Mutiarahati, kamu dimana?

hei…

“aku pergi dulu ya..”
“mau kemana?”
“…”
“kita ‘kan baru aja ngobrol, ko’ udah mau pergi lagi?..”
“daahh…assalamu’alaikum”
“hati-hati..”

***

Seperti biasanya, sore ini aku membuka resep makanan yang baru aku dapat dari suatu majalah. Pan cake mangga. Wah…enak sepertinya. Mungkin karena ibuku berasal dari Indramayu, makanya aku lebih suka menggunakan mangga sebagai icon utama setiap makanan buatanku. Mudah-mudahan saja mimpi mendirikan usaha ‘All about Mangga” bisa menjadi kenyataan.
“Lagi bikin apa, teh?”
“…”
“deeuuhh..serius banget. Emang sekarang mangganya diapain lagi??”
“…”
“tadi Anzal nelpon, katanya sih..”
Tanpa meneruskan kalimatnya, adikku berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Tentunya dengan tertawa yang meledek.
“Awas ya..ntar gak teteh kasih kuenya..”, aku membalasnya sambil berteriak ke arah lantai 2.
“Kamu lagi bikin apa, Nur?”
“ehh..Ibu. baru datang dari Rumah Sakit? Bapak gimana? Masih manja gak?”, aku masukkan kue itu ke dalam oven.
“ya..Alhamdulillah. kata dokter sih kondisinya semakin membaik”, ibu meletakkan tasnya di meja dan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Sepertinya sangat lelah.
”nih, ibu belikan kerudung buat kamu, suka kan?”, aku menerimanya dengan senang dan rasa bangga. Ternyata ibu masih memperhatikan anaknya yang sering lupa melayani orang tuanya yang sudah berusia.
”kok, aku nggak dikasih bu….“, teriak adikku di lantai 2. ”emang kamu mau pake jilbab, sayang”, balas ibu. ”tuh, makanya pake jilbab, biar nanti dibeliin ama ibu, ntar kan jadi tambah cantik kaya’ teteh..”, adikku langsung menyunggingkan mulutnya dan masuk kamar lagi setelah mendengar ’tawaran’-ku tadi. Sebenarnya adikku sudah semestinya memakai jilbab, karena secara biologis dia sudah baligh. Tapi, mungkin hatinya belum bisa mencari hidayah-Nya secara sempurna. Seperti aku yang baru memakai jilbab setelah masuk perguruan tinggi.
Jadi nggak rencana kamu S2 di Belanda?”, ibu meneruskan pembicaraan sambil melepaskan jilbab cokelatnya.
“mmm…belum tanya-tanya lagi sih, tapi..ya…gimana ya..”, aku bingung mesti menjawab apa. Namanya juga angan-angan, kadang-kadang terasa jauh untuk dilaksanakan.
“kemarin sih udah cari-cari info beasiswanya, tapi …”, aku meneruskan pembicaraanku tapi ibu ternyata sudah tertidur kelelahan.

***

“kamu ini kenapa sih? Emangnya kita mesti ngomong apa lagi?”, aku sedikit menaikan intonasi.
“nggak..kemaren kamu lagi jalan ama siapa?’, pertanyaan yang mestinya tidak perlu dijawab.
“tadi itu aku jalan ama si Anzal, mau survey tempat buat tugas, emang salah ya?”, darah-darah di mukaku semakin memerahkan kulitnya.
“ya…sebaiknya sih ada temen lagi, bertiga gitu, gak berduaan, biar gak disangka fitnah juga sih..”, nasihatnya masih terpatah-patah dan datar. “lagian ‘kan kemarin udah sore banget, gak baik lho akhwat malem-malem masih berkeliaran..”, tambahnya, masih dengan suara datar dan terpatah-patah.
“ya..mau gimana lagi, kemaren itu anggota kelompok yang bisa survey cuma Nuri ama si Anzal itu. Bukannya kemaren kamu juga pulang pas maghrib?”, aku menggunakan senjatanya untuk balik bertanya.
“kemaren itu aku abis ada acara ifthor jama’ah di Taman Ganesha. Ya..namanya juga buka puasa, pasti bukanya pas maghrib ‘kan”, jawabannya masih datar dan tenang.
“lho, apa bedanya. Emangnya yang aku lakuin nggak bisa dibilang berpahala, bermanfaat?”, aku masih keukeuh dengan pendirianku.
“Ya sudah, kita sudahi saja ya..takut malah berantem ntarnya..yang lain udah pada kumpul tuh..”dia menarik tanganku mencoba membangunkan tubuhku yang masih duduk.
Sudah hampir 3 pekan aku tidak ikut mentoring lagi. Sepertinya terlalu berlebihan jika aku harus menyalahkan beban tugas yang banyak sebagai faktor kealpaanku. Hubungan dengan teman-temanku di kelompok mentoring ini juga tidak terlalu cair lagi. Buktinya tadi, baru saja bertemu sudah seperti itu. Aku juga tidak terlalu mengerti kenapa hatiku tidak merasa adanya kesejukan dan ketenangan ketika berinteraksi dengan teman-temanku yang tadi, atau bahkan pada saat mentoring dilaksanakan.

***

“ehh..rapatnya bentar lagi kan?”, aku memecah keseriusan rapat rutin pengurus.
“udah mau dijemput ya???..”, Diaz melempar pertanyaan dengan bibir nyengir ke samping. Meledek.
“ntar yang jadi notulen siapa dong, ‘Ra?”, Aji sang pemimpin rapat alias ketua umum, meletakkan spidol biru yang sudah hampir abis.
“’kan ada wakil Tiara, bentar lagi dia mau ke sini kok”, aku sedikit senyum dan segera membereskan tas cokelatku.
“Ara, sang pangeran udah ada di luar tuh..”, Diaz kembali meledekku, kali ini disambut deheman yang tidak perlu dari peserta rapat.
Agil, teman SMA-ku dulu. Kebetulan rumah dia dan rumahku searah. Jadi kalau sudah sore begini aku ikut dengannya naik motor. Memang banyak orang yang berkata macam-macam tentang hubunganku dengan si A, si B, si X, dan variable-variabel lainnya. Umumnya untuk perempuan ‘sepertiku’, memang jarang yang mudah jalan atau makan dengan laki-laki, terlebih hanya berduan saja. Paradigma orang ketika melihat atau mendengar kejadian itu mungkin akan kaget. Tapi, bagiku hal itu adalah suatu bentuk komunikasiku dengan teman-temanku tanpa membedakan ini dan itu. Dan sudah tentu ada batasan-batasan yang aku tegaskan dengan definisiku sendiri. Kadang-kadang pada bagian ini orang-orang atau teman-teman perempuanku mulai komplain. Menurutku terdapat ruang yang berbeda ketika definisi dan parameter seseorang harus disamakan.

***

“kamu kapan?”, aku menyenggol temanku yang sedang tilawah.
“Aku sih kalo udah beres kuliah”, jawabnya sambil tersenyum dan menyudahi tilawahnya.
“wah..bentar lagi donk!!”
“itu juga kalo jodohnya ketemu, kalee..”
“kalo aku sih kayaknya abis nerusin S2 deh..”, Aku melipat mukenaku dan menutup buku kecil ‘Nikmatnya Pacaran Setelah Menikah’. Masalah yang satu ini adalah hal sensitive bagiku. Walau terkadang orang selalu mengklaimku sebagai perempuan yang ‘ingiiiin banget’ nikah, tapi bagiku menikah bukan hal sepele. Sangat sakral. Tidak cukup dengan ijab qabul saja. Ada keteguhan dan perencanaan hidup di sana.

Drrdrdrdrdrrrr… Drrdrdrdrdrrrr… Drrdrdrdrdrrrr…
Nokia-ku bergetar. New message
Foto2 yg survey kmrn ada d kamu kan? Jam 2 nanti kita bisa ktmuan d dpn TU?.bawa jg data2 yg lain.

“siapa nih..? Katanya mau S2 dulu, kok udah janji ketemuan segala sih…”, Murnie menyenggolkan bahunya sambil tertawa renyah hingga badanku kena tembok mushalla.
“…”, tak ada jawaban dariku, hanya senyum simpul.
Reply:
Ya insya4JJ1…bisa
Send.

***

Kubuka pintu jendela kamarku yang menghadap arah timur. Tebaran angin malam merayapi seluruh jenak-jenak memori hari tadi. Aku memandang langit. Kulihat kukusan bintang di antara saus kepekatan malam. Bintang yang kupandangi kali ini adalah makhluk yang selalu menatapku setiap malamnya. Setiap aku melabuhkan lelah di koridor lantai dua ini. Setiap aku menangisi kesendirianku di hari-hari yang kujalani. Di setiap aku melihat hiruk-pikuk manusia di tengah-tengah hegemoni hidup yang mereka perjuangkan.

Hanya bintang malam yang selalu setia melihatku memegang Islam seperti Islam-nya alam, matahari, air, dan hewan. Islam yang aku lihat dari Alquran dan alhadits. Islam yang aku tatap dari mata sayu tukang becak. Islam yang aku lihat di setiap mata hati manusia-manusia. Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam ini. Islam yang membuat orang yang berada di dekatnya menjadi nyaman tanpa melihat siapa orang yang di dekatnya.

Dan hanya desiran angin malam yang membawa setiap keluhku ketika manusia-manusia mengotori nilai Islam ini dengan egoisme pemikiran Islam yang mereka pahami. Mengkotak-kotakan wilayah kehidupan dengan nilai-nilai Islam tekstual. Sambil berkata kepadaku,
Mutiarahati, kamu dimana?
Kamu harus tahu kemana kamu akan pergi
Kamu harus punya kendaraan supaya kamu cepat sampai tujuan yang kamu inginkan
Kamu tidak bisa jalan sendiri karena telah banyak orang yang menaiki kendaraan ini

Kata-kata itu teruapkan dengan sendirinya. Sepertinya angin malam ini tahu bahwa kata-kata tersebut sebaiknya tidak bersemayam di pori-pori otakku, sehingga harus diterbangkan. Dan terkadang aku harus keluarkan lewat mulut. Karena angin-angin tadi sudah terlalu banyak melarutkan partikel-partikel kontaminan meresap ke dalam tubuhku dan membuat tenggerokanku gatal. Batuk. Sering juga ia mengisi ke dalam tubuhku sehingga ku merasa mual.

00.12 am
Bandung, 16 Mei 2006
Imam Alkarami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s