#njilat (bukan) budaya #PalingIndonesia

Beberapa bulan yang lalu saya mengikuti sebuah lomba menulis di blog yang diadakan oleh salah satu kantor kepolisian di Makassar. Saya kalah.  Serasa tidak menerima kenyataaan, saya buka-buka tulisan yang mendapat juara di salah satu kategori. Biasa saja. Bahkan tulisannya cenderung membosankan. Bertele-tele dan tidak ‘nendang’ di akhir tulisan. Samar antara feature atau tajuk.

Selang dua-tiga hari pascapengumuman pemenang, salah satu juri mem-post tulisan di blognya tentang tips agar bisa menang dalam lomba menulis.  Menyimak dan mengangguk. Peserta lomba disarankan untuk mengetahui lebih dulu karakter juri, katanya. Harus tahu kesukaan tipe tulisan para juri: feature atau tajuk atau hal lainnya. Saya hanya ber-oo panjang sekali. Mungkin ada benarnya. Tapi setengah kepala saya menggoyang horizontal.

Saya jadi ingat dua tahun yang lalu ketika saya mulai tak betah kerja di kota yang jauh dari orang terdekat. Seorang senior bilang, ‘kamu kalau mau pindah ke Jakarta, harus kenal sama orang sana’. Saya mengiyakan karena teman seangkatan cukup banyak ditempatkan di sana. Tapi sepertinya bukan itu maksudnya. Kalau kebetulan dinas ke Jakarta atau lagi liburan, jangan bawa tangan kosong, mungkin sebotol-dua-botol minyak tawon bisa membuat mereka ‘kenal’ sama kamu, lanjut senior saya, serius.

Bedanya, tips juri tadi memfokuskan ke interest sang pemberi nilai, tanpa memberi ‘minyak tawon’. Kalau yang kedua, tidak memperhatikan apa kesukaannya, yang penting ‘minyak tawon’ (ditambah markisa apalagi). Ya, mungkin masih saudara sepupu-dua-kali.

Yang kedua ini sering kita dapatkan di kantor-kantor pelayanan masyarakat. Walaupun sudah tertulis ‘membuat KTP GRATISS!!’, sang petugas biasanya masih asik dandan kalau tidak kita lambai-lambaikan uang 10 ribuan. Ini sudah menjadi budaya, teman saya bilang. Bisa dimulai oleh ‘customer’ atau ‘owner’. Semacam persekongkolan terstruktur. Dan itu sudah mengakar hebat di kultur orang Indonesia: #njilat.

Cara mudah melihat budaya #njilat adalah dengan jalan-jalan keliling kota. Perhatikan di pinggir jalan, di badan pohon dan berputar sejenak di perempatan traffic light.  Baliho-baliho besar berjejer di sana. Isinya 60% adalah foto closed-up sang pe#njilat, 30% foto gubernur atau presiden dan sisanya kata-kata #njilat seperti ‘Selamat Tahun Baru’, ‘Selamat dan Sukses’, ‘Selamat Datang Tuan Raja berserta Rombongan’.

Masih di jalan raya. Sering kali kita menemukan mobil yang dihiasi sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah ‘baliho berjalan’. Biasanya isinya tak jauh-jauh dari pencalonan seseorang menjadi birokrat – entah itu anggota legislatif, walikota, bupati atau gubernur – yang disandingkan dengan seorang figur kuat (biasanya birokrat yang sedang menjabat).

Saya tidak tahu apa memang pembuatan ‘baliho berjalan’ itu sebuah transaksi bisnis semacam franchise. Yang jika menempel gambar figur tersebut, orang yang bersangkutan harus membayar sejumlah royalti. Entahlah. Kalau memang sang calon walikota, misalnya, punya visi hebat kenapa harus membonceng figur orang lain. Aih, terasa kembali ke pelajaran sejarah kalau dengar kata ‘membonceng’ – NICA membonceng Sekutu.

Sejarah. Ya, mungkin memang sudah berabad-abad lalu leluhur kita terbiasa dengan budaya #njilat. Seperti Demang yang me#njilat Meneer dengan membocorkan dimana Si Pitung berada. Atau memaksa kepala dusun memberikan upeti agar posisinya sebagai Demang masih dijaga sang Meneer. Tapi, saya tidak percaya kalau budaya #njilat adalah budaya turun-temurun nenek moyang kita, Nusantara. Apalagi kalau dibilang sebagai budaya yang #PalingIndonesia.

Nah, bicara tentang #PalingIndonesia, saya jadi teringat lomba yang diadakan salah satu provider ternama dengan mengusung tema #PalingIndonesia. Kali ini saya harus menang. Apalagi hadiahnya iPhone 4S. Terus terang, hape saya adalah Nokia Classic yang layarnya sudah retak. Kalau ketik sms maka terdengar seperti mengetik di mesin tik. Tak..tek..tak..tek..tok. Oke, sepertinya saya harus menyudahi tulisan ini dan mulai mempersiapkan materi.

Eh, tunggu, seperti saran seorang juri, saya harus mengetahui karakter para juri dan (kalau bisa) menyublim interest mereka ke dalam tulisan. Oke, kita runut satu-satu siapa saja jurinya. Ipul Daeng Gassing (ketua komunitas blogger Angingmammiri), Khrisna Pabichara (Penulis novel Sepatu Dahlan), dan salah seorang perwakilan Telkomsel.

Juri pertama. Saya adalah follower @iPulG_ (yang sudah di-folback).  Saya cukup kenal dengan daeng Ipul. Kami sempat jabat tangan di Mall Ratu Indah, dan bahkan dia pernah datang ke rumah saya waktu anak saya lahiran.  Saya juga penyuka feature seperti daeng Ipul. Bahkan saya sudah menghabiskan tujuh juta tabungan saya untuk membeli kamera Nikon D3100. Ya, memang masih jauh di bawah D90 milik daeng, tapi minimal kami se-‘agama’. Walaupun sudah jarang lagi aktif kopdar di acara-acara Angingmammiri, tapi saya aktif berpartisipasi di twitter. Cek saja, mention saya ke @iPulG_ bisa lebih dari 25 mentions per week.

Saya juga follower juri kedua, @1bichara, tapi masih belum di-folback (mudah-mudahan setelah menang lomba ini). Khrisna Pabichara, seorang budayawan sekaligus penulis novel Sepatu Dahlan. Di pertengahan Juni kemarin, talkshow Kick Andy di Metro TV khusus mengupas isi bukunya. Dengan tamu spesial Dahlan Iskan. Untuk menonton acara ini pun, saya butuh usaha keras. Di Makassar, Kick Andy tayang pukul 10.30 malam. Padahal jam tidur saya pukul 9-10. Hingga selesai saya menyaksikan talkshow inspiratif itu. Khususnya ketika sang penulis diwawancara, seperti ada sentuhan Mario Teguh di sana. Apalagi, saya sebagai pegawai PLN, ‘sepatu dahlan’ tentu sudah terpatri di hati kami: Bekerja! Bekerja! Bekerja!

Juri ketiga dari Telkomsel. Kalau yang ini jangan diragukan lagi. Saya adalah pelanggan setia Telkomsel. Mulai dari bapak saya, adik, isteri dan mungkin nanti anak saya, adalah pengguna kartu Telkomsel. Apalagi di Indonesia Timur, sinyal yang tanpa gangguan hanya Telkomsel. Boleh dibilang, Telkomsel adalah sim card yang #PalingIndonesia.

Jelas ‘kan, kalau #njilat itu (bukan) budaya #PalingIndonesia. Hehehe…

Imam Muttaqien (twitter: @imam___); Anggota Komunitas Blogger Angingmammiri (blog: alkarami.wordpress.com); Pegawai PLN (NIP: 8509113-Z); No hape 08219023473; – bukan pe#njilat.

5 thoughts on “#njilat (bukan) budaya #PalingIndonesia

  1. Jadi maksudnya waktu lomba pariwisata kemarin itu jurinya disogok untuk memberikan nilai tinggi buat pemenang? Maaf kalau saya salah tangkap dgn tulisan ini. Tapi saya rasa memang butuh penjelasan. Jangan sampai banyak yg kurang mengerti dan salah persepsi.

    • bukann.. sama sekali bukan..
      ga ada hubungannya dengan juri..apalagi sogok juri😀
      sy cuma ingin menjelaskan bahwa terkadang budaya menjilat itu spt udh biasa terjadi di masyarakat kita..saya sebutkan di tulisan itu beberapa contoh..

      sedangkan ilustrasi ‘penjilatan’ saya di tiga paragraf terakhir, adalah semacam otokritik, ngomongin jilat tp malah menjilat..

      sprt sebuah sindiran, buat indonesia termasuk buat saya.. tp ga ada hubungannya dgn juri atau even lomba itu..

      terimakasih ya kak, atas koreksinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s