Global Warming…

ehmmIni bukan tentang sebagian Negara-negara Eropa yang terkena badai besar akhir-akhir ini. Atau pakistan yang selalu dihampiri angin puting beliung. Atau juga negara Afrika yang masih kekeringan. Bahkan Indonesia yang sampai sekarang pun yang belum jelas sedang musim apa, hujan atau kemarau. Kata para ilmuwan, itu semua efek dari pemanasan global atau global warming (baca juga siap2 meninggalkan bumi). Tapi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kejadian-kejadian lingkungan tadi. Tidak ada hubungannya dengan perubahan iklim dunia. Lantas apa?

Akhir Juni 2007 ini mungkin waktu yang tepat untuk berkunjung ke kampung halaman. Secara UAS sudah selesai dan segala urusan kampus pun sudah kelar. Bayar tigapuluh rima ribu sepertinya pantas untuk menumpangi bus ber-AC, TV, dan tolilet. Tidak hanya itu, bus ini pun tetap berangkat walau penumpang hanya satu. Di jalan, meraka tidak mengizinkan para pedagang asongan naik ke dalam bus. Jadi, suasana benar-benar cocok untuk baca novel dan minum jus sambil melihat pemandangan Parahyangan. Aku pun sedang memegang buku setebal 10 cm karangan Habiburahman El-Shirazy itu. Bukan Ayat-ayat Cinta, tapi Dwilogi Pembangun Jiwa : Ketika Cinta Bertasbih. Ceritanya masih sama kayak AAC: menikah.

gw udh nyampe rmh nih, maen yuk..

Aku menekan send, dan pesan singkat itupun terkirim ke dua temanku di kampung halaman dengan maksud mengajaknya ‘jalan’. Janji pun dibuat. Kami berbincang tentang pengalamanku kuliah yang tak kunjung selesai, dan teman-temanku yang sibuk bekerja. Terasa ada atmosfer baru yang terbentuk di kalangan teman-temanku saat itu. Mereka terlihat lebih tenang, dan membatasi hura-hura.

“sori, gw lagi ngirit nih”, kata temanku berbisik. “gw ama cewe gw lagi nyicil rumah di ******”, lanjutnya. Aku lantas tak kuat menahan tawa bercampur ketidakpercayaan atas ucapannya tadi. “emang lo mau kawin??”, tanyaku penasaran. “iya, tahun depan..”, sahutnya pasti.

Giilaaa…

Aku jabat tangannya dan mengucapkan selamat. Ternyata itu selama ini yang membuat mereka sangat semangat bekerja dan sedang serius menata masa depan yang lebih konkret. Nuansa panas sesekali menghiasi perbincangan kami walalupun saat itu malam hari.

Tangerang sangat panas siang ini. Walaupun rumahku terletak di perkampungan yang masih asri, tapi panasnya masih terasa menyengat. Aku mencari sesuatu untuk membuat oksigen buatan untuk memberi rongga atas keringatku. Aku ambil satu lembar surat undangan pernikahan di samping TV dari sekian tumpuk surat undangan yang datang ke rumahku. Banyak juga yang menikah bulan-bulan ini, pikirku. Dan setelah kupikir-pikir lagi…Kenapa liburan ini temanya harus menikah…?? surat undangan itupun terus kukipas-kipas, tapi tetap saja masih panas. mungkin aku harus mengganti dengan kertas karton, kardus, atau buku tebal.

“lo tau gak, si ipay tahun depan mau nikah ama si indri..”, aku membisikki temanku, zaenal, selepas sholat jumat. Aku terlalu bersemangat menyampaikan kabar gembira ini rupanya. “lo kapan zen?”

“gw september tahun ini insya4JJ1”, jawabnya tajam.

Haahhh….

Emosi wajahku sama seperti ketika mendengar berita dari temanku, ipay. tapi, kali ini agak lebih kaget. karena zaenal orangnya selama ini diam-diam saja. dia seorang guru SD di kampungku, Sabtu minggunya dia pakai untuk kuliah. Kok bisa….

perasaanku saat itu tidak hanya kaget kenapa mereka cepat nikah, tapi juga karena kenapa mereka mesti yang duluan. sebenarnya aku diam-diam ingin memberi surprise pada mereka bahwa aku segera menikah selepas kuliah nanti..karena selama ini mereka hanya menjalin hubungan dengan pacarnya, tidak pernah serius untuk melanjutkan hubungannya. dan aku akan membuktikan bahwa berumah tangga tidak harus melewati ritual pacaran yang bertahun-tahun…

tapi, nyatanya…hiks..hiks…

aku semakin panas…global warming…

manuver terjadinya hawa panas itu selalu mengikutiku kemana saja aku pergi. terakhir, di tengah liburan ini, aku dan keluarga meminjam mobil karena harus menghadiri acara PERNIKAHAN sepupuku di Karawang. umurnya sama dengan umur adikku yang baru saja lulus SMA. oh, my God…bayangkan saja, Karawang setahuku tempatnya cukup panas menyengat.letaknya dekat ke laut dan dihampari ribuan hektar persawahan. jadi sebenarnya bukan tempat yang cocok untuk lokasi liburanku. dan ditambah lagi manuver hawa panas dari sumber yang lain…

sampai hari ini pun global warming terus bergulir…

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s