Kepompong (Chapter 2)

Metamorphosis_by_falling_petal

Spongebob dan Patrick bingung ketika ulat milik Wendy berubah menjadi kupu-kupu. Padahal mereka sangat senang bermain-main dengan ulat. Spongebob pun menuduh kupu-kupu telah memakan ulat kesayangan mereka.

Kesalahannya bukan pada kupu-kupu, tapi pada ‘daya tangkap’ warga Bikini Bottom yang tak ada makhluk bernama kupu-kupu selama ini. Kupu-kupu terlalu indah jika harus disangka pembunuh. Bahkan Spongebob tidak tahu adanya proses metamorphosis tersebut. Bahwa ada kepompong sebelum menjadi kupu-kupu.

Terkadang orang di sekeliling kita pun berlaku seperti warga Bikini Bottom. Menyimpulkan sendiri ‘makhluk asing’ yang selama ini tidak dikenalnya. Menuduh, mencerca, atau membunuhnya. Dan manusia sendiri, pada hakikatnya, berlaku seperti ulat yang berusaha menjadi kupu-kupu. Permasalahanya, tidak ada yang benar-benar tahu sedang berada di fase manakah kita: masih ulat, dalam kepompong, atau sudah menjadi kupu-kupu.

Aku dibesarkan di lingkungan Islam NU, ada tahlilan, shalat tasbih, marhaba tiap malam jumat, perayaan ini, perayaan itu. Wawasanku terhadap agama, Tuhan, bahkan hidup ini, sangat sempit. Masa ketertinggalan itu berakhir ketika aku sekolah berasrama di Sukabumi, Albayan Boarding School. Orang sering menyebut sekolahku ini pesantren, tapi menurutku salah karena tidak ada kiayi di sana. Yang ada hanya guru-guru muda yang memiliki semangat dan idealisme yang tinggi. Dan spektrum fikrah (pemikiran) agama pun terlihat dari mereka. Ada NU, Muhammadiyah, Tarbiyah, Jamaah Tabligh. Aku merasa di-kepompong-i disana.  

Wawasanku terbuka. Ada cita-cita, ada visi, ada misi, ada rencana. Dan Albayan mengantarkanku ke gerbang Ganesha. Suatu hal yang sama sekali tidak pernah masuk daftar rencana hidupku. Di ITB, spektrum fikrah agama semakin luas. Wawasan pun semakin terbuka. Bahkan aku hampir tiga tahun tinggal di asrama Masjid Salman ITB. Konon, tempat ini mejadi basecamp perjuangan mahasiswa islam di zaman orde baru. Berbagai cap pun berdatangan kepadaku: orang PKS lah, anak masjid lah, orang salman, Hizbut Tahrir, Salafi, dan lain-lain. Yang pasti, rasa kepompong disana lebih ‘nano-nano’. Manis asam asin.

Harusnya, ulat setelah melewati masa kepompong, berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Tidak denganku, setelah dua kali mengalami fasa kepompong, hari ini aku masih belum bisa menjadi kupu-kupu. Tapi ulat pun aku bukan. Aku merasa masih harus banyak dikepompongi.

Anehnya, orang di sekelilingku seringkali berlaku seperti warga Bikini Bottom. Menganggapku sudah terbang menjadi kupu-kupu. Padahal itu kupu-kupu dari ulat yang lain. Aku sendiri masih di dalam kepompong. Masih meringkuk sendirian mengintip-intip apakah ada di luar sana ulat yang akan bermetamorfosa juga. Karena kurang sempurna rasanya jika kupu-kupu terbang sendiri di taman bunga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s