Batik : kenapa harus menjadi BEDA (?)

mbatikEntah sejak kapan batik telah menjadi suatu tren dari cara berpakaian orang Indonesia. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, batik menjadi pakaian khas yang harus ada di setiap sekolahnya. Begitu juga dengan pakaian kepegawaian, guru, misalnya. Ada stelan pakaian lain di lemarinya selain safari atau kemeja polos, yaitu batik. Bahkan, hingga wilayah Istana Negara. Selain berdasi dan berjas gagah, seorang menteri atau presiden seringkali mengenakan batik pada acara-acara tertentu. Baik itu acara skala nasional maupun internasional. Konferensi Asia Afrika, misalnya, seluruh perwakilan dari berbagai Negara waktu itu, diukur badannya untuk dijahitkan baju batik untuk mereka. Bahakan terkadang menjadi cinderamata kunjungan kenegaraan. Sehingga boleh kita simpulkan bahwa baju batik (=batik) adalah simbol ke-Indonesia-an (khas) yang sering dipakai untuk acara-acara resmi.

Hari ini adalah hari terakhirku mengambil kredit mata kuliah di ITB. Alias hari ini adalah hari terakhir kuliah. Dan seperti menjadi momen penting dalam hidup ini. Karena biasanya, masa terakhir ketika seseorang telah sampai pada ujung anak tangga kehidupan yang ia injak, itu adalah masa-masa terindah dan harus menjadi potret kehidupan yang menarik. Sewaktu TK dan SD dulu, biasanya hari terakhir masa belajar selalu diisi dengan piknik atau pentas seni. SMP dan SMA biasanya ditambah dengan corat-coret baju dan pawai keliling kota.

Kuliah??

Yang ini belum terjamah. Cuman bisa melihat senior-senior yang duluan hengkang dari wilayah idealitasnya (=kampus). Kalau di ITB, yah paling arak-arakan di dalam kampus terus seremoni di himpunan masing-masing. Inipun khusus yang ’berhasil’ masuk himpunan setelah melewati rentetan hierarki kaderisasinya. Setelah itu, bertebaran kemana-mana. Dan biasanya, acara farewell-nya tidak sekaligus seperti pelepasan SMU, karena memang jadwal mahasiswa ITB masuk Sabuga tdak bisa berbarengan (?), ada yang mengambil kloter Juli, September, atau Maret. Jadi, acara seremoni, arak-arakan, dan lainnya terkadang agak kurang mengena karena …..karena apa yah…ya..karena kloternya beda-beda itu…

Terus apa yang harus menjadi penutup dari tulisan ini? (Gw juga bingung…)

(baiklah..)
Yang menjadi menarik dari tulisan ini adalah ketika aku dan teman-temanku menggunakan baju batik pada hari terakhir kita kuliah di ITB. Yah, walaupun ada beberapa yang masih mempunyai tabungan SKS, minimal acara yang kita buat kali ini dilakukan sebelum ’undangan masuk Sabuga’ datang ke tangan kita. Jadi, status kami semuanya SAMA : undergraduate.

Lho, terus apa hubungannya dengan baju batik?
Sesuai apa yang dikatakan di atas, bahwa batik telah menjadi tren kekhasan orang Indonesia dan telah menjadi pakaian resmi. Yang pasti, hari ini kami dianggap BEDA. Ketika aku berjalan dari asramaku menuju kampus jam 7 pagi, tidak sedikit orang yang melihat keheranan, ”kok ada yah, pesta pernikahan pagi-pagi ?” , atau seorang dosen TL (yang masih cantik walau sudah mempunyai balita) yang berkata renyah sebelum masuk ruangannya ketika melihatku, ”duh, gagah sekali hari ini, makanannya mana nih?”, dan ada juga seorang staf di jurusan, ”nah, gitu donk, kalau kuliah. Rapi. Jadi kelihatan keren..”, dan satu lagi yang membuat satu jurusan TL menjadi ’ngngeuh’ dengan kehebohan kami, ketika seorang dosen lulusan Jepang terheran karena mahasiswanya telah berpakaian batik semua, dan ketika ada yang telat, dosen itu buru-buru menuju pintu dan berkata,”lho, kok kamu nggak pakai batik? Yang nggak pakai batik, tidak boleh masuk!!!”.

BEDA. Yah, itulah yang dirasakan hari ini. Hari ketika semua kenangan telah menemukan ujungnya. Ketika buku-buku kegembiraan dan keriangan Teknik lingkungan 2003 menemukan Bab Penutup-nya.

BEDA. Karena itulah yang ingin ditumbuhkan di hari ini. Harus ada potret kehidupan yang menjadi momen penting. Momen yang tidak mudah dilupakan oleh semua orang. Karena di waktu-waktu ’riweuh’membiakkan bakteri di reaktor biologi limbah industri, di waktu ketika entropi ruangan laboratorium sudah mencapai titik kulminasi, di waktu ketika hanya satu matakuliah yang disana kita masih bisa berduduk mesra, di waktu-waktu terakhir ini… kita masih ingin memberikan keriangan dan kegembiraan yang dulu pernah kita semai bersama. (melow…euy)

Tidak hanya pakai batik. Di kuliah terakhir, lembaran-lembaran kenangan yang hampir selesai itu dibuka kembali. Dipancarkan di LCD di 9008. dan semuanya tersenyum, bengong, tertawa, terbahak, hingga menangis (meureun…). dan di akhir acara ternyata dua tumpeng telah siap untuk dipotong. Ada nasi, sambel, ayam, perkedel, teri pake tempe, lalab, dan tangan-tangan yang tak kuasa menahan nafsu (hewaniah) nya.

Berakhirkah??
Ternyata episodenya masih berlanjut. Karena masih ada biakan bakteri yang harus diurus di ujung lab sana. Ffiuuh…

Dan akhirnya sampai juga di episode terakhir : foto. Tidak ada lagi yang memberikan tawaran lebih baik daripada Jonas Photo. Mungkin juga tren yang sudah dibangun di awalnya. Mirip seperti batik, mungkin, analoginya.

Jekrek..

Ppreet..

Plushh..

[ ]  ini berarti, blitz-nya tidak dinyalakan.

Gaya-gaya. Smile. Pose.

Satu

Dua

tiga…

TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s