Proposal hijau muda

“mah, aku ga bisa datang sore ini”, suara lirih Tiara di Handphone Samsung-nya.

“tapi, Aris minta mamah kalau kamu harus ikut. soalnya dia harus dapat jawaban dari kamu secepatnya”, bu Isti masih dengan sabar membujuk anaknya.

“aku harus ikut mengantar Dewi ke bandara mah, aku sudah janji duluan, dia teman baik aku, dia ikut suaminya tinggal di Paris. gimana kalau acaranya diundur malam aja?”, Tiara terus memelas diantara derai tawa teman-temannya di dalam mobil. Tapi tetap saja ibu Isti tidak memberikan jawaban yang membuat hati Dewi lebih tenang. mobil Toyota Yaris milik Adri terus melaju meninggalkan Bandung. Tiara dan teman-temannya turut serta mengantarkan Dewi, teman satu jurusannya di ITB. satu minggu yang lalu Dewi melangsungkan pernikahannya dengan seniornya, Randu, di jurusan yang sama, Teknik Industri (TI). mereka awalnya berada dalam satu organisasi yang sama, Randu sebagai ketua, dan Dewi sekretaris. Dan tiba-tiba saja menyebar undangan di jurusan TI tentang pernikahan mereka. semuanya terkaget. terlebih Tiara yang memang dekat dengan Dewi, tapi dia sendiri tidak pernah tahu tentang rencana akbar itu. teman-teman Tiara terus membicarakan tentang pertemuan dan keputusan mereka yang akhirnya harus berakhir di pelaminan. mereka berspekulasi. “kayaknya sih, si Randu ga pake perantara tuh ngelamarnya..”, celoteh Krisna. “gw udah tau dari dulu, man. si Randu itu sengaja ngangkat si Dewi jadi sekretarisnya, biar lebih deket..”, Adri menambahkan di belakang stir dan selanjutnya terus diiringi derai tawa teman-temannya. sementara Tiara hanya diam, terkadang memaksakan tersenyum jika ada temannya yang bergurau. matanya lurus melihat pemandangan bebukitan tol cipularang. jilbab putihnya terus berkibar-kibar ditiup angin dari luar. terkadang keluar satu-dua tetes air mata dari matanya. bukan karena debu yang masuk, tapi karena desakan jiwa yang selama ini terus menghantuinya. bimbang.

* * *

jilbab hijau muda, kemeja hijau melon, rok gelap, sepatu cokelat, tas kecil cokelat…mm apalagi yah…
Tiara sibuk menyiapkan perlengkapan tempurnya untuk mengikuti training di universitas tetangga, Unpad. tentang “sistem manajemen kesehatan kerja di Rumah Sakit”. ia mensortir dari mulai perlengkapan alat tulis, tiket, snack, hingga warna pakaian. tidak sedikit wanita seperti ia yang jeli memperhatikan penampilan dan rajin mengikuti berbagai seminar, pelatihan, workshop, training, dan semacamnya selama masih terjangkau dan kalau bisa gratis. walaupun ia harus datang sendiri dan acaranya berlangsung di Jatinangor.

aktivitas di dalam kampus pun rajin ia ikuti. menjadi piranti atau fungsionaris organisasi mungkin tidak banyak, tapi kalau masalah kepanitiaan ia selalu muncul. walaupun hanya sebagai humas atau publikasi. tak hanya aktivitas organisasi, ia juga suka ‘ikut-ikutan’ di acara riset mahasiswa TI. mungkin banyak orang yang bilang kalau ia hanya ingin eksistensi bukan esensi. ia banyak mengambil amanah, tapi tidak fokus. akan tetapi, argumen itu tidak seluruhnya benar, karena fitrah menusia sebenarnya ingin dirinya dikenal atau dihargai orang lain. makanya ia terus mengaktualisasikan dirinya selama itu bermanfaat.

* * *

“aku dilamar…”

“…”

Dewi mendekatkan lebih erat kepalanya ke wajah Tiara yang semakin gelisah dan terkadang melebarkan senyum kaku, seolah tidak percaya dengan ungkapan tadi. “Kapan?”, Dewi berusaha mencairkan

“sore setelah walimahan kamu. setelah kumpul alumni training yang dulu diadain di unpad, dia ngasihin proposal dan mau melamarku”, tegas Tiara.

“gentle banget tuh orang. anak mana? ITB yah? angkatan berapa?”, Dewi terus menggoda.

“bukan. Kedokteran Unpad. namanya Aris. kita ketemu di training tentang kesehatan kerja Rumah sakit di Unpad. ia sedang magang, sebentar lagi akan bergelar dokter”, Tiara memasukkan helaian rambut yang terakadang keluar dari lipatan jilbab pink-nya.

“trus kenapa? kamu bingung? kan enak dapet anak FK, calon dokter pula. coba apa yang kurang?!”, Dewi terus merayu.

sore di sebuah taman di samping masjid itu kian menyejukkan nuansa perbincangan mereka. Tiara tidak menjawab pertanyaan Dewi yang terakhir. ia hanya tertunduk seolah ada rasa yang sangat mengganjal dalam hatinya ketika mendapat tawaran dari sang dokter. memang, tidak ada cukup alasan untuk menolak lamaran Aris, tapi serasa ada hal yang mengganjal dalam hatinya. angin terus menghembuskannya hingga beban-beban dipundaknya terasa lebih ringan, dan kegelisahan di dalam hatinya sedikit lebih tidak sesak. dan rangkulan tangan Dewi membuat aroma persahabatan menjadi lebih nikmat di antara kelu yang datang mengganggu.

* * *

Toyota Yaris merah berhenti di pelataran parkir perumahan dosen di Dago Atas. dua orang pemuda keluar dari mobil itu. pakaiannya casual. “eehh…Adri, Krisna..tumbenan, ada apa nih?”, Dewi sumringah kedatangan teman-teman dekatnya. tapi, matanya menandakan sebuah pertanyaan tersembunyi tentang kedatangan dua temannya ini. “eeng..enggak kok Dew, kita cuman mau maen ajah, kan lo bentar lagi mau ke paris”, tukas Adri sedikit datar. Dewi mempersilakan mereka duduk di ruang tamu 5×7 m2 milik orang tua Randu, suaminya, dan meminta diri mengambil minum ke dapur.

“sori yah, suami gw lagi ngurusin paspor, kayaknya pulangnya malem. by the way, yang laen emang pada kemana?”, Dewi sambil meletakkan teh di atas meja kaca dengan kayu berukiran sebagai penyangga.

“Ando lagi ada ortunya di bandung, Siska lagi banyak kerjaan, kalo Tiara….gw ga..”

“udah deh, kelamaan lo Dri”, Krisna memotong jawaban Adri yang belum selesai. “jadi gini Dew, teman kita ini ‘kan bentar lagi lulus, sambilan kerja pun dia udah punya, nah sekarang lagi hunting nih nyari sang bidadari..”

“oohh..I see..I see. jadi lo mau nikah Dri??? malu-malu gitu, nyantai ajah lagi..”, Dewi tersenyum girang. “emang lo mau bidadari yang kayak gimana? kayak Sari anak Informatika itu? Atau Nasya anak KM? atau Rani anak Teknik Ling…”

“orangnya ga jauh-jauh dari kita kok, Dew”, Krisna lagi-lagi memotong. “bidadari Adri itu Tiara. ia pengen lo lamarin dia buat Tiara sebelum lo cabut ke Paris”.

Dewi tersentak. ia berusaha menenangkan dirinya seolah tidak terjadi apa-apa. dan menjaga agar wajahnya tetap ceria dan senang mendengar kabar gembira ini. bagaimana pun juga ia ingin teman-temannya terus kompak dan solid. jika saja sore itu ia tidak bertemu dengan Tiara di taman, maka ia akan menerima berita ini sebagai hadiah menarik untuk sahabat dekatnya sebelum ia ke Paris. akan tetapi, Tiara telah dilamar calon dokter beberapa hari yang lalu.

* * *

Tiara masih menatap lurus keluar. pemandangan bebukitan tol cipularang kini telah berubah menjadi hiruk-pikuk gedung-gedung bertingkat pencakar langit. suasana di dalam mobil pun sudah tenang.  Krisna sudah tertidur di kursi depan dan Adri tetap konsentrasi mengemudi Toyota Yaris-nya. Mita dan Siska duduk tenang di bangku belakang bersama Tiara yang hingga saat ini hatinya masih saja gundah karena tadi malam Dewi datang ke rumahnya membawa proposal hijau muda milik Adri.

Lampung-Garut-Bandung, 22 Juli 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s