Indonesia, sampai akhir menutup mata

Dingin masih memeluk erat. Menembus setiap pori-pori berkelebat. Terus merayap di tiga lapisan baju hangat – yang ternyata tak membuat hangat. Keparat. Bukan hanya karena udaranya, tapi juga layar komputer di depanku yang menyalju: putih. Nol ide. Mungkin cairan serotonin di sel saraf ikut membeku sehingga tak mampu menggerakkan sel abu-abu itu. Tak mampu menerangkan bola lampu yang harusnya menyala di atas tengkorak kepala.

Malam yang dingin di Belanda. Kemampuan beradaptasiku ternyata rendah walau sudah dua tahun di sini. Memang studi masterku ini beasiswa dari perusahaanku, PLN. Tapi, dengan uang tabungan seadanya aku nekat membawa isteri dan kedua anakku. Tak bisa dipisahkan. Seolah napas. Mereka terikat di ikatan kovalen O2-ku. Awalnya aku kira mereka akan minta pulang, tapi malah kebalikannya. Anzal, anak pertamaku, sangat nyaman dengan sekolah barunya. Begitupun Firaas, dia bebas bersepeda tanpa khawatir jalurnya diterobos motor. Isteriku juga, senang karena bisa ‘reuni’ dengan teman-teman kampusnya. Sempat terpikir, apa menetap di sini aja ya? meneruskan sampai doctoral kemudian mengundurkan diri dari PLN?! Dasar pengkhianat! Aku menoyor kepala sendiri.

Aku memilih object di bidang Sustainable Energy Technology, Delft University. Topik ini memang sedang ramai dibicarakan orang. Terkait PLN, jurusan ini sengaja aku ambil karena Indonesia punya banyak source untuk merekayasa energi-energi terbarukan. Salah satu energi berkelanjutan milik Indonesia yang sangat besar potensinya ialah panas bumi (40% dari cadangan dunia). Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP) adalah jenis rekayasa teknologi yang bersih. Tidak mengotori atmosfer dengan karbon – yang selama ini dihasilkan oleh pembakaran batubara atau solar. Rekayasa teknologi yang bersih ini ternyata bisa ‘dibarter’ dengan sejumlah uang dari negara yang kontribusi emisi karbonnya tinggi. Ini disebut carbon trading. Bingung? Itu tema proposal tesisku – yang harus jadi malam ini. Sama, aku juga bingung.

Semua data yang aku kumpulkan dari rekan-rekan kerja di tanah air sudah cukup lengkap. Sedikit memicingkan mata, mengernyitkan dahi, menggelengkan kepala, dan beberapa kali berdecak kagum. Gila!  Indonesia kaya banget, teriakku dalam hati. Tapi harus mulai dari mana ini semua? Aku buka-buka play list lagu. Kopi hitam dan lagu biasanya bisa membangkitkan mood. Silakan kopinya, Ayah. Isteriku menyuguhkan kopi panasnya. Bunda mau ke atas dulu ya, temenin adek baca buku. Diselingi senyum terus menghilang.

Masih scrolling play list, tiba-tiba: AYAAH, aku mau tinggal di Belanda aja! Anzal, anak pertamaku, berteriak dari ruang tengah. Aku tak langsung menoleh, berharap hanya suara derungan CPU rusak atau DVD room saat burning. Di sini enak, jalanan rapi, bersih, perpustakaannya juga lengkap. Lanjutnya.

Aku segarkan dulu tenggorokan dengan kopi hitam. Menyerap dalam-dalam kenapa pernyataan itu bisa keluar dari anak umur 12 tahun – yang baru  dua tahun meninggalkan negaranya. Memang Indonesia kenapa, Nzal? Tanyaku sambil menelan sisa kopi. Aku menganggukan kepala seolah serius mendengarkan. Padahal sedang mengumpulkan bahan untuk meng-counter salah kaprah itu, sambil menyela ‘teruss??’ dan ‘ohh..gitu..’.

Anzal malu tiap kali harus bicara tentang Indonesia di kelas. Kalau lagi cerita tentang wisata kuliner dan wisata alam, mereka seolah ingin lama-lama tinggal di Indonesia. Tapi, Anzal tak bisa cerita apa-apa kalo ada yang tanya tentang teroris, bom Bali, dan Pak Harto. Malu, Yah!

Aku terus mendengarkan keluhan bocah itu. Matanya penuh emosi, walau terus memandang tv. Mungkin takut beradu mata denganku. Takut semua gelesihannya terungkap. Karena mata kami dapat beresonansi. Aku menarik oksigen sebanyak-banyaknya dan menggelegarkan karbondioksida-nya sebagai tanda percakapan serius akan dimulai.

Menghampirinya dengan kursi kerja beroda. Aku bercerita: Kamu tahu pewangi yang di kamar mandi? Itu namanya kapur barus, orang biasanya menyebutnya kamper. Kapur barus itu sejenis wewangian dan sebagai bahan pengawet, yang dihasilkan di bumi Indonesia bernama Barus. Barus itu nama daerah di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.  Pemimpin Mesir zaman itu, Firaun, sekitar tahun 1500 SM, mengambil kapur barus untuk bahan pengawet mummi. Bahkan, sebagian ahli tafsir (Ibn Abbas, Alquthubi, Jalalain, Ibn katsir), menafsirkan kata ‘kafur’ dalam Surat Al-Insan ayat 5, adalah sejenis kapur dari Barus yang menjadi lambang kemewahan saat itu.

Indonesia tertulis di dalam Alquran? Anzal penasaran tak percaya.

Tidak hanya Barus. Masih di Sumatera, ada sebuah gunung yang mengandung sumber emas melimpah. Gunung Ophir (juga dikenal dengan Gunung Talamau). Alquran Surat Al-Anbiya ayat 81 menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya”.  Dalam kitab umat Yahudi, Melakim, Pasal 9, menerangkan bahwa Nabi Sulaiman (raja Bani Israil) menerima emas dari bawahannya yang didapatkan dari Gunung Ophir. Di berbagai prasasti, Sumatera dalam bahasa Sansekerta dikenal dengan istilah Suwarnadwipa (pulau emas) atau Suwarnabhumi (tanah emas).

Anzal menganga, sama seperti dia sedang menonton Barney di JimJam Channel waktu umur setahun.

Indonesia kaya sumber alam. Disukai banyak orang. Dengan alasan yang sama pula, para pedagang Belanda datang ke Indonesia. Waktu itu namanya Nusantara. Tahun 1598, perusahaan Belanda datang di pelabuhan Banten, Pulau Jawa. Mereka berdagang di sana dan membawa hasil bumi hingga kapalnya penuh. Tak puas di Jawa, mereka berlayar hingga Maluku untuk mencari cengkeh dan pala.

Sebelumnya, pada tahun 1511, Portugis sudah menguasai selat Malaka. Ini kawasan strategis untuk lalu-lintas perdagangan dunia antara India dan Cina. Mereka mengendalikan perdagangan rempah-rempah yang punya nilai jual tinggi, seperti lada, cengkeh, pala dan fuli dari Sumatera dan Maluku.

Munculnya para pedagang luar Nusantara dengan kapal-kapal super besar itu menumbuhkan persaingan dan konflik. Kerajaan Belanda waktu itu, membentuk perserikatan dagang untuk negaranya agar menghindari persaingan antarpedagang Belanda dan juga membuat perusahaan itu lebih besar. Dalam buku sejarah, perserikatan ini sering disebut VOC. Di sinilah sifat manusia muncul. VOC semacam negara dalam negara. Kekuatan finansialnya membuat mereka gelap mata dengan membentuk angkatan perang. Dengan kekuatan ini, VOC rakus kekuasaan. Mereka tak sungkan merebut wilayah dagang yang strategis dengan peperangan.  Walau akhirnya mereka diambil alih oleh Hindia Belanda karena kasus korupsi para petingginya.

Memang waktu itu orang-orang Indonesia, eh, Nusantara tidak melawan, Yah? Anzal bersuara lantang.

Jelas melawan. Kita bukan bangsa lemah. Maka terjadilah perang dari mulai tahun 1821 hingga 1912. Dari mulai ujung Sumatera hingga ujung Papua. Memang tidak semuanya berperang. Ada juga yang malah membela Belanda.  Itulah mereka yang pecundang, pengkhianat. Menyerahkan kekayaan negaranya untuk orang berkuasa demi jabatan dan sepeti uang. Pilihannya jelas, menjadi pejuang atau pecundang. Pilih merdeka ataoe mati.

Apa kita bisa disebut pengkhiat? Kita sekarang ‘kan tinggal di Belanda, Yah? Anzal bertanya pelan dengan raut wajah seperti kucing minta ikan. Kamu tahu Mohammad Hatta? Proklamator kemerdekaan Indonesia. Tahun 1921, dia sekolah ke Belanda. Tidak hanya sekolah, Hatta aktif di perkumpulan mahasiswa di sana. Perhimpunan Indonesia namanya.

Pikirannya menjadi terbuka, bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan penjajahan di dunia harus dihapuskan. Dia aktif menulis, dia aktif mempropagandakan ide kemerdekaan Indonesia di negara-negara Eropa, bahkan di Belanda sendiri. Pergerakan inilah yang menginspirasi pergerakan-pergerakan lain di Indonesia. Perkumpulan para pemuda, sesama suku, sesama agama, atau sesama pedagang. Hingga akhirnya pecah kemerdekaan.  Ayah berdoa setiap hari agar bisa seperti Mohammad Hatta, Nak. Giliran raut mukaku yang seperti kucing.

Tapi ‘kan Belanda sudah nggak menjajah Indonesia. Kenapa Ayah masih ingin seperti Mohammad Hatta?

Itulah, Nak. Tiga abad lebih Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang mengeruk kekayaan kita, masih belum bisa dihabiskan. Saking kayanya Indonesia. Hingga sekarang, banyak pedagang yang masih menginginkan hasil bumi Indonesia. Termasuk pedagang Indonesia. Karena persaingan, mereka berperang. Tentu bukan lagi dengan senjata. Kekuatan para pedagang ini dilihat dari kekuasaannya. Maka peperangan mereka adalah perebutan kekuasaan dengan alat yang disebut politik.

Freeport, perusahaan tambang emas milik Amerika Serikat, adalah perusahaan asing pertama yang mendapatkan izin usaha dari pemerintah Indonesia. Tahun 1967, Pak Harto, presiden saat itu merestui kedatangan mereka. Penghasilan bersih dari penambangan ini sebesar 5,5 triliun rupiah per bulan. Itu artinya tiap detik menghasilkan dua juta rupiah. Tik.. dua juta. Tok.. dua juta. Anzal berkedip setiap kali aku menjentikkan jari.

Itu di mana, Yah? Papua, jawabku. Dan kamu tahu, Papua dari dulu hingga sekarang selalu menjadi daerah termiskin di Indonesia. Jika seluruh provinsi di Indonesia di-rangking, maka ‘ibunya’ Papua selalu mendapat giliran terakhir waktu pengambilan rapor.

Orang-orang di sana diam saja, Yah? Tidak, Nak. Sudah Ayah katakan, kita bukan bangsa lemah. Begitupun orang Papua. Mereka terus berontak, tapi ‘pedagang’ dan para pengkhianat bangsa begitu besar untuk dilawan. Karena itulah, tiga bulan lagi akan ada pertemuan di Swiss, rakyat Papua minta ‘hak asuh’ ke lain orang tua, Australia. Bisa jadi kita butuh passport untuk terbang ke sana, Nak.

Aku menghela napas sebelum melanjutkan.

Mereka sudah bosan dengan segala bentuk rayuan, bingkisan, harapan, tanpa perhatian. Kau tahu, Nak? Sekiranya kamu Ayah belikan semua mainan yang kamu mau tapi Ayah tak pernah main bersamamu. Tidak memperhatikanmu. Maka rumah temanmu lebih kamu sukai daripada rumahmu sendiri. Rakyat Papua memilih merdeka daripada ditelantarkan bahkan dihinakan di tanahnya sendiri. Mereka seperti Indonesia tahun 1900-an. Dikeruk hasil alamnya, menyuap para pecundang, dan menelantarkan rakyatnya. Maka pilihan mereka hanya satu: merdeka atau mati.

Anzal geleng kepala berulang-ulang seperti menolak disuruh tidur oleh bundanya waktu umur dua tahun — tapi dalam slow motion. Bukan salahnya baru hidup tahun 2010 dan harus menghadapi kondisi negaranya yang menyebut ‘kesatuan’ tapi lingkarannya hanya sebatas Jawa. Sedikit melebar ke barat dan sedikit sekali ke timur. Indonesia sangat kaya. Jika surga di khayangan bocor dan menetes di bumi, maka itulah Indonesia. Seorang ahli dari Oxford University menyebut bahwa Indonesia adalah Eden in The East. Dalam bukunya, ia mengungkapkan sebuah teori Oppenheimer, yang menyatakan bahwa nenek moyang dari peradaban manusia modern seperti Mesir, Mediterania dan Mesopotamia berasal dari tanah Melayu, Nusantara. Aku terus berkata-kata dalam hati. Meneruskan kekagumanku. Merasakan keindahan luar biasa dari kebenaran yang aku ungkapkan sendiri. Seperti seorang penghafal Alquran yang menangis takjub ketika mengkhatamkan hafalannya. Meneteskan air mata. Air mata syukur.

Anzal tertunduk lesu. Entah mengantuk atau memang tak mampu menahan bangga sekaligus kecewa ke negaranya, bangsanya. Anzal mau tidur dulu ya, Yah. Tanpa berkata-kata lagi ia melengos ke lantai 2. Aku hanya melihat matanya. Seolah mengatakan, tumpahkan saja air matamu itu, Nak, kamu sedang jatuh cinta… kepada Indonesia. Air mata itu pun meleleh di pipinya. Mata kami sedang beresonansi.

Aku kembali ke meja kerja. Menyeruput kopi hitamku. Meregangkan segala ketegangan. Menutup mata, menengadahkan ke langit-langit. Agar air mata itu tak terus keluar. Aku malu kepada Jenderal Sudirman, mereka mencintai Indonesia dengan nyawa, bukan air mata. Mouse itu kembali kugenggam. Masih mencari lagu yang bisa membangkitkan semangat. Hingga sampai pada sebuah lagu yang mungkin sudah lama sekali aku tak mendengarnya: Indonesia Pusaka.

Indonesia tanah air beta
Pusaka abadi nan jaya
Indonesia sejak dulu kala
Selalu dipuja-puja bangsa

Aku mematung tak berdaya. Memejam merindukan Pusaka. Berkelebat meninggalkan raga. Terbang ke angkasa Nusantara seperti Gatotkaca. Menyusuri Zamrud Khatulistiwa. Menyelam bermandikan samudera.  Memejam.

Disana tempat lahir beta
Dibuai dibesarkan bunda
Tempat berlindung di hari tua
Sampai akhir menutup mata

Deras air mataku membanjir. Merasakan kembali Indonesia. Mencintainya dengan sederhana seperti kata yang tak sempat diucapkan kopi kepada luwak yang telah menjadikannya nikmat. Nyandu. Sensasi indah yang tak pernah bisa lupa. Memeluknya, menciumnya, mencumbunya, walau telah diselingkuhi anak-anak durhaka. Mencintainya, sampai akhir menutup mata. Indonesia.

Delft, Februari 2021

sumber tulisan:
- http://serbasejarah.wordpress.com 
- Badan Pusat Statistik, 2011
- http://ter-paling.blogspot.com
- http://id.wikipedia.org
- Biografi Mohammad Hatta

73 thoughts on “Indonesia, sampai akhir menutup mata

  1. Pantesan menang… Tulisannya keren banget,inspiratif,informatif bikin cinta sekaligus miris dgn negri sendiri. Teman sy jg ambil S2 dan S3 nya di Delft dan dia gak minat pulang lagi. Segalanya terjamin di Belanda, di Indonesia? Hehehe

    Selamat ya mas! Emang pantas menang

  2. Penasaran dengan sang pemenang utama…sampailah saya disini dan menyimak uraiannya yang ternyata memang sangat layak jd pemenang..

    Congrats…salam utk keluarga dan Anzal tentunya..

  3. Selamat Mas, memang keren. Saya coba tidak menitikkan airmata. Ternyata tidak bisa. Tentang Barus, yang baru kemaren Sarah kunjungi ternyata barutahu kapur barus itu berasal dari Barus. Barus is wonderful place. Lebih indah dari luar negeri. !0 jam dari Medan🙂. Terima kasih sudah menulis. I Love Indonesia

  4. heem kereeen tulisannya , inspirasi nya menantang gak monoton bang , dulu saya pernah mendesgin i see indonesia itu🙂 keren2 , selamat gan keep spirit for indonesian blogger😀

  5. Saya angkat topi kak atas tulisannya yang keren sekali kak sampai sampai saya hanyut membacanya. saya rela deh kalah dengan Tulisan ini (hhehhehe). oh ya kak,kalau sempat kunjungi blogku dan Mohon bimbingannya ya kak,soalnya saya newbie dalam dunia blog apalagi baru serius nulis di blog semanjak ikut lomba blog paling Indonesia. di http://matarik-allo.blogspot.com/2012/06/bantimurungku-sayang-bantimurungku.html
    Sekali lagi SELAMAT YA KAK!

  6. Selamat kawan, selamat untuk tulisannya…memang bagus !!! Gaya menulisnya juga mengubah paradigma berpikir kita, bahwa gaya menulis seperti menulis cerpen dan novel pun ternyata BISA ….!!! Selamat !

  7. kalo soal kapur barus dari tapanuli udah pernah dengar, namun soal emas dan swarnadwipa dari Gunung Ophir (juga dikenal dengan Gunung Talamau) baru skrg. tfs, mas. tulisan yg mencerahkan dan mengugah.

  8. waw!! ajiiibb memang cara mas Imam bertutur…selamat2 sangatbpantass jadi pemenang..smoga yang membaca bisa bersyukur ditakdirkan menjadi orang Indonesia..sampai detik ini pun saya jg slalu bersyukur jd orang Indonesia..sukses studinya dan sgera pulang membangun bangsa dan negara ya,mas..smoga 2 buah hatinya pun demikian!🙂

  9. selamat mas Imam yang menang, bagus-bagus tulisannya. Layak jadi pemenang. Klo saya cuma meramaikan… nulis ngasal, ga mikir2. Mungkin next time giliran saya .. hehehe, sekali lagi selamat

  10. ilustrasi yang luar biasa untuknya mas,
    salut!
    Semoga tesisnya cepat selesai dan segera pulang ke Indonesia buat bangun negeri kita ini!
    Selamat juga mas atas kemenangannya!

  11. wow kereeeen “angkattopi” buat mas Imam. Finally I found someone yg bisa sy banggakan dr kantor ini😀 .Slamat ya Ayahnya Anzal,,,keep writing and inspiring ^^

    • “Finally I found someone yg bisa sy banggakan dr kantor ini”

      partnermu itu dpt pengahrgaan direksi kemaren.. juara dua english olympiade, keknya dia yg patut dibanggakan..😀

  12. halo.. halo.. *ketinggalan berita
    ini tulisan menang apa ya? kok gak ada jejak sama sekali minimal traktiran apaaa gtu mampir ke mejaku😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s