Posted by: imam alkarami | July 6, 2009

Chapter 8: The 8 ball

8_Ball_by_chriissis

Saat ini sudah jarang orang memainkan 8 ball dalam turnamen bilyard. Di pool-pool sudah sering menggunakan 9 ball. Bahkan terakhir ada turnamen di Philipine, sudah memainkan 10 ball. Tapi berapapun bolanya, peraturannya masih sama, berapapun banyaknya bola yang dimasukkan jika bola bernomor terakhir itu tidak ia masukkan, maka ia bukanlah pemenangnya. Dalam permainan 8 ball, bola bernomor 8 adalah penyelesaian dari permainan itu. Kunci siapa yang menang atau kalah.

Saat ini, aku merasa penyelesaian dari ‘permainan’ dunia ini adalah menikah. Menikah adalah kunci dari kegelisahan setiap pemuda. Obat dari mereka yang selalu sakit. Penyegar bagi yang selalu merasa kehausan kasih sayang.

Aku sudah bersiap untuk memasukkan bola delapan, tapi warnanya yang hitam membuat banyak kamuflase di sana-sini. Yang pasti, angka depalan tidak ada hubungannya dengan partai.

*Chapter 4-7 belum bisa ditampilkan karena satu dan lain hal. Satu hal yang menjadi hal besar jika disatukan.

Posted by: imam alkarami | June 23, 2009

Chapter 3: Lakmus

The_Introvert_by_twinklepunt

Entah dari mana asalnya, aku terkesan melankolis menurut teman-teman. Sampai ada yang bilang, introvert. Lebih parah lagi, ada yang bilang, romantis. Menurut Personality Test, aku memang masuk golongan melankolis. Dan menurut pendapat teman se-asrama, aku dinilai introvert. Yang bilang romantis tentu terlalu mengada, tapi – entah kenapa – dia begitu yakin.

Waktu kecil, aku tak laku jadi bos. Aku selalu terpinggirkan. Aku iri dengan sepupuku yang selalu dikelilingi teman-temannya. Karena merasa mampu bersaing, aku memilih jadi oposisi – walau nol anggota. Maka selama ‘masa pemerintahannya’, aku selalu ter-alenia-kan. Tapi, aku seringkali hadir sebagai penyedap. Menawarkan guyonan, permainan baru, atau rela menjadi ‘kucing’.

Posisi yang seringkali terpinggirkan ini, membuatku menjadi seorang pejuang yang kuat, dengan tekad: akan aku buktikan pada kalian bahwa aku bisa!! Itu power yang selalu menjadi pijakan hingga saat ini. Aku orang yang mudah terprovokasi. Seperti lakmus yang berubah warna ketika ‘lingkungan’-nya berubah. Maka ESQ bisa membuat air mataku tumpah ruah, dan GIGI bisa membuatku berjingkrak-jingkrak sampai serak.

Teman satu kelompok sewaktu kuliah bilang, kalau aku seorang yang perfectionist. Jika dia melakukan pengamatan duakali, maka aku bisa tiga sampai empat kali. Jika dia menganalisis hanya dua lembar, maka aku lebih dari itu. I just wanna show my best. Maka deadline sangat penting bagiku. Dan seringkali pekerjaan-pekerjaan penting dilakukan di saat injured time ini. Tugas Akhir sarjana-ku diselesaikan secara dramatis. Dua lomba penelitianku juga mengalami hal serupa walau sudah dibuat jadwal pekerjaannya. Yang terakhir, tulisan masa on the job training di perusahaanku sekarang, ditulis dalam tempo sesingkat-singkatnja. Ambisi tinggi, perfectionist, bisa jadi menjadikanku seorang penyendiri yang melankolis.

Tapi disebut pendiam pun tidak. Jika tertawa aku paling keras. Jika cerita aku seperti orang kesurupan. Aku cenderung diam ketika masih belum bisa menyamakan suhu dengan lawan bicara. Aku pemalu kalau harus kenalan, menegur orang, bicara di depan umum, bicara formal, tawar-menawar harga dengan tukang becak. Tapi ketika suhu sudah sama, maka larutan pun jadi homogen. Dan di sini berlaku Hukum Newton III, Aksi-Reaksi. Sifat dasarku diam, maka akan diam jika menghadapi orang yang diam. Tapi aku akan berisik jika orang di depanku juga berisik. Jika aku melankolis, perfectionist, maka penyeimbangnya adalah orang yang realistis dan periang (berisik).

Bisa jadi kadar melankolis adalah kontribusi Gibran dan Supernova-nya Dewi Lestari. Aku mulai ‘membaca’ dan menulis ketika SMA. Itu pun karena terbawa suasana. Asalnya aku seorang pemalas baca, apalagi menulis. Tapi tulisan Gibran membuat aku jadi pemikir dan seringkali penyendiri. Setelah Gibran, berikutnya Andrea Hirata, Paulo Chelo, Anis Matta, Helvy Tiana Rosa, Emha Ainun Najib, Erbe Sentanu, bahkan Robert T Kiyosaki. Dan tulisanku – bisa dikatakan – adalah karedoks-isasi dari buku-buku yang kubaca. Boleh jadi, tulisanku lah yang akhirnya menjadikan aku orang yang melankolis. Sudah kubilang, bahwa melankolis adalah kadar, jadi persentasenya bisa saja berubah, bergantung pelarutnya.

‘Membaca’, tidak harus dengan membaca buku. Aku orang yang visual. Lebih senang pergi ke alam luar dari pada mendekam di kamar sempit. Membaca bisa jadi melihat hiruk-pikuk lalu lintas, terminal, pasar, menikmati angin pantai, hawa sejuk pegunungan, duduk mendengar keluhan teman. Itu lebih kusukai dari buku-buku tebal di Gramedia.

Menerebos bebukitan, menghirup halimun di pegunungan, berkemah di puncaknya, adalah rasa yang tak bisa dibandingkan dengan novel fantasi atau film science-fiction sekalipun. Jika berbicara petualangan, aku ingin sekali berkeliling Nusantara, berlibur di Eropa, menikmati Perancis dan Inggris.

Posted by: imam alkarami | June 22, 2009

Narasi Pernikahan Lucky-Puti (original version)

strategi030811111246_1806

“Pernikahan adalah penenang jiwa dan kesenangan kepada istri, yaitu tatkala bersanding dengannya, memandang, dan bercanda. Pernikahan juga menentramkan hati dan menambah kekuatan untuk beribadah. Karena jiwa itu mudah jemu lalu menghindari kebenaran. Sebab ia berbeda dengan tabiatnya. Andaikata jiwa terus menerus dibebani sesuatu yang kurang disukai, maka ia akan berteriak dan lari. Namun jika sekali waktu dihibur dengan kesenangan, maka ia menjadi kuat dan semangat.”

(Imam Al-Ghazali)

Hari ini, 20 Juni 2009, sepasang manusia akan merayakan kegembiraannya karena telah datang baginya sang penenang jiwa, penghibur hati. Puti menemukan penenang jiwanya. Dan Lucky mendapatkan penghibur hatinya.

Puti Stephania Hoesni, putri ketiga dari bapak Ir. Hoesni Ahmad dan ibu Dra. Hj. Susilowati Soekardi, lahir di Balikpapan, 22 Juli 1985. Puti berdarah Jawa dan Sumatera.

Lucky Hilman Ismuwardhana, anak bungsu dari bapak Suparman dan ibu Siti Hidayah, lahir di Bandung 13 Desember 1984. Lucky berdarah Sunda dan Jawa.

Puti besar di Jakarta sejak umur empat bulan. SD di Al-Azhar Kebayoran Lama, SMP di Al-Azhar Pejaten, dan SMU di SMU 28 Jakarta.

Lucky besar di Bandung. Bersekolah di SD Pertiwi dan SD Terang 1 Bandung, SMPN 2 Bandung dan SMU Taruna Nusantara Magelang.

Mereka besar di kota yang berbeda dan di aktvitas yang berbeda pula. Puti aktif di Rohis SMU-nya. Lucky aktif di Taekwondo dan Marching Band-nya. Hingga akhirnya dipertemukan Tuhan di kampus Ganesha, Institut Teknologi Bandung. Tepatnya di Jurusan Teknik Lingkungan.

Masih dengan aktivitas yang serupa. Di ITB, Puti masih aktif di kegiatan keislaman, entah itu di Jurusan (KAMIL), atau di Kampus (GAMAIS). Dan Lucky, ia aktif di unit kesenian sunda (LSS) dan kemahasiswaan terpusat (KM). Hingga akhirnya mereka dipertemukan di satu kegiatan kaderisasi himpunan di jurusannya, MPAM. Lucky ketuanya, Puti konseptor materinya.

Menjadi satu tim dalam kepanitian kaderisasi tersebut membuat keduanya semakin dekat. Puti melihat bagaimana Lucky memimpin anggotanya. Lucky melihat bagaimana Puti merancang materi dengan jeli dan berisi. Kepanitian yang berjalan hampir satu tahun itu menguras banyak pikiran, tenaga dan waktu. Tapi di sanalah karakter keduanya bisa terlihat. Dan bagi Puti, kesamaan visi dan misi dalam memandang suatu hal, membuatnya menjadi nyaman berteman dengan Lucky.

Mereka seperti uang koin 500 rupiah. Puti adalah melati, dan Lucky garudanya. Keduanya berada pada dua sisi yang berbeda.  Tapi memiliki nilai dan fungsi yang sama. Lucky seorang yang gemar baca buku-buku tebal. Tidak dengan Puti. Puti seorang yang teliti dan cekatan. Tidak dengan Lucky. Mereka saling melengkapi. Karena, itulah sebenarnya pasangan yang sempurna.

Dalam menyelesaikan Tugas Akhir, Puti menghabiskan banyak waktunya di Laboratorium di PAU ITB. Ia banyak berteman dengan mikroba. Sedangkan Lucky, di tengah kesibukannya Tugas Akhir, ia menjadi Juara I Lomba Penelitian antar-himpunan se-ITB. Lucky dipandang mengetahui banyak hal oleh teman-teman di jurusannya. Maka di tengah Tugas Akhir dan Lomba Penelitiannya itu, ia dengan senyum membantu teman-temannya yang kesulitan di Tugas Akhirnya. Puti salah satunya. Ketika listrik di laboratorium tempat Puti padam, semua data-data penelitiannya selama satu minggu menjadi sia-sia. Di saat ’sang melati’ layu, maka ’sang garuda’ pun turun membuatnya tegar. Melalui sms-nya, Lucky menghibur Puti, menyemangatinya, menjadikannya kuat.

Dan pada Maret 2008 pun keduanya diwisuda berbarengan di Sabuga. Selepas lulus, Puti bekerja sebagai asisten peneliti di PAU ITB. Sembari berharap mendapatkan beasiswa S2 ke Jepang. Sebuah negara yang diimpikannya dari dulu. Yang memberikan influence ke buku bacaannya, film-filmnya, bahasa dan budayanya.

Sementara Lucky, mengambil pilihan untuk bekerja di salah satu perusahaan tambang batubara di Kalimantan. Dan sebuah ungkapan cinta pun tak mampu ia tahan. Sebelum pergi ke rimba Kalimantan, Lucky menuliskan sebuah ungkapan rasanya selama ia berteman dengan Puti dalam sebuah email. Setengah perasaan hilang, tapi masih ada setengah lagi yang terus ditunggu Lucky. Sebuah jawaban dari Puti.

Oktober 2008 Puti membalasnya. Tapi tidak dengan email. Puti menelpon Lucky. Bertanya tentang keseriusannya. Bertanya tentang siapa dirinya, tentang visi misinya, tentang semuanya yang bisa membuat Puti merasa yakin, bahwa Lucky adalah ’Garuda’ itu.

Maka mereka pun meminta petunjuk. Istikharah. Lucky menanyakan temannya Puti tentang siapa Puti sebenarnya, begitu juga Puti. Karena pertemanan intensif mereka di kepanitian tak cukup untuk dijadikan data menuju pernikahan.

Doa terus dipanjatkan. Harap terus diungkapkan. Mereka pun sepakat untuk membuat komitmen awal. Pada tanggal 1 Januari 2009, Lucky melamar Puti. Jika seluruh umat manusia di bumi ini merayakan pergantian tahun, maka mereka merayakan pergantian lembaran hidup. Lembaran yang masih putih.

Perjalanan mereka tak semudah yang digambarkan. Di sana ada air mata. Di sana ada perjuangan. Seperti perjuangan Lucky mendaki gunung Papandayan beberapa bulan sebelum ia lulus.  Perjuangan Lucky yang menuliskan sebuah nama seorang perempuan di pasir Papandayan. Sebuah nama yang suatu saat nanti bisa menemani sisa perjalanan hidupnya. Sebuah nama yang hari ini bisa ia genggam.

Sang Garuda telah menemukan Melati-nya. Mereka telah berjalan di atas karpet syari’at. Dan kini mereka telah duduk bersama di pelaminan. Puti Stephania Hoesni dan Lucky Hilman Ismuwardhana.

*Narasi (yang sudah diedit oleh kedua pihak mempelai) dibacakan saat pernikahan Lucky-Puti pada tanggal 21 Juni 2009

Makassar, May 2009

Imam Alkarami

Posted by: imam alkarami | June 2, 2009

Kepompong (Chapter 2)

Metamorphosis_by_falling_petal

Spongebob dan Patrick bingung ketika ulat milik Wendy berubah menjadi kupu-kupu. Padahal mereka sangat senang bermain-main dengan ulat. Spongebob pun menuduh kupu-kupu telah memakan ulat kesayangan mereka.

Kesalahannya bukan pada kupu-kupu, tapi pada ‘daya tangkap’ warga Bikini Bottom yang tak ada makhluk bernama kupu-kupu selama ini. Kupu-kupu terlalu indah jika harus disangka pembunuh. Bahkan Spongebob tidak tahu adanya proses metamorphosis tersebut. Bahwa ada kepompong sebelum menjadi kupu-kupu.

Terkadang orang di sekeliling kita pun berlaku seperti warga Bikini Bottom. Menyimpulkan sendiri ‘makhluk asing’ yang selama ini tidak dikenalnya. Menuduh, mencerca, atau membunuhnya. Dan manusia sendiri, pada hakikatnya, berlaku seperti ulat yang berusaha menjadi kupu-kupu. Permasalahanya, tidak ada yang benar-benar tahu sedang berada di fase manakah kita: masih ulat, dalam kepompong, atau sudah menjadi kupu-kupu.

Aku dibesarkan di lingkungan Islam NU, ada tahlilan, shalat tasbih, marhaba tiap malam jumat, perayaan ini, perayaan itu. Wawasanku terhadap agama, Tuhan, bahkan hidup ini, sangat sempit. Masa ketertinggalan itu berakhir ketika aku sekolah berasrama di Sukabumi, Albayan Boarding School. Orang sering menyebut sekolahku ini pesantren, tapi menurutku salah karena tidak ada kiayi di sana. Yang ada hanya guru-guru muda yang memiliki semangat dan idealisme yang tinggi. Dan spektrum fikrah (pemikiran) agama pun terlihat dari mereka. Ada NU, Muhammadiyah, Tarbiyah, Jamaah Tabligh. Aku merasa di-kepompong-i disana.  

Wawasanku terbuka. Ada cita-cita, ada visi, ada misi, ada rencana. Dan Albayan mengantarkanku ke gerbang Ganesha. Suatu hal yang sama sekali tidak pernah masuk daftar rencana hidupku. Di ITB, spektrum fikrah agama semakin luas. Wawasan pun semakin terbuka. Bahkan aku hampir tiga tahun tinggal di asrama Masjid Salman ITB. Konon, tempat ini mejadi basecamp perjuangan mahasiswa islam di zaman orde baru. Berbagai cap pun berdatangan kepadaku: orang PKS lah, anak masjid lah, orang salman, Hizbut Tahrir, Salafi, dan lain-lain. Yang pasti, rasa kepompong disana lebih ‘nano-nano’. Manis asam asin.

Harusnya, ulat setelah melewati masa kepompong, berubah menjadi kupu-kupu yang indah. Tidak denganku, setelah dua kali mengalami fasa kepompong, hari ini aku masih belum bisa menjadi kupu-kupu. Tapi ulat pun aku bukan. Aku merasa masih harus banyak dikepompongi.

Anehnya, orang di sekelilingku seringkali berlaku seperti warga Bikini Bottom. Menganggapku sudah terbang menjadi kupu-kupu. Padahal itu kupu-kupu dari ulat yang lain. Aku sendiri masih di dalam kepompong. Masih meringkuk sendirian mengintip-intip apakah ada di luar sana ulat yang akan bermetamorfosa juga. Karena kurang sempurna rasanya jika kupu-kupu terbang sendiri di taman bunga.

Posted by: imam alkarami | June 1, 2009

Electron (Chapter 1)

electron_orbitals_by_rocqua

Golongan VIIIA dalam sistem periodik unsur kimia disebut golongan gas mulia. Emas salah satu anggotanya. Golongan VIIIA ini memiliki jumlah electron yang genap dan mengisi seluruh ‘kamar’ dalam lintasan kulitnya. Gas mulia menjadi ‘mulia’ karena sifatnya yang tidak bisa lagi ‘berselingkuh’ dengan unsur lain. Unsur akan berikatan dengan unsur lain jika ada kepentingan saling menguntungkan di dalamnya. Natrium (Na+) yang memiliki electron sisa (electron terluar/electron valensi) satu elektron bermuatan positif bersedia mengikat Chlor (Cl-) yang memiliki satu electron valensi bermuatan negative. Maka jadilah mereka NaCl yang sering kita namakan garam. Jumlah electron mereka kini genap dan seluruh kamar terisi. Kini mereka serupa dengan gas mulia. Stabil.

Unsur dengan electron valensi yang tidak berpasangan dalam lintasannya akan bersifat labil. Kenyataannya sangat sulit menemukan unsure dengan kondisi seperti itu berkeliaran di semesta ini. Oksigen berkeliaran dalam bentuk O2. Ada ikatan antar-mereka, O – O. Semakin banyak jumlah kulit suatu unsur yang memiliki electron valensi tidak berpasangan, maka kecenderungan dia untuk melakukan ikatan akan semakin mudah. Karena semakin banyak kulit, electron tersebut akan semakin jauh dengan inti atom. Gaya tarik-menarik pun semakin rendah. Energy untuk melakukan ikatan tersebut disebut energi inonisasi atau energi potensial. Pada keadaan seperti itu, energi ionisasi yang dibutuhkan kecil. Permasalahannya, tentu saja, apakah ada unsur lain yang berbeda muatan yang juga membutuhkan electron valensi agar ‘kamar’ dalam lintasannya terisi lengkap. Stabil.

Anggap saja aku adalah unsur X yang memiliki electron valensi +1, maka permasalahannya apakah ada unsur Y, misalnya, yang memiliki electron valensi -1. Energi potensial sudah terlalu mudah karena sang electron sudah terlalu jauh dengan inti-nya. Unsur X pun sudah kadung labil. Maka ia butuh unsur Y itu segera. Agar seluruh kamar lintasan-nya terisi. Agar ia bisa menjadi gas mulia. Stabil.

Duapuluh tiga tahun sepertinya cukup menjauhkanku pada inti atom. Pada umur lima belas tahun, aku masuk SMA berasrama di Sukabumi. Selanjutnya 4 tahun lebih kuliah di Bandung. Dan sekarang, kerja di Makassar. Anggap saja inti atom itu adalah keluargaku, maka aku sekarang berada di lintasan yang sudah jauh dari intinya. Lebih parah lagi, aku sendirian di lintasan itu. Sehingga mudah bagiku tereksitasi. Labil.

Unsur Y yang aku tunggu kehadirannya itu mungkin melimpah keberadaannya, tapi apakah sesuai sifat-sifatnya, keelektronegatifannya, afinitas electron, energy ionisasi, dan sebagainya.

Posted by: imam alkarami | May 1, 2009

Minuman Kemenangan

Suatu hari Arai berkata, ’Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu’. Ikal dan Arai pun berpetualang ke Eropa, mendapat gelar S2 di sana. Mereka melakukan petualangan hidupnya dari mimpi ’kecil’ di sekolah kumuh di Belitong. Seperti itulah kisah Laskar Pelangi diceritakan oleh Andrea Hirata.

Donny Dhirgantoro dalam novel 5 cm mengatakan ’Gantungkan keinginan lo 5 cm di depan jidat lo.. biarkan mengambang, mengambang seakan-akan lo meraihnya’. Tuhan memang Maha Tahu, tapi jika kita tidak tahu yang kita mau, apa yang akan Ia berikan? Karena Ia Maha Pemberi, bukan Maha Pemaksa. Maka berteriaklah akan mimpi-mimpi, sehingga ia dekat-erat dengan diri kita.

*

crim0019

Selepas menjalani sidang sarjana, aku bersama tiga temanku (Asep, Luki, Acung) hiking ke Gunung Papandayan, Garut. Dari Bandung ke Garut, kami tempuh dengan motor. Dua tas besar berisi perlengkapan selama dua hari, ditambah tenda dan lampu badai berada di satu motor. Yang duduk di depan bersusah payah dengan kedua kakinya menahan tas besar yang bersandar di stang motor. Yang duduk di belakang harus kuat-kuat menahan tas dengan punggungnya. Tapi itulah, walau Asep harus ditilang karena belum punya SIM, dan Luki harus ganti velg karena motor tuanya itu tak kuat menahan beban, kami terus melaju.

Gunung Papandayan berada 30 km dari pusat Kota Garut. Kami parkir motor di kaki gunung yang relatif datar. Kabut turun sangat deras. Kami pun mendaki saat siang, tanpa matahari. Sebelum mendaki, kami melingkar memanjatkan doa dan memantapkan kembali mimpi-mimpi kami. Mimpi besar yang akan kami teriakkan setiba di puncak Gunung Papandayan. Saat berada di puncak kami akan merayakannya dengan sebotol minuman ’pengganti ion tubuh’. Kami menyebutnya minuman kemenangan.

Kami seperti menelusuri sebuah planet lain di jagat raya ini. Pemandangan hanya ada pegunungan berbatu yang dari dalamnya terkuak letupan-letupan gas belerang. Sungai yang mengalir di lereng gunung juga agak berwarna kuning. Angin berhembus kencang. Dan tentunya berbau belerang. Sangat menyengat. Aku berpikir bagaimana jika tidak bisa lagi menghirup oksigen di atas nanti karena gas yang ada di udara lebih banyak belerang. Kami kelelahan.

Tiba-tiba dari kejauhan datang seorang anak kecil sekitar 12 tahun dengan memanggul dua keranjang beras 20 kg di bahunya. Dan ia berjalan ke arah kami yang sedang duduk kelelahan. “Ngangkut beras dek?,” Luki bertanya. “Iya, kak. Buat di rumah”, jawabnya. Semua mata kami saling bertatapan. “Emang masih ada kampung lagi di sana (atas)?,” tanyaku. “Ada dibalik bukit sana, bisa sih lewat jalan raya tapi jauh. Muter”,  jelasnya. “Ga capek?”, tanya Asep. “Capek, tapi udah biasa. Ini juga udah empat kali balik,” jawabnya datar. Hahh..Empat kali. Mata kami terbelalak.

Lelah kami hilang karenanya. Keperluan makan keluarga adalah tekad anak kecil tadi memanggul beras, yang masuk ke alam bawah sadarnya, menghapus semua keraguan dan rintangan. Satu-satunya batasan untuk meraih mimpi kita adalah keragu-raguan kita akan hari ini, begitu kata Franklin Roosevelt. Terkadang kita sering menunda kesempatan karena keraguan dan kemalasan. Marilah kita maju dengan keyakinan yang aktif dan kuat, lanjut Roosevelt.

Kami melanjutkan perjalanan. Luki dan Asep di depan mencari-cari jalan, Acung menyisir di belakang. Sedangkan aku sibuk mengambil gambar.

crim0041

Putih. Kami seperti di negeri awan. “Ini masih setengah perjalanan”, kata Luki. Kami tiba di suatu tempat yang agak datar. Di sampingnya mengalir sungai kecil. Deras. Dingin sekali. Tanah yang kami pijak seperti pasir putih. “Kita ga bisa lagi lanjutin perjalanan”, Luki yang masih tersengal-sengal mencoba menawarkan ide. “Bentar lagi malam. Kita bermalam di sini saja. Mumpung datar dan ada sungai. Kalau kabutnya udah agak hilang, kita lanjutin lagi”, kami setuju.

Tenda pun didirikan dalam rintikkan kabut. Dingin bercampur lelah. Tapi kami tetap harus menyelesaikannya sebelum gelap.

Kami tidur berdekatan. Mengumpulkan hawa panas yang masih tersisa. Mengumpulkan mimpi-mimpi yang ingin diteriakan di puncak nanti. Bercerita tentang rencana setelah diwisuda nanti. Hingga bercerita tentang siapa pendamping hidup. Bercerita dalam tawa. Bermimpi menjelang tidur.

Kabut masih setia menemani pagi. Hingga siang ia tak kunjung pergi. Perbekalan kami sudah menipis. Dan kami putuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan. Mata kami berhadapan. Mencari ide lain. Luki berlari ke hamparan pasir putih. Mengambil ranting. ”Walau kita ga bisa ke puncak, ga bisa teriak, tulis saja mimpi itu di pasir ini”, katanya. Aku, Asep dan Acung mengikutinya. ”Tapi satu mimpi saja”, lanjut Luki. Aku bingung, Asep juga. Tapi Acung mulai menggores tulisan mengikuti Luki. Mereka menuliskan sebuah nama. Nama perempuan. Aku tak bertanya tentang nama-nama itu. Tapi aku yakin, nama-nama itu adalah perempuan idaman yang ingin mereka jadikan pendamping hidup. Asep tersenyum, dan mengambil ranting, menuliskan sebuah nama juga. Luki menuliskan Nia. Acung menuliskan Yanti. Dan Asep menuliskan Tari. Mereka minta aku untuk memfoto tulisan itu bersamanya.

Giliranku. Aku mengambil ranting sambil berpikir keras siapa yang harus aku tulis. Hanya ada satu nama yang menjelang kelulusanku, ia hadir begitu dominan: Putri. Masalahnya, aku bukan apa-apanya dia. Tapi kekagumanku padanya sangatlah besar.

crim0062crim0059

Aku dikeroyok pandangan oleh tiga temanku. Luki mendekat, ”tulis saja. Nia, Yanti, Tari juga mimpi kami, sama sepertimu, bukan apa-apanya”. Aku menulisnya besar-besar. Dan menyuruh Asep mengambil gambarnya.

Usai membongkar tenda, kami turun dengan perasaan lega. Tapi belum sempurna. Memang kami telah mendaki Gunung Papandayan, tapi belum sampai puncak. Masih ada setengah perjalanan lagi. Memang kami telah menuliskan sebuah nama, tapi itu belum selesai, masih ada perjalanan yang kabutnya lebih tebal, tebingnya lebih tinggi, dan ancaman yang lebih besar: memeluk nama itu.

So, minuman kemenangan-nya ga diminum donk?” Acung bertanya.

”Nanti, kalau kamu udah nikah sama nama yang kamu tulis tadi”, jawab Luki.

Dan semua tertawa. Tawa melepas mimpi yang bersenyawa dengan halimun Papandayan. Bereaksi dengan gas pekat belerang. Berkondensasi di awan gemawan. Mengkristal. Mencair menjadi hujan. Menyesaki lautan, pepohonan dan sungai-sungai. Bersatu dengan semesta.

*

Tahun ini, Acung dan Luki akan minum minuman kemenangan-nya. Bulan *** 200*, Acung akan menikahi Yanti. **** 200*, Luki menikah dengan Nia. Perjalanan mereka panjang, mendaki dan berduri. Lebih garang dari Gunung Papandayan.

Asep. Minuman kemenangan-nya sudah tumpah. Akhir tahun 2008, Tari menikah dengan pria lain. Asep lebih memilih melanjutkan S2. Dan takdir pun berkata demikian.

Aku. Minuman kemenangan itu belum diminum, belum juga tumpah. Aku masih mendaki. Menerobos kabut. Mencari jalan. Perjalananku masih panjang. Tapi minuman kemenangan itu masih di tangan.

crim0098

PS:
Selamat buat Luki dan Acung.. Good job!
Asep, ayo keluar dari zona nyamanmu..

dan buat aku sendiri..semangat ya..

*diikutkan dalam Proyek Konro Soup for Soul Angingmammiri.org

Posted by: imam alkarami | May 1, 2009

Quantum of Love

Demi partikel yang sangat halus

Yang membawa beban sangat berat

Yang berjalan dengan mudah

Yang mempunyai tugasnya masing-masing

Aku terkejut sesaat. Khutbah Jumat di masjid Salman Bandung memang sering menarik untuk disimak. Bait di atas adalah sebuah tafsiran dari empat ayat pertama Surat Adz-Dzariyat.

“Dan partikel yang sangat halus itu dalam dunia fisika disebut quark, string atau quanta”, tambah khatib yang sudah meraih gelar doktor itu. Aku tambah bingung. Quanta? Benda apalagi itu.

“Para ilmuwan telah sepakat bahwa saat ini partikel yang paling kecil itu quanta, bukan lagi atom. Dan ia tidak nampak. Saking halusnya. Saking kecilnya. Tapi ia memerankan tugas yang besar”, tambahnya lagi.

*

law_of_attraction_by_carriefalquistSeorang muda mendekati Andrew Carnegie, miliuner baja terkaya di Amerika Serikat pada zamannya. Pemuda itu menawarkan sebuah formula yang dapat meningkatkan kinerja perusahaan Mr, Carnegie. Tak tanggung-tanggung, ia meminta imbalan US$ 100.000. Dan Mr. Carnegie pun menerima asalkan terbukti ampuh. Apa gerangan formula ‘ajaib’ itu?

Formula itu hanya meminta Sang Miliuner untuk menuliskan sebelum tidur tentang lima hal penting yang ingin ia kerjakan esok harinya, berdasarkan urutan prioritas. Dan harus berkomitmen akan mengambil tindakan-tindakan besar untuk mewujudkannya. Jika ia hanya mampu menyelesaikan tiga tugas, maka dua tugas berikutnya dijadikan target hari berikutnya, ditambah tiga tugas baru. Dan aku yakin Mr. Carnegie bukan orang bodoh yang mau mengambil tawaran formula US$ 100.000 itu.

Iseng-iseng aku mencontek formulanya Mr. Carnegie. Aku membuat coretan tentang mimpi-mimpi yang ingin dicapai di satu tahun terakhir masa kuliahku. Mulanya iseng. Tapi aku merasa harus menuliskan itu dengan kesungguhan. Karena tak ada prestasi yang membanggakan selama kuliah.

Aku menulis, ingin mendapat beasiswa S2 ke Jepang, juara I lomba penelitian, dan ingin menikah.  Yang terakhir ini agak susah mem-breakdown-nya. Mendapat beasiswa, tinggal apply, ikut seleksi, TOEFL 500. Lomba penelitian, tinggal hire orang-orang cerdas, konsultasi dengan dosen. Menikah? Aku bingung. Pacar tidak punya. Bakat menggombali wanita pun tak ada.

Tapi secara sadar, aku betul-betul membutuhkan sosok pendamping yang bisa men-support, memberi masukan, melengkapi. Karena setiap manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan. Dan ketika kekurangan dan kelebihan antarmanusia itu klop, maka sempurnalah mereka. Pasangan ideal. Itulah yang aku harapkan dalam coretan itu. Masalahnya, siapa gerangan wanita yang bisa melengkapi itu?

Aku menuliskannya dan mengingat-ingatnya setiap menjelang tidurku. Dalam sujudku. Dalam doaku. Berharap wanita itu datang.

Dan keajaiban itu tiba. Dalam sebuah malam tiba-tiba saja aku bermimpi sedang melangsungkan akad nikah dengan seorang wanita yang asing, tapi aku kenal orang itu siapa. Aku tak tahu namanya, tapi aku tahu dia kuliah di jurusan mana. Kali pertama melihatnya ketika temanku menunjukkan kenalan barunya yang ia kagumi. Ia menunjuk ke seorang wanita berjilbab. Itulah tuan putri – begitu aku menyebutnya. Dan tiba-tiba tuan putri hadir dalam mimpiku tanpa permisi.

Beberapa minggu setelah mimpi aneh itu, kami seolah dipertemukan oleh Tuhan. Tiba-tiba aku harus menghubungi seseorang yang berkaitan dengan tugasku di organisasi kampus. Dan tuan putri-lah orang yang harus aku hubungi itu. Maka komunikasi pun dimulai lewat Yahoo Messenger, email dan SMS. Bertukar pikiran, cerita hobi, sampai tips memilih makanan sehat.

Ketika Tugas Akhir-ku di ujung kegagalan. Data hasil penelitianku kacau. Analisismu lemah, kata professor pembimbingku. Kamu harus analisis dengan statistik varian tiga faktor, tambahnya lagi. Sidang sempat ingin aku tunda, karena statistik adalah malam bagiku. Gelap. Tak ada cahaya. Maka ia, tuan putri, hadir bagai purnama. Ia seorang mahasiswi matematika. Bingo!

Ketika sedang ngobrol dengan seorang teman di dunia maya. Tiba-tiba ia menyuruhku untuk segera menikah karena segudang permasalahan yang telah aku diskusikan tadi dengannya. Dan secara spontan, temanku berkata, “bagaimana kalo dengan ‘tuan putri’ saja, dia orangnya, bla..bla..bla..”.

*

Setelah mendengarkan khutbah Jumat yang penuh pembuktian ilmiah itu, aku bertemu dengan seorang teman semasa kuliah dulu.

“Ajaib!”, temanku setelah menyeruput kopinya.

“Kenapa?”

“Aku kemarin ikut pelatihan. Ajaib. Aku bisa mecahin keramik cuma dengan jatuhin lampu bolham dari ketinggian 50 cm”, katanya semangat.

“Kok bisa?”

“Kekuatan perasaan. Pikiran. Keyakinan. Keihklasan. Syukur”, terangnya.

Dalam perjalanan aku masih berpikir keras tentang lampu bolham yang bisa memecahkan keramik itu. Saat itu aku membayangkan keramik adalah sebuah preparat, dan bolham sebuah besi baja, inilah password-nya kenapa keajaiban itu terjadi.

Fisika Kuantum. Penemuan yang melahirkan ilmu fisika cabang baru setelah Fisika Newton. Jika Fisika Newton mengurusi benda-benda yang tampak: benda, molekul, atom, partikel; maka benda tak tampak urusannya Fisika Kuantum: quanta, energi vibrasi.

Fisika Kuantum erat kaitannya dengan Hukum Tarik-Menarik (The universal law of attraction). Hukum ini berbunyi bahwa sesuatu akan menarik pada dirinya segala hal yang satu sifat dengannya. Jika pada awal hari kita ‘memutuskan’ untuk tersenyum dan mengatakan pada semesta bahwa hari ini akan menjadi hari yang indah, maka sepanjang hari yang kita jalani akan terasa indah.

Quanta adalah energi pada sebuah materi yang paling kecil.  Manusia – pada bagian terkecilnya – juga adalah sebuah quanta. Karena manusia juga sebuah materi. Maka ia memiliki perasaan, pikiran, sakit hati, senang, ini semua adalah the invisible things, quanta. Begitu juga dengan semesta ini yang memiliki materi terkecil berupa quanta. Ia akan menjalani Hukum Tarik-Menarik dengan quanta di dalam diri manusia. Seperti hukum gravitasi bumi dan bulan. Seperti itulah mekanisme ‘tarik-menarik’ bekerja. Jika kita memfungsikan perasaan positif (quanta) dalam diri kita, maka itu akan ‘menarik’ perasaan positif lainnya dari manusia yang ingin kita rasa, dari benda yang kita inginkan, dari kehidupan yang ingin kita raih.

*

Aku sadar ternyata coretan iseng yang terpatri kuat dalam hati dapat menjadi realita luar biasa. Dan transformasi itu ternyata sejalan dengan teori Fisika Kuantum, teori quanta, dan Hukum Tarik-Menarik. Mimpi itu kutulis akhir tahun 2006. Dan tuan putri muncul pada  pertengahan tahun 2007. Ia datang perlahan. Tanpa permisi. Sekelebat. Tapi aku langsung kagum padanya. Kekuranganku ada padanya, kekurangannya ada padaku. Kami pasangan sempurna, aku kira. Quanta yang ada pada dirinya begitu kencang menarik quanta-ku. Partikel halus itu sedang mengadakan hubungan tarik-menarik yang sangat kuat. Dan perjalanan hubungan itu berjalan dengan lembut. Ia seperti puzzle yang sedikit demi sedikit menampakkan kelengkapannya.

Maka aku masih mencari-cari kepingan puzzle yang masih tersisa itu. Aku terus menguatkan energi vibrasi-ku. Aku terus mengaktifkan perasaan positifku. Karena quanta yang harus aku ‘tarik’ kini berada di pulau berbeda. Di domain yang juga berbeda.

*diikutkan dalam Proyek Konro Soup For Soul Angingmammiri.org

Posted by: imam alkarami | May 1, 2009

Setengah Cangkir Kopi

i_love_coffee_by_mj_coffeeholickTemanku bilang bahwa kopi diminum hanya untuk membuat mood kita bagus. Karena setelah itu biasanya ide-ide kreatif bermunculan. Peneliti di Harvard bahkan menemukan fakta bahwa peminum kopi memiliki resiko terkena diabetes lebih kecil. Kafein yang terdapat dalam kopi ternyata membantu meningkatkan metabolisme tubuh sehingga dapat proses pembakaran akan lebih banyak. Tapi, cukup dua cangkir saja setiap harinya. Tidak lebih.

Seperti siang yang mendung ini, aku duduk sendiri di sebuah kedai kopi di Bandung. Menunggu teman kuliahku yang hampir dua tahun tidak bertemu. Aku bekerja di perusahaan BUMN di Makassar, sedangkan ia di perusahaan swasta di Bogor. Kami kuliah di jurusan yang sama di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.

Ariel namanya. Ia bobotoh Persib. Ia tak pernah absen jika Maung Bandung bertanding di Stadion Siliwangi atau Si Jalak Harupat. Tahun Pertama di kampus, kami tidak begitu dekat. Ariel punya pergaulan sendiri dengan alumni SMA-nya, SMA 5 Bandung. Pergaulan anak muda Bandung yang fashionable, nongkrong di Dago, hunting distro, momotoran (touring geng motor) dan wisata kuliner.

Tapi pada Tahun Kedua, Ariel mulai terlihat beda. Ia tak lagi nongkrong dengan teman-teman SMA-nya. Ia sering terlihat sendiri di kantin, di perpustakaan, dan di kelas. Aku tak tahu kenapa ia begitu berbeda. Aku juga tak berani menegurnya. Aku bukan siapa-siapanya saat itu.

Tapi Joe membuka tabir itu. Joe – teman satu kelompokku saat Tahun Pertama – tampak sangat ‘dekat’ dengan Ariel. Mereka makan bersama di kantin. Duduk bersebelahan di ruang kuliah. Dan pergi ke Mushalla bersama. Padahal, setahuku, Ariel bukan orang yang sering datang ke Mushalla. Paling tidak selama ia kuliah di sini. Tapi Joe, perlahan mengubahnya. Joe, memang sosok orang beragama dan berilmu di antara teman satu jurusan lainnya.

Joe seperti menyediakan kepompong yang akan memetamorfosa-kan Ariel menjadi kupu-kupu. Joe aktif dalam organisasi keagamaan. Ariel seperti ditarik-masuk dari jalan raya ke dalam ‘mobil’ yang ditumpangi Joe. Maka Ariel pun punya kecepatan kini. Punya ambisi. Punya tujuan. Joe navigatornya. Ia punya ‘habitat’ baru. Bahkan terkadang ia lupa kembali ke rumah asalnya. Joe memberinya ruang tak hanya sebagai teman. Lebih dari tu.

*

Motor Kharisma tiba dari kejauhan. Tertempel lambang Persib di kepala lampu depannya. Masih dengan pelindung dada yang ia beli di Pasar Jumat di sepanjag jalan Ganesha. Masih seperti dulu. Masih seperti ketika Ariel dekat dengan Joe. Ariel membuka helm full-face-nya. Dan perubahan itu terletak di mukanya. Pucat. Matanya nanar. Otot mukanya kaku. Aku tak tahu apakah Ariel sedang sakit hari ini.

Aku memesan kopi untuk Ariel. Mempersilakannya duduk. Basa-basi Tanya kabar. Melempar joke-joke standar. Tapi muka Ariel masih pucat. Kaku. Something wrong, I think.

“Salma mau nikah,” ia membuka pembicaraan dengan pernyataan yang mengejutkan.

“Sama siapa?” kataku mengernyitkan dahi.

“Bukan ama gua”, jawabnya parau. Suara yang sangat berat.

Dan hujan pun turun dengan derasnya siang itu di langit Bandung. Semesta pun menangis. Salma adalah oase keduanya setelah Joe. Salma adalah salah satu penumpang dalam ‘mobil’ yang Joe bawa bersama teman-teman di organisasinya, termasuk Ariel. Salma ialah mata air surga buat Joe. Ia seorang wanita khayangan. Yang jilbabnya menutupi hampir setengah badannya. Yang Tatapannya meneduhkan. Yang pandangannya ditundukkan. Suaranya pelan, tapi menegaskan. Bicaranya singkat, tapi penuh makna. Dan Ariel terpesona oleh keanggunannya.

Ariel ditegur sangat keras oleh teman-temannya, termasuk oleh Joe, ketika ia mengajak Salma makan siang. Bukan muhrimnya, kata teman Ariel membentak. Ariel mengaku salah, tapi api cintanya semakin membara.

Hingga suatu saat aku terhenyak tak percaya. “Gila lo Riel. Lo anter dia pulang pake motor?” tanyaku tak percaya. “Hihihiii..Gua juga ga ngerti. Basa-basi doank. Eh, dia-nya mau,” Ariel cekikikan.

Seorang wanita seperti Salma sangat sulit diajak jalan. Apalagi boncengan motor. Mereka punya batas. Mereka ada hijab. Tapi Salma tetaplah manusia. Yang tentu punya kelemahan. Yang juga punya cinta. Bahkan, sudah lima kali Salma mengunjungi rumah Ariel hanya untuk ngobrol dengan ibu Ariel dan dengan sepupu-sepupunya.

Mereka ditegur, dimarahai, dijauhi. Tapi semakin dilarang, Salma semakin menjadi. Ariel semakin happy. Mereka anomali dalam ‘kendaraan’ mereka sendiri.

*

Aku tahu, Ariel tak diizinkan orang tuanya untuk menikah hingga ia dapat kerja. Salma sudah berulang kali meminta Ariel melamarnya. Tapi, Ariel masih menunggu kelulusan dan status penghasilannya.

“Akhir tahun kemarin, Salma nelpon gua. Katanya dia udah ada yang ngelamar”, kata Ariel pelan. “Siapa?” aku semakin greget.

“Salma nggak jawab. Dia cuma bilang ‘seseorang’,” lirihnya tajam.

Kami terdiam sejenak. Hujan semakin deras. Dan secangkir kopi panas pun datang.

Lo belum tahu ‘seseorang’ itu siapa?” tanyaku.

Tidak ada jawaban. Ariel dengan tatapan kosongnya.

“Siapa??”

“Joe!!, dia orangnya”, air mata Ariel membendung. Ia tahan kuat-kuat agar tak jatuh.

Aku menghembus nafas panjang. Penasaranku hilang. Tapi rasa kesal datang. Otor-ototku mengeras. Gigi-gigiku saling beradu. Joe. Oase ‘gurun sahara’-nya Ariel ternyata hanya sebuah fatamorgana.

Gua sih masih rela kalau yang nikahin Salma itu bukan Joe. Tapi ini Joe, Mam. Temen gua sendiri. Temen deket. Dia tahu banget betapa gua jatuh hatinya sama Salma. Malah dia yang motivasi gua biar cepet lulus dan dapat kerja biar cepet nikah. Tapi, dia tusuk gua dari belakang, Mam…”, Ariel menumpahkan semuanya. Aku harus tenang. Jangan terbawa emosi. Aku harus mengeluarkan pikiran-pikiran yang menenangkan, walau dari tadi rasa kesal itu terus menohok.

*

Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta mengatakan bahwa cinta itu pekerjaan jiwa yang besar. Dan inti pekerjaan itu ialah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang yang dicintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia karenanya. Pecinta sejati seperti air yang menyuburkan. Seperti matahari yang menumbuhkan. Ia tak takut terhina karena cintanya kandas. Sebab di sini seorang pecinta sejati sedang melakukan pekerjaan jiwa yang besar dan agung: mencintai.

“Cinta itu seperti kopi hangat ini Riel,” aku angkat bicara.

“Pahit dan manisnya nyampur. Lo ga bisa minumnya sekaligus. Harus pelan-pelan. Seruput demi seruput. Tapi di sanalah sensasinya, ketika seruputan itu mencapai tetes terakhirnya. Tubuh lo akan hangat, pikiran akan nyaman,” aku melanjutkan sambil menyeruput kopi hangatku hingga tetes terakhir.

Ariel terdiam sejenak. Dia angkat cangkirnya dan meminumnya pelan. Tapi tidak menghabiskannya. Kopi itu masih tersisa setengahnya. Kami terdiam penuh makna. Seolah sedang melakukan percakapan batin.

“Kenapa ga dihabisin kopinya Riel?”, tanyaku ringan.

“Pahit!!”, dan kami pun tertawa.

Posted by: imam alkarami | April 22, 2009

mimpi nikah (lagi…)

getting_married_by_senseialiciaserius. dan modusnya sama. orang yg gw nikahi ga gw kenal. yang ini lebih parah malah. bener2 ga kenal dan baru kenal saat itu. klo yg mimpi sebelumnya kan ga kenal tapi sebenrnya tau orangnya siapa. nah, yang ini tuh benar2 ga kenal.

gw diajak dia keluar dan tiba2 gw disuruh milih desain kartu undangan. dan disuruh ngukur baju buat nikah nanti. gila ngga?

wanita ini berjilbab. mukanya mmmm…ga cantik banget, dan ga jelek juga. tapi yang jelas gw ga pernah liat muka nih orang. kalo dipersentasekan mungkin kadar ga cakepnya lebih tinggi kali ya..

soalnya gini brur. besoknya waktu akad nikah (eh, inget ye..ini masih dalam mimpi..) dalam hati gw itu gw masih ragu2 ama ni cewek. waktu itu gw bayangin, gile..ini yg jadi isteri gw?? ini yg bakal nemenin gw selama gw hidup???

tapi entah kenapa waktu ijab kabul lancar2 ajah.. dan gw liat lagi tuh muka ‘isteri’ gw..weddewwwww…kagak dah. ya ampun. saat itu gw berharap banget klo itu hanya mimpi. tapi tetep aja susah bangun.

sampe2 gw bisikin ibu gw, “bu, kok kayaknya dia ga cocok ya sama saya”. terus ibu gw jawab, “iya, kayaknya dia emang bukan isteri yang cocok, nilai matematikanya aja 6..”

tuwiww…hahahaha..antara mau ketawa dan sedih. kok pake nilai matematika segala sih bu, dalam hati gw (eh, ingeeett..ini masih dalam mimpi).

dan akhirnya gw bangun juga. keringetan. deg2an. untung banget dah cuman mimpi.

gile aje, baru ketemu ama tuh cewe itu hari, dia langsung ngajak nikah. dan gobloknya, gw iya2 aja (saking kebeletnya kali ya gw pengen nikah..hihihihi), dan baru nyadar waktu abis akad nikah..gebleeeeggg..

ga tau juga nih pessannya apa. mungkin kalo mau nikah jgn kebawa nafsu kaliya..mentang2 jilbaban, abis itu maen hembat ajah..mentang2 lulusan ITB abis itu iya iya ajah..mentang2 dokter,abis itu ga liat2 lagi muka..hwahahahahaha..

jadi..

gw masih nunggu mimpi (nikah) berikutnya..mudah2an aja dgn org yg bener2 bisa nikah ama gw d dunia nyata..bener2 ama org yg cocok…saling melengkapi..pinter..keturunan baik2..(loh..kok jadi minta requirement gini gw..hahahaha)

Posted by: imam alkarami | February 27, 2009

kurir minyak tawon

Masih Jumat yang biasa. Paginya senam berjamaah. Pulang, mandi, dan balik lagi ke kantor. Tentu tempat pertama yang dituju adalah komputer, dan langsung mengklik firefox. Masuk facebook, yahoomail, dan wordpress.

Dan keajaiban pun datang. “kamu ke Jakarta ya ikut rapat”, sekretaris Manajer tiba-tiba berkata seperti itu. “SPPD-mu udah dibuat, beli tiket sana”, katanya. Kenapa aku bilang sebuah keajaiban. Karena belum lama ini aku benar-benar merasakan rindu yang luar biasa sama orang-orang rumah. Bahkan tak jarang mimpiin ibu, adik. Maka rapat hari senin jam 10 di Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, ini sungguh sebuah hadiah yang mantap.

Tiket ke Jakarta PP sudah di booking. Tentu saja aku pilih penerbangan yang Sabtu pagi dan pulang Minggu malam. Biar ada Sabtu dan Minggu yang bisa dihabiskan di rumah. Aku pun menelpon ibu, mau dibawakan oleh-oleh apa  mereka. “minyak tawon aja. minyak yang kemarin pas lebaran dibawa itu kan cuman satu. banyak yang minta di sini”, kata ibuku.

Aku pun ‘menyewa’ Office Boy di kantorku untuk mengantar membeli oleh-oleh, mengambil tiket, dan satu lagi, mengambil pakaian di laundry yang harusnya diambil hari senin, karena sudah ga ada lagi pakaian resmi di lemari.

Uppss. Aku lupa. Sebenarnya agenda rapat ke Jakarta itu apa ya. Terus aku ini ikut siapa. “Tanya bu Rahma, kamu kan pengikutnya beliau. Tentang SUTET gitu deh”, kata sekretraris Manajer.

“Kamu berangkat kapan?”, tanya bu Rahma

“hehehe..besok bu, mau sekalian pulang bu..”, senyum-senyum ga jelas

“ya udah, sekalian bawain bingkisan dari GM ya?”

“bingkisan apa bu?”

“ga tau, minyak tawon mungkin”

“siap bu…terus saya mesti saya siapkan apa bu?”, pura-pura bego

“kamu sudah baca undangannya?”, alis mata agak naik

“belum bu..hehehee…”, senyum-senyum ga jelas lagi

“saya juga belum, kopikan satu buat saya”

“oo..baik bu..”

Sebelum belanja oleh-oleh, aku mengambil uang SPPD dulu ke keuangan. Uang tiket, makan, dan lain-lain semuanya disini. 2,9 Juta sudah kukantongi, tiba-tiba ponsel berbunyi. “Kamu Imam ya? Saya Tarita, TL99, di PLN juga, di Sektor Tello. Kamu tahu malam ini ada pemilu ketua IA ITB se Sulawesi Selatan? di Baruga Angingmammiri, depan pantai Losari. Datang ya.”

“kapan teh?”

“nanti malam jam 7″

Jam pulang kantor kalau hari Jumat itu Jam 5 sore. Maka aku hanya punya waktu paling lama satu setengah jam untuk beli oleh-oleh di Sombo Opu, ambil tiket di Pettarani ujung, dan ambil pakaian di Pettarani.

Tepat jam 11.30 malam aku baru tiba di kamar kost. Acara pemilu IA ITB itu ternyata bikin suasana kerja lebih bersemangat, karena bisa ketemu dan minta kartu nama alumni-alumni yang terdampar dan mungkin orang makassar. Capek. Tapi masih harus kemas-kemas dulu. Karena taksi siap jemput jam 5 pagi. Tas berisi notebook, buku-buku peraturan tentang jalur transmisi, dokumen UKL UPL, dan stelan lengkap hari senin. Kardus berisi minyak tawon pesanan ibu, kacang disko khas makassar, kaos makassar buat om yang kebetulan ada di rumah, dan dua bungkus kopi toraja. Dan satu lagi, bungkusan agak besar yang katanya berisi minyak tawon titipan GM untuk orang-orang Jakarta.

Tepat jam 10 pagi aku tiba di rumahku di Tangerang. Fiiiuuhhh..perjalanan sangat melelahkan. Bukan karena ga kebagian tempat duduk di pesawat (ga mungkin kan..) tapi karena kurang tidur semalem dan sedikit sport jantung waktu di pesawat. “There’s weather condition, please fasten your seatbelt”, kata pramugari. Dan karen di rumah pun baru ada bapak, dan adikku yang pertama, maka aku pun tidur pulas pagi menjelang siang itu.

sekitar jam 1 siang ibuku membangunkanku karena ada teman-teman SMA-ku yang berkunjung. Keluar dari kamar aku melihat kacang disko sudah terbuka dan tergeletak di depan TV, kaos makassar sudah di lantai, berarti bungkusan oleh-olehku sudah dibuka. Dan aku pun berpikir lagi, bungkusan yang dari GM itu dimana ya, perasaan tadi ada di dalam kamar deh. “bungkusan yang satu lagi mana?”, tanyaku pada ibuku. “yang isinya minyak tawon itu?”, ibuku sambil menunjuk sekumpulan bungkus minyak tawon di atas kulkas.

Arrrgggghhhh…

Enam bungkus minyak tawon khas makassar terjejer rapi. “kenapa banyak sekali beli minyak tawonnya, ibu kan cuma pesen satu”. Aihhh. Bukan. Yang bungkusan itu dari GM buat temannya di Jakarta. “aa cuma disuruh bawain aja. Dibawain waktu rapat hari senin besok”, kataku meringis. “samperin dulu temanmu di luar itu, nanti kalau ini sih gampang tinggal dibungkus lagi”, seru ibuku. Aku mencuci muka. Untung saja isi bungkusan dari GM itu cuma minyak tawon, coba kalo kacang disko, makanan, kaos, atau surat-surat penting, pasti terjejer dan terbuka juga di depan TV.

Siang itu ada Rizal, Alfi, Fauzi. Semuanya alumni Albayan Boarding School. Kami berbincang, tentang kegiatan, tentang masa depan, dan pada akhirnya mengarah ke rencana membuat pusat percetakan dan foto digital, plus library cafe, dan distro.  Bermimpi memang mudah, yang susah memulainya.

Mereka baru keluar dari rumahku sekitar jam 11 malam. Setelah nonton Valkyre di XXI, makan bakmi mang dayat, dan satu kali (saja) pertandingan WE. Tak lama ibuku baru datang dari rapat rutin Yayasan. Urusan nirlaba memang banyak yang harus dikorbankan, termasuk waktu rapat. Bahkan malam minggu. Dan perbincangan serius pun banyak terjadi di malam itu. Tentang rencana masa depanku. Rencana ibuku, bapakku, hingga proyeksi adik-adikku. Perbincangan ditutup secara tak resmi sekitar jam setengah dua pagi.

Besoknya, apapun yang terjadi, harus ada rujak. Maka setelah makan pagi dengan teri nasi kacang goreng, sayur asem, lalap, sambel, tempe, tahu, emping (hayooo pasti ngilerrr..), maka makan siangku hari itu ialah ngerujak..ada nanas, kedondong, mentimun, pepaya muda, bangkwang, apa lagi ya..Dan yang bikin gila, kami melakukannya dua ronde. Alias dua kali ngulek sambel, alias empat potong gula jawa, dan sekian kepal cabe rawit.

Malamnya, ternyata minyak-minyak tawon itu belum belum di-packing. Karena stelan packing di toko itu pake suatu mesin, maka aku mencoba menyetelnya seperti itu. Alat perekat yang sudah digunting itu aku rekatkan lagi dengan hekter. Dan sedikit sentuhan lakban. Tampilan lebih bagus dari sebelumnya. Tapi aku belum yakin dengan kekuatan talinya. Karena sudah malam, aku pun istrirahat.

Jam 7.30 berangkat dari rumah dengan taksi menuju Rasuna Said. Dan macet. Ga enak juga jadi orang Jakarta. Tiap tikungan macet. Baru sampe Tomang, bu Rahma menelpon. “Kamu dimana? Ibu sudah disini. Langsung saja ke lantai 3 ya. Jangan lupa bingkisannya.”

Aku pun memaksa pak supir taksi untuk cepat. Dan setelah melewati titik macet, dia pun melaju kencang, dan berkata datar “duhh, Dirjen LPE itu dimana ya?”. “Blok x pak”, kataku. Dan ia pun memutar taksinya mencari blok x. Tanya sana sini. Sementara aku terus melihat jam, dan sudah mendekat jam 10. Kacau. Dan akhirnya gedung tua itu pun ketemu juga. Gedungnya cokelat abu dan banyak pohon rindang di depannya, jadi tak begitu terlihat.

120 ribu aku keluarkan untuk Pak supir taksi. Aku segera menggendong tas ransel yang super berat, dan jinjingan berisi minyak tawon. Aku langsung masuk lift dan menekan angka 3. Sambil merapikan rambut dan baju di dalam lift, aku segera keluar dengan cepat dari lift. Dan Bruuuukkkkk….

Tali yang hanya diikat dengan hekter itu putus. Dan bungkusan klimis kertas kopi itu sobek kemana-mana. Glekkkk..Aku menggendongnya seperti ibu-ibu menjepit tasnya waktu ke pasar. “Pak, ruang rapat ini dimana ya?”, aku serahkan surat undangan rapat itu ke Satpam. “Dipindah di gedung sebelah mas”, katanya.

Waduuhh. Orang-orang menatapku seperti kurir paket. Atau lebih tepatnya kurir minyak tawon. Sampai di ruang rapat, dan ternyata aku terlambat. Semua sudah berbincang di ruang rapat walau rapat belum dimulai. Aku tinggalkan bungkusan rusak itu di depan ruangan seolah bukan aku pemiliknya.

Rapatpun dimulai, dan berlangsung baik. Seluruh persiapan tentang rapat itu tak berarti. Karena ternyata yang seharusnya datang pada rapat itu adalah GM, General Manager. Yang datang saat itu juga para GM di tiap-tiap unit. Sedangkan aku hanya seorang maganger yang kebetulan disuruh membawa minyak telon titipan GM-ku. Saat ada yang memberi teh dan snack, aku berpesan “Mba, bungkusan yang di depan itu, titip ya, kalau bisa sih dikasih plastik, soalnya rusak talinya..makasih ya mba..”

Rapat pun berakhir sebelum jam 12 siang. Dan agenda selanjutnya ialah mengantarkan bungkusan minyak tawon yang sudah dibungkus dengan plastik putih kucel. Kami melaju ke ESDM, jalan merdeka. GM-ku tidak bisa dihubungi karena sedang di pesawat. Bu Rahma hanya ingat nama orang yang harus dititip bungkusan itu dan dua amplop surat. Kami pun mencari orang itu di ESDM. Dan ternyata semua pegawai sedang makan siang. Kami menunggu. Karena perut kami juga harus makan, maka bu Rahma mencari tahu nomor ponsel orang yang harus diberi bingkisan ini. Dan kami pun deal untuk menitipkan bingkisan dan dua amplop surat ke pegawai yang ada disana. Selesai. Perjuangan mengantar minyak tawon selesai. Sekarang tinggal makan siang, karena pesawat yang aku pesan baru terbang jam 8.20 malam. Pulang ke rumah, cuma bisa numpang minum, abis itu berangkat lagi ke bandara. Bu Rahma pun mengajakku ke ITC Mangga Dua. Dia ada titipan dari suaminya untuk beli jas.

Sampai di Bandara jam 5 sore. Masih ada 3 jam lagi. Aku di gate A1, Lion Air, Bu rahma di Garuda. Tapi di Gate A1 aku bertemu dengan Manajer SDM dan Deputi keuangan kantorku.

“Rapat apa di Jakarta?”, tanyanya.

“SUTET pak, itu pak, tentang biaya kompensasi”

“Berapa jam rapatnya?”

“hehehe..cuma dua jam pak”, sambil senyum-senyum

“Jauh-jauh kamu ke Jakarta cuma rapat dua jam?”, tanyanya sambil menaikan alis dan sedikit tersenyum asimetris.

Intinya kan liburan dan jadi kurir minyak tawon pak, kataku dalam hati.

Older Posts »

Categories