.. ga usah sok susahh..).

Karena bentuknya serial, tentu ketagihan ingin baca seri berikutnya. Sebenarnya saya sudah baca ketiga seri itu. Tapi cuma Supernova yang khatam, itu pun lupa-lupa. Akar dan Petir, kepotong-potong. Bukunya punya temen sih, jadi ga konsen (makanya beli…). Isteri jadi ngidam Partikel, serial keempat Supernova. Ditambah promo Dewi Lestari di twitter, saya juga tambah penasaran. Maka berlalulah saya ke Gramedia (lah, kalimat ini kan ada di paragraf kedua??!! –“).

Sore beli bukunya, besok pagi buku itu sudah habis…dibaca. Bukan sama saya. Saya baru baca malamnya. Menarik. Dee menawarkan gaya cerita yang berbeda di setiap serinya. Dan tokoh utama di setiap seri selalu unik, yang juga menjadi minoritas di Indonesia. Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh: kaum gay. Akar: anak Punk. Petir: Cina.  Partikel: alien. Dan sampailah saya pada sebuah kata: Firas. Dalam Partikel, Firas adalah nama ayah si tokoh utama, Zarah. Firas emang diceritakan sosok ayah yang pintar dan ‘beda’ dalam mendidik anak. Tapi, saya tidak amaze pada karakternya, saya amaze pada namanya: Firas.

Dan artinya pun menakjubkan. Di novelnya sendiri, disebut bahwa Firas itu artinya yakin, teguh. Makanya, dalam bahasa Indonesia ada kata serapan ‘firasat’ yang berarti keyakinan pada sesuatu. Kalo saya buka alat terjemah di internet, Firas atau Firaas juga berarti cerdas, pintar.

(Jadi, namanya Firaas Alkarami?)

Kan saya udah bilang, udah ga jaman nama itu cuma dua kata. Sama seperti yang lalu, pencarian nama tengah ini rada susah. Saya hampir kehabisan akal (yaelah.. kayak yang pernah dipake aja..). Memakai cara terdahulu — dengan mencatut nama seorang penulis, inspirator — udah susah. Ga enak aja, masa namanya ‘Firaas Gibran Alkarami’. Ketauan banget kan njiplaknya. Maka saya pun menggunakan metode lain. Jika anak pertama dari teks, maka saya mencoba dari lagu. Siapa tau ada pengarang lagu atau pelantun lagu yang namanya membuat amaze. Dan berhasil. Tapi, kejadiannya tahun lalu, saat kami lebaran di Padang. Ceritanya gini. Tahun 2011 itu, khususnya bulan puasa, ada satu lagu yang sering banget diputer. Entah itu di tipi, radio, cafe, mall, hotel, atau mungkin bar (sayangnya saya ga nyoba main kesana). Pernah di pertengahan bulan puasa, saya dinas ke Jakarta, ada rapat sekitar 3 hari di sebuah hotel di kawasan Blok-M (ciee.. yang SPPD ke Jakarta, biasanya juga cuma Sulawesi -__-). Dan sehari-hari theme song hotel itu muterin lagu itu sampe sealbum penuh. Puncaknya waktu mudik ke kampung isteri di Pekanbaru. Tiga hari sebelum Lebaran, kami ‘mudik’ lagi ke rumah neneknya isteri saya di Padang, tapi di pelosoknya, dua belas jam dari Pekanbaru. Apa yang terjadi? Mobil Nissan Livina itu memutar penuh lagu itu. Berulang-ulang. (jadi ‘lagu itu’ apa omm??) <– (tar dulu ngapa, belum selesai ini..)

Beberapa bulan kemudian, giliran kampung saya yang kami datangi. Ini dalam rangka menghadiri pernikahan adik saya. Saya kaget, ternyata bapak saya udah ganti mobil. Dari Panther tahun 70an, jadi New Avanza type-G. Mobilnya wangi, masih berplastik, dan soundsystem yang masing njreng. Kami dijemput di bandara dengan mobil itu. Melalui kemacetan Jakarta-Tangerang, di malam yang temaram, ditemani alunan musik dari ‘lagu itu’. Ya, lagu itu ternyata diputar juga di Tangerang. Bahkan, adik saya — yang mau kawin itu — udah beli album keduanya, yang akan dia putar di resepsi pernikahannya. Ada apa gerangan dengan ‘lagu itu’? Kenapa alam seperti memaksa saya untuk terus mendengarkannya. Memang siapa dia? (kok malah nanya, kan sampeyan yang tahu…)

Lagu itu dinyanyikan oleh… Maher Zein. (yaelahh… ane kira siapa??! –“)

‘Firaas Zein Alkarami’?

Ya, mari kita mulai bedah maknanya. Sering kita dengar nama-nama orang Indonesia itu ‘Zainal Arifin’, ‘Zainal Abidin’, dll.. Apa artinya?? Zain (bahasa Arab) artinya perhiasan, sesuatu yang berharga. ‘Zainal’ itu asal katanya dari zain, sedangkan -al di belakangnya adalah kesatuan dari kata setelahnya. Sebenarnya Zain Al-Abidin, ‘diindonesiakan’ menjadi Zainal Abidin.

Karena default nama belakang anak-anak saya adalah ‘alkarami’ yang sudah ada ‘-al’-nya, maka saya cuma butuh ‘Zain’, bukan ‘Zainal’. (loh, tapi ente tadi nulisnya ‘Zein’ bukan “Zain’??!!) <– (nah, itu gegara ‘lagu itu’ yang terus mendengung..jadiya..kasih dahh..)

So,

Firaas = cerdas, teguh
Zein = perhiasan, berharga
Alkarami = hebat, mulia, agung

it will be, “Orang cerdas yang dihiasi kemuliaan” atau “Orang yang memiliki keteguhan dan kemuliaan yang berharga”.

(tapi, ane masih rancu ama terjemahan bebasnya, om..)

udah.. terima aja..

(yakin, om??)

insyaAllah…

(ga ada terjemahan lain, om?? yakin??)

insyaAllah…insyaAllahh….

(yakin ada jalan, om?)

insyaAllah…ada jalaaaaaannnn… <– (malah nyanyi.. -__-“) 

6 thoughts on “how i named my sons (part 2: #firaas)

  1. haha nama Zain mungkin juga lagi kondang ya. Papapmertua tetiba pun memberi nama Zain untuk bayi yang masih di perut. Mungkin papap jg terinspirasi dari si penyanyi lagu “InsyaAllah ada Jalan..” itu ya.. (nama judul lagunya opo sihhh sebenernya?)

  2. sempet pengen namain Zayn kl imou pny ade cowo… tp gara2 one direction… haha… na nana na nana na na na *bergumam nyanyi lagunya one direction*

    • apa?? one direction itu apa aie?? sejenis boyband???😀

      sebenrnya dulu firaas panggilannya bukan firaas, tapi kara (diambil dari alkarami).. tapi kok mirip salahsatu personil SNSD :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s