Cincin (kawin)-nya mana???

Pernah suatu ketika saya hendak bergegas pergi ke suatu tempat. Karena telat bangun, jadi semua persiapan serba ekspres. Sambil mengingat-ingat apa lagi yang belum dimasukan ke dalam tas, saya terus keliling-keliling kamar. Dompet sudah, jam tangan tinggal dipake, hape sudah di kantong, dan lain-lain. Dirasa lengkap, keluar lah saya menuju pintu rumah. Saya rogoh kantong celana. Tapi ternyata tidak ada. Yang ada hanya hape dan uang receh. Saya kembali ke kamar, liat sana, liat sini. Kasur yang tadi saya rapikan, diberantaki lagi. Meja buku pun demikian. Semua laci diperiksa. Perasaan tadi semua barang-barang penting saya letakkan di atas meja. Ada dompet, hape, jam tangan, kunci, dan tas. Dan udah diobrak-abrik itu kamar, tetap saja kunci tidak ditemukan. Sudah gelisah karena telat. Sudah gerah karena mati lampu. Dan coba-coba cari di tas, ternyata kuncinya ada di sana: bagian depan tas. Fiiuh.. Ketawa sendiri. Dan baru ingat ternyata tadi memang simpan kunci di sana. Dasar, Short-term memory.

Short-term memory. Pelupa. Kalau orang sunda-Tangerang bilang, lenggotan. Artinya suka kehilangan sesuatu atau lupa terhadap sesuatu padahal beberapa saat yang lalu dia masih memiliki/memakai sesuatu itu. Itulah penyakit yang entah kapan sudah ada di bagian diri saya. Kejadian ‘kunci pintu’ tadi itu hanya sebagian saja.

Nah, tapi ada kejadian baru-baru ini yang sedikit membuat hati saya sangat gelisah, sekaligus teman kantor (se-ruangan). Cincin kawin. Ya, cincin nikah/kawin yang dipasang secara simbolis selepas akad nikah antar kedua mempelai. Awalnya memang saya agak rikuh untuk memakai cincing. Belum biasa mungkin. Selain gatal juga sepertinya saya masih terlalu muda untuk memakai cincin kawin, hehehehee.. (untung isteri lagi ga online). Isteri saya lah yang ngotot agar cincin itu jangan cuma simbol, tapi juga dipakai seperti dia memakai cincin yang sama di jari manisnya.

Tiba-tiba cincin itu hilang. Tak ada di jari manis saya. Waktu itu, kami ingin memindahkan sebagian dokumen-dokumen tua di ruangan ke gudang. Saat hendak naik lift, saya melihat ada yang aneh di tangan kanan saya. Kok, jarinya telanjang ya?, pikir saya.

“Loh, cincinnya mana?”, sambil rogoh-rogoh saku celana.

“Di mushalla mungkin, pas wudhu..”, seorang menyahut.

Saya bergegas menelusuri jalan yang tadi saya tapaki. Seperti me-rewind kaset hingga 30 menit yang lalu. Meja kerja tidak ada, di lantai apalagi. Saya coba ingat-ingat lagi. Waktu shalat dan makan, hampir lupa apakah masih pakai cincin atau sudah tidak ada. Coba tanya teman yang tadi ikut makan, juga tidak tahu. Tanya teman yang tadi shalat bersebelahan, ‘masa iya, orang shalat mau lirik-lirik cincin’. Akhirnya kembali ke tempat kerja. Coba mencari lebih detail. Sekalian membereskan kertas-kertas dan dokumen yang menumpuk di atas meja.

“Itu apa?”, kata seorang teman sambil menunjuk laptop.

Saya berbalik, dan ternyata cincin kawin itu ada di atas laptop. Fffiuuhh.. Saya baru ingat, ternyata sebelum kami mau pindahkan dokumen-dokumen ke gudang, saya sempat melepas cincin dan meletakkannya di atas laptop yang baru saja saya nyalakan selepas istirahat siang tadi.

Tadinya mau pura-pura ketinggalan di kantor, kalau pulang ke rumah. Soalnya bakal marah besar dia kalau cincin itu sudah tak lagi dipakai di kantor. Tapi untung masih cincin yang kelupaan, coba kalau isteri, bisa lebih gawat…heheheeheee..

5 thoughts on “Cincin (kawin)-nya mana???

  1. selamat buat imam,
    hm… untuk saya dan suami, saya perlu waktu sekitar sebulan lebih untuk bisa “sepaham” masalah cincin nikah.. akhirnya suami yang ngalah sih, cincin yang sewaktu minggu-minggu awal pernikahan hampir selalu terlupa, eh.. sekarang malah ia yang lebih dulu ingat.hehe..
    “kaderisasi” yang sukses :p
    cincin nikah, yang suami saya sering sebut dengan nama lain, “cincin pelindung”, haha.. dengan pancaran sinar dari cincin itu maka semuanya akan “menyingkir”.
    (haduh, apa sih ini teh :D)

  2. Dengan pakaian rapih kami menyaksikan wisuda anak pertama kami. Saya menggunakan mobil sewa, yang saya baca di iklan baris. Saya berpakaian lengkap jas dan dasi. Isteri salonan dengan kebaya bagus. Di Balai sidang kami meneguk kopi yang harganya mahal untuk kantong kami. Bikin foto dokumentasi selain resmi juga mengalah pada tukang foto amatir. Setelah sebulan isteri saya tidak menemukan cincin kawin kami yang biasa disimpan dalam kotak perhiasan. Kedua cincin itu memang sudah tidak pas lagi untuk jari yang semakin tambun. Tanpa kompromi, jalan bantu cari duit, cincin kawin dilego buat penampilan sehari. Untung sang isteri terkasih memaklumi…. soalnya aku lagi tidak punya gawean. Pernikahan bukan karena cincin tetapi karena kasih. Untung masih saling mengasihi, kalau tidak semuanya ludes.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s