Kekasihku, ajari aku mencintaimu…

Aku adalah hamba-Nya

Jam di tanganku sedari tadi sudah menunjukkan angka 11.05. angin yang dingin berusaha menghangatkan kedekatan kami – yang begitu dekat – malam itu. Aku masih memegangnya, aku masih menatapnya, bibirkupun masih bergetar karenanya.

Entah sejak kapan hubungan ini terjalin. Aku pun lupa. Bisa jadi sudah sejak dulu – sebelum aku mengenal kalimat-kalimat ini – atau mungkin baru kemarin. Aku lupa. Tapi, kekasihku bilang, dia sudah mencintaiku dan menginginkan hati kami berpadu sudah lama sekali. Tidak ada waktu untuk membahas ini sepertinya. Dulu, sebelum aku belum benar-benar dekat dengannya. Menyapa pun aku jarang. Terkadang aku banyak sekali berbicara dengannya. Terkadang juga aku sangat jarang. Dan memang, ternyata rupanya begitu anggun dan enak untuk dilihat. Hati ini seakan-seakan sejuk dan tenang jika di dekatnya. Sepertinya kertas ini tidak akan cukup dan keyboard yang aku pijatpun akan hancur jika aku tulis semua keanggunannya. Setelah aku dekat dengannya. Kedamaian, ketentraman, dan ketenangan kian menghampiriku. Aku senang sekali mendengar alunan suaranya. Nasihat-nasihatnya sering kudengarkan. Ajakan-ajakannya membuatku malu sendiri. Aku masih belum bisa melakukan semua yang ia tawarkan, karena – mungkin – diriku masih belum terlalu lama dengan kekasih baruku itu. Tapi, biar bagaimanapun, kini hatiku tenang, diriku senang. Aku ingin sekali dekat dengannya setiap detik. Karena dekat dengannya berarti membuat hati dan pikiran yang sedang sakit bisa disembuhkan. Aku ingin sekali selalu berduaan dengannya setiap kali aku terjebak dalam ketidakkonsistenan sebuah sistem, keruwetan idealisme kotor, formalitas-formalitas yang naïf, kemahabodohan manusia yang tertawa melihat dunia, dan perkembangan-perkembangan kehidupan lainnya. Aku ingin sekali memegangnya ketika tangan ini sudah banyak bercampur dengan bangkai-bangkai busuk kehidupan, dengan jasad-jasad kemolekan, dan dengan tubuh-tubuh dunia yang fana. Aku ingin sekali menangis di depannya ketika mata ini sudah tidak terjaga di saat darah :Ayash-ayash” kecil sudah kering di telan reruntuhan batu, ketika mata ini sudah terlalu kotor mengkonsumsi hidangan-hidangan dunia fana dan hina, ketika mata ini sudah tidak lagi menitikkan setetes air untuk harapan umi dan perjuangan abi, dan ketika mata ini sudah tidak lagi memandang cahaya-cahaya yang mulai redup di telan ketidakjujuran. “Kekasihku, aku rindu padamu”. Ucapan itu sering muncul kini. “Kekasihku, beri aku cahayamu”. Harapanku yang entah kapan aku akan berhenti berharap. “Kekasihku, biarlah aku menangis. Menangisi ketidakjujuranku selama ini”. Masalahku yang sampai saat ini aku tidak tahu harus bagaimana. “Kekasihku, aku ingin sekali menuruti kata-katamu dan melakukannya dengan ikhlas”. Satu lagi harapanku. Dan hanya kepada-Nya-lah aku berharap. ”Kekasihku, ajari aku mencintaimu…” Jarum jam kini sudah menunjuk angka 11.56. Aku masih bersamanya. Tanganku masih memegangnya. Mataku masih menatapnya. Bibirku masih bersuara kepadanya. Dan mudah-mudahan hatiku masih terpaut dengannya. “shodaqallahu’azhim” Ucapku lirih mengakhiri tilawahku sejam yang lalu. Air mataku jatuh menetas. Hatiku bergetar penuh harap. Kekasihku, janganlah kau tinggalkan aku saat ini, esok ataupun lusa. Karena cahaya-cahaya itu berada di dalam dirimu. Karena hidayah-hidayah itu dituliskan di sana. Dan semoga saja perjalanan hidupku dapat seiring dengan kalimat-kalimat yang sering aku lihat di dalam dirimu. ‘ku simpan kekasihku di atas meja belajarku. Bentuknya begitu mungil, kecil. Warnanya cokelat. Alqur’an itu pemberian dari almarhum kakekku. Semoga benar-benar menjadi pemberian amanah yang dapat mentransformasikan diriku yang fana. Amin. Bandung, 24 November 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s