Electron (Chapter 1)

electron_orbitals_by_rocqua

Golongan VIIIA dalam sistem periodik unsur kimia disebut golongan gas mulia. Emas salah satu anggotanya. Golongan VIIIA ini memiliki jumlah electron yang genap dan mengisi seluruh ‘kamar’ dalam lintasan kulitnya. Gas mulia menjadi ‘mulia’ karena sifatnya yang tidak bisa lagi ‘berselingkuh’ dengan unsur lain. Unsur akan berikatan dengan unsur lain jika ada kepentingan saling menguntungkan di dalamnya. Natrium (Na+) yang memiliki electron sisa (electron terluar/electron valensi) satu elektron bermuatan positif bersedia mengikat Chlor (Cl) yang memiliki satu electron valensi bermuatan negative. Maka jadilah mereka NaCl yang sering kita namakan garam. Jumlah electron mereka kini genap dan seluruh kamar terisi. Kini mereka serupa dengan gas mulia. Stabil.

Unsur dengan electron valensi yang tidak berpasangan dalam lintasannya akan bersifat labil. Kenyataannya sangat sulit menemukan unsure dengan kondisi seperti itu berkeliaran di semesta ini. Oksigen berkeliaran dalam bentuk O2. Ada ikatan antar-mereka, O – O. Semakin banyak jumlah kulit suatu unsur yang memiliki electron valensi tidak berpasangan, maka kecenderungan dia untuk melakukan ikatan akan semakin mudah. Karena semakin banyak kulit, electron tersebut akan semakin jauh dengan inti atom. Gaya tarik-menarik pun semakin rendah. Energy untuk melakukan ikatan tersebut disebut energi inonisasi atau energi potensial. Pada keadaan seperti itu, energi ionisasi yang dibutuhkan kecil. Permasalahannya, tentu saja, apakah ada unsur lain yang berbeda muatan yang juga membutuhkan electron valensi agar ‘kamar’ dalam lintasannya terisi lengkap. Stabil.

Anggap saja aku adalah unsur X yang memiliki electron valensi +1, maka permasalahannya apakah ada unsur Y, misalnya, yang memiliki electron valensi -1. Energi potensial sudah terlalu mudah karena sang electron sudah terlalu jauh dengan inti-nya. Unsur X pun sudah kadung labil. Maka ia butuh unsur Y itu segera. Agar seluruh kamar lintasan-nya terisi. Agar ia bisa menjadi gas mulia. Stabil.

Duapuluh tiga tahun sepertinya cukup menjauhkanku pada inti atom. Pada umur lima belas tahun, aku masuk SMA berasrama di Sukabumi. Selanjutnya 4 tahun lebih kuliah di Bandung. Dan sekarang, kerja di Makassar. Anggap saja inti atom itu adalah keluargaku, maka aku sekarang berada di lintasan yang sudah jauh dari intinya. Lebih parah lagi, aku sendirian di lintasan itu. Sehingga mudah bagiku tereksitasi. Labil.

Unsur Y yang aku tunggu kehadirannya itu mungkin melimpah keberadaannya, tapi apakah sesuai sifat-sifatnya, keelektronegatifannya, afinitas electron, energy ionisasi, dan sebagainya.

7 thoughts on “Electron (Chapter 1)

  1. @ kang ganda:
    upps..saya lupa..pokoknya golongan yg paling kanan lah..lupa di sana ada apa aja..
    terimakasih koreksinya..

    @muy:
    zzzzz..

    @mif:
    sumpah..gw ga kesampean baca artikelnya..heheheh..
    udh karatan kyknya kimia gw..

  2. nyari artikel ttg elektron berbahasa indonesia jadi ke sini, hehe,kirain. tulisan2ny keren, sumprit, ikut komen y kk

    “Unsur Y yang aku tunggu kehadirannya itu mungkin melimpah keberadaannya, tapi apakah sesuai sifat-sifatnya, keelektronegatifannya, afinitas electron, energy ionisasi, dan sebagainya.”

    sifat unsur Y dari benda ‘mati’, kyknya berbeda dengan unsur Y yang berasal dari benda ‘hidup’. ketika unsur Y dari benda hidup tertarik dengan suatu unsur Y, dia bisa mengubah sifat keunsurannya sendiri agar sesuai dengan sifat unsur X. perubahan sifat unsur sendiri bisa terjadi misalnya dengan penembakan neutron tertentu ke inti unsur Y sehingga massa atomnya berubah, atau lewat reaksi fisi/peluruhan spontan.

    the point is, klo mo menuju kesetimbangan, mungkin g cuma nunggu ‘dihampiri’ unsur Y, yah ga salah kali klo ‘usaha’ dikit.. 1lg yang mnembakkan neutron ato ‘maksa’ meluruh g harus si unsur X nya sendiri, unsur lain juga bsia😀 nah klo melibatkan unsur lain, hubungan antar partkelnya beda lagi.. fiuhh..

    CMIIW kang, sekali lagi, artikelnya keren2 :thumbs:

  3. koreksi… =.=”

    sifat unsur Y dari benda ‘mati’, kyknya berbeda dengan unsur Y yang berasal dari benda ‘hidup’. ketika unsur Y dari benda hidup tertarik dengan unsur X, dia bisa mengubah sifat keunsurannya sendiri agar sesuai dengan sifat unsur X. perubahan sifat unsur sendiri bisa terjadi misalnya dengan penembakan neutron tertentu ke inti unsur Y sehingga massa atomnya berubah, atau lewat reaksi fisi/peluruhan spontan.

    \o/

  4. adanya penembakan neutron, artinya proses sdh tidak lagi natural, tp ad bantuan atau rekayasa lain…
    segala rekayasa memang bisa dilakukan..bahkan utk mati sekalipun, bisa direkayasa..

    tp yg pasti tulisan di atas bener2 sisa2 ingatan waktu sma..mgkn ada yg lewat2, yg lupa..maapin ajah..hehheee…
    itu hanya metafor aja utk gambarin reaksi ikatan antar manusia..hehehee..
    maap gan..
    thanks for comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s