senyummu, untukku..

“kak, kakak ngajar ngaji ya??”, seorang anak tiba-tiba menyodoriku sebuah buku kumal bertuliskan arab. aku hanya melongok sebentar selepas mengucapkan salam shalat maghribku karena menurut pendengaranku bacaan mereka cukup bnayak yang salah. tapi tiba-tiba mereka menyodorkan tawaran itu. aku tak menjawab. hanya bingung, kok tiba-tiba begini.

“iya kak, ngajar ajah. kasihan pak adang”, ucap salah seorang lagi. bener juga sih, pak adang selama ini hanya sendiri mengajar untuk sekitar 20an anak kecil di mushalla ini. padahal beliau sudah renta. bahkan untuk dijadikan seorang imam shalat pun sepertinya sudah udzur. tapi hingga sekarang, ia adalah imam tetap di mushalla ukuran 4 x 5 itu.

“Ngajar di sini itu ya kalo adek sempet saja, bapak juga tahu kalo mahasiswa di sini kan tujuannya belajar. jadi yang diutamakan belajar. tapi kan kalo punya ilmu dan diamalkan walupun sedikit, akan jadi pahala juga”, ucap pak adang di awal pengajian ba’da maghrib itu setelah aku memperkenalkan diri. dalam posisi seperti itu aku sangat menyesal. pertama, aku menyesal kenapa mahasiswa-mahasiswa di sini hanya jadi jamaah shalat saja, tidak ikut dalam kemakmuran masjidnya. padahal untuk mengajar ngaji tidak banyak dibutuhkan ilmu, dan untuk waktu, hanya dibutuhkan sekitar 45 menit. kedua, aku menyesal karena statusku tidak lagi mahasiswa. aku saat itu adalah seorang pengangguran yang sedang menunggu panggilan kerja. keberadaanku baru di sini.

pesan selanjutnya dari pak adang adalah, “cara bapak mengajar itu tidak menuntut anak untuk cepet bisa, perlahan tapi diulang-ulang. jadi jangan kaget kalo sudah ada yang iqro 6 tapi bacaannya, masih belum lancar”. aku pun mencoba mengikuti metodenya pak adang. dan benar dugaanku, anak-anak secara utuh belum bisa membaca huruf bahasa arab. mereka menghafal. mereka tidak bisa membaca sebelum pengajar membacakannya. dan ketika disuruh membaca ulang, mereka hanya melongo dan mencoba mengingat-ingat hafalannya…

tapi, di sanalah indahnya. mereka tertawa-tawa. saling berkompetisi. berdesak-desakkan mengerumuniku dengan baju lusuhnya dan mungkin badan yang tak sempet mereka bersihkan selepas main bola sore tadi. mereka tetap bersemangat  walau tembok berlin baru diantara sungai cikapundung dan cihampelas telah berdiri angkuh kini. mereka bahagia ketika sesuatu yang mereka tidak memilikinya, diberikan oleh sang pemilik dengan tulus. ada eki, beni, ajay, agus, dan lainnya. semuanya tersenyum.

besoknya aku tak mengajari mereka, karena malam jumat adalah hari libur mereka. dan ternyata aku memang tak bisa mengajar mereka lagi. malam itu adalah malam pertama dan terakhir. karena besoknya sebuah surat yang sudah sangat ditunggu kedatangannya tiba di hadapanku, Surat Panggilan Prajabatan PT PLN (persero).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s