how i named my sons (part 1: #anzal)

(dokumentasi pribadi)

Orang pikir saya gila. Saya merencanakan nama anak saya sewaktu SMP. Dimana saat itu belum punya pacar — yang memang ga punya pacar sampe kuliah, eh sampe kawin malah -__-.

Nama anak pertama saya: anzal khalil alkarami.

Mari kita bedah satu-satu.

anzal;

Saya pertama kali melihatnya di dinding pembatas antara developer estate dengan kampung saya (daerah tangerang). Ya, seperti biasa, semacam mural atau coret-coretnya anak sekolah pake pilox. bla..bla..bla.. by anzal. Itu tulisannya. Dinding itu tepat berada di pintu masuk ke kampung saya, jadinya tiap kali keluar atau masuk kampung, pasti liat tulisan itu. Dan itu membekas, hingga SMA.

Apa yang terjadi di SMA? Apa saya menemukan kata ‘anzal’ di dinding sekolah? Tidak, ini bukan film Korea yang segalanya serba kebetulan. Di SMA saya mulai rajin baca dan nulis. Loh, bukannya itu pelajaran SD?? Maksudnya mulai baca buku-buku fiksi dan rajin nulis cerpen, puisi, atau semacamnya. Nah, untuk yang cerpen, tentu donk kita punya nama-nama tokohnya. Maka anzal adalah nama tokoh laki-laki yang selalu saya pakai dalam cerpen. Dulu, alasan memilih nama anzal hanya karena enak diucapkan, dan jarang orang gunakan. Waktu kuliah, baru ngeh apa makna anzal. Dan seberapa sering dia muncul di ayat-ayat alquran… hehee..tobatnya baru pas kuliah.

Masa nama tokohnya cuma satu doank? Tentu ada yang lain. Nama tokoh wanita dalam naskah cerpen saya (cieehh naskah…) itu murni, sari, salma dll (saya lupa). Ada juga nama tokoh laki-laki lainnya seperti diaz, mmm..siapa lagi ya.. kok dikit ya? Duhh padahal banyak loh nama-namanya..binder SMA-nya hilang sih..itu loh yang merk kertas isi ulangnya loss leaf. Jaman batu sih, jadi dokumentasinya masih ber-mushaf-mushaf.. Musti ada ‘khalifah’ yang menjilidnya, atau istilah sekarang: harus ada follower yang membuatnya menjadi ‘has been chirpified’.

alkarami;

Loh, kok ngelangkah? Iya, soalnya nama tengah baru dapet di injury time. Ini masih ada kaitannya dengan masa-masa di SMA (yang suram karena muridnya cuma 20an dan cowo semuaaaa *__*). Hobi baca baru muncul di SMA, entah karena bosen sama buku pelajaran atau karena ga ada cewe buat digebet. Coba tebak bacaan pertama saya apa? Supernova! Ya, itu buku fiksi pertama yang saya baca. Gila, beratt banget kan?!! Dan saya langsung jatuh cinta pada… ceritanya. Tapi supernova ga ngasih inspirasi apa-apa untuk nama ‘alkarami’ (jadi ngapain dibahass -__-). Setelah selesai melahap supernova: ksatria, puteri, dan bintang jatuh, buku selanjutnya adalah… Kahlil Gibran.. edaan.. berat-berat kan bacaan gw (apaaan..sihhh).

Hampir semua judul buku-buku Kahlil Gibran di perpus habis saya baca. Bahkan, buku tentang ‘asbabun nuzul’-nya karya Gibran pun saya baca. FYI ya, buku Kahlil Gibran yang enak dibaca itu cuma yang terbitan Bentang, terjemahannya ga bikin pusing. Nah, di judul Sayap-sayap patah, saya menemukan seorang tokoh wanita, Salma Alkarami namanya. Pertama kali baca kata ‘alkarami’ saya langsung jatuh cintahh. Begitu anggun dan prestesius, seperti arti nama itu: great, hebat.

Mulai dari sanalah, saya menggunakan nama pena ‘imam alkarami’, yang dipakai hingga sekarang. Mulai dari akun yahoo, facebook, twitter, gmail, dll. Bahkan saya pakai untuk lomba. Saya juga sempat membuat web dengan nama http://www.alkarami.com, tapi ga saya urus, ga bisa bahasa-bahasa html. Masih tetap setia dengan wordpress😀

Lalu, kapan terbitnya ‘anzal alkarami’?? Itu masih lama. kan tadi masa SMA, sekarang saya lanjutkan ke masa kuliah (ini biografi atau apa sihh??). Di kampus, saya menemukan lagi nama tokoh cerpen: mutiarahati. Indonesia banget kan? Inspirasinya kali ini bukan dari buku. Ada beberapa kejadian yang akhirnya melahirkan nama itu. Waktu itu cukup sering denger MQ Radio. Itu loh, radionya Aa Gym. Bukan seneng sama lagu-lagunya. Bukan. Tapi ulasan-ulasan, quotes, dll, dan sang penyiar sering bilang ‘mutiara qalbu’. Trus ‘hati’nya dapet dari mana? Itu juga sih. Bingung, kalo cuma ‘mutiara’ kan udah umum banget ya.. sampe akhirnya saya berkenalan dengan  seorang senior yang namanya ‘syurahati’, it likes suara hati. Maka muncullah ide…tinng..’mutiarahati’… sounds good, rite?

Selain muncul di cerpen, ‘mutiarahati’ juga membuat saya pede kelak akan memberikan nama anak perempuan dengan nama ‘mutiarahati alkarami’. Padahal waktu itu masih ngampus loh. Pacar aja ga punya. Gimana ga pede coba. (beda tipis memang, pede sama belagu). Ide itu saya cetuskan waktu kuliah, berbarengan dengan kelahiran blog ini. FYI, blog ini waktu pertamakali keluar namanya ‘mutiarahati alkarami’. makanya banyak yang nyangka saya perempuann -__-“. (FYI apaan sih, bro??) <– (for your information!! bahasa endonesianya: asal lo tau yee..)

Khalil;

Isteri saya mengandung. Dan cowok, berdasarkan hasil USG. Saya pun bingung. Bukan bingung mau ngasih nama apa, tapi bingung, nama tengahnya apa? (kenapa harus pake nama tengah sih? banyak gaya..) <– (ga enak aja kalii cuma dua kata..jaman sekarang jamannya tiga kata, bahkan ada yang lima, ditambah nama bapak-emaknya di belakang..).

Maka saya pun cari-cari inspirasi..buka-buka lagi mushaf yang tercecer pada masa-masa SMA yang suram karena muridnya cuma…(woiii…ga usah dibahas lagii..). Perlu anda ketahui bahwa Kahlil Gibran adalah nama barat. Seperti Ibnu Rusy yang dibaratkan menjadi Averos. Atau Ibnu Sina menjadi Avicenna. Maka Kahlil Gibran pun adalah west-named dari Jibran Khalil Jibran. Itu nama aslinya. Jibran sebenarnya nama kakeknya. Khalil nama ayahnya. Dan kebiasaan orang arab, mencatutkan nama-nama keturunannya. Maka jadilah Jibran Khalil Jibran (entah kenapa menjadi Kahlil Gibran).

Ya, khalil. Ketika buka kamus bahasa arab, pun artinya mengejutkan: kekasih, beloved one. Nabi Ibrahim dijuluki sebagai kekasih Allah, atau khalilullah.

Then, we published as ‘anzal khalil alkarami’.

Nah, sekarang pasti pada mau tanya, ‘trus arti nama anzal khalil alkarami apa omm??’

Mau tau jawabannya?? Mau tauu?? Mauutauuu…? Jamaaahhh…ooojamaaahh..

Jadi gini, dalam ilmu bahasa arab, ada itu istilahnya ‘kalimat kerja’ dan ‘kalimat benda’. Kalimat kerja (jumlah fi’liyah) itu sebuah kalimat yang diawali kata kerja. Sedangkan kalimat benda (jumlah ismiyah) yang diawali kata benda. Walau penyusunannya beda, tapi artinya sama. Beda penekanan aja. Maka ‘anzal khalil alkarami’ adalah jumlah fi’liyah (kok bisa pas gitu sih, cuy..kan lo pick satu-satu menurut kejadian-kejadian yang random..) <– (itulah hebatnya gw, bro..) <– (pffftt..)

Apa itu ‘anzal’? Kalo liat terjemahan Depag sih, artinya ‘menurunkan’, ‘turun’, dalam konteks yang sakral. Misalnya ‘Allah menurunkan wahyu’, ‘menurunkan hujan’, ‘kami turunkan alquran’, dll.. Mari kita liat terjemahan english versi iQuran (alquran diqital). Kata ‘anzal’ diterjemahkan sebagai ‘reveal’, ‘revealed’. Kalo kita bedah lagi, kata reveal ini semakna dengan ‘show, declare, give, expose, spread, etc..’. Maka saya lebih suka dengan terjemahan bebas: menganugerahkan (untuk konteks nama anak saya).

jadi…
anzal = menganugerahkan
khalil = kekasih hati
alkarami = hebat, agung, mulia

it will be “seorang kekasih hati yang menganugerahkan kemuliaan”.. or “the beloved one who give the greatness”

Udah ngerti smuaanyahh??? Udah tauu???  Udah tau jawabannya???

Alhamduu…. (lillahhhh….)

3 thoughts on “how i named my sons (part 1: #anzal)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s