Setengah Cangkir Kopi

i_love_coffee_by_mj_coffeeholickTemanku bilang bahwa kopi diminum hanya untuk membuat mood kita bagus. Karena setelah itu biasanya ide-ide kreatif bermunculan. Peneliti di Harvard bahkan menemukan fakta bahwa peminum kopi memiliki resiko terkena diabetes lebih kecil. Kafein yang terdapat dalam kopi ternyata membantu meningkatkan metabolisme tubuh sehingga dapat proses pembakaran akan lebih banyak. Tapi, cukup dua cangkir saja setiap harinya. Tidak lebih.

Seperti siang yang mendung ini, aku duduk sendiri di sebuah kedai kopi di Bandung. Menunggu teman kuliahku yang hampir dua tahun tidak bertemu. Aku bekerja di perusahaan BUMN di Makassar, sedangkan ia di perusahaan swasta di Bogor. Kami kuliah di jurusan yang sama di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.

Ariel namanya. Ia bobotoh Persib. Ia tak pernah absen jika Maung Bandung bertanding di Stadion Siliwangi atau Si Jalak Harupat. Tahun Pertama di kampus, kami tidak begitu dekat. Ariel punya pergaulan sendiri dengan alumni SMA-nya, SMA 5 Bandung. Pergaulan anak muda Bandung yang fashionable, nongkrong di Dago, hunting distro, momotoran (touring geng motor) dan wisata kuliner.

Tapi pada Tahun Kedua, Ariel mulai terlihat beda. Ia tak lagi nongkrong dengan teman-teman SMA-nya. Ia sering terlihat sendiri di kantin, di perpustakaan, dan di kelas. Aku tak tahu kenapa ia begitu berbeda. Aku juga tak berani menegurnya. Aku bukan siapa-siapanya saat itu.

Tapi Joe membuka tabir itu. Joe – teman satu kelompokku saat Tahun Pertama – tampak sangat ‘dekat’ dengan Ariel. Mereka makan bersama di kantin. Duduk bersebelahan di ruang kuliah. Dan pergi ke Mushalla bersama. Padahal, setahuku, Ariel bukan orang yang sering datang ke Mushalla. Paling tidak selama ia kuliah di sini. Tapi Joe, perlahan mengubahnya. Joe, memang sosok orang beragama dan berilmu di antara teman satu jurusan lainnya.

Joe seperti menyediakan kepompong yang akan memetamorfosa-kan Ariel menjadi kupu-kupu. Joe aktif dalam organisasi keagamaan. Ariel seperti ditarik-masuk dari jalan raya ke dalam ‘mobil’ yang ditumpangi Joe. Maka Ariel pun punya kecepatan kini. Punya ambisi. Punya tujuan. Joe navigatornya. Ia punya ‘habitat’ baru. Bahkan terkadang ia lupa kembali ke rumah asalnya. Joe memberinya ruang tak hanya sebagai teman. Lebih dari tu.

*

Motor Kharisma tiba dari kejauhan. Tertempel lambang Persib di kepala lampu depannya. Masih dengan pelindung dada yang ia beli di Pasar Jumat di sepanjag jalan Ganesha. Masih seperti dulu. Masih seperti ketika Ariel dekat dengan Joe. Ariel membuka helm full-face-nya. Dan perubahan itu terletak di mukanya. Pucat. Matanya nanar. Otot mukanya kaku. Aku tak tahu apakah Ariel sedang sakit hari ini.

Aku memesan kopi untuk Ariel. Mempersilakannya duduk. Basa-basi Tanya kabar. Melempar joke-joke standar. Tapi muka Ariel masih pucat. Kaku. Something wrong, I think.

“Salma mau nikah,” ia membuka pembicaraan dengan pernyataan yang mengejutkan.

“Sama siapa?” kataku mengernyitkan dahi.

“Bukan ama gua”, jawabnya parau. Suara yang sangat berat.

Dan hujan pun turun dengan derasnya siang itu di langit Bandung. Semesta pun menangis. Salma adalah oase keduanya setelah Joe. Salma adalah salah satu penumpang dalam ‘mobil’ yang Joe bawa bersama teman-teman di organisasinya, termasuk Ariel. Salma ialah mata air surga buat Joe. Ia seorang wanita khayangan. Yang jilbabnya menutupi hampir setengah badannya. Yang Tatapannya meneduhkan. Yang pandangannya ditundukkan. Suaranya pelan, tapi menegaskan. Bicaranya singkat, tapi penuh makna. Dan Ariel terpesona oleh keanggunannya.

Ariel ditegur sangat keras oleh teman-temannya, termasuk oleh Joe, ketika ia mengajak Salma makan siang. Bukan muhrimnya, kata teman Ariel membentak. Ariel mengaku salah, tapi api cintanya semakin membara.

Hingga suatu saat aku terhenyak tak percaya. “Gila lo Riel. Lo anter dia pulang pake motor?” tanyaku tak percaya. “Hihihiii..Gua juga ga ngerti. Basa-basi doank. Eh, dia-nya mau,” Ariel cekikikan.

Seorang wanita seperti Salma sangat sulit diajak jalan. Apalagi boncengan motor. Mereka punya batas. Mereka ada hijab. Tapi Salma tetaplah manusia. Yang tentu punya kelemahan. Yang juga punya cinta. Bahkan, sudah lima kali Salma mengunjungi rumah Ariel hanya untuk ngobrol dengan ibu Ariel dan dengan sepupu-sepupunya.

Mereka ditegur, dimarahai, dijauhi. Tapi semakin dilarang, Salma semakin menjadi. Ariel semakin happy. Mereka anomali dalam ‘kendaraan’ mereka sendiri.

*

Aku tahu, Ariel tak diizinkan orang tuanya untuk menikah hingga ia dapat kerja. Salma sudah berulang kali meminta Ariel melamarnya. Tapi, Ariel masih menunggu kelulusan dan status penghasilannya.

“Akhir tahun kemarin, Salma nelpon gua. Katanya dia udah ada yang ngelamar”, kata Ariel pelan. “Siapa?” aku semakin greget.

“Salma nggak jawab. Dia cuma bilang ‘seseorang’,” lirihnya tajam.

Kami terdiam sejenak. Hujan semakin deras. Dan secangkir kopi panas pun datang.

Lo belum tahu ‘seseorang’ itu siapa?” tanyaku.

Tidak ada jawaban. Ariel dengan tatapan kosongnya.

“Siapa??”

“Joe!!, dia orangnya”, air mata Ariel membendung. Ia tahan kuat-kuat agar tak jatuh.

Aku menghembus nafas panjang. Penasaranku hilang. Tapi rasa kesal datang. Otor-ototku mengeras. Gigi-gigiku saling beradu. Joe. Oase ‘gurun sahara’-nya Ariel ternyata hanya sebuah fatamorgana.

Gua sih masih rela kalau yang nikahin Salma itu bukan Joe. Tapi ini Joe, Mam. Temen gua sendiri. Temen deket. Dia tahu banget betapa gua jatuh hatinya sama Salma. Malah dia yang motivasi gua biar cepet lulus dan dapat kerja biar cepet nikah. Tapi, dia tusuk gua dari belakang, Mam…”, Ariel menumpahkan semuanya. Aku harus tenang. Jangan terbawa emosi. Aku harus mengeluarkan pikiran-pikiran yang menenangkan, walau dari tadi rasa kesal itu terus menohok.

*

Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta mengatakan bahwa cinta itu pekerjaan jiwa yang besar. Dan inti pekerjaan itu ialah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang yang dicintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia karenanya. Pecinta sejati seperti air yang menyuburkan. Seperti matahari yang menumbuhkan. Ia tak takut terhina karena cintanya kandas. Sebab di sini seorang pecinta sejati sedang melakukan pekerjaan jiwa yang besar dan agung: mencintai.

“Cinta itu seperti kopi hangat ini Riel,” aku angkat bicara.

“Pahit dan manisnya nyampur. Lo ga bisa minumnya sekaligus. Harus pelan-pelan. Seruput demi seruput. Tapi di sanalah sensasinya, ketika seruputan itu mencapai tetes terakhirnya. Tubuh lo akan hangat, pikiran akan nyaman,” aku melanjutkan sambil menyeruput kopi hangatku hingga tetes terakhir.

Ariel terdiam sejenak. Dia angkat cangkirnya dan meminumnya pelan. Tapi tidak menghabiskannya. Kopi itu masih tersisa setengahnya. Kami terdiam penuh makna. Seolah sedang melakukan percakapan batin.

“Kenapa ga dihabisin kopinya Riel?”, tanyaku ringan.

“Pahit!!”, dan kami pun tertawa.

4 thoughts on “Setengah Cangkir Kopi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s