Nantikanku…

Entah apa yang aku pikirkan kini. Yang jelas, ada susuatu yang tidak biasa dalam detakkan jantungku.
Aku hanya terdiam. Entah harus berbuat apa.
Saat ini kondisi badanku memburuk. Beban pikiran pun smekain bertambah beratnya. Dan entah kenapa manuver itu krmbali lagi. Menghampiriku, mungkin.
Selalu membuatku tersenyum walaupun berat. Selalu membuatku tenang, walau gundah. Selalu membuat hatiku gembira walau tak nyata.
Aku hanya satu dari sekian banyak manusia yang merasa sejuk didekatnya. Sejuk ketika aku berdiri tegak menghadang percikan air terjun yang menhantam batu dibawahnya. Kesegaran airnya meresap ke dalam aliran darahku. Membasahi semua pikiranku.

Ketika hati-hati ini terisi oleh kehadiran energi cinta yang tak lagi nyata. Maka dirimu akan terus terpapar hingga dirimu sadar bahwa energi itu hanya sebuah percikan air terjun yang memercik ke segala arah. Dia membasahi tubuh-tubuh lainnya yang juga berdiri di sampingmu.

Percayalah, ketika energi itu membuatmu terbangun sehingga dirimu tak hanya memandang percikan air itu saja, tapi memandang menengadah dimana sumber air percikan itu? Dimana sumber air terjun itu? Dimana sumber mata air itu? Teruslah bertanya hingga kamu merasa puas dengan pertanyaanmu..
Dan percayalah, kamu tidak akan mendapatkan energi cinta itu ketika kamu hanya tersenyum dan bangga karena merasa sejuk di dekatnya.

nanti. pada saatnya. tenang sajah

 

Aku kini tak lagi berkata. Hatiku kembali berdetak kencang.
Bagaimana tidak, setiap kali aku menulis kata-kata ini, kesejukkannya segera aku rasakan kembali.
Percikan air itu membuat mataku cerah, bibirku tersenyum, dan mukaku berseri. Maka izinkanlah aku untuk memberi ucapan terimakkasih kepadanya. Biarkanlah aku berteriak mengucapkan kata syukur atas yang diberikan padaku.

Jika kini aku tidak lagi memilki manuver lain yang menghadang badanku, maka akan kusambut kesejukan itu dengan detakkan hati, dengan senyuman bibirku dan dengan lingkaran tanganku. Maka izinkanlah aku untuk mengumpulkan batu-batu dan seutas tali biar aku mampu melihat sumber percikan air itu, hingga aku bisa merasakan kesegaran sesungguhnya dari mata airmu. Hingga aku bisa melangkah bersamamu dalam kesejukan-kesejukan aliran sungai kita.
Biarkanlah aku untuk terus terbang menerjemahkan segala butiran percikanmu yang menyejukan itu.

Seandainya hari ini adalah kemarin,, akan kuterjemahkan butiran itu sebelum aku menuliskan ini.

25 September 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s