Bolehkah ana ta’aruf dengan ukhti?

Suasana saat itu sungguh tegang. Aku dan orang yang duduk di samping kiriku hanya menatap dalam seperti memendam keanehan. Dan dengan sontak kami terbahak. “Dari siapa?”, tanyaku penasaran. “temen gue, mau ta’aruf tapi salah kirim”, jawabnya sambil masih memegang hp-. Kami semakin tertawa sekeras-kerasnya. Pesan singkat pukul 11 malam itu (yang juga kebetulan malam minggu) membuat rasa lelah perjalanan kami Jakarta-Cianjur (puncak)-Jakarta menjadi sedikit berkurang. Kami berlima, semuanya lelaki lajang dan sebagian besar jomblo, rela berjalan jauh ke pelosok Cianjur karena ada salah seorang teman kami – yang mungkin orang paling jahat bulan ini – yang telah menyelesaikan masa ketunggalan-imannya (nikah maksudnya..). Maklum long week-end, puncak sangat-sangat macet. Lelah dan jenuh pun bersatu menjadi segumpal varises yang menjendol di kening. Tapi, odol-odol varises itu mencair setelah kejadian jam 11 malam tadi.

“Gue yakin nih orang bakal sms gue lagi buat konfirmasi, soalnya gue kenal yang ngirim siapa”, kami masih terpingkal sambil memikirkan, jika si pengirim tak tahu kalau sms-nya salah alamat, maka apa jadinya jika tiba-tiba pagi-pagi ia menelpon si ukhti, “bagaimana ukhti?”, dan si ukhti akan keheranan, “apanya yang bagaimana?”. Atau yang lebih parah, jika si pengirim beranggapan si ukhti telah menerima (karena diam berarti iya), apa jadinya jika setelah shubuh si pengirim bertanya, “jadi ukhti bisanya kapan? Kalo ana sih insya Allah sudah siap, walaupun gaji tidak seberapa, insya Allah ana siap nanggung..”, dan si ukhti hanya menganga, “…”.

Tapi, ada satu kalimat tanya yang aku tanyakan selepas kami terbahak menertawai kejadian itu. Semudah itu ya memulainya (ta’aruf)? Dan temanku pun mengamininya langsung. Tapi, sepertinya masih banyak perdebatan untuk pengutaraannya (ciee..kayak yang ngebahas apa aja..). Satu temanku pernah bilang kalau pake sms, YM, email, telpon, itu fine-fine aja. Tapi ada juga yang bilang mesti pake perantara. Temanku yang perempuan malah tidak sudi jika hanya lewat telpon, apalagi sms. Lebih baik bicara langsung walaupun lewat orang lain (ini yang bermasalah dengan jarak ya..). Nah, bingung kan…

Pernah dulu bertanya ke seorang ustadz tentang nikah, dan beliau langsung membuka kitab klasik yang masih gundul. Katanya sih kitab ini rujukan-rujukan buku-buku fiqih (lupa euy pengarangnya siapa..). Bab nikah, pasal pertama yang dibahas ternyata bukan ta’aruf, tapi langsung khitbah. Dari awal bab sampai akhir tidak ada yang namanya ta’aruf. Jadi hipotesa awal ta’aruf sebenarnya tidak ada dalam ajaran agama ini. Ta’aruf di sini tidak ada dalam arti ‘proses’, tapi secara harfiah ta’aruf itu artinya saling mengenal, jadi adalah wajar jika orang mau khitbah, harus kenal dulu (ta’aruf) dengan calonnya. Tapi, dikatakan salah ketika ta’aruf dimasukan ke dalam rentetan keharusan dalam menikah. Nabi Muhammad Saw. pun saat pertama kali melakukan pelamaran langsung diutarakan kepada walinya. Perempuan itu bukan khadijah, tapi Ummu Hani’. Ia adalah putri Abu Thalib, paman Nabi. Entah kenapa Abu Thalib punya rencana lain. Jadi, jika anda ingin menikah, khitbahlah!

Apa itu khitbah? Dalam kitab gundul itu pun dijelaskan secara gamblang tentang arti, syarat, rukun, dan sebagainya. Yang aku ingat hanya definisinya saja. Bahwa khitbah itu adalah pengungkapan rasa suka dari seorang (dalam bahasa arab menggunakan dhomir mudzakkar, laki-laki) atau walinya kepada seorang lain (muannats, perempuan) atau walinya. Jika anda perhatikan kata hubung di sini menggunakan kata ‘atau’ yang berarti khitbah telah sah sebenarnya tanpa adanya wali dari perempuan, dan sebaliknya. Jadi jika ada ABG nembak cewek, secara definisi dari kitab tersebut, itu sudah dinamakan khitbah…. (wadduhhh…). Adanya acara-acara seserahan atau semacamnya mungkin tradisi yang terbawa.

Dan perlu diperhatikan khitbah hanya dilakukan dari laki-laki ke perempuan. Ungkapan ijab khitbah tersebut oleh laki-laki atau walinya kepada perempuan atau walinya. Tapi disini tidak menutup kemungkinan si perempuan meminta untuk dinikahi. Sayyidah Khadijah adalah buktinya. Beliau memanggil Muhammad (yang waktu itu masih sebagai karyawan beliau) dan mengutarakan satu perasaan, “putra pamanku, aku mencintaimu karena kebaikanmu kepadaku, juga karena engkau selalu terlibat dalam segala urusan di tengah masyarakat, tanpa menjadi partisan. Aku menyukaimu karena engkau dapat diandalkan, juga karena keluhuran budi dan kejujuran perkataanmu”. Dan Khadijah pun meminta Nabi untuk melamarnya. Nabi pun segera meminta pamannya, Hamzah, untuk melamarkannnya untuknya.

Melalui aktivitas bisnis, Khadijah dan Muhammad secara alamiah telah melakukan proses saling mengenal (ta’aruf) tanpa bilang “bolehkah ana ta’aruf dengan ukhti?”. Khadijah mengenal betul watak karyawannya, begitu juga dengan Nabi, mengenal betul perangai majikannya. Setelah merasa sudah siap, khadijah pun mengambil inisiatif untuk memulai walaupun yang akan melamar nantinya pasti harus pihak laki-laki. Jadi, ehemm..ehemmm… tidak usah malu untuk memulai kawan. Khadijah aja kayak gitu, masa ga berani?? Katanya emansipasi?? Lho kok jadi gini…. ngarep gw…

Kembali ke “bolehkah ana ta’aruf dengan ukhti?”. Sepertinya password ini hanya dibutuhkan untuk orang-orang yang belum mengenal betul (belum saling mengenal). Jadinya dia meminta izin untuk mengenal (ta’aruf) dengan password itu. Untuk kalian-kalian yang telah melang-langbuana, kesana-kemari, jungkir-balik, atau sudah duduk bersama di rapat-rapat ‘organisasi’ selama bertahun-tahun, maka satu kata untukmu: khitbah!!

Ref:

  • Kitab jadul itu lupa namanya, tar deh dicariin lagi

  • Lings, Martin. 1991. Muhammad. Serambi. Jakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s