kurir minyak tawon

Masih Jumat yang biasa. Paginya senam berjamaah. Pulang, mandi, dan balik lagi ke kantor. Tentu tempat pertama yang dituju adalah komputer, dan langsung mengklik firefox. Masuk facebook, yahoomail, dan wordpress.

Dan keajaiban pun datang. “kamu ke Jakarta ya ikut rapat”, sekretaris Manajer tiba-tiba berkata seperti itu. “SPPD-mu udah dibuat, beli tiket sana”, katanya. Kenapa aku bilang sebuah keajaiban. Karena belum lama ini aku benar-benar merasakan rindu yang luar biasa sama orang-orang rumah. Bahkan tak jarang mimpiin ibu, adik. Maka rapat hari senin jam 10 di Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, ini sungguh sebuah hadiah yang mantap.

Tiket ke Jakarta PP sudah di booking. Tentu saja aku pilih penerbangan yang Sabtu pagi dan pulang Minggu malam. Biar ada Sabtu dan Minggu yang bisa dihabiskan di rumah. Aku pun menelpon ibu, mau dibawakan oleh-oleh apa  mereka. “minyak tawon aja. minyak yang kemarin pas lebaran dibawa itu kan cuman satu. banyak yang minta di sini”, kata ibuku.

Aku pun ‘menyewa’ Office Boy di kantorku untuk mengantar membeli oleh-oleh, mengambil tiket, dan satu lagi, mengambil pakaian di laundry yang harusnya diambil hari senin, karena sudah ga ada lagi pakaian resmi di lemari.

Uppss. Aku lupa. Sebenarnya agenda rapat ke Jakarta itu apa ya. Terus aku ini ikut siapa. “Tanya bu Rahma, kamu kan pengikutnya beliau. Tentang SUTET gitu deh”, kata sekretraris Manajer.

“Kamu berangkat kapan?”, tanya bu Rahma

“hehehe..besok bu, mau sekalian pulang bu..”, senyum-senyum ga jelas

“ya udah, sekalian bawain bingkisan dari GM ya?”

“bingkisan apa bu?”

“ga tau, minyak tawon mungkin”

“siap bu…terus saya mesti saya siapkan apa bu?”, pura-pura bego

“kamu sudah baca undangannya?”, alis mata agak naik

“belum bu..hehehee…”, senyum-senyum ga jelas lagi

“saya juga belum, kopikan satu buat saya”

“oo..baik bu..”

Sebelum belanja oleh-oleh, aku mengambil uang SPPD dulu ke keuangan. Uang tiket, makan, dan lain-lain semuanya disini. 2,9 Juta sudah kukantongi, tiba-tiba ponsel berbunyi. “Kamu Imam ya? Saya Tarita, TL99, di PLN juga, di Sektor Tello. Kamu tahu malam ini ada pemilu ketua IA ITB se Sulawesi Selatan? di Baruga Angingmammiri, depan pantai Losari. Datang ya.”

“kapan teh?”

“nanti malam jam 7”

Jam pulang kantor kalau hari Jumat itu Jam 5 sore. Maka aku hanya punya waktu paling lama satu setengah jam untuk beli oleh-oleh di Sombo Opu, ambil tiket di Pettarani ujung, dan ambil pakaian di Pettarani.

Tepat jam 11.30 malam aku baru tiba di kamar kost. Acara pemilu IA ITB itu ternyata bikin suasana kerja lebih bersemangat, karena bisa ketemu dan minta kartu nama alumni-alumni yang terdampar dan mungkin orang makassar. Capek. Tapi masih harus kemas-kemas dulu. Karena taksi siap jemput jam 5 pagi. Tas berisi notebook, buku-buku peraturan tentang jalur transmisi, dokumen UKL UPL, dan stelan lengkap hari senin. Kardus berisi minyak tawon pesanan ibu, kacang disko khas makassar, kaos makassar buat om yang kebetulan ada di rumah, dan dua bungkus kopi toraja. Dan satu lagi, bungkusan agak besar yang katanya berisi minyak tawon titipan GM untuk orang-orang Jakarta.

Tepat jam 10 pagi aku tiba di rumahku di Tangerang. Fiiiuuhhh..perjalanan sangat melelahkan. Bukan karena ga kebagian tempat duduk di pesawat (ga mungkin kan..) tapi karena kurang tidur semalem dan sedikit sport jantung waktu di pesawat. “There’s weather condition, please fasten your seatbelt”, kata pramugari. Dan karen di rumah pun baru ada bapak, dan adikku yang pertama, maka aku pun tidur pulas pagi menjelang siang itu.

sekitar jam 1 siang ibuku membangunkanku karena ada teman-teman SMA-ku yang berkunjung. Keluar dari kamar aku melihat kacang disko sudah terbuka dan tergeletak di depan TV, kaos makassar sudah di lantai, berarti bungkusan oleh-olehku sudah dibuka. Dan aku pun berpikir lagi, bungkusan yang dari GM itu dimana ya, perasaan tadi ada di dalam kamar deh. “bungkusan yang satu lagi mana?”, tanyaku pada ibuku. “yang isinya minyak tawon itu?”, ibuku sambil menunjuk sekumpulan bungkus minyak tawon di atas kulkas.

Arrrgggghhhh…

Enam bungkus minyak tawon khas makassar terjejer rapi. “kenapa banyak sekali beli minyak tawonnya, ibu kan cuma pesen satu”. Aihhh. Bukan. Yang bungkusan itu dari GM buat temannya di Jakarta. “aa cuma disuruh bawain aja. Dibawain waktu rapat hari senin besok”, kataku meringis. “samperin dulu temanmu di luar itu, nanti kalau ini sih gampang tinggal dibungkus lagi”, seru ibuku. Aku mencuci muka. Untung saja isi bungkusan dari GM itu cuma minyak tawon, coba kalo kacang disko, makanan, kaos, atau surat-surat penting, pasti terjejer dan terbuka juga di depan TV.

Siang itu ada Rizal, Alfi, Fauzi. Semuanya alumni Albayan Boarding School. Kami berbincang, tentang kegiatan, tentang masa depan, dan pada akhirnya mengarah ke rencana membuat pusat percetakan dan foto digital, plus library cafe, dan distro.  Bermimpi memang mudah, yang susah memulainya.

Mereka baru keluar dari rumahku sekitar jam 11 malam. Setelah nonton Valkyre di XXI, makan bakmi mang dayat, dan satu kali (saja) pertandingan WE. Tak lama ibuku baru datang dari rapat rutin Yayasan. Urusan nirlaba memang banyak yang harus dikorbankan, termasuk waktu rapat. Bahkan malam minggu. Dan perbincangan serius pun banyak terjadi di malam itu. Tentang rencana masa depanku. Rencana ibuku, bapakku, hingga proyeksi adik-adikku. Perbincangan ditutup secara tak resmi sekitar jam setengah dua pagi.

Besoknya, apapun yang terjadi, harus ada rujak. Maka setelah makan pagi dengan teri nasi kacang goreng, sayur asem, lalap, sambel, tempe, tahu, emping (hayooo pasti ngilerrr..), maka makan siangku hari itu ialah ngerujak..ada nanas, kedondong, mentimun, pepaya muda, bangkwang, apa lagi ya..Dan yang bikin gila, kami melakukannya dua ronde. Alias dua kali ngulek sambel, alias empat potong gula jawa, dan sekian kepal cabe rawit.

Malamnya, ternyata minyak-minyak tawon itu belum belum di-packing. Karena stelan packing di toko itu pake suatu mesin, maka aku mencoba menyetelnya seperti itu. Alat perekat yang sudah digunting itu aku rekatkan lagi dengan hekter. Dan sedikit sentuhan lakban. Tampilan lebih bagus dari sebelumnya. Tapi aku belum yakin dengan kekuatan talinya. Karena sudah malam, aku pun istrirahat.

Jam 7.30 berangkat dari rumah dengan taksi menuju Rasuna Said. Dan macet. Ga enak juga jadi orang Jakarta. Tiap tikungan macet. Baru sampe Tomang, bu Rahma menelpon. “Kamu dimana? Ibu sudah disini. Langsung saja ke lantai 3 ya. Jangan lupa bingkisannya.”

Aku pun memaksa pak supir taksi untuk cepat. Dan setelah melewati titik macet, dia pun melaju kencang, dan berkata datar “duhh, Dirjen LPE itu dimana ya?”. “Blok x pak”, kataku. Dan ia pun memutar taksinya mencari blok x. Tanya sana sini. Sementara aku terus melihat jam, dan sudah mendekat jam 10. Kacau. Dan akhirnya gedung tua itu pun ketemu juga. Gedungnya cokelat abu dan banyak pohon rindang di depannya, jadi tak begitu terlihat.

120 ribu aku keluarkan untuk Pak supir taksi. Aku segera menggendong tas ransel yang super berat, dan jinjingan berisi minyak tawon. Aku langsung masuk lift dan menekan angka 3. Sambil merapikan rambut dan baju di dalam lift, aku segera keluar dengan cepat dari lift. Dan Bruuuukkkkk….

Tali yang hanya diikat dengan hekter itu putus. Dan bungkusan klimis kertas kopi itu sobek kemana-mana. Glekkkk..Aku menggendongnya seperti ibu-ibu menjepit tasnya waktu ke pasar. “Pak, ruang rapat ini dimana ya?”, aku serahkan surat undangan rapat itu ke Satpam. “Dipindah di gedung sebelah mas”, katanya.

Waduuhh. Orang-orang menatapku seperti kurir paket. Atau lebih tepatnya kurir minyak tawon. Sampai di ruang rapat, dan ternyata aku terlambat. Semua sudah berbincang di ruang rapat walau rapat belum dimulai. Aku tinggalkan bungkusan rusak itu di depan ruangan seolah bukan aku pemiliknya.

Rapatpun dimulai, dan berlangsung baik. Seluruh persiapan tentang rapat itu tak berarti. Karena ternyata yang seharusnya datang pada rapat itu adalah GM, General Manager. Yang datang saat itu juga para GM di tiap-tiap unit. Sedangkan aku hanya seorang maganger yang kebetulan disuruh membawa minyak telon titipan GM-ku. Saat ada yang memberi teh dan snack, aku berpesan “Mba, bungkusan yang di depan itu, titip ya, kalau bisa sih dikasih plastik, soalnya rusak talinya..makasih ya mba..”

Rapat pun berakhir sebelum jam 12 siang. Dan agenda selanjutnya ialah mengantarkan bungkusan minyak tawon yang sudah dibungkus dengan plastik putih kucel. Kami melaju ke ESDM, jalan merdeka. GM-ku tidak bisa dihubungi karena sedang di pesawat. Bu Rahma hanya ingat nama orang yang harus dititip bungkusan itu dan dua amplop surat. Kami pun mencari orang itu di ESDM. Dan ternyata semua pegawai sedang makan siang. Kami menunggu. Karena perut kami juga harus makan, maka bu Rahma mencari tahu nomor ponsel orang yang harus diberi bingkisan ini. Dan kami pun deal untuk menitipkan bingkisan dan dua amplop surat ke pegawai yang ada disana. Selesai. Perjuangan mengantar minyak tawon selesai. Sekarang tinggal makan siang, karena pesawat yang aku pesan baru terbang jam 8.20 malam. Pulang ke rumah, cuma bisa numpang minum, abis itu berangkat lagi ke bandara. Bu Rahma pun mengajakku ke ITC Mangga Dua. Dia ada titipan dari suaminya untuk beli jas.

Sampai di Bandara jam 5 sore. Masih ada 3 jam lagi. Aku di gate A1, Lion Air, Bu rahma di Garuda. Tapi di Gate A1 aku bertemu dengan Manajer SDM dan Deputi keuangan kantorku.

“Rapat apa di Jakarta?”, tanyanya.

“SUTET pak, itu pak, tentang biaya kompensasi”

“Berapa jam rapatnya?”

“hehehe..cuma dua jam pak”, sambil senyum-senyum

“Jauh-jauh kamu ke Jakarta cuma rapat dua jam?”, tanyanya sambil menaikan alis dan sedikit tersenyum asimetris.

Intinya kan liburan dan jadi kurir minyak tawon pak, kataku dalam hati.

One thought on “kurir minyak tawon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s