salman water recycling

Beberapa hari belakangan ini Masjid Salman ITB kedatangan truk-truk pembawa air. Jumlah kedatangannya ke Salman tidak satu-dua kali, tapi berkali-kali. Truk itu pun datang tidak dari tempat yang jauh. Ia adalah tetangganya sendiri. Ia keluar dari garasi PDAM Badaksinga yang ada di belakang Salman. Salman sedang krisis air. Salman butuh banyak air untuk para jamaah yang ingin menunaikan ibadahnya di masjid tersebut.

Krisis air tidak bulan ini saja mengahampiri Salman. Ia sudah ada beberapa bulan sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan justru krisis air ini terjadi di saat Tuhan menurunkan sekian puluh juta kubik ke bumi. Kenapa bisa terjadi?

Menurut sumber yang terkait, Salman hingga saat ini menggunakan sumber airnya dari air tanah, yaitu dengan memompa air dari bawah tanah dan menampungnya sementara di menara reservoir dan ground reservoir yang akan didistrubusikan menuju tempat-tempat yang membutuhkan air seperti di masjid, gedung sayap selatan, dan gedung kayu. Salman tidak menggunakan alternatif penggunaan sumber lain selain air yang berada di dalam tanah tersebut. Padahal, sumber air di dalam tanah mempunyai satu kekurangan yang sering menjadi pertimbangan para engineer, yaitu kuantitas. Sumber air yang tidak bermasalah dengan kuantitas yaitu air permukaan. Skan tetapi, air permukaan mempunyai satu kekurangan, yaitu kualitas. Singkatnya, penggunaan kedua sumber air tersebut mempunyai masing-masing kelebihan dan kekurangannya. Masalahnya hanya pada rekayasa untuk menjadikannya bisa dimanfaatkan sebagai air minum atau air bersih.

Untuk kawasan bandung sendiri, kapasitas air tanah sudah mendekati ajalnya. Hal ini karena berkurangnya daerah-daerah resapan air yang seharusnya tersedia di Bandung dataran atas. Hal ini juga dipicu dengan semakin bertambahnya jumlah orang yang tinggal atau mengunjungi Bandung sehingga kebutuhan akan air semakin meningkat. Kebutuhan air yang meningkat tersebut nyatanya malah diperburuk dengan ketersediaan air yang semakin berkurang akibat daerah resapan air tersebut.

Maka sudah seharusnya Salman atau instansi-intsansi yang banyak membutuhkan air dalam operasionalnya, merencanakan ulang penggunaan sumber air agar bisa memenuhi kebutuhannya hingga bertahun-tahun ke depan. Karena bisa jadi kurva ketersediaan air akan mencapai titik nol di saat kurva permintaan menuju puncaknya. Karena bisa jadi salman harus senantiasa mendatangkan truk-truk pembawa air tersebut setiap kali adzan dikumandangkan. Salah satu pilihan agar kedua kurva tersebut berada pada titik kesetimbangan ialah mendaur ulang air yang telah dipakai dan mengolah air hujan.

Salman mengeluarkan ribuan kubik air perharinya. Bayangkan saja, jika setiap waktu shalat akan dilaksanakan, anggap saja 1000 jamaah mengambil air wudhu, dan setiap orang menghabiskan 100 mL/detik, maka dalam setiap waktu shalat Salman mengeluarkan air bersih sekitar 800 m3/hari. Dan jika dihitung lagi, untuk 5 waktu shalat (100% dzuhur, 50% ashar, 30% maghrib, 20% isya, dan 5% shubuh), Salman harus mengeluarkan air sebesar 1500 m3/hari. Wow…jumlah yang cukup besar.

Jumlah tersebut memang akan sangat disayangkan jika harus dibuang. Tapi sangat potensial jika air tersebut didaur ulang atau diputar kembali dengan melakukan pengolahan sederhana sebelumnya. Minimal Salman tidak mengalokasikan tabungan airnya untuk kebutuhan air wudhu (yang kebutuhannya paling besar).

Selain itu bisa juga dengan membuat sistem pengolahan air hujan. Bandung yang memiliki curah hujan relatif besar, yaitu 50 mm, rasanya sayang jika air yang dilimpahkan-Nya dibuang begitu saja di saluran-saluran drainase kota. Salman bisa membuat alternatif dengan membuat site-site yang menampung air hujan secara komunal di setiap titik potensial yang selanjutnya diolah dengan mengalirkannya ke dalam sumur yang telah dimodifikasi dengan bebatuan.

Secara teknis, pembuatan kedua sistem pengolahan tersebut sebenarnya tidak terlalu sulit. Teknologi yang digunakan relatif tua, artinya segala kebutuhannya sudah banyak beredar di pasar. Dan modul-modul ataupun artikel mengenai pembuatan unit tersebut telah banyak berada di database google.com. Jadi secara sederhana, kedua alternatif ini sangat feasible untuk diaplikasikan..

Saya berani! Bagaimana dengan Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s