Maryamah Karpov, Kawan..

4b616840239de1ae6c44ace57b31c660Cerita yang datar dan cenderung berlebihan. Gaya yang khas untuk Andrea Hirata. Tapi untuk novel pamungkas ini berlebihannya terlalu, menurut saya. Petualangannya seperti mengambang. Tidak ada feel. Tidak seperti petualangan sekolah di SD Muhammadiyah, tidak seperti perjalanan kuliah di depok, tidak seperti petualangan keliling Eropa.

Ekspedisi ke pulau Batuan terasa hampa. Dan seolah sinetron. Serba kebetulan. Mungkin untuk petualangan ini, Bang Andre tidak melakukannya langsung, kawan.

Di belakang cover novel Maryamah Karpov, penerbit mengatakan bahwa novel Andrea Hirata ini novel yang membahas budaya, khususnya melayu Belitong. Di Laskar Pelangi, budaya Belitong kental sekali, begitu juga di Maryamah Karpov. Karena keduanya berlatar pulau Belitong. Tapi perbedaannya, menurut saya, untuk novel keempat ini, budaya melayu yang disuguhkan adalah budaya malas, ngerumpi, taruhan, juluki gelar jelek. Itu yang saya tangkap setelah membaca Maryamah Karpov. Bahkan terlalu berlebihan saya kira untuk penamaan julukan-julukan itu. Masih mengambang juga apakah itu benar-benar seperti itu atau hanya khayalan saja.

A Ling. Nama inilah yang muncul di pikiran saya ketika menunggu keluarnya novel keempat ini. Karena nama inilah yang masih menggantung di Endensor. Tapi ternyata kisah pencarian A Ling tidak seromantis yang saya harapkan. Boleh dibilang tidak ada kisah cinta di novel ini. Harusnya pencarian A Ling menjadi klimaks di novel ini. Tapi belum mencapai klimaks, anti-klimaks sudah datang duluan. Saya juga masih bingung kenapa Ikal tidak lapor kepolisian atau TNI untuk mencari korban kecelakaan itu. Kenapa harus buat perahu yang lama buatnya dan terasa berlebihan, sekali lagi. Mungkin Bang Andre ingin menghadirkan Laskar Pelangi di sini.

Dokter Diaz. Kisah pencabutan gigi menjadi pembuka dan penutup novel ini. Ironisnya kisah dr. Diaz ini bukan core dari cerita novel ini. Bahkan, jikapun dihilangkan, Maryamah Karpov masih bisa berdiri. Mungkin pesan lain ingin disampaikan. Pesan tentang idealisme dokter muda, dan tentang pengabdian seorang pemimpin. Tapi puzzle-nya tidak bertemu ternyata.

Terakhir. Tentang Maryamah Karpov sendiri. Hampir setengah ceritanya, nama itu tidak muncul. Jika saya tidak salah menafsirkan, penamaan ini berhubungan dengan biola yang dimainkan oleh Nurmi, anak perempuan Maryamah karpov. Karena si genius Lintang menganalogikan cara pandang membuat perahu itu seperti bermain biola. Jangan dilihat dari luarnya. Tapi pandang secara keilmuan. Sekaligus kejiwaan. Karena bermain biola tidak hanya perlu tahu kunci-kuncinya, tapi juga harus punya jiwa seni yang tinggi, kata Lintang. Begitu juga kalau kau (Ikal) mau buat perahu. Tapi kenapa harus nama ibunya Nirma yang digunakan jika memang ini alasannya. Entahlah, kawan.

Saya memesan buku ini di Gramedia seminggu sebelumnya. Karena novel pamungkas ini memang ditunggu banyak orang. Tapi Rp. 83.000,- menurutku terlalu sayang untuk novel terakhir tetralogi Laskar Pelangi ini.

Ini bukan cacian. Hanya sebuah sentuhan sayang untuk Penulis handal, dan pintar, Andrea Hirata. Hingga sekarang, saya masih mengaguminya. Saya masih suka caranya bercerita dan penggunaan bahasa yang mudah. Betul ‘kan, boi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s