Isteriku…

Nggak tau kenapa HBO selalu mengulang-ulang film-filmnya. Minggu ini mungkin aku sudah menonton 300 lebih dari lima kali. Kalo nggak pagi, ya malem. Nggak tau kalo siang, belum pernah nyoba.

Three hundred (300) sendiri filmnya sudah beredar di rileks (forumnya anak2 ITB) sekitar bulan Agustus-Oktober 2007 (pokoknya waktu itu liatny sebelum lulus). Karena udah pernah nonton, makanya kalo pindah-pindah channel TV kabel di rumah baru di Makassar trus nemu 300, pasti cari channel lain.

Sebenarnya aku sendiri tidak selesai waktu nonton 300. Karena dari awal, 300 efek animasinya kental banget. Mereka banyak main di layar biru. Mainnya bener2 dalem studio. Full. Ga seperti Troy, atau film-film sejenis yang mengedepankan aksi perangnya.

Dan semua itu terjadi malam tadi. Tentu saja malam kemaren 300 masih diputer HBO. Dan sambil ngobrol dengan teman-teman, tiba-tiba mata kami tertuju pada layar TV ketika Leonidas (sang Raja, bener gat uh nulisnya) dan 300 prajurit Sparta menyerang Persia dengan gagah berani walau saat itu di atas kertas mereka akan kalah. Tapi, sang Raja pantang menyerah dan menggerakkan pasukan sehingga Persia terpaksa melepaskan anak-anak panahnya dari busurnya. Dan secara tiba-tiba runtuhlah pasukan Sparta. Yang tertinggal hanya Sang Raja, ia terluka tapi masih berdiri dan menentang Persia. Tak ada kata menyerah baginya. Dengan badan menghadap pasukan Persia, Leonidas dihujani ribuan anak panah dari tentara Persia dan seketika itu juga badannya tersungkur dipenuhi tusukan panah.

Tapi ada satu momen yang membuatku harus membuat tulisan ini. Yaitu kata-kata Leonidas ketika mencoba tetap bangkit dalam kekalahan. Dalam film itu digambarkan Leonidas membayangkan bertemu isterinya di suatu taman. Ia juga berucap “Isteriku…” saat bangkit dari tanah dan menghadang musuh kembali, walaupun akhirnya tubuhnya dihujani ribuan anak panah. Seolah, dalam film itu, kekuatan sang Raja ketika ingin bangkit dari jatuh ialah isteri.

Hal ini juga digambarkan dalam film The Braveheart. Mel Gibson yang saat itu harus dihukum pancung karena telah menjadi pentolan pemberontakan bangsa Skotlandia, melihat bayangan seseorang yang dicintainya tersenyum padanya, seolah membenarkan tindakannya membela bangsa Skotlandia walaupun harus mati di tiang pancungan. Ia pun tersenyum hingga kepalanya terpisah dari badannya.

Atau kisah Nagabonar (masih dalam film) yang kembali bangkit melawan Belanda setelah merasa tidak percaya diri, karena didampingi sang Permaisuri, Kirana. Mereka berdua berada di garis depan perlawanan sambil meneriakkan puisi penuh gelora dari Bang Pohan.

Dan ini juga agak mirip dengan kisah Nabi Muhammad yang selalu didampingi sang isteri pada masa-masa kritisnya. Ketika beliau mendapatkan wahyu pertama, beliau ketakutan dan berlari ke rumahnya, dan meminta isterinya untuk menyelimutinya. Saat itulah Khadijah menjadi seorang penenang dan menjadi orang pertama yang meyakinkan bahwa itu benar-benar wahyu dari Allah. Juga ketika Rosul berada di ujung hayatnya. Beliau saat itu berada di pangkuan Aisyah. Di sanalah pesan-pesan terakhir beliau diutarakan.

Isteriku…. Mungkin ini kata-kata hambar dan hampa bagi orang-orang sepertiku. Karena sejatinya tak ada orang yang harus aku panggil isteri. Tak ada orang yang ketika aku pulang kerja jam 5 sore, menawarkan air hangat untuk mandi, atau segelas air dingin. Tak ada orang yang ketika banyak persoalan keluar-masuk, menjadi tempat untuk membagi jalan. Tak ada orang yang ketika pegal meminggul beban, menawarkan sandaran pundaknya.

Isteriku… (jadi malu ngomongnya…) jika hari ini adalah sebuah pertemuan dalam taman surgamu maka janganlah engkau terus menutup pintu rumahmu karena sesungguhnya terompahku sudah berada di pintu pagar taman itu…

Jika hari ini adalah sebuah hari terindah untukmu maka janganlah engkau berhenti untuk bahagia karena sesungguhnya aku ada dalam senyummu itu…

Jika hari ini air matamu terus mengalir deras maka janganlah engkau terus meratap karena sesungguhnya banyak kupu-kupu yang menari-nari di tamanmu itu..

 

4 thoughts on “Isteriku…

  1. guy kan emang buat cowo atau cewe…
    soalnya susah mau nyapa mas atau mba..
    ga ada identitas diri..

    aneh juga sih, ngeblog tp menyembunyikan identitas..

    tapi siapapun Anda, saya ucapkan terimakasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s