Posted by: imam alkarami | May 1, 2009

Setengah Cangkir Kopi

i_love_coffee_by_mj_coffeeholickTemanku bilang bahwa kopi diminum hanya untuk membuat mood kita bagus. Karena setelah itu biasanya ide-ide kreatif bermunculan. Peneliti di Harvard bahkan menemukan fakta bahwa peminum kopi memiliki resiko terkena diabetes lebih kecil. Kafein yang terdapat dalam kopi ternyata membantu meningkatkan metabolisme tubuh sehingga dapat proses pembakaran akan lebih banyak. Tapi, cukup dua cangkir saja setiap harinya. Tidak lebih.

Seperti siang yang mendung ini, aku duduk sendiri di sebuah kedai kopi di Bandung. Menunggu teman kuliahku yang hampir dua tahun tidak bertemu. Aku bekerja di perusahaan BUMN di Makassar, sedangkan ia di perusahaan swasta di Bogor. Kami kuliah di jurusan yang sama di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.

Ariel namanya. Ia bobotoh Persib. Ia tak pernah absen jika Maung Bandung bertanding di Stadion Siliwangi atau Si Jalak Harupat. Tahun Pertama di kampus, kami tidak begitu dekat. Ariel punya pergaulan sendiri dengan alumni SMA-nya, SMA 5 Bandung. Pergaulan anak muda Bandung yang fashionable, nongkrong di Dago, hunting distro, momotoran (touring geng motor) dan wisata kuliner.

Tapi pada Tahun Kedua, Ariel mulai terlihat beda. Ia tak lagi nongkrong dengan teman-teman SMA-nya. Ia sering terlihat sendiri di kantin, di perpustakaan, dan di kelas. Aku tak tahu kenapa ia begitu berbeda. Aku juga tak berani menegurnya. Aku bukan siapa-siapanya saat itu.

Tapi Joe membuka tabir itu. Joe – teman satu kelompokku saat Tahun Pertama – tampak sangat ‘dekat’ dengan Ariel. Mereka makan bersama di kantin. Duduk bersebelahan di ruang kuliah. Dan pergi ke Mushalla bersama. Padahal, setahuku, Ariel bukan orang yang sering datang ke Mushalla. Paling tidak selama ia kuliah di sini. Tapi Joe, perlahan mengubahnya. Joe, memang sosok orang beragama dan berilmu di antara teman satu jurusan lainnya.

Joe seperti menyediakan kepompong yang akan memetamorfosa-kan Ariel menjadi kupu-kupu. Joe aktif dalam organisasi keagamaan. Ariel seperti ditarik-masuk dari jalan raya ke dalam ‘mobil’ yang ditumpangi Joe. Maka Ariel pun punya kecepatan kini. Punya ambisi. Punya tujuan. Joe navigatornya. Ia punya ‘habitat’ baru. Bahkan terkadang ia lupa kembali ke rumah asalnya. Joe memberinya ruang tak hanya sebagai teman. Lebih dari tu.

*

Motor Kharisma tiba dari kejauhan. Tertempel lambang Persib di kepala lampu depannya. Masih dengan pelindung dada yang ia beli di Pasar Jumat di sepanjag jalan Ganesha. Masih seperti dulu. Masih seperti ketika Ariel dekat dengan Joe. Ariel membuka helm full-face-nya. Dan perubahan itu terletak di mukanya. Pucat. Matanya nanar. Otot mukanya kaku. Aku tak tahu apakah Ariel sedang sakit hari ini.

Aku memesan kopi untuk Ariel. Mempersilakannya duduk. Basa-basi Tanya kabar. Melempar joke-joke standar. Tapi muka Ariel masih pucat. Kaku. Something wrong, I think.

“Salma mau nikah,” ia membuka pembicaraan dengan pernyataan yang mengejutkan.

“Sama siapa?” kataku mengernyitkan dahi.

“Bukan ama gua”, jawabnya parau. Suara yang sangat berat.

Dan hujan pun turun dengan derasnya siang itu di langit Bandung. Semesta pun menangis. Salma adalah oase keduanya setelah Joe. Salma adalah salah satu penumpang dalam ‘mobil’ yang Joe bawa bersama teman-teman di organisasinya, termasuk Ariel. Salma ialah mata air surga buat Joe. Ia seorang wanita khayangan. Yang jilbabnya menutupi hampir setengah badannya. Yang Tatapannya meneduhkan. Yang pandangannya ditundukkan. Suaranya pelan, tapi menegaskan. Bicaranya singkat, tapi penuh makna. Dan Ariel terpesona oleh keanggunannya.

Ariel ditegur sangat keras oleh teman-temannya, termasuk oleh Joe, ketika ia mengajak Salma makan siang. Bukan muhrimnya, kata teman Ariel membentak. Ariel mengaku salah, tapi api cintanya semakin membara.

Hingga suatu saat aku terhenyak tak percaya. “Gila lo Riel. Lo anter dia pulang pake motor?” tanyaku tak percaya. “Hihihiii..Gua juga ga ngerti. Basa-basi doank. Eh, dia-nya mau,” Ariel cekikikan.

Seorang wanita seperti Salma sangat sulit diajak jalan. Apalagi boncengan motor. Mereka punya batas. Mereka ada hijab. Tapi Salma tetaplah manusia. Yang tentu punya kelemahan. Yang juga punya cinta. Bahkan, sudah lima kali Salma mengunjungi rumah Ariel hanya untuk ngobrol dengan ibu Ariel dan dengan sepupu-sepupunya.

Mereka ditegur, dimarahai, dijauhi. Tapi semakin dilarang, Salma semakin menjadi. Ariel semakin happy. Mereka anomali dalam ‘kendaraan’ mereka sendiri.

*

Aku tahu, Ariel tak diizinkan orang tuanya untuk menikah hingga ia dapat kerja. Salma sudah berulang kali meminta Ariel melamarnya. Tapi, Ariel masih menunggu kelulusan dan status penghasilannya.

“Akhir tahun kemarin, Salma nelpon gua. Katanya dia udah ada yang ngelamar”, kata Ariel pelan. “Siapa?” aku semakin greget.

“Salma nggak jawab. Dia cuma bilang ‘seseorang’,” lirihnya tajam.

Kami terdiam sejenak. Hujan semakin deras. Dan secangkir kopi panas pun datang.

Lo belum tahu ‘seseorang’ itu siapa?” tanyaku.

Tidak ada jawaban. Ariel dengan tatapan kosongnya.

“Siapa??”

“Joe!!, dia orangnya”, air mata Ariel membendung. Ia tahan kuat-kuat agar tak jatuh.

Aku menghembus nafas panjang. Penasaranku hilang. Tapi rasa kesal datang. Otor-ototku mengeras. Gigi-gigiku saling beradu. Joe. Oase ‘gurun sahara’-nya Ariel ternyata hanya sebuah fatamorgana.

Gua sih masih rela kalau yang nikahin Salma itu bukan Joe. Tapi ini Joe, Mam. Temen gua sendiri. Temen deket. Dia tahu banget betapa gua jatuh hatinya sama Salma. Malah dia yang motivasi gua biar cepet lulus dan dapat kerja biar cepet nikah. Tapi, dia tusuk gua dari belakang, Mam…”, Ariel menumpahkan semuanya. Aku harus tenang. Jangan terbawa emosi. Aku harus mengeluarkan pikiran-pikiran yang menenangkan, walau dari tadi rasa kesal itu terus menohok.

*

Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta mengatakan bahwa cinta itu pekerjaan jiwa yang besar. Dan inti pekerjaan itu ialah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang yang dicintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia karenanya. Pecinta sejati seperti air yang menyuburkan. Seperti matahari yang menumbuhkan. Ia tak takut terhina karena cintanya kandas. Sebab di sini seorang pecinta sejati sedang melakukan pekerjaan jiwa yang besar dan agung: mencintai.

“Cinta itu seperti kopi hangat ini Riel,” aku angkat bicara.

“Pahit dan manisnya nyampur. Lo ga bisa minumnya sekaligus. Harus pelan-pelan. Seruput demi seruput. Tapi di sanalah sensasinya, ketika seruputan itu mencapai tetes terakhirnya. Tubuh lo akan hangat, pikiran akan nyaman,” aku melanjutkan sambil menyeruput kopi hangatku hingga tetes terakhir.

Ariel terdiam sejenak. Dia angkat cangkirnya dan meminumnya pelan. Tapi tidak menghabiskannya. Kopi itu masih tersisa setengahnya. Kami terdiam penuh makna. Seolah sedang melakukan percakapan batin.

“Kenapa ga dihabisin kopinya Riel?”, tanyaku ringan.

“Pahit!!”, dan kami pun tertawa.

Posted by: imam alkarami | April 22, 2009

mimpi nikah (lagi…)

getting_married_by_senseialiciaserius. dan modusnya sama. orang yg gw nikahi ga gw kenal. yang ini lebih parah malah. bener2 ga kenal dan baru kenal saat itu. klo yg mimpi sebelumnya kan ga kenal tapi sebenrnya tau orangnya siapa. nah, yang ini tuh benar2 ga kenal.

gw diajak dia keluar dan tiba2 gw disuruh milih desain kartu undangan. dan disuruh ngukur baju buat nikah nanti. gila ngga?

wanita ini berjilbab. mukanya mmmm…ga cantik banget, dan ga jelek juga. tapi yang jelas gw ga pernah liat muka nih orang. kalo dipersentasekan mungkin kadar ga cakepnya lebih tinggi kali ya..

soalnya gini brur. besoknya waktu akad nikah (eh, inget ye..ini masih dalam mimpi..) dalam hati gw itu gw masih ragu2 ama ni cewek. waktu itu gw bayangin, gile..ini yg jadi isteri gw?? ini yg bakal nemenin gw selama gw hidup???

tapi entah kenapa waktu ijab kabul lancar2 ajah.. dan gw liat lagi tuh muka ‘isteri’ gw..weddewwwww…kagak dah. ya ampun. saat itu gw berharap banget klo itu hanya mimpi. tapi tetep aja susah bangun.

sampe2 gw bisikin ibu gw, “bu, kok kayaknya dia ga cocok ya sama saya”. terus ibu gw jawab, “iya, kayaknya dia emang bukan isteri yang cocok, nilai matematikanya aja 6..”

tuwiww…hahahaha..antara mau ketawa dan sedih. kok pake nilai matematika segala sih bu, dalam hati gw (eh, ingeeett..ini masih dalam mimpi).

dan akhirnya gw bangun juga. keringetan. deg2an. untung banget dah cuman mimpi.

gile aje, baru ketemu ama tuh cewe itu hari, dia langsung ngajak nikah. dan gobloknya, gw iya2 aja (saking kebeletnya kali ya gw pengen nikah..hihihihi), dan baru nyadar waktu abis akad nikah..gebleeeeggg..

ga tau juga nih pessannya apa. mungkin kalo mau nikah jgn kebawa nafsu kaliya..mentang2 jilbaban, abis itu maen hembat ajah..mentang2 lulusan ITB abis itu iya iya ajah..mentang2 dokter,abis itu ga liat2 lagi muka..hwahahahahaha..

jadi..

gw masih nunggu mimpi (nikah) berikutnya..mudah2an aja dgn org yg bener2 bisa nikah ama gw d dunia nyata..bener2 ama org yg cocok…saling melengkapi..pinter..keturunan baik2..(loh..kok jadi minta requirement gini gw..hahahaha)

Posted by: imam alkarami | February 27, 2009

kurir minyak tawon

Masih Jumat yang biasa. Paginya senam berjamaah. Pulang, mandi, dan balik lagi ke kantor. Tentu tempat pertama yang dituju adalah komputer, dan langsung mengklik firefox. Masuk facebook, yahoomail, dan wordpress.

Dan keajaiban pun datang. “kamu ke Jakarta ya ikut rapat”, sekretaris Manajer tiba-tiba berkata seperti itu. “SPPD-mu udah dibuat, beli tiket sana”, katanya. Kenapa aku bilang sebuah keajaiban. Karena belum lama ini aku benar-benar merasakan rindu yang luar biasa sama orang-orang rumah. Bahkan tak jarang mimpiin ibu, adik. Maka rapat hari senin jam 10 di Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, ini sungguh sebuah hadiah yang mantap.

Tiket ke Jakarta PP sudah di booking. Tentu saja aku pilih penerbangan yang Sabtu pagi dan pulang Minggu malam. Biar ada Sabtu dan Minggu yang bisa dihabiskan di rumah. Aku pun menelpon ibu, mau dibawakan oleh-oleh apa  mereka. “minyak tawon aja. minyak yang kemarin pas lebaran dibawa itu kan cuman satu. banyak yang minta di sini”, kata ibuku.

Aku pun ‘menyewa’ Office Boy di kantorku untuk mengantar membeli oleh-oleh, mengambil tiket, dan satu lagi, mengambil pakaian di laundry yang harusnya diambil hari senin, karena sudah ga ada lagi pakaian resmi di lemari.

Uppss. Aku lupa. Sebenarnya agenda rapat ke Jakarta itu apa ya. Terus aku ini ikut siapa. “Tanya bu Rahma, kamu kan pengikutnya beliau. Tentang SUTET gitu deh”, kata sekretraris Manajer.

“Kamu berangkat kapan?”, tanya bu Rahma

“hehehe..besok bu, mau sekalian pulang bu..”, senyum-senyum ga jelas

“ya udah, sekalian bawain bingkisan dari GM ya?”

“bingkisan apa bu?”

“ga tau, minyak tawon mungkin”

“siap bu…terus saya mesti saya siapkan apa bu?”, pura-pura bego

“kamu sudah baca undangannya?”, alis mata agak naik

“belum bu..hehehee…”, senyum-senyum ga jelas lagi

“saya juga belum, kopikan satu buat saya”

“oo..baik bu..”

Sebelum belanja oleh-oleh, aku mengambil uang SPPD dulu ke keuangan. Uang tiket, makan, dan lain-lain semuanya disini. 2,9 Juta sudah kukantongi, tiba-tiba ponsel berbunyi. “Kamu Imam ya? Saya Tarita, TL99, di PLN juga, di Sektor Tello. Kamu tahu malam ini ada pemilu ketua IA ITB se Sulawesi Selatan? di Baruga Angingmammiri, depan pantai Losari. Datang ya.”

“kapan teh?”

“nanti malam jam 7″

Jam pulang kantor kalau hari Jumat itu Jam 5 sore. Maka aku hanya punya waktu paling lama satu setengah jam untuk beli oleh-oleh di Sombo Opu, ambil tiket di Pettarani ujung, dan ambil pakaian di Pettarani.

Tepat jam 11.30 malam aku baru tiba di kamar kost. Acara pemilu IA ITB itu ternyata bikin suasana kerja lebih bersemangat, karena bisa ketemu dan minta kartu nama alumni-alumni yang terdampar dan mungkin orang makassar. Capek. Tapi masih harus kemas-kemas dulu. Karena taksi siap jemput jam 5 pagi. Tas berisi notebook, buku-buku peraturan tentang jalur transmisi, dokumen UKL UPL, dan stelan lengkap hari senin. Kardus berisi minyak tawon pesanan ibu, kacang disko khas makassar, kaos makassar buat om yang kebetulan ada di rumah, dan dua bungkus kopi toraja. Dan satu lagi, bungkusan agak besar yang katanya berisi minyak tawon titipan GM untuk orang-orang Jakarta.

Tepat jam 10 pagi aku tiba di rumahku di Tangerang. Fiiiuuhhh..perjalanan sangat melelahkan. Bukan karena ga kebagian tempat duduk di pesawat (ga mungkin kan..) tapi karena kurang tidur semalem dan sedikit sport jantung waktu di pesawat. “There’s weather condition, please fasten your seatbelt”, kata pramugari. Dan karen di rumah pun baru ada bapak, dan adikku yang pertama, maka aku pun tidur pulas pagi menjelang siang itu.

sekitar jam 1 siang ibuku membangunkanku karena ada teman-teman SMA-ku yang berkunjung. Keluar dari kamar aku melihat kacang disko sudah terbuka dan tergeletak di depan TV, kaos makassar sudah di lantai, berarti bungkusan oleh-olehku sudah dibuka. Dan aku pun berpikir lagi, bungkusan yang dari GM itu dimana ya, perasaan tadi ada di dalam kamar deh. “bungkusan yang satu lagi mana?”, tanyaku pada ibuku. “yang isinya minyak tawon itu?”, ibuku sambil menunjuk sekumpulan bungkus minyak tawon di atas kulkas.

Arrrgggghhhh…

Enam bungkus minyak tawon khas makassar terjejer rapi. “kenapa banyak sekali beli minyak tawonnya, ibu kan cuma pesen satu”. Aihhh. Bukan. Yang bungkusan itu dari GM buat temannya di Jakarta. “aa cuma disuruh bawain aja. Dibawain waktu rapat hari senin besok”, kataku meringis. “samperin dulu temanmu di luar itu, nanti kalau ini sih gampang tinggal dibungkus lagi”, seru ibuku. Aku mencuci muka. Untung saja isi bungkusan dari GM itu cuma minyak tawon, coba kalo kacang disko, makanan, kaos, atau surat-surat penting, pasti terjejer dan terbuka juga di depan TV.

Siang itu ada Rizal, Alfi, Fauzi. Semuanya alumni Albayan Boarding School. Kami berbincang, tentang kegiatan, tentang masa depan, dan pada akhirnya mengarah ke rencana membuat pusat percetakan dan foto digital, plus library cafe, dan distro.  Bermimpi memang mudah, yang susah memulainya.

Mereka baru keluar dari rumahku sekitar jam 11 malam. Setelah nonton Valkyre di XXI, makan bakmi mang dayat, dan satu kali (saja) pertandingan WE. Tak lama ibuku baru datang dari rapat rutin Yayasan. Urusan nirlaba memang banyak yang harus dikorbankan, termasuk waktu rapat. Bahkan malam minggu. Dan perbincangan serius pun banyak terjadi di malam itu. Tentang rencana masa depanku. Rencana ibuku, bapakku, hingga proyeksi adik-adikku. Perbincangan ditutup secara tak resmi sekitar jam setengah dua pagi.

Besoknya, apapun yang terjadi, harus ada rujak. Maka setelah makan pagi dengan teri nasi kacang goreng, sayur asem, lalap, sambel, tempe, tahu, emping (hayooo pasti ngilerrr..), maka makan siangku hari itu ialah ngerujak..ada nanas, kedondong, mentimun, pepaya muda, bangkwang, apa lagi ya..Dan yang bikin gila, kami melakukannya dua ronde. Alias dua kali ngulek sambel, alias empat potong gula jawa, dan sekian kepal cabe rawit.

Malamnya, ternyata minyak-minyak tawon itu belum belum di-packing. Karena stelan packing di toko itu pake suatu mesin, maka aku mencoba menyetelnya seperti itu. Alat perekat yang sudah digunting itu aku rekatkan lagi dengan hekter. Dan sedikit sentuhan lakban. Tampilan lebih bagus dari sebelumnya. Tapi aku belum yakin dengan kekuatan talinya. Karena sudah malam, aku pun istrirahat.

Jam 7.30 berangkat dari rumah dengan taksi menuju Rasuna Said. Dan macet. Ga enak juga jadi orang Jakarta. Tiap tikungan macet. Baru sampe Tomang, bu Rahma menelpon. “Kamu dimana? Ibu sudah disini. Langsung saja ke lantai 3 ya. Jangan lupa bingkisannya.”

Aku pun memaksa pak supir taksi untuk cepat. Dan setelah melewati titik macet, dia pun melaju kencang, dan berkata datar “duhh, Dirjen LPE itu dimana ya?”. “Blok x pak”, kataku. Dan ia pun memutar taksinya mencari blok x. Tanya sana sini. Sementara aku terus melihat jam, dan sudah mendekat jam 10. Kacau. Dan akhirnya gedung tua itu pun ketemu juga. Gedungnya cokelat abu dan banyak pohon rindang di depannya, jadi tak begitu terlihat.

120 ribu aku keluarkan untuk Pak supir taksi. Aku segera menggendong tas ransel yang super berat, dan jinjingan berisi minyak tawon. Aku langsung masuk lift dan menekan angka 3. Sambil merapikan rambut dan baju di dalam lift, aku segera keluar dengan cepat dari lift. Dan Bruuuukkkkk….

Tali yang hanya diikat dengan hekter itu putus. Dan bungkusan klimis kertas kopi itu sobek kemana-mana. Glekkkk..Aku menggendongnya seperti ibu-ibu menjepit tasnya waktu ke pasar. “Pak, ruang rapat ini dimana ya?”, aku serahkan surat undangan rapat itu ke Satpam. “Dipindah di gedung sebelah mas”, katanya.

Waduuhh. Orang-orang menatapku seperti kurir paket. Atau lebih tepatnya kurir minyak tawon. Sampai di ruang rapat, dan ternyata aku terlambat. Semua sudah berbincang di ruang rapat walau rapat belum dimulai. Aku tinggalkan bungkusan rusak itu di depan ruangan seolah bukan aku pemiliknya.

Rapatpun dimulai, dan berlangsung baik. Seluruh persiapan tentang rapat itu tak berarti. Karena ternyata yang seharusnya datang pada rapat itu adalah GM, General Manager. Yang datang saat itu juga para GM di tiap-tiap unit. Sedangkan aku hanya seorang maganger yang kebetulan disuruh membawa minyak telon titipan GM-ku. Saat ada yang memberi teh dan snack, aku berpesan “Mba, bungkusan yang di depan itu, titip ya, kalau bisa sih dikasih plastik, soalnya rusak talinya..makasih ya mba..”

Rapat pun berakhir sebelum jam 12 siang. Dan agenda selanjutnya ialah mengantarkan bungkusan minyak tawon yang sudah dibungkus dengan plastik putih kucel. Kami melaju ke ESDM, jalan merdeka. GM-ku tidak bisa dihubungi karena sedang di pesawat. Bu Rahma hanya ingat nama orang yang harus dititip bungkusan itu dan dua amplop surat. Kami pun mencari orang itu di ESDM. Dan ternyata semua pegawai sedang makan siang. Kami menunggu. Karena perut kami juga harus makan, maka bu Rahma mencari tahu nomor ponsel orang yang harus diberi bingkisan ini. Dan kami pun deal untuk menitipkan bingkisan dan dua amplop surat ke pegawai yang ada disana. Selesai. Perjuangan mengantar minyak tawon selesai. Sekarang tinggal makan siang, karena pesawat yang aku pesan baru terbang jam 8.20 malam. Pulang ke rumah, cuma bisa numpang minum, abis itu berangkat lagi ke bandara. Bu Rahma pun mengajakku ke ITC Mangga Dua. Dia ada titipan dari suaminya untuk beli jas.

Sampai di Bandara jam 5 sore. Masih ada 3 jam lagi. Aku di gate A1, Lion Air, Bu rahma di Garuda. Tapi di Gate A1 aku bertemu dengan Manajer SDM dan Deputi keuangan kantorku.

“Rapat apa di Jakarta?”, tanyanya.

“SUTET pak, itu pak, tentang biaya kompensasi”

“Berapa jam rapatnya?”

“hehehe..cuma dua jam pak”, sambil senyum-senyum

“Jauh-jauh kamu ke Jakarta cuma rapat dua jam?”, tanyanya sambil menaikan alis dan sedikit tersenyum asimetris.

Intinya kan liburan dan jadi kurir minyak tawon pak, kataku dalam hati.

Posted by: imam alkarami | February 26, 2009

my first cake..

would_i_lie_to_you_by_sketchyrealitycheck

Perjalanan Makassar – Mamuju lewat darat bener2 bikin mabok.  Jalannya liuk-liuk, bolong-bolong, sempit, kanan kiri jurang. Bener2 perjalanan hidup dan mati. Tapi ada yang menghiburku ketika perjalanan maut itu berlangsung, sebuah lagu. Bukan lagu cinta atau lagu merdu. Ini lagu perjuangan dari lelaki sejati. I will survive, Cake.

I will survive
yeah, As long as I know how to love I know I’ll be alive
I’ve got all my life to live
I’ve got all my love to give
I will survive

Berangkat dari Mamuju sekitar jam 7 malam. Inova melaju tak kencang. Sedang-sedang saja. Di bawah 100 km/jam. Hingga sampai di depan pintu rumahku tepat jam 6 pagi. Jam 730, aku masuk kantor. Dan memutar lagi I will survive. Tapi kini lengkap dengan Perhaps, Never there, Short skirt and long jacket, dan It’s coming down. Ku dengar pelan-pelan. Dan bahkan mencari liriknya di google agar lebih valid.

Sebuah cerita yang nampaknya meresonansi episode-episode kisah perjuanganku. Bukan perjuangan mencari cewek, apalagi akhwat. Tapi perjuangan mencari cinta. Kalau boleh mengutip Letto, mencari Lubang Hati.

It’s coming down.
It’s coming down.
It’s raining outside.
You’ve nowhere to hide.
I’m asking you (edited)
Why you think it’s funny
(It’s coming down,Cake)

Tiba-tiba saja menghilang. Tepat ketika kakiku menginjakkan bumi Sulawesi. Tak ada komunikasi. Hanya sekedarnya. Tidak seperti sebelumnya. Maka aku menyebutnya perubahan.

Never there,
You’re never there,
You’re never, ever, ever, ever there.
(Hey!)
(Never there, Cake)

Mengirimkan pesan, meninggalkan jejak di blognya, mem-buzz, berusaha mendekatinya..semuanya seolah ia tak ada. Seolah ia tak pernah mengenalku.

But now I hold my head up high
And you see me
With somebody new
I’m not that stupid little person still in love with you
(I will survive, Cake)

Aku hingga sekarang tidak terlalu mengerti kondisi sebenarnya tentang ia. Karena untuk membaca pesanku saja mungkin ia tak sempat. Bagaimana mungkin ia membalasnya. Maaf kalau banyak menggunakan kata ‘mungkin’. Karena bahkan ada seorang teman dekatnya yang tak bisa mengatakan apa-apa saat kutanya tentang kabarnya. Jika memang ia saat ini telah bersama orang lain, atau merencanakan dengan orang lain, atau tidak sama sekali merencakanan denganku, maka aku tidak bodoh. Dan aku bukan Majnun yang membawa cintanya hingga kubur. I will survive, as long as I know how to love, I know I’ll be alive.

I want a girl with a mind like a diamond
I want a girl who knows what’s best

I want a girl with the right allocations
Who’s fast and thorough
And sharp as a tack

I want a girl who gets up early
I want a girl who stays up late

I want a girl with a white veil and a long hijab (edited)
(Short skirt and a long jacket, Cake)

Dan terakhir, Cake memberiku inspirasi tentang who’s the one. Karena deklarasi ‘I will survive’ bukan sebuah perjuangan jika tidak dibarengi sebuah tindakan. Kriteria adalah salah satu target-target agar sasaran terfokus. Apakah ia yang mencampakkanmu termasuk di dalamnya, kata orang di sebelahku. Perhaps. Cuma itu yang bisa aku katakan. Bahkan hingga sekarang, aku masih belum tahu ia wanita seperti apa sejatinya. Karena perasaanku padanya seperti gerakan cepat reaksi kimia. Menjalar dan bereaksi secara bertahap, tingkat demi tingkat. Hingga tak tahu sudah menjadi seperti apakah perasaan itu.

Pagi ini. Setelah aku mendengar lagu-lagu Cake. Ibuku menelpon. Seorang temannya menghubunginya dan meminta nomorku serta data-dataku. Ibuku menghubungiku untuk meminta izin. Dan sebagai syarat, aku pun meminta sebaliknya.

It is my first cake!

Posted by: imam alkarami | February 16, 2009

Yaumul Marhamah it’snt Islamic Valentine’s Day

muslim__s_drink_by_manevi_art

Suasana sangat sakral. Deretan pasukan bergemuruh menuju Makkah. Hari itu tanggal 10 Ramadhan tahun ke-8 HIjriyah. Pasukan Islam akhirnya bisa kembali (merebut) kota Makkah setelah sekian lama terusir dan diperangi.

“Wahai manusia, hari ini bukan hari pembantaian, melainkan hari kasih sayang (yaumul marhamah), dan kalian semua merdeka kembali ke keluarga kalian masing-masing..”

Rosulullah Saw. berpidato kepada ribuan tawanan memberikan amnesti massal. Pidato itu membuat shock. Berjuang hidup mati, dihinakan, dilecehkan, tapi ketika kemenangan berada di genggaman, musuh malah dibebaskan. Bahkan, Rosul memerintahkan agar rampasan perang dibagikan kepada para tawanan, sementara pasukan Islam tidak memperoleh apa-apa.

Protes dan keluhan pun terjadi. Rosul pun mengumpulkan mereka dan bertanya dengan tegas..
“Sudah berapa lama kalian bersahabat denganku?”
Sekian tahun, sekian tahunn..jawab mereka.
“Selama kalian bersahabat denganku, apakah menurut hati kalian aku ini mencintai kalian atau tidak?”
Tentu saja sangat mencintai..jawab mereka.
“Kalian memilih mendapatkan unta atau memilih cintaku pada kalian?”

Seketika itu menangislah mereka, karena cinta Rosulullah kepada mereka tidak bisa dibandingkan bahkan dengan bumi dan isinya.

Peristiwa Fathu Mekkah itu diabadikan oleh Allah di surat Al Fath, sebuah proklamasi kemenangan yang nyata. Proklamasi itu dipaparkan dengan klausul-klausul permaafan atas dosa para pejuang murni, dosa yang lalu maupun yang masa kini, klausul penyempurnaan nikmat, serta klausul pertolongan besar atas masalah mereka.

Yaumul Marhamah bukanlah kemenangan atas musuh. Melainkan hari kasih sayang. Maka ia tak dinamai Yaumul Fath, hari kemenangan. Karena pointnya bukan tentang kemenangan kekuatan manusia atas manusia lain, melainkan kemenangan atas diri sendiri. Kemenangan atas nafsu sendiri. Kemenangan atas Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Kemenangan atas semesta.

Itulah maknanya. Hari kasih sayang ‘versi’ Islam (jika memang hari kasih sayang itu ada) adalah sebuah persembahan kasih sayang yang komprehensif atas semesta ini. Bukan cuma bedak komersil saja. Ini terjadi di media-media dan di tempat-tempat hiburan seperti mall. Perayaan-perayaan hari tanggal merah, seperti tahun baru, lebaran, natal, dan lainnya sudah bias menjadi komersialisasi. Simbol yang dikeluarkan sebenarnya bukan makna hakiki dari hari itu, tapi lebih kekomersialitasnya.

Ini bukan hanya sekadar isu trend masa kini. Ini sebuah rencana besar yang sudah disusun bertahun-tahun lamanya. Ini bukan sekadar hura-hura makan cokelat, ngopi di Starbucks, nonton film Hollywood..ini sebuah strategi.

Mudah-mudahan kita semua bukan golongan orang yang mudah terbawa badai hedonism. Eratkan genggamanmu kawan.

Posted by: imam alkarami | February 6, 2009

FB sayang, WP malang

udah sangat lama ga update wordpress lagi..
gara2nya keasikan di facebook..

mm..padahal bnyk sekali ingin ditulis..
banyak sekali momen indah yang ga sempet tertuang..

mulai dari training di Tomohon, Manado selama seminggu..akhir tahun 2008..
tinjauan lapangan ke PLTU Sulawesi Selatan awal tahun 2009..
hiruk-pikuk kantor yang udh mulai sekarat karena harus menyelesaikan proyek 8 PLTM dalam setahun..

hingga drama kisah cinta yg blm pernah usai..

semoga kisah2 selanjutnya ga akan terlewati lagi di blog yg udah turun page rank-nya ke 2, awalnya 3 loh…

ok, i’m promise…

Posted by: imam alkarami | January 19, 2009

we will not go down, Gaza tonight..

sebuah kado istimewa untuk seluruh pejuang dan survivor di Palestine. Michael Heart memberimu senandung sekaligus doa. semoga warga dunia ikut menyanyikannya juga. we will not go down…

video, musik, dan lirik lagu bisa didownload secara gratis dan legal di situs http://www.michaelheart.com
video download disini, mp3 download disini

WE WILL NOT GO DOWN (Song for Gaza)
(Composed by Michael Heart)
Copyright 2009

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive

They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right

But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze

We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Cahaya putih yang membutakan mata
Menyala terang di langit Gaza malam ini
Orang-orang berlarian untuk berlindung
Tanpa tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati

Mereka datang dengan tank dan pesawat
Dengan berkobaran api yang merusak
Dan tak ada yang tersisa
Hanya suara yang terdengar di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Wanita dan anak-anak
Dibunuh dan dibantai tiap malam
Sementara para pemimpin nun jauh di sana
Berdebat tentang siapa yg salah & benar

Tapi kata-kata mereka sedang dalam kesakitan
Dan bom-bom pun berjatuhan seperti hujam asam
Tapi melalui tetes air mata dan darah serta rasa sakit
Anda masih bisa mendengar suara itu di tengah asap tebal

Kami tidak akan menyerah
Di malam hari, tanpa perlawanan
Kalian bisa membakar masjid kami, rumah kami dan sekolah kami
Tapi semangat kami tidak akan pernah mati
Kami tidak akan menyerah
Di Gaza malam ini

Posted by: imam alkarami | December 29, 2008

Dunia Terakhir

forgiveness_____by_sandman_f

Tahun baru HIjriyah.

Lagi. Dan entah kapan akan berulang lagi. Seperti air yang selalu bersiklus dari permukaan tanah menuju atmosfer dan menghujani tanah lagi. Seperti bulan yang terus berotasi dan berevolusi. Semua terulang mengikuti jalan-Nya. Mengikuti sunnah-Nya. Sebuah ketetapan yang diinginkan Tuhan atas ciptaan-Nya. Jika satu derajat saja perputaran bulan melenceng maka hancurlah ia. Jika satu mata rantai saja siklus hidrologi terpotong, maka banjirlah ia.

Demi matahari dan sinarnya di pagi hari
Demi bulan apabila mengiri
Demi siang apabila menampakkan
Demi malam apabila menutupi

(Q.S. Asy-Syams : 1-4)

Itu adalah kutipan-Nya tentang ketetapan. Semuanya telah diatur. Menurut garisnya. Satu saja elemen di atas hilang, maka kiamatlah sudah. Ini yang disebut hukum alam. Atau lebih tepatnya hukum Tuhan. Manusia hanya mampu menjelaskannya. Tak bisa mencipta. Apalagi mengubahnya. Bahkan merekayasanya. Tidak mungkin.

Dan mengalirlah sudah. Ada tiga tahun baru sekaligus dekat-dekat ini. Tahun baru Islam. Muharram. Tahun baru masehi, serta tahun baru Imlek. Ketika semuanya mengalir, mengikuti jalan-Nya, maka aku hanya menjadi seonggok batu di pinggiran. Dipenuhi lumut dan berupaya menahan arus. Seperti yang selalu takut akan perubahan. Atau mungkin tak ada batu-batu lain yang mengajaknya. Atau karena arusnya terlalu lemah. Aku juga tidak tahu.

Pulpenku hampir tak bisa menuliskan apa-apa ketika ada form berisi describe yourself. Jariku tak bisa menekan apa-apa di keyboard ketika mengisi profile di Facebook. Bahkan ketika aku harus membuat sebuah biodata tentang diriku sendiri, aku bingung. Ini mungkin yang menyebabkan temanku juga kebingungan ketika disuruh membuatkan testimony untukku. Ada tiga orang. Dan sampai sekarang testi itu belum ada.

Lost identity, mungkin. Atau juga kehilangan arah. Ketika mendengar ceramah Mario Teguh, aku tersentak ketika beliau bilang, “melakukan kebaikan itu tidak sulit, yang sulit adalah meninggalkan kebiasaan buruk”. Aku tunduk sebentar melihat diriku dalam cermin. “ucapkanlah, that’s not me, ketika Anda dihadapkan kepada sebuah perbuatan buruk”, katanya.

Jika boleh digambarkan dalam sebuah kurva, mungkin kualitas kepribadianku adalah fungsi persamaan kuadrat yang variable a-nya bernilai minus. Gradiennya negative. Tak ada rumput yang bisa kupegang karena arus sangat deras. Tak ada pohon yang bisa kuraih karena angin sangat kencang. Tak ada lilin yang dapat kunyalakan padahal malam begitu gelap. Tak ada air yang bisa kuminum karena hujan tak kunjung datang.

Aku menyerah. Aku terdampar di belantaran pulau karena tsunami nafsuku menghancurkannya. Membuatku menjadi gelandangan iman yang kehilangan sukma. Meminta-minta kepada dunia yang hiruk-pikuk di jalan raya. Mengemis kepada harta yang berhamburan kemana-mana. Aku dahaga. Karena tak ada kesejukan dalam setiap tetes minumku. Aku mendera, karena tak ada karbohidrat dalam potongan makananku.

Aku menyerah, Tuhan. Jangan Kau campakkanku. Aku sudah cukup menderita tak lagi menemukan jiwaku. Aku kehilangannya. Mungkin, aku dengan sengaja melepaskannya. Sebuah sukma yang Engkau berikan ketika Kau ciptakan aku. Aku tak menjaganya. Aku terlalu asik dengannya. Fujur. Ia yang selalu bersamaku. Tapi sekarang aku menyerah. Aku ingin mensucikannya lagi. Karena aku ingin menjadi orang yang beruntung. Di akhirat nanti. Karena itulah muara terakhir perjalanan ini. Semoga saja.

Demi langit serta pembinaannya
Demi bumi serta penghamparannya

Demi jiwa serta penyempurnaannya
Maka Dia mengilhamkan kepadanya sukma kejahatan dan ketaqwaan
Sungguh beruntung bagi siapa saja yang mensucikannya
Dan sungguh rugi bagi orang yang mengotorinya

(Q.S. Asy-Syams : 5-10)

Makassar, 1 Muharram 1430 H
1:15 Wita

Posted by: imam alkarami | December 15, 2008

Bush, laknatullah alaih..

Bush dilempar sepatu di Iraq. Budaya Iraq, melempat sepatu itu artinya meremehkan orang seremeh-remehnya. Seperti ketika patung Saddam Husein jatuh. Banyak yang melempar sepatu ke patung kepala Saddam.

Jika saya berkesempatan ada di konferensi itu, mungkin bukan sepatu yang saya lempar. Tapi, peluru. Biar mati sekalian. Dimakan cacing!!

Dunia ini sudah kadung hancur. Amerika sudah seperti raja dunia. Maka presiden USA adalah presiden dunia. Di film The Day Earth Stood Still, Alien turun ke bumi untuk meminta pertanggungjawbkan perbuatannya karena telah merusak bumi. Dan negara yang dituju adalah Amerika. “apakah kalian representatif dari bumi?”, kata Klaatu, nama alien itu. Mungkin maksud film ini bahwa Amerika lah yg paling berdosa atas luka planet bumi ini. Ia negara yang tidak menandatangani Protokol Kyoto. Padahal polusinya paling besar. Dan ia lah yang terus menumpahkan darah-darah segar perempuan tak berdosa dan anak-anak kecil. Mungkin.

Sepatu tidak cukup. Dulu, waktu ia datang ke Indonesia, ada dukun yang coba santet Bush. Tapi gagal. Jelas. Karena yang disantet gurunya iblis.

Di bawah ini video bagaimana lidah Bush dilipat oleh Tuhan, karena berusaha menghina Alquran. Bush, la’natullah ‘alaih..

Posted by: imam alkarami | December 15, 2008

Maryamah Karpov, Kawan..

4b616840239de1ae6c44ace57b31c660Cerita yang datar dan cenderung berlebihan. Gaya yang khas untuk Andrea Hirata. Tapi untuk novel pamungkas ini berlebihannya terlalu, menurut saya. Petualangannya seperti mengambang. Tidak ada feel. Tidak seperti petualangan sekolah di SD Muhammadiyah, tidak seperti perjalanan kuliah di depok, tidak seperti petualangan keliling Eropa.

Ekspedisi ke pulau Batuan terasa hampa. Dan seolah sinetron. Serba kebetulan. Mungkin untuk petualangan ini, Bang Andre tidak melakukannya langsung, kawan.

Di belakang cover novel Maryamah Karpov, penerbit mengatakan bahwa novel Andrea Hirata ini novel yang membahas budaya, khususnya melayu Belitong. Di Laskar Pelangi, budaya Belitong kental sekali, begitu juga di Maryamah Karpov. Karena keduanya berlatar pulau Belitong. Tapi perbedaannya, menurut saya, untuk novel keempat ini, budaya melayu yang disuguhkan adalah budaya malas, ngerumpi, taruhan, juluki gelar jelek. Itu yang saya tangkap setelah membaca Maryamah Karpov. Bahkan terlalu berlebihan saya kira untuk penamaan julukan-julukan itu. Masih mengambang juga apakah itu benar-benar seperti itu atau hanya khayalan saja.

A Ling. Nama inilah yang muncul di pikiran saya ketika menunggu keluarnya novel keempat ini. Karena nama inilah yang masih menggantung di Endensor. Tapi ternyata kisah pencarian A Ling tidak seromantis yang saya harapkan. Boleh dibilang tidak ada kisah cinta di novel ini. Harusnya pencarian A Ling menjadi klimaks di novel ini. Tapi belum mencapai klimaks, anti-klimaks sudah datang duluan. Saya juga masih bingung kenapa Ikal tidak lapor kepolisian atau TNI untuk mencari korban kecelakaan itu. Kenapa harus buat perahu yang lama buatnya dan terasa berlebihan, sekali lagi. Mungkin Bang Andre ingin menghadirkan Laskar Pelangi di sini.

Dokter Diaz. Kisah pencabutan gigi menjadi pembuka dan penutup novel ini. Ironisnya kisah dr. Diaz ini bukan core dari cerita novel ini. Bahkan, jikapun dihilangkan, Maryamah Karpov masih bisa berdiri. Mungkin pesan lain ingin disampaikan. Pesan tentang idealisme dokter muda, dan tentang pengabdian seorang pemimpin. Tapi puzzle-nya tidak bertemu ternyata.

Terakhir. Tentang Maryamah Karpov sendiri. Hampir setengah ceritanya, nama itu tidak muncul. Jika saya tidak salah menafsirkan, penamaan ini berhubungan dengan biola yang dimainkan oleh Nurmi, anak perempuan Maryamah karpov. Karena si genius Lintang menganalogikan cara pandang membuat perahu itu seperti bermain biola. Jangan dilihat dari luarnya. Tapi pandang secara keilmuan. Sekaligus kejiwaan. Karena bermain biola tidak hanya perlu tahu kunci-kuncinya, tapi juga harus punya jiwa seni yang tinggi, kata Lintang. Begitu juga kalau kau (Ikal) mau buat perahu. Tapi kenapa harus nama ibunya Nirma yang digunakan jika memang ini alasannya. Entahlah, kawan.

Saya memesan buku ini di Gramedia seminggu sebelumnya. Karena novel pamungkas ini memang ditunggu banyak orang. Tapi Rp. 83.000,- menurutku terlalu sayang untuk novel terakhir tetralogi Laskar Pelangi ini.

Ini bukan cacian. Hanya sebuah sentuhan sayang untuk Penulis handal, dan pintar, Andrea Hirata. Hingga sekarang, saya masih mengaguminya. Saya masih suka caranya bercerita dan penggunaan bahasa yang mudah. Betul ‘kan, boi?

« Newer Posts - Older Posts »

Categories