Apresiasi Perah Sapi (part. 1)

Image

Sekitar satu bulan ini sinus saya sering kambuh. Efeknya tentu saja mengerikan. Kepala terasa berat, pusing di pelipis, dan sensasi sakit menusuk ketika mengambil nafas terlalu dalam.

Stres, kata seorang dokter yang juga kebetulan isteri saya. Bahkan saya sendiri bingung,stres di bagian mana. Cicilan motor memang belum lunas, tapi masa’ iya harus stres be at gini. Dan saya pun cerita ke rekan kerja (yang hanya dua orang itu). Sama, katanya.Walaupun dalam bentuk yang beda. Ada yang tidak bisa tidur. Ada yang ngomong sendiri. Ada yang sering ngigau. Isteri mereka yang malah bingung, ‘ini suami gue kok lama-lama jadi gila ya kerja di PLN’.

Sebelumnya saya perkenalkan dulu bahwa kami adalah pegawai PLN. Kebetulan mendapat tugas sebagai panitia pengadaan barang dan jasa, atau sering juga disebut panitia lelang. Yang mana saja boleh. Pokoknya tugas kami adalah melelang paket pekerjaan yang diberikan owner/pemilik uang (dalam hal ini negara) dengan spesifikasi tertentu. Jika sebuah iPad mempunyai manual book sebagai panduan penggunaan, maka ‘manual book’ kami adalah Peraturan Presiden No. 54/2010. Tugasnya sederhana: menjalankan peraturan di dalamnya.

Di dalam peraturan tersebut, tugas panitia sebenarnya hanya sebagai event organizer. Karena pemecahan paket, penetapan total anggaran, dan spesifikasi dibuat oleh owner.Tugas panitia hanya menyeleksi peserta lelang sedemikian rupa sehingga mendapat satupemenang yang sesuai kriteria dengan harga yang terjangkau (di bawah total anggaran)

Jadi, apa yang membuat kami stres??

Tekanan Pekerjaan

Kita urai dulu apa itu tekanan. Menurut ilmu fisika, tekanan adalah sejumlah beban per-luas area. Semakin banyak beban maka tekanan semakin besar. Tekanan akan kecil ketika luas area diperbesar. Jadi, seberat apapun beban jika luas area penerimanya diperbesar, tidak menjadikan sebuah tekanan (yang besar). Owner, tahun 2011 ini memerintahkan panitia untuk melelang sekitar 56 paket lebih. Tebak berapa jumlah panitianya? Ya, betul jumlah panitianya ganjil. Eits tapi bukan 7, kami hanya bertiga saja. 

Perlu pembahasan panjang kenapa hanya bertiga. Intinya, dari tujuh orang yang ditunjuk oleh Owner, dalam hal ini Dirut PLN, hanya tiga orang yang dapat meluangkan waktu kerjanya untuk menjadi panitia. Yang pertama karena dia ketua. Yang kedua karena sekretaris. Dan saya, karena saya anggota (kan ga enak kalau ada ketua, seketaris, tap iga ada anggota). Bukan berarti panitia yang lain tidak peduli, tapi pekerjaan rutin mereka di bidang masing-masing harus juga diurusi.

Jadi, berapa nilai tekanannya dari beban seberat 56 paket dibagi 3 cowok ganteng? Yup,jawabannya ‘sangat berat’.

Selain dalam bentuk volume (pekerjaan), beban juga muncul dalam bentuk psikis. Jika kita bicara lelang, maka kita bicara perusahaan dan uang. Ketika sebuah perusahaan tidak mendapatkan pekerjaan, dengan kata lain kalah dalam pelelangan, artinya mereka tidak mendapatkan uang. Apa yang terjadi (di Indonesia ini) ketika sekolompok orangtidak ‘kebagian’ uang?

Hampir setiap hari peserta lelang datang ke ruangan panitia silih berganti. Tujuannya macam-macam, ada yang sekadar ngobrol, konsultasi pelelangan, tanya update pelelangan, sampai pada ancaman. Anehnya, para peserta seakan tahu perusahaan manasaja yang lulus, tidak lulus, yang lengkap, yang kena blacklist. Padahal evaluasi pun belum selesai kami lakukan. Saya curiga, sepertinya ada buruh infotainment yang menyamar jadi office boy di kantor kami.

Bayangkan: panitia cuma tiga; mengerjakan 56 paket lebih; hampir tiap hari kedatangantamu; dan tak jarang mendapat ancaman lewat telepon pribadi atau surat resmi. Apalagi ketika pengumuman hasil evaluasi sudah dilayangkan. Maka siap-siap menerima surat yang tembusannya bisa sampai ke KPK, kejaksaan, Polri, bahkan presiden. Panitia bekerja atas dasar peraturan/hukum. Maka ketika salah melangkah, juga diselesaikan secara hukum. Apa yang anda pikirkan saat membaca kata hukum? Mudah-mudahan bukan penjara.

Pertanyaanya: dengan tekanan seberat itu, apakah ada apresiasi?

Apresiasi Perah Sapi

Iya, ada apresiasi. Setidaknya dari Tuhan dan dari isteri. Secara institusi, panitia seakan dikebiri. Diberi tanggungjawab pekerjaan melebihi kapasitasnya, tapi sistem penilaianpun kami tak punya. Aneh. Di PLN, sebuah BUMN superbodi, tidak memiliki mekanisme penilaian yang fair untuk panitia lelang. Sistem Manajemen Unjuk Kerja (SMUK) online merupakan alat ukur penilaian pegawai. Sistem ini tidak bisa mengakomodasi kinerja panitia. Ini artinya, tidak ada perbedaan antara panitia lelangdengan panitia HLN atau panitia Qurban.

Dalam sistem remunerasi yang baru, seluruh kepanitiaan yang ada di PLN mendapatkan tunjangan. P32 namanya. Mau tau jumlah yang panitia dapatkan waktu itu? Alhamdulillah, 1,2 juta. Pertahun. Artinya tunjangan panitia lelang 120 ribu perbulan. Perlu diketahui bahwa gaji pembantu saya 400 ribu perbulan #gapenting #abaikan

Mari kita tengok Peraturan Menteri Keuangan No. 100/PMK.02/2010 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2011. Honorarium panitia pengadaan barang dan jasa untuk pekerjaan konstruksi yang nilai pagunya di atas 1 triliyun (nilai pagu kami 1,2 T) ialah sebesar Rp 3.290.000,- orang per-paket. Sudah saya katakan bahwa tahun 2011 ini kami melelang 56 paket. Artinya saya di penghujung tahun ini harusnya sudah bisa beli All New Madza. Tapi apa yang terjadi, cicilan Vega ZR saja belum lunas. Aihh mateek..

Banyak orang mengira, menjadi panitia itu kaya. Bahwa ada sekian persen yang masuk brangkas kami tiap kali ada tandatangan kontrak. Bahwa ada pengaturan perusahaan tertentu untuk selalu menang. Bahwa mesti minta restu sana sini untuk mengikui lelang.Saya katakan BAHWA itu salah.

Tahun 2011 ini, saya secara sengaja mentotalkan diri masuk ke panitia lelang (karena tahun lalu, saya masih bagi waktu dengan pekerjaan rutin). Awalnya karena kasihan melihat pak ketua dan sekretaris yang punya beban pekerjaan tak manusiawi itu. Tapi kemudian saya hijrah. Dengan niat yang kuat tentunya. Pekerjaan rutin saya tinggalkan dulu, mengingat masih ada dua rekan kerja saya di sana. Lagi pula saya ingin mencoba hal baru di luar pekerjaan rutin (yang sudah saya lakukan selama tiga tahun).

Dan apa yang terjadi? Tengah tahun 2011, saya mendapatkan penilaian potensial, padahal selama 3 tahun mengerjakan pekerjaan rutin (dengan beban yang sedikit) berturut-turut penilaian saya optimal. Perlu diketahui bahwa optimal lebih tinggi daripada potensial. Ini tidak hanya mengenai uang, tapi juga karir. Parahnya, sang ketua panitia, yang punya daya tekan tinggi ketimbang anggotanya, juga mendapat penilaian potensial. Dengan tunjangan yang 1,2 juta itu.

Memang benar, panitia dekat dengan manajer. Dekat dengan General Manager. Sering menghadap ke ruangan GM. Bahkan tak jarang para pejabat datang ke ruangan panitia. Tapi untuk apresiasi kinerja, saya belum bisa menemukan hubungan yang kuat.

Maka jangan salahkan saya ketika jam lima sore sudah meninggalkan kantor padahal masih banyak dokumen yang harus dievaluasi. Karena saya harus menjemput isteri saya, yang setibanya di rumah akan masak untuk kami sekeluarga. Begitupun saya, sambil bersih-bersih rumah harus jaga anak agar tidak ganggu ibunya yang lagi masak. Maklum kami tidak punya pembantu yang menginap dan penjaga bayi. Kendaraan pun cuma satu (itupun belum lunas <– kok dibahas lagi ya..), jadi harus antar jemput isteri yang juga berprofesi sebagai dosen.

Karena hanya isteri yang mengapresiasi kinerja saya. Maka saya mencoba tegar agar tidak gentar dengan segala tekanan yang menggetar. Jika memang tak bisa membeli susu bayi, perah sapi pun jadi.

 

15 thoughts on “Apresiasi Perah Sapi (part. 1)

  1. PERTAMAX RESERVED!!!!😄
    that’s right bro…. sebenernya qta kerja tuh buat negara ato keluarga ch??? udah capek2 peras keringat tp klo gak ada timbal balik (penilaian), apa boleh baut??? kerja seadanya aja….. (bukan semaunya, tp secukupnya aja)

  2. Ihik, saya tertampar sedikit dan banyak melalui tulisan ini. Saya ngerti batasan ribetnya menjadi pantia lelang. Sering melihat pekerjaan seperti itu, dan mengenai kondisi kerja yang seringkali dibebankan seutuhnya pada satu individu. Syukurlah masih ada istri yang mendukung, lah saya? #kokmalahcurcol #abaikan

  3. insyaAllah diganjar dengan yang lebih hebat daripada all new mazda😀
    karena kerjaanmu menyangkut pelaksanaan pekerjaan yang akan dinikmati sebangsa dan senegara.
    semangat panitia lelaaaanggg!!!!!

  4. semangat kawan… saya selalu berdoa untuk kesehatan dan kekuatan kawan – kawan semua. Jalan satu2nya agar panitia total.. yang masuk kepanitiaan harus dibebaskan dari kerjaan rutin, karena kalau tidak susah untuk membagi dan seperti yang antum tulis panitia tidak masuk dalam smuk tapi pekerjaan rutin.. dan yang tidak jelas tahu – tahu nama sudah masuk kepanitiaan aja, padahal belum tentu semua mau termasuk saya.. tapi itulah PLN harus terima apapun keputusannya…

  5. Satu lagi realitas di negeri ini yang berhasil diungkap. Jika kita berpikir dari sisi spritual insyallah tidak ada istilah “perah sapi ato sapi perah” karena sekecil apa pun perbuatan baik dan ikhlas insyaallah akan mendapat ganjaran/balasan dari Tuhan YME. Tapi hari gini tidak bisa hanya bersandar pada prinsip itu, berbuat baik dan ihlas itu sudah merupakan kewajiban serta mendapatkan apresiasi yang sesuai atas usaha yang dilakukan itu hak mutlak yang harus diterima. Sistem dinegeri ini lebih banyak yang salah kaprah dari pada yang benar kaprah, banyak orang yg tidak seharusnya mendapat tempat di sistem tapi justru malah sebaliknya mendapatkan tempat yang istimewa. Itulah perlunya sebuah pergerakan dan sedikit dobrakan dari generasi muda. Tetapi akhir2 ini ada suatu situasi dimana banyak anak muda dgn pola pemikiran yang sudah tidak muda lagi (pragmatis berlebihan).. Berbuatlah untuk perubahan meskipun sedikit niscaya itu jauh lebih baik daripada sekedar berharap dan menggantungkan harapan perubahan kepada orang lain. Selamat berjuang kawan, untuk Tuhan, Bangsa dan Alamamater..!

  6. hi mam..senang melihat tulisanmu yang berarti kamu sedang mengurangi tekanan itu dengan cara menumpahkannya di blogmu….berarti kamu masih berusaha agar tetap waras. like this…

    kalo di kami, yang aktif cuma 4. sperti diketahui tak ada honor. hanya mengharap p32 di akhir tahun.. kata perpres honor dimasukan dalam pagu. tapi mamajemen tak menghendaki karena sulit pertanggungjawabnnya (mungkin), maka setiap kali kami mengalami krisis pangan setiap lembur, kami memutuskan untuk swasembada pangan setiap minggu gantian (dari gaji kami) untuk mengisi sebuah lemari kecil dengan snack2 pengganjal perut di kala lembur mengerjakan lelang. mau tahu makanan paporit kami: inaco, saltchesee kong guan, oreo, malkist roma, waffer nissin dan tanggo… dan pisang goreng yang kami titip belikan OB di kantor dikala sore. agar kamu tau mam…saya pernah lembur ngerjain lelang sampai jam stgh 12 malam di kantor pada saat saya hamil 5 bulan (kalo ga salah 5 bln). sampai saya bed rest 4 hari…

    kalau mau mengeluh, kami sudah mengeluh. kami tidak berkata, hanya pasang muka bete…dan sariawan di mulut kami yang tak kunjung henti muncul. strees..begitu kata dokter.

    kadang dikala kami sudah pusing, kami bertengkar..masalahnya sepele kadang gara2 salah nulis nomor BA..tapi setelah itu kami tertawa..menertawakan kelakuan kami sendiri yang meributkan hal yang tak penting…itu cara kami meredam stress yang ada.

    kami sudah bekerja sebaik mungkin.. berusaha tak melanggar satu pasalpun…walaupun kami stress, kami bawa tenang, ga tau deh kalo udah nyampe rumah masing2. ha3… ya tinggal yakin aja Gusti Alloh Maha Tahu..kalau ada apa2, kami yakin Dia yang akan menolong kami, karena kami ga macem2…berprasangka baik sama Gusti Alloh aja…

    Kalo soal potensial… nasib kita sama… sekian kali penilaian dapat optimal, tiba2 dapat potensial…. sedangkan bagian yang kerjanya ga ada lemburnya aja bisa dapat optimal. ya sudah.. mau diapakan.. disyukuri aja. dibikin pusing juga mo apa…ga ngaruh ..yang ada malah tambah banyak sariawan kami…

    segitu dulu lah… salam waras!!!!

    • mantap din…kita satu derita..
      tp ada yg ga sama..dini msh mending ada cemilan..dan sebagian besar menyehatkan..
      mau tau apa pengganjal perut kami klo ga sempet makan siang atau lembur: popmie!!!
      ya, sang sekretaris nyetok satu dos popmie d ruangan..
      untungnya udh ada dispenser, dan dua unit meja kerja..awalnya meja kerja cuma satu..dan ga ada air galon..itupun udh berantem2 di bagian rumahtangga..mgkn krn nonstruktural, jd susah pertangggungjawabannya..

      ya udahlah..hanya tawakal saja yg tersisa, dan berdoa agar tdk kembali masuk ke jurang keledai yg sama..

  7. Wih”, parah mas. Masa bisa begonooo. Dapat Potensial.

    Harus dapat penilaian yang lebih itu, klo perlu Sangat Optimal ato LBS lah.

    Saya aja cuman pgang Spv kecil dapat Optimal. Tapi selama jam kerja Otak berputar” dan Jantung berdebar”. Hehehehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s