Posted by: imam alkarami | May 1, 2009

Minuman Kemenangan

Suatu hari Arai berkata, ’Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu’. Ikal dan Arai pun berpetualang ke Eropa, mendapat gelar S2 di sana. Mereka melakukan petualangan hidupnya dari mimpi ’kecil’ di sekolah kumuh di Belitong. Seperti itulah kisah Laskar Pelangi diceritakan oleh Andrea Hirata.

Donny Dhirgantoro dalam novel 5 cm mengatakan ’Gantungkan keinginan lo 5 cm di depan jidat lo.. biarkan mengambang, mengambang seakan-akan lo meraihnya’. Tuhan memang Maha Tahu, tapi jika kita tidak tahu yang kita mau, apa yang akan Ia berikan? Karena Ia Maha Pemberi, bukan Maha Pemaksa. Maka berteriaklah akan mimpi-mimpi, sehingga ia dekat-erat dengan diri kita.

*

crim0019

Selepas menjalani sidang sarjana, aku bersama tiga temanku (Asep, Luki, Acung) hiking ke Gunung Papandayan, Garut. Dari Bandung ke Garut, kami tempuh dengan motor. Dua tas besar berisi perlengkapan selama dua hari, ditambah tenda dan lampu badai berada di satu motor. Yang duduk di depan bersusah payah dengan kedua kakinya menahan tas besar yang bersandar di stang motor. Yang duduk di belakang harus kuat-kuat menahan tas dengan punggungnya. Tapi itulah, walau Asep harus ditilang karena belum punya SIM, dan Luki harus ganti velg karena motor tuanya itu tak kuat menahan beban, kami terus melaju.

Gunung Papandayan berada 30 km dari pusat Kota Garut. Kami parkir motor di kaki gunung yang relatif datar. Kabut turun sangat deras. Kami pun mendaki saat siang, tanpa matahari. Sebelum mendaki, kami melingkar memanjatkan doa dan memantapkan kembali mimpi-mimpi kami. Mimpi besar yang akan kami teriakkan setiba di puncak Gunung Papandayan. Saat berada di puncak kami akan merayakannya dengan sebotol minuman ’pengganti ion tubuh’. Kami menyebutnya minuman kemenangan.

Kami seperti menelusuri sebuah planet lain di jagat raya ini. Pemandangan hanya ada pegunungan berbatu yang dari dalamnya terkuak letupan-letupan gas belerang. Sungai yang mengalir di lereng gunung juga agak berwarna kuning. Angin berhembus kencang. Dan tentunya berbau belerang. Sangat menyengat. Aku berpikir bagaimana jika tidak bisa lagi menghirup oksigen di atas nanti karena gas yang ada di udara lebih banyak belerang. Kami kelelahan.

Tiba-tiba dari kejauhan datang seorang anak kecil sekitar 12 tahun dengan memanggul dua keranjang beras 20 kg di bahunya. Dan ia berjalan ke arah kami yang sedang duduk kelelahan. “Ngangkut beras dek?,” Luki bertanya. “Iya, kak. Buat di rumah”, jawabnya. Semua mata kami saling bertatapan. “Emang masih ada kampung lagi di sana (atas)?,” tanyaku. “Ada dibalik bukit sana, bisa sih lewat jalan raya tapi jauh. Muter”,  jelasnya. “Ga capek?”, tanya Asep. “Capek, tapi udah biasa. Ini juga udah empat kali balik,” jawabnya datar. Hahh..Empat kali. Mata kami terbelalak.

Lelah kami hilang karenanya. Keperluan makan keluarga adalah tekad anak kecil tadi memanggul beras, yang masuk ke alam bawah sadarnya, menghapus semua keraguan dan rintangan. Satu-satunya batasan untuk meraih mimpi kita adalah keragu-raguan kita akan hari ini, begitu kata Franklin Roosevelt. Terkadang kita sering menunda kesempatan karena keraguan dan kemalasan. Marilah kita maju dengan keyakinan yang aktif dan kuat, lanjut Roosevelt.

Kami melanjutkan perjalanan. Luki dan Asep di depan mencari-cari jalan, Acung menyisir di belakang. Sedangkan aku sibuk mengambil gambar.

crim0041

Putih. Kami seperti di negeri awan. “Ini masih setengah perjalanan”, kata Luki. Kami tiba di suatu tempat yang agak datar. Di sampingnya mengalir sungai kecil. Deras. Dingin sekali. Tanah yang kami pijak seperti pasir putih. “Kita ga bisa lagi lanjutin perjalanan”, Luki yang masih tersengal-sengal mencoba menawarkan ide. “Bentar lagi malam. Kita bermalam di sini saja. Mumpung datar dan ada sungai. Kalau kabutnya udah agak hilang, kita lanjutin lagi”, kami setuju.

Tenda pun didirikan dalam rintikkan kabut. Dingin bercampur lelah. Tapi kami tetap harus menyelesaikannya sebelum gelap.

Kami tidur berdekatan. Mengumpulkan hawa panas yang masih tersisa. Mengumpulkan mimpi-mimpi yang ingin diteriakan di puncak nanti. Bercerita tentang rencana setelah diwisuda nanti. Hingga bercerita tentang siapa pendamping hidup. Bercerita dalam tawa. Bermimpi menjelang tidur.

Kabut masih setia menemani pagi. Hingga siang ia tak kunjung pergi. Perbekalan kami sudah menipis. Dan kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Mata kami berhadapan. Mencari ide lain. Luki berlari ke hamparan pasir putih. Mengambil ranting. ”Walau kita ga bisa ke puncak, ga bisa teriak, tulis saja mimpi itu di pasir ini”, katanya. Aku, Asep dan Acung mengikutinya. ”Tapi satu mimpi saja”, lanjut Luki. Aku bingung, Asep juga. Tapi Acung mulai menggores tulisan mengikuti Luki. Mereka menuliskan sebuah nama. Nama perempuan. Aku tak bertanya tentang nama-nama itu. Tapi aku yakin, nama-nama itu adalah perempuan idaman yang ingin mereka jadikan pendamping hidup. Asep tersenyum, dan mengambil ranting, menuliskan sebuah nama juga. Luki menuliskan Nia. Acung menuliskan Yanti. Dan Asep menuliskan Tari. Mereka minta aku untuk memfoto tulisan itu bersamanya.

Giliranku. Aku mengambil ranting sambil berpikir keras siapa yang harus aku tulis. Hanya ada satu nama yang menjelang kelulusanku, ia hadir begitu dominan: Putri. Masalahnya, aku bukan apa-apanya dia. Tapi kekagumanku padanya sangatlah besar.

crim0062crim0059

Aku dikeroyok pandangan oleh tiga temanku. Luki mendekat, ”tulis saja. Nia, Yanti, Tari juga mimpi kami, sama sepertimu, bukan apa-apanya”. Aku menulisnya besar-besar. Dan menyuruh Asep mengambil gambarnya.

Usai membongkar tenda, kami turun dengan perasaan lega. Tapi belum sempurna. Memang kami telah mendaki Gunung Papandayan, tapi belum sampai puncak. Masih ada setengah perjalanan lagi. Memang kami telah menuliskan sebuah nama, tapi itu belum selesai, masih ada perjalanan yang kabutnya lebih tebal, tebingnya lebih tinggi, dan ancaman yang lebih besar: memeluk nama itu.

So, minuman kemenangan-nya ga diminum donk?” Acung bertanya.

”Nanti, kalau kamu udah nikah sama nama yang kamu tulis tadi”, jawab Luki.

Dan semua tertawa. Tawa melepas mimpi yang bersenyawa dengan halimun Papandayan. Bereaksi dengan gas pekat belerang. Berkondensasi di awan gemawan. Mengkristal. Mencair menjadi hujan. Menyesaki lautan, pepohonan dan sungai-sungai. Bersatu dengan semesta.

*

Tahun ini, Acung dan Luki akan minum minuman kemenangan-nya. Bulan *** 200*, Acung akan menikahi Yanti. **** 200*, Luki menikah dengan Nia. Perjalanan mereka panjang, mendaki dan berduri. Lebih garang dari Gunung Papandayan.

Asep. Minuman kemenangan-nya sudah tumpah. Akhir tahun 2008, Tari menikah dengan pria lain. Asep lebih memilih melanjutkan S2. Dan takdir pun berkata demikian.

Aku. Minuman kemenangan itu belum diminum, belum juga tumpah. Aku masih mendaki. Menerobos kabut. Mencari jalan. Perjalananku masih panjang. Tapi minuman kemenangan itu masih di tangan.

crim0098

PS:
Selamat buat Luki dan Acung.. Good job!
Asep, ayo keluar dari zona nyamanmu..

dan buat aku sendiri..semangat ya..

*diikutkan dalam Proyek Konro Soup for Soul Angingmammiri.org


Responses

  1. Waw!
    Thnx bwt crit2′y!
    Its vry inspirated me!!
    Sem0ga minumn kmnangn itu sgra mlpskn dhaga kaka lg^^..

  2. Belum sampai puncak,mam! Masih terjal dan berkabut. Meskipun saat ini kami talah menentukan puncak yang mana yang harus ditaklukkan. Kabarnya Luki sudah di depan, sedikit lagi sampai ke puncak. Aku terlalu banyak beristirahat, terlalu asik menikmati panorama dari tebing. Sebentar lagi, kawan! Sebentar lagi, aku akan segera tiba di puncak. Untuk mengabarimu dan memberi semangat.

  3. @rizka:
    nampaknya saya sudah kelelahan mencari minuman itu..ga ada yg jual lg..

    @acung:
    akhirnya sang pelaku muncul juga..hwhahaha..
    oke, kibarkan segera bendera kemenanganmu..dan jangan lupa janji kita waktu pulang dari papandayan: napak tilas tp dgn ‘bawaan’ spesial…

  4. ‘Putri’
    itu nama beneran atau samaran, mam? hehe..

    subhanallah, terasa bener keinginan kuatnya.
    semoga dimudahkan :)

  5. @bu ghina:
    ga soal lah samaran atau bukan..
    yg pasti ceritanya ga disamar2..
    buktinya udh ada yg mau nikah segala.
    tinggal gw dehh..

    oiya, bagi pembaca semuanya,
    akhirnya minggu kmrn, ‘minuman kemenangan’ saya hilang..lebih parah dari tumpah atau diambil orang..
    tapi hilang, dan mungkin ga akan kembali lg..

  6. minuman kemenangan vs minuman kekalahan

    sepertinya seperti air segar di tengah terik matahari vs air yg penuh dengan bakteri, keruh, dan mengandung partikel2 berbahaya…

    semoga kita bisa selalu meminum air-air kemenangan, sekurang-kurangnya karena minuman-minuman segar masih selalu ada di sekitar kita, sangat dekat dengan kita…

    T_T

    K Imem… minuman kemenangannya hilang? tapi masih “mungkin” kan gak kembali lagi? berarti juga “mungkin” akan kembali lagi…

    ;-)

  7. hingga saat ini kemungkinan masih ada
    salahnya, gw selama ini nulis pake pensil,
    padahal ada org yg nulis pake pulpen..
    skrg, kertas itu udh habis tertulis…
    bahkan pensil gw patah..nyari2 serutan setngah mati ga ketemu2 juga..
    maka berjayalah yang menulisnya dengan pulpen..

  8. just got some clue about the “princess”
    well, if it’s true, yes, she is precious. then fight for her is worth.
    but there wont be just u fighting for something precious (i think u realize that)

    be hurry
    (hee??)

    wish the best for u and her

    • @ghin:

      hurry(?)

      bahkan gw udh rewind smua kaset yg pernah gw rekam. dan memusnahkannya..
      istananya terlalu megah bwat ditembus sama gelandangan cem awak ni..
      gaunnya terlalu anggun bwat dikotori sama pengemis cem awak ni..

  9. there’s only one question?

    u want it?
    then go for it!

    yang nentuin pantes ga pantes cuma Allah, mam..
    berjuang dulu, baru tawakal, please dont say such statement again :)

    • the game is over

      karena istana ganesha terlalu suci, maka mungkin ada istana yang juga suci tapi masih bisa menyediakan pelataran bwat gelandangan cem awak ni..
      dan skrg awak sudh ada di pelataran itu, sebentar lagi akan masuk gerbang..
      doakan sajah ^^’

  10. aih aih…
    ternyata.. hehe..

    diantos undangannya atuh kk
    congrats :)


Leave a response

Your response:

Categories