Cinta aritmatika

Awalnya hanya obrolan kecil. Tapi tiba-tiba seluruh lidahku kaku. Leher ini tegang.

“emang punya rencana nikah kapan?”, lontar ibuku saat aku, ibuku, dan adikku makan siang di foodcourt salah satu Mall di Serpong.

“mmm..ya rencana sih tahun 20**”, kataku pelan tapi tegas.

“lho, itukan sebentar lagi. Emang udah ada calonnya”, Tanya ibuku lagi.

“he..he..he..belum..”, untuk yang ini aku tersipu-sipu.

“kok bisa?! Emang udah punya pacar belum? Temen kampus? Orang mana gitu? Atau jangan-jangan si *** anak H. Udin yah?”, ibuku terus melontarkan pertanyaannya.

Saat itu telingaku serasa panas. Baru kali ini aku merasa malu berbicara dengan ibuku sendiri. Obrolan ini memang sejak lama ingin kusampaikan tapi mungkin karena saat itu aku hanya punya waktu 2 hari berada di Tangerang (karena harus kerja ke Makassar), maka banyak yang ibuku ingin tahu tentang rencana-rencanaku.

“kalau kata Papah sih, aa punya rumah dulu, punya mobil dulu, baru nikah”, lanjut ibuku lagi.

Degghhh..mobil?!! rumah?!!

Maka aku jelaskan. Bahwa sampai saat ini satu pacar pun aku tidak ada. Bahkan yang namanya pacaran aku belum pernah merasakannya. dan siapa calonnya, aku sampai detik ini belum bisa memastikannya. Hanya ada nama, hanya itu. Aku sama sekali belum bisa memastikannya.

“ya sudah, nanti kan udah dapet gaji. Sisihkan saja sekian persen buat nanti biaya nikahmu. Mang Widi itu kemarin ngelamar Bi Indri 20 juta, pake uang sendiri”, aku semakin tersengal-sengal mendengar angka 20 juta. Jika pun aku sisihkan 50% dari gajiku, mungkin sekitar ulang tahunku ke 30 aku baru bisa nikah. “tapi bisa dikompromikan kok sama calonnya”, lanjutnya. Lantas aku berpikir, kalau sekarang saja belum ada calonnya, bagaimana kita tahu berapa uang yang harus dikumpulkan. Karena ini akan berpengaruh kepada nilai uang yang ditabung perbulannya. Kalau tiba-tiba persentasi tabungan nikah hanya 30%, dan setahun lagi ingin nikah, maka apakah jumlah itu sesuai dengan yang diingini si calon. Tapi aku sangat yakin kalau cinta tidak bisa diaritmatikakan (haa.ha..pembelaan).

Pernah seseorang bilang, kalau nikah itu adalah salah satu bentuk ibadah, karena ia ajaran. Maka segerakanlah ibadahmu, karena kamu tidak akan tahu batas umurmu. Jadi, orang-orang yang sudah nikah itu sudah sadar kalau nikah itu ibadah, katanya. Lantas aku bertanya, berarti selama ini ada juga orang yang belum sadar kalau nikah itu ibadah?! Dan dia pun hanya memberi icon J di YM-nya.

Sekarang, tidak hanya orangtuaku, tapi juga teman-temanku terus bertanya-tanya tentang 5 huruf sakral itu. Sama siapa? Jurusan apa? 2004 atau 2003? Pasti sama akhwat (wanita – b.arab) ya? (ya iyalah masa sama ikhwan (laki-laki – b.arab). bahkan ada yang bertanya, kamu sudah nge-take anak ini ya?

Saat ini. Kesendirian itu terus memuncak. Di pulau yang mirip huruf K ini, sebelah timur Indonesia, aku seperti orang gila yang terdampar di pelataran toko. Ramai, tapi sendiri. Jauh dari orang-orang yang terlanjur kusayangi. Tapi aku yakin energy itu akan selalu ada. Karena ia bukan aritmatika. Semoga.

9 thoughts on “Cinta aritmatika

  1. bantu saja dengan doa muy..
    bantu saja dengan bicara..
    bantu saja dengan kata-kata..
    bantu saja dengannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s