Biomassa, energi masa depan.

save the energy!!Pada hari Kamis, 22 Maret 2007, masyarakat Indonesia cukup tersentak atas pernyataan presiden Yudhoyono di beberapa media. Istana Negara meluncurkan Visi Indonesia 2030, yang salah satu pencapaiannya ialah Indonesia menjadi lima besar dalam jajaran negara ekonomi terkuat dunia. Sebuah pernyataan yang membuat bangsa ini harus berpikir panjang. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Mohammad S Hidayat mengungkapkan bahwa untuk mencapai visi tersebut perlu ada strategi jitu, khususnya berkaitan dengan implementasi kebijakan pemerintah. Sedangkan menurut Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi, perlu ada tiga faktor agar visi tersebut bisa tercapai: kestabilan politik dan keamanan, kebijakan hukum, serta kepemimpinan. Berita ini sendiri muncul di Kompas pada hari Jumat, 23 Maret 2007 yang berbarengan dengan berita-berita ‘langganan’ yang tak kunjung lepas untuk dibahas: korupsi, lumpur Lapindo, bencana alam, kriminal, bahkan berita tentang terganggunya rapat kabinet paripurna karena septic tank di Istana Negara bocor dan meluapkan bau yang tak sedap. Masih terlalu dini mungkin bagi Indonesia untuk bermimpi. Tapi, sepertinya juga perlu ada sebuah trigger agar bangsa ini tidak terus tertidur. Tidak terus merasa nyaman dengan kekayaan yang melimpah. Lantas, langkah apa yang paling tepat agar Indonesia tak lagi menjadi – seperti perkataan Soekarno – negara kuli?

Masih dalam Kompas (24/3), menyikapi tentang Visi Indonesia 2030, seorang peneliti dari Pusat Studi Pedesaan dan Kawasan Universitas Gadjah Mada Mochammad Maksum, menawarkan sebuah konsep bahwa pemerintah harus me-reorientasi arah pembangunan dengan pembangunan yang mengarah pada penggunaan sumber daya domestik. Indonesia sangat kaya akan sumber daya alam yang beragam dan melimpah. Menurut dia, pertanian, industri manufaktur dan energi adalah bidang yang mempunyai potensi untuk dikembangkan secara nasional dan akan menjadi pemicu lahirnya perekonomian yang mandiri di Indonesia. Malaysia telah memiliki Proton yang sekarang ini sudah menduduki pasar Indonesia. Begitu juga India dengan Bajaj-nya. Lantas, kemana Indonesia? Sungguh ironis, ketika tanah air yang sangat subur dan terhampar ribuan hektar persawahan, harus mengimpor beras. Atau ketika negara yang memiliki banyak daerah pertambangan minyak, harus mengimpor minyak. Akhirnya, Indonesia harus meminjam dan mengemis kemana-mana untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berada di negaranya. Ketika suatu negara telah memiliki banyak rasa ketergantungan kepada negara lainnya (adidaya), maka sangatlah sulit negara tersebut dapat maju dan bergerak cepat mengejar negara-negara ’majikannya’.

Energi adalah isu global yang saat ini menjadi perhatian dunia untuk dikembangkan. Pemanfaatan sumber daya alam takterbarukan sudah mulai ditinggalkan. Cadangan bahan bakar dari fosil ini sudah mulai menipis. Selain dari itu, negara-negara industri dalam Protoko Kyoto telah menyepakati bahwa setiap negara industri yang memiliki kontribusi terhadap pencemaran udara akibat pemakaian energi takterbarukan tersebut, harus segera mengurangi buangannya ke udara. Karena akan menyebabkan pemanasan global yang berakibat pada menipisnya lapisan ozon. Saat ini sumber energi terbarukan telah banyak dikembangkan oleh beberapa negara. Seperti Cina yang mengganti penggunaan BBM dengan sumber energi alternatif yaitu batu bara. Cina mengkonsumsi batu bara hingga 70% dari total konsumsi energi nasional. Sementara Rusia dan Inggris telah memanfaatkan gas sebagai energi nasional hingga 60%, sedangkan Afrika 90% kebutuhan energi dipenuhi dari batu bara. Hal yang sama juga dilakukan oleh India yang memakai batu bara sebesar 60% hingga 70% (www.bppt.go.id). Pertanyaannya – sekali lagi – kemana Indonesia?

Kata kuncinya ialah rekayasa teknologi untuk bisa mengkonversi sumber energi terbarukan agar dapat dijadikan sebagai pengganti bahan bakar dari energi takterbarukan, dan adanya political will ataupun kebijakan dari pemerintah agar pengembangan energi terbarukan ini benar-benar terealisasi. Energi dari biomassa merupakan salah satu solusi pemanfaatan energi terbarukan. Selain ketersediaannya cukup banyak di Indonesia, biomassa juga cenderung tidak menyebabkan dampak negatif pada lingkungan. Jagung, misalnya, bisa menjadi alternatif sebagai bahan baku pembuatan ethanol (bahan pencampur BBM). Sedikitnya terdapat tiga tahap pembuatan bioetanol (secara garis besar) yang umum digunakan.

1. Persiapan Bahan Baku
Bahan baku untuk produksi bioetanol bisa didapatkan dari berbagai tanaman, baik yang secara langsung menghasilkan gula sederhana semisal Tebu (sugarcane), gandum manis (sweet sorghum) atau yang menghasilkan tepung seperti jagung (corn), singkong (cassava) dan gandum (grain sorghum) disamping bahan lainnya.

2. Fermentasi
Pada tahap ini, tepung telah berubah menjadi gula sederhana (glukosa dan sebagian fruktosa) dimana proses selanjutnya melibatkan penambahan enzim yang diletakkan ragi (yeast) agar dapat bekerja pada suhu optimum. Proses fermentasi ini akan menghasilkan etanol dan CO2. Bubur kemudian dialirkan kedalam tangki fermentasi dan didinginkan pada suhu optimum kisaran 27 – 320C. Selanjutnya ragi akan menghasilkan etanol sampai kandungan etanol dalam tangki mencapai 8 – 12 % (biasa disebut dengan cairan beer), dan selanjutnya ragi tersebut akan menjadi tidak aktif, karena kelebihan etanol akan berakibat racun bagi ragi.
3. Pemurnian / Distilasi
Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar adalah air dan etanol). Titik didih etanol murni adalah 780C sedangkan air adalah 1000C (Kondisi standar). Pemanasan larutan pada suhu rentang 78 – 1000C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95 % volume.
Sumber : http://www.energiterbarukan.com

Pamanfaatan sumber energi terbarukan. itulah jawaban dari pertanyaan besar tentang langkah yang harus ditempuh pemerintah agar bisa mewujudkan Visi Indonesia 2030. Pertanyaan berikutnya, – dan bukan saya yang harus menjawab – adakah political will dari pemerintah untuk mengembangkan energi terbarukan ini?

Bandung Akhir Maret 2007

*tulisan telah dipublikasikan di Opini http://aksarabumi.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s