(Anzal di senja Pantai Akkarena, Dokumentasi Pribadi)

Dua tahun lalu. Saya masih bujang. Rumah masih kontrak. Kendaraan pribadi hanya sepeda Polygon. Kerja di PLN memang tidak membuat seorang cepat kaya. Apalagi mudah mendapat jodoh. Yakinlah, 87% pegawai PLN mendadak jomblo ketika mendapat SK penempatan. Baru pertamakali tinggal di luar pulau, teman terbatas, lingkungan baru, mau pulang kampung harus naik pesawat, maka lengkaplah penderitaan sang pegawai muda. Pilihan yang sering diambil oleh pegawai muda tersebut ialah menggaet orang lokal atau sesama pegawai untuk dijadikannya pasangan hidup.

Nah, bagaimana dengan saya? Terdampar di Pulau Sulawesi bukanlah perkara mudah. Satu-satunya pulau yang sudah saya datangi selain Jawa ialah Sumatera, tepatnya Lampung. Itu pun hanya dua minggu. Dan bahkan, pulau Jawa pun paling jauh hanya sampai Rembang. Itu pun hanya sehari. Parahnya, rombongan angkatan pegawai muda yang waktu itu ditempatkan di PLN hanya dua orang. Ya, dua orang. Teman saya yang satu orang itu pun bukan teman kampus, kami kenal waktu penempatan itu. Dan dia punya keluarga di Makassar. Jadi, lengkaplah sudah penderitaan saya. Lingkungan baru, pekerjaan baru (fresh graduate gitu loh), teman baru, dan kota baru: Makassaar.

Tidak cukup enam bulan saya sudah bosan. Bukan karena pekerjaan atau Makassar. Saya bosan karena tak punya teman. Sungguh. Akhirnya saya melakukan pencarian. Searching komunitas-komunitas sehobi di Makassar. Dan terdamparlah saya di Komunitas Blogger Angingmammiri. Segala bentuk acara saya ikuti. Intinya untuk mengisi kekosongan akhir pekan. Karena jika akhir pekan dihabiskan bersama teman kantor, maka itu sama saja berkantor selama seminggu penuh. Lagipula waktu itu saya tidak memiliki kesamaan hobi dengan teman kantor saya, kecuali cari makan malam di pinggir jalan.

Setahun pertama. Kebosanan mulai muncul kembali. Pacar tak punya. Produk kantor pun, pegawainya tidak terlalu membuat saya ingin. Cari di phone book, apalagi. Hape saya hilang beserta nomornya. Kontak-kontak teman kampus lewat YM atau Facebook, tak menghasilkan sesuatu yang signifikan. Sepertinya mereka lebih fokus ke Master Degree atau penelitian dan semacamnya. Kontak teman SMA, tidak mungkin. SMA saya adalah salahsatu SMA yang paling tidak diminati oleh para lelaki. Ya, karena tidak menerima siswa perempuan.Perpaduan cara itu akhirnya saya lakukan. Saya kontak teman SMA untuk menanyakan apakah ada teman kampusnya yang available.

Dan keajaiban pun terjadi. Pertengahan tahun 2009 saya mendapatkannya. Iya, saya mendapatkan nomor hape dan akun Facebook. Perkenalan pun dimulai. Tentu lewat sms atau email. Belum tatap muka. Pertamakali tatap muka dilakukan di sebuah mall di Jakarta. Waktu itu saya sedang ada dinas ke Jakarta, jadi sekalian. Hanya perkenalan biasa. Itu pun tidak berdua, kami berempat, masing-masing membawa teman. Makan di Solaria, tidak sampai dua jam, karena sudah sore. Kami pulang.

Catat, itu pertemuan pertama. Coba tebak apa yang terjadi pada pertemuan kedua? Lamaran. Ya, saya melamarnya. Tepatnya awal bulan November 2009. Sangat sederhana, tanpa persiapan. Itu pun berlangsung di rumah saya, bukan di rumah perempuan. Kebetulan waktu itu orangtuanya sedang berada di Jakarta, karena harus menghadiri seremoni pengucapan Sumpah Dokter. Ya, calon isteri saya itu baru saja disahkan menjadi Dokter. Dengan mengandalkan ‘kebetulan’ maka acara lamaran dadakan itu digelar.

Catat, pertemuan kedua kami adalah lamaran. Coba tebak kejutan apa yang terjadi di pertemuan ketiga? Nikah. Bulan Desember kami menikah. Lima puluh hari setelah lamaran, 21 Desember 2010. Dan digelar dengan acara yang sangat sederhana, tapi bermakna — bagi saya. Awalnya saya diundang untuk bertemu keluarganya di Pekanbaru. Tentu, keluarga besarnya tidak mau ngawinin kucing dalam karung. Calon menantunya belum jelas. Mereka hanya tahu dari foto ganteng saya dan bahwa saya seorang pegawai muda PLN. Setelah pertemuan besar itu, kami pun ‘dipaksa’ segera menikah. Kenapa? karena isteri saya sudah tamat kuliahnya di UI. Dan saya pun sudah tak mampu lagi hidup sendiri (halahh..lebay).

Jika diperkenankan, sebenarnya, kami mau melangsungkan resepsi segera setelah akad. Tapi tentu keluarga punya perhitungan lain. Lagipula, anaknya yang mau nikah ini sama-sama anak pertama. Maka dibuatlah rencana resepsi bulan Maret, awalnya. Tapi karena satu dan seribu hal, jadwal resepsi pun dipercepat jadi Februari 2010. Ya, tepat 14 Februari 2010. Bukan latah hari kasih sayang, karena memang tepat dengan jadwal cuti saya. Selepas menikah, isteri langsung diboyong ke Makassar. Kami masih mengontrak rumah di belakang rumah mewah anggota DPRD (sori, yg ini ga penting). Sambil mengumpulkan uang-uang receh untuk persiapan resepsi (terutama ongkos pesawat makassar-jakarta-pekanbaru), kami hanya kebagian mengurus undangan. Lainnya, pihak keluarga yang mengatur. Maka terjadilah resepsi pernikahan kami di Pekanbaru, Jl Sudirman No 21.

Perlu diketahui bahwa waktu itu, isteri saya sedang hamil muda, sekitar 2 bulan. Dan tujuh bulan kemudian, tepatnya tanggal 2 Oktober 2010, lahirlah seorang bayi laki-laki ganteng yang sangat mirip dengan ayahnya (yakin..yang ini penting). Walau masih dua bulan lagi umur pernikahan kami ganjil satu tahun, Anzal, adalah hadiah hari lahir pernikahan pertama kami. Dan, apa hadiah untuk hari lahir pernikahan kedua nanti (21 Desember 2011)?

Ya, berdasarkan hasil testpack, selembar kertas itu menandakan dua garis sejajar. Dan, memang sudah hampir satu bulan isteri saya tidak haidh. Maka langkah terakhir untuk melengkapkan praduga berbahagia ini adalah dengan lapor ke dokter kandungan.

Sekalian melihat sedang apa gerangan kamu di sana, hai adek kecil. Dengan apa ayah nanti memanggilmu, nak? Oya, kami sudah punya nama, tapi masih kurang satu kata lagi. Kamu tahu nama itu sudah ayah ukir di blog ini sejak kamu belum lahir (yaiyalah, sekarang juga belum lahir..). Nama itu adalah Mutiarahati [.........] Alkarami. Kami memang mengharapkan kamu adalah perempuan. Agar abangmu, Anzal, bisa belajar mengasihi perempuan. Jika memang bukan, nanti ayah cari nama lain. Yang pasti, alkarami akan menjadi nama belakangmu. Bukan apa-apa. Ayah hanya ingin kalian menjadi orang besar dengan segala keanggunan dan kehebatanmu.
Dan kamu, isteriku..
Semoga ini menjadi kado teristimewa. Untuk pernikahan kita. Yang kedua..

Nikah pada pertemuan ketiga?
Percayalah!!

 

Hari (anti) Revolusi Motor

Posted: December 9, 2011 in Uncategorized

Saya baru menyadari bahwa ternyata ada banyak hari peringatan selain Hari Ibu atau Hari Pahlawan. Misalnya, Hari Bumi, Hari Lingkungan Hidup, Hari Jilbab sedunia, Hari Tembakau, dan Hari Antikorupsi. Hari ini (9/12/11) – katanya – adalah Hari Antikorupsi. Beberapa media menjadikannya headlines. Ada yang mengupas kinerja SBY, tentang kasus-kasus besar korupsi, tentang jembatan roboh, dan lainnya. Saya tertarik dengan bahasan salahsatu media yang mengatakan bahwa di Indonesia telah terjadi Revolusi Sepeda Motor. Masyarakat beralih dari angkutan umum ke angkutan pribadi (motor), tambahnya.

Angka penjualan motor di Indonesia fantastis. Pada akhir September 2011 saja berada di sekitar 6,2 juta unit. Dan diperkirakan akan menembus angka 8,1 juta pada akhir tahun 2011 ini (KOMPAS).  Laju pertumbuhan penduduk Indonesia per-tahunnya sekitar 3,5 juta jiwa (www.bps.go.id). Artinya, tiap satu orang Indonesia mampu membeli dua sepeda motor lebih. Tak heran, jika kita melihat tulisan ‘Semakin di depan’ menempel di motor Yamaha milik Lorenzo. Atau tulisa ‘One Heart. Satu Hati’ di motor Honda Pedrosa. Produsen tahu betul pangsa pasar sepeda motor di Indonesia sangat ramai.

Revolusi sepeda motor.  Ironinya bergulir karena kelemahan Pemerintah menanggulangi moda transportasi umum. Awalnya sepeda motor adalah transportasi alternatif untuk menghindari macet atau kebutuhan sederhana (rumah ke warung). Di era ‘revolusi’ ini, sepeda motor mempunyai marwahnya sendiri. Maka berdirilah berbagai macam club-club motor yang seringkali mengadakan touring keliling kota. Dan bahkan kini telah menjadi sebuah ‘alat ukur’ fashion di kalangan anak muda (menengah bawah).

Apakah sah? Jelas tidak melanggar. Tapi menjadi salah ketika ‘revolusi’ tersebut disalahgunakan. Ketika kebutuhan fashion tersebut mengesampingkan keselamatan dan peraturan. Dalam ilmu keselamatan (safety), sepeda motor adalah moda transportasi yang memiliki potensi kecelakaan terbesar. Karena pengendara ‘hanya’ dilindungi oleh helm. Beda dengan mobil yang mempunyai safety belt dan air bag. Angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) menunjukan hal demikian. Kecelakaan sepeda motor selalu lebih besar daripada mobil, kata Menteri Perhubungan RI (KOMPAS). Di Makassar sendiri, laka lantas untuk tahun 2011 ini (hingga November) mencapi 1085 kejadian. Parahnya lagi, 52% di antaranya terjadi pada rentang usia muda, 11-30 tahun. Penyalahgunaan sepeda motor cukup banyak terjadi di usia dini, atau boleh dikatakan di bawah umur. Pengguna motor di bawah umur kian menjamur. Bukan hanya penyalahgunaan SIM, pengguna di bawah umur (SD atau SMP) biasanya tidak peduli terhadap keselamatan mereka.

Saya masih percaya bahwa hal yang paling berharga di dunia ini setelah iman ialah anak. Karena tujuan lahiriah dari hidupnya seorang manusia ialah anak. Berapapun lamanya seseorang sekolah, pada akhirnya akan bermuara pada kesejahteraan. Untuk apa seseorang sejahtera? Untuk menghidupi anaknya. Maka tidak salah ketika John F Kennedy berkata bahwa anak adalah investasi terbaik. Bahkan Soekarno menantang untuk diberikan sepuluh pemuda agar ia bisa mengguncang dunia. Bangsa ini besar karena memiliki penerus yang handal. Berketurunan adalah sebuah keniscayaan. Maka anak-cucu adalah aset yang harus dijaga – pendidikannya, kesehatannya, kesejahteraannya, dan keturunannya.

Ironi ketika orangtua lebih mementingkan membelikan motor daripada buku sekolah untuk anaknya. Memang, pemerintah mempunyai peran dalam penyediaan moda transportasi umum. Kepolisian punya peran dalam penertiban pengendara bermotor. Tapi, orangtua kuncinya. Sulit diterima bahwa anak membeli sepeda motor bukan dari uang orangtuanya. Bahwa anak membayar uang sekolah bukan dari orangtuanya. Ironi jika orangtua menyekolahkan anaknya tapi juga membelikannya motor padahal belum cukup umur. Itu sama saja dengan memberikan benda jutaan rupiah tapi benda tersebut adalah ganja. Madu sekaligus racun.

Saya masih berharap ada hari peringatan lain selain Hari Antikorupsi: Hari (anti) Revolusi Motor.

Apresiasi Perah Sapi (part. 1)

Posted: November 30, 2011 in Uncategorized

Image

Sekitar satu bulan ini sinus saya sering kambuh. Efeknya tentu saja mengerikan. Kepala terasa berat, pusing di pelipis, dan sensasi sakit menusuk ketika mengambil nafas terlalu dalam.

Stres, kata seorang dokter yang juga kebetulan isteri saya. Bahkan saya sendiri bingung,stres di bagian mana. Cicilan motor memang belum lunas, tapi masa’ iya harus stres be at gini. Dan saya pun cerita ke rekan kerja (yang hanya dua orang itu). Sama, katanya.Walaupun dalam bentuk yang beda. Ada yang tidak bisa tidur. Ada yang ngomong sendiri. Ada yang sering ngigau. Isteri mereka yang malah bingung, ‘ini suami gue kok lama-lama jadi gila ya kerja di PLN’.

Sebelumnya saya perkenalkan dulu bahwa kami adalah pegawai PLN. Kebetulan mendapat tugas sebagai panitia pengadaan barang dan jasa, atau sering juga disebut panitia lelang. Yang mana saja boleh. Pokoknya tugas kami adalah melelang paket pekerjaan yang diberikan owner/pemilik uang (dalam hal ini negara) dengan spesifikasi tertentu. Jika sebuah iPad mempunyai manual book sebagai panduan penggunaan, maka ‘manual book’ kami adalah Peraturan Presiden No. 54/2010. Tugasnya sederhana: menjalankan peraturan di dalamnya.

Di dalam peraturan tersebut, tugas panitia sebenarnya hanya sebagai event organizer. Karena pemecahan paket, penetapan total anggaran, dan spesifikasi dibuat oleh owner.Tugas panitia hanya menyeleksi peserta lelang sedemikian rupa sehingga mendapat satupemenang yang sesuai kriteria dengan harga yang terjangkau (di bawah total anggaran)

Jadi, apa yang membuat kami stres??

Tekanan Pekerjaan

Kita urai dulu apa itu tekanan. Menurut ilmu fisika, tekanan adalah sejumlah beban per-luas area. Semakin banyak beban maka tekanan semakin besar. Tekanan akan kecil ketika luas area diperbesar. Jadi, seberat apapun beban jika luas area penerimanya diperbesar, tidak menjadikan sebuah tekanan (yang besar). Owner, tahun 2011 ini memerintahkan panitia untuk melelang sekitar 56 paket lebih. Tebak berapa jumlah panitianya? Ya, betul jumlah panitianya ganjil. Eits tapi bukan 7, kami hanya bertiga saja. 

Perlu pembahasan panjang kenapa hanya bertiga. Intinya, dari tujuh orang yang ditunjuk oleh Owner, dalam hal ini Dirut PLN, hanya tiga orang yang dapat meluangkan waktu kerjanya untuk menjadi panitia. Yang pertama karena dia ketua. Yang kedua karena sekretaris. Dan saya, karena saya anggota (kan ga enak kalau ada ketua, seketaris, tap iga ada anggota). Bukan berarti panitia yang lain tidak peduli, tapi pekerjaan rutin mereka di bidang masing-masing harus juga diurusi.

Jadi, berapa nilai tekanannya dari beban seberat 56 paket dibagi 3 cowok ganteng? Yup,jawabannya ‘sangat berat’.

Selain dalam bentuk volume (pekerjaan), beban juga muncul dalam bentuk psikis. Jika kita bicara lelang, maka kita bicara perusahaan dan uang. Ketika sebuah perusahaan tidak mendapatkan pekerjaan, dengan kata lain kalah dalam pelelangan, artinya mereka tidak mendapatkan uang. Apa yang terjadi (di Indonesia ini) ketika sekolompok orangtidak ‘kebagian’ uang?

Hampir setiap hari peserta lelang datang ke ruangan panitia silih berganti. Tujuannya macam-macam, ada yang sekadar ngobrol, konsultasi pelelangan, tanya update pelelangan, sampai pada ancaman. Anehnya, para peserta seakan tahu perusahaan manasaja yang lulus, tidak lulus, yang lengkap, yang kena blacklist. Padahal evaluasi pun belum selesai kami lakukan. Saya curiga, sepertinya ada buruh infotainment yang menyamar jadi office boy di kantor kami.

Bayangkan: panitia cuma tiga; mengerjakan 56 paket lebih; hampir tiap hari kedatangantamu; dan tak jarang mendapat ancaman lewat telepon pribadi atau surat resmi. Apalagi ketika pengumuman hasil evaluasi sudah dilayangkan. Maka siap-siap menerima surat yang tembusannya bisa sampai ke KPK, kejaksaan, Polri, bahkan presiden. Panitia bekerja atas dasar peraturan/hukum. Maka ketika salah melangkah, juga diselesaikan secara hukum. Apa yang anda pikirkan saat membaca kata hukum? Mudah-mudahan bukan penjara.

Pertanyaanya: dengan tekanan seberat itu, apakah ada apresiasi?

Apresiasi Perah Sapi

Iya, ada apresiasi. Setidaknya dari Tuhan dan dari isteri. Secara institusi, panitia seakan dikebiri. Diberi tanggungjawab pekerjaan melebihi kapasitasnya, tapi sistem penilaianpun kami tak punya. Aneh. Di PLN, sebuah BUMN superbodi, tidak memiliki mekanisme penilaian yang fair untuk panitia lelang. Sistem Manajemen Unjuk Kerja (SMUK) online merupakan alat ukur penilaian pegawai. Sistem ini tidak bisa mengakomodasi kinerja panitia. Ini artinya, tidak ada perbedaan antara panitia lelangdengan panitia HLN atau panitia Qurban.

Dalam sistem remunerasi yang baru, seluruh kepanitiaan yang ada di PLN mendapatkan tunjangan. P32 namanya. Mau tau jumlah yang panitia dapatkan waktu itu? Alhamdulillah, 1,2 juta. Pertahun. Artinya tunjangan panitia lelang 120 ribu perbulan. Perlu diketahui bahwa gaji pembantu saya 400 ribu perbulan #gapenting #abaikan

Mari kita tengok Peraturan Menteri Keuangan No. 100/PMK.02/2010 tentang Standar Biaya Tahun Anggaran 2011. Honorarium panitia pengadaan barang dan jasa untuk pekerjaan konstruksi yang nilai pagunya di atas 1 triliyun (nilai pagu kami 1,2 T) ialah sebesar Rp 3.290.000,- orang per-paket. Sudah saya katakan bahwa tahun 2011 ini kami melelang 56 paket. Artinya saya di penghujung tahun ini harusnya sudah bisa beli All New Madza. Tapi apa yang terjadi, cicilan Vega ZR saja belum lunas. Aihh mateek..

Banyak orang mengira, menjadi panitia itu kaya. Bahwa ada sekian persen yang masuk brangkas kami tiap kali ada tandatangan kontrak. Bahwa ada pengaturan perusahaan tertentu untuk selalu menang. Bahwa mesti minta restu sana sini untuk mengikui lelang.Saya katakan BAHWA itu salah.

Tahun 2011 ini, saya secara sengaja mentotalkan diri masuk ke panitia lelang (karena tahun lalu, saya masih bagi waktu dengan pekerjaan rutin). Awalnya karena kasihan melihat pak ketua dan sekretaris yang punya beban pekerjaan tak manusiawi itu. Tapi kemudian saya hijrah. Dengan niat yang kuat tentunya. Pekerjaan rutin saya tinggalkan dulu, mengingat masih ada dua rekan kerja saya di sana. Lagi pula saya ingin mencoba hal baru di luar pekerjaan rutin (yang sudah saya lakukan selama tiga tahun).

Dan apa yang terjadi? Tengah tahun 2011, saya mendapatkan penilaian potensial, padahal selama 3 tahun mengerjakan pekerjaan rutin (dengan beban yang sedikit) berturut-turut penilaian saya optimal. Perlu diketahui bahwa optimal lebih tinggi daripada potensial. Ini tidak hanya mengenai uang, tapi juga karir. Parahnya, sang ketua panitia, yang punya daya tekan tinggi ketimbang anggotanya, juga mendapat penilaian potensial. Dengan tunjangan yang 1,2 juta itu.

Memang benar, panitia dekat dengan manajer. Dekat dengan General Manager. Sering menghadap ke ruangan GM. Bahkan tak jarang para pejabat datang ke ruangan panitia. Tapi untuk apresiasi kinerja, saya belum bisa menemukan hubungan yang kuat.

Maka jangan salahkan saya ketika jam lima sore sudah meninggalkan kantor padahal masih banyak dokumen yang harus dievaluasi. Karena saya harus menjemput isteri saya, yang setibanya di rumah akan masak untuk kami sekeluarga. Begitupun saya, sambil bersih-bersih rumah harus jaga anak agar tidak ganggu ibunya yang lagi masak. Maklum kami tidak punya pembantu yang menginap dan penjaga bayi. Kendaraan pun cuma satu (itupun belum lunas <– kok dibahas lagi ya..), jadi harus antar jemput isteri yang juga berprofesi sebagai dosen.

Karena hanya isteri yang mengapresiasi kinerja saya. Maka saya mencoba tegar agar tidak gentar dengan segala tekanan yang menggetar. Jika memang tak bisa membeli susu bayi, perah sapi pun jadi.

 

#mudikhectic part1

Posted: August 28, 2011 in Uncategorized

Ramadhan tahun ini memang beda. Selain berlatar d rumah ‘baru’, juga ada pendatang baru di sana, bahkan di bumi ini: Anzal. Jam kantor berubah, disesuaikan dengan aktivitas Ramadhan. Masuk jam delapan, pulang jam tiga sore. Bagi saya masuk jam delapan adalah jadwal tetap masuk kantor ;p. Begitu juga dengan jam pulang kantor, walaua sampai jam tiga, pulang tetap jam lima atau menjelang buka.   Setidaknya itu terjadi sebelum punya anak. Nah, dengan rumah yang jauuhhh (karena harus melewati satu kota dan satu kabupaten) dan anak bayi yang jam ‘rewel’nya mulai kambuh di jam-jam sibuk, maka pulang sesuai jadwal adalah sebuah keniscayaan.   Tahun kemarin kami memutuskan untuk berlebaran d makassar karena isteri sedang hamil besar. Tahun ini rencananya juga seperti itu, tapi dengan alasan yang berbeda: tiket muaahal. Maka hingga pertengahan Ramadhan saya tak peduli dengan urusan tiket. Etapi, tiba-tiba ada hasrat untuk sungkem dan silaturahmi ke orangtua di lebaran ini. Pasalnya gara-gara penghuni baru itu, Anzal, kakek-neneknya sudah tak sabar ingin menggendong dan menghadiahinya sebuah mobil Nissan March (loh..kok curhat?!).

Islam. Titik.

Posted: July 12, 2010 in cerpen

Jarang aku menyebut sekolahku adalah pesantren, walau di gapura depan tertulis ‘pesantren unggul’. Bukan karena malu, tapi memang sekolahku tidak memenuhi kriteria sebuah pesantren – setidaknya menurutku. Dimana-mana pesantren tentu ada kiayinya, ada ulama tersohornya. Di SMA-ku titel guru baru sampai pada ‘ustadz’. Gelar akademik paling bantar S. Ag (Sarjana Agama). Yang lainnya gelar akademik non-agama. Pengalaman di bidang kepesantrenan juga boleh dibilang tidak ada. Mungkin hanya dua guru yang alumni pesantren.

Kitab gundul? Itu pun tidak ada. Sebenarnya ada, tapi metode pengajarannya tidak seperti di pesantren.  Sang guru hanya membacakan kemudian siswa memberi harakatnya. Lalu guru mengartikan, dan siswa menulisnya. Itu saja. Tidak ada pembahasan nahwu dan sharaf (grammar bahasa arab). Kitabnya pun kitab yang sudah ada versi ‘modern’-nya di pasaran. Kalau kata sang guru, itu untuk pembelajaran saja.

Ada satu lagi keanehan. Biasanya kalau pesantren, itu jelas ‘aliran’ keislamannya. Ada pesantren bermadzhab Imam Syafi’i, Imam Hambali, Salafi, Muhammadiyah, dan sebagainya. Di sekolahku, itu semua tidak ada. Sekolah tidak mempunyai main stream tertentu mengenai afiliasi keislaman. Tradisional tidak, moderatpun diragukan. Uniknya, unsur-unsur ‘aliran’ itu berbeda-beda di setiap guru. Ada yang background-nya Muhammadiyah, ada yang NU, dan pergerakan-pergerakan Islam modern. Mengenai nama-nama pergerakan islam ini, jujur saja, aku baru tahu saat itu. Tadinya, aku kira hanya ada NU dan Muhammadiyah. Dan itu pun, aku kira cuma qunut sama tahlilan saja yang membedakan keduanya.

“Ikut pengajian yuk sama Bapak”, Pak Zul berbisik sehabis Ashar. Hari minggu, kami berangkat ke kota (sekolah kami ada di Kabupaten). Kami menuju sebuah masjid yang tidak terlalu bagus. Tidak ada cat warna-warni yang menghiasi. Tidak ada lukisan kaligrafi. Tidak ada menara, apalagi kubah emas. Masjid itu sangat sederhana, tapi lengkap. Kamar mandi bersih, tempat wudhu banyak. Dan yang paling penting, jamaahnya berjubel. Hampir semuanya memakai gamis. Beberapa mengenakan sorban di kepalanya. Siwak selalu ada di kantong mereka – yang mereka gosokkan ke gigi depannya sebelum shalat. Masjid itu nampak teduh rasanya. Tidak ada kata yang terucap dari mulut mereka kecuali kata-kata bijak.

Minggu depannya kami diajak lagi. Kini seharian. Setelah dari masjid itu kami menuju masjid lain. Kegiatan kami sama dengan kegiatan di masjid yang minggu kemarin. Ta’lim, menghafal Surah, dan mengajak orang-orang di sekitar masjid untuk ikut shlat berjamaah di masjid (khusus untuk laki-laki).

Sampai di sini, aku merasa ada perubahan positif dalam hidup. Shalat menjadi lebih khusyu, tidak berpikiran negatif, berkata benar jika tidak diam, dan yang lebih terasa adalah semangat ibadah yang begitu menggebu-gebu. Teman-teman yang mengikuti ‘pengajian’ ini pun bertambah banyak. Kami mempunyai ‘kelompok’ sendiri. Sehabis Isya, kami tidak langsung makan malam. Kami membuat lingkaran, mengevaluasi ‘kerja ibadah’ dan membuat program. Nama forum itu adalah musyawarah. Yang lucu dari salah satu program kami ialah menyadarkan teman-teman kami yang masih pacaran. Waktu itu kami membahasnya dengan penuh keseriusan. Setiap kelas ada penanggungjawabnya, bahkan setiap kamar. Aksinya ialah memprovokasi teman-teman yang masih berpacaran agar putus dari pacarnya. Jika mengingat ini, aku jadi pingin ketawa sendiri.

Karena selalu menjadi kloter terakhir saat makan malam, ‘kelompok’ kami pun mendapat sorotan dari beberapa guru. Kegiatan ‘musyawarah’ kami membuat aktivitas rutin belajar mandiri jadi tergeser. Selain itu, gap kami dengan siswa lainnya cukup besar. Bayangkan saja, ketika hari minggu sore para siswa sedang asik main futsal dan basket di halaman masjid, kami ‘malah’ melingkar  berdoa di tempat yang sama. Begitu ‘ritualnya’ jika kami ingin berjalan keluar. Hari itu program kami memang bersilaturahmi ke penduduk sekitar sekolah. Selain mengajak untuk shalat berjamaah di masjid, kami juga mengajak warga sekitar untuk ikut dalam pengajian rutin yang diadakan setiap minggu di kota, di masjid yang teduh itu.

Tapi entah kenapa, saat itu aku tidak merasakan keanehan apa-apa. Perilaku kami normal-normal saja. Tapi, guru-guru berpendapat lain rupanya. Maka diutarakanlah keberatan guru-guru tersebut kepada Pak Zul – yang juga guru – yang memprakarsai adanya ‘kelompok’ ini. “JIka kalian masih ingin ngaji ke kota, silakan saja. Sekolah tidak melarang. Tapi buatlah itu secara mandiri, tidak perlu diorganisir dan terpusat”, kata Pak Zul ketika kami sedang musyawarah.

Maka ramailah isu ‘tidak ada pergerakan islam di dalam sekolah’ dibicarakan guru di depan kelas. Guru yang mengomentari tentu saja yang memiliki afiliasi berbeda dengan Pak Zul. Pak Hadi, contohnya, ia menunjukkan bahwa masih ada jenis ‘pergerakan islam’ lainnya yang lebih fleksibel, lebih moderat. Aku, jujur saja, bingung bukan kepalang. Ternyata Islam tidak cuma satu atau dua. Tapi beraneka warna, beraneka rasa. Aku kira ‘Islam’ yang kemarin kami lakukan adalah Islam yang dicontohkan kanjeng Nabi. Ternyata itu barulah ‘Islam’ yang dilakukan oleh Pak Zul dan ‘kelompoknya’. Beda lagi ‘Islam’ yang diajarkan oleh Pak Hadi dan ‘kelompoknya’.  Beda dengan ‘Islam’ yang diajarkan oleh Pak Dikdik, oleh Pak Heri.

Untuk mempertegas isu ini, akhirnya sekolah mengambil kebijakan bahwa siswa tidak diperkenankan ikut dalam bentuk pengajian atau pergerakan Islam manapun di luar kelembagaan sekolah. Dan guru yang memiliki afiliasi terhadap pergerakan Islam tertentu boleh memberikan ‘ajaran Islam’-nya pada siswa. Entah itu di sela-sela jam pelajaran, atau di hari libur. Maka nyatalah sudah bahwa ternyata Islam itu banyak macamnya.

Untungnya tidak ada saling ‘menyerang’ antar-pergerakan. Mereka – para guru – menghormati perbedaan. Sistem yang diterapkan di sekolah maupun di asrama pun merupakan hasil fusi dari berbagai macam idealisme dan pemikiran (kelompok) mereka. Maka jadilah sekolah kami sekolah yang universal. Maka kami – setelah jadi alumni – tidak merasa aneh lagi dengan ‘perang’ pemikiran Islam di kampus. Karena banyak sekali terjadi tarik-menarik sumberdaya manusia antar-pergerakan Islam di kampus. Tidak hanya tarik-menarik, tapi juga saling menjatuhkan.

Aku geram sekali ketika dalam sebuah Ta’lim, seorang ustadz yang hafal Alquran dan aktif di sebuah partai dakwah, memfitnah seorang tokoh Muhammadiyah tanpa fakta yang jelas. Bahkan dia ‘mentertawakan’ Jamaah Tabligh yang kemana-mana membawa kompor. Udik. Belum lagi kepada ‘saingan’ dekatnya, Hizbut Tahrir, yang katanya tidak moderat. Aku, saat itu, hanya diam dan memohon semoga Tuhan mengampuninya.

Seorang teman asrama-ku sewaktu kuliah, bahkan dengan mudah menyatakan bahwa yang itu tuh bid’ah, yang ini juga, apalagi yang sana. Kalau bid’ah artinya sesat, dan sesat tempatnya neraka, tambahnya lagi. Aku kembali diam dan memohon agar tidak kembali lagi terjadi perang Shiffin (perang Unta) – Perang antara kaum muslimin karena perbedaan pandangan. Cukup sahabat-sahabat nabi saja yang merasakannya.

Pada hari akhir nanti, menurut hadits Nabi, hanya satu dari 73 golongan yang akan masuk surga: Ahli sunnah wal jama’ah – yang artinya Golongan yang mengikuti sunnah Nabi dan berjamaah (bersatu dalam shaf). Jadi hanya golongan yang mengikuti sunnah dan yang bersatulah yang masuk surga. Golongan yang mengikuti sunnah tapi menjelek-jelekkan golongan lain, bisa jadi bukan termasuk golongan yang masuk surga.

Cukup mengenaskan memang. Islam tidak didedikasikan dalam sebuah ajaran. Tapi sebuah pergerakan. Maka yang muncul adalah emosi kemenangan, emosi masa, dan emosi kekuasaan. Pergerakan harusnya cukup untuk memobilisasi, sedangkan ajarannya tetap sama: Islam. Titik.

(thealbayanseries)

sekolah laki-laki…yeaahhh..

Posted: July 10, 2010 in cerpen

Boleh percaya atau tidak. Aku pernah merasakan menjadi ‘malaikat’ selama setahun. Hebatnya lagi, aku menjadi malaikat pencatat amal keburukan, malaikat Atid. Perlengkapannya sederhana, hanya membawa map warna kuning yang di dalamnya ada daftar nama, tanggal dan bulan, jenis pekeraan yang tidak dilakukan, dan di bawahnya ada konversi sebuah hukuman. Hebat kan?

Tapi bukan malaikat beneran, Kawan. Waktu itu aku dipercaya OSIS SMA sebagai ketua seksi K3 (Kebersihan, Kerohanian, dan … lupa apa ya??). Tugas utamanya itu selain menyusun jadwal piket, ialah mendaftar siapa saja yang hari itu tidak melakukan aktivitas ibadah yang distandarkan sekolah. Seperti shalat lail, shalat sunnat rawatib, shalat jamaah awal waktu (tidak masbuk), dan puasa senin-kamis.
Kenapa ‘malaikat’? Karena aku mengevaluasi semua kegiatan ibadah siswa kelas 1 hingga kelas 3. Setiap hari pula. Setiap kewajiban diberi bobot nilai. Untuk shalat lail, bobotnya paling besar, diikuti puasa senin-kamis, shalat jamaah awal waktu dan shalat sunnah rawatib. Jika siswa tidak melakukan item kewajiban tadi, maka diberi nilai sesuai bobotnya. Setiap minggu akan diakumulasi dan diberikan hukuman sesuai nilai bobot. Jadi, siswa yang ‘bersih’ ialah yang pada akhir pekan nilainya nol. Mekanisme evaluasinya juga bisa dibilang menyeramkan. Ini lebih dari disetrap sewaktu SD, dengan kaki diangkat sebelah dan tangan melintang melingkari kepala. Kesalahan siswa tiap hari akan dibuka di semua muka civitas akademika, di dalam masjid.

Evaluasi itu dimulai setelah shalat maghrib. Seseorang maju ke shaf paling depan, hampir sejajar dengan posisi imam, menghadap ke jamaah (siswa). Orang yang maju ini setiap harinya berbeda. Bergilir dari siswa satu ke lainnya tiap kelas, kelas 1 hingga kelas 3. Tugasnya ialah memimpin dzikir Ya Fattah 70 kali, dan kemudian diikuti doa. Kira-kira doanya meminta dibukakan pintu kemudahan dan keberkahan. Tapi anehnya, sedikit sekali dari siswa-siswa yang menggunakan tasbih untuk menghitung dzikir 70 kali, termasuk yang memimpinnya itu. Namanya juga boarding school, bukan pesantren. Setelah itu ia memimpin hafalan juz 30. Tiap hari satu surat, kecuali untuk surat-surat pendek, maka digabung beberapa surat, yang dimulai dengan ucapan, “hayya ‘alal muraja’ah surah …..”. Maka serentak 60-an siswa bergemuruh melantunkan surat-surat juz 30. Ada yang masih buka-buka Alquran. Ada yang ngintip-ngintip. Dan beberapa hafal di luar kepala. Memang, jika diulang setiap hari, mau siapa pun orangnya, rasanya sulit untuk tidak ingat. Maka boleh dikatakan, lulusan sekolah ini minimal telah hafal juz 30. Perkara dia masih ingat atau tidak, itu masalah lain, Kawan.

Ini saat yang paling menegangkan. Gema lantunan surat juz 30 tadi berangsur-angsur merendah dan hening. Siswa-siswa menelan ludah karena kelelahan telah berteriak-teriak menghabiskan hafalan suratnya. Aku bergegas ke lemari tempat penyimpanan Alquran, untuk mengambil map kuning ‘malaikat Atid’.

“Man muta akhiran fii hadzal yaum?”, tanya seorang guru yang barusan jadi imam. Maksudnya, siapa saja yang terlambat shalat jamaah, tidak shalat sunnah, dan tidak puasa senin-kamis (jika hari itu hari senin atau kamis), diharap berdiri. Maka bermunculanlah satu-satu siswa yang merasa lalai melakukan aktivitas ubudiyahnya. Dari balik tiang, dari shaf paling belakang, dari ujung shaf sebelah kiri sehingga membuat sang guru harus menungging-nungging untuk melihat mukanya. Ditanya satu-satu. Aktivitas ubudiyah apa yang ia lalaikan, beserta alasannya. Jika yang berdiri adalah muka-muka lama, biasanya guru tidak lama-lama bertanya. Para ‘terdakwa’ yang berdiri itu mempunyai hak menjawab dan membela. Jika alasannya syar’I alias bukan alasan kemalasan, maka guru mempersilakannya duduk, artinya aku tidak jadi menuliskan kesalahan di map kuning itu. Mereka juga berhak mempertanyakan temannya yang sama-sama terlambat tapi tidak berdiri. Kebebasan berbicara di sekolah ini dijunjung tinggi. Asal ia berani, jujur dan bertanggung jawab. Asal ia masih sopan dalam berbahasa dan bersikap. Budi pekerti itu juga harus dididik. Karena sudah langka sepertinya manusia yang mempunyai sifat-sifat demikian di Negara ini. Bahkan segerombolan wakil rakyat yang gelarnya berderet-deret, yang hartanya berlimpah-limpah, yang wawasannya meluas-luas, tetap saja tidak bisa menjaga sikap. Seperti anak TK, kata mendiang Gus Dur.

Bisa saja siswa-siswa itu menyembunyikan kesalahannya dengan tidak berdiri ketika guru bertanya man muta akhiran fii hadzal yaum? Tapi kejujuran sangat berharga disini, Kawan. Sekali saja ketahuan nyontek, tamatlah riwayatmu. Bukan lagi merah, tapi nol. Sekali saja bohong, maka akan terus dicurigai. Dan tugas berat itu sebenarnya ada padaku sebagai pemegang map kuning. Sebagai pencatat ‘amal keburukan’ siswa perhari. Maka di sini aku tidak lagi memandang siapa ‘tersangka’ yang sedang berdiri. Apakah dia senior, apa dia teman sekamar, apa dia yang kemarin member pinjaman uang. Semuanya harus tercatat, karena di akhir semester, selain dibagikan rapor, sekolah juga melampirkan rekapitulasi data kelalaian ubudiyah para siswa. Dengan memegang map kuning itu, bukan berarti aku luput dari kesalahan. Ketika aku lalai, aku menyerahkan map kuning itu pada siapa saja yang dekat denganku untuk mengisinya. Tapi, biar bagaimanapun aku selalu berusaha untuk tidak berdiri saat ‘sidang’ itu.

Ini baru satu peraturan tentang evaluasi ibadah harian. Rumit, bukan? Di sekolah asrama-ku ini, kami diwajibkan bangun tidur jam 4 pagi (bergantung Shubuh jam berapa). Sesuai daftar yang ada di map kuning tadi, Shalat Lail. Jadi shalat lail adalah’ wajib’ bagi kami. Setiap hari. Khusus untuk hari minggu, shalat lail dilakukan berjamaah. Jika ada yang telat (masbuk), maka akan masuk pencatatan map kuning. Beda bobot nilai antara yang telat (masbuk) satu rakaat dengan lima rakaat. Semua itu diperhitungkan. Tapi bobot nilainya tidak lebih besar jika siswa benar-benar tidak melaksanakan Shalat Lail.

Setelah shalat shubuh, jadwal berikutnya bukan kembali ke kamar tidur. Jam pelajaran pertama sekolah ini, dimulai setelah shalat Shubuh. Gila, kan? Pelajarannya tentu saja pelajaran agama. Tapi jangan khawatir, di sini tidak ada kitab kuning, kitab gundul, atau yang lainnnya. Buku pelajaran agama di sekolah ini diambil dari buku Madrasah Aliyah (MA) yang dikeluarkan Depag. Jadi, boleh dikatakan sekolah ini adalah gabungan antara SMA, MA, dan sedikit berbau pesantren, karena berasrama.

Selesai jam 6 pagi, terkadang jam setengah enam. Setelah berduyun-duyun kembali ke asrama, melepaskan sarung, peci, buku, kami tidak tidur, tapi mengantri mandi. Perbandingan kamar mandi di asrama mungkin 1:4. Itu pun jika semua kamar mandi berfungsi dengan baik. Biasanya hanya 6 dari 10 yang berfungsi. Jam setengah tujuh harus segera sarapan, karena jam 7 masuk kelas (lagi). Jam pelajaran berakhir (sementara) bukan jam 12 siang, tapi jam 3 sore. Jika beruntung tidak masuk dalam daftar remedial, siswa bisa menghabiskan sore dengan main bola, basket, atau menggelayuti pohon rambutan di pinggir lapangan. Sore hari adalah jam-jam berharga semua siswa di sini. Karena itulah waktu yang bisa melepas kepenatan seharian. Sebab setelah maghrib, masih ada pelajaran (lagi). Setelah makan malam, tidak ada teve. Semua siswa ‘wajib’ belajar mandiri atau berkelompok di asrama. Tidak bisa kemana-mana, karena akan ada guru piket yang memantau jam belajar malam itu. Dan jam sepuluh malam, semua harus tidur. Siapa berani begadang, berarti taruhan untuk tidak bangun jam 4 pagi. Ffiuuhh… di sini Anda boleh bernafas.

Apapun tentang sekolah ini, yang pasti ia menjadi titik balik banyak siswa. Termasuk aku. Dan masih banyak lagi cerita haru-biru yang melekat. Tentang Hari Orang Gila Nasional. Tentang Pesantren (kilat) Ramadhan. Tentang Kolam Ulang Tahun. Tentang Skandal-skandal Terselubung. Tentang Tarbiyah, Khuruj, dan FAFA. Tentang banyak hal yang seharusnya menjadi memori indah. Walau sekolah ini hanya menerima siswa laki-laki yang berjumlah tidak lebih dari 24 per kelasnya. Yang lokasinya terisolasi oleh dua kampung yang bahkan mendengar namanya saja asing. Yang nangkring di kaki bukit dari puluhan bebukitan di Sukabumi. Boys dont cry, begitu kata Pak Zul, Karena kita ini laki-laki, dan akan terus menjadi laki-laki — sejati. Bukan begitu, Kawan?

(thealbayanseries)

Pendidikan ’3 Idiots’

Posted: May 20, 2010 in Uncategorized

Dalam Today’s Dialogue, Metrotv membahas tema pendidikan. Anis Baswedan yang menjadi host pada acara tersebut mengkorelasikan antara pendidikan dan guru. Ada sebab-akibat yang signifikan antara mutu pendidikan dengan mutu guru. Kualitas maupun kuantitas. Maka dia menyoroti bahwa banyaknya jumlah siswa yang tidak lulus UN, salahsatunya karena kualitas dan kuantitas guru yang kurang memadai. Mulai dari gaji, pengangkatan dari honorer menjadi PNS, hingga pemerataan tenaga pengajar di daerah-daerah terisolasi. Lain lagi dengan Redaksi Trans TV, dalam liputannya mereka menyoroti bahwa banyaknya siswa yang tidak lulus UN karena sistem pendidikan yang tidak terintegrasi. Masa belajar tiga tahun harus dilotere ‘keberhasilannya’ dengan tiga mata pelajaran saja. Maka jangan heran ketika ada siswa yang stress, ada yang melempari sekolahnya, memukul gurunya, bahkan gantung diri. Karena segala macam pengorbanan mereka, baik waktu maupun biaya — terlebih lagi harga diri — sirna begitu saja.

Tapi menurut saya, pendidikan bukan sekadar tentang guru, atau sistem yang menggaulinya. Pendidikan adalah sebuah filosofi kehidupan. Sebuah gairah yang seharusnya muncul dalam setiap jiwa anak manusia. Gairah untuk mencari tahu, gairah untuk memakmurkan semesta.

Gairah tingkat tinggi biasanya muncul saat mahasiswa. Karena begitu banyak kesempatan, banyak pengaruh, terlalu banyak darah muda yang belum teralirkan. Maka ada beberapa yang terus mengkritisi pemerintah, ada yang jadi entrepreneur, ada yang mengasah softskill di organisasi, bahkan ada yang melatih dirinya di jalanan sambil melempar batu, bom molotov, balok, bakar mobil polisi, memblokir jalan.

Entah siapa yang memulai, ada sebuah pernyataan bahwa katanya suara mahasiswa adalah suara rakyat, dan suara rakyat adalah suara tuhan. Maka tidak berlebihan memang jika mereka ‘berbuat seenaknya’. Demi demokrasi, katanya. Tapi, apakah gairah-gairah itu sudah menjadi bagian dari solusi, bagian dari langkah memakmurkan semesta.

Ketika saya mahasiswa, seorang teman saya sering mencemooh mahasiswa lain yang hanya beredar di lab, di perpustakaan, dan membuat penelitian. Menurut mereka, mahasiswa seperti itu SO, study oriented. Harusnya mahasiswa itu berorganisasi, beraktivitas di luar, katanya. Menjadi aib rasanya jika seorang mahasiswa menyandang status SO.

Baiklah, SO adalah aib buat mahasiswa. Lantas, apa namanya jika seorang mahasiswa yang sudah diberi ilmu, tapi tidak memberikan manfaat atas ilmu itu. Apa sebutannya seorang mahasiswa yang selalu sibuk dengan urusan kampusnya, sementara dia tidak kenal dengan tetangga tempat kostnya. Bahkan tidak terdaftar di ketua RT.

Pada posisi inilah saya mulai gerah. Mutu dosen, lab yang terakreditasi, referensi literatur yang lengkap, berapa nikmat lagi yang harus tidak disyukuri. Tidak ada lagi alasan untuk tidak membuat suatu karya nyata. Lucu, ketika sebuah himpunan mahasiswa mengadakan acara bakti sosial ke sebuah desa, dengan berbekal sapu, pengki, trash bag, dan sebungkus sembako. Tidak salah memang. Tapi bukankah sebuah kemunduran ketika kemampuan yang tinggi tidak diimbangi dengan hasil pemikiran dan karya yang sebanding.

Disini saya tidak men-judge bahwa Anda yang berbisnis saat kuliah, yang menjadi ketua BEM, yang aktif di Pecinta Alam, sebagai mahasiswa yang premature. Semakin banyak kita beraktivitas, maka pengenalan terhadap diri sendiri pun semakin tajam. Karena ia tahu kemampuannya bukan di akademik, misalnya, tapi di bidang lain, maka ia terus dalami bidang itu hingga menjadi sebuah nafas, atau bahkan sebuah identitas, menuju manusia paripurna.

Masalahnya, tidak semua bisa mencerna proses (metamorfosa) ini. Dengan alasan semangat mahasiswa, semangat dakwah, ia dengan sengaja membunuh amanah yang diberikan orang tua kepadanya. Ia dengan gagah membunuh potensi terpendamnya. Ia sudah mengumumkan dirinya sebagai entrepreneur, misalnya, tanpa sempat melihat potensi sebenarnya. Bisa jadi hanya karena malas belajar, malas buat tugas, ia mangkir dari kursi kuliah dengan alasan kegiatan kemahasiswaan jauh lebih penting. Kerja untuk rakyat, katanya.

Ingat film 3 Idiots? Seperti itulah filosofi pendidikan, menurut saya. Rancho suka engineering. Ia bergairah, bernafsu, dan berambisi memakmurkan kehidupannya dengan rekayasa teknologi. Raju, ia yakin bahwa dengan kejujuran, orang bisa sukses, dimanapun. Dan Farhan, yang sangat mencintai fotografer. Ia yakin kemampuannya di sana. Maka itulah yang ia kejar. Rancho menyadarkan, bahwa universitas bukan mencetak bibit-bibit kapitalis yang tunduk mengikuti sistem. Dan juga bukan brandalan yang saling melempar batu, yang membuat pengguna jalan geram. Tapi manusia yang bermanfaat untuk orang lain. Minimal untuk dirinya sendiri dan keluarga.

Begitu saja. Saya juga bukan Rancho, hanya bermimpi jadi Rancho. Saya juga bukan Farhan, tapi ingiiinn banget punya kamera SLR. Dan Raju, saya juga belum bisa sejujur dia. Maka yang menjadi penting di sini ialah pengenalan jati diri, bermimpi, dan bersungguh-sungguh. Tools untuk menjalani proses itu semua ialah pendidikan. Mau tidak mau, suka tidak suka, Anda harus belajar, harus mencari tahu, harus mengeksplor. Karena sudah tertinggal puluhan tahun rasanya jika Anda tidak mengakses informasi.

image by: deviantart.com

LanjutGan!!!

Posted: May 11, 2010 in my diary

“Kenapa jarang lagi update Facebook semenjak menikah?”, tanya isteriku. “Ngblog juga jarang..”, lanjutnya. Pertanyaan yang pertama mungkin gampang dijawab, tapi yang kedua, aku pun tak tahu apa jawabannya. Padahal banyak memori indah. Dari proses pernikahan kami yang ekspres, hingga perjalanan ke pulau-pulau terpencil di Indonesia timur.

Boleh dibilang naluri menulis berangsur-angsur melemah. Bahkan gairah membaca. Berat rasanya. Mungkin karena sekarang sudah punya media efektif untuk mencurahkan rasa, dan pengalaman. Karena sekarang isteriku dengan setia mendengarkan uneg-uneg dan segalaku.

Udah kehabisan akal gimana caranya numbuhkan kembali gairah itu. Sekarang coba review lagi tulisan-tulisan jaman dulu. Bahkan postingan ini pun sebenarnya cuma melatih lagi menulis dan menuangkan pikiran dalam tulisan.

Ya, mudah-mudahan saja bisa berlanjut ke isu-isu penting.

jadi rindu RSCM..

Posted: March 10, 2010 in my diary

Selepas isya ingin cepat tidur. Bukan karena ngantuk. Tapi karena ada pertandingan leg. 2 Arsenal-Porto. Ya, beginilah resiko jadi fans, gooners. Alarm sudah diset, niat sudah dipanjatkan, doa sudah diucapkan.

Terbangun. Tapi bukan jam 3.30. Masih terdengar suara2 motor dan mobil di jalanan. Masih jam 1 pagi. Isteri saya juga terbangun, dan ke kamar mandi. Saya berusaha tidur kembali karena laga big match masih lama. Tapi tidak, isteri kembali ke kamar, “a, keluar darah..”, wajahnya pucat dan ke tempat tidur sambil menangis. Aku menenangkannya.

Jam 2 kurang, ia kembali terbangun. Ingin pipis, katanya. Aku menunggu cemas. Kali ini ia kembali dengan kondisi sudah mandi dan mengisi beberapa pakaian ke dalam tas, “kita ke rumah sakit..”,katanya mendadak. “Kapan?? Nanti??”, kataku masih bingung. “indri pendarahan, kita harus ke rumah sakit. Sekarang!!”

Destinasi pertama, rumah sakit Grestelina. Ruang informasi dan registrasi tidak ada yang melayani. Karyawannya tidur beralas tikar. Kami nyelonong ke UGD. Dokter obgyn yang satu umrah, satunya lagi ke jakarta. Yang ada hanya dokter umum. Kami putuskan cari tempat lain.

Sepuluh menit nongkrong di pinggir jalan menunggu taksi, kami menuju rumah sakit Bunda. Ternyata sama. Tidak ada dokter obgyn ataupun residen yang standby. Isteri saya yang juga dokter umum, ngotot ingin diperiksa saat itu juga. Ia tidak menerima saran suster jaga untuk kembali nanti siang. Kami pun dirujuk ke rumahsakit akademis.

Kami melaju, masih dengan taksi. Tujuan kami ubah ke rumah sakit Cathrine Booth. Karena spesialisasinya di ‘ibu dan anak’. Dan beberapa rekomendasi para ibu.

Ketika ditanya, apakah ada dokter obgyn, suster mengiyakan. Isteri saya dIperiksa, tapi bukan oleh dokter, melainkan bidan. Ternyata maksudnya ‘ada’ itu dokternya ada di rumah dan siap dipanggil dlm keadaan darurat. Bidan melihat keadaan istri saya tidak dalam darurat. Kami disarankan kembali nanti siang.

Karena sudah jam 3 pagi, kami tidak meneruskan mencari rumahsakit lagi. Kemungkinan akan sama hasilnya. Saya pun mengajak isteri saya istirahat dulu di rumah, dan periksa kembali nanti pagi. Dengan penuh kekecewaan, ia menurut saja. Dan berkomentar, “jadi rindu RSCM..”, katanya. Walau gedung tua, di RSCM dokter selalu siap. Minimal residennya. Maklum lah alumni sana.

Dengan mocha dan chocolate hangat kami pulang. Isteri istirahat, saya bergemuruh di Emirates Stadium melihat aksi Nasri dan kawan-kawan. Dan Arsenal pun penuh percaya diri melaju ke perempat final, dengan skor 5-0 saja untuk Porto.

Setelah cukup istirahat, kami tanya-tanya rumah sakit mana yang dokter obgynnya sudah standby pagi-pagi. Survey mengatakan rumah sakit Catherine Booth, dokternya bisa langsung dipanggil biar jam 7 pagi. Tapi nampaknya isteri saya masih mau melanjutkan tidurnya, panasnya pun belum turun.

Jam 10an kami panggil taksi lagi, tujuan kami kali ini Budi Mulya, karena dokternya sudah ada jam segitu dan lokasinya yang tidak jauh seperti Catherine Booth. Selepas Shalat Dhuha, kami berangkat. Semoga selamat.

*hingga tulisan ini diposting (jam 11.20 pagi) dokter obgyn yg ktnya sdh ada jam 10, belum juga tiba..bener kata isteri saya “jadi rindu RSCM..”

Dulu kalo ditanya knp mau masuk PLN, paling gampang jawabannya kesejahteraan terjamin. Bahkan, pernah punya jawaban: sebagai jalan untuk amal jariyah buat masyarakat indonesia, karena manfaat listrik dirasakan bnyk orang. Apa salah? Tidak! Namanya juga alasan, bisa macam-macam. Asal alasan itu masuk naluri, asal itu jujur dari dalam hati. Bukan gombalan.

Tapi, bagaimana jika jawaban dr alasan itu sudah tidak nampak lagi. Bagaimana UU Ketenagalistrikan yg baru telah mengobral usaha listrik ini. Ruhnya sudah tidak murni lagi. Bagaimana jika ternyata dalam prakteknya, terdapat bnyk kepentingan. Bagaimana jika otoritas sang pimpinan sangat kuat dan bawahan adalah kacung. Bagaimana mengelaborasikan dua garis ini?

Buku-buku self management bnyk memberi masukan, termasuk ceramah-ceramah Mario Teguh, bahwa bekerja yang menyenangkan ialah pekerjaan yang kita sukai, yang darinya kita bisa benar-benar bermanfaat untuk orang lain. Saya lantas berkaca dan berhenti sejenak. Apa masih kuat alasan untuk terus berada di zona ‘kelistrikan’? Atau karena aura pimpinan yang tidak berwarna? Atau sistem yang tak terukur? Yang pasti jika ditanya apakah pekerjaan saya hari ini, saya merasa senang dan bermanfaat untuk orang lain, maka jawabannya tidak.

Maka keluarlah dan lakukan yang terbaik yang bisa kamu lakukan, kata Mario Teguh, lalu perhatikan apa yang terjadi, lanjutnya.

Saya masih tunggu 4 tahun lagi. Karena telah teken kontrak. Jika masih saja tidak klop, maka itulah resiko yang diambil. Kalo pun masih klop, saya rasa bukan pilihan terbaik untuk menjadi pegawai seumur hidup. Terlalu tak berharga rasanya kalo di dunia ini kita tak mencoba banyak hal.

Ini sengaja saya tulis d blog, agar saya ga lupa untuk terus berada di zona ‘listrik’. Setidaknya tidak sekedar nyanyian. Yang akan lupa di telan waktu.

pic by : deviantart.com