PANDUAN PEMERIKSAAN DOKOMEN AMDAL UNTUK PEMRAKARSA

I Latar Belakang 1 Dalam kegiatan atau usaha pembangunan, Pemrakarsa membutuhkan dokumen Amdal untuk rencana kegiatan yang memiliki kriteria wajib Amdal (Permen LH 5/2012, Lampiran 1 dan 3). Amdal dilakukan sebagai kajian dampak lingkungan terhadap rencana kegiatan yang digunakan untuk pengambilan keputusan terkait izin lingkungan dan izin usaha. Amdal terdiri dari Kerangka Acuan, Andal dan RKL-RPL;
2 Dokumen Amdal disusun oleh konsultan penyusun atau Lembaga Penyedia Jasa Penyusun (LPJP) dengan melalui pengadaan/seleksi jasa konsultansi (PP 27/2012 pasal 10);
3 Dokumen Amdal yang disusun LPJP kemudian harus diperiksa terlebih dahulu oleh Pemrakarsa sebelum dilakukan penilaian oleh Komisi Penilai Amdal (KPA);
4 Dalam melakukan penilaian, KPA menilai dokumen Amdal secara administratif dan teknis (Permen LH 8/2013 pasal 12 ayat 2). Penilaian administratif dilakukan oleh Sekretariat KPA sebelum dilanjutkan penilaian teknis oleh KPA dan/atau Tim Teknis;
5 KPA memiliki batas waktu penilaian dokumen Amdal. Jangka waktu penilaian untuk Kerangka Acuan (KA) dan Andal, RKL-RPL masing-masing paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja dan 75 (tujuh puluh lima) hari kerja setelah dokumen lengkap secara administratif (Permen LH 8/2013 Pasal 13);
6 Untuk meminimasi waktu dalam penilaian tahap administrasi baik saat pemeriksaannya sendiri maupun saat perbaikannya, Pemrakarsa dapat melakukan pemeriksaan mandiri terhadap dokumen Amdal yang disusun LPJP sebelum diserahkan kepada KPA;
7 Dokumen Amdal, khususnya dalam RKL-RPL berisi tentang arahan dan bentuk kegiatan yang harus dilakukan oleh Pemrakarsa. Dalam hal Pemrakarsa tidak melaksanakan apa yang tertuang dalam dokumen Amdal tersebut, maka akan dikenakan sanksi administratif seperti teguran tertulis, paksaan pemerintah, pembekuan Izin Lingkungan, atau pencabutan Izin Lingkungan (PP 27/2012 Pasal 71);
8 Maka apa yang disusun oleh LPJP dalam dokumen Amdal harus ditelaah terlebih dahulu oleh Pemrakarsa terkait dengan korelasi, relevansi serta kemampuan Pemrakarsa dalam melakukan kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan terhadap kegiatan konstruksi maupun operasional;
II Tujuan 1 Meminimasi waktu penilaian dokumen Amdal khususnya pemeriksaan secara administratif oleh Sekretariat KPA;
2 Mengendalikan muatan dokumen Amdal termasuk deskripsi kegiatan dan jenis-jenis dampak yang harus dikelola dan dipantau dalam hubungannya dengan rencana kegiatan yang akan dilakukan secara komprehensif berdasarkan korelasi dan kemampuan sumber daya Pemrakarsa;
III Landasan Hukum 1 Undang-undang No 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup;
2 Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan;
3 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 05 Tahun 2012 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Memiliki AMDAL;
4 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 16 Tahun 2012 tentang Penyusunan Dokumen Lingkungan Hidup;
5 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 17 Tahun 2012 tentang Pedoman Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL dan Izin Lingkungan;
6 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 08 Tahun 2013 tentang Tata Laksana Penilaian dan Pemeriksaan Dokumen Lingkungan Hidup serta Penerbitan Izin Lingkungan;
7 Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No 07 Tahun 2010 tentang Sertifikat Kompetensi Penyusun AMDAL;
IV Petunjuk Pengisian 1 Panduan pemeriksaan dokumen Amdal ini dalam bentuk checklist (ada atau tidak) yang dapat diberi keterangan jika terdapat keraguan atau ketidakjelasan pada dokumen;
2 Perihal detil yang disebut dalam Panduan ini dapat langsung dicek ke peraturan yang ditunjuk;
3 Dalam melakukan pemeriksaan, sedapat mungkin dilakukan lintas bidang yang terkait, mulai dari perencanaan, konstruksi hingga operasi. Misalnya untuk mereview rencana pengelolaan lingkungan pada tahap konstruksi, bidang perencanaan dapat membahasnya bersama bidang konstruksi. Dalam merencanakan pengelolaan limbah cair dapat dibahas bersama dengan bidang operasional;
4 Pemeriksaan ini dibagi menjadi 2 (dua) bagian sesuai tahapan penilaian oleh KPA: (1) dokumen Kerangka Acuan; dan (2) dokumen ANDAL & RKL-RPL;
5 Bentuk panduan pemeriksaan dokumen Amdal untuk pemrakarsa ini disajikan pada Lampiran I (Kerangka Acuan) dan Lampiran II (Andal & RKL-RPL);
V Penutup 1 Checklist pemeriksaan dokumen Amdal ini juga dapat dijadikan salah satu rujukan dalam membuat kerangka acuan kerja/TOR untuk konsultan/penyedia jasa penyusun Amdal;
2 Untuk keperluan pemeriksaan dokumen UKL-UPL, Panduan ini dapat dijadikan sebagai alat pemeriksaan dengan mengacu pada Lampiran II bagian RKL-RPL No 8, 9 dan 11;
3 Panduan ini belum diaplikasikan sehingga belum dapat diketahui efektivitas dan signifikansinya secara nyata terhadap pekerjaan Pemrakarsa dalam memeriksa dokumen Amdal.

Menjaga Kewarasan

Di salah satu mall di kawasan BSD ada sebuah tempat makan sunda dengan konsep makan lesehan di saung yang menghadap kolam ikan. Saung yang didesain alami dengan bambu dan daun kelapa. Lengkap dengan pentungan a la pos ronda jika pengunjung ingin memanggil penyaji.

Kebetulan langit sudah senja, obor pun menyala di setiap sudut, menambah nuansa alam pedesaan. Saya terbuai dibuatnya hingga kemudian tersadar ketika melihat daftar menu dengan harganya.

“Udang bakar empat biji harganya seratus ribu???”

Begitulah kira-kira jeritan dompet saya.
Memang, pengunjung di sana hampir semuanya orang-orang kota yang mungkin tinggal di apartemen atau real estate yang tidak ada kolam ikan mas dan pos ronda di dalamnya. Beberapa diantaranya masih berpakaian kantor. Mungkin sedang mengakhiri hari sibuk mereka dengan makan malam di saung sunda. Mungkin mereka butuh kewarasan agar masih ingat rasanya tinggal di pedesaan. Ingat orang-orang desa.

Beberapa orang mencoba menjaga kewarasan dirinya dengan naik sepeda ke kantor atau kereta/commuter line. Para pengguna commuter line, misalnya, sedari bangun pagi harus sudah berlari ke stasiun agar dapat kereta sesuai jadwal. Masuk gerbong berdesakan agar dapat posisi enak. Masih juga dipaksa pull-up atau siaga kuda-kuda.

Di perjalanan mereka bertemu kawasan-kawasan kumuh dan hiruk-pikuk ibu kota. Kehidupan lain di pinggiran rel kereta: pasar, tempat pengolahan sampah, dan tempat tinggal. Bagi beberapa orang itu, sketsa kehidupan lain yang mereka temukan di setiap perjalanan menuju/dari tempat kerja, merupakan bentuk mewaraskan diri. Bahwa hidupnya bukan hanya rumah-tempat kerja. Bahwa di antara jadwal padat lemburnya, ada yang masih lebih lembur daripada dia.

Kita sering menjumpai orang yang kehidupannya serba ada. Ada rumah, ada apartemen, ada mobil, ada mobil, ada mobil, ada liburan ke luar negeri, ada belanja setiap minggu. Waraskah dia? Salah satu bentuk mewaraskan diri ialah mengetahui sebenarnya hidupnya untuk si(apa)?

Jika ia masih lajang, hal apa yang ia ingin wariskan setelah kepergiannya? Keturunan. Keturunan seperti apa? Bentuk pendidikan seperti apa yang dibutuhkan untuk menjadikan keturunan yang baik. Sekolah yang bagaimana agar nilai-nilai yang ingin kita tanamkan bisa tersalurkan.

Pun dalam membesarkan anak. Kewarasan adalah kunci. Orangtua harus tetap waras menghadapi segala macam tingkah laku anak. Percayalah bahwa tidak semua rengekan anak adalah murni ia sedang tersakiti. Beberapa diantaranya hanya acting. Jika ingin mendidik anak agar selalu sikat gigi sebelum tidur, maka orangtua harus tetap waras menuntun anaknya untuk sikat gigi. Olah peran berupa tangisan plus teriakan tidak mau membuka mulut atau bahkan tidak mau meninjakkan kaki di kamar mandi harus tetap dilawan.

Memang seperti jahat ketika orang tua memberikan hukuman ‘tidur sendiri’ kepada anak di bawah lima tahun hanya karena tidak mau sikat gigi. Tapi itulah bentuk kewarasan untuk menanamkan kedisiplinan dan kebersihan gigi pada keturunan kita. Apakah akan selalu ada drama tangisan sebelum tidur? Tidak. Mereka juga manusia. Makhluk adaptif.

Bentuk menjaga kewarasan lainnya adalah menikah. Membina rumah tangga bisa dianalogikan dengan menjalankan perusahaan. Seorang direktur tidak hanya memikirkan berapa keuntungan yang ia dapat, tapi juga menjaga dan mengembangkan sumber daya manusianya, mengukur cashflow keuangan, merencanakan program masa depan.

Adanya konflik dalam setiap rapat akhir tahun, perhitungan laba-rugi, produksi menurun, merupakan bentuk kewarasan bahwa perusahaan dinamis dan memikirkan hal-hal baru. Beberapa kegagalan adalah bahan bakar untuk meraih tujuan besar perusahaan.

Berumah tangga ialah bentuk paripurna dari menjaga kewarasan diri. Seorang yang punya hobi traveling atau hiking, akan menyusun ulang jadwal jalan-jalannya. Bahkan menanyakan pada dirinya: apakah ini yang saya (dan keluarga) butuhkan.

Ia akan terwaraskan bahwa ia butuh bekerja untuk menghasilkan uang. Bahwa ia butuh bersama dengan anak-anaknya untuk memberikan tauladan. Bahwa ia butuh traveling ke sekolah-sekolah untuk memilih jenis pendidikan yang tepat. Bahwa hidupnya tidak hanya di facebook dengan mengomentari perhelatan politik nusantara.  Ia akan terwaraskan bahwa ia juga makhluk sosial yang harus ikut main ping-pong atau domino di rumah bapak RT, demi keeksisan keluarganya di tempatnya tinggal.

Terlebih, seorang akan terwaraskan siapa dirinya, seperti apa dirinya, kesalahan apa yang sering ia lakukan, atas pengakuan orang yang selalu di sampingnya: pasangan hidupnya. Kedua pihak ini akan selalu mewaraskan diri atas pribadinya yang sudah terbentuk sedari bayi di keluarga yang berbeda. Di ruang dan waktu yang berbeda. Dalam setiap waktu kehidupannya, mereka akan saling mengingatkan dengan jalan kebenaran dan saling mengingatkan dengan kesabaran. Agar hidup mereka tidak merugi. Agar menjadi manusia yang mawas dan waras.

Semoga kami termasuk orang yang tidak merugi. Dua puluh dua Desember dua ribu sembilan lalu pernikahan kami. Telah dianugerahi dua orang anak laki-laki. Adalah perjalanan penuh dengan kewarasan diri. Terimakasih, cinta.

*cinta=indria sari

The Family Man

When I score, I don’t celebrate. Does a postman celebrate when he delivers post? – Mario Balotelli, professional footballer

Saat ini kepala daerah yang disegani rakyatnya ialah yang sering tampil dekat dengan rakyat. Blusukan. Kalau perlu ngomel-ngomeli mandor tukang bangunan jika ada kerjaannya yang tidak sesuai. Kepala daerah atau pejabat publik ini dibicarakan sana sini bak malaikat. Bukan hanya karena tanpa dosa, tapi juga memang jarang kemunculannya di muka bumi. Ia didengungkan sebagai manusia luar biasa.

Saya belum pernah membaca tugas-tugas atau kewajiban kepala daerah yang tertera di SK-nya. Tapi setidaknya kalimat ‘mengabdi, melayani kepada rakyat’ sudah termaktub dalam sumpah jabatannya. Lalu masih perlukah kita menyematkannya sebagai manusia luar biasa? Bukankah itu tugasnya?

Masihkah perlu memasang foto gubernur sedang memanggul beras (dengan foto kualitas HD) di tembok facebook? Dengan caption ‘inilah gubernur sejati, mengabdi setulus hati’.

Masihkah relevan seorang calon kepala daerah memberikan janji kampanyenya berupa penyediaan ambulance dan pengurusan jenazah gratis? Bukankah itu sudah kewajibannya?

Tahun 2011 lalu, twitter diramaikan oleh komunitas para ayah yang mendukung pemberian asi kepada anaknya. Karena asi adalah penting, dan sang ayah harus juga sadar bahwa dia juga berkewajiban atas kelangsungan hidup anaknya itu. Bentuk dukungannya bisa dengan gantian gendong, membantu diplomasi ke eyang tentang larangan sufor, mengawasi bidan yang tidak menggunakan program IMD (inisiasi menyusui dini), hingga membantu menstimulus isterinya agar asi bisa keluar (tau caranya kan?).

Para ayah ini kemudian kopi darat di starbucks, kongkow-kongkow, dan lahirlah buku. Ada kaosnya juga. Mereka juga bertugas memberi pencerahan di twitter agar ayah-ayah yang lain juga sadar. Tiap minggu ada promo retweet gratis bagi sesiapa yang mengunggah foto ayah dengan anaknya atau foto ayah sedang membantu kerjaan rumah di akhir pekan. Dengan hashtag ayah on the weekend. Come on, I do that everyday.

Pada sebuah obrolan saya di kantor, ada analisa dangkal seorang teman tentang rekan kerjanya yang gagal dipromosikan ke jabatan strukturalnya. “Dia kan family man, susah lah. Ga fleksibel waktunya..”, katanya. Awalnya saya tidak terlalu paham hubungan ‘family man’ dengan promosi jabatan. Tapi kemudian ternyata rekan kerja saya yang lain melontarkan istilah yang sama kepada saya karena selalu pulang tepat waktu.

Dari sana saya bisa menyimpulkan family man ialah seorang ayah yang setidaknya mau bagi waktu dengan keluarganya. Jika jam kerja habis, maka sisa waktu milik keluarganya. Atau seorang suami yang menolak jabatan jika itu malah membuatnya jauh dari keluarganya.

Dalam definisi lainnya, seorang family man juga ternyata rela mengotori tangannya dengan bawang dan pisau dapur. Rela nyebokin anaknya. Tentang nyebok-menyebok ini saya jadi teringat komentar seorang anak ketua partai sekaligus konglomerat indonesia yang menikahi artis, ketika ditanya apa yang ia lakukan kalau bayinya pup, ‘urusan gituan mah saya serahin sama bibi aja..’, katanya. Jadi kalau pup malam-malam, bibinya ikut tidur di kamar dia atau bayinya tidur di kamar bibi?

Seorang pesulap dan juga host talkshow bisa dianugerahi ‘hot-daddy’ karena concern terhadap anaknya yang punya kelainan disleksia. Seorang penyiar radio bisa didapuk sebagai ‘ayah masa kini’ karena mendukung isterinya untuk melakukan tandem asi kepada dua anaknya.

Seorang laki-laki yang berbicara dengan rombongan ibu-ibu mengenai merk alat dapur, resep makanan, cara biar anak lepas diaper, cari sekolah bagus, kegiatan yang sering ia lakukan bersama anaknya, predikat the family man bisa langsung disematkan kepadanya. Seorang laki-laki yang peduli dan bertanggung jawab terhadap keluarganya, anak-anaknya, yang tidak melulu memikirkan kerjaan atau sepakbola dengan temannya.

Beberapa orang menganggap the family man ini sebagai manusia luar biasa. Setidaknya di luar kebiasaan para ayah pada umumnya. Padahal bisa jadi si pesulap atau si penyiar tadi ‘hanya’ melakukan kewajibannya sebagai suami/ayah. Seolah menjadi aneh ketika seorang laki-laki pulang kantor tepat waktu karena harus ‘berbagi’ waktu dengan keluarganya. Seolah sebuah tindakan hebat ketika ia menggendong anak dan tas bayinya saat bepergian ke mall.

Komunitas para ayah yang mencintai asi..eh mendukung pemberian asi itu juga mungkin awalnya hanya ingin memberi penyadaran. Bahwa seorang ayah atau suami itu harusnya juga melek asi, melek sekolah anak, melek dapur, melek tetek bengek anak. Tidak cuma melek politik dan melek sepakbola.

Maka harusnya jika ada kepala daerah blusukan tiap hari, pikul karung beras buat rakyatnya, biarkan saja. Dia digaji untuk itu. Soal blusukan atau pikul beras itu soal cara. Ada cara pinter ada cara ndeso.

Maka harusnya seorang laki-laki yang berkeluarga dan mempunyai anak sudah sepatutnya sadar akan hak-hak isteri dan anaknya. Suami bukan mesin uang. Suami tidak hanya bertugas menyediakan segala kebutuhan keluarga dalam bentuk fasilitas. Ialah fasilitatornya. Karena ia sedang membesarkan seorang manusia. Yang perlu sentuhan manusia. Manusia dari darah dagingnya.

Maka harusnya tidak usah ada keanehan ketika seorang laki-laki menjadi the family man. Dia memang ‘man’ dalam ‘family’. He is the man. Yang harus dianehi mestinya yang berlaku sebaliknya.

Tidak perlu ada selebrasi berlebihan ketika seseorang sedang melakukan kewajiban dasarnya. Seperti tidak adanya selebrasi seorang petugas pos ketika berhasil mengirimkan surat. Itu memang tugasnya. Kira-kira itulah yang dikatakan sang legenda sepakbola sejagad, Mario Balotelli — yang pernah merumput masing-masing tiga musim di Internazionale, Manchester City dan Milan, serta masih belum menorehkan satu gol pun di liga domestik bersama klub barunya Liverpool sejak dibeli seharga 20 juta Euro pada 25 Agustus 2014 lalu.

#5thAnniversary
#YouMadeMe

Nikmat Yang Tak Terdustakan

IMG_2079

Hampir empat tahun umur pernikahan kami. Dua anak sudah kami dianugerahi. Saya seorang pegawai BUMN yang baru sekali naik peringkat. Sementara isteri, seorang dokter yang merimba dari klinik hingga dosen. Tak banyak  yang kami dapati, hanya seonggok rumah tipe 38 di ujung kota dan serongsok motor vega ZR. Itu saja. Tapi ada hal lain yang kami peroleh. Setidaknya, bagi saya adalah sebuah hal-hal baru yang datang dari isteri. Sebuah nikmat.

Parenting

Ilmu ini tidak saya dapati waktu kuliah. Saya rada kagok mengikuti seminar atau short courses tentang pernikahan, waktu itu. Karena lebih fokus di how to-nya. Karena sesungguhnya itu pun susah. Beruntunglah saya, ilmu tentang mendidik anak, terutama psikologi sudah menjadi cemilan isteri saya kala mengandung, menyusui, atau bahkan sambil makan. Walau hanya lewat selembar gadget.

Ia tahu bahwa Anzal punya pribadi unik. Berbeda dengan adiknya, Firaas. Bahkan kadang kebalikannya. Ia tahu bagaimana men-treat keunikan itu. Bahkan, isteri saya tahu Anzal harus sekolah di mana (yang cocok untuk perkembangannya). Untuk seorang awam seperti saya, rasanya  kaget ketika Anzal harus masuk kamar  karena menolak makan. Kadang pun saya menitikkan air mata ketika dengan muka sedih Anzal merangsek ke kamar. Menyendiri di sana. Menyadari kesalahannya. Tapi karena itulah sekarang Anzal jadi gampang makan. Rutin, tiga kali sehari. Sementara teman sebayanya, hanya mau minum susu formula dan sesekali roti isi.

Saya tidak sedang menyalahkan atau membanding-bandingkan. Hanya ingin bersyukur karena lewat ‘anak gampang makan’ lah Tuhan memberikan rejeki kepada kami. Karena butuh uang sekitar 2 juta rupiah perbulan untuk memberi susu formula itu. Atau pamannya (tapi masih balita) yang makannya hanya sekali sehari. Itupun kadang hanya dengan Indomie.

Sewaktu masih ‘diospek’ makan teratur, drama hadir setiap sebelum makan. Begitupun dengan ‘ospek’ sikat gigi sebelum tidur. Selalu ada drama. Kita berkeras. Anzal menangis keras. Dan sekarang, Anzal bahkan minta (sikat gigi) sendiri jika ingin tidur malam.

Selain dapat rejeki ‘anak gampang makan’, kami juga dapat rejeki ‘bebas diapers’ dari Anzal. Umur dua tahun Anzal sudah mulai lepas popok, kecuali saat tidur malam dan acara luar rumah. Di umurnya yang tiga tahun Anzal totally bebas popok. Dia ngomong jika ingin pipis atau pup. Untuk pup, bahkan ia tidak mau ditunggui. Pintu kamar mandi harus ditutup, ayah bundanya menunggu di luar. Dan boleh masuk kalau ia sudah selesai. Perlu diketahui WC kami masih jongkok.

IMG_2317IMG00256-20120602-1030

Financial planning

Sebut saja Ligwina Hananto, seorang financial planner. Beberapa hal kami mengacu kepada kitab sucinya tentang investasi reksadana. Meninggalkan teori salah kaprah unitlink. Mereksadanakan dana-dana pendidikan anak. Beberapa untuk dana pensiun dan dana darurat. Besarannya hanya ratusan ribu. Tapi rutin per bulan.

Sebelumnya kami berkebun emas. Juga ikut investasi di sektor riil bisnis punya teman. Dan terakhir berkonsorsium buat jasa penitipan anak. Semuanya, kecuali kebun emas, gagal dan menyisakan pelajaran berharga. Kalau kata isteri saya, uang yang hilang itu anggap saja biaya ‘kuliah bisnis’ buat kita.

Setelah kandas di sektor riil, awalnya  kami mau coba di franchise. Kebetulan teman saya ikutan bisnis waralaba ini. Dia bahkan sudah punya dua cabang. Tapi ketika itu dana tidak tersedia. Jadi kenekadan kami untuk membuka alfamart (juga) kandas.

Beberapa tahun kemudian, uang pun terkumpul. Alfamart sudah keburu menjamur seperti blackberry. Niatan pun surut. Sebenarnya ada mobil yang ingin sekali kami beli. Karena rasanya cukup riweuh bawa empat awak dalam satu motor bebek. Pernah mencoba pake angkot. Ternyata lebih riweuh lagi. Sudah mah sesak-sesakan, bau, gerah dan mesti ganti-ganti (angkot) juga. Dan kemudian naik taksi. Tapi ya itu, uang yang dihabiskan ke mall, setengahnya untuk ongkos taksi.

Untungnya awak motor masih toleran dan bersabar atas keterbatasan tunggangannya. Masih bersedia panas-panasan, kena debu jalanan dan kedinginan kala harus pulang sehabis maghrib.

Jadi, uang yang katanya sudah terkumpul itu mau diapakan?

Rumah. Ya rumah kedua. Mungkin agak nekad. Tapi hidup ini memang harus demikian. Kenapa nekad? Karena jika jadi (saat ini masih proses approval) maka gaji saya habis untuk KPR rumah pertama dan kedua nanti. Untuk kebutuhan tabungan dan biaya bulanan, mengandalkan gaji dosen isteri saya serta receh-receh dari bonus, insentif dan sisa uang tiket dinas.

Ibu saya pernah bilang, ‘kalau hidupmu mau semangat, berhutanglah’. Awalnya saya kira ini sebuah lelucon. Tapi ternyata memang lelucon. Lelucon sufi. Pada akhirnya kami semacam ‘dipaksa’ untuk menabung (dalam bentuk cicilan rumah). Dan pada dasarnya, saya dan isteri merasa tidak betah punya uang cash atau tabungan yang menganggur. Uang itu bisa saja dibelikan mobil impian kami. Tapi sayang, ternyata mobil bukan aset. Nilainya turun. Bahkan perlu dana bulanan tambahan untuk perawatan. Dan kami kira motor bebek masih kuat menampung kami. Iya ‘kan, Bek?

Terlihat seperti menyiksa diri. Tapi percayalah. Inilah tanjakan sebelum di umur renta nanti kita menapaki puncaknya. Biarlah kita yang merasakan pahitnya. Dan anak-anak merasakan buah manisnya. Biarlah tidak hura-hura dengan bonus yang baru saja diterima untuk simpanan pendidikan anak yang entah berapa biayanya nanti.

IMG_2529 IMG_2357

Masih hutang

Setidaknya ada dua hutang saya ke isteri. Cincin kawin dan bulan madu. Dulu memang ada cincin kawinnya, tapi karena faktor penyusutan material, cincin jadi makin kecil. Atau mungkin faktor penggemukan jari manis pascanikah. Entahlah. Untuk yang bulan madu, dulu sempat tapi cuma short time. Cuma menginap selamam di hotel. Bukan bulan madu yang jalan-jalan ke tempat rekreasi, pantai atau wisata ke luar negeri seperti Maldives, Turki atau Bali (CMIIW).

Mudah-mudahan segala hutang bisa dituntaskan secepatnya. Agar segala keberkahan yang kami (saya) peroleh menjadi bertambah. Nikmat yang tak terdustakan. Semoga saja bukan hanya sekadar janji-lionair. Anggaplah sebagai voucher kado ulang tahun. Di usianya yang lahir di tahun 1985 ini. #HBDBunda

Gerakan Bola Salju

Malam itu tiba-tiba Manado gelap. Blackout. Mobil Innova itu cepat melaju ke Tomohon. Jalan berliku dan sempit tak membuat kecepatan mobil ini kurang dari 80 km/jam. Satu orang penumpang harus mengeluarkan plastik untuk menyimpan muntahnya. Tapi sang ‘supir’ tak hiraukan. Pikirannya sudah berada di Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi berkapasitas 2×20 MW yang sedang trouble. Sang ‘supir’ menyadari bahwa ia sedang mengantar keluarganya malam-mingguan, tapi tak ada yang lebih penting dari melayani kebutuhan mendesak hajat hidup orang banyak. Listrik. Kata seorang manajer yang malam itu merangkap sebagai supir.

Seorang ibu setengah baya datang ke ruangan dengan buah tangan yang ia namakan dodol. Dodol dengan ukuran seperti batu bata. Tapi ditolak oleh seorang berkemeja putih — yang kebetulan Panitia Pelelangan. Karena tidak seperti biasanya, ternyata ‘dodol’ itu keras. Si ibu terus membujuk. Ia katakan bahwa disuruh atasannya. Sebagai ucapan terimakasih atas kemenangan perusahaannya di proyek transmisi, katanya. Si panitia lelang itu tetap tak bergeming dan kemudian berserapah selepas si ibu pergi, ‘berani-beraninya suap PLN, dodol!’.

Malam itu sedikit gerimis. Masih sisa hujan lebat sepanjang hari tadi. Mobil pick-up  itu masih berpatroli. Menunggu panggilan dari call center jika sewaktu-waktu ada gangguan di jaringan listrik rumah, atau trafo yang meledak. Teman mereka hanya jaket, alat instalasi, handy-talky, dan sederet caci-makian di twitter tentang gangguan malam itu. Teman mereka hanya harapan agar selalu didukung dan dipercaya.

Gerakan Bola Salju
PLN hampir ‘seumuran’ dengan Indonesia. Hanya terpaut dua bulan. Muka Indonesia, untuk beberapa orang masih sama dengan muka orba. Penuh korupsi, birokrasi panjang, dinasti kekuasaan, hingga sepakbola yang masuk ranah politik. Dan mungkin untuk beberapa orang, muka PLN juga masih muka orba. Maka jangan salah jika ada pelanggan yang terkaget-kaget karena ‘uang rokok’-nya tidak diterima petugas pelayanan teknik PLN. Jika ada kontraktor yang terheran-heran ketika tak perlu lagi lapor pejabat ini – pejabat itu untuk menjadi peserta lelang di PLN. Bahkan tidak perlu lagi membawa ‘dodol’ hanya untuk sekadar berucap terimakasih. Ah, dodol.

Maka beberapa orang (baik) ingin menyelamatkan muka Indonesia — yang busuk itu — dengan membuat gerakan sosial. Tak hanya bertolak pinggang dan mengurunkan angan. Tapi menggerakkan ide dan turun tangan. Menebus janji kemerdekaan, kalau kata Anies Baswedan. Mulai dari akun twitter yang membolasalju menjadi gerakan masif — hingga punya perwakilan di setiap kota. Begitu pun PLN, gerakan-gerakan membuang ‘muka lama’ terus digalakkan. Gerakan PLN Bersih salah satunya. Dari mulai perampingan birokrasi/organisasi (shared services center), penerapan whistle-blower, layanan sambungan online, hingga pengadaan barang/jasa secara elektronik (eprocurement). Menjadi perusahaan yang modern yang bebas korupsi dan  menjalankan Good Coorporate Governance.

Bahkan beberapa cerita tentang wujud PLN Bersih itu telah dibukukan (buku Saatnya Hati Bicara) yang dapat diakses publik. Tiga cerita di awal tulisan ini salah satunya. Dan menurut informasi akan ada buku jilid dua-nya. Mungkin saking banyaknya cerita-cerita akibat bola salju gerakan (PLN Bersih) itu sehingga butuh jilid 2, jilid 3 dan selanjutnya. Atau mungkin ternyata PLN memang (sudah) bersih. Hanya saja tidak tenar. Atau kalah tenar dengan byar-pet-nya.

Gerakan PLN Bersih memang gerakan bola salju. Saling memengaruhi. Maka tulisan ‘Kami Bersih Anda Bersih Dukung Kami Wujudkan PLN Bersih’ di sidebar situs PLN Bersih adalah benar. PLN sedang membenahi diri dengan membuat sistem terintegrasi agar tidak ada lagi kesempatan untuk pegawainya bisa korupsi (corporate culture). Maka mulailah biasakan diri untuk tidak lagi menyuap atau mengiming-imingi ‘dodol’ kepada pegawai PLN. Kecuali jika Anda ingin di-PHP.  Just do the rules.

Nyalakan, Bukan Menyalahkan
Seorang bijak pernah berkata, ‘jangan hanya mengutuk kegelapan, nyalakanlah lilin’. Rasio elektrifikasi PLN tahun 2012 kemarin memang baru 73%, di beberapa wilayah pun krisis listrik kerap terjadi. Mulai dari masalah kemarau, kendala sosial atau pemerintah daerah yang tidak memberikan izin pembangunan pembangkit. Tapi PLN terus berbenah. Menjadikannya agar terus dipercaya oleh masyarakat, oleh pelanggan dan oleh bangsa ini. Seperti yang ditulis oleh Eddy Erningpraja (Direktur SDM PLN) dalam bukunya Building Trust in The Black Box. Bahwa menumbuhkan kepercayaan (trust) masyarakat adalah kunci agar harapan itu menjadi nyata.

Maka PLN menggandeng Transparancy International Indonesia (TII), LSM anti-korupsi, sebagai partner untuk mereview apakah bisnis PLN sudah sesuai dengan best practice. Juga memetakan celah-celah potensi korupsi, khususnya di pengadaan barang/jasa. Selain itu, PLN pun merangkul Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk memberikan masukan dalam reformasi pelayanan pelanggan.

Keterlibatan civil society dalam gerakan PLN Bersih ini juga difasilitasi dengan Whistle Blowing System (WBS). Sebuah sistem pelaporan yang secara langsung disampaikan kepada Direksi PLN melalui email plnbersih[at]gmail[dot]com. Pelapor, baik pegawai PLN maupun masyarakat dapat melaporkan tindakan pelanggaran melawan hukum yang terjadi di PLN. Selain diberikan jaminan perlindungan hukum, pelapor juga akan diberikan insentif.

Inilah lilin itu. PLN sedang berbenah. Jika masih ada yang ‘urakan’, laporkan. Nyalakan (‘lilin’ itu), jangan hanya menyalahkan. Apalagi sambil menyalak.

Dukungan Blogger
Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata Jakarta sekarang?

Reformasi birokrasi. Pemprov yang berani lawan preman. Kartu Jakarta Sehat. MRT. Blusukan. Jokowi.

Ya, Jakarta dengan rasa yang berbeda. Setelah seorang Jokowi hadir dengan gaya yang berbeda dengan pejabat lainnya. Dan kemudian dilirik media. Diteruskan dari mulut ke mulut. Akun ke akun. Blog ke blog. Maka jadilah Jakarta dengan rasa Jokowi yang begitu kental. Menjadi artis dadakan social media. Menjadi sosok yang dikagumi sekaligus dipercaya. Juga Ridwan Kamil di kota Bandung. Begitupun walikota Surabaya yang fenomenal itu. Mereka disukai dan dipercaya publik karena integritasnya. Dengan satu nilai yang begitu cepat menyebar: trust.

PLN sedang melakukan perbaikan di segala bidang. Sedang membersihkan rumahnya. Mempercantik dan merenovasi yang sudah usang. Di ulang tahunnya yang sudah tidak lagi muda ini, para pengguna blog diundang untuk datang. Menilai dengan sepenuh hati dan meceritakannya ke masyarakat luas. Agar mereka tahu bahwa ternyata rumah PLN (sudah) bersih. Bahwa penghuninya ramah-ramah. Bahwa ternyata PLN telah berubah

Dan apakah semua itu agar PLN jadi lebih terkenal?

Sepertinya bukan itu. Karena bekerja di PLN, menurut Nur Pamudji (Dirut PLN), bukan untuk menjadi tenar, berkuasa, atau kaya. Tapi untuk menjalankan misi hidup yang sebenarnya: melayani orang lain.

 

Disclaimer:

Awalnya tulisan ini diikutkan dalam Lomba blog PLN Bersih (kerja sama dengan Blogdetik). Tapi saya baru baca ada peraturan yang tidak bisa saya penuhi. Untuk itu saya mengundurkan diri dari lomba tersebut. Terimakasih.

CDM: PROGRAM LINGKUNGAN YANG BERLIMPAH UANG

 Image

 

Pembangunan berwawasan lingkungan dan berkelanjutan merupakan salah satu unsur penting yang tidak boleh dipisahkan dalam proses pembangunan dunia. Daya dukung lingkungan akan semakin terkuras jika proses pembangunan tidak mempertimbangkan aspek dampak dan keberlanjutannya. Karena lingkungan punya batas toleransi untuk ‘dirusak’ manusia. Jika unsur tersebut tidak diintegrasikan, maka pembangunan hanya akan membuat keturunan setelah kita akan hidup di padang gurun tanpa ekosistem yang lengkap.

Pemanasan global (global warming) adalah isu lingkungan yang cukup besar mendapat perhatian dunia. Pada tahun 1997 di Kyoto, Jepang, PBB melalui UNFCCC (United Nations Framework Convention on Climate Change) mencetuskan suatu Protokol yang menawarkan mekanisme fleksibel yang memungkinkan negara industri atau negara maju memenuhi kewajiban untuk mengurangi emisi gas-gas rumah kaca (seperti CO2, CH4, N2O, CF4, C2F6) melalui kerjasama dengan negara lain baik berupa investasi dalam emission reduction project ataupun carbon trading. Melalui Protokol Kyoto ini, Annex I (negara-negara maju yang menandatangani) diharuskan menurunkan emisi gas rumah kaca minimal 5% dari tingkat emisi tahun 1990, selama 2008-2012. Clean Development Mechanism, atau lebih dikenal dengan CDM, adalah salah satu mekanisme pada Protokol Kyoto yang mengatur negara-negara Annex I dalam upayanya menurunkan emisi gas rumah kaca. CDM adalah satu-satunya mekanisme di bawah Protokol Kyoto yang melibatkan negara berkembang, dimana negara maju bisa menanamkan modalnya di negara berkembang dalam proyek-proyek pembangunan yang non-CO2 pollution.

Negara-negara maju yang berkewajiban membatasi atau menurunkan emisinya harus mendapatkan sertifikasi penurunan emisi, yang disebut sebagai kredit karbon atau carbon credits.  Untuk CDM, kredit karbon ini disebut Certified Emissions Reduction, CER.  Nilai CER inilah yang nantinya akan dikonversi menjadi sejumlah uang (biasanya dalam US$ atau Euro). Transfer sertifikasi penurunan emisi ini biasanya melalui perdagangan, dengan harga yang ditentukan oleh pasar sesuai dengan tingkat permintaan dan pasokan dari sertifikasi itu.  Penurunan emisi ini diukur dari sebuah “baseline” (tingkat emisi hipotetis jika proyek CDM tersebut tidak ada). Sertifikasi dari penurunannya dapat dijual kepada entitas publik atau swasta di negara maju untuk diklaim oleh entitas tersebut sebagai pemenuhan kewajiban penurunan emisinya.

Biasanya ada konsultan khusus di bidang carbon market ini. Pihak pemrakarsa cukup meng-hire atau melakukan tender untuk menyerahkan ‘jualan’ karbonnya kepada konsultan. Konsultan akan mengestimasi jumlah karbon yang bisa dijual ke negara maju. Perhitungan sederhananya ialah dengan menghitung terlebih dahulu baseline atau faktor emisi di daerah (wilayah) yang akan dibangun ‘instalasi penurunan emisi’ (misalnya, PLTM) dalam bentuk tonCO2/MWh.  Selanjutnya, nilai (MWh) keluaran atau daya terpasang PLTM tersebut (selama setahun) dikalikan dengan dengan faktor emisi (tonCO2/MWh) untuk mendapatkan nilai tonCO2. Nilai inilah yang disebut CER (tonCO2), yang nantinya diekivalenkan dengan nilai di carbon market.

Misalnya untuk proyek PLTM berkapasitas 1 MW, berarti dalam setahun mempunyai kapasitas sebesar 8.760 MWh (1 x 24 x 365 = 8.760 MWh). Faktor emisi (baseline) untuk Sulawesi misalnya 0,5 ton CO2/MWh (baseline untuk grid sistem Sulawesi masih dalam perhitungan, sedangkan baseline untuk grid sistem Minahasa = 0,517 tCO2/MWh), dengan asumsi capacity factor = 80%. Maka nilai emisi yang dihasilkan pertahun atau 1 CER ekivalen dengan 3.504 ton CO2 (8760 x 0,5 x 0,8). Jika harga 1 CER =  €10/ton, maka per tahun akan mendapat  €35.040 atau Rp. 489.579.000 (€1 = Rp. 13.972,-).

Perbandingan kapasitas yang terpasang dengan rupiah yang didapat pertahunnya cukup fantastis. Satu megawatt saja dapat menghasilkan sekitar Rp. 500 juta pertahunnya. Saat ini, PLN PIKITRING SULMAPA sedang melakukan konstruksi 8 PLTM tersebar yang masing-masing 4 di Sulawesi Barat (7 MW), 3 di Sulawesi Tenggara (3,3 MW), dan 1 di Sulawesi Tengah (2 MW). Maka secara kasar, dapat dihitung nilai carbon credit dari delapan PLTM tersebut sekitar Rp. 6 Milyar pertahunnya. Nilai ini akan diterima PLN selama masa PLTM tersebut beroperasi.

Perhitungan di atas tentu sangat disederhanakan. Akan tetapi, secara singkat, seperti itulah alur perhitungan carbon credit. Yang menjadi rumit dari proses penjualan karbon ini ialah hierarki pengurusan dan estimasi besaran yang dikompensasikan. Organisasi CDM sendiri di tingkat dunia dikendalikan oleh CDM Executive Board (EB). EB dibantu oleh dua Designated Operational Entity (DOE) dari pihak swasta – yang memvalidasi dokumentasi desain proyek (Project Design Document, PDD) – dan satu untuk memverifikasi terjadinya penurunan emisi. Tahap pertama adalah pembuatan PDD yang kemudian akan disetujui oleh Designated National Authority (DNA).  Di Indonesia, DNA ini adalah Komisi Nasional Mekanisme Pembangunan Bersih (Komnas MPB) yang bernaung di bawah Kementerian Lingkungan Hidup.

Setelah proyek didaftarkan pada EB, maka penghitungan penurunan emisi dapat dimulai.  Pada tahap ini, peran monitoring sangatlah penting.  Hasil monitoring inilah yang akan diperiksa oleh DOE untuk memverifikasi penurunan emisinya, dan berdasarkan laporan verifikasi itu, sertifikasi penurunan emisi dapat diterbitkan oleh EB.

Di PLN sendiri, pengembangan proyek CDM ini telah dilakukan, diantaranya PLTP Lahendong II dan III, PLTP Kamojang, PLTA Genyem, PLTM Lobong, PLTM Mongango, PLTM Merasap, dan lainnya. Beberapa bulan yang lalu, PLN telah menandatangani Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) untuk proyek CDM Pembangkit Listrik Tenaga Gas berkapasitas 14 MW di Bontang, Kalimantan Timur.

Pertumbuhan pasar carbon (CDM) di dunia sangat pesat. Tahun 2006 yang hanya $6 Milyar, tahun 2007 sudah naik dua kali lipat. Tahun 2008 lalu diperkirakan bernilai $20 Milyar. Pada tahun 2012 diperkirakan akan meningkat hingga $60 Milyar per tahun. Permintaan sertifikasi penurunan emisi (CER) sekitar 3,5 Milyar ton pada periode 2008-2012. Saat ini EB sudah menerbitkan CER sekitar 200 juta ton.

Jika melihat tuntutan pembangunan berkelanjutan dan tawaran program CDM yang menghasilkan keuntungan yang signifikan, maka pembangunan pembangkit-pembangkit non-fosil (non polusi CO2) adalah sebuah strategi efektif. Selain mendapatkan energi listrik yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, kita juga bisa mendapatkan keuntungan dari program CDM ini. Hasil keuntungan tersebut juga bisa digunakan kembali untuk membuat pembangkit atau sarana ketenagalistrikan lainnya.

Pembangkit non-fosil yang menghasilkan kapasitas daya dan memiliki potensi kandungan yang besar, khususnya di Indonesia, ialah PLTP. PLTP sendiri lebih menguntungkan diikutkan program CDM dibandingkan energy terbarukan lainnya karena nilai CER dan CF yang lebih tinggi (Djuwarno). Kandungan panas bumi di Indonesia yang sudah diketahui keberadaannya mencapai 27.000 MW (Dirjen Migas, 2005). Akan tetapi, saat ini yang telah digunakan menjadi listrik baru sekitar 4%-nya.  Pada Program Percepatan 10.000 MW Tahap II, PLN merencanakan 60%-nya untuk membangun PLTP. Walau biaya investasi awalnya yang mahal (1800 US$/kW), PLTP menjanjikan pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta uang yang berlimpah dari CDM.

Sumber:
http://www.pln.co.id
http://iklimkarbon.com
http://carbon-credit-indonesia.blogspot.com
http://dna-cdm.menlh.go.id
http://cdm.unfccc.int
http://www.bluenext.eu

Makassar, 2009

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Pinisi, media humas PT PLN UIP XIII (awalnya PT PLN PIKITRING SULMAPA)

Hujan, Sumber Air Minum Masa Depan

“Jika pada peperangan di abad 21 terjadi karena (memperebutkan) minyak, maka peperangan di abad berikutnya terjadi karena (memperebutkan) air” – Ismail Serageldin, mantan Vice President World Bank.

Dalam sejarah peradaban dunia, manusia berkumpul dan membentuk populasi dengan satu ketertarikan: sumber air. Mesopotamia yang disebut sebagai awal peradaban berada di antara dua sungai besar, yaitu Euphrates dan Tigris. Peradaban Mesir kuno, memiliki sungai Nil. Dan tempat berkumpulnya umat Islam di seluruh dunia, Ka’bah, memiliki sumber air sepanjang masa bernama Zam-zam.

Kebutuhan air

Tubuh manusia sendiri terdiri dari 55%-78% air (bergantung ukuran tubuh), yang tersebar di setiap organ vital tubuh (lihat Gambar 1). Karena itu, manusia setidaknya membutuhkan 2 liter air setiap hari untuk men-supply kebutuhan air di dalam tubuh.

Gambar 1 Air di dalam tubuh

Dapat dikatakan bahwa air adalah kebutuhan utama manusia setelah oksigen. Bedanya, oksigen dapat ‘dikonsumsi’ secara bebas dan gratis. Sedangkan air, saat ini sudah menjadi komoditas jual-beli. Baik berupa air bersih untuk mandi atau masak yang dijual oleh Perusahan Daerah Air Minum (PDAM), maupun air minum yang dibeli dari perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Untungnya, pemerintah belum mengeluarkan kebijakan komersialisasi untuk air sumur.

Penggunaan sumber air

Air termasuk sumber alam yang terbarukan. Ia memiliki siklus yang dikenal dengan siklus air atau water cycle. Air bersirkulasi di bumi ini dan tak pernah berhenti berputar. Dimulai dari pemanasan oleh matahari, menguap, terkondensasi dan jatuh dalam bentuk hujan ke daratan, yang kemudian mengalir kembali ke laut (Gambar 2).

(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air)

(sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Siklus_air)

Gambar 2 Siklus Air

Sebagai negara tropis dan memiliki hamparan hutan yang luas, Indonesia mempunyai potensi sumber air sekitar 3.200 miliar kubik per tahunnya (www.neraca.co,id). Tapi, pemanfaatannya hanya sekitar 25%, sisanya mengalir begitu saja dari sungai-sungai menuju laut. Seperti rantai makanan, kelancaran siklus air juga bergantung kepada proses sebelumnya. Jika air di pegunungan berkurang atau tercemar, maka badan air setelahnya akan mengalami hal serupa (dengan kadar yang berbeda).

Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, PDAM melakukan pengolahan sumber-sumber air terdekat yang kemudian didistribusikan ke rumah-rumah. Sungai adalah sumber air yang memiliki kontinuitas yang baik tapi kualitas yang buruk. Dengan rekayasa teknologi, air sungai dapat diolah menjadi air bersih, bahkan air layak minum – yang mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/PER/IV/2010. Jadi, sebenarnya air yang keluar dari pipa outlet PDAM sudah layak minum.

Tapi kenyataannya, dalam proses distribusi ke rumah-rumah terjadi kehilangan air (un-accounted water) sekitar 40% akibat konstruksi pipa yang buruk (Priyono, 2007). Sedangkan dari segi kualitas, sekitar 30% air terdistribusi (yang diterima di rumah) tercemar bakteri E. Coli dan pathogen lain (Menkes, 2010). Ini masih menjadi tugas berat bagi PDAM, yang sesuai namanya, merupakan perusahaan penyedia ‘air minum’, bukan hanya ‘air mandi’ atau ‘air cuci’.

Di titik inilah produsen AMDK memasuki pasar. Masyarakat disadarkan akan pentingnya air yang sehat dan berkualitas. Konsumsi air AMDK di tahun 2012 mencapai 19,8 miliar liter, dan akan naik menjadi 21,78 miliar liter di tahun 2013 (www.beritasatu.com). Ini sejalan dengan trend kebutuhan air bersih di dunia. Di 50 tahun terakhir ini, kebutuhan air bersih bertambah tiga kali lipat. Sedangkan permintaan air bersih tiap tahunnya meningkat sekitar 64 miliar kubik (www.wolrdometers.info).

Dunia Defisit Air

Kebutuhan penggunaan air meningkat dua kali lipat dari kenaikan populasi manusia (Food and Agriculture Organization of the United Nations). Eksploitasi sumber air secara tidak proporsional – apalagi di hulunya – akan membuat neraca air menjadi defisit. Menurut data dari UNEP (United Nations Environment Programme), jumlah air di bumi sekitar 1,4 juta km3. Sekitar 2,5%-nya adalah air layak pakai (freshwater), sisanya air asin (laut). Dari 2,5% freshwater ini, 70% dalam bentuk es/salju, 30% tertanam di tanah dan hanya 0,3% merupakan air permukaan dalam bentuk danau dan sungai (Gambar 3 dan 4).

Gambar 3 Jumlah Air Dunia

Gambar 4 Persentase Air Layak Pakai

Populasi manusia akan semakin bertambah dari tahun ke tahun. Begitu juga dengan kebutuhan hidupnya. Jumlah penduduk dunia pada tahun 2050 diperkirakan akan menjadi 9.3 miliar jiwa (naik sekitar 40% dari tahun 2007). Sedangkan sumber air dunia tidak mengalami pertumbuhan, stagnan di angka 200.000 miliar kubik
dari tahun 2007 – 2050 (Gambar 5). Maka menjaga kelestarian sumber air adalah harga mati untuk kelangsungan hidup manusia. Mengeksploitasi sumber air dari hulu secara tidak proporsional, selain menurunkan ketersediaan air juga mengakibatkan badan-badan air di hilir menjadi tercemar.

Gambar 5 Pebandingan Pertumbuhan Populasi dengan Ketersediaan Air

Air memang mengalami sirkulasi. Berapapun air digunakan, pasti akan kembali lagi – walau memerlukan waktu yang lama. Perusahaan AMDK berperan penting atas ketersediaan sumber air di wilayah hulu. Tak masalah jika intake untuk AMDK ini sungai yang memiliki kontinuitas yang besar. Jelas siapapun mengakui bahwa AMDK adalah air olahan dari mata air atau air pegunungan yang kapasitasnya terbatas dan merupakan hulu badan air. Jika air di hulu defisit dan tercemar (salah satunya karena pengalihan oleh perusahaan AMDK), maka debit yang mengalir ke sungai dan badan air setelahnya akan ikut terpengaruh.

Sebuah penelitian yang dilakukan Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional, Bappenas (2010) di Desa Caringin, Kabupaten Sukabumi, menjelaskan tentang dampak ‘pengalihan air’ oleh perusahaan AMDK. Menurut penelitian tersebut, 12 tahun sejak perusahaan-perusahaan AMDK berdiri di daerah tersebut, persawahan mengalami kekeringan karena supply air dari sungai berkurang. Sumber air tanah/sumur yang digunakan warga untuk keperluan air bersih juga menjadi kering.

Air Hujan Menjadi Air Minum?

Jika sumber air di pegunungan terbatas, air di sungai tercemar, air di dalam tanah menipis, maka harus ada rekayasa lain untuk mendapatkan air, yaitu hujan. Curah hujan yang hanya sekitar 700 mm/tahun, Inggris tidak kekurangan air saat kemarau karena membangun danau buatan untuk menampung air hujan. Indonesia adalah peringkat ke-7 curah hujan tertinggi di dunia, sebesar 2.702 mm/tahun (www.worldbank.org). Tapi pemanfaatan air hujan masih jarang dilakukan untuk kebutuhan-kebutuhan primer rumah tangga. Sangat mungkin – di tengah krisis air ini – air hujan dapat menjadi pengganti sumber air bersih, bahkan air minum. Pengolahan air hujan ini dikenal sebagai Sistem Pengolahan Air Hujan, SPAH.

Di beberapa negara maju, SPAH disebut sebagai rainwater tank, harvesting rainwater, atau rainwater treatment system. Pengunaannya beragam, bisa untuk kegiatan pertanian, injeksi ke tanah (cadangan air tanah) , dan kegiatan rumah tangga. Seorang peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI (2011), mampu menampung air hujan 700 kali tangki berukuran 5 kubik setiap hari. Sehingga penggunaannnya bisa untuk keperluan rumah secara komunal (lingkup RT/RW atau desa).

Aplikasi SPAH cukup mudah. Prinsipnya menyalurkan sebanyak-banyak air hujan dari catchment area (atap rumah) yang kemudian diolah/treatment sedemikian rupa sehingga menghasilkan kualitas air yang diinginkan (Gambar 6).

Gambar 6 Sistem Pengolahan Air Hujan

Air hujan pada dasarnya ialah air murni atau H2O tanpa tambahan mineral, garam, dan lainnya. Menjadi ‘terkontaminasi’ ketika tercampur dengan zat-zat di udara dan material yang menampungnya. Sehingga pengolahannya cenderung lebih sederhana daripada air sungai. Pengolahan air hujan bervariasi bergantung jenis/karakteristik airnya. Pengolahan yang biasa dilakukan (World Health Organization, 2006) ialah secara fisik (dengan filtrasi) dan kimia (desinfeksi, penambahan kaporit, tawas). Jika diperkirakan hujan bersifat asam (acid rain), maka bisa dilakukan pengendalian pH (derajat keasaman) dengan penambahan material basa sehingga menjadi netral (sesuai standar).

Air hujan yang sudah diolah dan ditampung di dalam tangki dapat digunakan untuk keperluan MCK (mandi cuci kakus), perawatan tanaman, dan kegiatan rumah tangga lainnya. Air hasil olahan ini bisa juga digunakan untuk keperluan air minum. Untuk lebih memastikan kualitas air yang baik dan sehat, pengolahan dapat dilanjutkan ke ‘level’ berikutnya atau yang lebih dikenal dengan water purifier.

Pengolahan tersebut dilakukan dengan membran berpori kecil, karbon aktif untuk menghilangkan pestisida dan bau, pemanasan dengan ultraviolet atau boiling (dimasak) agar bakteri dan virus mati. Water purifier ini bisa dibuat sendiri dengan menggabungkan unit-unit instalasi pengolah dengan volume dan kadar tertentu (sesuai arahan ahli/professional). Atau bisa juga menggunakan water purifier set lengkap yang dirancang khusus untuk mengolah air layak minum.

‘Perang Air’

Air merupakan sumber kehidupan, sumber peradaban. Kebutuhan manusia terhadap air adalah hal penting. Tapi tentu lebih penting untuk tetap melestarikan ketersediaan air daripada hanya sekadar mengonsumsinya. Siklus air berjalan alami mengikuti hukum alam. Perlu dilakukan rekayasa ekosistem agar kebutuhan manusia yang terus bertambah dapat terpenuhi.

Kualitas air layak minum sudah ditentukan standarnya oleh pemerintah dan lembaga-lembaga internasional. Mengonsumsi air minum – dengan kualitas yang sangat tinggi (melebih standar) – dari AMDK, dan pada saat yang sama ikut berkontribusi terjadinya kekeringan dan pencemaran di sebuah desa di Kabupaten Sukabumi, adalah hal bodoh.

SPAH adalah salah satu tindakan mitigasi dari proyeksi krisis air di masa datang. Sebuah sumber air minum masa depan. Kita tidak bisa terus mengandalkan PDAM agar setara dengan pelayanan di luar negeri – drinking water tap. Atau mengandalkan ketersediaan air tanah yang mempunyai kapasitas terbatas. Air akan menjadi barang langka di masa datang. Bahkan menjadi komoditas yang diperebutkan seperti kilang minyak di Timur Tengah. Diperebutkan dengan perang, seperti ungkapan mantan Vice President Bank Dunia, Ismail Serageldin, di awal tulisan ini.

Jika itu (perang) terjadi, korbannya jelas masyarakat lemah atau negara yang kalah angkatan bersenjatanya dengan negara maju. Atau mungkin itu (perang) sudah dimulai? Saat perusahaan-perusahaan Eropa sudah mengokupasi sumber-sumber air di Indonesia dan menjualnya setara harga bensin. Entahlah.

It’s all about Bunda

Umur pernikahan kami sudah hampir tiga tahun. Menikah di akhir tahun 2009, di Pekanbaru, dan langsung terbang ke Makassar. Iya, langsung. Tanpa ke Batam, Bali, Lombok, apalagi Singapura. Isteri saya waktu itu masih fresh. Fresh graduate. Sebulan sebelum menikah baru saja mengucapkan sumpah dokter, tanda penyematan logo ‘dr’ di depan namanya.
Saya agak jahat dalam hal ini. Baru lulus kuliah, langsung diajak nikah dan dibawa ke jauh dari pulau Sumatera dan Jakarta. Berdua. Jika saya hanya pegawai kantoran yang kerja senin-jumat dan liburan di hari sabtu dan minggu, mungkin masih bisa dimaklumi. Tapi, nyatanya tidak. Hampir tiap bulan saya dinas ke luar kota. Yang tidak memungkinkan membawa serta anggota keluarga.
#anzal

Dan ini terus berlangsung hingga dia hamil, bahkan melahirkan anak pertama. Saat isteri hamil besar saya masih ‘berkeliaran’ di pulau Sulawesi meninggalkannya sendiri. Waktu itu saya dinas ke Palu dua hari. Padahal isteri saya dijadwalkan akan melahirkan di minggu itu. Saya pun terkejut ketika isteri menelpon kalau sudah keluar darah. Dan saya masih di Palu. Parah, suami macam apa kalau sampai tidak bisa temani isteri melahirkan. Karena penerbangan yang terbatas, saya baru mendarat di Makassar sekitar pukul 2 siang. Kontraksi si bayi terus meningkat. Sepertinya itulah harinya. Setelah Shubuh, #anzal lahir.
Drama pun dimulai. Tak ada mertua, tak ada nenek yang ikut menjaga bayi #anzal. Apalagi babysitter, tak pernah berpikir ke sana. Si bayi pun diurus oleh dua orang perantau yang amatiran. Lebih parahnya, si ayah malah sering keluar kota. Membiarkan bunda sendiri, memandikan, mencuci popok, memberi asi, dan menggendong si bayi.

Dasar suami tak tahu diri. Untungnya punya isteri yang baik hati. Menunggu kedatangan suami di teras rumah sambil menggendong bayi dan senyum berseri.

Sebuah objek di tangan orang amatir, sering disebut ‘kelinci percobaan’. Maka bisa dikatakan #anzal adalah kelinci itu. Walau isteri saya seorang dokter, tetap saja yang ahli mengurus bayi itu orangtua. Tapi, karena itulah, kami bebas ‘berkreasi’. Membalik-balikan #anzal seperti sedang menepungi pisang goreng. Agar cepat bisa tengkurap dan merangkak. Mencoba tidak pakai air hangat saat memandikan. Dan yang paling horror, bawa #anzal ke Malino pulang-pergi naik avanza. Tahu umurnya waktu itu berapa? 90 hari.

Jangan ‘kan sampeyan, saya saja deg-deg-an dibawa ‘off-road’ oleh si Bunda. ‘Ga apa-apa, jangan terlalu steril, nanti gampang sakit..’. Sakit apapun #anzal, obatnya hanya satu: mimik (ASI). Bahkan, ada kalimat lucu dari ibu saya saat tahu #anzal sakit, ‘emangnya ga dibawa ke dokter?’. Saya dalam hati, ‘lah, kan saya kawin ama dokter’. Posisi saya di jalan ‘off-road’ ini adalah in Bunda we trust!

#firaas

Rekor horror #anzal ternyata dipecahkan adiknya sendiri, #firaas. Belum sampai umur 30 hari, #firaas sudah dibawa ke Bantimurung (wisata air terjun) saat lebaran kemarin. Tahu sendiri pengunjung tempat wisata saat libur lebaran. Untung yang mandi cuma ayahnya dan #anzal.
Jaraknya tidak sampai dua tahun. Firaas lahir akhir bulan Juli 2012, sementara #anzal awal Oktober 2010. Karena mungkin sudah hapal trik-triknya, Bunda tak terlihat seperti orang hamil saat itu. Kegiatan mengajar jadi dosen masih berlangsung hingga D-Day. Bahkan, seorang teman saya bilang, ‘loh, isterimu lahiran? Kapan hamilnya?’.
Jika #anzal di Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA), maka #firaas di rumah sakit biasa. Pertimbangannya selain ‘pengen coba tempat lain’ juga karena melahirkan di rumah sakit, ditanggung perusahaan sejak awal. Jadi tidak perlu bayar dulu, terus reimburse ke kantor. Kenapa? Karena uang kami saat itu pas-pasan untuk ‘lebaran’, aqiqah, hutang, investasi ini, itu.

Financial planner

Sebuah pelajaran baru buat saya. Saya kira, cara kelola keuangan keluarga itu cukup dengan mengalokasikan saving, biaya belanja rumah, dan zakat. Maka oleh Bunda-lah saya dikenalkan ke asuransi jiwa, investasi reksa dana, kebun emas, dan investasi sektor rill.

Dia mempresentasikan proyeksi-proyeksi alokasi dana itu. Mau kemana, akan kemana, dan buat apa. Saya terkagum sekaligus tersedak ketika melihat saldo di akhir baris. Minus. Maka harus melakukan efisiensi luar biasa. Jangan bicara soal ke mall, nonton, makan di resto mahal. Aqua saja harus disubstitusi dengan Club.
Tapi saya yakin akan datangnya masa ‘bebas financial’ seperti yang ia bicarakan itu. Suami mana yang tidak shock, ketika teman sekantornya sedang pilih-pilih gadget baru karena baru dapat bonus 8 kali penghasilan, tapi ‘habis’ begitu saja di tangan isteri. Bonus ayah nanti buat tebus emas ya, katanya sambil senyum.

Penghasilan saya habis untuk uang KPR rumah, investasi pendidikan anak, kebutuhan dapur, listrik, keamanan komplek, dan pulsa. Terkadang malah minus. Sebagai dosen, isteri saya punya gaji dasar lebih besar seratus ribu dari UMP Sulsel. Bahkan lebih kecil dari gaji babysitter milik yayasan. Untungnya masih ada ‘amplop’ tiap kali mengajar atau seminar. Dua bulan terakhir ini, kami hidup dari amplop-amplop itu.

Tapi selalu ada senyum dalam tiap kesederhanaan itu. Saya kadang sedih, masih mengurung #anzal di rumah sementara teman sebayanya sudah di play group. Isteri masih ke kampus naik angkot sementara dosen lain – bahkan mahasiswanya – sudah bermobil. Berwiken di rumah sementara tetangga bermolek mau ke mall atau wisata keluarga.
Bunda yang penyabar itu, paling minta martabak telor, freshtea dingin, mie ayam, atau es krim saat wiken tiba. #anzal? Ah, dia diajak putar keliling komplek dengan truk rombengnya saja sudah girang. Walau terkadang sering invasi ke rumah tetangga, ngoprek tempat mainan, dan dengan istilahnya yang lucu ‘minyam’ alias pinjam. Ada sekitar tiga mainan tetangga yang sudah jadi investaris box #anzal walau dia bilang ‘minyam’.

Bukannya sok irit. Hanya mencoba membuat pondasi keuangan yang kokoh. Biar anak-anak bisa dapat pendidikan yang layak. Agar tidak usah cicil untuk beli mobil. Agar ada uang tersedia saat keluarga butuh dana tak terduga. Agar keluarga Imam Alkarami terus berdiri. In Bunda we trust!

Tiga momen Bunda

Saya sering mengatakan kepada teman-teman yang belum menikah, bahwa the real life itu setelah menikah. Sehebat-hebatnya seseorang, entah itu pengusaha, artis, pegawai teladan, sulit untuk dibilang sukses kalau dia belum menikah. Karena di sana kita bisa menemukan siapa diri kita. Karena ada ‘orang lain’ di hidup kita. Maka mengenang masa hidup, itu sama dengan mengenang hidup dengannya.

Setidaknya ada tiga momen lucu sekaligus ingin menangis jika saya mengingatnya.

#tukangbatu

Waktu itu kami baru saja pindah ke rumah baru (sebelumnya kontrakan). Walau sudah setahun, perumahan itu masih membangun blok-blok baru. Masih ada pasir, batu-batu, paving block di pinggir-pinggir jalan. Pada minggu siang, Bunda risih dengan kondisi halaman belakang yang tak terawat. Disuruhnya saya membersihkan sisa-sisa semen dan pecahan batu. Saat itu rada ngomel di hati, karena dengan uang lima puluh ribu mungkin ini bisa selesai dengan cepat tanpa sakit pinggang dan baret-baret.

Dan tiba-tiba di depan rumah ada yang mendorong trolley bangunan (yang roda tiga) yang berisi puluhan paving block. Saya keluar pelan-pelan memastikan siapa yang rela mendorong batu-batu itu untuk rumah kami. ‘Tolong angkutin ke belakang, donk.. Bunda mau ambil lagi..’, saya masih tidak percaya sambil bilang iii..yaa…

Dengan baju-rumah, sarung tangan sepeda, seorang dokter muda ber-anak satu sedang membawa puluhan paving block pakai trolley. Sambil bawa paving block ke belakang, saya tersenyum sendirian yang diakhiri dengan iba super dalam. Air mata dan senyuman.

#babyrambo

Saya pulang kerja jam setengah lima sore. Sampai rumah sekitar jam 5, setelah shutting down desktop dan traffic. Tiap habis kerja, saya rutin menemani #anzal main di sekitaran komplek. Baik dengan sepeda ayamnya, mobil truknya atau hanya jalan kaki. Jadi waktu main saya dihitung dari jam 5 sore sampai jam 7 pagi besoknya. Setiap hari kerja.

Sore itu #anzal main lebih awal. Ia tergoda. Sudah banyak teman-temannya yang keluar rumah. Dengan terpaksa, Bunda beri #anzal keluar rumah walau saya belum tiba. Tentunya dipesan agar hanya main di depan rumah saja. Teman main #anzal lebih besar, main dengan sepeda. Sedangkan #anzal hanya bermodal mobil truk yang ia naiki dan dijalankan dengan cara menolak kedua kakinya.

Beberapa menit kemudian, #anzal hilang dari depan rumah. Bunda panik. Sedang rebus air untuk mandi #firaas – yang sedang telanjang karena mau dimandikan. Bunda pun mencari #anzal sambil menggendong #firaas.

#anzal ditemukan di dekat masjid. Teman mainnya entah sudah dimana. Bunda memaksa #anzal pulang dengan sambil menggendong #firaas. Karena truk tersebut bertali (saya gunakan untuk menariknya tiap sore), duakali truk itu terjungkal karena talinya terinjak ban. Dua kali juga #anzal jatuh, ngusruk, dan tentu luka. #anzal nangis, dan juga #firaas yang sedang telanjang.

Pada momen itu, saya baru datang. #anzal ditarik Bunda dengan truknya, sementara #firaas masih dalam gendongan, sambil telanjang. #anzal pun saya ambil-alih. Bunda buru-buru ke rumah, karena kompor masih menyala, rebus air mandi.

#lukabakar

Menjelang malam, biasanya sering terjadi keributan. Ini terjadi jika kedua anak itu telat dikasih makan. Maka biasanya jadwal makan malam kami menunda setelah kedua anak ini kenyang.

Malam itu ternyata lain. Walau sudah diberi makan, #anzal masih ingin main. #firaas juga masih rewel. Sementara Bunda layani #firaas, saya masak untuk makan malam. #anzal tidak mau main sendiri, dan ingin main (baca: masak) bareng ayahnya.

Singkat cerita, tangan saya terpaksa memegang panci panas, karena refleks melihat #anzal sedang turun dari kursi dengan membawa benda di kedua tangannya. Sakit luar biasa. Saya tersungkur di tempat cuci sambil mengaliri tangan dengan air.

Saya menangis di pangkuan Bunda. Berharap ada obat yang bisa menahan rasa sakit. Persediaan kassa dan obat P3K lain terbatas. ‘Mungkin di Apotik ada’, katanya. Saya tidak menyarankan kesana, karena jauh. Dan ini sudah malam. ‘Ke Alfamart saja, siapa tau ada’, saran saya.

Bunda lama keluar rumah, saya curiga ia pergi ke apotik. Dan benar, walau juga membawa minuman dingin dari Alfamart, Bunda pergi ke Apotik yang saya pun kalau kesana naik motor. Akhirnya tangisan saya diproduksi dari rasa sakit luka bakar dan rasa haru seorang Bunda.

Dan tangisan itu kemudian bercampur senyuman ketika Bunda bilang, ‘masa tadi Bunda disiulin sama orang di warung. Mulutnya bau alkohol lagi. Padahal udah pake jilbab, baju lebar, anak dua lagi..’.

;

Mario Teguh pernah berkata bahwa wanita itu hanya butuh dua hal dari laki-laki: ‘setialah kepada saya’ dan ‘buatlah saya bahagia’. Setia dan bahagia. Apapun yang dilakukan oleh manusia di dunia ini sejatinya adalah untuk bahagia. Membahagiakan anak-anaknya, isterinya, dan generasi penerusnya. Maka saya izinkan saya ingin membahagiakan Bunda di hari lahirnya yang ke-27 melalui tulisan dan video ini. Selamat Ulang Tahun, Bunda..

Rumahmu Cerminmu

Yatna, sang calon Kepala Desa, gegap-gempita mempromosikan dirinya di hadapan masyarakat desa. Dia pun terpilih. Camat merekomendasikan. Bahkan sang pengusaha developer real estate mendukungnya. Entah karena Yatna punya ‘tujuan mulia’ atau memang sang developer juga punya ‘tujuan mulia’ lain untuk membangun desa itu.
Yang jelas, desa akan mendadak metropolis karena akan dibangun real esate, sport center, tempat ibadah megah dan lapangan golf. Siapa menduga. Lapangan pekerjaan akan terserap banyak. Siapa menduga. Taraf hidup masyarakat desa akan meningkat.

***

Vano sumringah. Ia belah jalanan kota dengan motornya berbekal cinta dan sejumput bunga. Menjemput kekasih hatinya. Bukan untuk menonton atau makan di restoran bintang lima. Tapi melipir ke KUA. Ya, mereka ingin kawin lari. Karena orangtua tak merestui.

Tapi KUA berkata lain. Harus ‘berbekal’ Kartu Keluarga, katanya – tak sekadar cinta dan bunga. Maka Vano pun berkesah, “Kita pake orang dalam saja. Biar cepet”. Sudah nekad kawin lari dari rumah, tapi gagal hanya karena selembar Kartu Keluarga. “Semua prosedur sudah kita jalani. Bayar (calo) kayak gini ‘kan biasa”, tuturnya kepada sang kekasih, Laras.

***

Niken merogoh beras yang tinggal setengah toples. Merebus telur yang tinggal tiga butir. Anak bayinya menangis. Bersama Risa, anak pertamanya, Niken membawa anak bayinya ke rumah sakit. Membekali dengan uang seribuan seadanya. Memang seadanya. Obat anaknya pun hanya ia tebus setengahnya. Dan Risa harus bersabar hati tak dibelikan balon karena ibunya sedang pailit. Ia hanya seorang tukang jahit yang bersuami seorang mandor gudang beras. Pun Indonesia, sedang diambang krisis. Krisis moneter.

Maka bukan kebetulan ketika seseorang mendatangi rumahnya malam itu. Menawarkan bentuk kerjasama saling-menguntungkan. Koh Abeng ingin menyewa beberapa hari gudang beras suaminya, Arwoko – yang kebetulan sedang kosong. Tak hanya biaya sewa yang tinggi, Koh Abeng bahkan akan memberi bonus kepada Arwoko dua kali lipat. Saya akan rugi besar kalau tidak menyimpan beras itu, kata koh Abeng. Beras sedang susah.

***

Ola sedang narsis. Membicarakan dirinya di depan handy-cam. Mungkin punya mimpi menjadi presenter. Sambil keliling sekolahnya, ia cerita tentang cowok idamannya hingga mendeklarasikan dirinya primadona sekolah. Ola memesan siomay di kantin sekolah sambil menunggu Echi. Sementara Gita, yang sedari tadi merekam narsisnya Ola, mulai bosan dan meminta ganti topik.

Muncul Echi dengan buku pesanan Ola. Disanalah topik baru dimulai. Echi bercerita tentang ‘proyeknya’ dengan Pak Norman. Yang membuatnya mendapat fulus lima puluh ribu. Echi diminta untuk mengkoordinir teman sekelasnya agar membeli buku melaluinya. Topik menjadi menarik karena hanya Gita yang tidak membeli buku itu lewat perantara Echi. Maka B- (B-minus)-lah nilai yang harus Gita terima dari Pak Norman. Padahal beda harga dengan bukunya Pak Norman hanya beberapa ribu saja.

***

Itulah potongan cerita di film omnibus Kita Versus Korupsi (K vs K). Masing-masing potongan cerita di atas berjudul Rumah Perkara, Aku Padamu, Selamat Siang, Risa!, dan Pssstt…. Jangan Bilang Siapa-siapa. Keempat film pendek ini, sesuai judul utamanya, menceritakan tentang ‘Kita’ dan praktik ‘Korupsi’.

‘Kita’ adalah Kepala Desa Yatna, Vano sang pejuang cinta, Arwoko si mandor gudang, dan Echi si penjual buku. ‘Kita’ adalah tokoh-tokoh dalam film itu. Lalu dimana ‘Korupsi’?

Di layar televisi atau media cetak, tentu berita tentang korupsi adalah perkara milyar atau triliun. Atau tentang pejabat publik yang sedang menjadi ketua partai yang kebetulan dekat dengan penguasa. ‘Korupsi’ dalam film K Vs K – bisa dikatakan – bukan pada level korupsi di layar tivi.

‘Korupsi’ adalah Kepala Desa yang mengingkari amanah rakyatnya. Padahal ia berjanji untuk menjaga rakyatnya dari segala gangguan. Untuk menyejahterakan rakyatnya. Bahkan ia berjanji atas nama Tuhan. Tapi ia membiarkan developer menggusur desanya sendiri.

‘Korupsi’ adalah menganggap menyuap petugas KUA itu hal kecil dan biasa. Menganggap bahwa tidak ada artinya urusan administrasi demi mimpi mereka yang lebih besar.

‘Korupsi’ adalah menggunakan jabatan mandor untuk memperkaya diri sendiri. Dengan alasan beras di dapur sudah habis atau untuk beli obat anak.

‘Korupsi’ adalah tidak transparan terhadap harga buku pelajaran yang akan dijual. Walau selisih beberapa ribu saja.

Seperti yang pernah diiklankan KPK, korupsi seorang pejabat sejatinya adalah kebiasaan buruk yang dianggap sepele dan kecil. Kebiasaan mencontek di kelas, membohongi pasangan, menyuap polantas, sesungguhnya akan berujung pada korupsi milyaran di tempatnya bekerja kelak.

Ola terbiasa me-mark-up biaya buku sekolahnya, karena ternyata sang ayah pun melakukan itu di tempat kerjanya.

Laras ngotot menentang ide Vano untuk ‘pake orang dalam’ terinspirasi dari guru SD-nya, Markus – yang mengajarkan nilai-nilai kejujuran hingga ia pun menolak menyuap sekolah agar di-PNS-kan.

Risa, anak Arwoko, yang kemudian menjadi pejabat pemda, dengan tegas menolak uang sogokan. Karena selalu mengingat kata-kata ayahnya, ‘Kebodohan saya (menolak korupsi) tak akan saya sesali. Sampai mati!’.

Karena siapapun tak menginginkan anaknya menjadi korban dari kebiasaan buruk kita. Seperti Iqbal, anak Kepala Desa Yatna, yang ikut terbakar di dalam rumah korban penggusuran paksa. Karena ayahnya.

Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang kita petik di kemudian hari. Menanamkan kebiasaan baik di keluarga, itulah yang akan anak-anak kita lakukan. Dan kalau boleh meminjam kalimat Laras kepada Vano, ‘Kamu adalah cerminan rumah kamu’.

“Jangan Takut Lawan Korupsi!”

Tahun 1858, di sebuah penginapan bernama  “In de kleine prins” di Brussel, Belgia, telah lahir novel masterpiece berjudul Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda (Max Havelaar of de Koffieveilingen der Nederlandse Handelsmaatschappi). Ia keluar dari rahim pemikiran Eduard Douwes Dekker, dengan nama pena Multatuli. Seorang ‘PNS’ Pemerintah Hindia Belanda yang memotret Indonesia di abad ke-19. Potret penjajahan Belanda hingga korupsi pejabat-pejabat pribumi.  Kolonialisme dan feodalisme. Lebih dari sekadar novel ‘mega-best-seller’,  Max Havelaar menyulut Hindia Belanda untuk mengubah gaya politik penjajahannya menjadi ethische politiek (politik etis) atau politik balas budi (tahun 1860). Yang mengharuskan Belanda membangun sekolah-sekolah dan fasilitas kesehatan. Bahkan – Max Havelaar – menjadi inspirasi perjuangan kaum terpelajar di awal abad ke-20, seperti Moh Yamin, Husni Thamrin dan Soekarno – Sang proklamator.

Max Havelaar menjadi whistle blower atas praktik korupsi yang mengakarkuat di Indonesia saat itu. Mungkin tidak ada Patih yang mark-up biaya pembuatan benteng, tapi pemberian upeti adalah bentuk lain dari korupsi. Dan korupsi adalah alasan lain untuk meraih kekuasaan. Nusantara hancur karena hal itu: perang saudara di Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit, berlangsung turun temurun karena perebutan kekuasaan. Pejabat pribumi dan Kolonial berkolusi-korupsi-dan-nepotisme, menjarah sumber daya alam dan manusianya sekaligus. Konspirasi feodal.

Salah satu konspirasi ‘feodal’ zaman sekarang terjadi di bilik pelelangan. Setiap orang yang mempunyai akses bisa dengan mudah mendapatkan uang secara ‘legal’. Sang pemilik anggaran, misalnya, bisa menaikkan harga dan mengatur pemenang lelang, yang tentunya bekerja sama dengan panitia lelang. Seorang Bupati membagi-bagikan proyek dari APBD kepada perusahaan milik keponakan, saudara sepupu, atau ‘donaturnya’ saat kampanye dulu. Sejak pembangunan era Soeharto, korupsi ‘legal’ ini terus memberangus negeri tanpa ampun. Dan masih terasa hingga lebih dari 10 tahun era jatuhnya Soeharto. Reformasi.

Tapi setidaknya reformasi telah melahirkan Perpres 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa. Setidaknya itu bisa melegakan saya sebagai panitia lelang. Perpres tersebut mewajibkan pelelangan dilakukan secara online (e-proc) di tahun 2012 ini. Tidak ada yang bisa ditutupi, perusahaan manapun yang terhubung dengan internet bisa mengikuti lelang. Pengaturan pemenang bisa dihindari. Konspirasi Pejabat Pembuat Komitmen (P2K) dengan Panitia bisa ‘ditengahi’ oleh Audit Pemeriksa Internal Pemerintah (APIP). APIP punya akses untuk melihat apakah ada dokumen yang ditambah atau dikurang? Apakah ada pengaturan?

Pelelangan atau pengadaan barang dan jasa memang wilayah seksi. Tak kurang dari 80% kasus korupsi yang ditangani Komite Pemberantasan Korupsi (KPK) ialah pengadaan barang dan jasa. Inilah mengapa Indonesia masih terseok-seok di peringkat 100-an dari sekitar 170 negara paling korup di dunia.

Namun pelan-pelan merangkak naik di dua tahun terakhir. Tahun 2006 Indonesia peringkat 130 dari 163 (nilai indeks 2,4). Tahun 2010 berada di peringkat 110 dari 178 (nilai indeks 2,8). Tahun 2011 melaju ke peringkat 100 dari 182 (nilai indeks 3). Korupsi perlahan surut.

Berapa uang negara yang berhasil ‘diselamatkan’ atas pemanfaatan e-proc ini? Data hingga Agustus 2012 mencapai nilai Rp 7 Triliun. Apa hasilnya? Di kuartal ke-2 tahun 2012 ini, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) naik menjadi 6,4%; peringkat ke-2 setelah China.

Dan opportunist  selalu ada di masanya. Selalu ada kelompok yang emoh meninggalkan tradisi ‘upeti’. Seperti peserta lelang yang tak henti-hentinya menelpon meminta untuk bertemu di hotel anu, café itu. Mereka yang rajin meng-entertain pejabat agar kebagian ‘kue’ proyek – bahkan terus kebagian hingga anak cucunya. Mereka yang mengintimidasi panitia lelang dari surat kaleng hingga ancaman penjara – yang membuat saya takut. Mereka yang mati-matian melawan kolonialisme, tapi merawat praktek feodalisme. Menolak pembaratan setimur-timurnya.

Ada yang terlupa dari bahasan Douwes Dekker di atas. Delapan tahun sebelum Eduard Douwes Dekker meninggal di Jerman, di Pasuruan telah lahir seorang pahlawan nasional bernama Ernest Douwes Dekker. Seorang keturunan Belanda-Jerman-Jawa yang dikenal dengan nama Danudirja Setiabudi. Mereka punya hubungan darah, Ernest adalah cucu dari kakak Eduard – Olaf Douwes Dekker.

Tak berlebihan saya kira jika duo-DD (Douwes Dekker) ini punya naluri yang sama dalam melawan kolonialisme dan konspirasi feodal. Eduard DD melahirkan karya-karya sastra, berupa gagasan, novel, naskah drama yang menjadi inspirasi para pejuang setelahnya. Salah satunya adalah cucunya, Ernest DD. Yang berserangkai dengan Tjipto Mangoenkoesoemo dan Suwardi Suryaningrat membentuk wadah pergerakan kemerdekaan bernama Boedi Oetomo.

e-procurement adalah salah satu indikasi terwujudnya good governance. Anggap saja ini produk barat, ide mantan penjajah, tapi inilah salah satu ‘senjata’ memberantas korupsi – dengan panitia lelang sebagai serdadunya. Duo-DD adalah ‘produk’ barat, tapi mereka adalah ‘senjata’ pergerakan kemerdekaan. Melawan penjajahan (kolonialisme) dan praktik korupsi-kolusi-nepotisme (konspirasi feodal).

Reformasi belum usai. Tugas KPK masih banyak. Akar budaya korupsi masih merambat. Semuanya butuh waktu.

Tentu Jendral Sudirman butuh waktu untuk mengajak rakyat angkat senjata melawan penjajah. Tentu Mohammad Hatta butuh waktu untuk meyakinkan Eropa bahwa Indonesia layak merdeka. Tentu Soekarno butuh waktu untuk menyadarkan rakyat bahwa Indonesia punya harga diri, jangan mau dibodohi, harus berani melawan, dan berkata ‘Ini dadaku! Mana dadamu?’.

Dan juga akan berkata kepada saya, “Jangan takut lawan korupsi!”.

referensi:
www.serbasejarah.wordpress.com
www.lkpp.go.id
www.bps.go.id
www.wikipedia.org
www.caping.wordpress.com
www.tempo.co