Chapter 3: Lakmus

The_Introvert_by_twinklepunt

Entah dari mana asalnya, aku terkesan melankolis menurut teman-teman. Sampai ada yang bilang, introvert. Lebih parah lagi, ada yang bilang, romantis. Menurut Personality Test, aku memang masuk golongan melankolis. Dan menurut pendapat teman se-asrama, aku dinilai introvert. Yang bilang romantis tentu terlalu mengada, tapi – entah kenapa – dia begitu yakin.

Waktu kecil, aku tak laku jadi bos. Aku selalu terpinggirkan. Aku iri dengan sepupuku yang selalu dikelilingi teman-temannya. Karena merasa mampu bersaing, aku memilih jadi oposisi – walau nol anggota. Maka selama ‘masa pemerintahannya’, aku selalu ter-alenia-kan. Tapi, aku seringkali hadir sebagai penyedap. Menawarkan guyonan, permainan baru, atau rela menjadi ‘kucing’.

Posisi yang seringkali terpinggirkan ini, membuatku menjadi seorang pejuang yang kuat, dengan tekad: akan aku buktikan pada kalian bahwa aku bisa!! Itu power yang selalu menjadi pijakan hingga saat ini. Aku orang yang mudah terprovokasi. Seperti lakmus yang berubah warna ketika ‘lingkungan’-nya berubah. Maka ESQ bisa membuat air mataku tumpah ruah, dan GIGI bisa membuatku berjingkrak-jingkrak sampai serak.

Teman satu kelompok sewaktu kuliah bilang, kalau aku seorang yang perfectionist. Jika dia melakukan pengamatan duakali, maka aku bisa tiga sampai empat kali. Jika dia menganalisis hanya dua lembar, maka aku lebih dari itu. I just wanna show my best. Maka deadline sangat penting bagiku. Dan seringkali pekerjaan-pekerjaan penting dilakukan di saat injured time ini. Tugas Akhir sarjana-ku diselesaikan secara dramatis. Dua lomba penelitianku juga mengalami hal serupa walau sudah dibuat jadwal pekerjaannya. Yang terakhir, tulisan masa on the job training di perusahaanku sekarang, ditulis dalam tempo sesingkat-singkatnja. Ambisi tinggi, perfectionist, bisa jadi menjadikanku seorang penyendiri yang melankolis.

Tapi disebut pendiam pun tidak. Jika tertawa aku paling keras. Jika cerita aku seperti orang kesurupan. Aku cenderung diam ketika masih belum bisa menyamakan suhu dengan lawan bicara. Aku pemalu kalau harus kenalan, menegur orang, bicara di depan umum, bicara formal, tawar-menawar harga dengan tukang becak. Tapi ketika suhu sudah sama, maka larutan pun jadi homogen. Dan di sini berlaku Hukum Newton III, Aksi-Reaksi. Sifat dasarku diam, maka akan diam jika menghadapi orang yang diam. Tapi aku akan berisik jika orang di depanku juga berisik. Jika aku melankolis, perfectionist, maka penyeimbangnya adalah orang yang realistis dan periang (berisik).

Bisa jadi kadar melankolis adalah kontribusi Gibran dan Supernova-nya Dewi Lestari. Aku mulai ‘membaca’ dan menulis ketika SMA. Itu pun karena terbawa suasana. Asalnya aku seorang pemalas baca, apalagi menulis. Tapi tulisan Gibran membuat aku jadi pemikir dan seringkali penyendiri. Setelah Gibran, berikutnya Andrea Hirata, Paulo Chelo, Anis Matta, Helvy Tiana Rosa, Emha Ainun Najib, Erbe Sentanu, bahkan Robert T Kiyosaki. Dan tulisanku – bisa dikatakan – adalah karedoks-isasi dari buku-buku yang kubaca. Boleh jadi, tulisanku lah yang akhirnya menjadikan aku orang yang melankolis. Sudah kubilang, bahwa melankolis adalah kadar, jadi persentasenya bisa saja berubah, bergantung pelarutnya.

‘Membaca’, tidak harus dengan membaca buku. Aku orang yang visual. Lebih senang pergi ke alam luar dari pada mendekam di kamar sempit. Membaca bisa jadi melihat hiruk-pikuk lalu lintas, terminal, pasar, menikmati angin pantai, hawa sejuk pegunungan, duduk mendengar keluhan teman. Itu lebih kusukai dari buku-buku tebal di Gramedia.

Menerebos bebukitan, menghirup halimun di pegunungan, berkemah di puncaknya, adalah rasa yang tak bisa dibandingkan dengan novel fantasi atau film science-fiction sekalipun. Jika berbicara petualangan, aku ingin sekali berkeliling Nusantara, berlibur di Eropa, menikmati Perancis dan Inggris.

9 thoughts on “Chapter 3: Lakmus

  1. waktu pertama kali masuk asrama salman…
    saya merasakan hal yang sama.
    “kang imam tu dingin!”

    tapi, setelah suhu kita sama…
    baru kutahu…
    kang Imam?
    pemikir, ulet, pekerja tengah malam, iseng, suka ngeledek, perhatian, immaculate, dalam….

    apapun namanya… melankolis, plegmatis, sanguinis, ataupun koleris…
    Saya menghargai kang Imam,
    karena Kang Imam seperti apa yang ada di mata saya…. dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada…

    salam, buat calon ibunya anak2 Kang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s