Nikah Pada Pertemuan Ketiga, Percaya? (Road To 2nd Anniversary)

(Anzal di senja Pantai Akkarena, Dokumentasi Pribadi)

Dua tahun lalu. Saya masih bujang. Rumah masih kontrak. Kendaraan pribadi hanya sepeda Polygon. Kerja di PLN memang tidak membuat seorang cepat kaya. Apalagi mudah mendapat jodoh. Yakinlah, 87% pegawai PLN mendadak jomblo ketika mendapat SK penempatan. Baru pertamakali tinggal di luar pulau, teman terbatas, lingkungan baru, mau pulang kampung harus naik pesawat, maka lengkaplah penderitaan sang pegawai muda. Pilihan yang sering diambil oleh pegawai muda tersebut ialah menggaet orang lokal atau sesama pegawai untuk dijadikannya pasangan hidup.

Nah, bagaimana dengan saya? Terdampar di Pulau Sulawesi bukanlah perkara mudah. Satu-satunya pulau yang sudah saya datangi selain Jawa ialah Sumatera, tepatnya Lampung. Itu pun hanya dua minggu. Dan bahkan, pulau Jawa pun paling jauh hanya sampai Rembang. Itu pun hanya sehari. Parahnya, rombongan angkatan pegawai muda yang waktu itu ditempatkan di PLN hanya dua orang. Ya, dua orang. Teman saya yang satu orang itu pun bukan teman kampus, kami kenal waktu penempatan itu. Dan dia punya keluarga di Makassar. Jadi, lengkaplah sudah penderitaan saya. Lingkungan baru, pekerjaan baru (fresh graduate gitu loh), teman baru, dan kota baru: Makassaar.

Tidak cukup enam bulan saya sudah bosan. Bukan karena pekerjaan atau Makassar. Saya bosan karena tak punya teman. Sungguh. Akhirnya saya melakukan pencarian. Searching komunitas-komunitas sehobi di Makassar. Dan terdamparlah saya di Komunitas Blogger Angingmammiri. Segala bentuk acara saya ikuti. Intinya untuk mengisi kekosongan akhir pekan. Karena jika akhir pekan dihabiskan bersama teman kantor, maka itu sama saja berkantor selama seminggu penuh. Lagipula waktu itu saya tidak memiliki kesamaan hobi dengan teman kantor saya, kecuali cari makan malam di pinggir jalan.

Setahun pertama. Kebosanan mulai muncul kembali. Pacar tak punya. Produk kantor pun, pegawainya tidak terlalu membuat saya ingin. Cari di phone book, apalagi. Hape saya hilang beserta nomornya. Kontak-kontak teman kampus lewat YM atau Facebook, tak menghasilkan sesuatu yang signifikan. Sepertinya mereka lebih fokus ke Master Degree atau penelitian dan semacamnya. Kontak teman SMA, tidak mungkin. SMA saya adalah salahsatu SMA yang paling tidak diminati oleh para lelaki. Ya, karena tidak menerima siswa perempuan.Perpaduan cara itu akhirnya saya lakukan. Saya kontak teman SMA untuk menanyakan apakah ada teman kampusnya yang available.

Dan keajaiban pun terjadi. Pertengahan tahun 2009 saya mendapatkannya. Iya, saya mendapatkan nomor hape dan akun Facebook. Perkenalan pun dimulai. Tentu lewat sms atau email. Belum tatap muka. Pertamakali tatap muka dilakukan di sebuah mall di Jakarta. Waktu itu saya sedang ada dinas ke Jakarta, jadi sekalian. Hanya perkenalan biasa. Itu pun tidak berdua, kami berempat, masing-masing membawa teman. Makan di Solaria, tidak sampai dua jam, karena sudah sore. Kami pulang.

Catat, itu pertemuan pertama. Coba tebak apa yang terjadi pada pertemuan kedua? Lamaran. Ya, saya melamarnya. Tepatnya awal bulan November 2009. Sangat sederhana, tanpa persiapan. Itu pun berlangsung di rumah saya, bukan di rumah perempuan. Kebetulan waktu itu orangtuanya sedang berada di Jakarta, karena harus menghadiri seremoni pengucapan Sumpah Dokter. Ya, calon isteri saya itu baru saja disahkan menjadi Dokter. Dengan mengandalkan ‘kebetulan’ maka acara lamaran dadakan itu digelar.

Catat, pertemuan kedua kami adalah lamaran. Coba tebak kejutan apa yang terjadi di pertemuan ketiga? Nikah. Bulan Desember kami menikah. Lima puluh hari setelah lamaran, 21 Desember 2010. Dan digelar dengan acara yang sangat sederhana, tapi bermakna — bagi saya. Awalnya saya diundang untuk bertemu keluarganya di Pekanbaru. Tentu, keluarga besarnya tidak mau ngawinin kucing dalam karung. Calon menantunya belum jelas. Mereka hanya tahu dari foto ganteng saya dan bahwa saya seorang pegawai muda PLN. Setelah pertemuan besar itu, kami pun ‘dipaksa’ segera menikah. Kenapa? karena isteri saya sudah tamat kuliahnya di UI. Dan saya pun sudah tak mampu lagi hidup sendiri (halahh..lebay).

Jika diperkenankan, sebenarnya, kami mau melangsungkan resepsi segera setelah akad. Tapi tentu keluarga punya perhitungan lain. Lagipula, anaknya yang mau nikah ini sama-sama anak pertama. Maka dibuatlah rencana resepsi bulan Maret, awalnya. Tapi karena satu dan seribu hal, jadwal resepsi pun dipercepat jadi Februari 2010. Ya, tepat 14 Februari 2010. Bukan latah hari kasih sayang, karena memang tepat dengan jadwal cuti saya. Selepas menikah, isteri langsung diboyong ke Makassar. Kami masih mengontrak rumah di belakang rumah mewah anggota DPRD (sori, yg ini ga penting). Sambil mengumpulkan uang-uang receh untuk persiapan resepsi (terutama ongkos pesawat makassar-jakarta-pekanbaru), kami hanya kebagian mengurus undangan. Lainnya, pihak keluarga yang mengatur. Maka terjadilah resepsi pernikahan kami di Pekanbaru, Jl Sudirman No 21.

Perlu diketahui bahwa waktu itu, isteri saya sedang hamil muda, sekitar 2 bulan. Dan tujuh bulan kemudian, tepatnya tanggal 2 Oktober 2010, lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng yang sangat mirip dengan ayahnya (yakin..yang ini penting). Walau masih dua bulan lagi umur pernikahan kami ganjil satu tahun, Anzal, adalah hadiah hari lahir pernikahan pertama kami. Dan, apa hadiah untuk hari lahir pernikahan kedua nanti (21 Desember 2011)?

Ya, berdasarkan hasil testpack, selembar kertas itu menandakan dua garis sejajar. Dan, memang sudah hampir satu bulan isteri saya tidak haidh. Maka langkah terakhir untuk melengkapkan praduga berbahagia ini adalah dengan lapor ke dokter kandungan.

Sekalian melihat sedang apa gerangan kamu di sana, hai adek kecil. Dengan apa ayah nanti memanggilmu, nak? Oya, kami sudah punya nama, tapi masih kurang satu kata lagi. Kamu tahu nama itu sudah ayah ukir di blog ini sejak kamu belum lahir (yaiyalah, sekarang juga belum lahir..). Nama itu adalah Mutiarahati [………] Alkarami. Kami memang mengharapkan kamu adalah perempuan. Agar abangmu, Anzal, bisa belajar mengasihi perempuan. Jika memang bukan, nanti ayah cari nama lain. Yang pasti, alkarami akan menjadi nama belakangmu. Bukan apa-apa. Ayah hanya ingin kalian menjadi orang besar dengan segala keanggunan dan kehebatanmu.
Dan kamu, isteriku..
Semoga ini menjadi kado teristimewa. Untuk pernikahan kita. Yang kedua..

Nikah pada pertemuan ketiga?
Percayalah!!

 

8 thoughts on “Nikah Pada Pertemuan Ketiga, Percaya? (Road To 2nd Anniversary)

  1. ngakak ini realita kehidupan pegawai PLN yg notabene byk yg menjomblo. lanjutinlah ceritanya mengenai rekan2 kerja yg byk yg menjomblo krn nasib bekerja di pln

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s