napak tilas masa keemasan

ini hanya ingin mengenang. bukan ingin membusungkan dada. yang jelas tepat satu tahun, aku merasa sesuatu yang besar telah terjadi dan tak pernah bisa dilupakan..

Akhir tahun 2006, aku daftar lomba PKM di kampus. Awalnya nekad. Karena ga ada pengalaman dan juga ga punya basic keilmuwan yang mumpuni. Tapi ada satu tekad dari ke-nekad-an aku itu, bahwa aku ingin punya kenangan indah sebelum meninggalkan kampus ITB. Karena sudah hampir empat tahun, belum ada kenangan yang bisa ditinggalkan, terlebih sebuah kontribusi buat ITB. Mimpi. Memang seperti mimpi, karena jatah kuliah sekitar satu semester lagi (waktu normal).

Setelah aku nekad mendaftarkan diri, maka tugas selanjutnya tentu menentukan tema penelitian, membujuk dosen agar jadi pembimbing dan mengajak teman-teman lain untuk masuk ke dalam tim. Untuk tema aku mengambil tema penelitian yang dulu pernah dikerjakan sewaktu Kerja Praktek di Balai Teknologi Lingkungan BPPT. Aku sadur, dan dengan sedikit perubahan aku ajukan ke dosen. Proposalpun jadi. Tinggal anggota tim. Aku pun mengajak teman-teman di satu jurusan tapi satu angkatan di bawah (karena teman-teman seangkatan sedang sibuk menyiapkan Tugas Akhir). Presentasi sedikit ke teman-teman, dengan anggukan mereka yang sepertinya masih belum mengerti, mereka akhirnya ikut. Jadi semua proposal aku ketik, teman yang lain tinggal menyerahkan biodata mereka untuk dijadikan lampiran.

Waktu itu teman-teman aku sedang banyak tugas kuliah, sehingga mereka hanya punya sedikit waktu untuk ke lab. aku pun babak belur di lab sendirian. Karena seharusnya pekerjaan di lab membutuhkan waktu yang beriringan dan tenaga yang banyak. Aku waktu itu sempat menangis. Kenapa anggota tim aku pergi. Waktu itu aku sempat dongkol kepada mereka dan berniat mengerjakan itu hingga akhir sendirian.

Tapi ternyata aku salah. Pertama, bisa jadi ambisi kita beda dengan mereka. Karena usul ini datang dari aku, maka gairah mereka untuk mendapatkannya pun mungkin berbeda walaupun aku sudah menerangkan latarbelakangnya. Kedua adalah factor keilmuwan. Tema yang aku usung kebetulan baru diajarkan pada tingkat akhir. Karena anggota tim aku masih tingkat 3, maka mereka kurang selera untuk melakukan penelitian yang bersifat teori. Dan yang ketiga, relationship. Kenapa menjadi hal penting? Aku menyadari bahwa aku kurang dekat dengan mereka secara emosional karena memang intensitas pertemuannya juga sedikit. Padahal ini penting dalam melakukan koordinasi, komando dan interaksi. Maka, apa yang yang lakukan agar keluar dari jeratan ini? Percaya tidak percaya. Aku me-SMS mereka semua, “akhir pekan besok kita backpacker ke tasik”. Mereka pun sangat antusias. Aku juga tidak percaya kenapa mereka begitu antusias padahal waktu itu curah hujan sedang tinggi. Tapi karena itulah aku dan anggota tim lainnya bisa mengenal satu sama lain. Karena kami melakukan perjalanan bersama, dan bermalam bersama.

Ceritanya kita lanjutkan..

Pengumuman seleksi proposal PKM ternyata belum juga keluar walaupun sudah lewat batas waktu. Waktu itu kami berasumsi, proposal kami tidak lolos seleksi. Tapi mimpiku tidak lantas turun. Karena pada saat yang bersamaan ada lomba penelitian yang kali ini ditujukan untuk masing-masing himpunan jurusan di ITB. Jadi tiap-tiap himpunan boleh mengusulkan masing-masing tema penelitiannya. Prosesnya sama dengan lomba PKM. Usulan penelitian dalam bentuk proposal, jika lolos, maka akan dibiayai oleh pihak terkait, dan akan dimonitoring (pada tahap ini bisa jadi sebuah tim digugurkan karena progresnya yang lambat), setelah itu presentasi dengan hasil penelitiannya. Walaupun scope-nya lebih kecil dari PKM, tapi aku tetap yakin dengan ini. Karena walaupun aku tidak mewakili ITB menjadi tim PKM di PIMNAS, minimal aku mewakili himpunan aku untuk bertarung antarhimpunan di ITB.

Karena atas nama himpunan maka aku tidak serta merta menyerahkan proposal penelitian ke panitia. Aku harus presentasi dulu ke himpunan, dan himpunan akan mempertimbangkan jika ada tema yang lain. Dan ternyata tema aku lah yang akhirnya dipilih. Alasannya sederhana, proposalnya sudah jadi, ga usah mikir lagi, dan memang ga ada usul tema lain.

Setelah sekian minggu ditunggu, pengumuman siapa saja yang lolos seleksi pun belum juga ada. Aku pun tertunduk. Mungkin bukan saatnya mimpi itu diwujudkan. Tapi badan aku tegak kembali setelah suatu tantangan datang kembali. Kali ini bukan pengumuman lomba, tapi masih ada hubungannya dengan penelitian. Karena akhir semester, maka saat itu dibuka pendaftaran bagi siapa saja yang ingin lulus bulan Juli atau Oktober 2007. Aku pun ikut. Sementara yang lain sibuk menyusun proposal Tugas Akhir, aku hanya mencocokkan format tulisannya. Karena aku sudah menyusunnya dulu. Walaupun scope-nya lebih kecil dari dua lomba penelitian yang tadi (mewakili ITB à mewakili Himpunan à mewakili diri sendiri), aku merasa Tugas Akhir ini adalah sebuah masterpiece yang bisa dibanggakan nantinya. Aku masih bergembira saat itu karena masih punya impian untuk menorehkan kenangan terindah sebelum melepaskan baju mahasiswa.

Dan apa yang terjadi selanjutnya? Suatu sore temanku memberi ucapan selamat. “selamat ya, nama lo ada di pengumuman LPKM tuh..Tanoto, tim lo masuk..”. Aku terbengong sejenak. LPKM?? Tanoto??, pikirku. Dan sungguh ajaib, ternyata timku lolos seleksi proposal pada lomba penelitian antarhimpunan yang dibiayai oleh Tanoto Foundation. Dan LPKM adalah lembaga rektorat yang mengurusinya. Aku bersyukur-syukur mendengarnya. Maka aku pun segera menghubungi anggota tim karena akan banyak pekerjaan nantinya.

Senang tapi agak tegang. Karena aku takut Tugas Akhir-ku terbengkalai. Mengingat proposal Tugas Akhir-ku diterima dan harus selesai penelitiannya semester ini atau maksimal semester depan. Dan ternyata keteganganku semakin menjadi-jadi setelah esoknya (juga) seorang temanku menghampiriku dan (sekali lagi) mengucapkan selamat. “pengumuman PKM udah ada tuh, tim lo masuk, selamat yah..”. Mataku terbelalak seketika. Baru tadi aku merasa pusing memikirkan jadwal dengan target yang hampir bersamaan. Kini ada lagi sebuah hadiah baru yang juga mempunyai target yang hampir sama. PKM harus selesai bulan Juni, lomba antar-himpunan (Tanoto) harus rampung bulan Juli, sedangkan Tugas Akhir-ku sudah pasti tidak bisa selesai Juni (untuk wisuda Juli), dan punya waktu sangat tipis jika ingin wisuda oktober karena berarti harus rampung bulan Agustus. Sampai di sini aku pusing sangat pusing. Sebuah hadiah dari Tuhan yang ternyata sulit ku jalankan, padahal itu semua adalah doa-doaku, impianku.

Sekali lagi. Senang sekaligus sangat tegang. Karena ini bukan lomba main-main yang diselenggarakan mahasiswa. Ini program yang dibiayai pemerintah (Dikti) dan instansi luar (Tanoto Foundation) sekaligus mempertaruhkan namaku, karena untuk apa orangtuaku payah-payah membiayaiku jika Tugas Akhir kandas.. aku tidak bisa lari dari ini semua. Karena kaitannya dengan uang dan kepercayaan. Maka yang bisa aku lakukan hanyalah banyak berdoa semoga diberi kekuatan.

Maka dengan izin-Nya, tim kami pun menjadi salah satu dari tiga tim yang mewakili ITB di ajang PIMNAS XX di Lampung. Boleh percaya atau tidak, ini kali pertama aku keluar dari jawa barat (banten, Jakarta), yaitu sumatera. Dan walaupun tidak membawa medali, kami puas dengan hasil ini. Karena boleh dikatakan jam terbang kami nol. Dan ternyata kampus lain lebih matang mempersiapkan untuk ajang kompetisi ini. Boleh dibilang ITB belum terlalu bergairah untuk ngotot menang dalam PIMNAS. Dan ini keluar dari mulut rektor ITB saat itu. Beliau lebih bangga membicarakan kompetisi luar negeri dibandingkan dalam negeri. Padahal menurutku dan teman-teman tidak juga. Tetap saja PIMNAS harus jadi target juga.

Sepulang dari Lampung aku dikejutkan setelah mendapat kabar bahwa harus presentasi untuk lomba penelitian antar-himpunan, minggu depan. Shock. Aku benar-benar shock. Presentasi minggu depan sedangkan masih harus ngelab, karena ada data yang belum dapat. Tapi sebenarnya, penelitian untuk lomba ini tidak jauh berbeda dengan lomba PKM. Karena kami hanya melanjutkan tahapan dan menyempurnakan bagian-bagian tertentu. Dengan data seadanya dan persiapan yang sangat kurang kukira, kami pun maju. Ada tujuh himpunan yang akan presentasi. aku dan lucky, anggota tim sekaligus otak dari penelitian ini (karena basic akademiknya ia lebih mumpuni) berbicara seolah produk yang kami buat dapat diaplikasikan dan dijual sekaligus bermanfaat bagi manusia. Kami seoalah sales keliling.

Tapi itulah perjuangan. Aku tak bosan-bosannya mengulang kata-kata yang sebenarnya sudah bosan aku baca. Tapi itulah sebuah proses dari pengejaran impian. Hingga akhirnya karya kami ini dipublikasikan di Koran Pikiran Rakyat. Aku diwawancarai ini itu tentang perjalanan kami menuju PIMNAS. Ini kali pertamaku diwawancarai media, tapi kali ketiga namaku tercantum di media cetak. Heee…he…

Dan keajaibanpun terjadi. Tim dari himpunan-ku mendapat juara I. aku tergirang-girang sekaligus menangis. Di samping hadiahnya yang cukup besar, aku menangis karena ternyata aku bisa melakukan ini dan bisa mendapatkan hasilnya. Sebuah nama dan karya yang akan tertulis di database ITB dan jurusanku bahwa aku pernah menjuarai lomba ini. dan seketika teman-temanku melihat sosokku yang berbeda. Mereka seakan melihatku sebagai seorang ilmuwan yang kutu buku. Padahal aku hanya punya impian dan keyakinan. dan teman-teman di sekelilingku lah yang menjadi pion-pionnya..tanpa mereka, i’m nothing..

terimkasih sekali lagi untuk Lucky Wardhana, Yudhi Arfiansyah, Arlisa Febrianti, Suci Wulandari, Elgia Melissa Kirana, Ayie Fajarwati, Tegar Eka Perdana, Ajeng Setiawati, Iin (sori nama lengkapnya lupa), Lucy, Irfan Abadi,  dan lain-lain..(sori klo lupa nama yg lainnya..). juga buat pak jazi, pak CS di WRM.. dan buat HMTL, tetap jaya, tetap sunda…

Apakah perjuangan selesai? Tidak. Masih ada Tugas Akhir-ku menunggu. Aku masih punya waktu dua minggu jika nekad ingin lulus Oktober 2007. Awalnya aku menunda kelulusanku hingga Maret 2008. Tapi ada sebuah kejadian yang juga luar biasa..

untuk perjuangan tugas akhir bisa baca disini dan disini

4 thoughts on “napak tilas masa keemasan

  1. sangat sangat sangat menikmati masa setahun kemarin,
    trimakasi banyak karna mengijinkanku untuk menjadi bagian dari keriangan itu.

    sangat percaya bahwa semesta memang tersenyum kepada kita🙂

    kangeeeeeeeennnnn semua atmosfir yang pernah terbentuk di lab air,hikshikshiks..

  2. ga kerasa udah setahun kemaren ya..
    itu kenangan terindah di ITB mam, ikut PIMNAS ke lampung.

    aku minta maap bgt ni, ngerasa kesepet hehe.. ( kurang bantuin waktu ngeleb ni..)
    maap ya sekali lagi..
    tapi yang penting pada akhirnya sukses besarr!

    hehe, yes you are our hero mam! (katanya anak2 lab, hohoho..)

    btw, mana lanjutan ceritanya ni??

    me:
    oh gia…so sweeeeettt…
    iam nothing without you, absolutely..
    for me, you are the hero..
    you are my milestone to get the peak..

    loves for you..

  3. syukron pisan, sdh memberi kesempatan bergabung dlm tim.
    kalian lah pemenangnya! senang bisa berada di samping kalian. sadar, cuma sedikit sekali membantu, sangat sedikit berkontribusi. afwaan…

    gak nyangka, sepekan di Lampung, bnyk kenangan menyenangkan – menyedihkan – menyebalkan (tahu kan kenapa?). smuanya tergores di sana, tapi… indah. bisa dikatakan, sebuah keajaiban, berada di sana, bersama kalian. tentunya krn Allah. alhamdulillah…

    mungkin ini awal utk Imam menggoreskan keajaiban2 lainnya. keajaiban2 yg menginspirasi orang lain di sekitar imam jg. i know u can.

    sukses selalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s