Kegelisahan pemuda = Revolusi

benderaku

Newton menemukan hukum ketiganya dengan sangat fantastis. Aksi = reaksi. Suatu falasafah hidup yang benar-benar berada di jalurnya. Ini boleh juga dikatakan sebagai hukum alam. Atau hukum Tuhan. Ada akibat, pasti ada sebabnya, begitulah kira-kira. Proklamasi Kemerdekaan RI, itu adalah suatu akibat. Kemerdekaan adalah bentuk gerakan atau revolusi yang ingin melepaskan dari belenggu keterjajahan. Dan pasti, akibat yang besar ini ada sebabnya.

Pemuda-pemuda Indonesia: Trimurti, Chaerul Saleh, Pandu, A Malik, Wikana, B Diah, Supeno, Sukarni, mendesak para pemimpin nasional yang sedang di Jakarta untuk—dengan atau tanpa seizin Jepang—mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan. Inilah sebab terjadinya Kemerdekaan RI kira-kira. Bahkan, cara mereka ‘mendesak’ pun unik: penculikan. Kok bisa berani-beraninya pemuda yang saat itu masih mahasiswa menculik petinggi-petinggi negara? Ada bara apa di dalam hatinya? Inilah sebab kenapa hingga 60 tahun lebih ini bangsa Indonesia ‘sudah’ merdeka. Hadiahnya berupa proklamasi kemerdekaan. Tapi, kemerdekaan secara hakiki (sebenarnya) masih mereka teruskan perjuangannya. “Lebih baik musnah dari pada didjadjah. Lebih baik mati tergilas oleh pertempuran dari pada hidup menjerah serta ditahan oleh tentara imperialis djahanam”, itulah semangat bara mereka.

Dan kejadian serupa juga ternyata terulang 53 tahun kemudian. Tahun 1998, tepatnya 21 Mei, ribuan mahasiswa Indonesia tumpah ruah di jalan protokol Jakarta. Bersenjatakan spanduk, poster, megaphone, dan keberanian. Keberanian untuk berbicara kebenaran. Mereka tak gentar walaupun harus berdarah-darah melawan aparat–yang juga katanya membela negara–dan bahkan harus rela merenggut nyawa. Demonstrasi tersebut adalah akumulasi ‘kemarahan’ para pemuda Indonesia atas kebobrokan rezim Soeharto, yang memang lembut dan bagus tampak luar, tapi keropos dan berkarat di dalamnya. Dan atas adanya ketidakadilan dan kedustaan rezim ini, para pemuda membuat rencana-rencana. Atau boleh dibilang, mereka membuat ‘sebab-sebab’ agar bisa terjadi ‘akibat’ yang mahadahsyat, yaitu kemerdekaan. Kemerdekaan dari belenggu otodidak Soeharto. Dan, hukum alam pun terjadi.

Tak disangka, tanggal 22 Mei 1998, Soeharto yang dikenal bertangan besi pun takluk juga akhirnya. Ia mengundurkan diri dan diganti Habibie. Unik. lagi-lagi cara mereka memang unik. Buat mereka, ini yang disebut dengan demokrasi. Dan harus ada reformasi agar bangsa ini lebih dewasa. Maka zaman setelah Soeharto pun disebut zaman Reformasi. Apakah Indonesia sudah mereformasi pascapembacaan teks pengunduran Soeharto tersebut? Tidak. Habibie pun masih diguncang karena masih terjerat Orde Baru-nya Soeharto. Sekali lagi boleh dikatakan bahwa agenda reformasi sampai hari ini pun masih belum tercapai. Indonesia belum merdeka.

Korupsi yang semakin menstruktur. Birokrasi alot yang telah menjadi bagian dari ritual kepemerintahan. Pendidikan yang sepertinya hanya untuk kalangan kaya saja. Korban bencana nasional yang hingga hari ini masih mengkhawatirkan kesejahteraannya. Masalah transportasi, hutang luar negeri, kriminal, dan lain-lain. Inilah suatu bentuk penjajahan baru negeri ini.

Pertanyaannya sekarang. Kemanakah para pemuda Indonesia saat ini? Kemanakah para pahlawan bangsa di zaman ini? Dimana Chaerul Shaleh lain yang berhasil menculik Soekarno itu? Mana kegarangan teriakan mahasiswa yang bisa meruntuhkan kerajaan 32 tahun Soeharto?

Jawabannya mungkin bisa terpuaskan jika kita berkeliling kota siang atau malam ini. Nongkrong di mall, berkumpul di simpang jalan dengan sekumpulan motor dan teman-temannya, berdesakan di konser musik, bersesak-sesak mengantri di loket peluncuran album terbarunya Radja, dan berpeluh-peluh keringat di pub sambil menghabiskan 2 botol Whisky. Itulah kenyataannya. Disanalah kini para pemuda Indonesia menghabiskan usia emasnya.

Mungkin tidak semua. Tapi itulah kenyataannya kini. Gaung hedonisme sudah tak bisa lagi dibendung oleh antibodi idealitas semangat antikemapanannya. JIka harus menyalahkan keadaan, mungkin salah satu sebab kenapa begitu merosotnya identitas para pemuda Indonesia di zaman ini, adalah minimnya fasilitas publik yang bisa mengembangkan bakat dan minatnya sehingga identitasnya sebagai pemuda semakin sulit terasah. Berapa banyak perpustakaan atau gedung olah raga dibandingkan dengan mall yang dibangun di setiap kota di Indonesia ini? Siapa yang sering dipercantik, sekolahkah atau mall-mall? Lebih sering dipakai untuk kompetisi ataukah untuk konser Peterpan Gedung Olah Raga (GOR)? Terakhir, Indonesia tak menjuarai kejuaraan bulu tangkis di kandang sendiri (tuan rumah) di Indonesia Open 2007 oleh Djarum.

Menyedihkan. Memang.

Kembali ke Hukum Newton yang disebut di atas. Aksi = reaksi. Proklamasi RI terlaksana karena adanya gerakan kesadaran dari mahasiswa (=pemuda) untuk mendesak Soekarno. Kemerdekaan suatu akibat (reaksi), dan penculikan suatu sebab (aksi). Soeharto menyatakan mundur dan reformasi pun bergulir karena gerakan kesadaran mahasiswa yang BERANI menyampaikan kebenaran walau harus berhadapan dengan tank baja. Reformasi adalah reaksi dan demonstrasi adalah aksi. Hukum alam. Dan bahkan hukum Tuhan. Tak bisa terbantahkan.

Krisis moral, krisis moneter, krisis kepemimpinan, dan entah krisis apa lagi yang mendera bangsa ini, adalah PR besar para pemuda saat ini. Adanya suatu zaman penuh keadilan dan kejujuran adalah suatu akibat yang sedang didamba-dambakan masyarakat Indonesia saat ini. Revolusi dari kebobrokan bangsa ini sedang ditunggu-tunggu sebenarnya. Masyarakat Indonesia sedang menunggu kelahiran seorang bayi bernama Khairil Anwar, M. Natsir, Bung Hatta, Jenderal Soedirman, yang telah memanifestasikan wujud kepemudaannya dalam perbaikan bangsa. Tapi, sang jabang bayi tak juga muncul.

Hukum Newton sulit berlaku di sini rupanya. Karena jika dan hanya jika ada aksi, maka barulah akan terjadi reaksi. Jika hari ini pemuda-pemuda Indonesia sudah tak lagi merencanakan hidupnya dalam upaya menjadi ‘sebab-sebab’ dari munculnya ‘akibat’ perubahan bangsa ini, maka tunggulah kehancuran. Tunggulah hingga penyakit-penyakit itu terus berkembang biak dan dengan mudah menggerogoti akar-akar bangsa hingga bangsa ini mati.

Risaulah terhadap penyakit-penyakit yang menyerang bangsamu hari ini. Buatlah kegelisahan hati dengan membaca koran, berita, dan media-media inpenden tentang bangsa ini. Bukalah mata atas penjajahan asing atas sumber daya alam Indonesia yang sudah semakin menipis dengan ‘freeport-freeport’-nya.

Dan kemudian berpikir. Bergerak. Dan lawan!!!

Karena hanya itu satu-satunya jalan sehingga para pemuda bisa menjadi ‘sebab’ atas munculnya ‘akibat’ perubahan bangsa ini. Singkatnya, sesuai Hukum Newton III (Aksi = Reaksi), kegelisahan pemuda Indoensia atas bangsanya = Revolusi kebangkitan nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s