Bagaimana rasanya iman?

bagaimana rasanya iman?

Pernah merasakan benci? Atau perasaan suka kepada seseorang? Aku yakin setiap kita di dunia ini pernah merasakannya. Mungkin karena kita masih punya hati. Suatu alat yang mendeteksi segala rasa. Ketika ada pertautan batin antarseorang anak manusia, suatu rasa yang membuncah datang tiba-tiba, sebuah rasa cinta. Ketika kekecewaan datang karena ada pengkhianatan, maka timbul rasa kesal dan benci, rasa itu seperti membuat badan ini remuk, pahit, dan tidak enak. Jadi, rasa-rasa itu seakan sudah bersemayam di hati, kita hanya merangsangnya untuk membuat rasa itu muncul. Jika rangsangannya sesuatu yang baik, maka rasa senanglah yang muncul. Begitu sebaliknya.

sekarang pertanyaannya adalah, bagaimana rasanya ketika kita berhubungan dengan Tuhan? Bagaimana rasanya dicintai Tuhan? Bagaimana rasanya mencintai Tuhan? Bagaimanakah bentuk rasa itu? Sepertikah apakah ia? Aku tidak sedang membicarakan sebuah akibat dari rasa itu. Seorang suami akan melindungi isterinya karena rasa cintanya. Seorang ibu rela susah payah mengurus anaknya Karena rasa cinta yang begitu besar. Aku tidak sedang membicarakan efek dari rasa itu, tapi bagaimana rasanya rasa itu? Bagaimana rasanya ketika kita sedang melakukan hubungan vertical dengan Tuhan? apakah ketika kita menyisihkan gaji kita ke kotak amal dan timbui rasa puas, lantas itu yang dinamakan rasa cinta dari Tuhan? apakah ketika kita membantu tua renta menyeberang jalan dan timbul rasa bangga, lantas itu yang disebut Tuhan sedang senang kepada kita? Bagaimana jika rasa puas dan bangga itu adalah sebuah rasa pengakuan yang berlebihan dari diri kita? Rasa riya? Bukankah riya sebuah dosa, sebuah syirik kecil? Lantas, bagaimana membedakannya?

Kembali ke paragraph pertama, rasa itu adalah sesuatu yang bersemayam dalam hati. Sesuatu yang telah dianugerahi (given) oleh Sang Pencipta. Jadi, kita hanya mengkondisikannya agar rasa cinta – atau bahasa agamanya, iman – itu hadir. Bagaimana praktik pengkondisian itu? Shalat (dalam agama yang bukan Islam mungkin bisa disesuaikan). Shalat ialah sebuah oleh-oleh dari Rasullah Saw. selepas beliau melakukan perjumpaan dengan Sang Pencipta, yang sering disebut peristiwa Isra’ Mi’raj. Shalat adalah mi’raj-nya orang mukmin, sebuah hadits berkata seperti itu. Artinya perjumpaan dengan Tuhan yang dilakukan Rasulullah tersebut dapat kita lakukan dengan shalat. Gerakan tahiyyat dalam shalat ialah sebuah analogi pertemuan langsung Rasulullah dengan Allah di Arsy.

Kenapa pengkondisiannya harus dalam shalat? Karena itulah jalur khusus yang mengkoneksikan kita dengan Sang Pencipta. Karena Shalat dilakukan lima kali tiap hari yang seharusnya bisa menjadi energy dalam hidup kita. Sebelum pergi mencari rizki, ada shalat shubuh yang mengawali hari. Setelah setengah hari bekerja, maka shalat zhuhur adalah sebuah oksigen siang itu. shalat adalah doa, dalam riwayat lain shalat adalah istirahat, dalam suatu ayat, ‘mengingat Allah itu menenangkan hati’, jadi berapa ribuan kali kita lakukan shalat tanpa adanya rasa segar setelahnya, rasa tenang, dan rasa optimis. Berhentilah sejenak dalam rutinitasmu.. pikirkan apakah benar shalat saya selama ini? Jika tidak ada ketenangan, tidak ada kenikmatan, tidak ada rasa yang timbul sewaktu shalat, maka bisa dipastikan kita tidak sedang shalat kala itu. Shalat sudah bukan lagi solusi atau media dalam menghadapi masalah kita di dunia. Shalat tidak lagi menjadi sebuah bentuk relaksasi di tengah hiruk-pikuk dunia.

Pertanyaan selanjutnya, kenapa kita harus merasakan cinta Tuhan? karena dengan cintalah sebuah ikatan hati akan terjadi. Karena dengan cintalah sebuah dialog yang begitu dekat akan mewujudkan sebuah permintaan. Karena dengan cintalah sebuah tuntunan akan diberikan untuk penunjuk jalan. Bukankah itu yang kita inginkan? Bukankah kita ingin selalu diberi rizki di dunia ini? Bukankah kita ingin dibantu ketika ada masalah di dunia ini? Bukankah kita butuh sebuah peta untuk menjalani hidup ini – yang hanya Dialah yang tahu peta sebenarnya karena Ia yang menciptakan kita? Atas nama apalagi hubungan itu dibangun jika bukan atas nama cinta. Atas nama iman.

Jadi, rasakan kembali hubungan cintamu dengan Tuhan. rasakan kenikmatannya. Perbarui shalatmu agar di setiap gerakan dan bacaan yang kamu baca, kamu bisa menikmatinya. Ketenangan dalam shalat adalah sebuah bentuk penghambaan yang mendalam. Merasa kecil dan membayangkan sedang berhadap-hadapan dengan-Nya dalam shalat adalah sebuah bentuk kekhidmatan. Rasakan cinta-Nya agar hidup ini dipenuhi jalan terang yang akan menuntunmu.

Banyak tanda tanya yang muncul dalam tulisan di atas, tapi hanya sedikit jawabannya. Dari yang sedikit itu mungkin hanya sebagian kecil yang bisa menjawab. Maka aku publish tulisan ini untuk mengetahui jawaban-jawaban sebenarnya. Atas nama cinta, beri aku jawaban wahai teman.

5 thoughts on “Bagaimana rasanya iman?

  1. Salam kesejahteraan, keselamatan dan rahmah dari Allah semoga tercurah untuk mu Mam!🙂 Iseng2 datang ketempat mu. Dapet dari Eko 2K. Kalao ada tulisan bagus boleh kan kuambil? Oh…ya, tulisanmu yang ini mirip-mirip tulisan supi yah… Merasakan lezatnya iman dan sholat… mirip2 Abu Sangkan. -Didit TL

    me:
    salamm kembali untukmu..
    silakan aja bos klo mau ngambil (asal ditulis aja sumbernya darimnan..he.hehee.)
    tulisan ini emang terinspirasi ust abu sangkan, tp saya bukan penganut sufi..
    btw, kmn aja nih bos? udh nikah? (sori klo pertanyaannya langsung menusuk..)

  2. Bismillahirrahmanirrahim

    Assalamualaikum wr wb

    Selamat hari Raya Idul Fitri 1429 H.

    Mohon maaf atas semua salah, khilaf, tulisan yang menyakitkan hati, menyinggung perasaan, serta bersitan-bersitan hati yang pernah berprasangka.

    Semoga Allah SWT menyempurnakan pahala ibadah kita di bulan Ramadhan tahun ini.

  3. ha..ha..ha.. menusuk.. memang langsung menusuk jantung pertahanan.. sudah pernah merasakannya Mam! Mungkin seperti merasakan hmm..apa yah..bingung perumpamaannya. Maaf lahir batin!
    “Dalam banyak kasus saat kita kembali melihat lembaran lama, maka bagi kita yang masih terus belajar, berefleksi adalah suatu keharusan”. Yang penting pelajarannya kan…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s