jadi rindu RSCM..

Selepas isya ingin cepat tidur. Bukan karena ngantuk. Tapi karena ada pertandingan leg. 2 Arsenal-Porto. Ya, beginilah resiko jadi fans, gooners. Alarm sudah diset, niat sudah dipanjatkan, doa sudah diucapkan.

Terbangun. Tapi bukan jam 3.30. Masih terdengar suara2 motor dan mobil di jalanan. Masih jam 1 pagi. Isteri saya juga terbangun, dan ke kamar mandi. Saya berusaha tidur kembali karena laga big match masih lama. Tapi tidak, isteri kembali ke kamar, “a, keluar darah..”, wajahnya pucat dan ke tempat tidur sambil menangis. Aku menenangkannya.

Jam 2 kurang, ia kembali terbangun. Ingin pipis, katanya. Aku menunggu cemas. Kali ini ia kembali dengan kondisi sudah mandi dan mengisi beberapa pakaian ke dalam tas, “kita ke rumah sakit..”,katanya mendadak. “Kapan?? Nanti??”, kataku masih bingung. “indri pendarahan, kita harus ke rumah sakit. Sekarang!!”

Destinasi pertama, rumah sakit Grestelina. Ruang informasi dan registrasi tidak ada yang melayani. Karyawannya tidur beralas tikar. Kami nyelonong ke UGD. Dokter obgyn yang satu umrah, satunya lagi ke jakarta. Yang ada hanya dokter umum. Kami putuskan cari tempat lain.

Sepuluh menit nongkrong di pinggir jalan menunggu taksi, kami menuju rumah sakit Bunda. Ternyata sama. Tidak ada dokter obgyn ataupun residen yang standby. Isteri saya yang juga dokter umum, ngotot ingin diperiksa saat itu juga. Ia tidak menerima saran suster jaga untuk kembali nanti siang. Kami pun dirujuk ke rumahsakit akademis.

Kami melaju, masih dengan taksi. Tujuan kami ubah ke rumah sakit Cathrine Booth. Karena spesialisasinya di ‘ibu dan anak’. Dan beberapa rekomendasi para ibu.

Ketika ditanya, apakah ada dokter obgyn, suster mengiyakan. Isteri saya dIperiksa, tapi bukan oleh dokter, melainkan bidan. Ternyata maksudnya ‘ada’ itu dokternya ada di rumah dan siap dipanggil dlm keadaan darurat. Bidan melihat keadaan istri saya tidak dalam darurat. Kami disarankan kembali nanti siang.

Karena sudah jam 3 pagi, kami tidak meneruskan mencari rumahsakit lagi. Kemungkinan akan sama hasilnya. Saya pun mengajak isteri saya istirahat dulu di rumah, dan periksa kembali nanti pagi. Dengan penuh kekecewaan, ia menurut saja. Dan berkomentar, “jadi rindu RSCM..”, katanya. Walau gedung tua, di RSCM dokter selalu siap. Minimal residennya. Maklum lah alumni sana.

Dengan mocha dan chocolate hangat kami pulang. Isteri istirahat, saya bergemuruh di Emirates Stadium melihat aksi Nasri dan kawan-kawan. Dan Arsenal pun penuh percaya diri melaju ke perempat final, dengan skor 5-0 saja untuk Porto.

Setelah cukup istirahat, kami tanya-tanya rumah sakit mana yang dokter obgynnya sudah standby pagi-pagi. Survey mengatakan rumah sakit Catherine Booth, dokternya bisa langsung dipanggil biar jam 7 pagi. Tapi nampaknya isteri saya masih mau melanjutkan tidurnya, panasnya pun belum turun.

Jam 10an kami panggil taksi lagi, tujuan kami kali ini Budi Mulya, karena dokternya sudah ada jam segitu dan lokasinya yang tidak jauh seperti Catherine Booth. Selepas Shalat Dhuha, kami berangkat. Semoga selamat.

*hingga tulisan ini diposting (jam 11.20 pagi) dokter obgyn yg ktnya sdh ada jam 10, belum juga tiba..bener kata isteri saya “jadi rindu RSCM..”

2 thoughts on “jadi rindu RSCM..

  1. Assalammualaikum.

    Lho…Mam, kamu dah nikah ? kok ga denger kabar beritanya yah…?
    Atau saya saja yang jarang muncul…?! Barakallah untukmu. Mampir, baca2 yah.

  2. walahhh kayak gak tau aja kondisi pelayanan kesehatan di daerah-daerah😦
    jarang banget ada dokter yang BERSEDIA IKHLAS HATI bertugas di daerah🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s