Islam. Titik.

Jarang aku menyebut sekolahku adalah pesantren, walau di gapura depan tertulis ‘pesantren unggul’. Bukan karena malu, tapi memang sekolahku tidak memenuhi kriteria sebuah pesantren – setidaknya menurutku. Dimana-mana pesantren tentu ada kiayinya, ada ulama tersohornya. Di SMA-ku titel guru baru sampai pada ‘ustadz’. Gelar akademik paling bantar S. Ag (Sarjana Agama). Yang lainnya gelar akademik non-agama. Pengalaman di bidang kepesantrenan juga boleh dibilang tidak ada. Mungkin hanya dua guru yang alumni pesantren.

Kitab gundul? Itu pun tidak ada. Sebenarnya ada, tapi metode pengajarannya tidak seperti di pesantren.  Sang guru hanya membacakan kemudian siswa memberi harakatnya. Lalu guru mengartikan, dan siswa menulisnya. Itu saja. Tidak ada pembahasan nahwu dan sharaf (grammar bahasa arab). Kitabnya pun kitab yang sudah ada versi ‘modern’-nya di pasaran. Kalau kata sang guru, itu untuk pembelajaran saja.

Ada satu lagi keanehan. Biasanya kalau pesantren, itu jelas ‘aliran’ keislamannya. Ada pesantren bermadzhab Imam Syafi’i, Imam Hambali, Salafi, Muhammadiyah, dan sebagainya. Di sekolahku, itu semua tidak ada. Sekolah tidak mempunyai main stream tertentu mengenai afiliasi keislaman. Tradisional tidak, moderatpun diragukan. Uniknya, unsur-unsur ‘aliran’ itu berbeda-beda di setiap guru. Ada yang background-nya Muhammadiyah, ada yang NU, dan pergerakan-pergerakan Islam modern. Mengenai nama-nama pergerakan islam ini, jujur saja, aku baru tahu saat itu. Tadinya, aku kira hanya ada NU dan Muhammadiyah. Dan itu pun, aku kira cuma qunut sama tahlilan saja yang membedakan keduanya.

“Ikut pengajian yuk sama Bapak”, Pak Zul berbisik sehabis Ashar. Hari minggu, kami berangkat ke kota (sekolah kami ada di Kabupaten). Kami menuju sebuah masjid yang tidak terlalu bagus. Tidak ada cat warna-warni yang menghiasi. Tidak ada lukisan kaligrafi. Tidak ada menara, apalagi kubah emas. Masjid itu sangat sederhana, tapi lengkap. Kamar mandi bersih, tempat wudhu banyak. Dan yang paling penting, jamaahnya berjubel. Hampir semuanya memakai gamis. Beberapa mengenakan sorban di kepalanya. Siwak selalu ada di kantong mereka – yang mereka gosokkan ke gigi depannya sebelum shalat. Masjid itu nampak teduh rasanya. Tidak ada kata yang terucap dari mulut mereka kecuali kata-kata bijak.

Minggu depannya kami diajak lagi. Kini seharian. Setelah dari masjid itu kami menuju masjid lain. Kegiatan kami sama dengan kegiatan di masjid yang minggu kemarin. Ta’lim, menghafal Surah, dan mengajak orang-orang di sekitar masjid untuk ikut shlat berjamaah di masjid (khusus untuk laki-laki).

Sampai di sini, aku merasa ada perubahan positif dalam hidup. Shalat menjadi lebih khusyu, tidak berpikiran negatif, berkata benar jika tidak diam, dan yang lebih terasa adalah semangat ibadah yang begitu menggebu-gebu. Teman-teman yang mengikuti ‘pengajian’ ini pun bertambah banyak. Kami mempunyai ‘kelompok’ sendiri. Sehabis Isya, kami tidak langsung makan malam. Kami membuat lingkaran, mengevaluasi ‘kerja ibadah’ dan membuat program. Nama forum itu adalah musyawarah. Yang lucu dari salah satu program kami ialah menyadarkan teman-teman kami yang masih pacaran. Waktu itu kami membahasnya dengan penuh keseriusan. Setiap kelas ada penanggungjawabnya, bahkan setiap kamar. Aksinya ialah memprovokasi teman-teman yang masih berpacaran agar putus dari pacarnya. Jika mengingat ini, aku jadi pingin ketawa sendiri.

Karena selalu menjadi kloter terakhir saat makan malam, ‘kelompok’ kami pun mendapat sorotan dari beberapa guru. Kegiatan ‘musyawarah’ kami membuat aktivitas rutin belajar mandiri jadi tergeser. Selain itu, gap kami dengan siswa lainnya cukup besar. Bayangkan saja, ketika hari minggu sore para siswa sedang asik main futsal dan basket di halaman masjid, kami ‘malah’ melingkar  berdoa di tempat yang sama. Begitu ‘ritualnya’ jika kami ingin berjalan keluar. Hari itu program kami memang bersilaturahmi ke penduduk sekitar sekolah. Selain mengajak untuk shalat berjamaah di masjid, kami juga mengajak warga sekitar untuk ikut dalam pengajian rutin yang diadakan setiap minggu di kota, di masjid yang teduh itu.

Tapi entah kenapa, saat itu aku tidak merasakan keanehan apa-apa. Perilaku kami normal-normal saja. Tapi, guru-guru berpendapat lain rupanya. Maka diutarakanlah keberatan guru-guru tersebut kepada Pak Zul – yang juga guru – yang memprakarsai adanya ‘kelompok’ ini. “JIka kalian masih ingin ngaji ke kota, silakan saja. Sekolah tidak melarang. Tapi buatlah itu secara mandiri, tidak perlu diorganisir dan terpusat”, kata Pak Zul ketika kami sedang musyawarah.

Maka ramailah isu ‘tidak ada pergerakan islam di dalam sekolah’ dibicarakan guru di depan kelas. Guru yang mengomentari tentu saja yang memiliki afiliasi berbeda dengan Pak Zul. Pak Hadi, contohnya, ia menunjukkan bahwa masih ada jenis ‘pergerakan islam’ lainnya yang lebih fleksibel, lebih moderat. Aku, jujur saja, bingung bukan kepalang. Ternyata Islam tidak cuma satu atau dua. Tapi beraneka warna, beraneka rasa. Aku kira ‘Islam’ yang kemarin kami lakukan adalah Islam yang dicontohkan kanjeng Nabi. Ternyata itu barulah ‘Islam’ yang dilakukan oleh Pak Zul dan ‘kelompoknya’. Beda lagi ‘Islam’ yang diajarkan oleh Pak Hadi dan ‘kelompoknya’.  Beda dengan ‘Islam’ yang diajarkan oleh Pak Dikdik, oleh Pak Heri.

Untuk mempertegas isu ini, akhirnya sekolah mengambil kebijakan bahwa siswa tidak diperkenankan ikut dalam bentuk pengajian atau pergerakan Islam manapun di luar kelembagaan sekolah. Dan guru yang memiliki afiliasi terhadap pergerakan Islam tertentu boleh memberikan ‘ajaran Islam’-nya pada siswa. Entah itu di sela-sela jam pelajaran, atau di hari libur. Maka nyatalah sudah bahwa ternyata Islam itu banyak macamnya.

Untungnya tidak ada saling ‘menyerang’ antar-pergerakan. Mereka – para guru – menghormati perbedaan. Sistem yang diterapkan di sekolah maupun di asrama pun merupakan hasil fusi dari berbagai macam idealisme dan pemikiran (kelompok) mereka. Maka jadilah sekolah kami sekolah yang universal. Maka kami – setelah jadi alumni – tidak merasa aneh lagi dengan ‘perang’ pemikiran Islam di kampus. Karena banyak sekali terjadi tarik-menarik sumberdaya manusia antar-pergerakan Islam di kampus. Tidak hanya tarik-menarik, tapi juga saling menjatuhkan.

Aku geram sekali ketika dalam sebuah Ta’lim, seorang ustadz yang hafal Alquran dan aktif di sebuah partai dakwah, memfitnah seorang tokoh Muhammadiyah tanpa fakta yang jelas. Bahkan dia ‘mentertawakan’ Jamaah Tabligh yang kemana-mana membawa kompor. Udik. Belum lagi kepada ‘saingan’ dekatnya, Hizbut Tahrir, yang katanya tidak moderat. Aku, saat itu, hanya diam dan memohon semoga Tuhan mengampuninya.

Seorang teman asrama-ku sewaktu kuliah, bahkan dengan mudah menyatakan bahwa yang itu tuh bid’ah, yang ini juga, apalagi yang sana. Kalau bid’ah artinya sesat, dan sesat tempatnya neraka, tambahnya lagi. Aku kembali diam dan memohon agar tidak kembali lagi terjadi perang Shiffin (perang Unta) – Perang antara kaum muslimin karena perbedaan pandangan. Cukup sahabat-sahabat nabi saja yang merasakannya.

Pada hari akhir nanti, menurut hadits Nabi, hanya satu dari 73 golongan yang akan masuk surga: Ahli sunnah wal jama’ah – yang artinya Golongan yang mengikuti sunnah Nabi dan berjamaah (bersatu dalam shaf). Jadi hanya golongan yang mengikuti sunnah dan yang bersatulah yang masuk surga. Golongan yang mengikuti sunnah tapi menjelek-jelekkan golongan lain, bisa jadi bukan termasuk golongan yang masuk surga.

Cukup mengenaskan memang. Islam tidak didedikasikan dalam sebuah ajaran. Tapi sebuah pergerakan. Maka yang muncul adalah emosi kemenangan, emosi masa, dan emosi kekuasaan. Pergerakan harusnya cukup untuk memobilisasi, sedangkan ajarannya tetap sama: Islam. Titik.

(thealbayanseries)

4 thoughts on “Islam. Titik.

  1. Mampir lagi Mam. Tulisanmu yang dulu ke mana Mam ? ini seri kedua yah🙂
    Bagus! Mengenai paragraf terakhir “Pergerakan harus cukup memobilisasi… dst hingga titik. Maksudmu apa Mam ? Kan organisasinya buanyak… mazhabnya beda2. trus… ? masa’ dibubarin setiap organisasi. Jadi mirip organisasi tanpa bentuk donk, kalau hanya sekedar memobilisasi, Betul kan🙂 atau yang muncul setiap kali pemilu ada kemudian hilang setelah pemilu tiada.

    Mengenai emosi-emosi itu, yah wajarlah Mam. Namanya juga manusia bertemu dengan manusia. Dan tidak semua emosi bisa disalahkan bila dalam koridor yang benar. Sayang donk kalau manusia tidak beremosi. Betul kan ^^. Kamu cari sendiri aja dah. Tulisanmu bikin saya pening, dah jauh dan jago banget. Mudah2a menemukan. Amiin!

  2. Emosi dalam koridor Islam yang benar, maksud saya di atas. Takut salah pengertian. Saya baru ingat, masalah pokok aqidah memang sama sedangkan masalah cabang memang boleh khilafiyah atau berbeda. Jadi perbedaan ialah niscaya.

  3. saya tidak bilang ‘harus’, tapi ‘harusnya’..
    organisasi tidak perlu dibubarkan, karena manusia memang cenderung bikin perkumpulan kalo idenya sama.
    emosi yg muncul ke permukaan adalah emosi yg tidak berdasarkan kepahaman yg komprehensif..
    atas emosi inilah, pergerakan itu dibentuk, dan muncullah friksi..

    harusnya, kalo memang satu tujuan, cukup kendaraannya aja yg beda, ga usah serempet2..ga usah rebutan penumpang, ga usah umpat2an..
    kondisinya sekarang kan beda (mudah2an saya salah)..

    hehehe..saya juga pening, udahlah beginian emg susah tuntasnya..

  4. Pada hari akhir nanti, menurut hadits Nabi, hanya satu dari 73 golongan yang akan masuk surga: Ahli sunnah wal jama’ah – yang artinya Golongan yang mengikuti sunnah Nabi dan berjamaah (bersatu dalam shaf). Jadi hanya golongan yang mengikuti sunnah dan yang bersatulah yang masuk surga. Golongan yang mengikuti sunnah tapi menjelek-jelekkan golongan lain, bisa jadi bukan termasuk golongan yang masuk surga.
    ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s