Antara Iman dan Kemanusiaan

sunsetUstadz Yusuf Manshur ketika masih di dalam tahanan pernah ‘berdialog’ dengan semut. Ketika itu di dalam penjaranya hanya terdapat sepotong roti. ”hai semut, aku dan kamu punya Tuhan yang sama. Kita sama-sama makhluk-Nya. Aku berdo’a pada-Nya, begitu juga kamu. Maka sekarang aku berikan kamu sebagian dari sepotong roti ini, dan berdo’alah pada Tuhanmu untukku”. Dan tak lama kemudian, seorang sipir Lapas membawakan sebungkus makanan. ”Nggak tanggung-tanggung, Allah langsung membalas ama makanan kesukaan saya, masakan Padang, pake rendang lagi!!”, begitu kata ustadz Yusuf.

Kita sering mendengar bahwa dalam hidupnya, seorang hamba mempunyai dua peran, hubungannya dengan Tuhan (vertikal) dan hubungannya dengan manusia (horizontal). Apakah kedua garis ini harus bergerak dalam sumbunya masing-masing? Ataukah ada garis resultan yang dapat menyatukan sumbu-y dan sumbu-x tersebut? Seperti cerita di atas, seoarang hamba mendapatkan nikmat dari Tuhannya ketika ia menolong makhluk-Nya. Atau cerita seorang pelacur yang masuk surga hanya karena ia memberikan air kepada anjing yang hampir mati kehausan. Itu semua adalah contoh garis resultan dari sumbu-sumbu yang terpisah.

Dalam ilmu fisika kita mengenal vektor, yaitu besaran yang mempunyai nilai dan arah. Hubungan dengan Tuhan mempunyai suatu nilai pahala dengan arah vertikal (sumbu-y) dan hubungan dengan manusia juga mempunyai suatu nilai tapi arahnya horizontal (sumbu-x). Kedua nilai tersebut tidak akan menjadi besar jika memiliki arah yang berbeda (different orientation). Sebaliknya, garis vertikal dan horizontal tersebut akan mempunyai nilai yang lebih besar dan orientasi arah yang sama, ketika dijadikan resultan gaya dari keduanya.

Begitu juga dengan manusia. Ia akan mempunyai ‘nilai’ (maqam) yang lebih tinggi ketika keimanannya kepada Allah diiringi dengan kecintaannya dengan sesama makhluk. Contoh yang sangat jelas adalah Muhammad Rosulullah shallahu’alaihi wasallam. Semenjak remaja ia sudah dikenal dengan orang yang paling dipercaya (Al-Amin). Ia adalah orang pertama yang menjenguk ketika seorang yang setiap hari meludahinya terkapar sakit. Maka beliau bersabda (yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim), ”Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali persaudaraan. Dan siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam”.

Ke-shaleh-an atau ke-shalehah-an seseorang tidak dapat diukur dengan janggut atau pakaian yang ia kenakan. Sama sekali tidak. Tidak pula diukur dengan sikapnya yang enggan menyentuh daerah-daerah dosa. Bersikap steril. Karena keimanan mempunyai manifestasi berupa akhlak. Jika aqidah adalah akar, dan iman adalah batang, maka akhlak adalah buahnya. Dan akhlak mempunyai domain yang luas, tidak hanya pada beberapa orang atau komunitas tertentu saja. Akhlak untuk semuanya : manusia, binatang, benda, tumbuhan, dan Tuhan. Karena Islam adalah universal. Rahmatan lil’alamiin. Wallahu a’lam bishawab.

2 thoughts on “Antara Iman dan Kemanusiaan

  1. Tampilan-tampilan luar yang sering kali dilihat seringkali membuat kita terkecoh. Janggut yang panjang, Jilbab yang lebar ataupun Baju koko yang sering kali dikenakan tidak menyebabkan vektor kesalehan akan bergerak searah dengan vektor tampilan luar. Tapi kaidah gampangnya memang berkata demikian…

    Namun siapa yang bisa mengatakan bahwa seorang yang tidak berjilbab ternyata sering melakukan diskusi yang mencerahkan, seorang yang berpakaian jins sering menyapa kita dengan hangat, seorang yang dengan simbol-simbol luar yang tidak islami ternyata lebih Islami daripada yang kita lihat. Dalam hal ini maka berlaku vektor tampilan luar ‘berlawanan arah’ dengan vektor kesalehan.

    Jadi kaidah manakah yang seharusnya kita gunakan bila menilai seseorang itu ? Kepribadian dan akhlaknya yang menawan atau wujud kebanggaan disiplin dan berIslam yang disimbolkan dalam bentuk janggut dan pakaiannya ?

    Ya dua-duanya… walau kaidahnya memang mengatakan saling bertentangan, tapi…. tampilan luarnya toh tidak parah-parah sekali bukan… yah masih searah lah, tinggal diarahkan ke arah yang kita inginkan !

    (Hehe… Nebeng Mam. Salam ^ ^ ! )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s