Nagabonar: Sang Seniman

Pasti kenal sama tokoh ini. Kenal di Nagabonar jadi 2 atau di film pertamanya yang diremix. Film karya Asrul Sani ini memang hebat. Menghibur tapi mengena. Mirip film-film-nya Deddy Mizwar sekarang-sekarang ini, seperti Kiamat Sudah Dekat, Lorong Waktu, Para Pencari Tuhan. Ini mungkin karena Deddy Mizwar adalah tokoh Nagabonar di film-nya Asrul Sani itu.

Tema yang diangkat menarik, Nasionalisme. Saya akan memberi Anda rumah di BSD City jika Anda menemukan film tema ini di sinetron atau layar lebar yang terpampang di mall-mall saat ini. Karena tema ini berat maka film ini digarap dengan selera humor sang Jendral Nagabonar yang kental.

Jika Anda melihat film Nagabonar yang pertama (garapan Asrul Sani), jalan cerita film cukup sederhana dengan ending yang menarik saya kira. Jalan ceritanya adalah sebuah peperangan mengusir penjajah pasca kemerdekaan RI. Dan Nagabonar beserta rombongannya adalah sekelompok anak muda berandalan yang suka mencuri yang terpanggil hatinya untuk ikut berperang. Ajakan ini berawal dari seorang tentara senior, bang Pohan, yang memberikan mereka informasi selepas mereka keluar dari penjara, bahwa pemimpin bangsa ini telah mengumumkan kemerdekaan Indonesia. Anak-anak muda ini pun tergerak hatinya setelah bang Pohan membacakan puisi yang memang khusus ditujukan untuk pemuda Indonesia saat itu.

Dan di tengah gencatan senjata dengan Belanda yang pada saat itu Pusat memerintahkan untuk tetap tidak menyerang, sang Jendral mengalami kebingungan yang luar biasa. Kebingungan itu pun diperparah dengan tuntutan Mak-nya yang mengharuskan dia cepat menikah. Dan disinilah bumbu lain dari film Nagabonar selain komedi, yaitu cinta. Sang wanita adalah tawanan perang sang Jendral. Namanya Kirana. Kirana adalah anak seorang dokter Belanda yang pernah mengobati Malaria sang Jendral. Mungkin Belanda yang baik.

Nagabonar pun bernyanyi dan berpusi untuk Kirana. Tapi satu hal yang tidak bisa ia lakukan, yaitu menyatakan Cinta. Karena ia dididik di pasar yang hobinya adalah mencuri. Hidup ia keras. Jauh dari romantis. Apalagi kata-kata cinta yang diumbar. Tapi, suatu saat, ia curhat tentang kondisi peperangan melewan Belanda yang pada saat itu Indonesia sedang dalam tekanan. Belanda di wilayahnya semakin menekan walaupun di Jakarta Soekarno-Hatta telah mengikrarkan Proklamasi. Ia juga merasa sedih karena teman dekatnya, sang Kopral Bujang telah mati di medan tempur.

Suatu kondisi yang menurut saya mirip ketika Muhammad mengahadapi kondisi Quraisy Mekkah yang pada saat itu sang paman meninggal dunia, dan pada saat yang sama sebuah ‘peringkat’ diberikan Tuhan kepadanya, The Messenger. Saat itulah Khadijah hadir dan memberikan support yang luar biasa. Hal ini juga yang ditawarkan Kirana, “saya siap menjadi pendamping Abang”. Semangat pun timbul kembali dari tubuh anak muda ini. Ia lupa akan sakit Malarianya. Ia lupa akan temannya Bujang yang mati karena sebuah kesalahan kecil. Ia pun bangkit dan esoknya Nagabonar pun berperang didampingi sang Wakil Jendral, Kirana. Mereka tampil di atas bukit menantang tentara Belanda dengan gagah berani sambil berteriak membaca puisi yang membangkitkan semangatnya pertama kali,

Wahai pemuda Indonesia!!

Bangkitlah kalian semua

Negeri kita sudah merdeka

Genderang perang sudah berbunyi

Dengarkan panggilan ibu pertiwi

Saya kira puisi ini tidak hanya diperuntukkan untuk pemuda-pemuda saat melawan penjajah dulu. Puisi ini begitu berat maknanya. Dan puisi ini adalah sebuah pecutan dari Asrul Sani untuk para pemuda Indonesia. Dan mungkin beliau akan menangis di akhirat sana jika tahu kualitas anak muda Indonesia sekarang.

Harusnya para pemuda segera bangkit dari tidurnya. Karena sebenarnya ia sedang dijajah oleh Belanda-belanda baru, Belanda itu bernama MTV, Hollywood, Metropolis, dan gaya-gaya hidup anak muda yang hanya entertain. Tidak mempunyai VISI. Tidak ada kalimat yang keluar dari bibirnya untuk mengubah dirinya, mengubah bangsanya.

Indikatornya, silakan Anda nyalakan TV. Mulai dari sinetron, lomba-lomba nyanyi yang norak abiss, film layar lebar, grup-grup musik yang semuanya satu tipe, satu karakter, dan satu suara, yaitu komersil. Just that. Sekali lagi, tidak ada visi perubahan. Yang ada hanya entertain. Begitulah jawaban para artis atau musisi jika ditanya, “kita kan tugasnya menghibur”. Maka beginilah jadinya pemuda Indonesia, mereka masih terduduk-duduk di sofa karena banyak yang menghibur mereka sehingga lupa di luar sana banyak ketidakberesan yang sejatinya membutuhkan sumbangsihnya.

Padahal ‘Negeri ini sudah Merdeka’ dan ‘Genderang perang telah berbunyi’. Ataukah para pemuda Indonesia tidak mendengarkan ‘Panggilan Ibu Pertiwi’?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s