sekolah laki-laki…yeaahhh..

Boleh percaya atau tidak. Aku pernah merasakan menjadi ‘malaikat’ selama setahun. Hebatnya lagi, aku menjadi malaikat pencatat amal keburukan, malaikat Atid. Perlengkapannya sederhana, hanya membawa map warna kuning yang di dalamnya ada daftar nama, tanggal dan bulan, jenis pekeraan yang tidak dilakukan, dan di bawahnya ada konversi sebuah hukuman. Hebat kan?

Tapi bukan malaikat beneran, Kawan. Waktu itu aku dipercaya OSIS SMA sebagai ketua seksi K3 (Kebersihan, Kerohanian, dan … lupa apa ya??). Tugas utamanya itu selain menyusun jadwal piket, ialah mendaftar siapa saja yang hari itu tidak melakukan aktivitas ibadah yang distandarkan sekolah. Seperti shalat lail, shalat sunnat rawatib, shalat jamaah awal waktu (tidak masbuk), dan puasa senin-kamis.
Kenapa ‘malaikat’? Karena aku mengevaluasi semua kegiatan ibadah siswa kelas 1 hingga kelas 3. Setiap hari pula. Setiap kewajiban diberi bobot nilai. Untuk shalat lail, bobotnya paling besar, diikuti puasa senin-kamis, shalat jamaah awal waktu dan shalat sunnah rawatib. Jika siswa tidak melakukan item kewajiban tadi, maka diberi nilai sesuai bobotnya. Setiap minggu akan diakumulasi dan diberikan hukuman sesuai nilai bobot. Jadi, siswa yang ‘bersih’ ialah yang pada akhir pekan nilainya nol. Mekanisme evaluasinya juga bisa dibilang menyeramkan. Ini lebih dari disetrap sewaktu SD, dengan kaki diangkat sebelah dan tangan melintang melingkari kepala. Kesalahan siswa tiap hari akan dibuka di semua muka civitas akademika, di dalam masjid.

Evaluasi itu dimulai setelah shalat maghrib. Seseorang maju ke shaf paling depan, hampir sejajar dengan posisi imam, menghadap ke jamaah (siswa). Orang yang maju ini setiap harinya berbeda. Bergilir dari siswa satu ke lainnya tiap kelas, kelas 1 hingga kelas 3. Tugasnya ialah memimpin dzikir Ya Fattah 70 kali, dan kemudian diikuti doa. Kira-kira doanya meminta dibukakan pintu kemudahan dan keberkahan. Tapi anehnya, sedikit sekali dari siswa-siswa yang menggunakan tasbih untuk menghitung dzikir 70 kali, termasuk yang memimpinnya itu. Namanya juga boarding school, bukan pesantren. Setelah itu ia memimpin hafalan juz 30. Tiap hari satu surat, kecuali untuk surat-surat pendek, maka digabung beberapa surat, yang dimulai dengan ucapan, “hayya ‘alal muraja’ah surah …..”. Maka serentak 60-an siswa bergemuruh melantunkan surat-surat juz 30. Ada yang masih buka-buka Alquran. Ada yang ngintip-ngintip. Dan beberapa hafal di luar kepala. Memang, jika diulang setiap hari, mau siapa pun orangnya, rasanya sulit untuk tidak ingat. Maka boleh dikatakan, lulusan sekolah ini minimal telah hafal juz 30. Perkara dia masih ingat atau tidak, itu masalah lain, Kawan.

Ini saat yang paling menegangkan. Gema lantunan surat juz 30 tadi berangsur-angsur merendah dan hening. Siswa-siswa menelan ludah karena kelelahan telah berteriak-teriak menghabiskan hafalan suratnya. Aku bergegas ke lemari tempat penyimpanan Alquran, untuk mengambil map kuning ‘malaikat Atid’.

“Man muta akhiran fii hadzal yaum?”, tanya seorang guru yang barusan jadi imam. Maksudnya, siapa saja yang terlambat shalat jamaah, tidak shalat sunnah, dan tidak puasa senin-kamis (jika hari itu hari senin atau kamis), diharap berdiri. Maka bermunculanlah satu-satu siswa yang merasa lalai melakukan aktivitas ubudiyahnya. Dari balik tiang, dari shaf paling belakang, dari ujung shaf sebelah kiri sehingga membuat sang guru harus menungging-nungging untuk melihat mukanya. Ditanya satu-satu. Aktivitas ubudiyah apa yang ia lalaikan, beserta alasannya. Jika yang berdiri adalah muka-muka lama, biasanya guru tidak lama-lama bertanya. Para ‘terdakwa’ yang berdiri itu mempunyai hak menjawab dan membela. Jika alasannya syar’I alias bukan alasan kemalasan, maka guru mempersilakannya duduk, artinya aku tidak jadi menuliskan kesalahan di map kuning itu. Mereka juga berhak mempertanyakan temannya yang sama-sama terlambat tapi tidak berdiri. Kebebasan berbicara di sekolah ini dijunjung tinggi. Asal ia berani, jujur dan bertanggung jawab. Asal ia masih sopan dalam berbahasa dan bersikap. Budi pekerti itu juga harus dididik. Karena sudah langka sepertinya manusia yang mempunyai sifat-sifat demikian di Negara ini. Bahkan segerombolan wakil rakyat yang gelarnya berderet-deret, yang hartanya berlimpah-limpah, yang wawasannya meluas-luas, tetap saja tidak bisa menjaga sikap. Seperti anak TK, kata mendiang Gus Dur.

Bisa saja siswa-siswa itu menyembunyikan kesalahannya dengan tidak berdiri ketika guru bertanya man muta akhiran fii hadzal yaum? Tapi kejujuran sangat berharga disini, Kawan. Sekali saja ketahuan nyontek, tamatlah riwayatmu. Bukan lagi merah, tapi nol. Sekali saja bohong, maka akan terus dicurigai. Dan tugas berat itu sebenarnya ada padaku sebagai pemegang map kuning. Sebagai pencatat ‘amal keburukan’ siswa perhari. Maka di sini aku tidak lagi memandang siapa ‘tersangka’ yang sedang berdiri. Apakah dia senior, apa dia teman sekamar, apa dia yang kemarin member pinjaman uang. Semuanya harus tercatat, karena di akhir semester, selain dibagikan rapor, sekolah juga melampirkan rekapitulasi data kelalaian ubudiyah para siswa. Dengan memegang map kuning itu, bukan berarti aku luput dari kesalahan. Ketika aku lalai, aku menyerahkan map kuning itu pada siapa saja yang dekat denganku untuk mengisinya. Tapi, biar bagaimanapun aku selalu berusaha untuk tidak berdiri saat ‘sidang’ itu.

Ini baru satu peraturan tentang evaluasi ibadah harian. Rumit, bukan? Di sekolah asrama-ku ini, kami diwajibkan bangun tidur jam 4 pagi (bergantung Shubuh jam berapa). Sesuai daftar yang ada di map kuning tadi, Shalat Lail. Jadi shalat lail adalah’ wajib’ bagi kami. Setiap hari. Khusus untuk hari minggu, shalat lail dilakukan berjamaah. Jika ada yang telat (masbuk), maka akan masuk pencatatan map kuning. Beda bobot nilai antara yang telat (masbuk) satu rakaat dengan lima rakaat. Semua itu diperhitungkan. Tapi bobot nilainya tidak lebih besar jika siswa benar-benar tidak melaksanakan Shalat Lail.

Setelah shalat shubuh, jadwal berikutnya bukan kembali ke kamar tidur. Jam pelajaran pertama sekolah ini, dimulai setelah shalat Shubuh. Gila, kan? Pelajarannya tentu saja pelajaran agama. Tapi jangan khawatir, di sini tidak ada kitab kuning, kitab gundul, atau yang lainnnya. Buku pelajaran agama di sekolah ini diambil dari buku Madrasah Aliyah (MA) yang dikeluarkan Depag. Jadi, boleh dikatakan sekolah ini adalah gabungan antara SMA, MA, dan sedikit berbau pesantren, karena berasrama.

Selesai jam 6 pagi, terkadang jam setengah enam. Setelah berduyun-duyun kembali ke asrama, melepaskan sarung, peci, buku, kami tidak tidur, tapi mengantri mandi. Perbandingan kamar mandi di asrama mungkin 1:4. Itu pun jika semua kamar mandi berfungsi dengan baik. Biasanya hanya 6 dari 10 yang berfungsi. Jam setengah tujuh harus segera sarapan, karena jam 7 masuk kelas (lagi). Jam pelajaran berakhir (sementara) bukan jam 12 siang, tapi jam 3 sore. Jika beruntung tidak masuk dalam daftar remedial, siswa bisa menghabiskan sore dengan main bola, basket, atau menggelayuti pohon rambutan di pinggir lapangan. Sore hari adalah jam-jam berharga semua siswa di sini. Karena itulah waktu yang bisa melepas kepenatan seharian. Sebab setelah maghrib, masih ada pelajaran (lagi). Setelah makan malam, tidak ada teve. Semua siswa ‘wajib’ belajar mandiri atau berkelompok di asrama. Tidak bisa kemana-mana, karena akan ada guru piket yang memantau jam belajar malam itu. Dan jam sepuluh malam, semua harus tidur. Siapa berani begadang, berarti taruhan untuk tidak bangun jam 4 pagi. Ffiuuhh… di sini Anda boleh bernafas.

Apapun tentang sekolah ini, yang pasti ia menjadi titik balik banyak siswa. Termasuk aku. Dan masih banyak lagi cerita haru-biru yang melekat. Tentang Hari Orang Gila Nasional. Tentang Pesantren (kilat) Ramadhan. Tentang Kolam Ulang Tahun. Tentang Skandal-skandal Terselubung. Tentang Tarbiyah, Khuruj, dan FAFA. Tentang banyak hal yang seharusnya menjadi memori indah. Walau sekolah ini hanya menerima siswa laki-laki yang berjumlah tidak lebih dari 24 per kelasnya. Yang lokasinya terisolasi oleh dua kampung yang bahkan mendengar namanya saja asing. Yang nangkring di kaki bukit dari puluhan bebukitan di Sukabumi. Boys dont cry, begitu kata Pak Zul, Karena kita ini laki-laki, dan akan terus menjadi laki-laki — sejati. Bukan begitu, Kawan?

(thealbayanseries)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s